Anda di halaman 1dari 16

TUGAS RESUME

DEMENTIA
Mata Kuliah:
PENYAKIT MENULAR DAN PENYAKIT NON MENULAR

DISUSUN OLEH :
MEISITA DIAS NINDYA

(25010114140324)

PUJI SRI RAHAYU

(25010114140361)

FACHMI AL FARISI

(25010114140334)

ISNA NURUL

(25010114140380)

M. KEVIN ARDIAN.A

(25010114140346)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

PENGERTIAN DEMENSIA
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan
fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. Gangguan fungsi kognitif antara lain
pada intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, orientasi,
persepsi, perhatian dan konsentrasi, penyesuaian, dan kempampuan bersosialisasi.
Ada sejumlah definisi tentang demensia, tetapi semuanya harus
mengandung tiga hal pokok, yaitu gangguan kognitif, gangguan tadi harus
melibatkan berbagai aspek fungsi kognitif dan bukannya sekedar penjelasan
defisit neuropsikologik, dan pada penderita tidak terdapatgangguan kesadaran,
demikian pula delirium yang merupakan gambaran yang menonjol.Definisi lain
mengenai demensia adalah hilangnya fungsi intelektual seperti daya ingat,
pembelajaran, penalaran, pemecahan masalah, dan pemikiran abstrak, sedangkan
fungsi vegetatif (diluar kemauan) masih tetap utuh.
Di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi
keempat (DSM-IV) demensia dicirikan oleh adanya defisit kognitif multipleks
(termasuk gangguan memori)yang secara langsung disebabkan oleh gangguan
kondisi medik secara umum, bahan-bahantertentu (obat, narkotika, toksin), atau
berbagai faktor etiologi. Demensia dapat progresif, statik atau dapat pula
mengalami

remisi.

Reversibilitas

demensia

merupakan

fungsi

patologi

yangmendasarinya serta bergantung pula pada ketersediaan dan kecepatan terapi


yang efektif.
EPIDEMIOLOGI DEMENTIA
Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60
tahun adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). peningkatan angka
kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup
suatu populasi . Kira-kira 5 % usia lanjut 65 - 70 tahun menderita demensia dan
meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85
tahun. Pada negara industri kasus demensia 0.5 - 1.0 % dan di Amerika jumlah
demensia pada usia lanjut 10 - 15% atau sekitar 3 - 4 juta orang.

Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia


Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara
maju Amerika dan Eropa sekitar 50 - 70%. Demensia vaskuler penyebab kedua
sekitar 15-20% sisanya 15 - 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan
Cina demensia vaskuler 50 - 60 % dan 30 - 40 % demensia akibat penyakit
Alzheimer.
ETIOLOGI DEMENTIA
Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat
menyebabkan timbulnya gejala demensia ada sejumlah tujuh puluh lima.
Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar tidak dapat
disembuhkan (Mace, N.L. & Rabins, P.V. 2006). Sebagian besar peneliti dalam
risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit
Alzheimer, penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia
frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain.
Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah
penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati
sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana
mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori,
kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.
1. Penyebab utama dari penyakit demensia adalah penyakit alzheimer, yang
penyebabnya sendiri belum diketahui secara pasti, namun diduga penyakit
alzheimer karena adanya kelainan faktor genetik atau adanya kelainan gen
tertentu. Pada penyakit alzheimer beberapa bagian otak mengalami
kemunduran, sehingga terjadi kerusakan sel dan berkurangnya respon
terhadap bahan kimia yang menyalurkan sinyal di dalam otak. Di dalam
otak ditemukan jaringan abnormal (disebut plak senilis dan serabut saraf
yang semrawut) dan protein abnormal, yang bisa terlihat pada otopsi.
2. Penyebab kedua dari demensia yaitu, serangan stroke yang berturut-turut.
Stroke tunggal yang ukurannya kecil dan menyebabkan kelemahan yang
ringan atau kelemahan yang timbul secara perlahan. Stroke kecil ini secara
bertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak, daerah otak yang

