Anda di halaman 1dari 14

SOCA MODUL 1

1.1 PEMICU
Judul pemicu: Gigi Hilang (Identifikasi Penderita Prostodonsia)
Penderita pria, berusia 60 tahun datang ke klinik dokter gigi, ingin membuat gigi
tiruan. Dari anamnesis riwayat kesehatan diketahui bahwa penderita tidak
pernah memakai gigi tiruan. Pencabutan gigi terakhirnya sekitar 6 bulan yang
lalu. Penderita ingin membuat gigi tiruan atas keinginan sendiri dengan biaya
dari anaknya. Pemeriksaan klinis lebih lanjut dilakukan untuk melengkapi data
status penderita, baik pemeriksaan ekstra oral maupun intra oral, serta
pemeriksaan penunjang. Hasil pemeriksaan ekstra oral tidak ada kelainan,
sedangkan pada pemeriksaan intra oral terdapat semua gigi hilang pada rahang
atas dan rahang bawah. Dokter gigi harus memahami anatomi rongga mulut
sebelum

melakukan

pemeriksaan

intra

oral,

untuk

mendapatkan

hasil

pemeriksaan yang tepat, serta dilengkapi dengan pembuatan model studi.


Semua prosedur pemeriksaan tersebut harus dilakukan untuk menentukan
rencana perawatan terbaik di bidang prostodonsia untuk penderita.

1.4 PETA KONSEP


Keluhan utama
(Gigi hilang)

Identifikasi penderita & anamnesis


(Riwayat kesehatan gigi)

Pemeriksaan
ekstra oral:
TAK

Pemeriksaan
intra oral:
Semua gigi
hilang pada RA
& RB

Pemeriksaan
penunjang

Anatomi rongga mulut untuk pembuatan model


studi:
- Ridge
-

Vestibulum

Frenulum

Palatum

Torus: palatines & mandibularis

Retromylohyoid

Tuber maksila

Pembuatan model studi

Diagnosis: Edentulous ridge RA & RB


Prognosis

Rencana perawatan: Full denture


Terapi prostodonsia (pemilihan bahan protesa gigi tiruan)

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Identifikasi penderita
2.1.1 Definisi
Identifikasi penderita adalah pengumpulan dan pencatatan segala informasi tentang
pasien.
2.1.2 Tujuan
Mengurangi kejadian yang berhubungan dengan salah identifikasi. Kesalahan ini dapat
berupa salah pasien, kesalahan prosedur, kesalahan medikasi, kesalahan transfuse,
dan kesalahan pemeriksaan diagnostik. Hal-hal yang perlu digali dalam identifikasi
penderita (data demografi) adalah nama, alamat, nomor telpon, jenis kelamin, usia,
pekerjaan, status perkawinan, dan nama operator.
- Nama diperlukan untuk identitas dari penderita dan dapat dihubungi
- Nomor telpon untuk identitas penderita dan dapat dihubungi
-

Alamat untuk mengetahui tingkat sosial pasien berhubungan dengan rencana


perawatan dan biaya dan dapat dihubungi

- Pekerjaan untuk berkaitan dengan pendidikan, status sosial, dan status ekonomi.
Pekerjaan juga umumnya berkaitan dengan kemauan dan keinginan pasien. Pasien
berkarier tinggi umumnnya mengharapkan protesa gigi yang sangat detail dan bagus
agar tidak tampak menggunakan gigi tiruan.
- Usia untuk menilai masalah kemampuan penderita dalam arti regenerasi jaringan,
kemampuan adaptasi, dan kemampuan mencerna
- Jenis kelamin berkaitan dengan aspek psikologis, penyakit, dan aspek gigi-geligi
- operator : identitas yang merawat agar mudah ditelusuri
2.2 Anamnesis pasien
2.2.1 Definisi
Anamnesis adalah riwayat yang lalu dari suatu penyakit atau kelainan yang diingat oleh
penderita pada waktu dilakukan wawancara dan pemeriksaan medic atau dental.

