Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Peradilan (Al-Qadha) adalah merupakan suatu lembaga yang telah dikenal


sejak dari zaman purba sampai dengan masa sekarang ini dan dia adalah
merupakan sebuah kebutuhan yang tak dapat ditawar-tawar keberadaannya sebab
lembaga peradilan adalah merupakan salah satu prasyarat tegaknya pemerintahan
dalam rangka menyelesaikan sengketa yang terjadi di antara para warga negara.
Peradilan dalam istilah modern dikenal dengan istilah Yudikatif yang
keberadaannya setara dengan eksekutif dan legislatif.

Peradilan adalah merupakan tugas suci yang diakui oleh seluruh bangsa, baik
mereka yang tergolong bangsa-bangsa yang masih terbelakang maupun bangsabangsa yang tergolong sudah maju. Di dalam peradilan itu terkandung menyuruh
perbuatan maruf dan mencegah perbuatan munkar, menyampaikan hak kepada
yang berhak menerimanya dan menghalangi orang yang zhalim daripada berbuat
aniaya, serta mewujudkan perbaikan umum. Dengan peradilanlah dilindungi jiwa,
harta dan kehormatan. Apabila sebuah bangsa atau negara tidak mempunyai
peradilan, maka bangsa atau negara itu termasuk dalam kategori bangsa yang
kacau balau sebab hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya. Betapapun
baiknya sebuah peraturan perundang-undangan pada sebuah negara, apabila
lembaga peradilannya tidak ada, maka peraturan perundang-undangan yang sangat
baik itu tidak akan berarti apa-apa, sebab tidak ada yang menjalankan dan
mengawasi pelaksanaannya. Oleh karena itulah maka sejarah peradaban dunia

yang pernah kita kenal, memperlihatkan kepada kita tentang peraturan perundangundangan dan lembaga peradilannya seperti undang-undanga Hammurabi dari
Timur, Pemerintahan Assiria yang datang sesudahnya, Pemerintahan Israil dan
Pemerintahan Arab sebelum datangnya Islam, Pemerintahan Islam sendiri dan
Pemerintahan modern sekarang ini. Kesemua pemerintahan itu mempunyai
lembaga peradilan masing-masing sesuai dengan tingkatan pemikiran dan
dinamika ummat manusia pada masa itu.

BAB
PEMBAHASAN
1.

Pengertian dan dasar hukum Al- Madzalim


Wilayah madzlalim adalah suatu kekuasaan dalam bidang peradialn, yang
lebih tinggi dari pada hakim dan kekuasaan muhtasib. Lembaga madzlalim adalah
lembaga yang menangani masalah-masalah yang di luar kewenangan hakim biasa.
Lembaga ini memeriksa perkara-perkara penganiyayaan yang di lakukan oleh
penguasa-penguasa dan hakim-hakim ataupun anak-anak dari orang berkuasa.
Keberadaan lembaga madzhalim merupakan bagian dari pelaksanaan
ajaran islam. Hal tersebut dapat kita pahami dari kandungan ayat Al-quran,
antara lain Al-baqarah ayat 279:

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka


ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu
bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak
Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

dan surat As-syura ayat 40-42:


Dan Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang
siapa memaafkan dan berbuat baik[1345] Maka pahalanya atas (tanggungan)
Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.
dan Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya,
tidak ada satu dosapun terhadap mereka.
Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada
manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab
yang pedih.

[1345] Yang dimaksud berbuat baik di sini ialah berbuat baik kepada
orang yang berbuat jahat kepadanya.

Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada
satu dosapun terhadap mereka.
Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan
melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.

menjelaskan bahwa lembaga ini kusus bertugas menangani perkara yang


melibatkan pejabat atau keluarga pejabat Negara.1

2.

Sejarah

Sejarah telah membuktikan bahwa Rasulullah saw. Pernah bertindak


sebagaiqadhi mazhalim dalam menyelesaikan masalah Zubair ibn awam dengan
laki-laki

dari

kaum

Anshar.

Persengketaan

tersebut

dikenal

sebagai

perkara madzlalim,mengingat kedudukan Zubair Ibn Awam dan Rasulullah saw.


Sangat dekat, karena Zubair adalah sepupu Rasulullah. Dalam persengketaan ini,
Rasulullah sendiri yang menyelesaikanya dengan adil, dan dalam kasus ini,
tindakan Rasulullah di sebut peradilan Madzlalim. Dengan demikian, lembaga
mazhali yang di rumuskan fukaha adalah berdasarkan praktik yang di lakukan
oleh Rasulullah saw.