mengalami kerusakan akibat tersumbatnya aliran darah yang disebut


dengan infark. Demensia yang disebabkan oleh stroke kecil disebut
demensia multi-infark. Sebagian penderitanya memiliki tekanan darah
tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan kerusakan
pembuluh darah di otak.
Penyebab demensia menurut Nugroho (2008) dapat digolongkan menjadi
3 golongan besar:
1. Sindroma demensia dengan penyakit etiologi dasarnya tidak dikenal
kelainan yaitu: terdapat pada tingkat subseluler atau secara biokimiawi
pada sistem enzim, atau pada metabolisme
2. Sindroma demensia dengan etiologi yang dikenal tetapi belum dapat
diobati, penyebab utama dalam golongan ini diantaranya:
a. Penyekit degenerasi spino-sereblar
b. Sub akut leuko-ensefalitis sklerotik van Bogaert
c. Khorea huntington
3. Sindroma demensia dengan etiologi penyakit yang dapat diobati,
dalam golongan ini diantaranya:
a. Penyakit cerebro kardiofaskuler
b. Penyakit-penyakit metabolik
c. Gangguan nutrisi
d. Akibat intoksikasi menahun
PATOFISIOLOGI
Semua bentuk demensia adalah dampak dari kematian sel saraf dan/atau
hilangnya komunikasi antara sel-sel ini. Otak manusia sangat kompleks dan
banyak faktor yang dapat mengganggu fungsinya. Beberapa penelitian telah
menemukan faktor-faktor ini namun tidak dapat menggabungkan faktor ini untuk
mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana demensia terjadi. Pada demensia
vaskular, penyakit vaskular menghasilkan efek fokal atau difus pada otak dan
menyebabkan penurunan kognitif. Penyakit serebrovaskular fokal terjadi sekunder
dari oklusivaskular emboli atau trombotik. Area otak yang berhubungan dengan
penurunan kognitif adalah substansia alba dari hemisfera serebral dan nuklei abuabu dalam, terutama striatum dan thalamus.Mekanisme demensia vaskular yang

paling banyak adalah infark kortikal multipel, infark single strategi dan penyakit
pembuluh darah kecil.

Demensia multi-infark: kombinasi efek dari infark yang berbeda

menghasilkan penurunan kognitif dengan menggangu jaringan neural


Demensia infark single: lesi area otak yang berbeda menyebabkan
gangguan kognitif yang signifikan. Ini dapat diperhatikan pada kasus

infark arteri serebral anterior, lobus parietal, thalamus dan satu girus
Penyakit pembuluh darah kecil menyebabkan dua sindrom major, penyakit
Binswanger

danstatus

lakunar.

Penyakit

pembuluh

darah

kecil

menyebabkan perubahan dinding arteri, pengembangan ruangan Virchow-

Robin dan gliosis parenkim perivaskular


Penyakit lakunar disebabkan oleh oklusi pembuluh darah kecil dan
menghasilkan lesikavitas kecil di otak akibat dari oklusi cabang arteri
penetrasi yang kecil. Lakunae ini ditemukan lebih sering di kapsula
interna, nuklei abu-abu dalam, dan substansia alba.Status lakunar adalah
kondisi dengan lakunae yang banyak, mengindikasikan adanya penyakit

pembuluh darah kecil yang berat dan menyebar


Penyakit Binswanger (juga dikenal sebagai

leukoencephalopati

subkortikal) disebabkanoleh penyakit substansia alba difus. Pada penyakit


ini, perubahan vaskular yang terjadiadalah fibrohialinosis dari arteri kecil
dan nekrosis fibrinoid dari pembuluh darah otak yang lebih besar.

KLASIFIKASI DEMENSIA
1. Menurut umur:
a. Demensia senilis yaitu demensia yang terjadi pada usia > 65 tahun.
b. Demensia prasenilis yaitu demensia yang terjadi pada usia < 65 tahun.
2. Menurut perjalanan penyakit:
a. Reversibel
Tabel 1 Beberapa penyebab demensia yang dapat diobati/ reversibel.
Obat-obatan

anti-kolinergik (mis. Atropin dan sejenisnya); anti-konvulsan


(mis.

