Anda di halaman 1dari 22

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR DAN PADAT TERHADAP

PERTUMBUHAN DAN BERAT BUAH MELON


(Cucumis melo L.)

Disusn oleh :
Felisianus Alegore (131434004)
Rosalia Selmi (131434016)
Rizki Azizah (131434052)
Eva Setia Putri Saragih (131434070)

PROGRAM PENDIDIKAN BILOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGRUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu buah yang dikonsumsi daging
buahnya, baik untuk tipe konsumsi segar maupun olahan. Melon mengandung 0.6
g protein, 0.4 mg besi, 30 mg vitamin C, 0.4 g serat dan 6.0 g karbohidrat
(Samadi, 2007). Menurut Departemen Pertanian (2012), konsumsi buah melon
pada tahun 2010 mencapai 1,65 kg/kapita/tahun.
Produksi melon di Indonesia pada tahun 2010 hanya sebesar 85.161 ton
sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan melon di dalam negeri. Fakta ini akan
sangat mendukung perkembangan melon di Indonesia apalagi konsumsi buah
melon akan terus bertambah dari tahun ke tahun karena bertambahnya jumlah
penduduk, meningkatnya pendapatan masyarakat, dan perubahan pola makan
masyarakat Indonesia yang semakin menyadari manfaat mengkonsumsi buahbuahan bagi kesehatannya (Sobir dan Firmansyah, 2010).
Usaha tani melon diminati petani karena cukup menguntungkan, umur
panen pendek yaitu 55-65 hari dan harga buah melon relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan komoditas hortikultura pada umumnya (Tjahjad, 2000). Hal
ini memungkinkan perbaikan perekonomian Indonesia khususnya dibidang
pertanian dengan peningkatan ekspor buah melon selain itu juga dapat
memperbaiki gizi masyarakat dan membuka lapangan pekerjaan. Melon memiliki
nilai ekonomi yang cukup besar dalam pemasarannya namun didalam
budidayanya tanaman ini memerlukan penanganan yang cukup intensif. Salah
satu usaha untuk peningkatan produksi tanaman melon dapat dilakukan dengan
penggunaan pupuk cair.
Tanaman melon memerlukan persyaratan tumbuh, antara lain tanah
subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan pH tanah mendekati
netral (6-6,8) (Samadi, 2007). Peranan pupuk sangat penting dalam usaha
peningkatan produksi pertanian, yang dimaksudkan untuk menyediakan unsurunsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Pemberian pupuk secara intensif yang
dilakukan tepat waktu, dosis dan jenisnya akan sangat berpengaruh terhadap
peningkatan produksi dan mutu tanaman (Suriatna,1987).

Manfaat pupuk organik cair ialah meningkatkan kesuburan tanaman


serta memperbaiki dan meningkatkan kualitas organik di dalam tanah, sehingga
tanah atau lahan menjadi lebih remah, gembur dan tidak liat bahkan keras serta
mengurangi polusi dan dampak sampah di lingkungan. Penelitian ini bertujuan
untuk melihat pengaruh penggunaan pupuk cair dan kering terhadap,
pertumbuhan dan berat buah melon (Suriatna,1987).
B. Alasan Pemilihan Topik
Adapaun alasan penelitian ini dilakukan ialah ingin menguji efektivitas
jenis pupuk organik.
C. Hipotesa
Pemberian pupuk organik cair (buah-buahan) dan kering (kotoran
kambing) mempengaruhi pertumbuhan dan berat buah melon.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini ialah :
1. Mengetahui pengaruh pemberian pupuk cair dan padat hasil fermentasi
terhadap pertumbuhan tanaman melon.
2. Mengetahui pengaruh pemberian pupuk cair dan kering terhadap berat buah
melon.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan pupuk
organik cair dan padat dalam sistem penanaman melon serta menambah
pengetahuan masyarakat mengenai keefektivitas pupuk organik yang
digunakan dalam penelitian ini.
2. Bagi Peneliti
Menambah wawasan mengenai pupuk organik untuk budidaya
tanaman melon.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sejarah Domestikasi
Melon (Cucumis melo L) merupakan tanaman buah termasuk famili
Cucurbitaceae, banyak yang menyebutkan buah melon berasal dari Lembah Panas
Persia atau daerah Mediterania yang merupakan perbatasan antara Asia Barat dengan
3