2.2.2 Tujuan
Tujuan anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang
bersangkutan. Informasi yang didapat dari wawancara dengan pasien biasanya akan
memberikan kontribusi yang lebih untuk suatu pemecahan masalah daripada informasi
yang didapat dari pemeriksaan jasmani atau uji diagnostik. Tujuan anamnesis pada
pasien prostodonsia adalah untuk mengetahui tujuan dari keinginan pasien dibuatkan
gigi tiruan itu untuk fungsi estetik atau fungsional saja.
2.2.3 Faktor keinginan
Keluhan / keinginan: mengetahui tujuan penderita datang melalui wawancara, ditulis
menggunakan bahasa pasien
Faktor- faktor yang mempengaruhi keinginan pasien:
- Ekstrinsik

: berhubungan dengan lingkungan

- Intrinsik

: berhubungan dengan kebutuhan, usaha, kemampuan, dan kepuasan

2.2.4 Faktor lain yang mempengaruhi anamnesis


a)

Identitas Pasien
Identitas pasien meliputi nama lengkap (nama keluarga, nama sendiri), umur,

jenis kelamin, suku, agama, status perkawinan, pekerjaan, alamat rumah dan nomor
telepon. Selain itu juga diperlukan data mengenai contact person untuk pasien tersebut
yang mudah dihubungi. Data identitas pasien ini sangat penting, karena data tersebut
sering berkaitan dengan masalah klinik maupun gangguan sistemik
c)

Riwayat Penyakit Sekarang


Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) adalah riwayat mengenai panyakit pasien

saat ini, yang dimulai dari akhir masa sehat.RPS ditulis secara kronologis sesuai urutan
waktu, dicatat perkembangan dan perjalanan penyakitnya.
4

d)

Riwayat Penyakit Dahulu

Pada Riwayat Penyakit Dahulu (RPD), penyakit-penyakit yang pernah diderita pasien
beserta waktunya dicatat. Dituliskan pula apakah pasien pernah mengalami kecelakaan
atau operasi, maupun keadaan alergi. Ataupun penyakit sistemik lainnya seperti :
Kelainan Psikiatri, Penyakit Parkinson, Trauma Serebrovaskular, Angina, Kegagalan
Jantung Kongestif, Bronkitis Kronis dan Emfisema, Diabetes Mellitus, Osteoporosis,
Artritis, Defisiensi Nutrisi. Hal tersebut di atas merupakan data penting karena
memberikan informasi mengenai:
Apakah ada gejala sisa?
Apakah ada kaitannya dengan penyakit sekarang?
Apakah ada pengaruh/kaitan terhadap pengelolaan pasien selanjutnya?
Anamnesis Sistem
e)

Riwayat Keluarga
Anggota keluarga meliputi kakek, nenek, ayah, ibu, saudara laki-laki, saudara

perempuan, dan anak-anak pasien.Tanyakan tentang umur dan keadaan kesehatan


masing-masing anggota keluarga bila masih hidup atau umur waktu meninggal dan
sebabnya.
f)

Riwayat Pribadi, Psikologis, Sosial Ekonomi dan Budaya


Dimulai dengan keterangan kelahiran (tempat dan cara partus, bila diketahui),

diteruskan dengan peristiwa penting masa kanak-kanak dan sikap pasien terhadap
keluarga

dekat.

Riwayat

sosial

mencakup

keterangan

pendidikan,

pekerjaan

(macamnya, jam kerja, pengaruh lingkungan kerja dan lain-lain), asuransi, aktivitas di
luar pekerjaan (olahraga, hobi, organisasi dan lain-lain), perumahan (lingkungan),
pernikahan (lamanya, jumlah anak, keluarga berencana, pernikahan sebelumnya),
tanggungan, makanan (teratur atau tidak, banyaknya, variasi, berapa kali makan
5

perhari, komposisi makanan sehari-hari, pengunyahan, nafsu makan, pencernaan),


tidur (lama, teratur, ventilasi, jumlah orang dalam satu kamar tidur, penyebab gangguan
tidur), kebiasaan merokok (lama merokok, jumlah rokok dalam batang per hari, teh,
kopi, alkohol, obat, jamu, atau narkoba. Selain itu juga perlu dituliskan masalah yang
dihadapi pasien, seperti masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, keluarga,
keuangan, dan masalah psikologis serta psikososial lainnya.
g)

Pengalaman menggunakan gigi tiruan


Mempengaruhi pembuatan gigi tiruan yang berikutnya untuk pasien agar mudah

beradaptasi dengan gigi tiruan yang baru


h)

Tujuan pembuatan gigi tiruan


Untuk mengetahuai tujuan pembuatan gigi tiruan untuk fungsi estetik atau

fungsional
i)

Terakhir kali mencabut gigi


Berkaitan dengan fase penyembuhan luka atau penutupan luka yang beradang

sebelum dipasang gigi tiruan (Santika, 2009)