Phenytoin,

Methyldopa,
Metabolik-gangguan sistemik

Barbiturat);

Propanolol);

anti-hipertensi
psikotropik

(Clonidine,
(Haloperidol,

Phenothiazine); dll (mis. Quinidine, Bromide, Disulfiram).


gangguan elektrolit atau asam-basa; hipo-hiperglikemia; anemia
berat; polisitemia vera; hiperlipidemia; gagal hepar; uremia;
insufisiensi pulmonal; hypopituitarism; disfungsi tiroid, adrenal,

Gangguan intracranial

atau paratiroid; disfungsi kardiak; degenerasi hepatolenticular.


insufisiensi cerebrovascular; meningitis atau encephalitis
chronic, neurosyphilis, epilepsy, tumor, abscess, hematoma

Keadaan defisiensi
Gangguan collagen-vascular

subdural, multiple sclerosis, normal pressure hydrocephalus.


vitamin B12, defisiensi folat, pellagra (niacin).
systemic lupus erythematosus, temporal arteritis, sarcoidosis,

Intoksikasi eksogen

syndrome Behcet.
alcohol, carbon

monoxide,

organophosphates,

toluene,

trichloroethylene, carbon disulfide, timbal, mercury, arsenic,


thallium,

manganese,

nitrobenzene,

anilines,

hydrocarbons.
b. Irreversibel ( normal pressure hidrosefalus, subdural hematoma, vitamin B
defesiensi, hipotiroidisme, intoksikasi PB).
Tabel 2 Beberapa penyebab demensia pada dewasa yang belum dapat diobati/
irreversibel.
Primer degenerative
- Penyakit Alzheimer
-

Penyakit Pick

Penyakit Huntington

bromide,

Penyakit Parkinson

Degenerasi olivopontocerebellar

Progressive Supranuclear Palsy

- Degenerasi cortical-basal ganglionic


Infeksi
- Penyakit Creutzfeldt-Jakob
-

Sub-acute sclerosing panencephalitis

- Progressive multifocal leukoencephalopathy


Metabolik
- Metachromatic leukodyntrophy
-

Penyakit Kuf

Gangliosidoses
3. Menurut Kerusakan Struktur Otak:
a. Demensia tipe Alzheimer
Alzheimer adalah penurunan konsentrasi asetilkolin dan kolin
asetil transferase didalam otak dan merupakan penyakit degenerative
akibat kematian sel-sel otak dan umumnya menyebabkan kemunduran
fungsi intelektual atau kognitif, yang meliputi kemunduran daya
mengingat dan proses berfikir.prilaku yang dialami demensia ini adalah
mudah lupa atau pikun. Walaupun pennyebab demensia tipe Alzheimer
belum diketahui secara pasti, beberapa penelitian telah menyatakan bahwa
sebanyak 40 % pasien mempunyai riwayat keluarga menderita demensia
tipe Alzheimer sehingga faktor genetik sangat dianggap berperan dalam
perkembangan gangguan didalam sekurangnya beberapa kasus.
b. Dementia non Alzheimer
c. Demensia vascular
Penyebab utama dari demensia vaskular adalah penyakit vaskular
cerebral yang multipel yang menyebabkan suatu pola gejala demensia,
yang biasanya juga disebut demensia multi infark. Demensia vascular ini
sering terjadi pada laki-laki khususnya pada mereka dengan hipertensi
yang telah ada sebelumnya atau factor resiko kardiovaskuler lainnya.
d. Demensia Jisim Lewy (Lewy Body Dementia), Demensia Lobus frontal
temporal, Demensia terkait dengan HIV-AIDS, Morbus Parkinson, Morbus
Hungtington,

Morbus

Pick,

Gerstmann-Straussler-Scheinker,

Morbus
Prion

Jakob-Creutzfeldt,
disease,

Palsi

progresif, Multiple sklerosis, Neurosifilis, Tipe campuran

Sindrom

Supranuklear

4.
a.
b.
5.

