Anda di halaman 1dari 32

SHAMPOO

I.

Formula Asli
Clear Shampoo

II. Formula yang Disetujui


Tiap 100 ml Shampoo mengandung :
Na lauril sulfat

10 %

Lanolin

1%

Trietanolamin

2,5 %

Asam Stearat

5%

NH4Cl

1%

Na2-EDTA

1%

Metil Paraben

0,2%

Propil Paraben

0,02%

Oleum Mentae

0,03 %

-Tokoferol

0,01 %

Aquadest

ad 100 ml

III. Dasar Formulasi


PT. Insan
Farma
MKS- INA
NLS-01
LNL-02
TEA-03
AST-04
ACL-05
Na-EDTA-06

MP-07
PP-08
OM-09
AT-10
AQ-11
.

28 Des. 2005
Na lauril sulfat
Lanolin
Trietanolamin
Asam Stearat
NH4Cl
Na2-EDTA
Metil Paraben
Propil Paraben
Oleum Mentae
-Tokoferol
Aquadest

Tiara Shampoo
Dibuat oleh
30 Des. 2005
Kelompok VIII
Pembersih
Pelembut
Emulgator
Emulgator
Pengental
Pengkhelat
Pengawet
Pengawet
Pengaroma
Anti oksidan
Pelarut

Disetujui Oleh
Dewi Sartika
10 %
1%
5%
1%
1%
0,2 %
0,02 %
0,03 %
0,01 %
Ad 100 ml

Alasan Pembuatan Shampoo


1. Na lauril sulfat
a. Deterjen sintetik secara normal diklasifikasikan berdasarkan kealamiahan
gugus hidrofiliknya, adalah anionic yang paling luas digunakan. Bagian
hidrofilik dari surfaktan anionic membawa muatan negatif dalam larutan.
Deterjen umumnya lebih bagus daripada kelas lain dalam hal pembusaan,
pembersihan, dan hasil akhir (BalsamII;88)
b. Asam laurat sebagai contoh sabun yang kehilangan aktivitasnya dalam air
sadah. Akan tetapi, dengan mereduksi asam laurat menjadi lauril alkohol
dan selanjutnya tersulfat. Mengandung Na lauril sulfat deterjen yang
paling unggul dalam bahan shampoo, secara lengkap efektif dengan air
sadah. Banyak shampoo tergantung popularitasnya pada kondisi alkil
sulfat, mudah diberi parfum, bebas dari ketengikan/mudah dibilas dari
rambut yang membantu penjualannya di pasaran shampoo (Balsam II;8990)
c. Kebanyakan deterjen sintetik untuk shampoo yang paling sering digunakan
adalah garam alkil sulfat terutama Na dan TEA lauril sulfat. Mudah dibuat,
ekonomis, memiliki aksi deterjen yang kuat dan berbusa pada bagus pada
air sadah. Bahan ini memiliki kelarutan yang baik dalam air yang
menghasilkan aksi pada rambut dan membantu pembilasan. Na lauril sulfat
paling sering digunakan pada deterjen sintetik. Kekurangan yang paling
penting dari Na lauril sulfat adalah efek menghilangkan minyak dan
cenderung mengabsorbsi pada batang rambut yang membuat rambut terasa
kering dan kaku. Efek ini bagaimanapun dapat dikurangi dengan bahan
tambahan yang cocok (Jellineck;243)
d. Konsentrasi Na Lauril sulfat deterjen dalam shampoo pengobatan 9-45%
(Exp;272)
e. Konsentrasi Na lauril sulfat shampo krim cair 50% & 49% dalam contoh
formula (Keithler;201)

f. Konsentrasi Na lauril Sulfat

10%

dalam contoh formula (Mod.

Cosmet;303)
g. Deterjen yang paling umum digunakan pada shampoo krim adalah Na
lauril sulfat pada bentuk yang sangat berat pada aturan umum shampoo
yang dibuat dengan Na lauril sulfat kadang-kadang mengandung 40%
pasta dan paling umum hingga 50% (Keithler;195)
2. Lanolin
a. Lanolin dan derifatnya, ester isopropyl mistrat dan palmitat gliserol
propilenglikol telah digunakan sebagai bahan pelembab (balsam !!:98)
b. Konsentrasi: mengandung lanolin tudak lebih dari 2% (jellineek;248)
3. Trietanolamin dan Asam stearat
a. TEA membentuk emulsi yang sangat stabil dari kebanyakan minyak lemak
atau lilin untuk penggunaan luar. Konsentrasi sebagai pengemulsi 2-5 %
(Exp : 335)
b. Saat TEA direaksikan dengan asam stearat, sabun yang dibentuk akan
bertindak sebagai emulgator M/A yang sangat baik. (Presc. : 220)
c. Perbandingan dari reaksi yang digunakan adalah 2-4 % TEA dan 5-13 %
asam stearat.
d. Trietanolamin ini membentuk sediaan dengan asam lemak bebas, sabun ini
mempunyai sifat sebagai deterjen dan emulsi. Sabun trietanolamin dengan
asam lemak bebas adalah netral (pH kira-kira 8,0) dan lemak bebas
membentuk efek iritasi pada kulit. Bahan ini bentuk emulsi yang stabil dari
kebanyakan minyak lemak atau lilin untuk penggunaan luar. Konsentrasi
yang biasa digunakan untuk pengemulsi adalah 2 4 % dari TEA dan 2 5
% banyaknya asam lemak. Untuk minyak mineral dari amin alkohol
meningkat sampai 5 % dengan peningkatan dari asam lemak. Hindari dari
cahaya dan kontak dengan logam dan dapat mengurangi warna TEA yang
digunakan dalam pembentukan garam-garam untuk larutan injeksi

penggunaan umum lainnya adalah sebagai pendapar, polimer plastik dan


humektan. (Exp. : 325)
e. Banyak shampo didsarkan pada kombinasi sabun dan deterjen sintetik,
kerugian dalam air dari shampo dapat diabsorbsi dan kosmetik yang
dihasilkan dari shampo, beberapa diemulsikan dengan kombinasi (Balsam
II : 97).
f. Penggunaan dalam kombinasi dengan asam lemak, asam oleat, tanpa
tekanan sebagai emulsifier (RPS 18th : 1317)
g. Asam stearat ditambahkan dengan minyak dan trietanolamin dengan air
(Balsam I : 21)
h. Asam stearat hampir tidak dapat larut dlam air , larut dalam alkohol dan
sangat larut dalam kloroform dan bahan pelarut anhidrase secara komersial
dalam 2 dasar, 2 penekanan, 3 penekanan, kemudian dimulai dari
pelebaran usaha dan mempunyai titik lebur tinggi (Scovilles : 483)
i. Pada penandaan, jika tertuls untuk penggunaan luar berarti dibebaskan dan
memerlukan persiapan dan bahan yang dapat dimakan seperti lemak dan
minyak. (RPS 18th : 1312)
4. NH4Cl
a. Penambahan

bahan-bahan

yang

secara

umum

digunakan

untuk

mengentalkan larutan encer ( acginat, polirinil, alcohol, metil, selulosa


koloidalsilikit). Penambahan beberapa tipe lain juga cocok. (Jellineck :
248)
b. Konsentrasi dalam contoh formula 5 % (Jellineck :252)
5. Antioksidan dan Pengkhelat
a. Penyebab ketengikan: Secara kimia, ketengikan adalah degradasai dari
asam lemak dengan BM tinggi dengan oksidasi secara umum dihasilkan
dengan oksigen atmosfir (Jellineck;125)
b. Mekanisme ketengikan: mekanisme dari efek ini dapat dijelaskan mengapa
antioksidan dibutuhkan untuk mencegah oksidasi dari campuran lemak.