Eropa dan Afrika. Tanaman melon akhirnya tersebar luas ke Timur Tengah dan ke
Eropa. Pada abad ke-14 melon dibawa ke Amerika oleh Colombus dan akhirnya
ditanam luas di Colorado, California, dan Texas. Akhirnya melon tersebar keseluruh
penjuru dunia terutama di daerah tropis dan subtropis termasuk Indonesia (Tjahjad,
1992).
B. Syarat Pertumbuhan Melon
1. Iklim
Tanaman melon memerlukan curah hujan antara 2000-3000 mm/ tahun.
Ketinggian tempat yang optimal adalah 200-900 m dpl. Namun, tanaman melon
masih dapat berproduksi dengan baik pada ketinggian 0-100 meter dpl.
Pertumbuhan tanaman melon tidak banyak dipengaruhi oleh kelembaban udara,
asalkan kadar air di dalam tanah cukup tersedia. Kelembaban 65% .
Kelembaban yang tinggi akan mempercepat perkembangan penyakit, jamur dan
proses pemasakan. Angin yang bertiup cukup keras dapat merusak pertanaman
melon dan hujan yang turun terus menerus juga akan merugikan tanaman melon.
(Prajnanta, 2003).
Tanaman melon membutuhkan tempat yang mendapat sinar matahari
penuh sekitar 10-12 jam/hari, suhu udaranya hangat dan kelembaban udaranya
relatif rendah. Selama proses perkecambahan idealnya pada suhu udara 28oC30oC, sedangkan pada periode pertumbuhan kisaran suhu yang ideal 25oC-30oC
(Rukmana, 1994).
2. Media Tanam
Tanah yang baik ialah tanah liat berpasir yang banyak mengandung bahan
organikseperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol, asalkan kekurangan dari
sifat-sifat tanah tersebut dapat dimanipulasi dengan pengapuran, penambahan
bahan organik, maupun pemupukan. Tanaman melon tidak menyukai tanah yang
terlalu basah, pH tanah 5,8-7,2 (Rukmana, 1994).
C. Ciri-ciri Tanaman Melon
Melon memiliki akar tunggang dan akar cabang yang menyebar pada
kedalaman lapisan tanah antara 30-50 cm. Batang tanaman biasanya mencapai
ketinggian (panjang) antara 1,5-3 meter, berbentuk segi lima, lunak, berbuku-buku
sebagai tempat melekatnya tangkai daun. Helai daun berbentuk bundar bersudut lima

dan berlekuk-lekuk, diameternya antara 9-15 cm dan letak antara satu daun dengan
daunnya saling berselang (Rukmana, 1994).
Daun melon (Cucumis melo L) berbentuk hampir bulat, tunggal dan tersebar
sudutnya lima, mempunyai jumlah lekukan sebanyak 3-7 lekukan. Daun melon
berwarna hijau, lebar bercangap atau berlekuk, menjari agak pendek. Permukaan daun
kasar, ada jenis melon yang tepi daunnya bergelombang dan tidak bercangap. Panjang
pangkal berkisar 5-10 cm dengan lebar 3-8 cm (Soedarya, 2010).
Batang tanaman melon membelit, beralur, kasar, berwarna hijau atau hijau
kebiruan. Batangnya berbentuk segilima tumpul, tumbuh menjalar, berbulu, lunak,
bercabang dan panjangnya dapat mencapai 3 meter. Batang melon mempunyai alat
pemegang yang disebut pilin.Batang ini digunakan sebagai tempat memanjat tanaman
(Soedarya, 2010).
Bunga tanaman melon berbentuk lonceng, berwarna kuning dan kebanyakan
uniseksual-monoesius. Oleh sebab itu dalam penyerbukannya perlu bantuan organisme
lain. Penyerbukan yang biasa terjadi adalah penyerbukan silang dan penyerbukan
sendiri jarang terjadi. Bunga jantan tanaman melon terbentuk berkelompok 3-5 buah,
terdapat pada semua ketiak daun, kecuali pada ketiak daun yang ditempati oleh bunga
betina. Jumlah bunga jantan relative lebih banyak dari pada bunga betina. Bunga
jantan memiliki tangkai yang tipis dan panjang, akan rontok dalam 1-2 hari setelah
mekar (Tjahjadi, 1989).
Buah melon bervariasi, baik bentuk, ukuran, rasa, aroma, maupun
penampilannnya. Umumnya buah melon berbentuk bulat, tetapi ada pula yang lonjong.
Buah melon dapat dipanen pada umur 75-120 hari, bergantung pada jenisnya. Tandatanda melon yang sudah tua atau masak adalah bila dipukul-pukul menimbulkan bunyi
yang nyaring (Soedarya, 2010).
Akar tanaman melon menyebar, tetapi dangkal. Akar-akar cabang dan rambutrambut akar banyak terdapat di permukaan tanah, semakin ke dalam akar-akar tersebut
semakin berkurang. Tanaman melon membentuk ujung akar yang menembus ke dalam
tanah sedalam 45-90 cm. Akar horizontal cepat berkembang di dalam tanah, menyebar
dengan kedalaman 20-30 cm (Tjahjadi,1989).
D. Klasifikasi Melon