Menurut sifat klinis:


Demensia propius
Pseudo-demensia
Demensia dari segi anatomi dibedakan antara demensia kortikal dan
demensia subkortikal. Berikut merupakan penjelasannya:

Tabel 3 Perbedaan demensia kortikal dan subkortikal


Ciri
Penampilan
Aktivitas
Sikap
Cara berjalan

Demensia Kortikal
Siaga, sehat
Normal
Lurus, tegak
Normal

Demensia Subkortikal
Abnormal, lemah
Lamban
Bongkok, distonik
Ataksia, festinasi, seolah

Gerakan
Output verbal

Normal
Normal

berdansa
Tremor, khorea, diskinesia
Disatria, hipofonik, volum

Berbahasa
Kognisi

suara lemah
Abnormal, parafasia, anomia
Normal
Abnormal
(tidak
mampu Tak terpelihara (dilapidated)

Memori
Kemampuan visuo-spasial

memanipulasi pengetahuan)
Abnormal (gangguan belajar)
Pelupa (gangguan retrieval)
Abnormal
(gangguan Tidak cekatan (gangguan

Keadaan emosi

konstruksi)
gerakan)
Abnormal (tak memperdulikan, Abnormal (kurang dorongan

Contoh

tak menyadari)
Penyakit Alzheimer, Pick

drive)
Progressive
Palsy,

Supranuclear

Parkinson,

Penyakit

Wilson, Huntington.
A. Gejala klinis.
Tanda dan gejala demensia menurut Hurley(1998) adalah sebagai berikut:
1.

Rusaknya seluruh jajaran fungsi kognitif

2.

Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek.

3.

Gangguan kepribadian dan perilaku (mood swings).

4.

Defisit neurologi dan fokal.

5.

Mudah tersinggung, agitasi dan kejang.

6.

Gangguan psikotik : halusinasi, ilusi, waham, dan paranoid.

7.

Keterbatasan dalam ADL (Activities of Daily Living)

8.

Kesulitan mengatur penggunaan keuangan.

9.

Tidak bisa pulang kerumah bila bepergian.


Sedangkan berdasarkan tahapan-tahapan pada demensia, tanda dan

gejalanya adalah:
1. Stadium I / awal
Berlangsung 2-4 tahun dan di sebut stadium amnestik dengan gejala
gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun. Fungsi memori
yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang di alami, dan tidak
menggangu aktivitas rutin dalam keluarga.
2. Stadium II / pertengahan
Berlangsung 2-10 tahun dan di sebut pase demensia. Gejalanya antara lain,
disorientasi, gangguan bahasa (afasia). Penderita mudah bingung, penurunan
fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan
sampai selesai,
Gangguan kemampuan merawat diri yang sangat besar, Gangguan siklus
tidur ganguan, Mulai terjadi inkontensia, tidak mengenal anggota keluarganya,
tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi Dan
ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungan
.
3. Stadium III / akhir
Berlangsung 6-12 tahun. Penderita menjadi vegetatif, tidak bergerak
dangangguan komunikasi yang parah (membisu), ketidakmampuan untuk
mengenali keluarga dan teman-teman, gangguan mobilisasi dengan hilangnya
kemampuan untuk berjalan, kaku otot, gangguan siklus tidur-bangun, dengan
peningkatan waktu tidur, tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil.
Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain dan kematian terjadi akibat
infeksi atau trauma.
B. Faktor risiko
1. USIA
Dapat dipahami jika angka kejadian demensia meningkat sesuai dengan
pertambahan usia; peningkatannya sekitar dua kali lipat setiap pertambahan usia 5
tahun.12 Suatu meta analisis menghasilkan angka insidensi demensia sedang-berat
di AS sebesar 2.4, 5.0, 10.5, 17.7 dan 27.5 per 1000 person-years pada kelompok

