Anda di halaman 1dari 8

Kasus Pediatri

I.

Identitas
Dilakukan secara alloanamnesis (pada ibu pasien), pada hari Selasa, 28
Februari 2013 pada pukul 09.35
No. Rekam Medis

: 0820132389

Nama

:K

Umur

: 7 tahun

Jenis kelamin

: perempuan

Agama

: Islam

Berat badan

: 21 kg

Tinggi badan

: 110 cm

Orangtua (ibu) :

II.

Nama

: L

Umur

: 33 tahun

Jenis kelamin

: wanita

Agama

: Islam

Alamat

: Binong Permai

Pekerjaan

: ibu rumah tangga

Status

: menikah

Pendidikan terakhir

: SMA

Anamnesis
Keluhan utama : demam sejak 3 hari yang lalu
Keluhan tambahan :
- Pilek dan mudah merasa lelah
- Timbulnya bintik-bintik kemerahan pada bagian leher dan punggung
-

disertai gatal
Rasa gatal pada kulit terutama pada bagian perut

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien seorang anak perempuan, 7 tahun. Pasien datang dengan
keluhan demam disertai dengan pilek sejak 3 hari yang lalu serta mudah
merasa lelah. Ketika diukur, suhu tubuh pasien adalah 38,70C. Pasien
mengaku selain demam, ia juga merasakan pilek sejak 5 hari yang lalu dan
terkadang hidungnya tersumbat karena pilek tersebut. Menurut ibunya,

Kasus Pediatri
pasien juga sering merasa kedinginan pada malam hari sehingga harus
diselimuti dengan kain tebal. Pasien merasa lebih baik dan demamnya
turun setelah meminum Panadol sebanyak 3 tablet per hari yang diberikan
oleh ibunya.
Selain itu pasien juga mengeluhkan timbulnya bintik kemerahan
terutama pada bagian leher serta punggung pasien. Bintik-bintik tersebut
muncul sejak 2 hari yang lalu. Bintik-bintik tersebut menimbulkan rasa
gatal pada pasien sehingga pasien terus berusaha menggaruknya. Awalnya,
bintik-bintik kemerahan ini terdapat hampir pada seluruh punggung pasien
dan tidak timbul, tetapi lama-kelamaan bintik-bintik kemerahan tersebut
timbul menyerupai lentingan-lentingan yang membuat pasien merasa lebih
gatal daripada sebelumnya. Lama-kelamaan lentingan tersebut menjalar
hingga ke daerah wajah, pundak, lengan atas, paha bawah. Semakin
digaruk, kulit pasien semakin terasa perih, terutama bila ada lentingan
yang pecah.
Pasien mengaku tidak merasakan adanya sakit kepala ataupun pusing
serta sakit tenggorokan. Pasien juga menyangkal adanya kesulitan buang
air kecil maupun air besar. Nafsu makan pasien menurun sejak pasien
terkena demam dan makanannya sering tidak habis karena pasien menjadi
kurang nafsu makan. Porsi makan pasien biasanya kurang lebih 8-10
sendok makan per 1 kali makan.
Riwayat penyakit dahulu :
Pasien menyangkal pernah mengalami gejala seperti ini sebelumnya.
Pasien juga menyangkal pernah dirawat di rumah sakit ataupun
memperoleh tindakan operasi apapun, juga tidak menderita penyakit atau
kelainan bawaan tertentu.
Riwayat pola makan :
Pasien mengkonsumsi makanan seperti biasa, seperti bubur dan nasi
yang lembek serta sayur berkuah dan lauk tempe atau tahu. Tidak ada
keluhan diare maupun muntah karena memakan makanan tertentu.
Riwayat tumbuh kembang :

Kasus Pediatri
Pertumbuhan pasien normal sebelum mengalami gejala ini yang
membuatnya kehilangan nafsu makan. Berat badan pasien menurun cukup
banyak yaitu sekitar 3 kg sejak 2 minggu lalu. Selain penurunan berat
badan, pertumbuhan tinggi badan pasien tetap normal.
Riwayat imunisasi :
Pasien sudah melakukan imunisasi lengkap sejak masih bayi kecuali
imunisasi Varicella.
Riwayat penyakit keluarga :
Ayah pasien adalah seorang perokok berat sejak 13 tahun yang lalu.
Ayahnya juga mengalami batuk-batuk sejak dua minggu yang lalu.
Keluarga tidak pernah mengalami gejala serupa sebelumnya. Orang tua
pasien tidak ada yang menderita penyakit menurun, seperti asma,
Riwayat alergi obat :
Selama ini pasien tidak pernah menunjukkan gejala alergi terhadap
obat apapun dan pasien tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu
dalam jangka waktu yang lama.

III.

Pemeriksaan fisik
1. Status generalis
Kesadaran
Denyut nadi
Tekanan darah
Laju pernapasan
Temperatur
Berat badan
Tinggi badan
IMT

: compos mentis
: 70x /menit
: 110/70 mmHg
: 20x/menit
: 38,7 0C
: 21 kg
: 115 cm
: 15,88

Kepala
Mata*

: sklera tidak ikterik.


konjungtiva tidak anemi.

