Anda di halaman 1dari 19

BAB I

Pendahuluan
Latar Belakang
Berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001,
khususnya data pola penyebab kematian umum di Indonesia, disebutkan bahwa
penyakit jantung dan pembuluh darah dianggap sebagai penyakit pembunuh
nomor satu di Indonesia. Gangguan jantung dan pembuluh darah sering bermula
dari hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Perubahan struktur masyarakat agraris ke masyarakat industri memberi
andil terhadap perubahan pola perubahan sosial ekonomi dan perubahan gaya
hidup terutama yang terlihat di kota-kota besar dimana terdapat stressor yang
tinggi, perubahan pola makan ke arah konsumsi tinggi lemak, kebiasaan merokok
dan yang lainnya yang berakibat pada perubahan pola penyakit pada masyarakat
dan semakin meningkatnya Penyakit Tidak Menular (PTM). Salah satu dari PTM
itu adalah hipertensi (Bustan, 2000).
Penyakit tidak menular disebut juga sebagai penyakit degeneratif karena
kejadiannya bersangkutan dengan proses degeneratif atau ketuaan sehingga PTM
banyak ditemukan pada lanjut usia, dan karena proses

yang lama yang

menyebabkan PTM berkaitan dengan proses degeneratif yang berlangsung sesuai


waktu atau umur (Bustan, 2000).
Pada tahun 1971 lalu penduduk Indonesia yang dikategorikan lansia masih
sekitar 4,5%, atau 5,3 juta orang, sementara penduduk kategori usia di bawah lima
tahun (balita) sebesar 16,1%. Namun pada tahun 2000 jumlah lansia Indonesia
sudah mencapai tiga kali lipat yakni menjadi 14,4 juta orang. Pada tahun 2005
kondisi komposisi penduduk Indonesia telah berubah yang menjadikan penduduk
lansia mencapai 7% dan balita 8,2%.
Proses ketuaan akan berkaitan dengan proses degeneratif tubuh dengan
segala penyakit yang terkait. Mulai dari gangguan mobilitas alat gerak sampai
gangguan jantung. Pada kelainan jantung ini mengalami perubahan yang sangat
alamiah seperti arteri yang kehilangan elastisitasnya. Hal ini dapat menyebabkan
peningkatan nadi dan tekanan sistolik darah (Waton, 2003).

Penyebab kematian karena penyakit jantung, pembuluh darah dan


tuberkulosa pada saat ini menduduki urutan pertama pada kelompok lanjut usia,
yang dua diantaranya adalah PTM, salah satu dari penyakit jantung dan pembuluh
darah tersebut adalah hipertensi (Nugroho, 2000).
Di Negara yang telah maju hipertensi merupakan masalah kesehatan yang
memerlukan penanggulangan dengan baik, diperkirakan tahun 2005 saja sebanyak
26% orang dewasa menderita hipertensi, peningkatan ini terutama terjadi
dinegara-negara berkembang, dan sekitar 80% kenaikan kasus hiprtensi terjadi
(Airiza, 2007).
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan hipertensi seperti usia, jenis
kelamin, stress, riwayat keluarga, obesitas, merokok, konsumsi alkohol
berlebihan, diet garam berlebihan dan kurang aktivitas fisik. Fakta menunjukkan
bahwa lanjut usia sangat rentan terhadap serangan berbagai penyakit satu negara.
Penyakit hipertensi termasuk dalam lima besar penyakit pada lansia (26,5%),
tepatnya urutan keempat setelah penyakit jantung (36,7%), penyakit metabolisme
(33,3%), penyakit tulang dan persendian (31,2%), 40% lanjut usia menderita
penyakit hipertensi dari 50% kematian sesudah usia 65 tahun disebabkan oleh
hipertensi (Depkes 2007).
Tujuan
a. Tujuan umum :
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami asuhan keperawatan hipertensi
pada lansia.
b. Tujuan khusus :
- Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pengertian hipertensi pada
-

lansia
Mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala hipertensi khususnya pada

lansia
Mahasiswa dapat memahami faktor pencetus dan etiologi dari hipertensi

lansia
Mahasiswa dapat memahami perjalanan penyakit terjadinya hipertensi

pada lansia
Mahasiswa dapat mengetahui pencegahan hipertensi pada lansia
BAB II
Tinjauan Teori

