Anda di halaman 1dari 15

POINT A

A. Latar Belakang
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari Kabilah Oghuz / Ughuj yang
mendiami daerah Mongol dan daerah Utara Negeri Cina. Pada Abad ke-13 M,
saat Chengis Khan mengusir orang-orang Turki dari Khurasan dan sekitarnya.
Kakenya Usman, yang bernama Sulaiman bersama pengikutnya bermukim di
Asia kecil. Dari perjalanan tersebut Sulaiman, ia tenggelam ketika
menyemberangi sungai Efrat (dekat Allepo). Sulaiman mempunyai empat
saudara yang bernama, Shunkur, Gundogdur, al-Thugril, dan Dundar. Dua
puteranya kembali ke tanah air mereka. Sementara yang kedua terakhir
bermukim di Asia kecil. Di sana mereka di bawah pimpinan Sultan Alauddin di
Kunia. Saat Mongol menyerang sultan Alauddin di Anggara (kini Angkara), alThugril membantu mengusir Mongol, sehingga berkat jasanya itu, Alauddin
memberikan daerah Iski Shahr dan sekitarnya. Al-Thugril, mendirikan ibukota
bernama Sungut, di sana lahir anak pertama bernama Usman pad 1258 M. AlThugril meninggal pada 1288 M. dan ia mendeklarasikan dirinya sebagai Sultan,
maka sejak itulah berdiri Dinasti Turki Usman.

B. Silsilah Keturunan / Kekuasaan


Sultan Alauddin meninggal pada 1300 M / 699 H, maka Usman mengumumkan
diri sebagai Sultan yang berdaulat penuh. Namun tidak langung diakui oleh
banyak orang. Pada masa Usman hanya memiliki wilayah yang sangat kecil, ia
meninggal pada 1326 M. kemudian puteranya naik tahta yang bernama Orkhan
(Urkhun) pada usia 42 tahun. Pada masanya ia membentuk tiga pasukan utama,
tentara Siphai (tentara reguler), tentara Hazeb (tentara ireguler), tentara Jenisari
(pasukan direkrut pada usia dua belas tahun).

Selanjutnya kekuasaan beralih kepada puteranya Murad I, yang telah berhasil


menaklukan, Adrianopol, Masedonia, Bulgaria, Serbia, Kosovo dan Asia kecil.
Murad I bergelar Alexander abad pertengahan. Murad digantikan oleh puteranya
Bayazid I, yang bergelar Ildrim (kilat), terjadi pertempuran dengan tentara
Mongol yang dipimpin oleh Timur Lenk, sehingga Bayazid I bersama puteranya
Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M. Pada masa ini Turki
Usmani mulai mengalami kemunduran. Kemudian dilanjutkan oleh Muhammad,
ia berhasil memulihkan kondisi menjadi stabil sehingga para sejarawan
mensejajarkan dia dengan Umar II dari Dinasti Umayyah.

Setelah ia meninggal digantikan oleh Murad II (1421-1451 M),, ia mengembalikan


cintra Murad I, yaitu dengan merebut kembali daerah-daerah Eropa (Kosovo). Ia
banyak mendirikan Masjid dan Sekolah. Penggatinya adalah Muhammad II (14511484M), dengan gelar Al-Fatih, ia telah berhasila menaklukkan kota
Konstantinopel pada 25 Mei 1453. Dan juga ia menaklukkan Venish, Italy,
Rhodos, dan Cremia yang terkenal denan Konstantinopel II. ia menerapkan UU
islam dalam qanun namah. Setelaha abad ke-16 M atauran ini dilonggarkan. Alfatih meninggal, digantikan anaknya Bayazid II, kemudian digantikan oleh

anaknya Salim I, ia sangat kejam, dalam sejarah Eropa dikenal sebagai Salim the
Grim. Ia menaklukkan Asia Kecil, Persia, Kaldiran, dan Mesir. Dan juga berhasil
menaklukkan Sultan Mamluk (1517 M). ia memindahkan Khalifah boneka Bani
Abbas ke Konstantinopel yang bernama Ahmad dan mengambil gelar secara
sakral yang kemudian digunakan oleh sultan Turki, Salim I, sehingga kota
tersebut berubah menjadi Istambul.

Selanjutnya digantikan oleh Sulaiman Agung (1520-1566), mendapat julukan


Sulaiman al-Qanuni, pada masanya disusun sebuah kitab undang-undang
(qanun), Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur dan berhasil membawa
kejayaan islam, dan ia pula berhasil menterjemahkan Al-Quran dalam bahasa
Turki. Sulaiman jug berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau Rodhes, Tunis,
Budapest, dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah Turki Usmani pada
masanya mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia;
Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika; Bulgaria,Yunani, Yugoslavia, Albania,
Hongaria, dan Rumania di Eropa.
Sulaiman al-Qanuni diganti oleh Salim II (1566-1573 M), Di masa
pemerintahannya terjadi pertempuran antara armada laut Kerajaan Usmani
dengan armada laut Kristen yang terdiri dari angkatan laut Spanyol, angkatan
laut Bundukia, angkatan laut Sri Paus, dan sebagian kapal para pendeta Malta
yang dipimpin Don Juan dari Spanyol. Pertempuran itu terjadi di Selat Liponto
(Yunani). Dalam pertempuran ini Turki Usmani mengalami kekalahan yang
mengakibatkan Tunisia dapat direbut oleh musuh.