Berdasarkan Prajnanta, (2003) secara lengkap dilihat dari segi taksonomi


tumbuhan, tanaman melon diklasifikasikan sebagai berikut :
5

Kingdom

: Platae

Divisio

: Spematophyta

Kelas

: Dikotil

Ordo

: Cucurbitales

Famili

: Cucurbitaceae

Genus

: Cucumis

Spesies

: Cucumis melo L.

E. Kandungan Gizi Buah Melon


Kandungan vitamin C pada melon akan mencegah terjadinya sariawan dan
meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit. Buah melon mengandung banyak
zat gizi yang cukup beragam sehingga tidak mengherankan apabila melon merupakan
sumber gizi yang sangat baik (Prajnanta, 2003).
Menurut Samadi, (2007) vitamin dan mineral yang terkandung dalam buah
melon sangat baik untuk kesehatan tubuh manusia. Kandungan protein dan karbohidrat
yang terkandung dalam buah melon sangat penting bagi tubuh manusia untuk
pembentukan jaringan sel.
Adapun kandungan gizi buah melon setiap 100 gram bahan yang dapat
dimakan dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini :
Tabel 1. Komposisi Kimia Buah Melon per 100 g Bahan
Komposisi Kimia
Energi (kal)
Protein (g)
Lemak (g)
Karbohidrat (g)
Kalsium (mg)
Fosfor (mg)
Serat (g)
Besi (mg)
Vitamin A (SI)
Vitamin B1 (mg)
Vitamin B2 (mg)
Vitamin C (mg)
Niacin (g)
Sumber : Wirakusumah,2000

Jumlah
21,0
0,60
0,10
5,10
15,00
25,00
0,30
0,50
640,00
0,03
0,02
34,00
0,80

F. Manfaat Buah Melon bagi Kesehatan Tubuh


Sebagai buah untuk terapi kesehatan karena mempunyai khasiat antara lain :
6

1. membantu sistem pembuangan,


2. anti kanker,
3. menurunkan resiko stroke dan penyakit jantung,
4. mencegah penggumpalan darah (Wirakusumah, 2000).
G. Penyakit dan Hama Tanaman Melon
1. Layu bakteri
Penyebab: bakteri Erwina tracheiphila E.F.Sm. Penyakit ini dapat
disebarkan dengan perantara kumbang daun oteng-oteng (Aulacophora
femoralis Motschulsky). Gejala: daun dan cabang layu dan terjadi pengkerutan
pada daun, warna daun menguning, mengering dan akhirnya mati; daun
tanaman layu satu per satu, meskipun warnanya tetap hijau, kemudian
tanaman layu secara keseluruhan. Apabila batang tanaman yang dipotong
melintang akan mengeluarkan lendir putih kental dan lengket bahkan dapat
ditarik seperti benang (Rukmana, 1994).
2. Penyakit busuk pangkal batang (gummy stem bligt)
Penyebab: Cendawan Mycophaerekka melonis (Passerini) Chiu et
Walker. Gejala: pangkal batang yang terserang mula-mula seperti tercelup
minyak kemudian keluar lendir berwarna merah coklat dan kemudian tanaman
layu dan mati; daun tanaman yang terserang akan mengering apabila diremas
seperti kerupuk dan berbunyi kresek-kresek apabila diterpa angin (Rukmana,
1994).

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif berupa eksperiment (Perbandingan)
yang akan mencari perbandingan pertumbuhan dan perkembangan dengan
perlakuan pupuk cair (fermentasi buah-buahan) dan pupuk padat (kotoran
kambing).

B. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian

ini

dilaksanakan

di Kebun

Anggur

Pendidikan

Biologi

selama satu bulan, mulai dari 3 oktober sampai 12 november 2015.

C. Sampel
Sampel yang digunakan terdiri dari 20 tanaman melon masing-masing 10
pada perlakukan pupuk padat dan 10 untuk perlakuan pupuk cair.
D. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari 2 (dua) variabel bebas, yaitu pupuk
cair (fermentasi buah-buahan) dan pupuk padat (kotoran kambing), sedangkan
pertumbuhan tanaman melon dan berat buah melon disebut variabel terikat.
E. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara langsung
dengan melakukan eksperimen langsung secara teliti, dengan menghitung jumlah
daun dua kali dalam satu minggu yaitu hari Senin dan Kamis.
F. Analisis Data
Menganalisis data dengan menghitung rata-rata jumlah daun pada setiap
perlakuan kemudian dibuat diagram perbandingan rata-rata jumlah daun pada masingmasing perlakuan.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Data hasil pengamatan di peroleh dengan cara menghitung jumlah daun melon
dan berat buah melon dengan mengamati pertumbuhan generatif pada melon. Pada
perlakuan pupuk cair memiliki pertumbuhan generatif yang lebih cepat dibandingkan
dengan perlakuan pupuk cair.
Tabel 1. Hasil pengamatan jumlah daun pada perlakuan pupuk padat.
Tanaman

Jumlah Daun

31

28
9

26

26

30

Rerata

28,2

Tabel 2. Hasil pengamatan jumlah daun pada perlakuan pupuk cair.


Tanaman

Jumlah Daun

41

36

34

38

36

Rerata

37

Grafik perbandingan jumlah daun baik perlakuan pupuk padat maupun pupuk cair:
40 37
35
28.2
30
25

Rerata Jumlah Daun20


15
10
5
0
Pupuk Padat

Perlakuan

B. Pembahasan
Kegiatan budidaya tanaman holtikultura yang meliputi sayuran dan buahbuahan yang semakin banyak diminati petani, karena komoditas ini mampu
10

memberikan keuntungan lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman padi. Beberapa


komoditas holtikultura seperti tanaman cabai, semangka dan melon menuntut
pekerjaan yang lebih intensif dan biaya yang lebih besar, namun demikian keutungan
yang diraih masih sesuai dengan pengorbanan yang dikeluarkan.
Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu buah yang dikonsumsi daging
buahnya, baik untuk tipe konsumsi segar maupun olahan. Melon (cucumis melo,L)
tergolong tanaman semusim yang tumbuh merambat, berbatang lunak dari setiap
pangkal tangkai daun pada batang utama tumbuh tunas lateral, pada tunas lateral
inilah muncul bunga betina (bakal buah) yang rata-rata mampu menghasilkan 1-2
calon buah. Namun tidak semuanya menjadi buah, calon buah yang tidak sempat
disewrbuki akan gugur.
Percobaan budidaya tanaman melon ini menggunakan dua jenis pupuk organik
hasil fermentasi yakni pupuk cair yang merupakan hasil fermentasi dari beberapa
jenis buah-buahan seperti apel, kulit buah pepaya, nanas, mangga, pisang dan tomat,
sedangkan pupuk organik padat merupakan hasil fermentasi pupuk kandang yaitu
kotoran kambing.
Berdasarkan data hasil pengamatan jumlah daun pada perlakuan pupuk padat
(Tabel 1) dan perlakuan pupuk cair (Tabel 2) menunjukkan hasil bahwa pupuk cair
lebih efektif atau lebih baik dalam pertumbuhan tanaman melon. Hal ini ditunjukkan
pula pada grafik perbandingan rerata jumlah daun pada setiap perlakuan bahwa pupuk
cair memiliki jumlah daun yang banyak dibandingkan pupuk padat. Pada
pertumbuhan secara generatif menunjukkan bahwa pada perlakuan pupuk cair lebih
cepat berbunga dan berbuah.
Merawat tanaman melon bukan merupakan hal yang mudah. Tamanan melon
sangat membutuhkan perawatan yang cukup karena tanaman melon sangat mudah
terserang hama dan penyakit baik menyerang buah, daun, batang maupun menyerang
akar. Selama proses pembudidayaan tanaman melon ada begitu banyak masaah yang
ditemukan di lapangan diantaranya masalah hama dan penyakit yang menyerang
tamanan melon, cekaman, tanaman kekurangan unsur hara (N) dan managemen
peneliti.
1. Layu bakteri
11