2.3 Pemeriksaan Klinis
2.3.1 Gambaran dan prosedur pemeriksaan EO
Pemeriksaan ekstra oral merupakan pengamatan terhadap tanda-tanda di luar mulut.
Pemeriksaan ini dikaitkan dengan pemeriksaan postur penderita dan adanya kelainankelainan pada mata, bentuk wajah, hidung, bibir serta sendi TMJ.
2.3.2 Tujuan pemeriksaan EO
untuk membantu tahap-tahap pengerjaan gigi tiruan
2.3.3 Apa saja yang diperiksa dan cara periksa (Gunadi ,1991)
Wajah

Ovoid,
square,
tapering

Asimetris/sime
tris

Dilihat dari depan


dan samping

Bibir

Panjang/p

Sumbing,

Dilihat

Untuk
pemilihan
bentuk/ele
men gigi
Untuk
6

endek,
tebal/tipis

flabby tissue

melihat
garis
median dan
menentuka
n galangan
gigit
Sendi
Nornal/kel
Clicking,
- Palpasi: di
Untuk
Rahang
ainan
dislokasi,
sekitar
melihat ada
(TMJ)
krepitasi, sakit
depan
atau
telinga,
tidaknya
perlekatan
kelainan
otot mulut
- Auskultasi:
stetoskop
diletakkan
di
tragus
aurikular
(pada
m.
pterygoideu
s lateralis)
- Instruksikan
pasien
untuk
membuka
dan
menutup
mulut
Hidung Normal/ke Nafas melalui
Dilihat
Untuk
lainan
mulut
melihat
garis
median
Mata
Normal/ke
Juling,
Dilihat
Untuk
lainan
asimetris, post
melihat
operasi
garis
median
2.3.4 Gambaran dan prosedur pemeriksaan IO
Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter gigi terhadap keadaan didalam rongga mulut
pasien. Meliputi status umum, jaringan lunak, oklusi statik, maupun oklusi dinamik.
Selain itu juga menilai ketinggian vestibulum, frenulum, bentuk insisif pertama rahang
atas, relasi ridge, bentuk ridge, kondisi gigi depan, bentuk dan kedalaman palatum,
torus, exostosis, tuber maksila, dan retromylohyoid.
2.3.5 Tujuan pemeriksaan IO
Tujuan pemeriksaan intra oral adalah mengetahui keadaan dalam rongga mulut.
7

2.3.6 Bentuk Anatomi


Pemeriksaan intra oral meliputi :
a. Gigi hilang
b. Keadaan gigi yang tinggal ( gigi yang terkena karies- banyaknya

tambalan,

mobility gigi, elongasi, malposisi, atrisi)


c. Oklusi (diperhatikan hubungan oklusi gigi atas dengan bawah yang ada. Angle
kelas I, II, III
d. Adanya overclosed occlusion pada gigi depan, karena angular cheilosis, disfungsi
dari TMJ, spasme otot kunyah. Selain deep bite juga perlu diketahui over jet dari
gigi depan.
e. Warna gigi, perlu untuk mencatat sewaktu akan membuat gigi tiruan sebagian
lepasan agar sesuai estetis
f. Oral hygiene (adanya karang gigi, gigi karies, peradangan jaringan lunak/
gingivitis)
g. Rontgen foto, perlu dilakukan untuk melihat kualitas tulang pendukung gigi, gigi
impaksi dan sisa akar, kista, kelainan periapikal, resorbsi tulang sclerosis
h. Resesi gingival
i. Vitalitas gigi
Prosedur pemeriksaan dan gambaran hasil pemeriksaan klinis intra oral :
- Jaringan lunak : ditulis kelainan yang ada tanpa menyebutkan gigi mana atau
lokasinya. Misalnya : gingivitis, resesi gingiva, flabby tissue. Namun bila tidak ada
kelainan ditulis TAK.
-

Status umum : diisi semua keadaan yang terlihat dalam rongga mulut, tanpa
menyebutkan lokasi atau gigi mana. Misalnya : gigi hilang, gigi karies, gigi goyang,
gigi abrasi, gigi supraposisi, karang gigi, sisa akar, dll.