Selanjunya digantikan oleh Sultan Murad III (1574-1595 M) berkepribadian jelek


dan suka memperturutkan hawa nafsunya, namun Kerajaan Usmani pada
masanya berhasil menyerbu Kaukasus dan menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577
M), merampas kembali Tabnz, ibu kota Safawi, menundukkan Georgia,
mencampuri urusan dalam negeri Polandia, dan mengalahkan gubernur Bosnia
pada tahun 1593 M. Namun kehidupan moral Sultan yangjelek menyebabkan
timbulnya kekacauan dalam negeri.

Kekacauan ini makin menjadi-jadi dengan tampilnya Sultan Muhammad III (15951603M), pengganti Murad III, yang membunuh semua saudara laki-lakinya
berjumlah 19 orang dan menenggelamkan janda-janda ayahnya sejumlah 10
orang demi kepentingan pribadi. Dalam situasi yang kurang baik itu, Austria
berhasil memukul Kerajaan Usmani.

Sultan Ahmad I (1603-1617 M), pengganti Muhammad III, sempat bangkit untuk
memperbaiki situasi dalam negeri, tetapi kejayaan Kerajaan Usmani di mata
bangsa-bangsa Eropa sudah mulai memudar.

Sesudah Sultan Ahmad I ( 1603-1617 M), situasi semakin memburuk dengan


naiknya Mustafa I (masa pemerintahannya yang pertama (1617-1618 M) dan

kedua, (1622-1623 M). Karena gejolak politik dalam negeri tidak bisa diatasinya,
Syaikh al-Islam mengeluarkan fatwa agar ia turun dari tahta dan diganti oleh
Usman II (1618-1622 M). Namun yang tersebut terakhir ini juga tidak mampu
memperbaiki keadaan. Dalam situasi demikian bangsa Persia bangkit
mengadakan perlawanan merebut wilayahnya kembali. Kerajaan Usmani sendiri
tidak mampu berbuat banyak dan terpaksa melepaskan wilayah Persia tersebut.

Langkah-langkah perbaikan kerajaan mulai diusahakan oleh Sultan Murad IV


(1623 1640 M). Pertama-tama ia mencoba menyusun dan menertibkan
pemerintahan. Pasukan Jenissari yang pernah menumbangkan Usman II dapat
dikuasainya. Akan tetapi, masa pemerintahannya berakhir sebelum ia berhasil
menjernihkan situasi negara secara keseluruhan. Situasi politik yang sudah mulai
membaik itu kembali merosot pada masa pemerintahan Ibrahim I (1640-1648 M),
karena ia termasuk orang yang lemah. Pada masanya ini orang-orang Venetia
melakukan peperangan laut melawan dan berhasil mengusir orang-orang Turki
Usmani dari Cyprus dan Creta tahun 1645 M. Kekalahan itu membawa
Muhammad Koprulu (berasal dari Kopru dekat Amasia di Asia Kecil) ke
kedudukan sebagai wazir atau shadr al-azham (perdana menteri) yang diberi
kekuasaan absolut. Ia berhasil mengembalikan peraturan dan
mengkonsolidasikan stabilitas keuangan negara. Setelah Koprulu meninggal
(1661 M), jabatannya dipegang oleh anaknya, Ibrahim.

Ibrahim menyangka bahwa kekuatan militernya sudah pulih sama sekali. Karena
itu, ia menyerbu Hongaria dan mengancam Vienna. Namun, perhitungan Ibrahim
meleset, ia kalah dalam pertempuran itu secara berturut-turut. Pada masa-masa
selanjutnya wilayah Turki Usmani yang luas itu sedikit demi sedikit terlepas dari
kekuasaannya, direbut oleh negara-negara Eropa yang baru mulai bangun. Pada
tahun 1699M terjadi Perjanjian Karlowith yang memaksa Sultan untuk
menyerahkan seluruh Hongaria, sebagian besar Slovenia dan Croasia kepada
Hapsburg; dan Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia
kepada orang-orang Venetia.
Pada tahun 1770 M, tentara Rusia mengalahkan armada Kerajaan Usmani di
sepanjang pantai Asia Kecil. Akan tetapi, tentara Rusia ini dapat dikalahkan
kembali oleh Sultan Mustafa III (1757-1774 M) yang segera dapat
mengkonsolidasi kekuatannya.

Sultan Mustafa III diganti oleh saudaranya, Sultan Abd al-Hamid (1774-1789 M),
seorang yang lemah. Tidak lama setelah naik tahta, di Kutchuk Kinarja ia
mengadakan perjanjian yang dinamakan Perjanjian Kinarja dengan Catherine II
dari Rusia. Isi perjanjian itu antara lain:

1. Kerajaan Usmani harus menyerahkan benteng-benteng yang berada di Laut


Hitam kepada Rusia dan memberi izin kepada armada Rusia untuk melintasi selat
yang menghubungkan Laut Hitam dengan LautPutih, dan
2. Kerajaan Usmani mengakui kemerdekaan Kirman (Crimea).

Demikianlah proses kemunduran yang terjadi di Kerajaan Usmani selama dua


abad lebih setelah ditinggal Sultan Sulaiman al-Qanuni. Satu persatu negerinegeri di Eropa yang pernah dikuasai kerajaan ini memerdekakan diri. Bukan
hanya negeri-negeri di Eropa yang memang sedang mengalami kemajuan yang
memberontak terhadap kekuasaan Kerajaan Usmani, tetapi juga beberapa
daerah di Timur Tengah mencoba bangkit memberontak.