Pada mulanya, sebelum perkara ini di ketahui dan di selesaikan oleh


Rasulullah, pihak penggugat (laki-laki Anshar) memiliki beban pisikologi yang
1 Hasbi

Ash Shiddiqy. Peradilan dan Sistem Peradilan Islam. Yogyakar :


ptalmaarif. Hal. 77-81
5

cukup berat, seakan-akan sudah kalah sebelum bertanding mengingat posisi


lawanya adalah zubair ibn awwam keluarga dekat Rasulullah. Maka dari itulah
laki-laki dari kaum Anshar ini segan dan enggan menyampaikan perkaranya ini
kepada Rasulullah. Tetapi ia pun sangat menyadari bahwa jika perkara yang
tengah di hadapinya ini tidak segerah di selesaikan maka , ia akan menjadi pihak
yang teraniyaya. Zubair Ibn Awwam Sangat beruntung, karena rasulullah saw.
Mengetahui sendiri permasalahan yang di hadapi oleh laki-laki Anshar itu, dan
menyelesaikannya.

Pada masa khulafa al-Rasyiddin, penegakan lembaga madzlalim itu


belum tampak jelas. Mengingat kesadaran umat islam pada masa itu relative
tinggi, ketertiban masyarakat terkendali, sehingga jarang sekali terlihat adanya
persoalan yang pelik dan krusial. Hal itu di karenakan umat islam senangtiasa
mendapatkan bimbingan dan pemahaman untuk berbuat baik dan adil. Namun
demikian, bukan berarti permasalahan-permasalahan itu tidak pernah muncul
sama sekali. Karena ternyata dengan kehidupan masyarakat dan perlusasan
wilayah kekuasaan pemerintahan islam yang semakin berkembang, sebenarnya
masih ada permasalahan yang mirip dengan mazhalim yaitu bila seseorang
melakukan Biasatas dasar watak keras yang dimilikinya. Walaupun permasalahan
ini masih dapat di selesaikan oleh Hakim.2
Pergeseran situasi dan kondisi telah membawa dan ikut membentuk
perjalanan dan perkembangan sejarah islam itu sendiri. Tampilnya Muawiyah Ibn

2 Vide : Al-Ahkamus- Sultoniyah. Hlm. 81


6

Abi Sufyan yang disusul oleh anak cucunya sampai lapisan bawah yang
cenderungashabiyah (nepotisme) kepuncak pemerintahan Islam menandai suatu
masa tersendiri yang berpengaruh langsung terhadap perkembangan di zaman
bidang peradilan. Menurut Al Mawardi, orang Bani Umayahlah yang pertama
menaruh pemerintahan khusus terhadap urursan mazhalim adalah Abd. Malik Ibn
Marwan.
Akan tetapi, perhatian yang lebih besar terhadap lembaga madzlalim, dan
ia juga mengatur dan al syurthah. Dalam suatu riwayat terungkap bahwa
seorang pernah mengadukan suatu perkara kepada Umar Ibn Abd. Aziz tentang
perbuatan Al Walid Ibn Abd. Malik yang telah merampas harta kekayaan yang
dimilikinya. Setelah Umar Ibn Abd. Aziz mengetahui tentang kebenaran
pengaduan itu sendiri, maka ia memutuskannya dengan mengembalikan seluruh
harta kekayaan pada pemiliknya.
Pada umumnya perhatian terhadap peradilan madzlalim yang berkembang
pada masa Bani Abbasiyyah tidak jauh berbeda dengan perhatian yang
berkembang pada masa Bani Umayah, yaitu hanya terbatas beberapa khalifah
tertentu. Karena itu, pada masa pertama pemerintahan Bani Abbasiyah bertahta,
dan wewenang hakim bertambah luas. Hakim tidak sekedar berwenang mengurusi
perkara perdata dan pidana. Termasuk kewenangannya dalam menyelesaikan
masalah

wasiat

dan

waqaf,

tetapi

pula

berwenang

dalam

bidang

kepolisian, madzlalim, hisbah, qishas,percetakan uang dan urusan bait al mal.3

3 asan Ibrahim, Tarikh Al Qadha Al Islam Al Siyasy Wa Al Diny Wa Al


Staqofi Wa Al Ijtimaiy, Al Juz Al Awwal, (Kairo : Mathbaah Al Nahdhah
Al Misriyah, 1953) Hlm. 60.
7

