Anda di halaman 1dari 15

BAB I

BUNGA TUNGGAL
A. Pengertian Bunga
Di dalam kehidupan sehari-hari, sering kita mendengar suatu ucapan yang berbunyi Pak X dapat
pinjaman modal dari suatu Bank dengan bunga 1% per bulan atau Bu Y membeli kendaraan secara
angsuran dengan suku bunga sebesar 10% dan lain sebagainya. Dalam masalah di atas kita menemukan
sebuah istilah yang sudah cukup dikenal dalam masyarakat yaitu kata bunga.
Secara matematika "bunga" dapat ditafsirkan sebagai suatu jasa yang berbentuk uang yang diberikan
oleh seseorang peminjam atau pembeli terhadap orang yang meminjamkan modal atau penjual atas dasar
persetujuan bersama.
B.

Pengertian Bunga Tunggal


Misalkan seseorang meminjam uang pada sebuah Bank sejumlah Rp.2.500.000,00 dan telah disepakati
bahwa dalam jangka waktu satu tahun orang tersebut harus mengembalikannya sejumlah Rp.
2.700.000,00. Uang Rp. 2.500.000,00 disebut modal dan uang kelebihan sebesar Rp. 200.000,00 disebut
bunga atau jasa atas pinjaman modal itu. Besarnya bunga sering dinyatakan dalam % (dibaca persen)
dan disebut sebagai suku bunga yaitu menyatakan perbandingan antara bunga dengan modal dalam
satuan waktu tertentu (1 bulan atau 1 tahun). Dalam persoalan di atas suku bunga per tahunnya dapat
dinyatakan dengan:
200.000
x 100% = 8%
2.500.000
Dari contoh di atas, bunga tunggal diartikan sebagai bunga yang timbul pada setiap akhir jangka waktu
tertentu yang tidak mempengaruhi besarnya modal (besarnya modal tetap). Besarnya bunga berbanding
senilai dengan persentase dan lama waktunya dan umumnya berbanding senilai pula dengan besarnya
modal.
Dalam bentuk yang lebih umum, jika suatu modal sebesar M0 dibungakan dengan mendapat jasa modal
sebesar B maka besarnya suku bunga persatuan waktu dapat ditentukan dengan memakai rumus:
B
x 100%
b =
M0
B
b
x 100% dapat dicari bahwa B =
Dari rumus b =
.M0
M0
100
Modal akhir dapat ditulis:
M1 = M0 + B
b
M1 = M0 +
.M0
100
atau
b
M1 = M0 (1 +
)
100
Keterangan:
M1
= besarnya uang yang dikembalikan setelah satu periode
M0
= besarnya modal yang dipinjamkan
b%
= suku bunga persatuan waktu
Jika modal M0 dibungakan selama n periode (bulan atau tahun) dan suku bunga b% (per bulan atau per
tahun) dengan cara bunga tunggal, maka rumus menentukan besar modal itu beserta bunganya adalah:
Untuk periode pertama:
M1 = M0 + B
b
.M0
100
b
= M0 (1 +
)
100
Untuk periode kedua:
M2 = M1 + B
b
= M1 +
.M0
100
= M0 +

b
b
)+
.M0
100
100
b
b
= M0 (1 +
+
)
100 100
2b
= M0 (1 +
)
100
Untuk periode ketiga:
M3 = M2 + B
b
= M2 +
.M0
100
2b
b
= M0 (1 +
)+
.M0
100
100
2b
b
= M0 (1 +
+
)
100 100
3b
= M0 (1 +
)
100
Dan seterusnya untuk periode ke - n adalah:
nb
Mn = M0 (1 +
)
100
nb
Selanjutnya rumus Mn
= M0 (1 +
) dapat diartikan bahwa:
100
b
M1 = M0 (1 +
)
100
2b
M2 = M0 (1 +
)
100
3b
M3 = M0 (1 +
)
100
dst
Seterusnya dapat dijelaskan bahwa:
b
M3 M 2 = M 2 M1 = M 1 M 0 = B =
.M0
100
Secara umum dapat ditulis:
b
Mn Mn-1 = B =
.M0
100
Contoh 1:
Modal sebesar Rp. 2.000.000,00 dipinjamkan dengan perjanjian bunga tunggal. Hitunglah besarnya
bunga dan modal akhir, jika suku bunga per tahun dan lamanya peminjaman adalah:
a. 8% dalam jangka waktu 1 tahun
b. 10% dalam jangka waktu 3 tahun
c. 11% dalam jangka waktu 5 tahun
d. 12% dalam jangka waktu 6 bulan
e. 15% dalam jangka waktu 8 bulan
Penyelesaian:
a. Suku bunga 8% per tahun
Besarnya bunga dalam 1 tahun = B
b
B =
x M0
100
8
=
x 2.000.000,00
100
= 160.000,00
= M0 (1 +