Di Mesir, kelemahan-kelemanan Kerajaan Usmani membuat Mamalik bangkit


kembali. Di bawah kepemimpinan Ali Bey, pada tahun 1770 M, Mamalik kembali
berkuasa di Mesir, sampai datangnyaNapoleon Bonaparte dari Perancis tahun
1798 M.

Di Libanon dan Syria, Fakhral-Din, seorang pemimpin Dntze, berhasil menguasai


Palestina, dan pada tahun 1610 M merampas Baalbak dan mengancam
Damaskus. Fakhr al-Din baru menyerah tahun 1635 M. Di Persia, Kerajaan Safawi
ketika masih jaya beberapa kali mengadakan perlawanan terhadap Kerajaan
Usmani dan beberapa kali pula ia keluar sebagai pemenang.

Sementara itu, di Arabia bangkit kekuatan baru, yaitu aliansi antara pemimpin
agama Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang dikenal dengan gerakan
Wahhabiyah dengan penguasa lokal Ibn Saud. Mereka berhasil menguasai
beberapa daerah di jazirah Arab dan sekitarnya di awal paroh kedua abad ke-18
M.

Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Usmani ketika sedang


mengalami kemunduran. Gerakan-gerakan seperti itu terus berlanjut hingga
abad ke-19 dan ke-20 M.

Osman I (1281-1326; bey)


Orhan I (1326-1359; bey)
Murad I (1359-1389; sultan sejak 1383)
Beyazid I (1389-1402)
Interregnum (1402-1413)
Mehmed I (1413-1421)
Murad II (1421-1444) (1445-1451)
Mehmed II (sang Penguasa) (1444-1445) (1451-1481)
Beyazid II (1481-1512)
Selim I (1512-1520)

Suleiman I (yang Agung) (1520-1566)


Selim II (1566-1574)
Murad III (1574-1595)
Mehmed III (1595-1603)
Ahmed I (1603-1617)
Mustafa I (1617-1618)
Osman II (1618-1622)
Mustafa I (1622-1623)
Murad IV (1623-1640)
Ibrahim I (1640-1648)
Mehmed IV (1648-1687)
Suleiman II (1687-1691)
Ahmed II (1691-1695)
Mustafa II (1695-1703)
Ahmed III (1703-1730)
Mahmud I (1730-1754)
Osman III (1754-1757)
Mustafa III (1757-1774)
Abd-ul-Hamid I (1774-1789)
Selim III (1789-1807)
Mustafa IV (1807-1808)
Mahmud II (1808-1839)
Abd-ul-Mejid I (1839-1861)
Abd-ul-Aziz (1861-1876)
Murad V (1876)
Abd-ul-Hamid II (1876-1909)
Mehmed V (Read) (1909-1918)
Mehmed VI (Vahideddin) (1918-1922)
Abd-ul-Mejid II, (1922-1924; hanya sebagai Kalifah)

C. Kemajuan / Kejayaan Masa Turki Usmani


Selama kejayaan dinasti ini ada beberapa yang telah berhasil namun diperiode
selanjutnya daerah-daerah yang telah dikuasi kembali direbut oleh pihak yang

ingin menguasai Turki Usmani, adapun keberhasilan pada masa Sultan Sulaiman
I disusun sebuah kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama
Multaqa al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani
sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I
yang amat berharga ini, di ujung namanya ditambah gelar al-Qanuni.

Pada masa Sulaiman kota-kota besar dan kota-kota lainnya banyak dibangun
nmesjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, villa, dan
pemandian umum. Disebutkan bahwa buah dari bangunan itu dibangun di bawah
koordinator Sinan, seorang arsitek asal Anatolia.

Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih banyak memfokuskan
kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu
pengetahuan, mereka kelihatan tidak begitu menonjol.

Bangsa Turki juga banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam
berupa bangunan-bangunan mesjid yang indah, seperti Masjid Al-Muhammadi
atau Mesjid Jami Sultan Muhammad Al-fatih, Mesjid Agung Sulaiman dan Mesjid
Abi Ayyub al-Anshari.Mesjid-mesjidtersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang
indah. Salah satu mesjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah
mesjid yang asalnya gereja Aya Sopia. Hiasan kaligrafi itu, dijadikan penutup
gambar-gambar Kristiani yang ada sebelumnya.

Pada masa Turki Usmani tarekat mengalami kemajuan. Tarekat yang paling
berkembang ialah tarekat Bektasyi dan Tarekat Maulawi. Kedua tarekat ini
banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Di pihak lain, kajian-kajian ilmu
keagamaan, Asyariyah mendapatkan tempatnya. Selain itu para ulama banyak
menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam
catatan) terhadap karyakarya masa klasik.

D. Faktor Runtuhnya Turki Usmani


Ada 2 faktor yang membuat khilafah Turki Utsmani mundur:

1. Intern
Buruknya pemahaman Islam
Lemahnya pemahaman Islam membuat reformasi gagal. Sebab saat itu khilafah
tak bisa membedakan IPTEK dengan peradaban dan pemikiran. Ini membuat
munculnya struktur baru dalam negara, yakni perdana menteri, yang tak dikenal
sejarah Islam kecuali setelah terpengaruh demokrasi Barat yang mulai merasuk
ke tubuh khilafah. Saat itu, penguasa dan syaikhul Islam mulai terbuka terhadap
demokrasi lewat fatwa syaikhul Islam yang kontroversi. Malah, setelah terbentuk
Dewan Tanzimat (1839 M) semakin kokohlah pemikiran Barat, setelah

disusunnya beberapa UU, seperti UU Acara Pidana (1840), dan UU Dagang


(1850), tambah rumusan Konstitusi 1876 oleh Gerakan Turki Muda, yang
berusaha membatasi fungsi dan kewenangan kholifah.

