Anda di halaman 1dari 3

3.

7 Kelembagaan Petani
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden yaitu bapak Suliyan, kelembagaan
yang beliau ikuti adalah kelompok sumber beras. Menurut Adofla (2015) dengan adanya
kelompok tani Sebagai tempat belajar bagi petani,yaitu pada saat para petani berkumpul
dalam pertemuan kelompok disinilah para petani saling interaksi,komunikasi dan saling
tukar informasi dan pengalaman yang sangat berharga bagi petani yang belum tahu, Sebagai
tempat musyawarah dan gotong royong, Sebagai tempat bekerjasama, sesuai rencana kerja
yang telah disusun oleh kelompok tani dalam melaksanakan kegiatannya melibatkan dinas
terkait dan bekerja sama dengan fihak lain ( pelaku usaha ) seperti Kios Saprodi dan per Bank
kan sebagai menyedia modal, Sebagai wadaha/sarana untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan
bersama anggota kelompok.
Kelompok tani sebagai wadah organisasi dan bekerja sama antar anggota mempunyai
peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat tani, sebab segala kegiatan dan
permasalahan dalam berusaha tani dilaksanakan oleh kelompok secara bersamaan. Dengan
adanya kelompok tani, para petani dapat bersama - sama memecahkan permasalahan yang
antara lain berupa pemenuhan sarana produksi pertanian, teknis produksi dan pemasaran
hasil. Kelompok tani sebagai wadah organisasi dan bekerja sama antar anggota mempunyai
peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat tani, sebab segala kegiatan dan
permasalahan dalam berusaha tani dilaksanakan oleh kelompok secara bersamaan. Melihat
potensi tersebut, maka kelompok tani perlu dibina dan diberdayakan lebih lanjut agar dapat
berkembang secara optimal (Taufik, 2012).
Pentingnya pembinaan petani dengan pendekatan kelompok tani merupakan salah satu
syarat pelancar pembangunan pertanian adalah adanya kegiatan petani yang tergabung dalam
kelompok tani. Mengembangkan kelompok tani adalah berarti membangun keinginan, dan
kepercayaan pada diri sendiri agar dapat terlibat secara aktif dalam pembangunan. Disamping
itu agar mereka dapat bergerak secara metodis, berdayaguna, dan teroganisir. Suatu gerakan
kelompok tani yang tidak teroganisir dan tidak mengikuti kerjasama menurut pola-pola yang
maju, tidak akan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi petani (Taufik, 2012).
3.8 Kendala Usahatani
Kendala yang dialami oleh bapak suliyan dalam berusahatani yaitu adanya serangan hama
pada tanaman budidaya bawang merah. Hama yang sering ditemukan dilahan antara lain ulat
tanah, ulat grayak, lalat penggorok daun dan tungau. Menurut Eko (2011) dampak yang

timbul akibat serangan hama dan penyakit menyebabkan kerugian baik terhadap nilai
ekonomi produksi, pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta petani sebagai pelaku
budiaya tanaman dengan kegagalan panen serta turunnya kwalitas dan kuantitas hasil panen.
Hal ini disebabkan karena adanya persaingan perebutan unsur hara dan mineral, air, cahaya
matahari, proses fisiologi tanaman, pertumbuahan dan perkembangan tanaman yang
terhambat akibat hama dan penyakit. Selain berdampak pada tanaman budidaya, serangan
hama dan penyakit juga berdampak terhadap agroekosistem pertanian. Kerugian-kerugian
tersebut disebabkan oleh adanya pemikiran oleh para pembudidaya tanaman untuk
mengendalikan serta memusnahkan hama dan penyakit yang menyerangan tanaman.
Pengendalian hama dan penyakit yang tidak sesuai dan tepat tersebut memberikan dampak
kerugian yang lebih besar dari pada serangan hama dan penyakit itu sendiri terhadap
tanaman. Dengan penanggulangan hama dan penyakit terjadi hilangnya beberapa komponenkomponen agroekosistem yang berdampak akan terjadinya resistensi hama dan penyakit serta
terjadinya returgenerasi. Dengan demikian perlu dilakukannya pengendalian hama dan
penyakit yagn efektif dan efisien tanpa menimbulkan kerugiandan pencemaran lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Adofla. 2015. Ilmu Usahatani. Jakarta:Penebar Swadaya.
Taufik, R. 2012. Analisis Sistem Kelembagaan Petani Di Desa Sumber Wangi. Cilacap.
Eko, W. 2011. Kerugian Ekonomi Dan Kerusakan Ekologis Akibat Serangan Hama Ulat
Tanah. Jakarta:Rajawali.