Anda di halaman 1dari 29

BAB II

PEMBAHASAN
INTRODUCTION
(ELEKTRONIKA DAN INSTRUMENTASI)
1. DEFINISI DAN RUANG LINGKUP ELEKTRONIKA
Pengertian elektronika adalah ilmu yang mempelajari tentang gerakan electron
dalam ruang hampa atau ruang berisi gas bertekanan rendah, seperti pada tabung
hampa, tabung gas, semikonduktor dari superkonduktor beserta kegunaannya.
Sedangkan pengertian elektronik adalah alat yang dibuat berdasarkan prinsip elektronika.
Hal atau benda yang menggunakan alat-alat yang dibentuk atau bekerja atas dasar
elektronika.
Ada beberapa definisi dari para ahli yang dapat memberikan gambaran
pengertian tentang elektronika, sebagai berikut :
a) Menurut Fitrzgerald, Higginbotham dan Grabel
Electronics is the branch of Electronical Engineering which deals extensively with
the transfer of information by means of electromagnetic energy. Artinya : Elektronika
adalah cabang ilmu listrik yang bersangkutan secara luas dengan alih informasi
menggunakan tenaga elektromagnetik.
b) Menurut J. Millman
Electronics is the science and the technology of the passage of charged particles in a
gas, in a vaccum, or in a semiconductor. Artinya : Elektronika adalah ilmu dan teknologi
tentang melintasnya partikel bermuatan listrik di dalam suatu gas atau suatu ruang
hampa, atau suatu semikonduktor.
c) Menurut E. Carol Young
The study, design, and use of devices that depend on the conduction of electricity
through a vaccum, gas, or semiconductor. Artinya : Elektronika meliputi studi,
perancangan dan penggunaan piranti-piranti yang berdasar hantaran listrik di dalam suatu
ruang hampa, gas dan semikonduktor.
d) Menurut H.C. Yohannes
Elektronika ialah ilmu yang mempelajari sifat-sifat dan pemakaian piranti (devices
= alat) yang asas kerjanya ialah aliran elektron dalam ruang hampa atau gas (seperti
dalam tabung-tabung radio) dan aliran elektron dalam semipenghantar (seperti misalnya
dalam transistor).
Dari definisi-definisi tersebut pada hakikatnya pengertian Elektronika adalah
mempelajari pengendalian dan penerapan gerakan partikel pembawa muatan (elektron)
dalam ruang hampa, gas atau semikonduktor atau Elektronika adalah ilmu yang
mempelajari alat listrik arus lemah yang dioperasikan dengan cara mengontrol aliran
elektron atau partikel bermuatan listrik dalam suatu alat seperti komputer, peralatan
elektronik, termokopel, semikonduktor, dan lain sebagainya.

Instrumentasi Elektronika Migas | 2

2. DEFINISI DAN RUANG LINGKUP INSTRUMENTASI


Instrumentasi adalah alat-alat dan piranti (device) yang dipakai untuk pengukuran dan
pengendalian dalam suatu sistem yang lebih besar dan lebih kompleks. Instrumentasi
bisa berarti alat untuk menghasilkan efek suara, seperti pada instrumen musik
misalnya, namun secara umum instrumentasi mempunyai 3 fungsi utama:
sebagai alat pengukuran
sebagai alat analisis, dan
sebagai alat kendali.
Instrumentasi sebagai alat pengukuran meliputi instrumentasi survey/statistik,
instrumentasi pengukuran suhu, dll. Contoh dari instrumentasi sebagai alat analisis
banyak dijumpai di bidang kimia dan kedokteran, misalnya, sementara contoh
instrumentasi sebagai alat kendali banyak ditemukan dalam bidang elektronika, industri
dan pabrik-pabrik.Sistem pengukuran, analisis dan kendali dalam instrumentasi ini bisa
dilakukan secara manual (hasilnya dibaca dan ditulis tangan), tetapi bisa juga dilakukan
secara otomatis dengan menggunakan komputer (sirkuit elektronik). Untuk jenis yang
kedua ini, instrumentasi tidak bisa dipisahkan dengan bidang elektronika dan
instrumentasi itu sendiri.
Instrumentasi sebagai
alat
pengukur seringkali merupakan bagian depan/
awal dari bagian-bagian selanjutnya (bagian kendalinya), dan bisa berupa pengukur
dari semua jenis besaran fisis, kimia, mekanis, maupun besaran listrik. Beberapa contoh
di antaranya adalah
pengukur: massa, waktu, panjang, luas, sudut, suhu, kele mbaban, tekanan, aliran, pH
(keasaman), level, radiasi, suara, cahaya, kecepatan, torque, sifat listrik (arus listrik,
tegangan listrik, tahanan listrik), viskositas, density, dll.
Sistem instrumentasi dan kendali dapat dilukiskan tersusun atas beberapa komponen:
a) sensor (sering juga dinamakan transduser) adalah system yang mengukur besaran
lingkungan (misalnya suhu, tekanan, kelembaban, dsb.) dan mengkonversikannya
menjadi besaran listrik (misalnya LM35 mengkonversi suhu menjadi tegangan
listrik).
b) analog-to-digital converter adalah system yang mengkonversikan besaran listrik
analog menjadi besaran listrik digital
c) information processing adalah system yang memproses besaran digital menjadi
besaran digital yang lain
d) display adalah system yang menampilkan suatu besaran digital, misalnya layar
monitor, LCD display, 7-segment display, dsb.
e) digital-to- analog converter adalah system yang mengkonversikan besaran listrik
digital menjadi besaran listrik analog
f) actor atau actuator adalah system yang mengkonversikan besaran listrik analog
menjadi besaran lainnya misalnya kecepatan putaran, dsb.

Instrumentasi Elektronika Migas | 3

PRINSIP DASAR ARUS LEMAH


A. KOMPONEN PASIF
Komponen pasif merupakan komponen yang dapat bekerja tanpa sumber
tegangan. Komponen pasif terdiri dari Hambatan atau tahanan, kapasitor atau
kondensator, induktor atau kumparan dan transformator.
B. KOMPONEN AKTIF
Komponen yang bila bekerja membutuhkan sumber daya listrik. Bahan yang paling
sering digunakan untuk pembuatan komponen aktif elektronika adalah semi konduktor.
Komponen ini menguatkan dan menyearahkan sinyal listrik, serta mengubah energi dari
satu bentuk ke bentuk lainnya.
1. RESISTOR
Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi
jumlah arus yang mengalir dalam suatu rangkaian. Resistor bersifat resistif dan
umumnya terbuat dari bahan karbon. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm
atau dilambangkan dengan simbol (Omega).Karakteristik utama dalam penggunaan
resistor yaitu :
a. harga resistansinya
b. rating dayanya
Rating daya menunjukkan daya maksimum yang bisa didisipasikan tanpa
menimbulkan panas yang berlebihan sehingga rusak terbakar. Disipasi menunjukkan
daya sebesar I2.R akan dibuang/digunakan oleh resistor. Disipasi ini menjadi panas
seiring dengan waktu yang berjalan.
Bentuk resistor yang umum adalah seperti tabung dengan dua kaki di kiri dan
kanan. Pada badannya terdapat lingkaran membentuk cincin kode warna untuk
mengetahui besar resistansi tanpa mengukur besarnya dengan Ohmmeter. Kode
warna tersebut adalah standar manufaktur yang dikeluarkan oleh EIA (Electronic
Industries Association) seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah

Instrumentasi Elektronika Migas | 4

Besarnya ukuran resistor sangat tergantung watt atau daya maksimum yang mampu
ditahan oleh resistor. Umumnya di pasar tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt.
Resistor yang memiliki daya maksimum 5, 10 dan 20 watt umumnya berbentuk
balok berwarna putih dan nilai resistansinya dicetak langsung dibadannya,
misalnya 1K 5W.
Contoh:
Urutan cincin warna (resistor):
- Coklat Ungu biru emas : 1 7 106
5 % = 17M 5 %
- coklat merah hitam jingga coklat : 1 2 0 103 1 % = 120k 5%
Berdasarkan Penggunaannya resistor dibagi menjadi :

1) Resistor dengan nilai yang tetap (fixed resistor)


Resistor tetap yaitu resistor yang nilai hambatannya relatif tetap, biasanya
terbuat dari karbon, kawat atau paduan logam. Nilainya hambatannya
ditentukan oleh tebalnya dan panjangnya lintasan karbon.
Macam - macam resistor tetap (fixed resistor) :
a) Resistor Kawat

Resistor kawat adalah jenis resistor generasi pertama yang lahir pada
saat rangkaian elektronika masih menggunakan tabung hampa (vacuum
tube). Bentuknya bervariasi dan memiliki ukuran yang cukup besar.
Resistor kawat ini biasanya banyak dipergunakan dalam rangkaian power
karena memiliki resistansi yang tinggi dan tahan terhadap panas yang
tinggi. Jenis lainnya yang masih dipakai sampai sekarang adalah jenis
resistor dengan lilitan kawat yang dililitkan pada bahan keramik, kemudian
dilapisi dengan bahan semen. Rating daya yang tersedia untuk resistor
jenis ini adalah dalam ukuran 1 watt, 2 watt, 5 watt, dan 10 watt. Ilustrasi
dari resistor kawat dapat dilihat pada gambar di bawah.

b) Resistor Batang Karbon (Arang)


Pada awalnya, resistor ini dibuat dari bahan karbon kasar yang diberi
lilitan kawat yang kemudian diberi tanda dengan kode warna berbentuk
gelang dan pembacaannya dapat dilihat pada tabel kode warna. Jenis
resistor ini juga merupakan jenis resistor generasi awal setelah adanya
resistor kawat. Sekarang sudah jarang untuk dipakai pada rangkaian
rangkaian elektronika. Bentuk dari resistor jenis ini dapat dilihat pada
gambar di bawah.

Instrumentasi Elektronika Migas | 5

c) Resistor Keramik atau Porselin


Dengan adanya perkembangan teknologi di bidang elektronika, saat ini
telah dikembangkan jenis resistor yang terbuat dari bahan keramik atau
porselin. Kemudian, dengan perkembangan yang ada, telah dibuat jenis
resistor keramik yang dilapisi dengan kaca tipis. Jenis resistor ini telah
banyak digunakan dalam rangkaian elektronika saat ini karena bentuk
fisiknya kecil dan memiliki resistansi yang tinggi. Resistor ini memiliki
rating daya sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt. Bentuk dari
resistor ini dapat dilihat pada gambar di bawah.

d) Resistor Film Karbon


Resistor film karbon ini adalah resistor hasil pengembangan dari
resistor batang karbon. Sejalan dengan perkembangan teknologi, para
produsen komponen elektronika telah memunculkan jenis resistor yang
dibuat dari bahan karbon dan dilapisi dengan bahan film yang berfungsi
sebagai pelindung terhadap pengaruh luar. Nilai resistansinya dicantumkan
dalam bentuk kode warna. Resistor ini juga sudah banyak digunakan
dalam berbagai rangkaian elektronika karena bentuk fisiknya kecil dan
memiliki resistansi yang tinggi. Namun, untuk masalah ukuran fisik,
resistor ini masih kalah jika dibandingkan dengan resistor keramik.
Resistor ini memiliki rating daya sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2
watt. Bentuk dari resistor ini dapat dilihat pada gambar di bawah.

e) Resistor Film Metal


Resistor film metal dibuat dengan bentuk hampir menyerupai resistor
film karbon. Resistor tahan terhadap perubahan temperatur. Resistor ini
juga memiliki tingkat kepresisian yang tinggi karena nilai toleransi yang
tercantum pada resistor ini sangatlah kecil, biasanya sekitar 1% atau 5%.
Jika dibandingkan dengan resistor film karbon, resistor film metal ini
memiliki tingkat kepresisian yang lebih tinggi dibandingkan dengan
resistor film karbon karena resistor film metal ini memiliki 5 buah gelang
warna, bahkan ada yang 6 buah gelang warna. Sedangkan, resistor film
karbon hanya memiliki 4 buah gelang warna. Resistor film metal ini sangat
Instrumentasi Elektronika Migas | 6

cocok digunakan dalam rangkaian rangkaian yang memerlukan tingkat


ketelitian yang tinggi, seperti alat ukur. Resistor ini memiliki rating daya
sebesar 1/4 watt, 1/2 watt, 1 watt, dan 2 watt. Bentuk dari resistor ini dapat
dilihat pada gambar di bawah.

2) Resistor dengan nilai yang berubah-ubah (variable resistor/potensiometer)


Variable Resistor adalah jenis Resistor yang nilai resistansinya dapat berubah
dan diatur sesuai dengan keinginan. Pada umumnya Variable Resistor terbagi
menjadi Potensiometer, Rheostat dan Trimpot.
Macam - macam resistor variabel (variable resistor) :
a) Potensiometer
Potensiometer merupakan variable resistor yang paling sering
digunakan. Pada umumnya, potensiometer terbuat dari kawat atau karbon.
Potensiometer yang terbuat dari kawat merupakan potensiometer yang
telah lama lahir pada generasi pertama pada waktu rangkaian elektronika
masih menggunakan tabung hampa (vacuum tube). Potensiometer dari
kawat ini memiliki bentuk yang cukup besar, sehingga saat ini sudah
jarang ada yang memakai potensiometer seperti ini. Pada saat ini,
potensiometer lebih banyak terbuat dari bahan karbon. Ukurannya pun
lebih kecil, namun dengan resistansi yang besar. Gambar di bawah adalah
potensiometer yang terbuat dari bahan karbon. Pada umumnya, perubahan
resistansi pada potensiometer terbagi menjadi 2, yakni linier dan
logaritmik. Yang dimaksud dengan perubahan secara linier adalah
perubahan nilai resistansinya sebanding dengan arah putaran pengaturnya.
Sedangkan, yang dimaksud dengan perubahan secara logaritmik adalah
perubahan nilai resistansinya berdasarkan perhitungan logaritmik. Pada
umumnya, potensiometer logaritmik memiliki perubahan resistansi yang
cukup unik karena nilai maksimal dari resistansi diperoleh ketika kita telah
melakaukan setengah kali putaran pada pengaturnya. Sedangkan, nilai
minimal diperoleh saat pengaturnya berada pada titik nol atau titik
maksimal putaran. Untuk dapat mengetahui apakah potensiometer tersebut
linier atau logaritmik, dapat dilihat huruf yang tertera di bagian belakang
badannya. Jika tertera huruf B, maka potensiometer tersebut logaritmik.
Jika huruf A, maka potensiometer linier. Pada umumnya, nilai resistansi
juga tertera pada bagian depan badannya. Nilai yang tertera tersebut
merupakan nilai resistansi maksimal dari potensiometer.