Salah menerapkan Islam.


Dengan diambilnya UU oleh Suleiman II, seharusnya penyimpangan dalam
pengangkatan kholifah bisa dihindari, tapi ini tak tersentuh UU. Dampaknya,
setelah berakhirnya kekuasaan Suleimanul Qonun, yang jadi khalifah malah
orang lemah, seperti Sultan Mustafa I (1617), Osman II (1617-1621), Murad IV
(1622-1640), Ibrohim bin Ahmed (1639-1648), Mehmed IV (1648-1687),
Suleiman II (1687-1690), Ahmed II (1690-1694), Mustafa II (1694-1703), Ahmed
III (1703-1730), Mahmud I (1730-1754), Osman III (1754-1787), Mustafa III (17571773), dan Abdul Hamid I (1773-1788). Inilah yang membuat militer, Yennisariyang dibentuk Sultan Ourkhan-saat itu memberontak (1525, 1632, 1727, dan
1826), sehingga mereka dibubarkan (1785). Selain itu, majemuknya rakyat dari
segi agama, etnik dan mazhab perlu penguasa berintelektual kuat. Sehingga,
para pemimpin lemah ini memicu pemberontakan kaum Druz yang dipimpin
Fakhruddin bin al-Ma'ni

Dengan tak dijalankannya politik luar negeri yang Islami-dakwah dan jihadpemahaman jihad sebagai cara mengemban ideologi Islam ke luar negeri hilang
dari benak muslimin dan kholifah. Ini terlihat saat Sultan Abdul Hamid I/Sultan
Abdul Hamid Khan meminta Syekh al-Azhar membaca Shohihul Bukhori di alAzhar agar Allah SWT memenangkannya atas Rusia (1788). Sultanpun meminta
Gubernur Mesir saat itu agar memilih 10 ulama dari seluruh mazhab membaca
kitab itu tiap hari Menghadapi kemerosotan itu, khilafah telah melakukan
reformasi (abad ke-17, dst).

2. Eksten
Penjajahan Barat membawa semangat gold, glory, dan gospel
Sejak jatuhnya Konstantinopel di abad 15, Eropa-Kristen melihatnya sebagai
awal Masalah Ketimuran, sampai abad 16 saat penaklukan Balkan, seperti
Bosnia, Albania, Yunani dan kepulauan Ionia. Ini membuat Paus Paulus V (15661572) menyatukan Eropa yang dilanda perang antar agama-sesama Kristen,
yakni Protestan dan Katolik. Konflik ini berakhir setelah adanya Konferensi
Westafalia (1667). Saat itu, penaklukan khilafah terhenti. Memang setelah
kalahnya khilafah atas Eropa dalam perang Lepanto (1571), khilafah hanya
mempertahankan wilayahnya. Ini dimanfaatkan Austria dan Venezia untuk
memukul khilafah. Pada Perjanjian Carlowitz (1699), wilayah Hongaria, Slovenia,
Kroasia, Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia lepas;
masing-masing ke tangan Venezia dan Habsburg. Malah khilafah harus
kehilangan wilayahnya di Eropa pada Perang Krim (abad ke-19), dan tambah
tragis setelah Perjanjian San Stefano (1878) dan Berlin (1887).

