Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MANDIRI DOSEN PENGASUH

Sejarah Peradaban Islam Akhmad Syaikhu, S.Ag, SS.

PERADABAN ISLAM

Oleh:

SADDAM MUKHSIN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI


FAKULTAS SYARIAH
JURUSAN EKONOMI ISLAM
BANJARMASIN
2009

1
PENDAHULUAN

Istilah “peradaban Islam” merupakan terjemahan dari kata Arab, yaitu al-Hadharah al-
Islamiyyah. Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan
“kebudayaan Islam”. Padahal, istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. Di
Indonesia, sebagaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan
dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban”
(civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. Dalam
perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan adalah
bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan, manifestasi-
manifestasi kemajuan tekhnis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau
kebudayaan lebih banyak di reflesikan dalam seni, sastra, religi (agama) dan moral, maka
peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi.

Menurut Koentjoroningrat, kebudayaan paling tidak mempunyai tiga wujud,

(1) wujud ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan dan sebagainya,

(2) wujud kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan
berpola dari manusia dalam masyarakat, dan

(3) wujud benda, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.

Peradaban dalam Islam, dapat ditelusuri dari sejarah kehidupan Rasulullah, para
sahabat (Khulafaur Rasyidin),dan sejarah kekhalifahan Islam sampai kehidupan umat Islam
sekarang. Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw telah membawa bangsa arab
yang semula terbelakang, bodoh, tidak terkenal, dan di abaikan oleh bangsa-bangsa lain,
menjadi bangsa yang maju. Bahkan kemajuan Barat pada mulanya bersumber pada peradaban
islam yang masuk ke eropa melalui spanyol. Islam memang berbeda dari agama-agama lain,
sebagaimana pernah diungkapkan oleh H.A.R. Gibb dalam bukunya Whither Islam kemudian
dikutip M.Natsir, bahwa, “Islam is andeed much more than a system of theology, it is a
complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia adalah suatu
peradaban yang sempurna). Landasan “peradaban islam” adalah “kebudayaan islam”
terutama wujud idealnya, sementara landasan “kebudayaan islam” adalah agama. Jadi, dalam

2
islam, tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama “bumi” (nonsamawi), agama
bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. Kalau kebudayaan merupakan
hasil cipta, rasa dan karsa manusia, maka agama Islam adalah wahyu dari tuhan.

Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam
itu sendiri. Dalam sejarah islam tercatat, bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan
oleh kehadiran kerajaan-kerajaan islam diantaranya Umayah dan Abbasiyah, Umayah dan
Abbasiyah memiliki peradaban yang tinggi, diantaranya memunculkan ilmuwan-ilmuwan
dan para pemikir muslim.

Dalam diskusi kali ini, saya akan membahas peradaban islam pada masa Dinasti
Abbasiyah dengan topik bahasan diantaranya, latarbelakang berdirinya kekhalifahan
Abbasiyah, kemajuan dan kemunduran pada masa ini, baik dari aspek ekonomi, politik, dan
sosial.1

A. Sejarah Peradaban Islam Pada Zaman Dinasti Abbasiyah di Bagdad

Latar Belakang Berdirinya Abbasiyah (750-847 M – 132-232 H)


Awal kekuasaan Dinasti Bani Abbas ditandai dengan pembangkangan yang dilakukan oleh
Dinasti Umayah di Andalusia (Spanyol). Di satu sisi, Abd al-Rahman al-Dakhil bergelar amir
(jabatan kepala wilayah ketika itu); sedangkan disisi yang lain, ia tidak tunduk kepada
khalifah yang ada di Baghdad. Pembangkangan Abd al-Rahman al-Dakhil terhadap Bani
Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh muawiyah terhadap Ali Ibn Abi
Thalib. Dari segi durasi, kekuasaan Dinasti Bani Abbas termasuk lama, yaitu sekitar lima
abad.
Abu al-Abbas al-Safah (750-754 M) adalah pendiri dinasti Bani Abbas. Akan tetapi karena
kekuasaannya sangat singkat, Abu ja’far al-Manshur (754-775 M) yang banyak berjasa dalam
membangun pemerintahan dinasti Bani Abbas.2

Pada tahun 762 M, Abu ja’far al-Manshur memindahkan ibukota dari Damaskus ke
Hasyimiyah, kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan Ctesiphon, bekas ibukota
Persia. Oleh karena itu, ibukota pemerintahan Dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah
1
Abul a ‘la Al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan : Evaluasi Kritis Atas Sejarah Pemerintahan Islam,
(Bandung, Mizan, 1998). Hlmn. 23-24.