Secara teoritis kasus oksidasi dari semua asam lemak tak jenuh dalam
campuran lemak akan terjadi dalam molekul suatu rantai dari antioksidan
yang akan cukup untuk memutuskan rantai (Jellineck;127)
c. Reaksi oksidasi dapat dihambat dengan bahan berikut (Kenneth;39):
Bahan pengkhelat untuk ion logam darireaksi oksidasi molekul besar,
Bahan pereduksi adalah substansi yang dapat mengurangi oksidasi obat,
Bahan pencegah oksidasi adalah bahan yang lebih cepat dioksidasi dari
bahan yang dilindunginya
Rantai terminator adalah bahan yang mungkin bereaksi dengan radikal
dalam larutan untuk mengurangi spesies baru, radikal rantai terminal,
yang tidak masuk kembali dalam siklus propagasi radikal . radikal baru
mungkin stabil secara intrinsic atau dimerisasi membentuk membentuk
molekul yang stabil.
d. Kadang-kadang

dibutuhkan

untuk

melindungi

shampoo

dengan

penambahan penstabil yang mana adalah antioksidan, sunscreen, bahan


pensuspensi dan bahan pengontrol pH (Balsam II;101)
e. Penambahan sequestrant seperti asam sitrat, Versene 100, atau Nullapon
(yaitu garam dari EDTA) mencegah pembentukan sabun kapur, disediakan
dengan bagian sampai 1% digunakan (Balsam II;93)
f. Na-EDTA; Antioksidan sinergis Edetat telah digunakan sebagai sequester
untuk ion logam, khususnya Cu, Fe dan Mn, yang dapat digunakan untuk
mengkatalisis reaksi autooksidasi. Digunakan baik sendiri dan dalam
kombinasi dengan antioksidan sebenarnya, range konsentrasi 0,005-0,1%
telah digunakan (EXP;110)
g. PH dari Na-EDTA 6,5-8,0
h. Kelarutan : 1 dalam 11 bagian air, agak larut dalam etanol, praktis tidak
larut dalam kloroform dan eter P.

i. Asam edetat dan garam edetatnya digunakan dalam formulasi farmasi,


kosmetik dan bhan pengkhelat pada makanan, bentuknya stabil dalam air
dan bentuk kompleks bersama logam alkali dan logam berat (Excp. : 191)
j. Bahan ini juga mencegah pengendapan dari sabun kalsium dan oleh karena
itu penting dalam shampo ketika efektif dari bahan dispersi adalah dasar
dari aktivitas permukaan pengkhelat, mempunyai efek kimia, yaitu
mengikat kalsium dan polivalen yang lain, in-ion logam. Polivalen lain
yang stabil pada larutan kompleks air dan ini mencegah pembentukan dari
garam kalsium yang tidak larut. Penambhan kecil +

1 % dan selalu

mencegah flokulasi dalam botol , garam kalsium, perembesan garam


kalsium dari gelas. (Jellineck : 247)
k. Konsentrasi hingga 1 % (Balsam II : 99)
6. Amonium klorida
a. Penambahan

bahan-bahan

yang

secara

umum

digunakan

untuk

mengentalkan larutan encer (alginat, polivinil, alkohol, metil selulosa,


koloidal silikat) Beberapa tipe lain juga cocok. Garam anorganik.
b. Konsentrasi formula sampai 5 % (Jellineck: 252)
7. Oleum Menthae
a. Oleum menthe memberikan sensasi dingin / segar, dimana dimanfaatkan
dalam beberapa sediaan partikel (Exp : 334)
b. Sekarang produk-produk lebih banyak berisi menthol atau senyawa seperti
menthol untuk efek mendinginkan, konsentrasi menthol terendah 0,0005%
atau tertinggi sekitar 0,2 % (Balsam I : 23)
8. Metil Paraben dan Propil Paraben
a. Kombinasi pengawet sering digunakan karena hal tersebut berarti
meningkatkan efektivitas kerja pengawetbaik dengan penambahan
spectrum aktivitas atau dengan beberapa sifat sinergis (Lachman;522)
b. Seringkali kombinasi dari dua atau lebih ester asam parahidrokisbenzoat
digunakan untuk mencapai efek antimikroba yang dikehendaki sebagai

contoh asam metil dan propil hidroksibenzoat seringkali digunakan


bersama dalam perbandingan 10:1. Penggunaan lebih dari 1 ester
memungkinkan konsentrasi pengawet total lebih tinggi karena kelarutan
bebas

masing-masing

bertindak

memperkuat

efek

antimikroba

(Lachman;962)
c. Pengawet metil paraben dan propil paraben paling terkenal karena
melawan bakteri, khamir dan jamur, kombinasi 0,2% metil paraben dan
0,02% propil paraben sebagai pilihan kombinasi (Presc;275)
d. Alasan penggunaan pengawet: Emulsi seringkali mengandung bahan
seperti karbohidrat, protein, dan fosfatida dan semua bahan yang
menunjang pertumbuhan berbagai mikroorganisme dengan adanya salah
satu bahan yang disebutkan berikut. Adanya suatu campuran lemak dan
air yang bersentuhan seringkali memungkinkan mikroorganisme meneta,
karena itu penggunaan pengawet merupakan hal yang perlu dalam proses
pemisahan (Lachman;530)
e. Suibstrat yang mudah ditumbuhi mikroba dalam kosmetik

(Balsam

II;349):
Karbohidrat dan glikosida; gom alam, mucilage, pectin, pati
Alkohol, gliserol, manitol, dan lemak alcohol, steroid, kolesterol,
lanolin
Asam lemak dan ester-esternya, lemak hewan, dan tumbuhan, minyak
dan lilin
Protein, pepton, asam amino, itamin

IV. Uraian Bahan


1.

Na lauril sulfat
Nama resmi

Sodium lauryl sulfate

Nama lain

Sulfonic acid menodecyl ester sodium

RM/BM

C12H25OSO3Na

Pemerian

Kristal putih atau kuning muda, memiliki bau yang khas,


Bongkahan hablur; putih

Kelarutan

1 g dalam 10 ml air, membentuk suatu larutan yang sangat


Mudah larut dalam air, membentuk larutan berkabut, larut
Dalam etanol (95%) P

Incomp

Bereaksi dengan bahan aktif permukaan kationik dengan


kehilangan aktivitas, dengan konsentrasi yang terlalu
rendah menyebabkan pengendapan. Tidak seperti sabun,
Na lauril sulfat bersifat kompatibel dengan larutan asam
dan ion natrium dan Mg.