Modal seluruhnya = M1
b
M1 = M0 (1 +
)
100
8
)
100
= 2.000.000,00(1,08)
= 2.160.000,00
= 2.000.000,00(1 +

Atau M1 = 2.000.000,00 + 160.000,00 = 2.160.000,00


Jadi besarnya bunga per tahun adalah Rp.160.000,00 dan modal akhir Rp.2.160.000,00
b. Suku bunga 10% per tahun.
Besarnya bunga dalam 1 tahun = B
b
B =
x M0
100
10
=
x 2.000.000,00
100
= 200.000,00
Besarnya bunga dalam jangka waktu 3 tahun = B = 3 x 200.000,00 = 600.000,00
Modal seluruhnya = M3
3b
M3 = M0 (1 +
)
100
3 x 10
= 2.000.000 (1 +
)
100
30
= 2.000.000 (1 +
)
100
= 2.000.000 (1,3)
= 2.600.000,00
Atau M3 = 2.000.000,00 + 600.000,00 = 2.600.000,00
Jadi besarnya bunga per tahun adalah Rp.600.000,00 dan modal akhir Rp.2.600.000,00
c. Suku bunga 11% per tahun.
Besarnya bunga dalam 1 tahun = B
b
B =
x M0
100
11
=
x 2.000.000,00
100
= 220.000,00
Besarnya bunga dalam jangka waktu 5 tahun = B = 5 x 220.000,00 = 1.100.000,00
Modal seluruhnya = M5
5b
M5 = M0 (1 +
)
100
5 x 11
= 2.000.000 (1 +
)
100
55
= 2.000.000 (1 +
)
100
= 2.000.000 (1,55)
= 3.100.000,00
Atau M5 = 2.000.000,00 + 1.100.000,00 = 3.100.000,00
Jadi besarnya bunga per tahun adalah Rp.1.100.000,00 dan modal akhir Rp.3.100.000,00
d. Suku bunga 12% per tahun.
Besarnya bunga dalam 1 tahun = B
b
B =
x M0
100
12
=
x 2.000.000,00
100
= 240.000,00
Besarnya bunga dalam jangka waktu 6 bulan = B =
Modal seluruhnya =

M1
2

6
x 240.000,00 = 120.000,00
12

M1
2

1
b
M0 (1 + 2 )
100
3

1
x 12
= 2.000.000 (1 + 2
)
100
6
= 2.000.000 (1 +
)
100
= 2.000.000 (1,06)
= 2.120.000,00
M1
Atau
= 2.000.000,00 + 120.000,00 = 2.120.000,00
2

Jadi besarnya bunga per tahun adalah Rp.120.000,00 dan modal akhir Rp.2.120.000,00
e. Suku bunga 15% per tahun.
Besarnya bunga dalam 1 tahun = B
b
B =
x M0
100
15
=
x 2.000.000,00
100
= 300.000,00
Besarnya bunga dalam jangka waktu 8 bulan = B =
Modal seluruhnya =

M2
3

=
=
=
=
Atau

8
x 300.000,00 = 200.000,00
12

M2
3

2
b
=
M0 (1 + 3 )
100
2
x 15
2.000.000 (1 + 3
)
100
10
2.000.000 (1 +
)
100
2.000.000 (1,1)
2.200.000,00

M2
3

= 2.000.000,00 + 200.000,00 = 2.200.000,00

Jadi besarnya bunga per tahun adalah Rp.200.000,00 dan modal akhir Rp.2.200.000,00
Contoh 2:
Seorang pedagang meminjam uang di Bank sebesar Rp. 200.000,00 dengan aturan bunga tunggal dan
suku bunga 2% per bulan. Berapakah besarnya uang yang harus dikembalikan oleh orang itu kepada
Bank jika:
a. lamanya peminjaman 1 bulan
b. lamanya peminjaman 4 bulan
Penyelesaian:
a. Suku bunga 2% per bulan
Besarnya bunga dalam 1 bulan = B
b
B =
x M0
100
2
=
x 2.00.000,00
100
= 4.000,00
Uang yang harus dikembalikan = M1
b
M1 = M0 (1 +
)
100
2
= 200.000,00(1 +
)
100
= 200.000,00(1,02)
= 204.000,00
4