2
Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran (Bandung, Mizan,1995).hlmn. 54-55.

3
bangsa Persia.
Abu ja’far al-Manshur sebagai pendiri muawiyah setelah Abu Abbas al-Saffah, digambarkan
sebagai orang yang kuat dan tegas, ditangannyalah Abbasiyah mempunyai pengaruh yang
kuat. Pada masa pemerintahannya Baghdad sangatlah disegani oleh kekuasaan Byzantium.3

Kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah Abbasiyah, melanjutkan kekuasaan


dinasti Umayah. Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini
adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad saw. Kekuasaannya berlangsung dalam
rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d 656 H (1258 M).

Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai
dengan perubahan politik, social dan budaya. Berdasarkan pola pemerintahan dan pola politik
itu para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode :4

1. Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam
pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani sejak
dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki
kedua.
5. Periode Kelima (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh
dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif disekitar kota Baghdad.

Kemajuan Dinasti Bani Abbas setiap dinasti atau rezim mengalami fase-fase yang
dikenal dengan fase pendirian, fase pembangunan dan kemajuan, fase kemunduran dan
kehancuran. Akan tetapi durasi dari masing-masing fase itu berbeda-beda karena bergantung
pada kemampuan penyelenggara pemerintahan yang bersangkutan. Pada masa pemerintahan,
masing-masing memiliki berbagai kemajuan dari beberapa bidang, diantaranya bidang

3
Abul a ‘la Al-Maududi, Op. Cit., hlmn. 44.
4
Badri Yatim, Dr., MA., Sejarah Peradaban Islam : Dirasah Islamiyah II, (Jakarta : PT. Grafindo
Persada, 2006). Hlmn. 123.

4
politik, bidang ekonomi, bidang sosial. Pada masing-masing bidang memiliki kelebihan dan
kekurangan.5

1. Bidang Politik

Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang
mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-
gerakan ini seperti sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-
khawarij di Afrika utara, gerakan zindik di Persia, gerakan Syi’ah dan konflik antar bangsa
serta aliran pemikiran keagamaan, semuanya dapat dipadamkan.

2. Bidang Ekonomi

Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai nmeningkat dengan peningkatan di sector


pertanian, melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga
dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara timur dan barat juga banyak membawa
kekayaan. Bahsrah menjadi pelabuhan yang penting.

3. Bidang Sosial

Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Al-


Rasyid (786-809 M) dan puteranya Al-Ma’mun (813-833 M). kekayaan yang banyak di
manfaatkan Harun Al-Rasyid untuk keperluan social. Rumah sakit, lembaga pendidikan,
dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak 800 orang dokter.
Disamping itu pemandian-pemandian juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi
terwujud pada zaman khalifah ini, kesejahteraan social, kesehatan, pendidikan, ilmu
pengetahuan dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya.6

Pemerintahan bani Umayah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar
sekali, meliputi wilayah yang amat luas, mulai dari negeri sind dan berakhir di negeri

5
Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam,(Jakarta : Rajawali Pers 1999). Hlmn. 31.

6
Badri Yatim, Op. Cit., hlmn. 49.,

5
Spanyol. Ia demikian kuatnya sehingga apabila seseorang menyaksikannya, pasti akan
berpendapat bahwa usaha mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi
siapapun. Namun jalan yang ditempuh oleh pemerintahan Bani Umayyah, meskipun ia
dipatuhi oleh sejumlah besar manusia yang takluk kepada kekuasaannya, tidak sedikitpun
memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka. Itulah sebabnya belum sampai
berlalu satu abad dari kekuasaan mereka, kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan
singgasananya dan mencampakannya dengan mudah sekali. Dan ketika singgasana itu
terjatuh, demikian pula para rajanya, tidak seorangpun yang meneteskan air mata menangisi
mereka.