Kegunaan
2.

Sebagai pembersih (deterjen sintetik anionic)

Lanolin
Nama resmi

: Lanolin

Nama lain

: Lanolin anhidrat

Pemerian

: Berwarna kuning pucat atau lemah, bahan lemak, bau khas

Kelarutan

: Mudah larut dalm benzen, kloroform, eter dan petroleum


spirit, sedikit larut dalam etanol dingin (95%), dan lebih
larut dalam etanol mendidih dan prkatis tidak larut dalam
air

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik


Incomp

: Lanolin yang mengandung perooksidan dimana berefek


pada sterilisasi bahan aktif obat

Stabilitas

: Stabil pada penyimpanan yang tertutup baik, terlindungi


dari cahaya, dalam tempat dingin dan kering. Pada
penyimpanan normal 2 tahun.

3.

Titik lebur

: 38-440C

Kegunaan

: sebagai pelembut

Trietanolamin
Nama resmi

Trietanolamin

Nama lain

Trihidroksietilamin, TEA

RM/BM

(CHO-CH2CH3)3 = N/ 149,19

Pemerian

Cairan kental jernih, tidak berwarna atau kuning lemah,


dan bau seperti amonia

Kelarutan

Bercampur dengan air, methanol, aseton

TL

21,2oC

Kestabilan

Akan berwarna jika ada absorbsi dari O2 tidak masalah


jika ditangani secara normal

Incomp

Akan bereaksi dengan asam untuk membentuk garam dan


esterTEA bereaksi dengan tembaga untuk membentuk
garam yang kompleks. Perubahan warna terjadi jika ada
logam berat

Kegunaan

Penyimpanan :

Sebagai emulgator 2-4%


Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya dan
suhu tidak lebih dari 50oC

4.

Asam Stearat
Nama resmi

Acidum stearicum

Sinonim

Asam stearat

RM/ BM

C18H36O2 / 28,47

Pemerian

Zat padat kristal mengkilap, menunjukkan susunan hablur,


putih atau kuning pucat mirip lemak lilin, bau dan rasa
khas, coklat muda.

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagian etanol


(95%) P, dalam 2 bagian kloroform P, dalam 3 bagian eter
P

Kestabilan

Stabil dalam bentuk murni, mengandung hidroksi toluena


terbutilasi (0,005%)

Inkomp

5.

Tidak bercampur dengan sebagian besar logam hidroksida

Penyimpanan :

Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

Emulgator

Titik lebur

540C

Nama resmi

Ammonii chloridum

Rm/Bm

NH4CL / 53,49

Pemerian

Serbuk butir /

NH4Cl

hablur tidak bau rasa asin dan dingin,

higroskopik.
Kelarutan

Mudah larut dalam air dan gliserol lebih mudah larut


dalam air mendidih agak sukar larut dalam etanol (95 %)P

6.

Penyimpanan :

Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

Bahan pengental

Nama resmi

Dinatrium etilendiaminatertraasetat dihidrat

Nama lain

Dinatrium Edetat

RM/BM

C10H14N2Na2O8.2H2O/372,24

Pemerian

Serbuk hablur; putih; tidak berbau, rasa agak asam

Kelarutan

Larut dalam 11 bagian air, sukar larut dalam etanol

Na2-EDTA

(95%)P, praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam


eter P
Kegunaan

Penyimpanan :

Sebagai titran
Dalam wadah tertutup rapat

7.

Metil Paraben
Nama resmi

Methylis parabenum

Nama lain

Nipagin

RM/BM

C8H8O3/152,15

Pemerian

Serbuk hablur halus putih; hampir tidak berbau, tidak


mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa
tebal

Kelarutan

Larut dalam 500 bagian air , dalam 20 bagian air


mendidih. Dalam 3,5 ml etanol (95%) P dan dalam 3
bagain aseton P, mudah larut dalam eter P dan dalam
larutan alkali hidroksida; larut dalam 600 bagian gliserol P
panas dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati panas

Kestabilan

Metil paraben harus disimpan dalam tempat yang tertutup


baik . Larutan berair pada pH 5-6 disterilkan pada 120oC
selama 20 menit tanpa penguraian larutan berair pada pH
3-6 stabil (kurang dari 10% penguraian) selama hampir 4
tahun pada suhu kamar

Incomp

Bahan antimikroba dari bahan metil paraben dikurangi


dengan adanya surfaktan non ionic.

Kegunaan
8.

Sebagai pengawet

Nama resmi

Propylis parabenum

Nama lain

Nipasol

RM/BM

C10H12O3/180,21

Pemerian

Serbuk hablur putih, tidak berbau dan tidak berasa

Kelarutan

Sangat sukar larut dalam air, larut dalam 3,5 bagian etanol

Propil Paraben

(95%) P, dan 3 bagian aseton P, dalam 140 bagian gliserol


P dan dalam 40 bagian minyak lemak, mudah larut dalam
larutan alkali hidroksida

Kestabilan

Larutan berair pada pH 3-6 dapat disterilkan pada 20


menit tanpa penguraian

9.

Penyimpanan :

Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

Sebagai pengawet

-Tokoferol
Nama resmi

: Tocopherown

Name lain

: -tokoferol, vitamin E

Pemerian

: Tidak berbau, atau swedikit berbau, tidak berasa, bentuk


-tokoferol asetat berupa minyak kental jernih, warna
kuning /kuning kehijauan

Kelarutan

: Tidak larut dalam air, sukar larut dalam larutan alkali larut
dalam etanol, aseton dan dalam minyak nabati sangat
mudah larut dalam kloroform

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik terlindung dari cahaya


Kegunaan

: Sebagai Antioksidan

10. Oleum Menthae


Nama resmi

: Oleum menthae

Nama lain

: Minyak permen

Pemerian

: Cairan tidak berwarna, kuning pucat, atau kuning


kehijauan, bau aromatik, rasa pedas dan hangat kemudian
dingin

Kelarutan

: Dalam etanol larut dalam 4 bagian volume etanol (70%)

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terisi penuh, terlindung dari


cahaya
Incomp

: Stabil pada penyimpanan 250C

Titik lebur

: 34-360C

Kegunaan

: Sebagai pengaroma

11. Aquadest
Nama resmi

: Aqua destillata

Nama lain

: Air suling

RM/BM

: H2O/18,02

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna,m tidak berbau, tidak


mempunyai rasa

V.

Cara kerja
Fase air
Metil paraben

Fase minyak
Lanolin

Na lauriul sulfat

Asam stearat (54o)

Trietanolamin

Propil paraben

Na-EDTA
1.

Alat dan bahan disiapkan

2.