Atau M1 = 200.000,00 + 4.000,00 = 204.000,00


Jadi uang yang harus dikembalikan adalah Rp.204.000,00
b. Suku bunga 2% per bulan
Besarnya bunga dalam 1 bulan = B
b
B =
x M0
100
2
=
x 2.00.000,00
100
= 4.000,00
Besarnya bunga dalam jangka waktu 4 bulan = B = 4x 4.000,00 = 16.000,00
Uang yang harus dikembalikan = M4
4b
M4 = M0 (1 +
)
100
4x2
= 200.000,00(1 +
)
100
= 200.000,00(1,08)
= 216.000,00
Atau M4 = 200.000,00 + 16.000,00 = 216.000,00
Jadi uang yang harus dikembalikan adalah Rp.216.000,00
Contoh 3:
Dalam jangka waktu satu tahun, Togog harus mengembalikan uang ke Bank sebesar Rp.216.000,00,
sedangkan uang semula yang dipinjam oleh Togog adalah Rp. 200.000,00. Tentukan besarnya bunga
dan suku bunga per tahunnya.
Penyelesaian:
Besarnya bunga dalam satu tahun = B
B = M M0
= 216.000,00 200.000,00
= 16.000,00
Besarnya suku bunga per tahun = b
B
x 100%
b =
M0
16.000
x 100%
=
200.000
= 8%
Jadi besarnya bunga per tahun adalah Rp.16.000,00 dan besarnya suku bunga pertahun 8%
Contoh 4:
Modal pinjaman sebesar Rp. 400.000,00 harus dikembalikan dalam jangka waktu satu tahun. Jika
5
jumlah uang yang dikembalikan itu besarnya sama dengan kali modal semula, berapakah besarnya
4
suku bunga per tahun.
Penyelesaian:
Besarnya uang yang dikembalikan = M
5
M =
M0
4
5
=
x 400.000,00
4
= 500.000,00
Besarnya bunga per tahun = B
B = M M0
= 500.000,00 400.000,00
= 100.000,00
Besarnya suku bunga per tahun = b
5

B
x 100%
M0
100.000
x 100%
=
400.000
= 25%
Jadi besarnya suku bunga per tahun adalah 25%
Contoh 5:
Dalam jangka waktu berapa tahunkah suatu modal harus dipinjamkan, agar uang yang dikembalikan
menjadi 3 kali modal semula? Diketahui suku bunga tunggal 4% per bulan.

Penyelesaian:
Misalkan modal semula adalah M0 dan lamanya peminjaman adalah n bulan.
Besarnya bunga dalam 1 bulan = B
b
B =
x M0
100
4
=
x M0
100
Besarnya bunga dalam jangka waktu n bulan = Bn
4
Bn = n x
x M0
100
Jumlah uang yang harus dikembalikan = Mn = 3M0
Mn = M0 + B n
4
3M0 = M0 + n x
x M0
100
4n
3 = 1+
100
4n
2 =
100
4n = 200
n = 50
Jadi lamanya modal itu dipinjamkan adalah 50 bulan.
Contoh 6:
Suatu modal dipinjamkan dengan aturan bunga tunggal. Setelah 3 tahun modal itu menjadi

5
kali
3

modal semula. Tentukan besarnya suku bunga per bulan.


Penyelesaian:
Misalkan besarnya modal semula adalah M0 dan besarnya suku bunga per bulan adalah b.
Besarnya bunga dalam 3 tahun (36 bulan) = B3
b
B3
=
x M0 x 36
100
4
=
x M0 x 36
100
5
Besarnya uang setelah 3 tahun = M3 =
M0
3
M3
= M0 + B3
5
b
M0 = M0 +
x M0 x 36
3
100
5
36b
M0 = M0(1 +
)
3
100
5
36b
= 1+
3
100
2
36b
=
3
100
108b = 200
b
= 1,85
Jadi besarnya suku bunga per bulan adalah 1,85%
6

Contoh 7:
Sebuah modal sebesar Rp. M dibungakan secara bunga tunggal dengan suku bunga sebesar b% per
bulan. Setelah tiga, empat dan lima bulan dibungakan maka modal itu masing-masing menjadi Rp.
1.404.719,47; Rp. 1.470.725,96; dan Rp. 1.536.732,45.
Maka tentukan:
a. Besar modal (M)
b. Besar suku bunga (b%)
c. Besar modal itu setelah 10 bulan.
Penyelesaian:
Diketahui
:
Ditanya

M3 = Rp. 1.404.719,47
M4 = Rp. 1.470.725,96
M5 = Rp. 1.536.732,45
a. Modal awal
b. Besar suku bunga
M10
c.