Adapun penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya Khilafah Bani Abbas ialah
karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya, bahwa Bani Abbas
adalah keluarga yang paling dekat kepada Nabi saw, dan bahwasanya mereka akan
mengamalkan al-Qur’an dan Sunnah rasul dan menegakkan syari’at Allah.7

Kalau dasar-dasar pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu
al Abbas dan Abu ja’far Al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada
tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775-786 M), Harun al-
Rasyid (786-809 M), al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Wasiq (842-
847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M).

Kalifah Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah yang mencintai seni dan ilmu. Ia
banyak meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan kalangan ilmuwan dan mempunyai
apresiasi yang tinggi terhadap seni.
Al-Rasyid mengembangkan satu akademi Gundishapur yang didirikan oleh Anushirvan pada
tahun 555 M. pada masa pemerintahannya lembaga tersebut dijadikan sebagai pusat
pengembangan dan penerjemahan bidang ilmu kedokteran, obat dan falsafah.

Dari gambaran diatas terlihat bahwa, Dinasti Bani Abbas pada periode pertama lebih
menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.
disinilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah.

7
Jaih Mubarok, Dr., M.Ag., Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisyi, Cet. 1, 2004).
Hlmn. 235-236.

6
Kehancuran Dinasti Bani Abbas Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad
atau khalifah Abbsiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada periode ini, khalifah
Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan suatu dinasti tertentu, walaupun banyak
sekali Dinasti islam berdiri. Ada diantaranya dinasti yang cukup besar, namun yang
terbanyak adalah dinasti kecil. Para khalifah Abbasiyah, sudah merdeka dan berkuasa
kembali, tetapi hanya di Baghdad sekitarnya. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini
menunjukan kelemahan politiknya. Pada masa inilah tentara Mongol dan tatar menyerang
Baghdad. Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan yang berarti.
Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini adalah awal babak baru dalam
sejarah islam, yang disebut masa pertengahan.

Sebagaimana dalam periodisasi khalifah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak


periode kedua, namun demikian factor-faktor penyebab kemunduran itu tidak dating secara
tiba-tiba, benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya khalifah pada saat
periode ini sangat kuat, benih-benih ini tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan
Bani Abbas terlihat bahwa apabila kalifah kuat, para mentri cenderung berperan sebagai
pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan.

Disamping kelemahan khalifah, banyak factor yang menyebabkan khalifah Abbasiyah


menjadi mundur, masing-masing factor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa
diantaranya adalah sebagai berikut :8

1. Persaingan Antarbangsa

Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang
Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa
Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-saama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyyah
berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Stryzewska,11
ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab.
Pertama, sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka
8
John L. Esposito (ed), The Oxpord History of Islam, (New York, Oxpord University Press 1999).
Hlmn. 210-211

7
merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya
Ashabiyyah kesukuan. Dengan demikian, khilafah Abbasiyyah tidak ditegakkan di atas
`ashabiyyah tradisional.

Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan


sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu, bangsa Arab
beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan
mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam.

Selain itu, wilayah kekuasaan Abbasiyyah pada periode pertama sangat luas, meliputi
berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India.
Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu tidak ada kesadaran
yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat.12 Akibatnya,
disamping Fanatisme kearaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan
gerakan syu`ubiyah.

Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah


dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyyah berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah
orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat
terjaga. Setelah Al-Mutawakkil, seorang khlaifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara
turki tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya telah berakhir.
Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani
Buwaih, bangsa Persia pada periode ketiga dan selanjutnya beralih kepada dinasti Saljuk
pada periode keempat.9

2. Kemerosotan Ekonomi

Khalifah Abbasiyyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan


dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas
merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga
Bait al-Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh dari al-Kharaj,
semacam pajak hasil bumi.

9
Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, (Gramedia, Jakarta,1985). Hlmn. 233

8
Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan Negara menurun,
sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan Negara itu
disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang
mengganggu perekonomian rakyat, diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil
yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran
membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin
mewah, jenis pengeluaran makin beragam, dan para pejabat melakukan korupsi.

3. Konflik Keagamaan

Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Karena cita-cita


orang Persia tidak sepenuhnya tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka
mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Gerakan ini dikenal
dengan gerakan Zindiq yang menyebabkan menurut para khalifah dan orang-orang yang
beriman harus diberantas, sehingga menyebabkan konflik diantara keduanya, mulai polemik
tentang ajaran hingga berlanjut kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah dari
kedua belah pihak.

Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran
Syi`ah, sehingga banyak aliran syi`ah yang dipandang ghulat (ekstrem) dan dianggap
menyimpang oleh penganut Syi`ah sendiri. Aliran Syi`ah memang dikenal sebagai aliran
politik dalam Islam yang berhadapan dengan faham Ahlus sunnah wal Jama`ah.

Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan
zindik atau ahlussunnah dengan syi`ah saja, tetapi juga antaraliran dalam Islam. Mu`tazilah
yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan salaf.

Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan: “Agama
Muhammad Saw. seperti juga Agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan
perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin
ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan
kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan
mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia…soal kehendak bebas

9
manusia …telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam…pendapat bahwa rakyat
dan kepala agama mustahil berbuat salah mustahil berbuat salah…menjadi sebab binasanya
jiwa-jiwa berharga”.10

4. Ancaman dari luar

Apa yang disebutkan di atas adalah factor-faktor internal. Disamping itu, ada pula
factor-faktor eksternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur.
Pertama, perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan
banyak korban. Kedua, serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.

Sebagaimana telah disebutkan, orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut


berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib itu
juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan
Islam. Namun, di antara komunitas-komunitas Kristen Timur, hanya Armenia dan Maronit
Lebanon yang tertarik dengan dengan Perang Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib
itu.

Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa
Hulagu Khan, panglima tentara Mongol, sangat membenci Islam karena ia banyak
dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi
dengan orang-orang Mongol yang anti-Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-
kitab. Tentara Mongol, setelah menghancurleburkan pusat-pusat Islam, ikut memperbaiki
yerussalem.

Berbagai faktor yang telah menyokong tegaknya imperium Abbasiyah, yakni


kalangan elite imperium dan bentuk-bentuk kulturnya, sekaligus juga menyokong kehancuran
dan transformasi imperium tersebut. Bahkan kemerosotan Abbasiyah telah berlangsung disaat
berlangsung konsolidasi. Ketika rezim ini sedang memperkuat militernya dan institusi
pemerintahan, dan sedang mendorong sebuah kemajuan ekonomi dan kultur, terjadi beberapa
peristiwa yang pada akhirnya mengharubirukan nasib imperium Abbasiyah.

10
Ibid, hlmn.234-235.

10
Semenjak awal pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809) problem suksesi menjadi
sangat kritis. Harun telah mewasiatkan tahta kekhalifahan kepada putra mertuanya, al-Amin,
dan kepada putranya yang lebih muda yang bernama al-Makmun, seorang gubernur Khurasan
dan orang yang berhak menjabat tahta khilafah sepeninggal kakaknya. Setelah kematian
Harun, al-Amin berusaha mengkhianati hak adiknya dan menunjuk anak laki-lakinya sebagai
penggantinya kelak. Akibatnya pecahlah perang sipil. Al-amin didukung oleh militer
Abbasiyah di Baghdad, sementara al-Makmun harus berjuang untuk memerdekakan
Khurasan dalam rangka untuk mendapatkan dukungan dari pasukan perang Khurasan. Al-
makmun berhasil mengalahkan saudara tuanya, al-Amin , dan mengklaim khilafah pada
tahun 813. Namun peperangan sengit tersebut tidak hanya melemahkan kekuatan militer
Abbasiyah melainkan juga melemahkan warga iraq dan sejumlah propinsi lainnya.Al-
Makmun berusaha menghadapi musuh-musuhnya dan sejumlah warga yang tidak mau
berdamai dengan sebuah kebijakan ganda. Satu sisi kebijakan tersebut bertujuan untuk
mempertahankan legitimasi kekhilafan dengan menguasai seluruh urusan keagamaan.
Kebijakan ini, sebagaimana yang telah kita lihat, tidak membawa hasil dan gagal. Kebijakan
ini justru menghilangkan dukungan masyarakat umum terhadap sang khalifah.Al-Makmun
juga mengambil sebuah kebijakan politik, untuk menguasai kekhilafahan secara mutlak, al-
Makmun menggantungkan dukungan seorang panglima khurasan, yang bernama Thahir,
yang diberikan imbalan sebagai gubernur khurasan (820-822) dan menjadi jenderal militer
Abbasiyah diseluruh imperium dan disertai janji bahwa jabatan-jabatan tersebut dapat
diwariskan kepada keturunannya, selain mendatangkan manfaat yang bersifat sementara
konsesi atas sebuah jabatan gubernur yang dapat diwariskan menggagalkan tujuan Abbasiyah
untuk menyatukan sebuah wilayah propinsi besar menjadi sebuah system pemerintahan
politik yang memusat ditangan pemerintahan pusat. Upaya untuk menyatukan kalangan elit
dibawah arahan khalifah tidak akan terwujud dan sebagai gantinya imperium dikuasai oleh
sebuah persekutuan khalifah dengan kuasa gubernuran besar.11