usia berturut-turut 65-69, 70-74, 75- 79, 80-84 dan 85-89 tahun. Untuk demensia
Alzheimer, angkanya berturut-turut 1.6, 3.5, 7.8, 14.8 dan 26.0 per 1000 personyears.
2. GENDER
Tidak terdapat perbedaan insidensi demensia akibat semua penyebab
antara laki-laki dan perempuan.Beberapa studi besar tidak menemukan perbedaan
insiden demensia Alzheimer maupun demensia vaskuler di kalangan laki-laki dan
perempuan.Meskipun demikian, dua meta analisis menyimpulkan bahwa
perempuan lebih cenderung menderita demensia Alzheimer, khususnya di usia
sangat lanjut. Asosiasi ini menetap sekalipun dikoreksi mengingat perempuan
mempunyai harapan hidup lebih panjang.Sebaliknya laki-laki cenderung lebih
berisiko menderita demensia vaskuler dibandingkan perempuan, terutama di usia
lebih muda.Hal ini dapat karena ada faktor risiko seperti penyakit kardiovaskuler
yang lebih sering dijumpai di kalangan laki-laki.
3. RAS
Beberapa studi di AS menunjukkan bahwa insiden demensia dan
Alzheimer kira-kira dua kali lebih tinggi di kalangan Afrika-amerika dan Hispanik
dibandingkan dengan kulit- putih. Prevalensi demensia dan Alzhemier agaknya
lebih rendah di negara-negara Asia dibandingkan dengan di AS, selain itu
prevelensi demensia di kalangan orang Jepang di Jepang lebih rendah daripada di
kalangan Jepang-Amerika yang tinggal di Hawaii. Penelitian di Singapura yang
sebagian besar penduduknya etnis Cina, mendapatkan prevalensi demensia
sebesar 1.26%, etnis Melayu dua kali lebih berisiko Alzheimer dibandingkan
dengan etnis Cina, sedangkan etnis India dua kali lebih berisiko Alzheimer dan
demensia vaskuler dibandingkan dengan etnis Cina. Perbedaan ini dapat lebih
dipengaruhi oleh faktor lingkungan daripada oleh faktor genetik; diperlukan
penelitian lanjutan untuk mencari faktor utama penyebab perbedaan tersebut.
4. GENETIK
5. TRAUMA
Trauma kepala secara langsung mencederai struktur dan fungsi otak, dan
dapat meng- akibatkan gangguan kesadaran, kognitif dan tingkah laku.Studi
kohort mendapatkan bukti kuat bahwa riwayat cedera kepala meningkatkan risiko

penurunan fungsi kognitif,risiko demensia dan AD sesuai dengan beratnya


cedera.Riwayat cedera kepala disertai kesadaran menurun meningkatkan risiko
AD 10 kali lipat, sedang- kan jika tanpa penurunan kesadaran risikonya 3 kali
lipat; selain itu mulatimbul Alzheimer lebih dini jika ada riwayat hilang kesadaran
lebih dari 5 menit.
Sebuah studi kasus- kontrol juga menunjukkan risiko Alzheimer
meningkat dalam 10 tahun pertama setelah cedera kepala.Mekanismenya
dianggap me- lalui kerusakan sawar darah-otak, peningkat- an stres oksidatif dan
hilangnya neuron.
Tanda dan Gejala Dimensia (Depkes, 2001).
Terdapat beberapa tanda dan gejala dimensia yaitu sering lupa kejadian
yang baru dialami, kesulitan berfikir abstrak, kesulitan melakukan pekerjaan
sehari-hari, ialah menaruh barang, kesulitan dalam berbahasa, terjadi perubahan
suasana perasaan dan perilaku, disorientasi waktu dan tempat, perubahan
kepribadian serta tidak mampu membuat keputusan, kehilangan inisiatif.
Tanda-tanda awal demensia bisa hampir tidak terlihat dan tidak jelas dan
mungkin tidak segera nyata. Beberapa gejala umum dapat termasuk:

Sering lupa, semakin lama semakin berat

Merasa bingung

Perubahan kepribadian

Tidak peduli dan menyendiri

Kehilangan kemampuan melakukan pekerjaan sehari-hari

DIAGNOSIS
Diagnosis demensia ditegakkan melalui dua tahap, pertama menegakkan
diagnosis demensia, kedua mencari proses vaskular yang mendasari. Terdapat
beberapa kriteria diagnostik untuk menegakkan diagnosis DVa, yaitu :

diagnostic and statictical manual of mental disorders edisi ke


empat (DSM-IV), DSM-IV

pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ) III,

international clasification of diseases (ICD-10),

the state of California Alzheimers disease diagnostic and treatment


centers (ADDTC), dan

national institute of neurological disorders and stroke and the


association internationale pour la recherche et lenseignement en
neurosciences (NINDS- AIREN).

