Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS PERILAKU

MANUSIA DITINJAU

DARI TEORI PSIKOANALISA


Analisis Kasus
disusun guna memenuhi tugas
mata kuliah Model-model Konseling
Dosen Pengampu : Sunawan, Ph.D. dan Zakki Nurul Amin, S.Pd.

oleh :
Sugesti Yoan Ahmad Yani

(1301413080)

BK SD Rombel 1

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

ANALISIS KASUS
1. Anak yang ingin belajar akan tetapi disatu sisi ia ingin bermain game ketika
akan ulangan. Akhirnya dia membuat pilihan untuk bermain game karena
menganggap bermain game juga sama-sama belajar untuk mencerdaskan
otak. (Rasionalisasi)
Analisis :
- Dorongan untuk bermain game datang dari Id. Akan tetapi, Superego
menentang karena kewajiban siswa ketika akan ulangan ialah belajar agar
mendapatkan hasil yang baik.
- Konflik antara Id dan Superego menyebabkan kecemasan. Ego mencoba
memikirkan dorongan dari Id jika diterapkan di dunia nyata pasti akan
ditolak lingkungan. Karena sekarang waktunya belajar, dan waktu
bermain sudah habis. Namun, Id terus mendesak Ego untuk memenuhi
impuls yang diberikan, sedangkan Superego menolak dengan tegas,
bahwa orang tua mengajarkan jika akan ulangan harus belajar, jika tidak
belajar pasti akan mendapat nilai yang buruk dan memalukan orang tua.
- Dorongan Id yang terlalu kuat menjadikan kecemasan yang dialami
sangat kuat, sehingga memaksa Id menggunakan mekanisme pertahanan
Rasionalisasi, bahwa bermain juga dapat mencerdaskan otak dan pasti
akan berguna ketika ulangan berlangsung. Jadi sekarang bermain game
saja, kan bermain game dan belajar fungsinya untuk mencerdaskan otak.
2. Anak yang tidak suka melihat temannya mendapat juara 1 dalam perlombaan,
memberi selamat dan merayakannya dengan berlebihan supaya rasa
kecewa/iri hatinya tetap berada di alam bawah sadar. (Pembentukan Reaksi)
Analisis :
- Dorongan dari Superego muncul bahwa iri terhadap seseorang itu
berdosa. Namun, rasa iri yang timbul dari Id di alam ketidaksadaran juga
kuat mendesak Ego untuk mengekspresikannya dengan memperlihatkan
-

ketidakpuasannya terhadap hasil yang dicapai temannya.


Ego berpikir menggambarkannya apabila dilakukan di dunia nyata hal itu
tidak akan diterima dalam lingkungan sosialnya dan dia justru akan

dibenci oleh banyak orang.


Dorongan Superego juga menguat yakni menghukum kesalahan ego
apabila tetap melakukannya, dan superego menjadikan dorongan yang
prinsipnya kesenangan diganti dengan hal yang moralistik.

Konflik tersebut menyebabkan kecemasan yang amat sangat berlebihan


dan untuk meredakannya ia menggunakan mekanisme pertahanan
pembentukan reaksi. Dimana Ego tetap melakukan hal yang sesuai
norma yang berlaku dan sesuai dengan prinsip Superego namun tidak
melukai dorongan dari Id yang ditekan ke alam bawah sadarnya,
memuaskan impuls rasa iri dengan memperlakukan temannya secara

berlebihan.
3. Anak yang suka membaca majalah cabul atau menonton video porno untuk
mengurangi dorongan seks yang ada dalam dirinya. (Subtitusi dalam
Pembentukan Reaksi)
Analisis
- Dorongan seks dari Id menuntut dipenuhi segera oleh Ego. Namun,
Superego mengekang Ego untuk mewujudkannya karena tidak sesuai
dengan budaya ketimuran yang sopan, santun dan bermartabat. Yang
-

menganggap seks bebas adalah hal yang sangat menjijikkan dan berdosa.
Kecemasan yang muncul dari konflik antara Superego dan Id
menyebabkan Ego berpikir keras apa yang harus dilakukan. Kemudian
Ego membayangkan apabila impuls dari Id dilakukan pasti tidak akan
diterima oleh lingkungan karena hal itu menjadi hal yang tabu dan

dianggap sebagai bentuk penyimpangan.


Dorongan seks dari Id yang menuntut dipenuhinya oleh Ego dan tuntutan
dari Superego yang mencekik Ego untuk tidak melakukannya sangatlah
membuat Ego memikirkan untuk mengurangi kecemasan tersebut dengan
melakukan Subtitusi, yakni dengan membaca majalah cabul atau
menonton video porno. Hal tersebut dilakukan karena masih mirip
dengan dorongan aslinya. Selain memenuhi dorongan seks yang tinggi
dari Id, Ego juga tidak melakukan hal itu dikehidupan nyata sehingga

tidak ada yang harus dikhawatirkan dan dirugikan.


4. Anak yang putus dengan pacarnya menghina mantan pacarnya itu. (Agresi
Primitif dalam Reaksi Agresi dan Rasionalisasi)
Analisis :
- Putus dari pacar yang sangat disayangi menyebabkan rasa sakit, kecewa
dan harga diri seseorang terluka menyebabkan Id memaksa Ego untuk
menyerang mantannya itu, karena mantannya yang menyebabkan dirinya

frustasi. Namun, Superego menolak dengan asumsi bahwa menyerang


seseorang adalah hal yang tidak sesuai dengan norma dan tidak
-

manusiawi.
Munculnya konflik tersebut memaksa Ego untuk tetap membawa impuls
dari Id berada dalam bawah sadar. Akhirnya Ego menggunakan reaksi
agresi dengan memanfaatkan drive agresifnya untuk menyerang obyek
yang menimbulkan frustasi dan menutupi kelemahan dirinya dengan
menunjukkan

kekuatan

drive

agresifnya.

Dalam

hal

ini

Ego

mempertentangkan impuls yang muncul yang menjadi sumber tegangan


-

agar impuls tetap berada di bawah sadar.


Dalam hal ini Ego menganggap bahwa ekspresi yang ia wujudkan kepada

pacarnya ialah hal wajar karena mantannya telah menyakiti dia.


5. Anak yang membenci teman sekamarnya menyatakan bahwa temannya lah
yang membenci dia. (Proyeksi)
Analisis :
- Ego bertindak atas dorongan yang diwujudkan oleh Id untuk membenci
teman sekamarnya, serta Superego yang melarang karena membenci
ialah salah satu hal yang tidak boleh dilakukan. Superego terus
mengekang Ego agar tidak melakukannya, namun dorongan Id juga kuat.
Akhirnya Ego mengubah kecemasan moralistik yang diwujudkan oleh
pertentangan antara Id dan Superego dengan cara melemparkan impuls
membenci tersebut keluar dan seolah-olah terproyeksi kepada dirinya,
-

sehingga ia akan mengatakan jika temannya lah yang membenci dia.


Hal tersebut terjadi karena Ego menyadari jika ia mewujudkan rasa
kebenciannya akan menyebabkan dirinya semakin terancam akibat tidak
diterima dirinya di lingkungan tersebut.