Jawab
:
a. Besar modal
nb
)
100
3b
M3 = M0 (1 +
)
100
4b
M4 = M0 (1 +
)
100
5b
M5 = M0 (1 +
)
100
Bunga = B = Mn Mn-1
b
.M0 =
M4 M 3
100
b
.M0 =
1.470.725,96 1.404.719,47
100
b
.M0 =
66.006,49
100
3b
M3 = M0 (1 +
)
100
3b
1.404.719,47 = M0 +
M0
100
b
1.404.719,47 = M0 + 3
M0
100
1.404.719,47 = M0 + 3(66.006,49)
1.404.719,47 = M0 + 198.019,47
M0 = 1.404.719,47 - 198.019,47
M0 = 1.206.700,00
Jadi besar modal adalah Rp. 1.206.700,00
Mn

= M0 (1 +

b. Besar suku bunga


B
x 100
b =
M0
66.006,49
x 100
b =
1.206.700,00 0
b = 5,47
Jadi besar suku bunga adalah 5,47%
c. Besar modal itu setelah 10 bulan
nb
Mn = M0 (1 +
)
100
7

10b
)
100
10 x 5,47
M10 = 1.206.700,00(1 +
)
100
M10 = 1.206.700,00(1 + 0,547)
M10 = 1.206.700,00(1,547)
M10 = 1.866.764,90
Jadi besar modal setelah 10 tahun adalah Rp.1.866.764,90
M10

C.

= 1.206.700,00(1 +

Bunga Tunggal Eksak dan Bunga Tunggal Biasa


1. Bunga Tunggal Eksak adalah bunga tunggal yang dihitung berdasarkan perhitungan bahwa satu
tahun terdiri atas 365 hari untuk tahun biasa dan satu tahun terdiri atas 366 hari untuk tahun kabisat
(tahun yang habis dibagi oleh 4).

2.

Perhitungan bunga tunggal eksak dipergunakan rumus:


t
b
Untuk tahun biasa
: B=
x
x M0
a.
365 100
t
b
: B=
x
x M0
b. Untuk tahun kabisat
366 100
Bunga Tunggal Biasa adalah bunga tunggal yang dihitung berdasarkan perhitungan bahwa satu
tahun terdiri atas 360 hari.
t
b
Perhitungan bunga tunggal biasa dipergunakan rumus: B =
x
x M0
360 100
Contoh 8:
Modal sebesar Rp 72.000.000,00 dipinjamkan selama 50 hari dengan suku bunga 10% per tahun.
Tentukan besarnya bunga tunggal eksak dan bunga tunggal biasa, jika modal itu dipinjamkan:
a. Pada tahun 2004
b. Pada tahun 2007.
Penyelesaian:
a. Peminjaman dilakukan pada tahun 2004
1) Besarnya bunga tunggal biasa
t
b
B =
x
x M0
360 100
50
10
=
x
x 72.000.000,00
360 100
= 1.000.000,00
Jadi besarnya bunga tunggal biasa adalah Rp.1.000.000,00
2) Besarnya bunga tunggal eksak
Karena 2004 habis dibagi empat, maka banyaknya hari dalam tahun 2004 adalah 366
t
b
B =
x
x M0
366 100
50
10
=
x
x 72.000.000,00
366 100
= 983.606,56
Jadi besarnya bunga tunggal eksak adalah Rp. 983.606,56
b. Peminjaman dilakukan pada tahun 2007
1) Besarnya bunga tunggal biasa
t
b
B =
x
x M0
360 100
50
10
=
x
x 72.000.000,00
360 100
= 1.000.000,00
Jadi besarnya bunga tunggal biasa adalah Rp.1.000.000,00
2) Besarnya bunga tunggal eksak
8

t
b
x
x M0
365 100
50
10
=
x
x 72.000.000,00
365 100
= 986.301,37
Jadi besarnya bunga tunggal eksak adalah Rp. 986.301,37
B =