Layu bakteri dengan menujukkan gejala pada tamanan; daun dan


cabang layu dan terjadi pengkerutan pada daun, warna daun menguning,
mengering dan akhirnya mati; daun tanaman layu satu per satu, meskipun
warnanya tetap hijau, kemudian tanaman layu secara keseluruhan. Cara
penggulangannya dengan mencabut tanaman yang diserang penyakit layu
bakteri, kemudian di bakar.

Gambar 1. Tanaman melon yang diserang penyakit layu bakteri


2. Ulat Tanah
Pada saat stadia larva ulat tanah sangat berbahaya karena memakan akar
tumbuhan inang dan mematikan tumbuhan tersebut. Larva memakan akar tanaman
sehingga tanaman tampak layu seperti kekurangan air, daun berwarna kuning,
mengering dan akhirnya mati. Pengendalian ulat tanah dengan melakukan pemisahan
tanaman terserang dengan tanaman lainnya dan melakukan penyemprotan insektida.

Gambar 2. Akar tanaman melon yang diserang ulat tanah

3. Kumbang
12

Kumbang menyerang tanaman sejak tanaman muncul di atas


permukaan tanah hingga panen. Gejala kerusakan akibat serangan kumbang
adalah terdapatnya lubang-lubang kecil bekas gigitan serangga pada daun
muda. Pengendalian kumbang dilakukan dengan penyemprotan insektidida
atau pestisida pada daun tanaman melon.

Gambar 3. Kumbang yang menyerang daun tanaman melon


4. Kepik

Ciri khas tanaman yang diserang kepik terdapat keratan berupa


lingkaran pada daun pada masa larva menyerang jaringan perakaran sampai
angkal batang, Hama oteng-oteng juga merupakan vektor dari penyakit layu
bakteri. Cara penanggulananya dengan cara penyemprotan insektisida atau
pestisida alami yang sudah dibuat.

Gambar 4. Kepik yang menyerang daun tanaman melon dan sebagai vektor
atau perantara penyakit layu bakteri

5. Ulat Buah
Gejala serangan di tandai dengan buah yang memiliki lubang dalam
jumlah banyak atau sedikit dan mengakibatkan buah menjadi cepat busuk.
13

Cara penanggulangannya dengan melakukan pemisahan bagian yang terserang


dan penyemprotan insektisida atau pestisida alami yang sudah dibuat.

Gambar 5. Ulat buah yang menyerang bagian buah tanaman melon

6. Tanaman Kekurangan Unsur N


Ciri tanaman kekurangan unsur N antara lain daun mengalami klorosis
yang dimulai dari daun bagian bawah. Pertumbuhan tanaman melambat atau
terlambat. Difisiensi berat, semua daun menguning, kemudian menjadi cokelat
dan pada akhirnya mati.

Gambar 6. Tanaman melon kekurangan unsur N

7. Cekaman
Selama proses pemeliharaan atau budidaya tanaman melon terdapat
dua jenis cekaman yang berpotensi mematikan tanaman melon yakni cekaman
suhu dan cekaman kekeringan. Upaya yang dilakukan ialah dengan menyiram
tanaman melon setiap pagi dan sore hari.