1. Pengertian
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140
mmHg atau tekanan diastoliknya sedikitnya 90 mmHg (Wilson, 2005). Hipertensi
adalah tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90
mmHg atau bila pasien memakai obat anti hipertensi (Mansjoer, dkk, 1999).
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada
populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg
dan tekanan diastolik 90 mmHg (Smeltzer, 2001).
Hipertensi di defenisikan oleh Joint Nasional Committee on Detection,
Evaluation, and Treatment of higt Blood Pressure (JNC) sebagai tekanan darah
yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan di klasifikasikan sesuai derajad
keparahanya, mempunyai rentang dari tekanan darah normal, sedang, dan tinggi
(Dongoes, 2000).
Berdasarkan penyebab dikenal dua jenis hipertensi, yaitu
1)

Hipertensi primer (esensial)


Adalah suatu peningkatan persisten tekanan arteri yang dihasilkan
oleh ketidakteraturan

mekanisme kontrol homeostatik normal,

Hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya dan mencakup + 90%


dari kasus hipertensi
2) Hipertensi sekunder
Adalah hipertensi persisten akibat kelainan dasar kedua selain
hipertensi esensial. Hipertensi ini penyebabnya diketahui dan ini
menyangkut + 10% dari kasus-kasus hipertensi.

Berdasarkan bentuk hipertensi, yaitu


3)

Hipertensi diastolik (diastolic hypertension)


Peningkatan tekanan diastolik tanpa diikuti peningkatan tekanan
sistolik. Biasanya ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda.

4)

Hipertensi campuran (sistol dan diastol yang meninggi)


Peningkatan tekanan darah pada sistol dan diastol.

5)

Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension)

Peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan


diastolik. Umumnya ditemukan pada usia lanjut.
Kategori hipertensi
WHO membagi hipertensi sebagai berikut:
Tabel 2.1
Klasifikasi Tekanan Darah Menurut WHO
Normal
Borderline
Hipertensi definitif
Hipertensi ringan

Sistolik (mmHg)
140

Diastolik (mmHg)
90

140-159

90-94

160

95

160-179

95-140

JNC/ DETH membuat klasifikasi sebagai berikut:


Tabel 2.2
Klasifikasi Tekanan Darah Usia >18 Tahun
Kategori

Sistolik (mmHg)
<130

Diastolik (mmHg)
<85

130-139

85-89

Stadium 1

140-159

90-99

Stadium 2

160-179

100-109

Stadium 3

180-209

110-119

Stadium 4

>210

>120

Normal
Normal tinggi
Hipertensi:

2. Etiologi
Corwin (2000) menjelaskan bahwa hipertensi tergantung pada kecepatan
denyut jantung, valume sekuncup dan Total Peripheral Resistance (TPR). Maka

peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak dikompensasi dapat
menyebabkan hipertensi.
Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan
abnormal saraf atau hormon pada nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut
jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan hipertiroidisme.
Namun, peningkatan kecepatan denyut jantung biasanya dikompensasi oleh
penurunan volume sekuncup atau TPR, sehingga tidak meninbulkan hipertensi.
Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi
apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan, akibat
gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang
berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun penurunan aliran
darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal.
Peningkatan volume plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolik
akhir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah.
Peningkata preload biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan sistolik.
Peningkatan TPR yang berlangsung lama dapat terjadi pada peningkatan
rangsangan saraf atau hormon pada arteriol, atau responsivitas yang berlebihan
dari arteriol terdapat rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan
penyempitan pembuluh darah. Pada peningkatan TPR, jantung harus memompa
secara lebih kuat dan dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar,
untuk mendorong darah melintas pembuluh darah yang menyempit. Hal ini
disebut peningkatan dalam afterload jantung dan biasanya berkaitan dengan
peningkatan tekanan diastolik. Apabila peningkatan afterload berlangsung lama,
maka ventrikel kiri mungkin mulai mengalami hipertrofi (membesar). Dengan
hipertrofi, kebutuhan ventrikel akan oksigen semakin meningkat sehingga
ventrikel harus mampu memompa darah secara lebih keras lagi untuk memenuhi
kebutuhan tesebut. Pada hipertrofi, serat-serat otot jantung juga mulai tegang
melebihi panjang normalnya yang pada akhirnya menyebabkan penurunan
kontraktilitas dan volume sekuncup.
3. Faktor Pencetus
Dibawah ini adalah faktor pencetus terjadinya hipertensi lansia:
a. Obesitas / kegemukan