Dari contoh di atas, dapat dilihat bahwa besar bunga tunggal biasa tidak tergantung pada tahun waktu
peminjaman dilakukan (setiap tahun ada 360 hari). Sedang besar bunga tunggal eksak samgat tergantung
pada tahun, dimana waktu peminjaman dilakukan (tahun kabisat atau bukan kabisat).
D. Waktu Eksak dan Waktu Rata-Rata
Setelah kita mengetahui bahwa masalah yang terjadi pada bunga tunggal eksak, di mana perbedaan 1
hari antara tahun kabisat dan tahun biasa akan menghasilkan besar perolehan bunga berbeda, ini berarti
bahwa kita harus dapat menentukan banyaknya hari secara tepat, khususnya untuk menentukan
banyaknya hari antara 2 (dua) tanggal yang berbeda. Untuk menentukan banyaknya hari di antara 2
tanggal, kita akan menggunakan dua metode perhitungan, yaitu waktu eksak dan waktu rata-rata.
1. Waktu eksak
Waktu eksak adalah waktu yang dihitung berdasarkan banyaknya hari dalam satu bulan yang dijalani
secara tepat.
Menghitung waktu eksak
Untuk menentukan banyaknya hari antara dua tanggal dengan waktu eksak dapat dipakai dua cara
perhitungan sebagai berikut:
Cara 1:
a. Hitunglah banyaknya hari sisa pada bulan permulaan peminjaman (awal), banyaknya hari pada
bulan yang bersangkutan tanggal peminjaman.
b. Hitunglah banyaknya hari pada bulan-bulan berikutnya sesuai dengan banyaknya hari.
c. Hitunglah banyaknya hari pada bulan terakhir, yaitu sama dengan batas tanggal peminjaman.
d. Banyaknya hari yang dicari sama dengan jumlah hari dari perhitungan a, b, dan c.
Cara 2:
Dengan memakai tabel, yaitu dibuat tabel untuk bulan Januari sampai dengan bulan Desember.
a. Untuk bulan Januari diberi nomor 1 s/d 31.
b. Untuk bulan Februari diberi nomor dari 32 s/d 59 (tahun biasa) dan 60 (tahun kabisat)
c. Untuk bulan Maret diberi nomor dari 60 s/d 87
d. dan seterusnya.
e. Untuk bulan Desember diberi nomor dari 335 s/d 365
Bulan dan Nomor
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

2
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46

3
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74

4
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105

5
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135

6
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166

7
182
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194
195
196

8
213
214
215
216
217
218
219
220
221
222
223
224
225
226
227

9
244
245
246
247
248
249
250
251
252
253
254
255
256
257
258

10
274
275
276
277
278
279
280
281
282
283
284
285
286
287
288

11
305
306
307
308
309
310
311
312
313
314
315
316
317
318
319

12
335
336
337
338
339
340
341
342
343
344
345
346
347
348
349
9

Bulan dan Nomor


16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59

75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90

106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120

136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151

167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181

197
198
199
200
201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
212

228
229
230
231
232
233
234
235
236
237
238
239
240
241
242
243

259
260
261
262
263
264
265
266
267
268
269
270
271
272
273

289
290
291
292
293
294
295
296
297
298
299
300
301
302
303
304

320
321
322
323
324
325
326
327
328
329
330
331
332
333
334

350
351
352
353
354
355
356
357
358
359
360
361
362
363
364
365

Contoh 9:
Hitung waktu eksak dari tanggal 5 Januari 2007 sampai 25 April 2007!
Penyelesaian:
Cara 1 :
Dari tanggal 5 Januari 2007 sampai 25 April 2007
Waktu eksak = (31 - 5) + (28 + 31) + 25
= 26 + 59 + 25
= 110
Cara 2
Dari tabel tampak bahwa 5 Januari mempunyai nomor 5 dan 25 April mempunyai nomor 115,
sehingga waktu eksaknya adalah 115 5 = 110 hari
Jadi waktu eksak dari tanggal 5 Januari 2007 sampai tanggal 25 April 2007 adalah 110 hari.
Contoh 10:
Hitung waktu eksak dari tanggal 6 Oktober 1989 sampai dengan tanggal 8 Februari 1990!
Penyelesaian:
Cara 1 :
Dari tanggal 6 Oktober 1989 sampai dengan tanggal 8 Februari 1990
Waktu eksak = (31 - 6) + (30 + 31 + 31) + 8
= 25 + 92 + 8
= 125
Cara 2
Dari tabel tampak bahwa 6 Oktober mempunyai nomor 279 dan 8 Februari mempunyai nomor 39 +
365 = 404, sehingga waktu eksaknya adalah 404 279 = 125 hari
Jadi waktu eksak dari tanggal 6 Oktober 1989 sampai dengan tanggal 8 Februari 1990 adalah 125
hari.
2. Waktu rata-rata adalah waktu yang dihitung memakai dasar perhitungan bahwa banyaknya hari dalam
satu bulan sama dengan 30 hari.
Menentukan waktu rata-rata
Untuk menentukan banyaknya hari antara dua tanggal dengan waktu rata-rata, dapat dilakukan
dengan dua cara pula
Cara 1:
a. Hitunglah banyaknya hari sisa pada bulan permulaan peminjaman (awal), yaitu 30 tanggal
peminjaman.
b. Hitunglah banyaknya hari pada bulan-bulan berikutnya, di mana untuk 1 bulan dihitung 30 hari.
c. Hitunglah banyaknya hari pada bulan terakhir, yaitu sama dengan batas tanggal peminjaman.
10