Bahan ditimbang sesuai perhitungan

3.

Fase minyak dibuat dengan cara melebur: Lanolin


dan asam stearat hingga suhu 70o C lalu propil paraben.

4.

Fase air dibuat dengan cara melarutkan Metil paraben


+ Na-EDTA dalam air suling 80o C kemudian ditambahkan Na lauril sulfat, + TEA
diaduk hingga homogen

5.

Fase minyak dituang ke dalm fase air lalu dimixer


dengan intermittten shaking (dimixer selama 1 menit istirahat selama 20 detk)
dilakukan sebanyak 5 X pada suhu 70o C.

6.

Ditambahkan pengaroma Oleum menthae pada suhu


450, aduk ad homogen

7.

Dimasukkan dalam wadah dan diberi etiket

DAFTAR PUSTAKA
1. Dirjen POM, (1979), Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen kesehatan RI:
Jakarta.
2. Dirjen POM, (1995), Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen kesehatan RI:
Jakarta.
3. Howard, Ansel, (1989), Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press: Jakarta.
4. Gennaro, Alfonso R., (2000), Remington: The Science and Practice of Pharmacy
20th edition, Philadelphia College of Pharmacy and Science: Philadelphia.
5. Kibbe, Arthur H., (2000), Handbook of Pharmaceutical Excipients Third Edition,
American Pharmaceutical Association Washington DC: USA.
6. Martin, W., (1971), Dispending of Medication 7th edition, Marck Publishing
Company: USA.
7. Parrot, Eugene L., (1968), Pharmaceutical Technology, Burgess Publishing
Company: Iowa.
8. Jenkins, Glenn L., (1957), Scovilles the Art of Compounding Nineth edition, The
McGraw-Hill Book Company, Inc: USA.

HASIL DISKUSI SHAMPO


Definisi Shampo (Balsam II;74)
Harry (3) mendefinisikan shampoo sebagai sediaan dari surfaktan (bahan
aktif permukaan) dalam bentuk yang sesuai-cair,padat, atau serbuk, dimana jika
digunakan di bawah kondisi khusus dapat menghilangkan lemak, kotoran dan kulit
terkelupas pada permukaan dari rambut dan kulit kepala tanpa menimbulkan efek
merugikan bagi rambut, kulit kepala atau kesehatan dari yang menggunakan.
Fungsi shampo
Menurut Balsam II;75
Fungsi utama dari shampo adalah membersihkan rambut dan kulit kepala,
kotoran rambut termasuk sekresi alami dari kulit, kulit kepala yang terkelupas,
penumpukan kotoran dari lingkungan dan sisa dari produk perawatan rambut yang
digunakan oleh konsumen. Setelah aksi pembersihan sempurna dapat memberikan
kepuasan bagi pemakai. Shampo akan menghasilkan rambut yang lembut, berkilau,
dan mudah diatur. Formulasi dari shampo dapat pula berupa campuran yang
ditekankan untuk beberapa kemampuan khusus seperti meminimalkan rasa perih
pada mata, mengontrol ketombe atau memberikan keharuman yang menarik untuk
bau wangi yang dapat diterima.
Menurut Formulary Of Cosmetic Preparation;26
Fungsi shampo adalah untuk membersihkan lemak (seperti sebum) dan melapisi
rambut dari kotoran tersebut yang terikat pada rambut dan kulit kepala. Evaluasi
shampo berdasarkan kriteria berikut:
1. Keefektifan dari deterjen
2. Kemampuannya berbusa dalam air sadah
3. Kemampuan shampoo untuk dapat terdistribusi pada rambut
4. Kemampuan untuk membersihkan lemak
5. Keharuman yang menyenangkan
6. Mudah untuk dibilas

7. Kemampuan untuk memberikan busa dan kelembutan pada rambut


8. Tidak mengiritasi
Tipe-tipe Shampo (Balsam II;75)
Shampo tersedia dalam beberapa varietas bentuk dan tipe. Beberapa
Metode dari klasifikasi disesuaikan dengan keperluan dan berubah ubah sesuai
dengan sudut pandang. Klasifikasi menurut bentuk produk terdiri dari cairan jernih,
lotion, pasta, gel, dan akhirnya aerosol dan produk kering. Shampo lebih lanjut
dibedakan berdasarkan pertimbangan khusus yang komponennya tidak biasa atau
kombinasi dari komponen yang tersedia, sebagai contoh: Shampo untuk rambut dan
kulit kepala dengan kondisi khusus, shampoo untuk anak-anak, atau bayi, shampoo
untuk laki-laki, dll.
1. Shampo cair jernih (Jellineck;247)
Produk ini pada dasarnya mengandung larutan berair dari deterjen,
yang memiliki konsentrasi surfaktan bervariasi antara 10% dan 30%. Selain dari
persyaratan umum yang harus ditemui pada semua shampoo; dua atau lebih
ditambahkan disini.
Sediaan harus memiliki konsistensinya yang sesuai.

Jika sediaan

terlalu encer, sediaan tersebut terlalu mudah mengalir dari kulit kepala menuju
ke wajah (mata!) dan turun ke leher. Jika sediaannya terlalu kental, sediaan itu
sangat lambat (susah dituang dari botol dan tidak akan mudah tercampur dengan
air pada rambut sehingga sediaan tersebut kehilangan keefektifan penuhnya.
Sediaan harus tetap jernih pada kondisi penyimpanan normal. Titik kabutnya
harus berada di bawah 5oC.
Untuk memberikan sifat yang diinginkan pada shampoo cair, beberapa
zat tambahan seringkali digunakan. Zat tambahan tersebut dapat dibagi menjadi
kelompok di bawah ini tergantung pada keefektifannya:
a. Bahan pendispersi garam kalsium
Tujuan dari produk ini adalah untuk mencegah pengendapan sabun
kalsium dan perlekatanatau rambut yang lepek yang disebabkan oleh bahan

ini. Aksi ini menyebabkan peningkatan busa. Bahan pendispersi garam


kalsium adalah secara khusus penting pada sabun shampoo. Tapi bahan
inijuga digunakan dengan alkil aril sulfonat dan sarkosida. Diantara bahanbahan ini adalah Igenon T, produk asam lemak alylolamine terkondensasi,
alkil polioksietilen fenol, dan bahan etylen oksida terkondensasi non ionik
lainnya.
b. Bahan sequestrant
Bahan-bahan ini juga untuk mencegah pengendapan garam kalsium
dan karenanya menjadi sangat penting dalam shampoo busa. Mengingat
keefektifan bahan pendispersi tergantung pada aktifitas permukaannya,
sequestrant memiliki efek kimia murni. Sequestrant menahan kalsium dan
ion logam polyvalent lainnya menjadi kompleks larut air yang stabil, dan
melalui cara ini mencegah pembentukan garam kalsium yang tidak larut.
Bahkan penambahan sejumlah kecil ( 1%) dari sequestrant
akan menjernihkan semua kabut karena air yang kaya akan kalsium dari
sabun shampoo dan juga mencegah flokulasi yang dapat terjadi pada botol
oleh pelepasan garam kalsium.
c. Pelarut
Seperti yang telah dilihat pada bab 2, sudah menjadi sifat