b. Kebiasaan merokok
c. Minuman beralkohol
d. Penyakit kencing manis dan jantung
e. Wanita yang tidak menstruasi
f. Stress
g. Kurang olah raga
h. Diet yang tidak seimbang, makanan berlemak dan tinggi kolesterol
4.

Patofisiologi
Baik TDS maupun TDD meningkat sesuai dengan meningkatnya umur.
TDS meningkat secara progresif sampai umur 70-80 tahun, sedangkan TDD
meningkat sampai umur 50-60 tahun dan kemudian cenderung menetap atau
sedikit menurun. Kombinasi perubahan ini sangat mungkin mencerminkan adanya
pengakuan pembuluh darah dan penurunan kelenturan (compliance) arteri dan ini
mengakibatkan peningkatan tekanan nadi sesuai dengan umur. Seperti diketahui,
tekanan nadi merupakan predictok terbaik dari adanya perubahan struktural
didalam arteri. Mekanisme pasti hipertensi pada lanjut usia belum sepenuhnya
jelas.
Efek utama dari ketuaan normal terhadap sistem kardiovaskuler meliputi
perubahan aorta dan pembuluh darah sistemik. Penebalan dinding aorta dan
pembuluh darah besar meningkat dan elastisitas pembuluh darah menurun sesuai
umur. Perubahan ini menyebabkan penurunan compliance aorta dan pembuluh
darah besar dan mengakibatkan pcningkatan TDS. Penurunan elastisitas pembuluh
darah menyebabkan peningkatan resistensi vaskuler perifer. Sensitivitas
baroreseptor juga berubah dengan umur.
Perubahan mekanisme reflex baroreseptor mungkin dapat menerangkan
adanya variabilitas tekanan darah yang terlihat pada pemantauan terus menerus.
Penurunan sensitivitas baroreseptor juga menyebabkan kegagalan refleks postural,
yang mengakibatkan hipertensi pada lanjut usia sering terjadi hipotensi ortostatik.
Perubahan keseimbangan antara vasodilatasi adrenergik, dan vasokonstriksi
adrenergik-a akan menyebabkan kecenderungan vasokontriksi dan selanjutnya
mengakibatkan peningkatan resistensi pembuluh darah perifer dan tekanan darah.

Resistensi Na akibat peningkatan asupan dan penurunan sekresi juga


berperan dalam terjadinya hipertensi. Walaupun ditemukan penurunan renin
plasma dan respons renin terhadap asupan garam, sistem renin-angiotensin tidak
mempunyai

peranan

utama

pada

hipertensi

pada

lanjut

usia.2,4,9

Perubahanperubahan di atas bertanggung jawab terhadap penurunan curah jantung


(cardiac output), penurunan denyut jantung, penurunan kontraktilitas miokard,
hipertrofi ventrikcl kiri, dan disfungsi diastolik. Ini menyebabkan penurunan
fungsi ginjal dengan penurunan perfusi ginjal dan laju filtrasi glomerulus.
5. Tanda dan Gejala
Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan
darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti
perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada
kasus berat, edema pupil (edema pada diskus optikus).
Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakan gejala
sampai bertahun-tahun. Gejala bila ada menunjukan adanya kerusakan vaskuler,
dengan manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh
pembuluh

darah

bersangkutan.