Wanita tersebut mengadukan perkaranya atas perampasan kekayaan


miliknya, yang dilakukan oleh anak khalifah itu sendiri. Pada saat wanita itu
mengeluarkan suaranya dengan keras dan lantang dalam persidangan, seorang
penjaga menegurnya. Berkenaan dengan hal itu, Al Mamun secara reflek ia
berkata : Biarkan saja, karena sesungguhnya kebenaran itu lah yang diucapkan ;
sedangkan kebatilan didiamkan oleh anaknya.4 Dengan begitu, tampaklah
kebenaran pengaduan wanita itu. Harta kekayaan tersebut milik wanita itu di
kembalikan lagi.
Di kerajaan Saudi Arbia, dewasa ini dikenal lembaga madzlalim, yang
memiliki setrata sosial dan yang terhormat. Menurut Al Hanfawy, kedudukan
lembaga mazhalim tersebut lebih tinggi daripada lembaga lembaga peradilan
lainnya. Lembaga itu di kepalai oleh nadzir al mazhalim, yang memiliki
kedudukan dan derajat yang sama dengan mentri. Dan secara langsung ia
bertanggung jawab kepada baginda raja, dan tidak bertanggung jawab kepada
mentri kehakiman. Lembaga mazhalim itu secara khusus bertugas menyelesaikan
perkara perkara kezhaliman (penganiayaan) yang dilakukan oleh pihak
penguasa, baik dari kalangan istana maupun dari kalangan birokrat lain atau
kalangan kalangan tertentu lainnya terhadap pihak orang awam dan masyarakat
yang lemah baikpun dari fikiran atau dari segi materi.
Dan disamping itu, lembaga ini bertugas pula menangani kalangan
kalangan

praktisi

hukum

yang

melakukan

berbagai

pembiasaan

dan risywah (sogok menyogok diantara kedua belah pihak). Keberadaan

4 Abu yala al hanbaliy, (1974) hlm. 75


8

lembaga madzdalim itu memiliki arti yang sangat penting, terutama dalam
menjaga keuangan keuangan Negara dari tindakan - tindakan korupsi.
Dengan mengamati pengembangan peradilan mazhalim yang terjadi di
Negara Negara Islam dari masa ke masa, dapat di ketahui bahwa
peradilanmazhalim itu di kawal langsung oleh khalifah sendiri atau gubernur
langsung yang ditunjuk untuk mengemban amanat atau jabatan itu. Dapat juga
oleh seorang yang mewakili mereka. Atau mengangkat seseorang yang disebut
dalam wali al mazhalim,atau shahib al mazhalim.5 Dalam pelaksanaanya,
jabatan atau amanah tersebut dibantu oleh lima unsur yaitu :
1.

Orang yang dianggap memiliki kekuatan (dari lapisan pembantu mahkamah).

2.

Beberapa orang hakim yang dapat dipercaya dan jujur.

3.

Beberapa orang yang memiliki kualifikasi dalam bidang fiqih.

4.

Panitera, sekertaris atau kehakiman.

5.

Orang orang yang dapat menjadi saksi saksi ahli (al shuhud al udl).

3.

Wewenang wilayah Madzlalim


Al mawardy di dalam Al Ahkamus Sulthaniyyah menerangkan, bahwa
perkara perkara yang diperiksa oleh lembaga ini ada 10 macam :6

5 Hasan

Ibrahim Hasan, Op. Cit, hlm. 70 71


6 Hasbi Ash Siddieqi. Prradilan dan Hokum Acara Islam. Yogyakarta :
Ptalmaarif. Hlm78 - 79
9

1.

Penganiayaan para penguasa, baik terhadap perorangan , maupun terhadap


golongan.

2.

Kecurangan pegawai pegawai yang ditugaskan untuk mengumpulkan zakat


dan harta harta kekayaan Negara lain.

3.

Mengontrol dan mengawasi keadaan para pejabat.


Ketiga perkara tersebut harus diperiksa oleh lembaga mazhalim apabila telah di
ketahui adanya kecurangan kecurangan dan penganiayaan penganiayaan tanpa
menunggu pengaduan dari pihak yang bersangkutan.

4.

Pengaduan yang di ajukan oleh tentara yang digaji lantaran gaji mereka
dikurangi ataupun dilambatkan pembayarannya.

5.