Dianostik DSM IV menggunakan kriteria:


a) Adanya defisit kognitif multipleks yang dicirikan oleh gangguan memori
dan satu atau lebih dari gangguan kognitif berikut ini:

afasia (gangguan berbahasa),

apraksia (gangguan kemampuan untuk mengerjakan aktivitas


motorik, sementara fungsi motorik normal),

agnosia (tidak dapat mengenal atau mengidentifikasikan benda


walaupaun fungsi sensoriknya normal),

gangguan dalam fungsi eksekutif (merancang, mengorganisasikan,


daya abstraksi, membuat urutan).

b) Defisit kognitif pada kriteria a) yang menyebabkan gangguan fungsi sosial


dan okupasional yang jelas.
c) Tanda dan gejala neurologik fokal (refleks fisiologik meningkat, refleks
patologik positif, paralisis pseudobulbar, gangguan langkah, kelumpuhan
anggota gerak) atau bukti laborat
PENATALAKSANAAN DEMENSIA
1. Penatalaksanaan yang baik ditujukan pada penyebab penyakit untuk
menegakkan diagnosis dan pengobatan dengan benar
2. Penatalaksanaan fungsi dari penderita
a. Obati penyakit yang mendasarinya
b. Akses keadaan lingkungan, kalau perlubuat perubahan
c. Upaya aktivitas mental dan fisik
d. Tekankan perbaiki gizi
3. Kenali dan obati komplikasi
a. Gangguan perilaku
b. Depresi
c. Agitasi
d. Inkontinensia
4. Upayakan informasi medis bagi penderita dan keluarga
5. Upayakan informasi pelayanan sosial yang ada pada penderita dan
keluarga

6. Upayakan nasihat keluaraga untuk :


a. Pengenalan dan cara atasi konflik keluarga
b. Penanganan rasa marah / bersalah
c. Pengambilan keputusan untuk perawatan.
7. Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi
perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan
mengobati tekanan darah tinggi atau kencing manis yang berhubungan
dengan stroke.
8. Jika didiagnosis secara dini, maka demensia karena hidrosefalus
bertekanan normal kadang dapat diatasi dengan membuang cairan yang
berlebihan di dalam otak melalui selang drainase (shunting).
9. Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak, yang bisa
menyertai demensia stadium lanjut, sering digunakanobat anti-psikosa
(misalnya tioridazin dan haloperidol).
Pencegahan Demensia
Bentuk yang paling umum dari penyakit demensia adalah penyakit
alzheimer. Walaupun demikian, anda tidak perlu merasa takut. Karena ada
beberapa cara mudah yang bisa dilakukan untuk mencegah alzheimer.
Walaupun sudah banyak penelitian dilakukan untuk menemukan obat
penyakit alzheimer dan hasilnya menunjukkan hawa yang positif, namun
demikian melakukan pencegahan tetap menjadi obat yang paling mujarab
untuk memproteksi seseorang dari ancaman penyakit alzheimer. Dikutip dari
laman Foxnews, Dr. Manny Alvarez Ketua Departemen Obstetri dan
Ginekologi dan Ilmu Reproduksi di Hackensack University Medical Center di
New Jersey, membantu kita cara pencegahan terhadap penyakit alzheimer.
Berikut ulasannya:
1. Minum jus apel secara teratur. Kandungan apel diketahui bisa
meningkatkan produksi senyawa kimia di otak yang berhubungan
dengan pembelajaran, memori, suasana hati dan gerakan otot.
2. Tambahkan kayu manis dalam makanan anda. Konsumsilah satu
sendok teh rempah-rempah ini dimana berkhasiat dapat memblokir
produksi protein di otak yang berkontribusi terjadinya alzheimer.
3. Minum kopi adalah salah satu cara yang baik untuk mengurangi risiko
penyakit alzheimer. Hal ini dikarenakan kopi bertindak sebagai anti-