Hidung*

: kedua mukosa hidung normal, terdapat sekret b


erwarna putih bening.

Kasus Pediatri
Telinga*

: lubang telinga tampak normal, tampak serumen


di kedua lubang telinga.

Mulut*

: mukosa bibir merah dan basah, lidah tampak


berwarna merah, faring tidak hiperemis, tonsil
normal T1-T1.

Leher*

: tidak tampak pembesaran kelenjar getah


bening.

Thorax
- Cor*
- Pulmo*

: bunyi jantung S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-)


: suara pada kedua lapang paru Ventrikuler +/+,
wheezing -/-, rales -/-

Abdomen* :
Bising usus normal 10x/menit
2. Status lokalis
Status dermatologikus

: regio facialis, regio servikalis posterior,


regio aksilaris, regio thorax anterior
posterior,

Ruam

regio

abdomen

anterior,

ekstremitas

superior

dextra

sinistra,

ekstremitas

inferior

dextra

sinistra,

bilateral.
: menyebar seara merata dari trunkus ke
muka dan ekstrimitas superior dan

IV.

inferior
Bentuk : vesikel
Jumlah : banyak
Ukuran : vesikel dan pustula ukuran milier serta lentikuler
Letak : menyebar

Pemeriksaan penunjang
Tidak ada

V.

Summary
Pasien K, seorang anak perempuan, 7 tahun. Keluhan utamanya
demam sejak 3 hari yang lalu disertai pilek sejak 5 hari yang lalu.

Kasus Pediatri
Selain demam, pasien juga mengeluh timbulnya bintik-bintik
kemerahan pada kulitnya sejak 2 hari yang lalu, terutama pada bagian
leher dan punggung, juga rasa gatal pada bagian perut. Bintik-bintik
kemerahan ini lama-kelamaan semakin banyak jumlahnya dan timbul
menyerupai lentingan-lentingan yang makin membuat rasa gatal
bertambah parah. Ketika pecah, lentingan tersebut mengeluarkan air.
Lentingan tersebut menyebar hingga ke wajah, pundak, lengan atas kanan
dan kiri, paha dan betis. Jika terus-menerus digaruk, maka kulit pasien
akan terasa perih terutama bila ada lentingan yang pecah.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan suhu tubuh pasien meningkat, yaitu
38,7OC. Selain itu juga ditemukan adanya vesikel-vesikel eritem yang
nampak hampir di setiap bagian tubuh pasien, terutama pada kulit bagian
dada serta perut, punggung, serta beberapa pada wajah dan ekstremitas.
VI.

Analysis
Diagnosis kerja : cacar air / Varicella Zoster
Diagnosis banding : campak
Pada kasus ini tidak ditemukan adanya gejala khas dari campak, yaitu
3C ( cough/batuk, coryza/pilek, serta conjunctivitis yang ditandai dengan
konjungtiva menjadi berwarna kemerahan). Pada pasien campak biasanya
akan nampak warna kemerahan pada kulit berupa makula, bukan vesikel
seperti pada kasus ini.

VII.

Tatalaksana
1. Medikamentosa
i. Acyclovir (5 x 800mg selama 7 hari)
- antiviral untuk varicella zoster danherpes zoster
ii. PCT ( 2 x 250mg hingga suhu tubuh menurun / membaik)
- paracetamol sebagai penurun panas
iii. Pemberian bedak yang mengandung menthol untuk mengurangi
rasa gatal

2. Nonmedikamentosa
i. Istirahat dan makan yang cukup untuk mempercepat proses
penyembuhan.
ii. Tetap mandi dengan air dingin dan dibersihkan menggunakan
air dan sabun.

Kasus Pediatri
iii. Berhati-hati

saat

mengeringkan

tubuh

setelah

mandi

menggunakan handuk karena adanya vesikel-vesikel dan harus


teteap dijaga agar vesikel jangan sampai pecah, karena jika
pecah bekas yang timbul lebih sulit hilang.
iv. Menggunakan lotion setelah luka benar-benar sembuh dan
kering untuk menghindari iritasi lebih lanjut.
v. Sedapat mungkin hindari untuk keluar dari rumah agar
mengurangi efek penularan yang dapat terjadi.
VIII.

FIFE
F : pasien merasa tidak nyaman dengan rasa gatal pada sebagian besar
tubuhnya
I : pasien beranggapan bahwa sakit yang dideritanya ini akibat tertular oleh
teman bermainnya
F : pasien menjadi sulit beraktivitas terutama karena mengganggu waktu
sekolahnya dan juga tidak dapat bermain dengan teman-temannya karena
harus banyak beristirahat serta agar teman-temannya tidak tertular
penyakitnya ini.
E : pasien berharap agar segera sembuh dan tidak bertambah parah

IX.