POINT B
Masa Kejayaan dan Kemajuan Peradaban Turki Usmani
Pada awalnya kerajaan Turki Usmani hanya memiliki wilayah yang sangat kecil,
namun dengan adanya dukungan militer, tidak beberapa lama Usmani menjadi
Kerajaan yang besar bertahan dalam kurun waktu yang lama. Setelah Usman
meninggal pada 1326 M, puteranya Orkhan (Urkhan) naik tahta pada usia 42
tahun. Pada periode ini tentara Islam pertama kali masuk ke Eropa. Orkhan
berhasil mereformasi dan membentuk tiga pasukan utama tentara. Pertama,
tentara sipani (tentara reguler) yang mendapatkan gaji tiap bulannya. Kedua,
tentara Hazeb (tentara ireguler) yang digaji pada saat mendapatkan harta
rampasan perang (Mal al-ghanimah). Ketiga tentara Jenisari direkrut pada saat
berumur dua belas tahun, kebanyakan adalah anak-anak Kristen yang dibimbing
Islam dan disiplin yang kuat.
Haji Bithas, seorang ulama sufi menyebut pasukan tersebut dengan Enicary
pasukan baru, mereka juga dekat dengan tentara Bakteshy, sehingga akhirnya
pasukan tersebut juga dinamai tentara Bakhteshy. Tentara tersebut dibagi
dalam, sepuluh, seratus dan seribu setiap kelompoknya, mereka diasingkan dari
keluarga, mereka membawa kejayaan Usmani, pasukan elit ini dikeluarkan saat
tentara reguler dan tentara ireguler sudah lelah dalam pertempuran. Dengan
cepat dan sigap pasukan ini menyerbu setiap musuh yang datang melawan.
Dalam peluasan wilayah Usmani mengalami kemunduran, merekalah yang
melakukan reformasi dan menjadi penguasa defacto, karena tentara tersebut
terlalu menyalahgunakan kekuasaan, akhirnya pada masa Sultan Mahmud II
mereka dibubarkan.
Penggantinya yaitu, puteranya yang bernama Murad I berhasil menaklukkan
banyak daerah, seperti Adrianopal, Masedonea, Bulgaria, Serbia dan Asia kecil.
Namun yang paling monumental adalah penaklukan dikosovo. Dengan demikian
lima ratus tahun daerah tersebut dikuasai oleh pemerintah Turki Usmani. Dia
penguasa yang shaleh dan taat kepada Allah. Murad I meskipun banyak
menaklukkan peperangan namun tidak pernah kalah, ia dijuluki sebagai
Alexander pada abad pertengahan, bahkan ia dinilai sebagai pendiri dinasti Turki
Usmani yang sebenarnya.
Putra Murad yang bernama Bayazid menggantikan ayahnya, ia terkenal dengan
gelar Ildrim/Eldream. Bayazid dengan cepat menaklukkan daerah dan
memperluas di Eropa. Bayazid sempat mengepung Konstantinopel selama enam
bulan, namun akhirnya gagal karena menghadapi tentaranya Timurlang dan
meninggal dunia di penjara timur setelah kalah perang dan tertangkap dalam
perang di Anggora, sepeninggal Bayazid Turki Usmani mengalami kemunduran,
selanjutnya Turki Usmani dipimpin oleh Muhammad, akhirnya ia berhasil
mengembalikan Turki Usmani seperti sediakala, meskipun ia tidak melakukan
perluasan dan penaklukkan, Muhammad berhasil membawa Turki Usmani stabil
kembali dengan keberhasilan ini, ia disejajarkan oleh sejarawan dengan Umar II
dari dinasti Bani Umaiyah.
Setelah ia meninggal digantikan dengan Murad II. Ia mengembalikan daerahdaerah di Eropa (Kosovo) yang lepas setelah meninggalnya Bayazid. Murad II
juga seorang penguasa yang saleh dan dicintai rakyatnya, ia seorang yang

sabar, cerdas, berjiwa besar, dan ahli ketatanegaraan. Ia banyak dipuji oleh
sejarawan barat, ia banyak membangun masjid dan sekolah, termasuk pula adil,
sehingga orang non muslimpun hidup di tengah kedamaian.
Penggantinya Murad II adalah Muhammad II dalam sejarah terkenal dengan
Muhammad Al-Fatih, ia berhasil menaklukkan kota Konstantinopel pertama kali
yang telah dicita-citakan sejak khalifah Usman bin Affan, Gubernur Muawiyah
yang pertama kali menyerang Konstantinopel dan khalifah-khalifah selanjtnya
yang berabad-abad mencita-citakan penaklukan Konstantinopel, akhirnya
tercapai pada tahun 1453 M.
Pada saat itulah awal kehancuran Bizantium yang telah berkuasa sebelum masa
Nabi. Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Venish, Italy, Rhodos, dan Cremia
yang terkenal dengan Konstantinopel.
Selanjutnya pada tahun 1520-1566 M, Sulaiman Agung menjadi penguasa baru
di kerajaan Turki Usmani menggantikan Salim I dan dia dijuluki Sulaiman AlQanuni. Sulaiman bukan hanya sultan yang paling terkenal dikalangan Turki
Usmani, akan tetapi pada awal abad ke 16 ia adalah kepala negara yang paling
terkenal di dunia.

Perkembangan Kejayaan dan Kemajuan Peradaban Turki Usmani


Dengan adanya dukungan militer, tidak beberapa lama Turki Usmani menjadi
kerajaan yang besar bertahan dalam kurun waktu yang lama.
Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Turki Usmani yang demikian
luas dan berlangsung cepat itu diikuti pula oleh kemajuan-kemajuan dalam
bidang bidang kehidupan yang lain, diantaranya sebagai berikut:
Bidang Kemiliteran
Para pemimpin kerajaan Turki Usmani adalah orang-orang yang kuat, sehingga
kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Namun, kerajaan
Turki Usmani mencapai masa keemasannya bukan semata-mata karena
keunggulan politik para pemimpinnya. Akan tetapi yang terpenting diantaranya
adalah keberanian, ketrampilan, ketangguhan, dan kekuatan militernya yang
sanngup bertempur kapan saja dan dimana saja.
Orkhan pemimpin Turki Usmani yang pertama kali mengorganisasi kekuatan
militer dengan baik serta taktik dan strategi tempur yang teratur. Pada periode
ini tentara Islam pertama kali masuk ke Eropa. Orkhan berhasil mereformasi dan
membentuk tiga pasukan utama tentara. Pertama, tentara Sipahi (tentara
reguler) yang mendapatkan gaji tiap bulannya. Kedua, tentara Hazeb (tentara
ireguler) yang di gaji pada saat mendapatkan harta rampasan perang (Mal alGhanimah). Ketiga, tentara Jenissary atau Inkisyariyah (tentara yang direkrut
pada saat berumur 12 tahun, kebanyakan adalah anak-anak Kristen yang
dibimbing Islam dengan disiplin yang kuat). Pasukan inilah yang dapat
mengubah negara Turki Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan
memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan negeri-negeri non
muslim.