Mengembalikan hak hak rakyat harta mereka yang dirampas oleh para
penguasa penguasa zhalim.
Ini juga tidak perlu memerlukan pengaduan terlebih dahulu.

6.

Memperhatikan harta harta waqaf.


Jika waqaf waqaf itu merupakan waqf umum maka lembaga ini mengawasi
berlaku tidaknya syarat syarat oleh sipemberi waqf. Adapun waqaf waqaf
yang khusus, maka lembaga ini bertindak setelah adanya pengaduan dari pihak
yang bersangkutan.

10

7.

Melaksanakan putusan putusan hakim yang tidak daapat dilaksanakan oleh


hakim hakim sendiri, lantaran orang yang dijatuhkan hukuman atasnya,
adalah orang orang yang tinggi derajatnya.

8.

Meneliti dan memeriksa perkara perkara yang mengenai maslahat umum


yang tidak dapat dilaksanakan oleh petugas petugas hisabah.

9.

Memelihara hak hak Allah : yaitu ibadah ibadah yang nyata seperti
sholat jumat, hari raya idul fitri maupun idul adha, haji dan jihad.

10. Menyelesaikan perkara perkara yang telah menjadi sengketa diantara pihak
pihak yang bersangkutan.
4.

Perbedaan wilayah Al-Madzalim dan Qadha


Ada beberapa perbedaan Wilayah Al-Madzalim dan Qadha, yang mana telah
di sebutkan dalam kitabnya al-Ahkam as-Sulthaniyyah oleh Al-Mawardi :

1.

Nadhir al-madzalim mempunyai kewibawaan kegagahan dan kekuasaan yang


lebih besar dari yang di miliki hakim dalam rangka menegakan hukum dan
mencegah kedholiman yang dilakukan oleh penguasa.

2.

Nadhir

al-madzalim menagani

kasus

yang

berada

diluar

wilayah

kewajibannya, dia menagani kasus yang masuk dalam wilayah jawaz


sehingga dapat di simpulkan bahwa kompetensi wilayah al-madholim lebih
luas dari yang di miliki qodho
3.

Nadhir al-madzalim boleh melakukan intimidasi terhadap pihak-pihak yang


bersengketa dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas sebab-sebab

11

dan indikasi-indikasi yang lainnya. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh
hakim demi memperoleh kebenaran asasi dan menunjukkan kebathilan.
4.

Nadhir al-madzalim bertugas mendidik dan meluruskan orang-orang yang


berbuat dholim, sedagkan tugas hakim adalah penghukumnya.

5.

Nadhir al-madzalim diperbolehkan terlambat dalam membuat keputusan


keputusan karna ia perlu meneliti sebab-sebab timbulnya persegketaan secara
mendalam demi memperoleh kebenaran materil, dsn hal ini tidak dilakukan
oleh hakim, nadhir al-madholim juga boleh menunda penetapan hukum,
sedang hakim tidak bpoleh menunda-nunda penetapan hukum.

6.

Nadhir

al-madzalim diperbolehkan

menolak

salah

satu

pihak

yang

bersengketa apabila dia tidak bersedia menegakkan amanat kebenaran dalam


rangka penyelesaiian persegketaan yang mendatangkan keputusan antara
kedua belah pihak, sedang hakim tidak boleh menolak salah satu pihak
kecuali berdasarkan, keputusan bersama.
7.

Nadhir al-madzalim boleh melakukan penahanan terhadappihak-pihak yang


bersengketa jika diketahui adanya usaha penentagan dan kebohongankebohongan dan dia di perbolehkan meminta jaminan bagi dirinya dalam
melakukan keadilan dan meninggalkan penentagan dan kebohogannya,
sedang hakim tidak diperbolehkan melakukan hal tersebut.

8.

Nadhir al-madzalim diperbolehkan mendegarkan saksi yang kredibilitasnya


masih diragukan hal ini tidak boleh dilakukan oleh hakim, dia hanya
diperbolehkan mendegarkan para saksi yang adil.

12

9.

Nadhir al-madzalim di perbolehkan menyuruh para saksi untuk mengucapkan


sumpah jika dia merasa ragu terhadap mereeka, sedang hal ini tidak boleh
dilakukan oleh para hakim.

10. Nadhir al-madzalim diperbolehkan memulai peradilan dengan memanggil


para saksi guna dimintai keterangan mengenai apa yang diketahuinya dalam
masalah yang sedang di persengketakan, sedang kebiasaan yang dilakukan
oleh hakim adalah menuntut untuk mengajukan bukti yang menguatkan
dakwaannya.