- Oklusi: oklusi ada atau tidak ada, yang dilihat adalah kontak gigi-gigi rahang atas dan
rahang bawah pada saat oklusi sentries. Oklusi dikatakan ada bila terfixir minimal
ada 3 titik kontak, satu di anterior dan dua diposterior (kanan dan kiri). Ada 3 kategori
oklusi :
1. Di dalam dan diluar mulut terfixir
2. Di dalam terfixir diluar tidak terfixir
3. Di dalam dan diluar mulut tidak terfixir
a. Oklusi Statik: oklusi dalam kondisi diam, dilihat relasinya.
Hubungan gigi posterior (cusp to marginal ridge)
8

Hubungan gigi posterior (cusp to fossa)


Hubungan gigi anterior (dalam mm)
b. Oklusi Dinamik: oklusi dalam keadaan bergerak, dilihat pola oklusinya.
UBO (Unilateral Balance Occlusion) : oklusi pada satu sisi saja gigi

posterior

pada saat rahang digerakkan ke arah lateral kiri dan kanan.


BBO (Bilateral Balance Occlusion) : oklusi pada kedua sisi di gigi posterior kiri dan
kanan pada saat rahang digerakkan ke arah letral kanan dan kiri.
MPO (Mutually Protected Occlusion) : oklusi pada gigi anterior saat rahang
digerakkan kearah antero-posterior
- Vestibulum: yang diperiksa adalah daerah yang tidak bergigi atau edentulous area dan
diperiksa batas antara mukosa bergerak dan tidak bergerak. Pengukuran
menggunakan kaca mulut no.4, dari puncak ridge sampai dasar sulkus.
Dalam : bila > lebar kaca mulut atau tinggi kaca mulut no.4
Dangkal : bila < lebar kaca mulut atau tinggi kaca mulut no.4
Guna pemeriksaan ini untuk menunjang support, stabilitas dan retensi gigi tiruan
terutama untuk GTL
- Bentuk Insisif Pertama RA: diperiksa dan dicatat bila masih ada atau diindikasikan
akan dicabut
- Bentuk Ridge: dicatat bentuk ridge daerah yang tak bergigi, tidak ada sisa akar
Keterangan :
1. Square: jarang dijumpai
2. Ovoid: untuk stabilitas dan retensi GTL baik
3. Tapering: untuk retensi jelek, stabilitas baik
4. Flat: untuk retensi dan stabilitas jelek
- Bentuk dalam Palatum: Bentuk palatum dalam penampang melintang. Mempengaruhi
retensi stabilitas
Keterangan :
1. Square: untuk retensi dan stabilitas GTL baik
2 . Ovoid: untuk retensi dan stabilitas GTL baik
3. Tapering: stabilitas baik, retensi jelek
4. Flat: retensi dan stabilitas jelek
9

- Torus Mandibularis: Terletak di region P1 dan P2 bawah, sebelah lingual. Torus ini
mengganggu GT serta mengganggu arah pasang. Terapi : mandibulektomi
- Exoxtosis: yang diperiksa pada daerah yang tidak bergigi, berupa tonjolan tulang
pada permukaan ridge, diakibatkan resorbsi yang tidak beraturan pada saat
penyembuhan/penutupan soket pasca ekstraksi. Terapi : alveolektomi
- Frenulum: yang dilihat perlekatan frenulum terhadap puncak ridge
Tinggi mendekati puncak ridge
Rendah menjauhi puncak ridge
Yang dicatat semua frenulum yang akan dilewati oleh basis gigi tiruan
- Relasi Ridge / Gigi
Transversa : dengan cara memeriksa pasien :
a. Bila pasien masih ada oklusi dioklusikan
b. Bila pasien edentulous pasien menutup mulut kira-kira seperti posisi tinggi gigit
atau posisi rest oklusi
c. Yang dilihat adalah : sudut dalam yang terbentuk oleh garis yang menghubungkan
puncak ridge atau sentral fossa gigi pada RA dan RB, dengan garis horizontal
( garis yang tegak lurus dengan garis median wajah )
- Torus Palatinus
Besar :
- bila diperkirakan perlu dioperasi
- bila meluas sampai AH line
- bila menonjol dan berundercut
- Tuber Maxilla: dicatat bila diperkirakan basis denture akan dibuat meliputi daerah
tersebut, dicatat hanya bila tidak ada gigi atau sisa akar
- Retromylohyoid: diukur dengan kaca mulut no. 4 dari perlekatan m.mylohyoid sampai
puncak ridge region molar rahang bawah.
2.4 Model study
Definisi
Model mulut yang dibuat untuk mempelajarimorfologi kasus, menegakkan diagnosis,
mengatur rencana perawatan, dan merencakan perawatan protesa atau ortodonsi.
10