Orkhan juga membenahi angkatan laut karena ia mempunyai peranan yang


besar dalam perjalanan ekspansi Turki Usmani. Pada abad ke-16, angkatan laut
Turki Usmani mencapai puncak kejayaan, karena dengan cepat dapat menguasai
wilayah yang amat luas baik di Asia, Afrika, maupun Eropa. Faktor utama yang
mendorong kemajuan di bidang kemiliteran ini adalah tabiat bangsa Turki itu
sendiri yang bersifat militer, berdisiplin, dan patuh terhadap peraturan. Yang
mana tabiat ini merupakan tabiat yang mereka warisi dari nenek moyangnya di
Asia Tengah.
Bidang Pemerintahan
Suksesnya Ekspansi Turki Usmani selain karena ketangguhan tentaranya juga
dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam
mengelola wilayah yang luas para raja-raja Turki Usmani senantiasa bertindak
tegas. Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi. Dibantu
oleh shadr al-azham (perdana menteri) yang membawahi pasya (gubernur).
Gubernur mengepalai daerah tingkat I dan di bawahnya terdapat beberapa
orang al-Zanaziq atau Alawiyah (bupati).
Contohnya, ketika Turki Usmani dipimpin oleh Murad II. Beliau adalah seorang
penguasa yang saleh dan dicintai rakyatnya, ia juga seorang yang sabar, cerdas,
berjiwa besar, dan ahli ketatanegaraan. Bahkan Murad II banyak mendapat
pujian dari sejarawan barat.
Selain itu, di masa pemerintahan Sultan Sulaiman I untuk mengatur urusan
pemerintahan negara disusun sebuah kitab undang-undang (Qanun) yang diberi
nama Multaqa al-Abhur yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki
Usmani.
Bidang Ilmu Pengetahuan
Turki Usmani merupakan bangsa yang berdarah militer, sehingga lebih banyak
memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran. Sementara dalam
bidang ilmu pengetahuan tidaklah begitu menonjol. Karena itulah dalam
khazanah intelektual Islam kita tidak menemukan ilmuwan terkemuka dari Turki
Usmani.
Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni
arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah. Seperti masjid
Al-Muhammadi atau masjid Jami Sultan Muhammad Al-Fatih, masjid Agung
Sulaiman, dan masjid Abi Ayyub Al-Anshari. Masjid-masjid tersebut dihiasi pula
dengan kaligrafi yang indah. Ada salah satu masjid yang terkenal keindahan
kaligrafinya adalah masjid yang asalnya Gereja Aya Sopia. Yang mana hiasan
kaligrafi itu dijadikan penutup gambar Kristiani yang ada sebelumnya.
Selain itu, pada masa sultan Sulaiman I di kota-kota besar dan kota-kota lainnya
banyak di bangun masjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan,
saluran air, villa, dan pemandian umum.
Bidang Budaya
Pengaruh dari ekspansi wilayah Turki Usmani yang sangat luas, sehingga
kebudayaannya merupakan perpaduan macam-macam kebudayaan.
Diantaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab.

Dari kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika


dan tata krama dalam istana raja-raja. Dari Bizantium, organisasi pemerintahan
dan kemiliteran banyak diserap. Sedangkan dari Arab, mereka banyak menyerap
ajaran-ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial kemasyarakatan, keilmuan,
dan bahasa/huruf.
Orang-orang Turki Usmani memang terkenal sebagai bangsa yang suka dan
mudah berasimilasi dengan bangsa asing dan terbuka untuk menerima
kebudayaan luar.
Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki Usmani mempunyai peranan besar dalam
bidang sosial dan politik. Masyarakat digolong-golongkan berdasarkan agama,
dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama
menjadi hukum yang berlaku.
Pada masa pemerintahan Sulaiman al-Qanuni rakyat muslim diwajibkan harus
sholat lima kali dan berpuasa di bulan Ramadhan. Jika ada yang melanggar tidak
hanya dikenai denda namun juga sanksi badan. Sehingga sultan Sulaiman alQanuni bukan hanya sultan yang paling terkenal di kalangan Turki Usmani, akan
tetapi pada awal abad ke 16 beliau adalah kepala negara yang paling terkenal di
dunia. Beliau seorang penguasa yang shaleh, dan juga berhasil menerjemahkan
Al-Quran dalam bahasa Turki. Bahkan pada saat Eropa terjadi pertentangan
antara Katolik, mereka diberi kebebasan dalam memilih agama dan diberikan
tempat di Turki Usmani. Bahkan Lord Cerssay mengatakan, bahwa pada zaman
dimana dikenal ketidakadilan dan kedzaliman Katolik Roma dan Protestan, maka
Sultan Sulaiman yang paling adil dengan rakyatnya meskipun ada yang tidak
beragama Islam.
Di kerajaan Turki Usmani, tarekat juga mengalami kemajuan. Tarekat yang paling
terkenal ialah tarekat Bektasyi dan tarekat Maulawi. Kedua tarekat banyak dianut
oleh kalangan sipil dan militer. Tarekat Bektasyi mempunyai pengaruh yang
sangat dominan di kalangan Jenissary, sehingga mereka sering disebut dengan
tentara Bektasyi. Sementara tentara Maulawi mendapat dukungan dari para
penguasa dalam mengimbangi Jenissary Bektasyi.
Di lain pihak, kajian-kajian ilmu keagamaan seperti: Fiqh, ilmu kalam, Tafsir, dan
Hadist boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para
penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu paham (Madzab) keagamaan
dan menekan Madzab lainnya. Contoh Sultan Abd Al-Hamid II begitu fanatik
terhadap aliran Ash-Ariyah. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan dan
fanatik yang berlebihan, maka ijtihad tidak berkembang.