yang

melekat pada deterjen bahwa deterjen tidak mudah larut dalam air, dan
bagian molekul yang tidak larut dalam air harus cukup kuat untuk membawa
molekul ke antar muka dari larutan. Dalam penyiapan dari konsentrasi
shampoo kadang-kadang dibutuhkan untuk mendekati batas dari larutan
dimana larutan akan menjadi berkabut. Bagaimanapun shampoo yang jernih
secara absolut dapat berkabut setelah pengocokan yang kuat atau diletakkan
pada suhu rendah. Pelarut-pelarut ini ditambahkan untuk mencegah sifat
pengkabutan ini. Yang paling sering digunakan adalah alkohol (ethyl npropil atau isopropyl alkohol) , glikol (1,2-propilenglikol, 1,3-butilenglikol,

polyglikol) dan gliserol. Pelarut sering meningkatkan aksi pembusaan dari


shampoo kecuali yang berviskositas lebih rendah.
d.

Bahan pengental
Dalam penambahan bahan-bahan yang secara umum diguanakan untuk
mengentalkan larutan berair (alginate, polivinil alkohol, metilseslulosa, dan
silikat koloidal). Beberapa tipe lainnya adalah garam inorganic yang cocok
(ammonium klorida) yang paling efektif dan paling umum digunakan;
( walaupun ammonium klorida meningkatkan sedikit aroma amoniak yang
harus ditutupi dengan menggunakan parfum), ester polietilen glikol (ex.
Polietilenglikol 400 distearat) . Konsistensi yang diminta mungkin juga
dicapai melalui campuran dari surfaktan sebagai dasar shampoo, minyak
kastor tersulfonkan sebagai contoh, meningkatkan dari shampoo tergantung
pada minyak zaitun tersulfonkan dan dasar shampoo alkil aril trietanolamin
sulfonat dapat ditingkatkan oleh penambahan garam ammonium.

e. Bahan pelembut rambut dan kulit


Karena sebelumnya telah diterangkan beberapa deterjen mempunyai efek
menghilangkan lemak yang kuat pada rambut. Ini dengan demikian tidak
menyenangkan; bila dalam penambahan surfaktan cenderung untuk diserap
pada rambut. Ini dapat menyebabkan rambut rapuh dan rambut menjadi
susah diatur.
Lanolin dan turunan lanolin, cetyl dan oleat alkohol mempunyai efek
yang baik tetapi harus digunakan dengan hemat; konsentrasi di atas 2%
biasanya memberikan efek pembentukan busa dari shampoo. Lanolin sering
memberi efek rambut menjadi jarang yang nyata pada konsistensinya pada
shampoo.
f. Bahan finishing
Beberapa bahan pelembut juga memperbaiki kilapan dari rambut
setelah pencucian; rambut berminyak tidak menghasilkan busa. Dispersi

sequestrant dan sabun kalsium juga mencegah rambut menjadi tidak


mengkilap setelah shampoo tertentu digunakan.
g. Pembentuk busa
Sequestrant dalam sabun shampoo memperbaiki busa dengan
menghambat

pembentukan

dari

sabun

kalsium

dimana

menekan

pembentukan busa. Dalam shampoo yang didasarkan pada lemak alkohol


tersulfonkan dengan penambahan 1-2% bebas alkoho, (ex. Cetyl alkohol)
dapat menurunkan volume busa tetapi membuat padat dan lebih stabil.
Bagian kecil dari asam lemak alkil amin dipertimbangkan untuk
ditambahkan ke dalam deterjen anionic untuk mencapai pembentukan kabut
dan busa padat yang cepat. Derivat amfoterik dapat memberikan efek yang
sama.
h. pengawet
menurut Bryce & Smart, shampoo komersial yang tersedia sering
mengandung jumlah yang besar dari bakteri gram negatif. Garam fenil
merkuri dan formaldehid kadang-kadang digunakan, walaupun kestabilan
keduanya tidak cukup. Bryce & Smart merekomendasikan penggunaan 2bromo-2 nitropropan-1,3 diol.
2. Shampo Krim
Shampo krim dipertimbangkan, sebuah kesalahan estetika yang serius
jika cairan shampoo emulsi mengkabut setelah penyimpanan jangka panjang
atau pendinginan yang kuat. Ahli kimia kosmetika membatasi formula ini
dengan persyaratan bahwa sisa produk jelas di bawah keadaan sekitar yang
normal. Beberapa deterjen dapat ditambahkan hanya dalam konsentrasi yang
terbatas; sebagai contoh, beberapa kelas dari lemak alkohol sulfat dengan
kandungan tinggi garam sulfat (yang mana kristalisasi pada temperatur rendah).
Pengabutan dapat lebih kuat dicegah dengan penambahan lemak lebih dari 5%.

3. Sabun shampoo
Shampo sabun cair yang biasa adalah larutan berair garam kalium dari
minyak kelapa mudah larut dan dikembangkan cukup berbusa yang
berhubungan dengan asam laurat yang dikandung cukup besar oleh minyak.
Minyak kelapa dapat keseluruhan atau sebagian digantikan oleh minyak palm
yang juga tinggi kadar asam lauratnya tapi mengandung sedikit asam kaprilat
dan asam kaproat. Penambahan minyak zaitun (mengandung kebanyakan
rioleine) memberi tekstur yang halus, busa lebih stabil dan aksi meredakan
iritasi kulit darti sabun minyak kelapa; Ada 3 cara untuk menyiapkan shampoo
sabun:
(1)

dasar sabun yang lengkap dapat dilarutkan dalam air

(2)

Asam lemak bebas dapat dinetralisasi dengan alkali

(3)

Sabun dapat disiapkan dengan mensaponifikasi lemak bebas

4. Shampo Gel
Jika kandungan bahan pengental dalam shampoo cair atau krim secara
kuat ditingkatkan, hasilnya produk seperti jelly yang transparan. Menurut
Djikstra, dasar yang baik untuk tipe ini dari penyiapannya terdiri dari bagian
seimbang dari TEA lauryl sulfat dan TEA miristat.
5. Shampo Kering
Shampo kering menghasilkan jenis yang paling murah dari sediaan
pembersih rambut. 5 g serbuk deterjen cukup untuk satu penggunaan dan harga
kemasan yang rendah juga lebih praktis, lebih lagi, mudah untuk mengemas
dalam bagian penggunaan tunggal yang pasti untuk keuntungan (shampoo cair
jernih dan shampoo cair krim juga dapat terdapat dalam kemasan tunggal,
walaupun metode ini pengemasannya terhitung mahal. Ini lebih popular
khususnya di Eropa). Pada pihak lain, ini adalah keuntungan shampoo kering
yang bahan kondisionernya rambut dapat ditambahkan pada batas jumlah yang
dipilih. Dari deterjen aktif, shampoo ini biasanya juga mengandung beberapa
garam inorganic, karena garam ini mempunyai reaksi alkali lemah dalam