Instrumentasi Elektronika Migas | 7

b) Potensiometer Geser
Potensiometer geser merupakan kembaran dari potensiometer yang
telah dibahas di atas. Perbedaannya adalah cara mengubah nilai
resistansinya. Pada potensiometer yang telah dibahas di atas, cara
mengubah nilai resistansinya adalah dengan cara memutar gagang yang
muncul keluar. Sedangkan, untuk potensiometer geser, cara mengubah
nilai resistansinya adalah dengan cara menggeser gagang yang muncul
keluar. Pada umumnya, bahan yang digunakan untuk membuat
potensiometer ini adalah karbon. Adapula yang terbuat dari kawat, namun
saat ini sudah jarang digunakan karena ukurannya yang besar. Pada
potensiometer geser ini, perubahan nilai resistansinya hanyalah perubahan
secara linier. Bentuk potensiometer geser dapat dilihat pada gambar di
bawah .

c) Rheostat
Rheostat adalah resistor variabel yang digunakan untuk mengontrol
arus yang mengalir dalam rangkaian atau sirkuit. Rheostat adalah salah
satu jenis potensiometer yang memiliki 2 kawat kaki untuk koneksi.
Rheostat (hambatan geser) merupakan resistor variabel yang didesain
untuk menangani arus dan tegangan yang tinggi. Oleh karena itu sebagian
besar rheostat didesain seperti resistor gulungan kawat (wirewound).

d) Trimpot
Trimpot adalah kependekan dari Tripotensiometer. Sifat dan
karakteristik dari trimpot tidak jauh beda dengan potensiometer. Hanya
saja, trimpot ini memiliki ukuran yang jauh lebih kecil jika dibandingkan
dengan potensiometer. Perubahan nilai resistansinya juga dibagi menjadi 2,
yakni linier dan logaritmik. Huruf B yang tertera pada trimpot menyatakan
Instrumentasi Elektronika Migas | 8

perubahan nilai resistansinya secara logaritmik, sedangkan huruf A untuk


perubahan secara linier. Untuk mengubah nilai resistansinya, kita dapat
memutar lubang tengah pada badan trimpot dengan menggunakan obeng.
Bentuk trimpot dapat dilihat pada gambar di bawah.

3) Thermistor (Thermal Resistor)


Thermistor adalah Jenis Resistor yang nilai resistansinya dapat dipengaruhi
oleh suhu (Temperature). Thermistor merupakan Singkatan dari Thermal
Resistor. Terdapat dua jenis Thermistor yaitu Thermistor NTC (Negative
Temperature Coefficient) dan Thermistor PTC (Positive Temperature Coefficient).
NTC (Negative Temperature Coefficient) dan PTC (Positive Temperature
Coefficient) merupakan resistor yang nilai resistansinya berubah jika terjadi
perubahan temperatur di sekelilingnya. Untuk NTC, nilai resistansi akan naik jika
temperatur sekelilingnya turun. Sedangkan, nilai resistansi PTC akan naik jika
temperatur sekelilingnya naik. Kedua komponen ini sering digunakan sebagai
sensor untuk mengukur suhu atau temperatur daerah di sekelilingnya. Bentuk
NTC dan PTC dapat dilihat pada gambar di bawah.

4) LDR (Light Dependent Resistor)


LDR (Light Dependent Resistor) merupakan resistor yang nilai resistansinya
berubah jika terjadi perubahan intensitas cahaya di daerah sekelilingnya. Pada
prinsipnya, intensitas cahaya yang besar mampu mendorong elektron untuk
menembus batas batas pada LDR. Dengan demikian, nilai resistansi LDR akan
naik jika intensitas cahaya yang diterimanya sedikit atau kondisi sekelilingnya
gelap. Sedangkan, nilai resistansi LDR akan turun jika intensitas cahaya yang
diterimanya banyak atau kondisi sekelilingnya terang. LDR sering digunakan
sebagai sensor cahaya, khususnya sebagai sensor cahaya yang digunakan pada
lampu taman. Bentuk LDR dapat dilihat pada gambar di bawah.
Instrumentasi Elektronika Migas | 9

5) Trimpot
Trimpot adalah sebuah resistor variabel kecil yang biasanya digunakan pada
rangkaian elektronika sebagai alat tuning atau bisa juga sebagai re-kalibrasi.
Seperti potensio juga, Trimpot juga mempunyai 3kaki selain kesamaan tersebut
sistem kerja/cara kerjanya juga meyerupai potensio hanya saja kalau potensio
mempunyai gagang atau handle untuk memutar atau menggeser sedangkan
Trimpot tidak. Lalu bagaimana cara merubah nilai resistansi sebuah Trimpot?,
jawabannya adalah dengan cara mengetrimnya menggunakan obeng pengetriman.
Dalam rangkaian elektronika Trimpot disimbolkan dengan huruf VR.

6) VDR (Voltage Dependent Resistor)


VDR adalah singkatan dari Voltage Dependent Resistor, yaitu sebuah resistor
tidak tetap yang nilai resistansinya akan berubah tergantung dari tegangan yang
diterimanya. Sifat dari VDR adalah semakin besar tegangan yang diterima, maka
nilai tahanannya akan semakin mengecil, sehingga arus yang melaluinya akan
semakin besar. Dengan adanya sifat tersebut maka VDR akan sangat cocok
digunakan sebagai stabilizer bagi komponen transistor.