Sultan Alauddin meninggal pada 1300 M / 699 H, maka Usman


mengumumkan diri sebagai Sultan yang berdaulat penuh. Namun tidak
langung diakui oleh banyak orang. Pada masa Usman hanya memiliki
wilayah yang sangat kecil, ia meninggal pada 1326 M. kemudian
puteranya naik tahta yang bernama Orkhan (Urkhun) pada usia 42 tahun.
Pada masanya ia membentuk tiga pasukan utama, tentara Siphai (tentara
reguler), tentara Hazeb (tentara ireguler), tentara Jenisari (pasukan
direkrut pada usia dua belas tahun).
Selanjutnya kekuasaan beralih kepada puteranya Murad I, yang telah
berhasil menaklukan, Adrianopol, Masedonia, Bulgaria, Serbia, Kosovo dan
Asia kecil. Murad I bergelar Alexander abad pertengahan. Murad
digantikan oleh puteranya Bayazid I, yang bergelar Ildrim (kilat), terjadi
pertempuran dengan tentara Mongol yang dipimpin oleh Timur Lenk,
sehingga Bayazid I bersama puteranya Musa tertawan dan wafat dalam
tawanan tahun 1403 M. Pada masa ini Turki Usmani mulai mengalami
kemunduran.

Kemudian

memulihkan

kondisi

dilanjutkan

menjadi

oleh

stabil

Muhammad,

sehingga

para

ia

berhasil
sejarawan

mensejajarkan dia dengan Umar II dari Dinasti Umayyah.


Setelah ia meninggal digantikan oleh Murad II (1421-1451 M),, ia
mengembalikan cintra Murad I, yaitu dengan merebut kembali daerahdaerah Eropa (Kosovo). Ia banyak mendirikan Masjid dan Sekolah.
Penggatinya adalah Muhammad II (1451-1484M), dengan gelar Al-Fatih, ia
telah berhasila menaklukkan kota Konstantinopel pada 25 Mei 1453. Dan
juga ia menaklukkan Venish, Italy, Rhodos, dan Cremia yang terkenal
denan Konstantinopel II. ia menerapkan UU islam dalam qanun namah.
Setelaha abad ke-16 M atauran ini dilonggarkan. Al-fatih meninggal,
digantikan anaknya Bayazid II, kemudian digantikan oleh anaknya Salim I,
ia sangat kejam, dalam sejarah Eropa dikenal sebagai Salim the Grim. Ia
menaklukkan Asia Kecil, Persia, Kaldiran, dan Mesir. Dan juga berhasil
menaklukkan Sultan Mamluk (1517 M). ia memindahkan Khalifah boneka
Bani Abbas ke Konstantinopel yang bernama Ahmad dan mengambil gelar
secara sakral yang kemudian digunakan oleh sultan Turki, Salim I,
sehingga kota tersebut berubah menjadi Istambul.

Selanjutnya digantikan oleh Sulaiman Agung (1520-1566), mendapat


julukan Sulaiman al-Qanuni, pada masanya disusun sebuah kitab undangundang (qanun), Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur dan berhasil
membawa kejayaan islam, dan ia pula berhasil menterjemahkan Al-Quran
dalam bahasa Turki. Sulaiman jug berhasil menundukkan Irak, Belgrado,
Pulau Rodhes, Tunis, Budapest, dan Yaman. Dengan demikian, luas
wilayah Turki Usmani pada masanya mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak,
Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika;
Bulgaria,Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa.
Sulaiman al-Qanuni diganti oleh Salim II (1566-1573 M), Di masa
pemerintahannya terjadi pertempuran antara armada laut Kerajaan
Usmani dengan armada laut Kristen yang terdiri dari angkatan laut
Spanyol, angkatan laut Bundukia, angkatan laut Sri Paus, dan sebagian
kapal para pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol.
Pertempuran itu terjadi di Selat Liponto (Yunani). Dalam pertempuran ini
Turki Usmani mengalami kekalahan yang mengakibatkan Tunisia dapat
direbut oleh musuh.
Selanjunya digantikan

oleh

Sultan

Murad

III

(1574-1595

M)

berkepribadian jelek dan suka memperturutkan hawa nafsunya, namun


Kerajaan Usmani pada masanya berhasil menyerbu Kaukasus dan
menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577 M), merampas kembali Tabnz, ibu
kota Safawi, menundukkan Georgia, mencampuri urusan dalam negeri
Polandia, dan mengalahkan gubernur Bosnia pada tahun 1593 M. Namun
kehidupan moral Sultan yangjelek menyebabkan timbulnya kekacauan
dalam negeri.
Kekacauan ini makin menjadi-jadi dengan tampilnya Sultan Muhammad
III (1595-1603M), pengganti Murad III, yang membunuh semua saudara
laki-lakinya berjumlah 19 orang dan menenggelamkan janda-janda
ayahnya sejumlah 10 orang demi kepentingan pribadi. Dalam situasi yang
kurang baik itu, Austria berhasil memukul Kerajaan Usmani.
Sultan Ahmad I (1603-1617 M), pengganti Muhammad III, sempat
bangkit untuk memperbaiki situasi dalam negeri, tetapi kejayaan Kerajaan
Usmani di mata bangsa-bangsa Eropa sudah mulai memudar.
Sesudah Sultan Ahmad I ( 1603-1617 M), situasi semakin memburuk
dengan naiknya Mustafa I (masa pemerintahannya yang pertama (1617-