inflamasi yang bisa memblokir penumpukan kolesterol di otak. Salah


satu studi besar menunjukkan, pria dan wanita yang minum tiga
sampai lima cangkir kopi sehari mengurangi peluang mereka
mengalami demensia sebesar 65 persen.
4. Lindungi fungsi penglihatan anda, sebab mata adalah indikator yang
baik untuk melihat bagaimana otak berfungsi. Menjaga penglihatan
anda benar-benar bisa mengurangi risiko demensia sebanyak 63
persen.
5. Meditasi adalah cara alami dan sederhana yang bisa menurunkan risiko
seseorang dari mengalami alzheimer. Penyebabnya, meditasi akan
menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres dan meningkatkan
aliran darah ke otak.
6. Menjalin sosialisasi lebih luas juga bisa membantu seseorang
menurunkan risiko mengalami alzheimer. Hasil studi menunjukkan
bahwa kehidupan sosial yang sibuk bisa meningkatkan kemampuan
kognitif anda.
7. Menjalani pola makan ala mediterania sudah diketahui bisa mencegah
penyakit alzheimer. Di mana pola tersebut bisa mengurangi setengah
risiko demensia, karena diet ini penuh kandungan antioksidan sebagai
pelindung otak. Untuk mengikut pola makan ini, anda harus
menyertakan sayuran hijau, ikan, buah-buahan, kacang-kacangan dan
sedikit anggur merah ke dalam piring makanan anda.
Terkait penjelasan di atas, apabila anda mengambil langkah-langkah tersebut
sejak dini, maka risiko mengalami alzheimer di usia muda bisa dicegah.
pengobatan penyakit Alzheimer
Penderita Alzheimer umumnya hidup sekitar delapan hingga sepuluh
tahun setelah gejala muncul, namun ada juga beberapa penderita lainnya
yang bisa hidup lebih lama dari itu. Meski penyakit Alzheimer belum ada
obatnya, ragam pengobatan yang ada saat ini bertujuan untuk
memperlambat perkembangan kondisi serta meredakan gejalanya.
Karena itu segera temui dokter jika daya ingat Anda mengalami
perubahan atau Anda khawatir mengidap demensia. Jika penyakit
Alzheimer dapat terdiagnosis sejak dini, maka Anda akan memiliki lebih

banyak waktu untuk melakukan persiapan serta perencanaan untuk masa


depan, dan yang lebih terpenting lagi, Anda akan mendapatkan
penanganan lebih cepat yang dapat membantu.
Tidak ada tes khusus untuk membuktikan seseorang mengalami
Alzheimer. Dalam mendiagnosis penyakit Alzheimer, dokter akan bertanya
seputar masalah dan gejala yang dialami pasien. Tes medis mungkin akan
dilakukan untuk memastikan kondisi yang dialami pasien bukan karena
penyakit lain.
Selain dengan pemberian obat-obatan, penyakit Alzheimer juga dapat
ditangani secara psikologis melalui stimulasi kognitif guna memperbaiki
ingatan si penderita, memulihkan kemampuannya dalam berbicara maupun
dalam memecahkan masalah, serta membantunya hidup semandiri
mungkin.

DAFTAR PUSTAKA
Kaplan dan Sadock. 1997. Sinopsis psikistri. Jakarta: Bina rupa aksara.
National Colaborating Centre for Mental Heatlh, 2007. Dementia, The British
Psychological Society and Gaskell, pp. 134-143.

Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1993).


Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III.
Jakarta.
Mardjono, M., Sidharta, P. (2006). Neurologi Klinis Dasar. PT Dian Rakyat.
Jakarta. Hal211-214
Nasrun Martina Wiwie S. Demensia. Dalam: Elvira Sylvia D, Hadisukanto. Buku
Ajar Psikiatri. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta: 2010:
494-504.
(Stanley, 2007 dalam (http://repository.usu.ac.id)
Sumber : Lye TC, Shores EA. Traumatic brain injury as a risk factor for
Alzheimers disease: A review. Neuropsychol Rev. 2000;10(2): 115-29.
http://www.asgar.or.id/kesehatan-health/berita-kesehatan/penyebab-gejalapengobatan-dan-prevalensi-demensia/
http://kabarimbo.com/7-cara-alami-untuk-mencegah-resiko-penyakit-alzheimer/
http://www.alodokter.com/penyakit-alzheimer

Anda mungkin juga menyukai