2. Kapasitor
Kapasitor atau kondensator adalah suatu komponen listrik yang dapat menyimpan
muatan listrik. Kapasitas kapasitor diukur dalam F (Farad) = 10-6 mF (mikro
Farad) = 10-9 nF (nano Farad) = 10-12 pF (piko Farad). Salah satu karateristik kapasitor
Instrumentasi Elektronika Migas | 10

yaitu dapat meyimpan tenaga listrik dalam suatu medan elektrostatis. Pengaruh dari
medan listrik ini sudah diketahui, namun tidak dapat dilihat mata. Untuk membuat
kapasitor dibutuhkan plat penghantar dan bahan dielektriknya harus tipis agar bias
membuat kapasitor dengan volume yang kecil pula. Dengan lapisan dielektrik yang tipis
kapasitor harus mampu menahan tegangan DC yang tinggi tanpa menimpulkan kerusakan
kapasitor (breakdown). Kapasitor mempunyai nilai kapasitansi tidak konstan
tergantung dengan temperatur, pembesaran dielektrik bahan dan perubahan permitivitas
dielektrik Kapasitor elektrolit mempunyai dua kutub positif dan kutub negatif (bipolar),
sedangkan
kapasitor kering misal kapasitor mika, kapasitor kertas tidak
membedakan kutub positif dan kutub negatif (non polar). Bentuk dan simbol
kapasitor dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Fungsi-fungsi kapasitor/ kondensator dalam rangkaian elektronik/listrik antara lain:


Sebagai kopling antara rangkaian
Penghematan daya listrik
Penyaring/filter dalam rangkaian catu daya (power supply)
Meredam nois atau ripple
Menghindari loncatan api saat sakelar beban listrik di hubungkan
(peredam kejut).
Pembuatan kapasitor / kondensator disusun menggunakan pelat logam yang
dipisahkan menggunakan isolator yang di sebut dielektrikum.
Jenis-jenis dielektrikum untuk pembuatan kapasitor/ kondensator anatara lain :
a) Kapasitor Elektrolit/ Electrolite Condensator (ELCO)
Kapasitor elektrolit merupakan jenis kapasitor polar yang memiliki dua
kutub terdiri dari kutub positif dan kutub negative.
Pada kapasitor ini tanda untuk kutub negative adalah sebuah garis tanda
putih di sepanjang badan/bodi kapasitor. Nilai untuk jenis kapasitor
elektrolit dapat dilihat pada bodi kapasitor.

b) Kapasitor tantalum
Kapasitor jenis ini juga termasuk dalam kapasitor polar seperti
kapasitor elektrolit. Pemasangannya juga memerlukan perhatian untuk
kedua kutubnya agar tidak terbalik. Pemasangan yang salah akan
mengakibatkan kerusakan pada kapsitor tersebut bahkan bisa hingga
Instrumentasi Elektronika Migas | 11

meletus/ meledak. Kapasitor tantalum bagus dan sesuai digunakan dalam


jangkauan temeperatur dan frekwensi yang luas.

c) Kapasitor Keramik
Nilai kapasitor keramik sangat kecil, dan bagus digunakan pada
jangkauan tegangan yang luas hingga 1000 volt. Bentuk dari kapasitor
keramik beragam, karena sifatnya yang stabil maka kapsitor jenis keramik
ini sangat bagus digunakan pada frekwensi tinggi. Kapasitor keramik
termasuk jenis kapasitor non-polar, jadi pemasangannya bisa terbolakbalik.

d) Kapasitor Mika
Kapasitor ini hamper sama karakternya dengan kapasitor keramik, sifatnya
yang stabil memungkinkan cocok digunakan pada frekwensi tinggi.

e) Kapasitor Polyester
Kapasitor polyester kapasitansinya cukup stabil, nilai kapasitor polyemer
antar 100pF hingga 2F, dengan toleransi 5%, tegangan maksimum
kerjanya hingga 400volt. Bentuk fisik dari jenis kapasitor ini adalah kotak
segi empat dan berwarna hijau.

f) Kapasitor Kertas
Sama seperti kapasitor polyester, memiliki cukup kestabilan kerja dan
bagus digunakan pada frekwensi tinggi. Nilai kapasitansi kapasitor kertas
berkisar antara 10nF sampai dengan 10uF, dengan toleransi rata rata 10%.
Mampu bekerja pada tegangan hingga 600volt.

Instrumentasi Elektronika Migas | 12

g) kapasitor variable/ Variable Resistor (VARCO)


Nilai kapasitansinya dapat berubah-ubah sesuai dengan namanya. Dengan
memutar poros pada kapasitor maka akan di dapatkan nilai kapasitansi
yang berubah-ubah. Variable Condensator/ kapasitor variable ini memiliki
kapasitas kapasitansi 100pF hingga 500pF.

h) Kapasitor Trimmer
Memiliki kapasitansi hingga 100pF dan biasanya dipaang parallel dengan
variable kapasitor untuk mendapatkan nilai lebih akurat pada pengatur
gelombang frekwensi.

Tabel kode warna pada kapasitor:

Tabel Kode Angka pada Kapasitor

Instrumentasi Elektronika Migas | 13

Contoh :

3. Induktor
Induktor adalah salah satu komponen pasif elektronika yang cara kerjanya
berdasarkan induksi magnet. Fungsi pokok induktor adalah untuk menimbulkan medan
magnet. Induktor biasanya berupa kawat yang digulung sehingga menjadi kumparan.
Kemampuan induktor menghasilkan medan magnet dari arus yang mengalir disebut
Induktansi, dilambangkan dengan huruf L, Satuan induktansi adalah henry (H) =
1000mH (mili Henry)

Prinsip kerja induktor: Dalam bentuk yang paling sederhana induktansi terjadi pada
sebuah penghantar listrik (konduktor) yang bisa berupa kumparan atau sebuah kabel. Arus
listrik (i) yang mengalir pada konduktor tersebut menghasilkan flux magnetik () yang
sebanding dengan arus listrik yang mengalir tersebut. Dengan aturan tangan kanan dapat
diketahui arah medan listrik terhadap arah arus listrik.

Suatu coil mempunyai nilai induktansi. Suatu arus yang berubah-ubah dalam
suatu coil akan menghasilkan medan magnet yang berubah ubah dan akan menghasilkan
tegangan dengan arah yang berlawanan pada coil yang sama, gejala ini sesuai Hukum
Lenz yang disebut induksi diri (self-induction). Besarnya induktansi bergantung pada
besar fisik, banyaknya lilitan dan jenis bahan inti dari inductor yang bersangkutan.
Kerugian pada inductor ini dibagi 2 jenis yaitu:
Kerugian dalam lilitan yang besarnya bergantung pada besarnya resistansi dari
kawat dan besar arus yang mengalir
Instrumentasi Elektronika Migas | 14

Kerugian dalam inti yang besarnya bergantung pada bahan inti dan frekuensi
kerjanya
Factor kualitas dari inductor bisa ditunjukkan dengan sebuah resistor yang dipasang
seri dengan inductor. Jenis-jenis inductor tergantung dengan jenis bahan lilitan, jenis
bahan inti dan bentuk melilitkan kumparan pada inti. Induktor yang umum digunakan
yaitu jenis transformator.
Macam-macam induktor menurut bahan pembuat intinya dapat dibagi 4 yaitu :
1) Induktor inti udara (Air Core Inductor)
Beroperasi pada frekuensi tinggi tetapi mempunyai induktansi yang rendah

2) Induktor inti besi (Iron Core Inductor)


Mempunyai resistansi yang kecil dan induktansi yang besar. Rugi-rugi pada inti,
eddy current (arus eddy), saturasi magnetik dan batas histerisis membuat batas
frekuensi dan arus operasi.