d. Banyaknya hari yang dicari sama dengan jumlah hari dari perhitungan a, b, dan c.
Cara 2:
a. Tuliskan tanggal, bulan, tahun pada awal dan akhir perjanjian dalam urutan yang dibalik, yaitu
tahun, bulan, tanggal.
b. Banyaknya hari yang dicari dapat ditentukan dari selisih antara tahun, bulan, tanggal akhir tahun
dengan tahun, bulan, tanggal permulaan.
Dalam bentuk yang sederhana perhitungan waktu rata-rata dengan cara 2 ini dapat disajikan sebagai
berikut:
tahun, bulan, tanggal akhir
:
y2
m2
d2
tahun, bulan, tanggal awal
:
y1
m1
d1
(-)
(y2 y1)
(m2 m1)
(d2 d1)
Contoh 11:
Tentukanlah waktu rata-rata dari tanggal 12 Mei 1989 sampai dengan tanggal 17 Juli 1989.
Penyelesaian:
Cara 1:
Dari tanggal 12 Mei 1989 sampai dengan tanggal 17 Juli 1989
Waktu rata-rata
= (30 12) + 30 + 17
= 18 + 47
= 65 hari
Cara 2:
17 Juli 1989 ditulis
:
1989
7
12 Mei 1989 ditulis
:
1989
5

17
12
(-)
0
2
5
0 2 5 menunjukkan bahwa dari tanggal 12 Mei 1989 sampai dengan 17 Juli 1989 terdiri atas 0 tahun 2
bulan dan 5 hari. Jadi waktu rata-ratanya adalah (0 x 360) + (2 x 30) + (5 x 1) = 65 hari.
Jadi waktu rata-rata dari tanggal 12 Mei 1989 sampai dengan tanggal 17 Juli 1989 adalah 65 hari.
Contoh 12:
Hitung waktu rata-rata dari tanggal 7 Maret 2004 sampai 22 Pebruari 2007!
Penyelesaian:
Cara 1:
Dari tanggal 7 Maret 2004 sampai 22 Pebruari 2007
Waktu rata-rata
= (30 7) + (9 x 30) + (2 x 360) + 30 + 22
= 23 + 270 + 720 + 52
= 1.065 hari
Cara 2:
22 Pebruari 2007 ditulis
7 Maret 2004 ditulis

22
7
(-)
3
-1
15
3 - 1 15 menunjukkan bahwa dari tanggal 7 Maret 2004 sampai 22 Pebruari 2007 terdiri atas 3 tahun
kurang 1 bulan ditambah 15 hari. Jadi waktu rata-ratanya adalah (3 x 360) - (1 x 30) + (15 x 1) =
1.080 30 + 15 = 1.065 hari.
Jadi waktu rata-rata dari tanggal 7 Maret 2004 sampai tanggal 22 Pebruari 2007 adalah 1.065 hari.
E.

:
:

2007
2004

2
3

Diskonto
Dalam praktek sering terjadi bunga atas pinjaman dibayarkan terlebih dulu pada saat awal peminjaman,
sehingga besarnya uang yang diterima oleh peminjam merupakan selisih antara besarnya pinjaman
dengan besarnya bunga. Sedangkan besarnya uang yang harus dikembalikan harus sesuai dengan
besarnya pinjaman berdasarkan perjanjian. Bunga yang dibayar di muka itu disebut diskonto.
Jadi Diskonto adalah bunga yang dibayarkan pada permulaan penerimaan pinjaman
Contoh 13:
Seseorang meminjam uang di Bank sebesar Rp. 2.000.000,00 dengan perjanjian diskonto 9% dalam
waktu satu tahun. Berapakah besarnya uang yang diterima oleh sipeminjam tersebut?
Penyelesaian:
Besarnya bunga berdasarkan diskonto 9% = B
11

t
b
x
x M0 ( waktu 1 tahun = 365 hari)
365 100
365
9
B
=
x
x 2.000.000,00
365 100
= 180.000,00
Jadi besarnya uang yang diterima oleh orang tersebut dari Bank adalah Rp. 2.000.000,00 Rp.
180.000,00 = Rp. 1.820.000,00
B