larutan (soda bikarbonat, borax), dapat meningkatkan kekuatan pembersihan


untuk tinghkat tertentu. Fungsi utamanya, bagaimanapun adalah pengaruh
fisiologis pada pembeli. Mereka meningkatkan volume serbuk. Pengguna
menemukan hanya satu sendok teh penuh dari serbuk dalam kemasan shampoo
sehingga pengguna merasa ditipu.
Formulasi Shampo (Modern Cosmet;378)
Setelah penggambaran sebelumnya dari banyak deterjen yang berharga
untuk shampoo, bagian formualsi tidak lengkap, hanya diindikasikan dari tipe.
Dimana formula yang diberikan didasarkan pada beberapa deterjen khusus, ini
biasanya diasumsikan bahwa deterjen lain atau campuran malahan dapat
digunakan, membolehkan untuk beberapa bahan karena kelarutannya, dsb.
Dengan pengertian ini formula sederhana yang digunakan sebagai dasar untuk
formula berikutnya.
Sebagai catatan penting, bahwa konsumen di negara yang berbeda
mempunyai ide yang berbeda mengenai konsentrasiideal untuk shampoo. Di
Inggris, untuk contoh, kebanyakan konsumen lebih menyukai sejumlah besar
shampoo cair. Dimana di Jerman tampak bahwa konsumen mengharapkan
untuk memperoleh beberapa shampoo dari kemasan kecil yang agak baik.
Perbedaan ini dalam kebiasaan social dan permintaan membuat sulit untuk
direkomendasikan tingkat deterjen yang mana akan cocok secara universal.
Formula yang ditemukan mengikuti hak paten Inggris dari 12-20 ml per
kepala.
Tipe shampoo di pasaran mengikuti kategori berikut:
(a)

Shampo cair jernih


Shampo ini ada pada kebanyakan tipe yang popular, dan
mempunyai variasi penampilan dari formulasi yang paling baik.
Dimana tidak ada gambaran yang sangat jelas dari mayarakat yang
mengharapkan shampoo cair jernih, hal ini dapat dilihat bahwa
formula ini dapat dibagi secara kasar ke dalam dua bagian besar dari

kekuatan membersihkan untuk rambut berminyak (yang mana


dikategorikan sebagai shampoo pembersih) dan karena dengan janji
dari pembersihan, mereka menyarankan bahwa rambut berada dalam
keadaan baik setelah penyampoan. Hal ini popular pada konsumen
dengan rambut kering dan dapat disebut sebagai shampoo kosmetik.
Tipe pembersih lebih mudah diformulasikan, karena hanya
cocok untuk larutan dari deterjen seperti TEA lauril sulfat atau lauril
eter sulfa; TEA lauril sulfat biasanya digunakan 30-33% Larutan dan
50 bagian dari ini, parfum, pewarna, dan air hingga 100 bagian akan
membuat bergerak, larutan jernih dengan kekuatan pembusaan yang
baik untuk produk yang lebih kental, eter sulfat mungkin digunakan.
Kebanyakan shampoo pengobatan di pasaran termasuk dalam
kelas ini dan mereka dibuat dengan dasar pembersihan dan
penambahan germisida. Shampo yang tertinggal pada kulit kepala dan
rambut untuk waktu yang singkat, germisida harus pada tipe yang
nyata, sehingga dapat meninggalkan kulit kepala dan menghasilkan
aksi. Bahan yang cocok adalah Hexacloropen pada 0,2-1%, lebih
detail dapat ditemukan pada chapter antiseptik dan pengawet.
Tipe kosmetik dari shampoo cair dapat diformulasikan dengan
mengoleksi deterjen direkomendasikan untuk efek baik setelahnya
seperti metil laurina, amfoterik, dsb. Dan juga dari lauril sulfat dengan
penggunaan tambahan alkohol amida.
(b)

Shampo krim cair


Shampo bentuk ini adalah bentuk yang khusus dari kelas
kosmetik, karena masyarakat berharap shampoo ini menjadi sangat
lembut dalam aksinya pada rambut. Kemunculan dari krim cair ini
diperhitungkan untuk memberi kelembutan, karena tidak bijaksana
untuk memasukkan sangat banyak bahan berlemak ke dalam produk
seperti ini, atau rambut akan menjadi berminyak lagi setelah

penggunaan

Pengopak biasanya ditambahkan untuk mengubah

shampoo, kosmetik tipe cair jernih ke dalam shampoo krim cair


adalah stearat non ionic, seperti propilenglikol stearat, polietilenglikol
400 distearat atau dietilenglikol stearat, bersama dengan logam stearat
yang tidak larut, seerti Mg, Zn, atau Cu stearat; penambahan yang
terakhir ini karena ester glikol cenderung larut kembali dalam
shampoo pada suhu yang panas kemudian shampoo lebih berkabut
daripada krim (Mod. Cosmet:378)
Sementara krim cair secara nyata adalah emulsi, lotion susu ini
adalah emulsi yang sangat larut dan dengan melarutkannya dianggap
bahwa tidakakan mempunyai sifat warna putih dari emulsi atau
merupakan larutan atau dispersi dari bahan bahan dalam air. Jadi,
untuk

alasan

ini,

pengopak

ditambahkan

untuk

memberikan

penampilan putih seperti susu.


Shampo krim cair dan shampoo lotion susu adalah tipe yang
sama secara essensial, yang pertama biasanya adalah sesuatu yang
mempunyai kekentalan lebih tinggi daripada yang terakhir. Utamanya
shampoo ini adalah emulsi. Bagaimanapun pada saat ini bahwa
pengopak ditambahkan dan menghasilkan produk dan biasanya dipilih
sebagai lotion atau shampoo susu. Ada beberapa deterjen digunakan
dalam formulasi cair ini, dan ini sama baiknya dengan tipe pasta,
sedikit pilihan ditunjukkan untuk lemak alkohol sulfat. Bahan
pelembut rambut ditambahkan dalam kasus ini, juga adalah bahan
yang didesain untuk memberikan bentuk dan untuk pengemulsi adanya
lemak. Kebanyakan krim cair ini mempunyai beberapa polietilenglikol
larut air sebagai bahan pembentuk, pendispersi, dan penstabil busa,
biasanya bahan pengemulsi yang digunakan adalah TEA, etanolamin
lain yang berhubungan dari amino glikol, 2-amino 2-metil-1,3

propandiol. Sebagai contoh bahan pelembut tertentu ditambahkan


dalam emulsifikasi sebagai deterjen (Keithler;196)
Anatomi Rambut
Rambut adalah bagian tubuh yang terdiri dari satu bagian muncul
dalam kulit (akarnya), dan satu bagian keluar dari kulit (batang rambut), dimulai
dari luar, penampang melintang dari rambut dapat dilihat mengandung tiga lapis:
(1)

Kutikula terdiri dari sel keratin tipis pada sebelah dalam dan
bekerja sebagai proteksi/pelindung untuk mencegah kekeringan
dan penetrasi dari bahan-bahan asing. Kutikula dapat rusak
oleh tekanan mekanik.