3) Induktor inti ferit (Ferrite Core Inductor)


Material keramik yang tidak konduktif membuat induktor jenis ini beroperasi pada
frekuensi tinggi, namun mempunyai batasan pada saturasi magnetik

4) Induktor dengan perubahan inti


Induktansi tinggi dengan histerisi dan rugi-rugi eddy current rendah.

Fungsi Induktor :
-

Penyimpan arus listrik dalam bentuk medan magnet


Menahan arus bolak-balik ( AC )
Meneruskan/meloloskan arus searah ( DC )
Sebagai penapis (filter) Sebagai penalaan (tuning)
Kumparan/coil ada yang memiliki inti udara, inti besi, atau inti ferit
Tempat terjadinya gaya magnet
Pelipat ganda tegangan
Pembangkit getaran
Instrumentasi Elektronika Migas | 15

Berdasarkan kegunaannya Induktor bekerja pada :


-

frekuensi tinggi pada spul antena dan osilator


frekuensi menengah pada spul MF
frekuensi rendah pada trafo input, trafo output, spul speaker, trafo tenaga, spul
relay dan spul penyaring

4. Transformator (TRAFO)
Transormator (atau yang lebih dikenal dengan nama trafo) adalah suatu alat elektronik
yang memindahkan energi dari satu sirkuit elektronik ke sirkuit lainnya melalui pasangan
magnet. Trafo mempunyai dua bagian diantaranya yaitu bagian input (primer) dan bagian
output (sekunder). Pada bagian primer atau pun bagian sekunder terdiri dari lilitan-lilitan
tembaga.

Prinsip kerja dari sebuah transformator adalah sebagai berikut. Ketika Kumparan
primer dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik, perubahan arus listrik pada
kumparan primer menimbulkan medan magnet yang berubah. Medan magnet yang
berubah diperkuat oleh adanya inti besi dan dihantarkan inti besi ke kumparan sekunder,
sehingga pada ujung-ujung kumparan sekunder akan timbul ggl induksi. Efek ini
dinamakan induktansi timbal-balik (mutual inductance)
Karakteristik transformator :
Kerja transformator yang berdasarkan induksi-elektromagnetik, menghendaki adanya
gandengan magnet antara rangkaian primer dan sekunder. Gandengan magnet ini berupa
inti besi tempat melakukan fluks bersama. Berdasarkan cara melilitkan kumparan pada
inti, dikenal dua macam transformator, yaitu tipe inti dan tipe cangkang.
Contoh alat penerapan dari Transformator :
- TV
- Komputer
- Mesin foto copy
- Gardu listrik,dll.

5. SAKLAR
Saklar adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk memutuskan jaringan listrik,
atau untuk menghubungkannya. Jadi saklar pada dasarnya adalah alat penyambung atau
pemutus aliran listrik. Selain untuk jaringan listrik arus kuat, saklar berbentuk kecil juga
dipakai untuk alat komponen elektronika arus lemah.
Secara sederhana, saklar terdiri dari dua bilah logam yang menempel pada suatu
rangkaian, dan bisa terhubung atau terpisah sesuai dengan keadaan sambung (on) atau
putus (off) dalam rangkaian itu. Material kontak sambungan umumnya dipilih agar
supaya tahan terhadap korosi. Kalau logam yang dipakai terbuat dari bahan oksida biasa,
maka saklar akan sering tidak bekerja. Untuk mengurangi efek korosi ini, paling tidak
logam kontaknya harus disepuh dengan logam anti korosi dan anti karat.
Instrumentasi Elektronika Migas | 16

JENIS SAKLAR (SWITCH)

SIMBOL SAKLAR

SPST
Saklar On-Off sederhana
Saklar Push-On
Kedua terminal akan terhubung selama ditekan
Saklar Push-Off
Kedua terminal akan terputus selama ditekan

Saklar SPDT
Terminal sentral (COM) akan terhubung ke salah satu
terminal dan akan terputus ke terminal lainnnya
dalam satu kondisi.

Saklar DPST
Dalam kondisi On ("1") dua terminal sentral akan
terhubung ke terminal pasangannya dan akan
terputus ketika kondisi Off ("0")

Saklar DPDT
Dua terminal sentral akan terhubung ke salah satu
terminal pasangannya dan teputus ke terminal
pasangannya yang lain dalam satu kondisi.

6. RELAY

Instrumentasi Elektronika Migas | 17

Relay adalah Saklar (Switch) yang dioperasikan secara listrik dan merupakan
komponen Electromechanical (Elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian utama yakni
Elektromagnet (Coil) dan Mekanikal (seperangkat Kontak Saklar/Switch). Relay
menggunakan Prinsip Elektromagnetik untuk menggerakkan Kontak Saklar sehingga
dengan arus listrik yang kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang bertegangan
lebih tinggi. Sebagai contoh, dengan Relay yang menggunakan Elektromagnet 5V dan 50
mA mampu menggerakan Armature Relay (yang berfungsi sebagai saklarnya) untuk
menghantarkan listrik 220V 2A.

Beberapa fungsi Relay yang telah umum diaplikasikan kedalam peralatan Elektronika
diantaranya adalah :
i. Relay digunakan untuk menjalankan Fungsi Logika (Logic Function)
ii. Relay digunakan untuk memberikan Fungsi penundaan waktu (Time Delay
Function)
iii.
Relay digunakan untuk mengendalikan Sirkuit Tegangan tinggi dengan
bantuan dari Signal Tegangan rendah.
iv. Ada juga Relay yang berfungsi untuk melindungi Motor ataupun komponen
lainnya dari kelebihan Tegangan ataupun hubung singkat (Short).

7. TRANSISTOR

Transistor adalah suatu komponen aktif semikonduktor yang bekerjanya


menggunakan pengolahan aliran arus elektron di dalam bahan tersebut. Transistor dapat
berfungsi sebagai penguat arus maupun tegangan. Transistor merupakan peralatan yang
mempunyai 3 lapis N-P-N atau P-N-P.

Instrumentasi Elektronika Migas | 18

Transistor terdiri dari 3 elemen yaitu: Basis (B), Kolektor (C), Emitor (E). Transistor
mempunyai dua junction, yaitu batas pertemuan antara emitor-basis dan pertemuan antara basiskolektor.Dalam rentang operasi, arus kolektor IC merupakan fungsi dari arus basis IB. Perubahan
pada arus basis IB memberikan perubahan yang diperkuat pada arus kolektor untuk tegangan
emitor-kolektor VCE yang diberikan. Perbandingan kedua arus ini dalam orde 15 sampai 100.
Untuk menentukan kaki basis,emitor dan kolektor dengan secara tidak langsung adalah
sebagai berikut:

Kaki I
Kaki II Kaki III Gejala
M
H
ON
M
H
ON
H
M
OFF
H
M
OFF
Keterangan : H = hitam, M = merah
Dari hasil Tabel di atas, ditemukan bahwa kaki I adalah kaki Basis, yang mana selama
pengukuran harus ada kaki acuan (patokan) dan menunjukkan gejala ON, ON kemudian
bila dibalik polaritasnya menunjukkan gejala OFF,OFF maka kaki basis ON pada saat
dipasang polaritas negative atau OFF saat dipasang polaritas positif maka jenis transistor
adalah PNP. Sedangkan untuk menentukan kaki emitor dan kolektor, kita harus
menghitung nilai hambatan yang dimiliki oleh emitor dan kolektor. Apabila kaki II
hambatannya lebih besar dari kaki III maka dapat kita simpulkan bahwa kaki II merupaka
kolektor dan kaki III merupakan emitor.
Transistor dapat dipergunakan antara lain untuk:
Sebagai penguat arus, tegangan dan daya (AC dan DC)
Sebagai penyearah
Sebagai mixer
Sebagai osilator
Sebagai switch
Transistor mempunyai 3 jenis diantaranya yaitu:

Instrumentasi Elektronika Migas | 19

a) Uni Junktion Transistor (UJT)

Uni Junktion Transistor (UJT) adalah transistor yang mempunyai satu kaki emitor
dan dua basis. Kegunaan transistor ini adalah terutama untuk switch elektronis.
Ada Dua jenisUJT ialah UJT Kanal N dan UJT Kanal P.
b) Field Effect Transistor (FET)
Field Effect Transistor (FET) adalah suatu jenis transistor khusus. Tidak seperti
transistor biasa, yang akan menghantar bila diberi arus di basis, transistor jenis
FET akan menghantar bila diberikan tegangan (jadi bukan arus). Kaki-kakinya
diberi nama Gate (G), Drain (D) dan Source (S).

Beberapa Kelebihan FET dibandingkan dengan transistor biasa ialah antara lain
penguatannya yang besar, serta desah yang rendah. Karena harga FET yang lebih
tinggi dari transistor, maka hanya digunakan pada bagianbagian yang memang
memerlukan. Ujud fisik FET ada berbagai macam yang mirip dengan transistor.
c) MOSFET

Metal Oxide Semiconductor FET (MOSFET) adalah suatu jenis FET yang
mempunyai satu Drain, satu Source dan satu atau dua Gate. MOSFET mempunyai
input impedance yang sangat tinggi. Mengingat harga yang cukup tinggi, maka
MOSFET hanya digunakan pada bagian bagian yang benarbenar memerlukannya.
Penggunaannya misalnya sebagai RF amplifier pada receiver untuk memperoleh
amplifikasi yang tinggi dengan desah yang rendah.

Dalam pengemasan dan perakitan dengan menggunakan MOSFET perlu


diperhatiakan bahwa komponen ini tidak tahan terhadap elektrostatik,
mengemasnya menggunakan kertas timah, pematriannya menggunakan jenis
Instrumentasi Elektronika Migas | 20

solder yang khusus untuk pematrian MOSFET. Seperti halnya pada FET, terdapat
dua macam MOSFET ialah Kanal P dan Kanal N.
8. DIODA
Dioda atau diode adalah sambungan bahan p-n yang berfungsi terutama sebagai
penyearah. Bahan tipe-p akan menjadi sisi anode sedangkan bahan tipe-n akan
menjadi katode. Bergantung pada polaritas tegangan yang diberikan kepadanya, diode
bisa berlaku sebagai sebuah saklar tertutup (apabila bagian anode mendapatkan tegangan
positif sedangkan katodenya mendapatkan tegangan negatif) dan berlaku sebagi saklar
terbuka (apabila bagian anode mendapatkan tegangan negatif sedangkan katode
mendapatkan tegangan positif). Kondisi tersebut terjadi hanya pada diode idealkonseptual. Pada diode faktual (riil), perlu tegangan lebih besar dari 0,7V (untuk diode
yang terbuat dari bahan silikon) pada anode terhadap katode agar diode dapat
menghantarkan arus listrik. Tegangan sebesar 0,7V ini disebut sebagai tegangan halang
(barrier voltage). Diode yang terbuat dari bahan Germanium memiliki tegangan halang
kira-kira 0,3V.

Macam- macam diantaranya yaitu:


1) Dioda pemancar cahaya atau LED
Light Emmiting Dioda atau lebih dikenal dengan sebutan LED (light-emitting
diode) adalah suatu semikonduktor yang memancarkan cahaya monokromatik

2) Dioda Foto
Dioda foto adalah jenis dioda yang berfungsi mendeteksi cahaya. Berbeda
dengan dioda biasa, komponen elektronika ini akan mengubah cahaya menjadi
arus listrik. Cahaya yang dapat dideteksi oleh dioda foto ini mulai dari cahaya
infra merah, cahaya tampak, ultra ungu sampai dengan sinar-X. Aplikasi dioda
foto mulai dari penghitung kendaraan di jalan umum secara otomatis,
pengukur cahaya pada kamera serta beberapa peralatan di bidang medis.

Instrumentasi Elektronika Migas | 21

Alat yang mirip dengan Dioda foto adalah Transistor foto (Phototransistor).
Transistor foto ini pada dasarnya adalah jenis transistor bipolar yang
menggunakan kontak (junction) base-collector untuk menerima cahaya.
Komponen ini mempunyai sensitivitas yang lebih baik jika dibandingkan
dengan Dioda Foto. Hal ini disebabkan karena elektron yang ditimbulkan oleh
foton cahaya pada junction ini di-injeksikan di bagian Base dan diperkuat di
bagian Kolektornya. Namun demikian, waktu respons dari Transistor-foto
secara umum akan lebih lambat dari pada Dioda-Foto.
3) Dioda laser
Dioda laser adalah sejenis laser di mana media aktifnya sebuah semikonduktor
persimpangan p-n yang mirip dengan yang terdapat pada dioda pemancar
cahaya. Dioda laser kadang juga disingkat LD atau ILD. Dioda laser baru
ditemukan pada akhir abad ini oleh ilmuwan Universitas Harvard. Prinsip
kerja dioda ini sama seperti dioda lainnya yaitu melalui sirkuit dari rangkaian
elektronika, yang terdiri dari jenis p dan n. Pada kedua jenis ini sering
dihasilkan 2 tegangan, yaitu:
biased forward, arus dihasilkan searah dengan nilai 0,707 utk
pembagian v puncak, bentuk gelombang di atas ( + ).
backforward biased, ini merupakan tegangan berbalik yang dapat
merusak suatu komponen elektronika.
4) Dioda Zener
Sebuah dioda biasanya dianggap sebagai alat yang menyalurkan listrik ke satu
arah, namun Dioda Zener dibuat sedemikian rupa sehingga arus dapat
mengalir ke arah yang berlawanan jika tegangan yang diberikan melampaui
batas "tegangan rusak" (breakdown voltage) atau "tegangan Zener".