Contoh 14:
Pak Kadir meminjam uang di Bank dengan diskonto 20% selama satu tahun. Jika uang yang diterima
Pak Kadir pada saat awal peminjaman adalah Rp. 400.000,00, berapakah besarnya uang yang dipinjam
oleh pak Kadir?.
Penyelesaian:
Misalkan besarnya pinjaman itu M0 dengan diskonto 20% akan memberikan bunga sebesar:
t
b
B
=
x
x M0 ( waktu 1 tahun = 365 hari)
365 100
365
20
B
=
x
x M0
365 100
1
B
=
x M0
5
Besarnya uang yang diterima:
1
M0 x M0 = 400.000,00
5
4
x M0
= 400.000,00
5
M0
= 500.000,00
Jadi besarnya uang yang dipinjam oleh Pak Kadir adalah Rp.500.000,00
BAB II
BUNGA MAJEMUK
A. Pengertian dan Konsep Bunga Majemuk
Jika kita menyimpan modal berupa uang di bank selama periode bunga tertentu, misalnya satu tahun
maka setelah satu tahun kita akan mendapatkan bunga sebesar p % kali modal yang kita bungakan. Jika
bunga itu tidak kita ambil, tetapi ditambahkan pada modal awal untuk dibungakan lagi pada periode
berikutnya, sehingga besarnya bunga pada setiap periode berikutnya berbeda jumlahnya (menjadi bunga
berbunga), maka dikatakan modal tersebut dibungakan atas dasar bunga majemuk.
B.

Perbedaan Bunga Tunggal dan Bunga Majemuk


Bunga tunggal dihitung berdasarkan modal yang sama setiap periode sedangkan bunga majemuk
dihitung berdasarkan modal awal yang sudah ditambahkan dengan bunga.

C.

Perhitungan Nilai Akhir Modal


1. Dengan menggunakan rumus
Jika modal sebesar M dibungakan atas dasar bunga majemuk sebesar p % setahun selama n tahun,
maka besarnya modal setelah n tahun adalah:
Setelah satu tahun
P
M
M1 = M
100
P

= M 1
100

Setelah dua tahun


P
P
P

M 1

M2 = M 1
100 100
100

P
P

= M 1
100
100

= M 1

Setelah n tahun

100

12

M n M 1

100

Contoh 1:
Modal sebesar Rp. 200.000.000,00 disimpan di bank dengan suku bunga majemuk 16% per tahun.
1. Hitunglah nilai akhir modal itu setelah 3 tahun !
2. Jika bunga dimajemukkan setiap 3 bulan, berapakah nilai akahir modal itu setelah 3 tahun?
Penyelesaian:
1. Nilai akhir modal setelah 3 tahun (M3)
M
= Rp. 200.000.000,00
p% = 16%
p n
Mn = M(1 +
)
100
M3 = 200.000.000,00 (1 + 0,16)3
= 200.000.000,00 (1,16)3
= 200.000.000,00 x 1,560896
= 312.179.200
Jadi nilai akhir modal setelah 3 tahun adalah Rp 312.179.200
2. Nilai akhir modal setelah 3 tahun jika bunga dimajemukkan tiap 3 bulan
p% = 16 % pertahun, maka bunga pertriwulan = 4%
n
= 3 tahun = 12 triwulan
p n
Mn = M(1 +
)
100
M3 = 200.000.000,00 (1 + 0,04)12
M3 = 200.000.000,00 (1,04)12
= 200.000.000,00 x 1,60103222
= 320.206.444
Jadi nilai akhir modal setelah 3 tahun adalah Rp 320.206.444
Contoh 2:
Modal sebesar Rp2.000.000,00 dibungakan dengan suku bunga majemuk 5% / semester selama 5
tahun. Tentukan modal akhir!
Penyelesaian:
M = Rp2.000.000,00
p% = 5%/semester = 0.05/semester
n = 5 tahun = 10 semester
p n
Mn = M(1 +
)
100
= 2.000.000,00 (1 + 0.05)10
= 2.000.000,00 x 1.0510
= 2.000.000 x 1,628894627
= 3.257.789,25
Jadi nilai akhir modal setelah 5 tahun adalah Rp 3.257.789,25
3.

Dengan masa bunga pecahan


Untuk menghitung nilai akhir modal dengan masa bunga pecahan, digunakan langkah sebagai
berikut:
a. Hitunglah dulu nilai akhir dari modal berdasarkan masa bunga majemuk yang terdekat
b. Sisa masa bunga yang belum dihitung, digunakan untuk menghitung bunga berdasarkan bunga
tunggal dari nilai akhir pada 1
n
p
a p

M a M 1
1

n
100
b 100

b
Contoh 3:
Modal sebesar Rp 4.500.000,00 dibungakan dengan suku bunga majemuk 3% /bulan. Tentukanlah
modal akhir setelah berbunga selama 5.75 bulan!
Penyelesaian:
M = Rp 4.500.000,00
p% = 3% /bulan = 0.03/bulan
n = 5.75 bulan = (5 + 0,75) bulan
13