(2)

Korteks, terdiri dari serta yang tersusun secara longitudinal


yang berikatan bersama. Menurut Astbury, serat ini terjadi
secara normal dalam bentuk lipatan alfa. Jika rambut
dilembutkan dan direnggangkan, rambut ini dapat tertarik
menjadi bentuk beta dan jika ini dilakukan secara lambat suatu
serat dapat diperpanjang 1,5 dari panjang aslinya. Lapisan ini
mengandung bagian utama dari pigmen rambut dan ruang
udara. Korteks dapat ada pada bagian utama rambut,
strukturnya menentukan tipenya (luirus, keriting, ikal).

(3)

Medula disusun atas 3-4 lapisan seperti sel kubus yang


mengandung keratohialin, granul lemak, dan ruang udara.
Lapisan tipis tidak mempunai medulla.

Menurut Mod. Cosmet;301


(1)

Batang rambut adalah bagian yang memanjang ke luar pada


permukaan kulit. Batang rambut terdiri dari lapisan luar dari selselyang cenderung membelah, seperti kutikula, disekeliling lapisan sel
epitel tipis terdapat pigmen (ke korteks). Pusat dari korteks dilewati

oleh sebuah kolom dari sel yang sangat besar yang dibebankan
(medulla) dalam bentuk kanal pusat, yang mana inti yang dekat
dengan papilla akan kehilangan intinya dengan bertambahnya jarak.
Larugo mengatakan bahwa rambut halus tidak mempunyai medulla.
(2)

Akar rambut, yaitu bagian yang tertanam dinamakan akar. Akar


mengandung pada bagian paling bawahnya sebuah bola (konkau pada
bagian bawah permukaan), membentuk jalan melalui papilla dimana
darah akan mengalir untuk memberi nutrisi pada rambut. Setiap
rambut dikandung di bawah permukaan kulit dalam suatu invasinasi
dari kulit yang disebut folikel. Ini terdiri dari kantung sempit dibentuk
sebagian oleh dermis dan sebagian oleh epidermis. Bahan pelapis yang
paling luar yang disambung ke bawah oleh lapisan malphigi,
sementara yang paling dalam diperoleh dari lapisan tanduk dari
epidermis. Folikel ini bersambung dengan rambut, dan jika yang
terakhir terlepas dengan terpaksa pembentukannya mengikuti itu dan
kemudian terlihat dengan mata telanjang. Dasar dari kantung ini
mengandung penampakan yang seperti jari, yang terdiri dari jaringan
penghubung dimana rambut baru akan tumbuh disebut sebagai papilla.
Folikel tidak berada dalam kulit kepala tetapi folikel duduk pada sudut

sehingga bagian dari rambut di bawah permukaan memiliki kemiringan yang


alami dengan yang lain. Ikatan pada sisi bawah pada setiap kemiringan folikel
rambut adalah otot kecil tidak mengelupas. Arrector pili, disebut karena dia
adalah otot yang menyebabkan rambut akhirnya tegak saat dikontraksi oleh
rasa takut, dll.
Kelenjar sebaseus adalah struktur yang bulat terletak dalam dermis dan
berhubungan dengan folikel rambut, kecuali pada kelenjarpenis, kulit
khatom, labia minor, dan bagian merah dari bibir. Kelenjar sebaceous
mensekresi senyawa lemak yang disebut sebum, tempat dimana rambut akan
menyerap dengan efek kapiler dan berfungsi memberikan busa dan lunak, dan

menjaga permukaan kulit lembut dan liat. Kondisi dari kelenjar endokrin yang
memberikan pengaruh yang baik dalam sekresi. Pada puberitas kelenjar ini
akan lebih efektif tetapi aktivitasnya biasanya menurun setelah umur
pertengahan.
Bahan Utama (Balsam II)
Karena komponen utama dalam shampoo adalah surfaktan (sabun dan
deterjen sintetik) maka

tepat untuk mengulang

kegunaan masing-masing,

poerbedaan,dan keuntungannya.
Sabun, Umumnya didefinisikan sebagai garam dari asam lemak. Asalnya
sabun diperoleh dengan saponifiksi lemak alamimhewan dan lemak
tumbuhan/nabati dan minyak dengan alkali, seperti NaOH dan KOH. Barubaru ini alkanolamida telah digunakan.
Setelah beberapa tahun mungkin untuk memformulasikan shampoo sabun
yang didasarkan campuran dari minyak, sehingga diperoleh bagian yang
meragukan dari asam lemak.
Deterjen sintetik, Kecenderungan dari shampoo sabun untuk membentuk
garam yang tidak larut karena adanya gugus karboksilat terikat pada ujung
rantai panjang hidrokarbon. Dengan menghilangkan gugus ini,m bayak
surfaktan yang mencegah pembusaan dan pembersihan negatif dari sabun
yang telah dikembangkan.
Deterjen sintetik secara normal, diklasifikasikan dengan kealamian gugus
hidrofiliknya . Anionik yang paling luas digunakan, dengan nono ionic sebagai
pilihan kedua.

Anionik
Bagian hidrofilik dari surfaktan anionic membawa muatan negatif
dalam larutan. Deterjen ini umumnya lebih bagus dari kelas alin dalam
istilah pembusaannya, pembersihandan hasil akhir. Beberapa anggota
kelas ini; o Alkil benzen sulfonat; o alkil sulfat primer; o alkohol sulfat

kedua; o alkil benzen polioksietilen sulfonat; o monogliserida


tersulfat; o alkohol eter sulfat; o Sarkosina; o sulfasuksinat; o igepon;
o Maypon.

Kationik
Deterjen kationik dipertimbangkan kurang terkenal dari
anionic. Dengan gugus ini, bagian hidrofilik dari senyawa ini
bermuatan

positif,

biasanya

kuartener.Kationik adalah

adalah

garam

ammonium

deterjen yang umumnyakurang aksinya,

kasar untuk kulit dan mata, dan lebih mahal. Satu keuntungan bahwa
kationik memiliki aktivitas bakterisida. Beberapa tipe kationik adalah
distearil dimesik, ammonium klorida, dilauril dimetil ammonium
klorida, diiso butyl penoksietoksi etil dimetil benzil ammonium
klorida, cetil trimetril ammonium bromida, N-cetil piridin bromida dan
benzetonium klorida.
Ketika anionic dan kationik dikombinasikan, sering sifat yang
paling banyak/buruk dari keduanya dihasilkan. Anionik kehilangan
sifat pembusaannya dan kationik kehilangan aktivitas bakterisidnya
yang mungkin telah dimiliki.