Perubahan

patologis

pada

ginjal

dapat

bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan


azotemia peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin. Keterlibatan
pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien
yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau
gangguan tajam penglihatan (Smeltzer, 2002).
Crowin (2000) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul
setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa :
1. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah,
akibat peningkatan tekanan darah intrakranial,
2. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi,
3. Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf
pusat
4. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerolus

5. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan


kapiler
Gejala lain yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing,
muka merah, sakit kepala, keluaran darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk
terasa pegal dan lain-lain (Novianti, 2006).
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laborat.
1. Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume
cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti :
hipokoagulabilitas, anemia.
2. BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
3. Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi)
dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
4. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal

danada DM.
CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian

gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.


IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu

ginjal,perbaikan ginjal.
Photo dada : Menunjukan
katup,pembesaran jantung.

7. Pathway

destruksi

kalsifikasi

pada

area

8. Pengkajian
Pengkajian Umum adalah :
a. Identitas Klien

Nama, umur, alamat, pendidikan, jenis kelamin, suku bangsa, agama,


status perkawinan, tanggal masuk panti/RS, tanggal pengkajian, orang
yang paling dekat untuk dihubungi
b. Status Kesehatan saat ini
Keluhan-keluhan kesehatan utama (sekarang) dikembangkan secara
PQRST
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Status kesehatan umum selama 1 tahun yang lalu, status kesehatan umum
selama 5 tahun yang lalu, pengetahuan dan pemahaman keluarga atau
klien tentang perawatan kesehatan
d. Riwayat Kesehatan keluarga
Gambaran genogram dari klien dan keluarga, terutama untuk penyakit
DM, hipertensi, penyakit ginjal, atritis, anemia, gangguan jantung, asma,
masalah kesehatan mental
Pengkajian khusus :
a. Aktivitas atau istirahat
Yang dikaji adalah gejala kelemahan, letih, nafas pendek, dan gaya hidup
monoton. Hal ini ditandai dengan frekuensi jantung yang meningkat,
perubahan irama jantung, dan takipnea.
b. Sirkulasi
Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup,penyakit
serebrovaskuler. Yang dikaji adanya peningkatan tekanan darah, denyut
nadi jelas, takikardi, bunyi murmur pada jantung, dan distensi vena
jugularis.
c. Ekstremitas
Perubahan warna kulit, suhu dingin (vasokontriksi perifer), pengisian
kapiler yang lambat.
d. Integritas Ego
Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah, faktor
stress multiple.
e. Eliminasi
Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu (infeksi, obstruksi,riwayat penyakit
ginjal)
f. Makanan/ cairan
Makanan yang disukai adalah makanan yang tinggi garam, lemak dan
kolesterol, mual, muntah dan riwayat penggunaan diuretik. Selain itu yang

perlu dikaji juga adalah berat badan klien mengalami obesitas atau tidak,
edema, kongesti vena, peningkatan JVP, dan glikosuria.
g. Neurosensori
Keluhan pusing atau sakit kepala, penglihatan kabur, diplopia dan
kelemahan pada satu sisi tubuh.
h. Nyeri dan ketidaknyamanan
Nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat, nyeri
abdomen.
i. Pernafasan
Dispnea, takibnea,ortopnea, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat
merokok.
9. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul adalah :
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload,
vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
b. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
c. Resiko perubahan perfusi jaringan serebral, ginjal, jantung berhubungan
dengan tahanan pembuluh darah.
d. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output
e. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri kepala
f. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi
inadekuat
g. Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya
hipertensi yang diderita klien.
10. Rencana Asuhan Keperawatan
a. Diagnosa : Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
- Tujuan :
Tidak terjadi penurunan curah jantung setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24 jam.
- Kriteria hasil :
1. Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD
2. Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima
3. Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil
- Intervensi :
1. Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik
2.
3.
4.
5.

yang tepat
Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas
Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler
Catat edema umum

6. Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas, batasi jumlah


pengunjung.
7. Pertahankan

pembatasan

aktivitas

seperti

istirahat

ditempat

tidur/kursi
8. Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
9. Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher,
meninggikan kepala tempat tidur.
10. Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan
11. Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah
12. Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi
13. Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi seperti
klorotiazid, hidroklorotiazid, bumetanic,triamterene,dll
b. Nyeri kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
- Tujuan :
Nyeri atau sakit kepala hilang atau berkurang setelah dilakukan

tindakan keperawatan
selama 2 x 24 jam
Kriteria hasil :
1. Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala
2. Pasien tampak nyaman
3. TTV dalam batas normal
Intervensi :
o Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit
o
o
o
o

penerangan
Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan
Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin
Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala
seperti kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, posisi

nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi dan distraksi


o Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan
sakit kepala misalnya mengejan saat BAB, batuk panjang,
membungkuk
o Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik, antiansietas
(lorazepam, ativan, diazepam, valium )
c. Resiko perubahan perfusi jaringan serebral, ginjal, jantung berhubungan
dengan tahanan pembuluh darah.
- Tujuan :
Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan : serebral, ginjal, jantung
-

setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam


Kriteria hasil :

Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti


ditunjukkan dengan:
TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit

kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.


Haluaran urin 30 ml/ menit
Tanda-tanda vital stabil
Intervensi :
Pertahankan tirah baring
Tinggikan kepala tempat tidur
Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk

dengan pemantau tekanan


arteri jika tersedia
Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan
Amati adanya hipotensi mendadak
Ukur masukan dan pengeluaran
Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai program
Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai program

d. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output


- Tujuan :
Tidak terjadi intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2 x 24 jam
Kriteria hasil :
Meningkatkan energi untuk melakukan aktifitas sehari hari
Menunjukkan penurunan gejala gejala intoleransi aktifitas
- Intervensi :
Berikan dorongan untuk aktifitas / perawatan diri bertahap jika
-

dapat ditoleransi.
Berikan bantuan sesuai kebutuhan
Instruksikan pasien tentang penghematan energy
Kaji respon pasien terhadap aktifitas
Monitor adanya diaforesis, pusing
Observasi TTV tiap 4 jam
Berikan jarak waktu pengobatan dan prosedur

untuk

memungkinkan waktu istirahat yang tidak terganggu, berikan


waktu istirahat sepanjang siang atau sore
e. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri kepala
- Tujuan :
Tidak terjadi gangguan pola tidur setelah dilakukan tindakan
-

keperawatan selama 2 x 24 jam


Kriteria hasil :

Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat 6 8 jam per hari


Tampak dapat istirahat dengan cukup
TTV dalam batas normal
Intervensi :
Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman
Beri kesempatan klien untuk istirahat / tidur
Evaluasi tingkat stress
Monitor keluhan nyeri kepala
Lengkapi jadwal tidur secara teratur
Berikan makanan kecil sore hari dan / susu hangat
Lakukan masase punggung
Putarkan musik yang lembut
Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
f. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi
inadekuat
- Tujuan :
Nutrisi klien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
-

1 x 24 jam
Kriteria hasil :
Klien menunjukkan peningkatan berat badan ideal
Menunjukkan perilaku meningkatkan atau mempertahankan berat
badan ideal
Intervensi :
Bicarakan kepada klien pentingnya menurunkan lemak, garam dan
gula sesuai dengan indikasi.
Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet.
Dorong klen untuk mempertahankan masukan makanan harian,
termasuk

kapan

dan

dimana

makan

dilakukan,

bagaimana

lingkungan dan perasaan klien pada saat makanan dimakan.


Intruksikan dan bantu klien untuk memilih makanan yang tepat,
hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju,
telur, es krim, daging dll) dan kolesterol (daging berlemak, kuning
telur, produk kalengan, jeroan)
g. Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya
hipertensi yang diderita klien.
- Tujuan:
Kecemasan hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan
-

keperawatan selama 1 x 24 Jam


Kriteria hasil :
Klien mengatakan sudah tidak cemas lagi / cemas berkurang

Ekspresi wajah rilek


TTV dalam batas normal
Intervensi :
Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku
misalnya

kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian,

keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan


Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan
konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala,
ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah.
Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor

spesifik

dan

kemungkinan strategi untuk mengatasinya.


Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan

partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan.


Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup
Kaji tingkat kecemasan klien baik secara verbal maupun non verbal
Observasi TTV tiap 4 jam
Dengarkan dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan

perasaanya
Berikan support mental pada klien
Anjurkan pada keluarga untuk memberikan dukungan pada klien
11. Evaluasi
Kriteria evaluasi adalah :
Apakah rasa nyeri pasien / sakit kepala berkurang ?
Apakah pasien sudah bisa beraktifitas sendiri / mandir?
Apakah pola nutrisi pasien seimbang atau normal ?
12. Pencegahan
a. Pencegahan primer
Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular.
Ketika hipertensi dikombinasikan dengan diabetes atau hiperlipidemia,
risiko meningkat secara dramatis. Pencegahan primer dari hipertensi terdiri
atas:
Mempertahankan berat badan ideal
Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan klien diet garam rendah
pada makanannya atau mengurangi garam pada makanan yang
diberikan kepada klien.
Anjurkan kepada keluarga untuk mengurangi atau menghindari klien
dari hal-hal yang dapat menimbulkan stress.

Anjurkan klien untuk melakukan latihan fisik seperti berolahraga lari,


jalan-jalan, berenang, bersepeda, berenang dll.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dikerjakan bila penderita telah diketahui menderita
hipertensi berupa:
Pengelolaan secara menyeluruh bagi penderita baik dengan obat
maupun dengan
tindakan-tindakan seperti pada pencegahan primer.
Harus dijaga supaya tekanan darahnya tetap dapat terkontrol secara
normal dan stabil mungkin.
Faktor-faktor resiko penyakit jantung ischemik yang lain harus dikontrol.
Batasi aktivitas.
c. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier ini dilakukan dalam rangka rehabilitasi jantung
dengan merubah gaya hidup. Namun, upaya untuk memaksa perubahan
gaya hidup secara radikal dan multiple biasanya hanya akan menghasilkan
kegagalan. Oleh karena itu hal yang perlu dilakukan perawat adalah
menetapkan prioritas untuk perubahan dan tujuan jangka pendek dengan
memodifikasi perilaku tidak peduli sekecil apapun, harus didukung karena
hal terebut akan menggambarkan perkembangan kearah pencapaian
tujuan jangka panjang. Hal hal tersebut adalah:
Perawat perlu menerima hak klien untuk tidak mengubah kebiasaan
tertentu misalnya kebiasaan merokok atau makanan tinggi lemak.
Perawat

memiliki

tanggungjawab

untuk

menjelaskan

dan

mengajarkan tujuan dengan suatu cara yang tepat dan mudah


dipahami, kemudian jika pemahaman telah tercapai maka hak
individual setiap orang untuk dapat menerima atau menolak hal-hal
yang diajarkan tersebut.
Perawat meminta klien

untuk

menggambarkan

kegiatan

kesehariannya atau kegiatan tertentu dan pada hari tertentu.


Perawat juga haru mengkaji apakah kebutuhan klien untuk
kebutuhan bantuan AKS dan instrumental AKS. Apakah bantuan
tersedia dari keluarga, teman, atau kelompok masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Arizia. (2007). Tekanan Darah Tinggi. dari http:// www.prodia.co.id. Diakses


tanggal 4 mei 2011
Corwin, Elizabeth J. (2009). Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Doengoes. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:EGC.
Kuswardhani,Tuty,R.A. Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lanjut Usia. Jurnal
Penyakit dalam volume 78 nomor 2 mei 2006: Hal 135-140.
Mansjoer. (1999). Kapita Selekta Kedokteran edisi 3.Jilid 1.Jakarta: Media
Aeculapius.
Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.
Stanley.Mickey, Beare.Gauntlet Patricia. 2002. Buku Ajar Keperawatan Gerontik
Edisi 2: Jakarta: EGC.
www.Depkes.gov.id

TUGAS KEPERAWATAN GERONTIK


ASKEP HIPERTENSI PADA LANSIA

Disusun oleh :
Dwi Ichsan Supardi G1D008071
Dessy Aprilia Ineko G1D008073
Ahwal Yanuar E.

G1D008075

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2011