Simbol Dioda zener


Dioda yang biasa tidak akan mengijinkan arus listrik untuk mengalir secara
berlawanan jika dicatu-balik (reverse-biased) di bawah tegangan rusaknya.
Jika melampaui batas tegangan rusaknya, dioda biasa akan menjadi rusak
karena kelebihan arus listrik yang menyebabkan panas. Namun proses ini
adalah reversibel jika dilakukan dalam batas kemampuan. Dalam kasus
pencatuan-maju (sesuai dengan arah gambar panah), dioda ini akan
memberikan tegangan jatuh (drop voltage) sekitar 0.6 Volt yang biasa untuk
dioda silikon. Tegangan jatuh ini tergantung dari jenis dioda yang dipakai.
Instrumentasi Elektronika Migas | 22

Sebuah dioda Zener memiliki sifat yang hampir sama dengan dioda biasa,
kecuali bahwa alat ini sengaja dibuat dengan tengangan rusak yang jauh
dikurangi, disebut tegangan Zener. Sebuah dioda Zener memiliki p-n junction
yang memiliki doping berat, yang memungkinkan elektron untuk tembus
(tunnel) dari pita valensi material tipe-p ke dalam pita konduksi material tipen. Sebuah dioda zener yang dicatu-balik akan menunjukan perilaku rusak yang
terkontrol dan akan melewatkan arus listrik untuk menjaga tegangan jatuh
supaya tetap pada tegangan zener. Sebagai contoh, sebuah diode zener 3.2 Volt
akan menunjukan tegangan jatuh pada 3.2 Volt jika diberi catu-balik. Namun,
karena arusnya tidak terbatasi, sehingga dioda zener biasanya digunakan untuk
membangkitkan tegangan referensi, atau untuk menstabilisasi tegangan untuk
aplikasi-aplikasi arus kecil
5) Dioda Schottky (SCR)
SCR singkatan dari Silicon Control Rectifier. Adalah Dioda yang mempunyai
fungsi sebagai pengendali. SCR atau Tyristor masih termasuk keluarga
semikonduktor dengan karateristik yang serupa dengan tabung thiratron.
Sebagai pengendalinya adalah gate (G). SCR sering disebut Therystor. SCR
sebetulnya dari bahan campuran P dan N. Isi SCR terdiri dari PNPN (Positif
Negatif Positif Negatif) dan biasanya disebut PNPN Trioda.

Pada gambar terlihat SCR dengan anoda pada kaki yang berulir, Gerbang gate
pada kaki yang pendek, sedangkan katoda pada kaki yang panjang
Simbol pada skema elektronik untuk SCR:

Fungsi SCR:
- Sebagai rangkaian Saklar (switch control)
- Sebagai rangkaian pengendali (remote control
Diagram dan skema SCR:

Instrumentasi Elektronika Migas | 23

Ada tiga kelompok besar untuk semikonduktor ini yang sama-sama dapat
berfungsi sebagai Saklar (Switching) pada tegangan 120 volt sampai 240 volt.
Ketiga kelompok tersebut adalah SCR ini sendiri, DIAC dan TRIAC.
6) TRIAC
TRIAC mempunyai kontruksi sama dengan DIAC, hanya saja pada TRIAC
terdapat terminal pengontrol (terminal gate). Sedangkan untuk terminal
lainnya dinamakan main terminal 1 dan main terminal 2 (disingkat mt1 dan
mt2). Seperti halnya pada DIAC, maka TRIAC pun dapat mengaliri arus
bolak-balik, tidak seperti SCR yang hanya mengalirkan arus searah (dari
terminal anoda ke terminal katoda).

Lambang TRIAC di dalam skema elektronika, memiliki tiga kaki, dua


diantaranya terminal MT1 (T1) dan MT2 (T2) dan lainnya terminal Gate (G)
Triac adalah setara dengan dua SCR yang dihubungkan aralel. Artinya TRIAC
dapat menjadi saklar keduanya secara langsung. TRIAC digolongkan menurut
kemampuan engontakan. TRIAC tidak mempunyai kemampuan kuasa yang
sangat tinggi untuk jenis SCR. Ada dua jenis TRIAC, Low- current dan
Medium-Current. Low-Current TRIAC dapat mengontak hingga kuat arus 1
ampere dan mempunyai maksimal tegangan sampai beberapa ratus volt.
Medium-Current TRIACS dapat mengontak sampai kuat arus 40 ampere dan
mempunyai maksimal tegangan hingga 1.000 volt.

7) DIAC
DIAC merupakan salah satu jenis dioda SCR, namun memiliki dua terminal
(elektroda) saja, berbeda dengan "saudaranya" yang memiliki tiga terminal,
TRIAC.

Instrumentasi Elektronika Migas | 24

Gambar diagram dibawah memperlihatkan struktur dalam pada DIAC

Pada diagram menunjukkan ada lima lapisan dalam DIAC, memiliki dua
terminal yaitu terminal 1 (T1) and terminal 2 (T2).
Pada gambar dibawah diperlihatkan polaritas pada DIAC

untuk dapat menentukan dioda dalam keadaan baik atau tidak, kamu dapat
melakukan pengujian pada dioda tersebut dengan menggunakan ohmmeter.
Kaki I
Kaki II
Gejala
Kesimpulan
H

ON

I : Anoda

OFF

II : Katoda
Keadaan Baik

Keterangan : H = hitam, M = merah


9. Integrated Circuit
Integrated Circuit (IC) sebenarnya adalah suatu rangkaian elektronik yang dikemas
menjadi satu kemasan yang kecil. Beberapa rangkaian yang besar dapat diintegrasikan
menjadi satu dan dikemas dalam kemasan yang kecil. Suatu IC yang kecil dapat memuat
ratusan bahkan ribuan komponen.
Bentuk IC bisa bermacam-macam, ada yang berkaki 3 misalnya LM7805, ada yang
seperti transistor dengan kaki banyak misalnya LM741.

Instrumentasi Elektronika Migas | 25

Bentuk IC ada juga yang menyerupai sisir (single in line), bentuk lain adalah segi
empat dengan kaki-kaki berada pada ke empat sisinya, akan tetapi kebanyakan IC
berbentuk dual in line (DIL). IC yang berbentuk bulat dan dual in line, kaki-kakinya
diberi bernomor urut dengan urutan sesuai arah jarum jam, kaki nomor SATU diberikan
bertanda titik.
Setiap IC ditandai dengan nomor type, nomor ini biasanya menunjukkan jenis IC, jadi
bila nomornya sama maka IC tersebut sama fungsinya. Kode lain menunjukkan pabrik
pembuatnya, misalnya operational amplifier type 741 dapat muncul dengan tanda uA741,
LM741, MC741, RM741 SN72741 dan sebagainya

10. LED (Light Emiting Dioda)


LED adalah singkatan dari Light Emiting Dioda, merupakan komponen yang
dapat mengeluarkan emisi cahaya. LED merupakan produk temuan lain setelah dioda.
Strukturnya juga sama dengan dioda, tetapi belakangan ditemukan bahwa elektron yang
menerjang sambungan P-N juga melepaskan energi berupa energi panas dan energi
cahaya.

LED memiliki dua kaki yang terbuat dari sejenis kawat. Kawat yang panjang adalah
anoda, sedangkan kawat yang pendek adalah katoda. Coba perhatikan bagian dalam LED,
akan terlihat berbeda antara kiri dan kanannya. Yang ukurannya lebih besar adalah
katoda, atau yang mempunyai panjang sisi atas yang lebih besar adalah katoda.