Amfoter
Meskipun kationik dan anionic tidak bercampur, mungkin
untuk mengkombinasikan gugus pembentuk anion dengan gugus
pembentuk kation dalam molekul deterjen yang sama dan memperoleh
produk yang berguna. Ini disebut deterjen amfoterik (amfofilik) atau
zwitter ion.

Non ionic
Kelas kedua yang paling luas digunakan dari deterjen sintetik
adalah nonionic. Non ionic busanya rendah, bagaimanapun telah
dibatasi penggunaannya sebagai komponen utama formula. Non ionic

mempunyai ketahanan yang sangat baik terhadap air sadah, juga air
laut, sama efektifnya dalam larutan alkali/basa, dan umumnya lembut
pada kulit.

Kombinasi sabun-deterjen sintetik


Kebanyakan shampoo didasarkan pada kombinasi formula
sabun dan deterjen sintetik, kekurangan air sadah dari sabun dapat
diatasi secara baik dan sifat kosmetik dari shampoo yang dihasilkan
adalah modifikasi dari kombinasi ini.

Zat tambahan Shampo


Peningkatan jumlah senyawa yang telah dikembangkan memperbesar pada
penampilan dari shampoo. Ini dapat mempengaruhi busa, perasaan, konsistensi atau
hasil akhir yang diberikan untuk shampoo. Kebanyakan dilindungi oleh hak paten,
dan ilmu pengetahuan lainnya dirahasiakan. Beberapa zat tambahan yang paling
dikenal adalah sebagai berikut menurut fungsinya:
Pembentuk busa
Pembentuk busa atau penstabil busa adalah bahan yang ketika
ditambahkan ke dalam formulasi meningkatkan kualitas, volume, dan
kestabilan busa. Sering bahan ini juga keran viskositas dan memberikan
sedikit efek melembutkan pada rambut. Dasar dari pembentuk busa adalah
asam

lemak

alkalonamida

(seperti

lauril

dietanolamida,

lauil

monoetanolamida, coconut monoetanolamida), super amida, lemak alkohol


dalam konsentrasi rendah dan pada jumlah sedikit sarkosinat, dan fosfat.
Bahan pelembut
Perbedaan antara surfaktan yang biasanya dengan hampo terletak pada
aksi

akhir

atau

pelembutan

dari

shampoo.

Kebanyakan

surfaktan

membersihakn rambut dengan baik sehingga menjadi bercahaya dan


mengkilap. Bahan pelembut menyaluti rambut dengan sejumlah kecil bahan

yang memperbaiki sifat penanganan dari serat rambut atau melicinkan rambut
untuk tergelincir dan kehalusannya.
Bahan pengopak
Karena shampoo krim dan lotio mencatat untuk bagian yang besar dari
konsumsi total shampoo, ada ketertarikan yang besar pada bahan ini.
Pengopak yang paling dikenal termasuk alkohol tinggi, sepertio stearil dan
cetil alkohol, dan asam kuat seperti asam beneat (22 karbon)
Bahan penjernih
Kebutuhanakan bahan penjernih sama besarnya dengan bahan
pengopak, karena shampoo jernih merupakan bentukyang paling popular.
Umumnya Bahan pelarut membentuk, memelihara kejernihan shampoo pada
range suhu yang luas. Pemeliharaan harus dilatih dalam pemilihan seragam
dari tipe ini. Bahan ini harus dicek untuk kemungkinan iritasi mata dan
toksisitasnya. Beberapa contoh dari bahan ini adalah butyl alkohol, isopropyl
alkohol, terpineol, dietilenglikol, propilenglikol, dan dietil carbitol.
Bahan sequestrant
Untuk mencegah pembentukan kapur sabun, ada dua pertimbangan,
yaitu pembentukan sabun kalsium/magnesium tidak larut saat shampoo
dicampur dengan air sadah, dan pengendapan lapisan sabun kapur saat rambut
bershampo dibilas dengan air sadah. Pada kasus terakhir, batas-batas bagian
shampoo mungkin dibilas denagn sebanyak 25-50 bagian akhir.
Bahan anti ketombe
Ada banyak shampoo a ntiketombe di pasaran, kebanyakan didasarkan
pada bahan antimikroba dalam alam. Shampoo mengandung sejumlah kecil
bahan efektif ini, yang berhubungan dengan kulit kepala dalam waktu singkat.
Agar menjadi efektif bahan aktif ini harus bekerja di lingkungan minyak-air
pada kulit kepala dan berada di kulit kepala untuk melanjutkan aktivitasnya.
Karena itu, mudah dimengerti mengapa shampoo antiketombe tidak cukup

keefektifannya. Senyawa antiketombe tradisional termasuk belerang, asam


salisilat, hexakloroform, resorsinol, dan tar.

Bahan pengental
Masalah dalam kekentalan shampoo adalah tidak sesederhana dalam
memilih gum sintetik atau gum alam yang tepat. Karena banyak ester dan
amida yang baik juga memperbesar viskositas shampoo. Pada umumnya gum
alam ex. Tragakan, gum akasia, dan gum locust bean juga digantikan oleh
gum sintetik seperti hidroksietilselulosa, metil selulosa, karboksimetilselulosa,
dan carbopol, suatu karboksi polimer vinil, tetapi jumlah sintetik ini harus
digunakan dengan beberapa pemeliharaan karena gum sintetik dapat
membentuk lapisan pada rambut.
Pengawet
Ada masalah yang muncul dalam melindungi shampoo dari keburukan
oleh aksi bakteriatau jamur. Larutan atau bahan dari pemilihan pengawet yang
tepat dari daftar yang mungkin termasuk formaldehid, etanol, metil, propil,
butyl hidroksibenzoat, fenil merkuri asetat, fenil merkuri nitrat,. Alkil anisol,
alkil kresol, zat tambahan amida, dan beberapa zat seperti parfum
menunjukkan beberapa Aktivitas antibakteri.
Bahan penstabil lainnya
Kadang-kadang dibutuhkan untuk melindungi shampoo dengan
menambahkan pesntabil yang diantaranya adalah antioksidan, sunscreen,
bahan pensuspensi, dan bahan pengontrol pH.
Bahan pereduksi melindungi produk dari kehilangan

warna atau

perubahan bau atau karena oksidasi. Sunscreen, seperti benzophenol atau


turunan benzotriazol mempunyai sifat mengabsorbsi radiasi UV dan
kemudian menurunkan kerusakan produk dari paparan cahaya matahari.
Bahan pensuspensi seperti veegum dan bentonit lain, menstabilkan shampoo
dimana partikel padat disuspensikan dalam cairan. Variasi bahan pengontrol
yang dapat sesederhana asam dan basa umum, melindungi produk dari
perubahan warna, bau, atau tingkat iritasi karena perubahan dalam pH.

Zat tambahan kosmetik lain


Semua shampoo memiliki parfum dan zat warna, untuk meyakinkan
konsumennya tentang penerimaan kosmetiknya dan beberapa kandungan zat
tambahan seperti pemberi warna atau pigmen seperti mutiara, untuk
mempengaruhi penerimaan kosmetiknya.