14

Gambar 7. Tanaman melon mati karena cekaman suhu dan kekeringan

8. Managemen Peneliti
Managemen sangat diperlukan dalam merawat tanaman melon,
terutamana melakukan penyiraman tanaman. Kurangnya managemen peneliti
berpotensi pada kematian tanaman melon. Sikap atau sifat manusia yang
menjadi pelupa membuat tanaman kekurangan air karena lupa disiram.
Selama proses pertumbuhan baik vegetatif maupun generatif tanaman melon
tidak terlepas dari segala bentuk perawatan yang rutin, diantaranya adalah
pemupukan, penggemburan tanah, penyiraman, pemasangan ajir dan lain-lain.
Pemupukan dilakukan satu kali dalam satu minggu dengan dosis setiap
tanaman sama. Tanaman melon dengan perlakuan pupuk cair, dosis atau takaran
pupuknya 1 liter per tanaman, sedangkan perlakuan pupuk padat 300 gram atau satu
gayung per tamanan. Kegiatan penggemburan dan penyiraman tanaman dilakukan
pada pagi dan sore hari.
Untuk menghasilkan buah yang bagus atau baik, tanaman harus ditopang
dengan ajir atau tongkat dari bilah bambu. Fungsinya agar buah yang dihasilkan tidak
bersentuhan dengan permukaan tanah. Selain itu agar terjadi penetrasi sinar matahari
ke seluruh bagian tanaman.
Pemasangan ajir hendaknya dilakukan sebelum tanaman tumbuh besar.
Biasanya sebelum umur tanaman 5 hari terhitung sejak pertama ditanam. Hal ini
dimaksudkan agar ajir yang ditancapkan tidak melukai akar tanaman. Selain itu untuk
mencegah tanaman menjalar ditanah digunakan benang jagung untuk mengikat batang
tanaman melon, dengan demikian tanaman mudah merambat pada ajir yang sudah
disediakan.
15

Buah melon memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi seperti protein, lemak,
kalsium, fosfor, serat, vitamin dan zat besi. Kandungan gizi yang dimiliki buah melon
bermanfaat bagi kesehatan tubuh diantara membantu sistem pembuangan, anti kanker,
menurunkan resiko stroke dan penyakit jantung dan mencegah penggumpalan darah.
Pestisida

yang

digunakan

untuk

menggulangi

hama

dan

penyakit

menggunakan pestisida alami dengan bahan dasar tembakau, gadung, bawang putih,
suruh, brotowali, daun nimba, daun kelor, kunir dan laos. Semua bahan ini di tumbuk
atau diblender kemudian difermentasi selama satu minggu. Dosis atau takaran yang
dipakai ialah 200 ml cairan pestisida hasil fementasi, kemudian ditambahkan air
hingga 600 ml. Teknik penyemprotan dimulai dari bagian bawah daun, karena pada
bagian bawah daun terdapat banyak OPT.

16

BAB V
KESIMPULAN

1. Pemberian pupuk organik padat dan cair berpengaruh pada pertumbuhan


vegetatif dan generatif tanaman melon. Namun berdasarkan hasil pengamatan
dan pembahasan menunjukkan bahwa pupuk cair lebih berpengaruh terhadap
pertumbuhan melon baik vegetatif maupun generatif.
2. Masalah-masalah yang ditemukan dilapangan antara lain hama dan penyakit
yang menyerang tanaman melon, cekaman dan managemen peneliti kurang
optimal.
3. Solusi yang dilakukan untuk menanggulangi hama dan penyakit dengan
penyemprotan insektisida atau pestisida yang dibuat oleh peneliti sendiri.

17

Daftar Pustaka

Departemen Pertanian. 2012. Perkembangan Produksi Tanaman Buah. Diunduh dari


http://hortikultura.deptan.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=322&Itemid=921. Diakses tanggal 01
Desember 2015
Prajnanta, F. 2003. Melon: Pemeliharaan Secara Intensif, kiat sukses beragribisnis. Jakarta:
Penebar Swadaya,
Rukmana, R. 1994. Budidaya Melon Hibrida. Yogyakarta: Kanisius.
Samadi, B. 2007. Melon Usaha Tani dan Penanganan Pasca Panen. Jakarta: Pustaka Utama.
Sobir dan Firmansyah S. 2010. Budidaya Melon Unggul. Jakarta: Penebar Swadaya
Soedarya, A. 2010. Agribisnis Melon. Bandung: Pustaka Grafika.
Suriatna. 1987. Pupuk dan Pemupukan. Jakarta: Mediatama Sarana Prakarsa
Tjahjad, N. 1989. Bertanam Melon. Yogyakarta: Kanisius.
Tjahjad, N. 1992. Bertanam Melon. Kanisius. Jakarta
Wirakusumah. 2000. Buah dan Sayuran Untuk Terapi. Jakarta: P.T. Penebar
Swadaya

18

Lampiran

Penanaman benih melon

Pupuk cair

19

Pupuk padat

Lahan penanaman melon

Keadaan melon tumbuh subur

Buah melon

20

Kumbang

Ulat tanah

Tanaman melon kekurangan N

Kepik

Buah melon diserang ulat buah

Layu bakteri

21

Tanaman melon mati karena kekeringan

22