1618 M) dan kedua, (1622-1623 M). Karena gejolak politik dalam negeri
tidak bisa diatasinya, Syaikh al-Islam mengeluarkan fatwa agar ia turun
dari tahta dan diganti oleh Usman II (1618-1622 M). Namun yang tersebut
terakhir ini juga tidak mampu memperbaiki keadaan. Dalam situasi
demikian bangsa Persia bangkit mengadakan perlawanan merebut
wilayahnya kembali. Kerajaan Usmani sendiri tidak mampu berbuat
banyak dan terpaksa melepaskan wilayah Persia tersebut.
Langkah-langkah perbaikan kerajaan mulai diusahakan oleh Sultan
Murad IV (1623 1640 M). Pertama-tama ia mencoba menyusun dan
menertibkan
menumbangkan

pemerintahan.
Usman

II

Pasukan

dapat

Jenissari

dikuasainya.

Akan

yang
tetapi,

pernah
masa

pemerintahannya berakhir sebelum ia berhasil menjernihkan situasi


negara secara keseluruhan. Situasi politik yang sudah mulai membaik itu
kembali merosot pada masa pemerintahan Ibrahim I (1640-1648 M),
karena ia termasuk orang yang lemah. Pada masanya ini orang-orang
Venetia melakukan peperangan laut melawan dan berhasil mengusir
orang-orang Turki Usmani dari Cyprus dan Creta tahun 1645 M. Kekalahan
itu membawa Muhammad Koprulu (berasal dari Kopru dekat Amasia di
Asia Kecil) ke kedudukan sebagai wazir atau shadr al-azham (perdana
menteri) yang diberi kekuasaan absolut. Ia berhasil mengembalikan
peraturan dan mengkonsolidasikan stabilitas keuangan negara. Setelah
Koprulu meninggal (1661 M), jabatannya dipegang oleh anaknya, Ibrahim.
Ibrahim menyangka bahwa kekuatan militernya sudah pulih sama
sekali. Karena itu, ia menyerbu Hongaria dan mengancam Vienna. Namun,
perhitungan Ibrahim meleset, ia kalah dalam pertempuran itu secara
berturut-turut. Pada masa-masa selanjutnya wilayah Turki Usmani yang
luas itu sedikit demi sedikit terlepas dari kekuasaannya, direbut oleh
negara-negara Eropa yang baru mulai bangun. Pada tahun 1699M terjadi
Perjanjian Karlowith yang memaksa Sultan untuk menyerahkan seluruh
Hongaria, sebagian besar Slovenia dan Croasia kepada Hapsburg; dan
Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia kepada
orang-orang Venetia.
Pada tahun 1770 M, tentara Rusia mengalahkan armada Kerajaan Usmani
di sepanjang pantai Asia Kecil. Akan tetapi, tentara Rusia ini dapat

dikalahkan kembali oleh Sultan Mustafa III (1757-1774 M) yang segera


dapat mengkonsolidasi kekuatannya.
Sultan Mustafa III diganti oleh saudaranya, Sultan Abd al-Hamid
(1774-1789 M), seorang yang lemah. Tidak lama setelah naik tahta, di
Kutchuk Kinarja ia mengadakan perjanjian yang dinamakan Perjanjian
Kinarja dengan Catherine II dari Rusia. Isi perjanjian itu antara lain:
1. Kerajaan Usmani harus menyerahkan benteng-benteng yang berada di
Laut Hitam kepada Rusia dan memberi izin kepada armada Rusia untuk
melintasi selat yang menghubungkan Laut Hitam dengan LautPutih, dan
2. Kerajaan Usmani mengakui kemerdekaan Kirman (Crimea).
Demikianlah proses kemunduran yang terjadi di Kerajaan Usmani selama
dua abad lebih setelah ditinggal Sultan Sulaiman al-Qanuni. Satu persatu
negeri-negeri di Eropa yang pernah dikuasai kerajaan ini memerdekakan
diri.

Bukan

hanya

negeri-negeri

di

Eropa

yang

memang

sedang

mengalami kemajuan yang memberontak terhadap kekuasaan Kerajaan


Usmani, tetapi juga beberapa daerah di Timur Tengah mencoba bangkit
memberontak.
Di Mesir, kelemahan-kelemanan Kerajaan Usmani membuat Mamalik
bangkit kembali. Di bawah kepemimpinan Ali Bey, pada tahun 1770 M,
Mamalik

kembali

berkuasa

di

Mesir,

sampai

datangnyaNapoleon

Bonaparte dari Perancis tahun 1798 M.


Di Libanon dan Syria, Fakhral-Din, seorang pemimpin Dntze, berhasil
menguasai Palestina, dan pada tahun 1610 M merampas Baalbak dan
mengancam Damaskus. Fakhr al-Din baru menyerah tahun 1635 M. Di
Persia, Kerajaan Safawi ketika masih jaya beberapa kali mengadakan
perlawanan terhadap Kerajaan Usmani dan beberapa kali pula ia keluar
sebagai pemenang.
Sementara itu, di Arabia bangkit kekuatan baru, yaitu aliansi antara
pemimpin agama Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang dikenal dengan
gerakan Wahhabiyah dengan penguasa lokal Ibn Saud. Mereka berhasil
menguasai beberapa daerah di jazirah Arab dan sekitarnya di awal paroh
kedua abad ke-18 M.

Anda mungkin juga menyukai