Anda di halaman 1dari 4

Pemimpin untuk Perubahan, Syariat Islam Harus Ditegakkan.

Beberapa minggu ini, kita dihebohkan Pilpres 2014 mengapa saya


mengatakan dihebohkan? Karena memang dalam minggu ini di media cetak
maupun media elektronik sedang up to date Pilpres 2014, dengan rayuan
manis yang ditawarkan untuk rakyat dan lebih parah lagi pemimpin yang
mengaku islam serta pro dan kontra berbasis syariah, tetapi tidak
sepenuhnya menjalankan syariah islam secara kaffah, sungguh ironis negara
yang mayoritas islam terbanyak di dunia seperti mati suri. Pada zaman
sekarang semakin ramai orang berlomba-lomba mengejar jabatan, seperti
halnya berebut kedudukan sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2014,
sehingga menjadikan sebagai obsesi hidup. Menurut mereka yang menganut
paham (prinsip) yang tidak berprinsip terhadap Al-quran dan Hadits
(syariah), jabatan tinggi adalah sesuatu kegengsian terbesar dalam hidup,
dan tidak lengkap rasanya selagi hayat dikandung badan, kalau tidak pernah
(meski sekali) menjadi orang penting, dihormati dan dihargai masyarakat.
Kenyataannya cara yang dilakukan dengan cara yang dilarang menurut
syariah islam, seperti kampanye hitam (black campaign) dan segala macam
cara yang tidak diperbolehkan dalam syariah islam. Berbicara tentang
syariah islam tentu perhatian kita akan mengarah pada islam yang identik
dengan kekerasan, teroris dan hal yang di anggap jelek di mata dunia, itulah
kenyataannya. Mereka berebut jabatan tetapi tidak tahu tentang dirinya, dan
lebih aneh mereka tidak tahu secara mendalam cara menjadi pemimpin yang
baik dan bagaimana cara memimpin menurut syariah islam, yang dipikirkan
mereka yaitu modal duit dan nekat serta SDM minim, sehingga ketika
duduk di suatu jabatan memikirkan balik modal, keuntungan dan menambah
asset, lantas apa yang terjadi, banyak koruspsi merajalela di negeri
ini. Berbasis syariah bukan hanya lebel saja, banyak sekali perbankan yang
berbasis syariah tetapi aktualisasi dilapangan masih saja menjalankan
praktik riba, memang berbasis syariah sekarang menjadi trend bagi

masyarakat seperti halnya hotel berbasis syariah, kolam renang berbasis


syariah, pertanyaannya apakah segampang itu kita melebelkan berbasis
syariah? Tentunya tidak, kita harus selektif dan pengawasan terhadap
Dewan Syariah Nasional (DSN) yang bermadzab kepada Al-quran dan
Hadist seperti halnya mencari pemimpin. Hakikat kepemimpinan dalam AlQuran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam sudah mengatur sejak
awal bagaimana seharusnya kita menseleksi dan menjadi seorang pemimpin,
dan jangan salah memilih pemimpin jika salah memilih akibatnya akan
fatal, karena untuk hajat orang banyak. Kriteria pemimpin menurut penulis
adalah harus sesuai dengan syariah islam yang mengikut dalam Al-quran
dan Hadist, dan para pakar telah lama menelusuri Al-Quran dan Hadits dan
menyimpulkan minimal ada empat kriteria yang harus dimiliki oleh
seseorang sebagai syarat untuk menjadi pemimpin. Semuanya terkumpul di
dalam empat sifat yang dimiliki oleh para nabi/rasul sebagai pemimpin
umatnya, yaitu: (1). Shidq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam
bersikap, berucap dan bertindak di dalam melaksanakan tugasnya.
Lawannya adalah bohong. (2). Amanah, yaitu kepercayaan yang menjadikan
dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan
kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah
swt. Lawannya adalah khianat. (3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan
handal yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi
persoalan yang muncul. Lawannya adalah bodoh. (4). Tabligh, yaitu
penyampaian secara jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang
diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutupnutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan). Empat sifat nabi/rasul
sering kita dengar ketika waktu SD, bahkan sudah hafal diluar kepala tetapi
belum memaknai secara mendalam arti tersebut. Padahal sudah jelas pada
zaman itu nabi dan rasul menjalankan empat sifat tadi yang dijelaskan
menjadikan hidup rakyat aman, sejahtera bahkan mencapai zaman keemasan
yang dulu sebagai zaman kebodohan dan kemiskinan. Tetapi banyak yang

harus

diterapkan

pada

diri

pemimpin,

selain

empat

sifat

tadi,

yaitu kesabaran, keadilan yang sudah terterah dalam Alquran maupun


Hadist. Jadikan pemilih yang cerdas bukan dijadikan tertindas oleh para
sekularitas. Mari kita tegakkan syariat islam di bumi pertiwi yang kita
cintai, jangan dijadikan pengeskploitasi negara lain yang berusaha
menguasai kekayaan alam, slogan yang tepat untuk bangsa saat ini adalah
dari korporasi untuk korporasi dan oleh korporasi. Memang menjadi
pemimpin itu tidak mudah, banyak sekali yang harus diemban karenanya
sebuah amanat besar harus dijalankan, menjadi sebuah pemimpin tidak
hanya ngomong besar tetapi action langsung kepada rakyat atau dengan kata
lain tidak sekedar mengucapkan dan menganjurkan, tetapi hendaknya
mampu mempraktekkan pada diri pribadi kemudian mensosialisasikannya di
tengah masyarakat. Pemimpin sejati harus mempunyai kepekaan yang tinggi
(sense of crisis), yaitu apabila rakyat menderita dia yang pertama sekali
merasakan pedihnya dan apabila rakyat sejahtera cukup dia yang terakhir
sekali menikmatinya itulah pendapat pakar ilmu dikarenakan banyaknya
permasalahan yang menimpah khususnya negeri kita tercinta, karena belum
menjalankan syariah islam secara kaffah. Akhirnya dapat kita simpulkan
dengan mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam Islam serta kriteria dan
sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, maka kita
wajib untuk memilih pemimpin sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan
Hadits (syariah) untuk terciptanya pemimpin untuk perubahan. Kaum
muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada
Rasulullah saw dilarang keras untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki
kepedulian dengan urusan-urusan agama (akidahnya lemah) atau seseorang
yang menjadikan agama sebagai bahan permainan/kepentingan tertentu.
Sebab pertanggungjawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan
dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya (masyarakat tersebut).
Dengan kata lain masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin dan
hasil pilihan mereka adalah "cerminan" siapa mereka. Hal ini sesuai dengan

hadits Nabi saw yang berbunyi: "Sebagaimana keadaan kalian, demikian


terangkat pemimpin kalian".Allahu Akbar!