B. Islam Masuk ke Nusantara Saat Rasulullah SAW Masih Hidup

Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14
Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori
11
M.Natsir, Capita Selecta, NV Penerbitan W. van Hoeve, tanpa tahun. Hlmn. 12.

11
Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku
pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di
beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal
Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? Orientalis ini
bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab
dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang
Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.
Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad
SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara,
dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.
Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka
Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di
Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah
melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.12
Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima
masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama
telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa
tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman
sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki


beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang
perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou
(sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan
berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood
dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi
diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.
Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama
pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah

12
W. Montgomery Watt, Politik Islam dalam Lintasan Sejarah (Jakarta : P3M, 1988). Hlmn. 67-68.

12
pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya
yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall
1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa
pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.
Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka
sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi
huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan
telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya.
Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha
baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan
Sriwijaya.13

Temuan G. R Tibbets
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—
dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang
dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah
Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts
menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.
“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan
kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis
Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang
seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah
Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah
berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah
ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah
Kerajaan Budha Sriwijaya.

Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan


asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal
secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini
mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai
13
Ibid, hlmn.70-71.

13
cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat
sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok
bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya,
HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang
sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini
telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University
di Amerika.14

Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara.


Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau
Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan
sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer
selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika
Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus
pun masuk dalam wilayah Aceh.
Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota
di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh
literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.
Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur
Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah
menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama
Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.
Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu
telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan
Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

14
Jaih Mubarok, Op. Cit., hlmn. 125-126.

14
Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal
masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di
kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat
tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada
pada era itu.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO)
Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN)
di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah
menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh,
India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.
Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah
ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.
Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh,
dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh
cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan
kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat,
juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka
sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin
banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau
penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai.
Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga
menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal
jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.

Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan
sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu
Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F.
Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII
Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).
Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan
seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan.
Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S.

15
Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa
Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah
menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu
kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam
—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu
baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.15
Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah
perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah
SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat
sebuah perkampungan Islam.
Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an,
karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada
tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian
oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang
penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6)
Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman,
Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi
semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah
Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia.
Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.
Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-
pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang
tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung
kediamannya dan membunuh sang Khalifah.

Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak
Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah
ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi:
(246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya,
pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa
Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut
15
Philip K. Hitti, History of The Arabs (London : Mac Millan, 1970). Hlmn 54-55.

16
keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah
Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan
ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-
Qur’an.
Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya
tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda
dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu
bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu
kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar,
menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini
melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki
anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa
mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan
kerajaan Budha Sriwijaya.
Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan
kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah
sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah
tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah
perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu
selama 5 hingga 10 tahun.

Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula
membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para
shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..
Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat
yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan
Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa
sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang
kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari
keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia
bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam
untuk berniaga.

17
“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para
pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan
terbuka menerima dakwah beliau itu, ” ujar Mansyur yakin.

Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-
orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa
duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31
Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah
tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di
perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman
bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632
M).
Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina
sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7
Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan
Budha Sriwijaya.16

Gujarat Sekadar Tempat Singgah


Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak
sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan
berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang
berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini
sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera
(Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya
merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera
Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.
Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari
Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum
meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina.
Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh,
16
Ibid, hlmn.56-58.

18
Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke
berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di
selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke
Cina atau Jawa.
Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal
sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka,
pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir
barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh
inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab
itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.17

17
Eramuslim.com, Minggu, 16 Desember 2007 @ 04:05:37

19