13

ANALISIS

a.

Analisis

Menurut kami lembaga madzlalim ini sangatlah penting dalam suatu


peradilan, karena peran dari lembaga ini berbeda dengan lembaga lain dan
tugasnya juga berbeda, yang harus menyelesaikan perkara-perkara yang di
lakukan oleh seorang pemimpin atau pejabat-pejabat Negara lainnya. Dan di
dalam suatu pendapat di atas lembaga Madzlalim itu menangani 10 perkara yang
sudah kami jelaskan di atas.

Dan di dalam sejarah perkembanganya yang menjadi qadhi adalah seorang


khalifa itu sendiri atau gubenur yang di tunjuk untuk mengemban amanah ini.
Adapun orang lain yang menjadi qadhi selain kholifa atau gubenur adalah
perwakilan dari mereka saja. Dalam pelaksanaanya peradilan ini di bantu oleh
lima unsur yang mendukung jalanya peradilan tersebut.

14

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Wilayah Al- Madzalim adalah suatu kekuasaan dalam bidang pengadilan,
yang lebih tinggi dari pada kekuasaan hakim dan kekuasaan muhtasib. lembaga
ini memeriksa perkara-perkara yang tidak masuk kedalam wewenang hakim biasa.
Lembaga Madzalim telah dikenal sejak zaman dahulu, kekuasaan ini terkenal
dalam kalangan Persia dan bangsa Arab di zaman jahiliyah. Di masa Rosulullah
SAW, rasul sendirilah yang menyelesaikan segala pengaduan terhadap
kedzaliman para pejabat. Pada masa Al khulafa Al Rasyidin masih belum ada,
akan tetapi pada akan tetapi di akhir zaman pemerintahan Ali bin Abi Tholib,
beliau merasa perlu menggunakan tindakan-tindakan yang keras dan menyelidiki
pengaduan-pengaduan terhadap penguasa-penguasa yang berbuat kezhaliman,
namun keberadaannya belum diatur secara khusus. Wilayah al madzalim menjadi
lembaga khusus pada masa kekhalifahan bani umayyah, tepatnya pada masa
pemerintahan Abdul Malik bin Marwan. Dan pada masa Bani Abbasiyah, wilayah
al madzalim masih tetap mendapatkan perhatian yang besar dari khalifah.
Wewenang yang dimiliki oleh Wilayah Al Madzalim adalah memutuskan
perkara-perkara yang tidak mampu diputuskan oleh hakim atau para hakim tidak

15

mempunyai kemampuan untuk menjalankan proses peradilannya. Seperti


kedzaliman dan ketidakadilan yang dilakukan oleh para kerabat khalifah, pegawai
pemerintahan, dan hakim-hakim

2. Saran
Dalam mempelajari peradilan, terutama peradilan dalam dunia islam,
untuk mempermudah sangatlah penting mengetahui sejarah dari peradilan di
dunia islam dari masa-kemasa, yang tentunya banyak sekali perubahan-perubahan
yang di lakukan umat islam agar mencapai suatu keadilan. Dan juga sangat
penting untuk mencaritahu akan dasar-dasar yang di jadikan rujukan dalam
sebuah perdilan. Lembaga-lembaga dalam peradilan dunia islam juga sanggat
mumpuni dalam menyelesaikan perkara-perkara, oleh karna itu mempelajari
lembaga-lembaga yang ada di dalam peradilan islam sangatlah penting, bisa di
tinjau juga dari segi sejarahnya dan wewenangnya yang berkuasa dalam suatu
wilayah hokum tersendiri.

16

DAFTAR PUSTAKA
Ash Shiddieqy T.M Hasbi.1964. Peradilan dan Hukum Acara
Islam.Yogyakarta : Ptalmaarif.
Hasan Ibrahim. 1953. Tarikh Al Qadha Al Islam Al Siyasy Wa Al
Diny Wa Al Staqofi Wa Al Ijtimaiy, Al Juz Al Awwal. Kairo : Mathbaah Al
Nahdhah Al Misriyah.
Hasbi Ash Shiddiqy. 1965 . Peradilan dan Sistem Peradilan
Islam. Yogyakar : ptalmaarif.
Al- Mawardi Imam. 2012. A l- Ahkam As-Sultoniyyah. Jakarta : PT. Darul Falah.

17