Instrumentasi Elektronika Migas | 26

Anoda adalah elektroda, bisa berupa logam maupun penghantar listrik lainnya pada sel
elektrokimia yang terpolarisasi jika arus mengalir ke dalamnya. Arus listrik mengalir
berlawanan dengan arah pergerakan elektron.
Katoda merupakan kebalikan dari anoda. Katoda adalah elektroda dalam sel elektrokimia
yang terpolarisasi jika arus listrik mengalir keluar darinya.
Cara Kerja LED
Dalam hal ini LED akan menyala bila ada arus listrik mengalir dari anoda ke katoda.
Pemasangan kutub LED tidak boleh terebalik karena apabila terbalik kutubnya maka
LED tersebut tidak akan menyala. Led memiliki karakteristik berbeda-beda menurut
warna yang dihasilkan. Semakin tinggi arus yang mengalir pada LED maka semakin
terang pula cahaya yang dihasilkan, namun perlu diperhatikan bahwa besarnya arus yang
diperbolehkan adalah 10mA-20mA dan pada tegangan 1,6V 3,5 V menurut karakter
warna yang dihasilkan. Apabila arus yang mengalir lebih dari 20mA maka LED akan
terbakar. Untuk menjaga agar LED tidak terbakar perlu kita gunakan resistor sebagai
penghambat arus. Arah arus konvensional hanya dapat mengalir dari anoda ke katoda.
Untuk pemasangan LED pada board mikrokontroller Anoda dihubungkan ke sumber
tegangan dan katoda dihubungkan ke ground. Di dalam LED terdapat sejumlah zat kimia
yang kaan mengeluarkan cahaya jika elektron-elektron melewatinya. Dengan mengganti
zat kimia ini (doping), kita dapat mengganti panjang gelombang cahaya yang
dipancarkannya, seperti infra red, hijau/biru/merah, dan ultraviolet.
Macam-macam LED:
1) Dioda Emiter Cahaya
Sebuah dioda emisi cahaya dapat mengubah arus listrik langsung menjadi
cahaya. Dengan mengubah-ubah jenis dan jumlah bahan yang digunakan
untuk bidang temu PN. LED dapat dibentuk agar dapat memancarkan cahaya
dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Warna yang biasa dijumpai
adalah merah, hijau dan kuning.
2) LED Warna Tunggal
LED warna tunggal adalah komponen yang paling banya dijumpai. Sebuah
LED warna tunggal mempunyai bidang temu PN pada satu keping silicon.
Sebuah lensa menutupi bidang temu PN tersebut untuk memfokuskan cahaya
yang dipancarkan.
3) LED Tiga Warna Tiga Kaki
Satu kaki merupakan anoda bersama dari kedua LED. Satu kaki dihubungkan
ke katoda LED merah dan kaki lainnya dihubungkan ke katoda LED hijau.
Apabila anoda bersamanya dihubungkan ke bumi, maka suatu tegangan pada
kaki merah atau hijau akan membuat LED menyala. Apabila satu tegangan
diberikan pada kedua katoda dalam waktu yang bersama, maka kedua LED
akan menyala bersama-sama. Pencampuran warna merah dan hijau akan
menghasilkan warna kuning.
4) LED Tiga Warna Dua Kaki
Disini, dua bidang temu PN dihubungkan dalam arah yang berlawanan. Warna
yang akan dipancarkan LED ditentukan oleh polaritas tegangan pada kedua
LED. Suatu sinyal yang dapat mengubah polaritas akan menyebabkan kedua
LED menyala dan menghasilkan warna kuning.
Instrumentasi Elektronika Migas | 27

Warna-warna LED (Light Emitting Diode)


Saat ini, LED telah memiliki beranekaragam warna, diantaranya seperti warna
merah, kuning, biru, putih, hijau, jingga dan infra merah. Keanekaragaman Warna
pada LED tersebut tergantung pada wavelength (panjang gelombang) dan senyawa
semikonduktor yang dipergunakannya. Berikut ini adalah Tabel Senyawa
Semikonduktor yang digunakan untuk menghasilkan variasi warna pada LED :
Bahan Semikonduktor
Wavelength
Warna
Gallium Arsenide (GaAs)

850-940nm

Gallium Arsenide Phosphide (GaAsP)


Gallium Arsenide Phosphide (GaAsP)
Gallium Arsenide Phosphide Nitride (GaAsP:N)
Aluminium Gallium Phosphide (AlGaP)
Silicon Carbide (SiC)
Gallium Indium Nitride (GaInN)

630-660nm
605-620nm
585-595nm
550-570nm
430-505nm
450nm

Infra
Merah
Merah
Jingga
Kuning
Hijau
Biru
Putih

Klasifikasi tegangan LED menurut warna yang dihasilkan:


Tegangan kerja / jatuh tegangan pada sebuah menurut warna yang dihasilkan:
Infra merah : 1,6 V
Merah : 1,8 V 2,1 V
Oranye : 2,2 V
Kuning : 2,4 V
Hijau : 2,6 V
Biru : 3,0 V 3,5 V
Putih : 3,0 3,6 V
Ultraviolet : 3,5 V

Keunggulan dari LED:


LED memiliki efisiensi energi yang lebih tinggi dibandingkan dengan lampu
lain, dimana LED lebih hemat energi 80 % sampai 90% dibandingkan lampu
lain.
LED memilki waktu penggunaan yang lebih lama hingga mencapai 100 ribu
jam.
LED memiliki tegangan operasi DC yang rendah.
Cahaya keluaran dari LED bersifat dingin atau cool (tidak ada sinar UV atau
energi panas).
Ukurannya yang mini dan praktis
Tersedia dalam berbagai warna
Harga murah

Kelemahan dari LED :


Suhu lingkungan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan gangguan elektrik
pada LED.
Instrumentasi Elektronika Migas | 28

Harga LED per lumen lebih tinggi dibandingkan dengan lampu lain.
Intensitas cahaya (Lumen) yang dihasilkannya tergolong kecil

Contoh Rangkaian Seri LED

Contoh Rangkaian Paralel LED

Contoh Rangkaian Seri-Paralel LED

Kegunaan LED dalam Kehidupan sehari-hari


Teknologi LED memiliki berbagai kelebihan seperti tidak menimbulkan
panas, tahan lama, tidak mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, dan hemat
listrik serta bentuknya yang kecil ini semakin popular dalam bidang teknologi
pencahayaan. Berbagai produk yang memerlukan cahaya pun mengadopsi teknologi
Light Emitting Diode (LED) ini. Berikut ini beberapa pengaplikasiannya LED dalam
kehidupan sehari-hari.
1. Lampu Penerangan Rumah
2. Lampu Penerangan Jalan
3. Papan Iklan (Advertising)
4. Backlight LCD (TV, Display Handphone, Monitor)
5. Lampu Dekorasi Interior maupun Exterior
6. Lampu Indikator
Instrumentasi Elektronika Migas | 29

7. Pemancar Infra Merah pada Remote Control (TV, AC, AV Player)

Instrumentasi Elektronika Migas | 30