Tujuan
1. Mempelajari kerusakan gigi serta akibatnya
2. Merencanakan pembuatan restorasi lepas dan cekatan
3. Penyusunan percobaan ( biasanya dilakukan pada model yang sudah dipasang di
artikulator)
4. Pengasahan korektif untuk keperluan menyesuaikan garis ukur serta bidang
pergeseran gigi penyangga untuk pembuatan GTSL
5. Pembuatan Individual Tray
6. Mengemukakan dan menjelaskan rencana perawatan kepada pasien
7. Memberikan keterangan kepada tekniker gigi
8. Dokumentasi
(www.docstoc.co./docs/100710539/prosto)
Gambar Anatomi

11

2.5 Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan radiografi dibutuhkan untuk melihat struktur tulang pendukung, bentuk,
panjang, dan jumlah akar gigi, kelainan residual ridge, sisa akar gigi, dan kelainan
periapikal dan selanjutnya untuk menegakkan diagnosis dan menentukan rencana
perawatan yang tepat. Selain itu pemeriksaan radiografi juga digunakan untuk
mengevaluasi hasil perawatan yang lalu. Radiografi yang diperlukan untuk perawatan
dibidang prostodonsia adalah periapikal, panoramik, sefalometri, dan TMJ
2.6 Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis intraoral dan ekstrak oral serta
pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan maka diagnosis dari kasus ini yaitu
edentulous ridge rahang atas dan rahang bawah.
Apabila kelainan bukan edentuous bisa ditulis diagnosis setiap regionya, misalnya gigi
21 karies, gigi 22 pulpitis irreversible dll.
2.7 Prognosis
Merupakan prediksi dari kemungkinan perawatan, durasi, dan hasil akhir dari suatu
penyakit berdasarkan pengetahuan umum dari patogenesis dan kehadiran faktor resiko

12

penyakit. Prognosis muncul setelah diagnosis dibuat dan sebelum rencana perawatan
dilakukan.
Prognosis pada kasus : baik
Prognosis baik dengan mempertimbangkan:
- OH baik
- jaringan pendukung sehat
- kondisi kesehatan pasien baik, tidak ada kelainan sistemik.
- pasien kooperatif
- Keinginan pasien sendiri untuk memakai gigi tiruan (self motivation).
2.8 Rencana perawatan
Rencana perawatan setela semua data terkumul dari pemeriksaan sebelumnya dan
dari model study. Secara umum preparasi pada rongga mulut yang mempengaruhi
keberhasilan atau kegagalan perawatan ada 2 tahap yaitu
-

Langkah pendahuluan, seperti tindakan preprostetik, perawatan periodontal,


konservasi

termasuk

endodontic

da

northodontik.

Langkah

ini

untuk

mempersiapkan mulut pasien dalam menerima gigi tiruan yang akan dipakai.
-

Tahap ini dilakukan untuk menciptakan lingkungan rongga mulut yang sehat
Persiapan pemasangan gigi tiruan yang akan dibuat. Dalam tahap ini dilakukan
proses pengubahan kontur gigi untuk mengurangi hambatan, membuat sandaran
oklusal bila perlu menciptakan daerah-daerah untuk retensi mekanisme. Pada
tahap ini model diagnostic digunakan atau untuk melakukan perubahan

2.9 Terapi prostodonsia yang sesuai pada kasus


Macam gigi tiruan yang digunakan dalam kasus adalah GTL (Gigi Tiruan lepasan)
Bahannya terbuat dari bahan : Akrilik
Alasan menggunakan bahan akrilik: Karena mudah untuk dipasang, murah, ringan,
bahan sewarna dengan gigi
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
13

Identifikasi penderita merupakan suatu sistem identifikasi kepada pasien yang dibuat
dengan tujuan untuk membedakan antara pasien satu dengan yang lain. Selanjutnya
setelah mengidentifikasi pasien operator kemudian melakukan prosedur perawatan.
Prosedur perawatan harus diikuti dengan benar, dimulai dari anamnesis, pemeriksaan
klinis ekstra oral dan intra oral, pemeriksaan penunjang, penegakkan diagnosis,
menentukan rencana perawatan dan terapi yang tepat. Pembuatan protesa gigi lengkap
lepasan harus benar-benar memperhatikan anatomi rongga mulut dan perawatan
pendahuluan bila diperlukan. Hal ini dimaksudkan agar stabilisasi dan retensi gigi tiruan
dapat berhasil.

14