Disease review
Cacar air (Varicella Zoster / chickenpox) merupakan suatu infeksi
menular yang menyebabkan ruam kulit berupa sekupulan bintik-bintik
kecil yang datar maupun menonjol, lepuhan berisi cairan serta keropeng,
yang menimbulkan rasa gatal.
Penyebab
Penyebab cacar air adalah virus varicella-zoster. Virus ini ditularkan
melalui percikan ludah penderita atau melalui benda-benda yang
terkontaminasi oleh cairan dari lepuhan kulit. Penderita bisa menularkan
penyakitnya mulai dari timbulnya gejala sampai lepuhan yang terakhir
telah mengering. Karena itu, untuk mencegah penularan, sebaiknya
penderita diisolasi selama beberapa waktu.
Jika seseorang pernah menderita cacar air, maka dia akan memiliki
kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi, tetapi virusnya tetap
dapat tertidur di dalam tubuh manusia, lalu terkadang dapat menjadi aktif
kembali dan menyebabkan herpes zoster.
Gejala

Kasus Pediatri
Gejala mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi, pada anakanak berusia di atas 10 tahun, gejala awalnya berupa sakit kepala, demam
dan rasa tidak enak badan. Gejala tersebut biasanya tidak ditemukan pada
anak-anak yang lebih muda, gejala pada orang dewasa biasanya lebih
berat.
24-36 jam setelah timbulnya gejala awal, muncul bintik-bintik merah datar
(makula). Kemudia bintik tersebut menonjol (papula), membentuk lepuhan
berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal, ang akhirnya akan mengering,
proses ini memakan waktu selama 6-8 jam. Selanjutnya akan terbentuk
bintik-bintik dan lepuhan yang baru. Pada hari kelima, biasanya sudah
tidak terbnetuk lagi lepuhan yang baru, seluruh lepuhan yakan mengering
pada hari keenam dan menghilang dalam waktu kurang dari 20 hari.
Papula di wajah, lengan dan tungkai relatif lebih sedikit; biasanya banyak
ditemukan pada batang tubuh bagian atas (dada, punggung, bahu). Bintik
bintik sering ditemukan di kulit kepala. Papula di mulut cepat pecah dan
membentuk luka (ulkus), yang seringkali menyebabkan gangguan
menelan, ulkus juga bisa ditemukan di kelopak mata, saluran pernafasan
bagian atas, rektum dan vagina. Papula pada pita suara dan saluran
pernafasan atas kadang menyebabkan gangguan pernafasan.
Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher bagian samping juga
dapat terjadi.
Cacar air jarang menyebabkan pembentukan jaringan parut, kalaupun ada,
hanya berupa lekukan kecil di sekitar mata. Luka cacar air dapat teringeksi
akibat garukan dan biasanya disebabkan oleh Staphylococcus.
Komplikasi
Anak-anak biasanya sembuh dari cacar air tanpa masalah. Tetapi pada
orang dewasa maupun penderita gangguan sistem kekebalan, infeksi ini
dapat berat atau bahkan berakibat fatal.
Adapun komplikasi yang bisa ditemukan pada cacar air adalah :
- Pneumonia karena irus
- Peradangan jantung
- Peradangan sendi
- Peradangan hati
- Infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa)
- Ensefalitis (infeksi otak)
Diagnosa

Kasus Pediatri
Diagnosa ditegakkan berdasarkan ruam kulit yang khas (makula, papula,
vesikel, dan keropeng).
Pengobatan
Untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya kulit
dikompres dingin. Bisa juga dioleskan lotion kalamin, antihistamin, atau
lotion lain yang mengandung mentol atau fenol.
Utuk mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri, sebaiknya ;
-

kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun


menjaga kebersihan tangan
kuku dipotong pendek
pakaian tetap kering dan bersih

Kadang diberikan obat untuk mengurangi gatal (antihistamin). Jika terjadi


infeksi bakteri, maka diberikan antibiotik. Jika kasusnya berat, bisa
diberikan obat anti-virus asiklovir.
Untuk menurunkan demam, sebaiknya gunakan asetaminofen, jangan
aspirin. Obat anti-virus boleh diberikan kepada anak yang berusia leibh
dari 2 tahun. Asiklovir biasanya diberikan kepada remaja, karena pada
remaja penyakit ini lebih berat. Asiklovir bisa mengurangi beratnya
penyakit jika diberikan dalam waktu 24 jam setelah muncul ruam yang
pertama. Obat anti-virus lainnya adalah vidarabin.
Pencegahan
Untuk mencegah cacar air diberika vaksin varicella. Vaksin varisela
biasanya diberikan pada anak berusia 12-18 bulan.
Bagi orang yang belum pernah menerima vaksinasi cacar air dan memiliki
resiko tinggi mengalami komplikasi (misalnya penderita gangguan sistem
kekebalan), dapat diberikan immunoglobulin zoster atau immunoglobulin
varicella-zoster.