Penyelesaian:

a
n
b

a
n
M 1 i 1 i
b

M 5 0, 75 4.500.0001 0,03 1 0,75 x0,03


5

= 4.500.000 x 1,1593 x 1,0225


= 5.334.229,125
Jadi nilai akhir modal setelah 5,75 bulan adalah Rp 5.334.229,125
D. Perhitungan Nilai Tunai Modal
1. Rumus nilai tunai

P
Rumus nilai akhir bunga majemuk adalah M n M 1

100

Rumus tersebut dapat diubah menjadi:

Mn
P
1

100

M = modal mula-mula atau nilai tunai (NT)


Mn = modal setelah n jangka waktu, selanjutnya ditulis M
M
NT
n
sehingga,
P

100

Jadi, NT M 1

100

Contoh 4:
Hitunglah nilai tunai modal dari modal Rp. 500.000,00 yang akan dibayarkan setelah 4 tahun yang
akan datang dengan suku bunga majemuk 6 % setahun.
Penyelesaian:
p -n
NT = M( 1 +
)
100
NT = 500.000,00 ( 1 + 0,06)-4
NT = 500.000,00 x 0,79209366 = 396.046,83
SOAL-SOAL BUNGA MAJEMUK
1.

Hitunglah nilai akhir modal dari modal sebesar Rp. 50.000,00 yang disimpan di bank selama 4 tahun
dengan suku bunga majemuk 6% pertahun.
2. Modal sebesar Rp. 200.000,00 disimpan di bank dengan suku bunga majemuk 20% setahun. Hitunglah
besar modal itu setelah 2 tahun, jika bunga dimajemukkan setiap kuartal.
3. Modal Sebesar Rp. 10.000,00 disimpan di bank, setelah 2 tahun modal itu menjadi Rp 14.803,44.
Berapakah suku bunga yang diberikan atas simpanan itu.
4. Sebuah modal sebesar Rp. 20.000,00 dengan suku bunga majemuk 4% tiap triwulan. Harus disimpan
berapa tahunkah modal itu agar menjadi Rp. 40.000,00 atau lebih?
5. Modal sebesar x dibungakan selama n periode dengan suku bunga majemuk 10% per periode, Agar
modal akhir menjadi 2 kali modal awal, tentukanlah banyaknya periode n.
6. Hitunglah nilai akhir modal dari modal sebesar Rp. 150.000,00 yang disimpan di bank selama 4 tahun
dengan suku bunga majemuk 3% pertahun.
7. Modal sebesar Rp. 200.000,00 disimpan di bank dengan suku bunga majemuk 20% setahun. Hitunglah
besar modal itu setelah 2 tahun, jika bunga dimajemukkan setiap semester.
8. Modal Sebesar Rp.Rp. 10.000,00 disimpan di bank, setelah 3 tahun modal itu menjadi Rp 15.803,44.
Berapakah suku bunga yang diberikan atas simpanan itu.
9. Sebuah modal sebesar Rp. 20.000,00 dengan suku bunga majemuk 4 % tiap triwulan. harus disimpan
berapa tahunkah modal itu agar menjadi Rp. 25.000,00 atau lebih?
10. Danu menyimpan uangnya di bank dengan suku bunga majemuk 16% per tahun. Selama 5 tahun, bunga
yang dihasilkan adalah Rp550,171,00. Berapakah besar uang Danu yang disimpan di bank 5 tahun yang
lalu?
11. Modal sebesar Rp. 80.000,00 disimpan di bank dengan suku bunga majemuk 17,5% per tahun.
Hitunglah jumlah modal itu setelah disimpan selama 4 tahun!
14

12. Hitunglah nilai akhir dari modal Rp. 240.000,00 yang disimpan di bank selama 150 hari dengan suku
bunga majemuk 18% per tahun ! (1 tahun = 365 hari).
13. Tuan Sastra meminjam uang kepada Tuan Hardi sebesar Rp. 250.000,00. Ternyata setelah 2 tahun, Tuan
Sastra harus mengembalikannya sebesar Rp. 290.000,00 (termasuk bunga). Berapa persenkah bunga
yang dikenakan kepada Tuan Sastra itu dalam satu tahun ?
14. Pada tanggal 15 Maret 1996 Darto menyimpan uangnya di bank sebesar
Rp. 120.000,00. Simpanan tersebut diperhitungkan menurut suku bunga majemuk sebesar 20% per
tahun, satu tahun ditetapkan 365 hari. Pada tanggal berapakah Darto melihat nilai tabunganya itu sebesar
Rp. 148.800.00 ?
15. Sebuah modal disimpan di bank dengan suku bunga majemuk 20% per tahun, setelah 5 tahun modal itu
menjadi Rp. 100.000,00 maka berapakah besar modal yang disimpan di bank 5 tahun yang lalu ?

15