Anda di halaman 1dari 7

Selamat Datang di Kota Robot

oleh : Fizri Adiyesa

Malam ini tak seperti biasanya.


Pukul 11 malam,
harusnya mataku sudah tertutup rapat mengingat besok akan ada "tur" dari
sekolahku. Atau mungkin "tur" itulah alasan aku tak kunjung berkelana ke alam
mimpiku. "Loh, Di? Belum tidur?". Seperti biasa, ibuku selalu memeriksa kamarku
apabila sudah malam. Hanya sekedar memastikan apakah aku masih melekat dengan
laptopku atau tidak. Ya, sifat burukku yang satu lagi.
"Belum, Bu. Adi belum bisa tutup mata Adi, sampai besok berangkat." "Tapi kan
kamu butuh istirahat, kalau kamu nanti ketiduran pas saat tur, bagaimana?" Sahut
Ibuku. "Oh ya, benar juga ya. Terus, Adi harus apa dong biar bisa ngantuk?"
"Cobalah kamu baca do'a dulu sebelum tidur, lalu pikirkan hal yang damai. Ibu jamin
kamu pasti langsung tidur." Benar saja, aku langsung terpejam. Saran ibuku memang
tak ada duanya, alias selalu manjur jur jur jur..
--Pukul 5 pagi,
Badanku terasa ringan sekali pagi ini. Dan anehnya, hari ini aku bangun lebih awal
daripada jam alarmku. "Hahaha, kali ini kamu yang kalah!". Baru aku sadari,
bodohnya diriku mentertawakan jam alarmku sendiri. Setelah shalat shubuh dan
bergegas mandi, aku pun menghampiri meja makan untuk mengeksekusi sarapan
pagiku.
"Adi, bekal makananmu sudah ibu siapkan ya. Jangan lupa dibawa." Kata Ibu, sambil
mengoleskan selai pada roti sarapanku. "Ya, Bu." Jawabku, yang sedari tadi tidak
sabar untuk segera menghabiskan roti itu dan kemudian langsung berangkat. Roti
gandum dan segelas susu pun akhirnya habis, tinggal menunggu "dibakar" menjadi
energiku untuk pagi ini.
"Selamat Datang di Kota Robot"

"Adi berangkat ya, Bu. Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam," "hati hati ya, nak. Ingat, jangan berpisah jauh-jauh dengan
rombongan." Pesan Ibu, yang turut menjadi kalimat pengantarku sebelum pergi tur.
Hampir semua murid kelas 11 sudah ramai berkumpul di lapangan sekolah, yang juga
sudah disinggahi bis pariwisata , disana aku melihat Deren dan Mischa yang juga
sudah datang lebih pagi dariku.
"Hai, Adi! " Sahut Deren dan Mischa menyapaku. "Hai! " "Wah, kalian pagi ini
semangat sekali!" seruku. "Ya dong, kan mau 'jalan-jalan'. Kalau hari biasa, mana
mungkin semangat seperti ini? Hahaha.." Tawa Deren.
"Engga juga kok, kan setiap pagi memang harus semangat!" Celetuk Mischa kontras
dengan Deren. "Hem... Ya deh, 'nyonya' yang rajin nan semangat 45'." balas Deren.
Bertepatan dengan itu, Bu Delvina, selaku koordinator kelas 11 pun berdiri di atas
mimbar dan memberi aba-aba. "Perhatian murid-murid kelas 11, Kita akan segera
naik ke bis 15 menit lagi. Harap segera bersiapkan diri dan berbaris yang tertib.
Terima kasih. "
Kami pun akhirnya menaiki bis. Seperti yang direncanakan kemarin, Aku dan Deren
duduk bersebelahan. Mengapa? Karena kami sudah sepakat untuk membawa console
game portable(1) dan bermain selama perjalanan! Berbeda hal-nya dengan Mischa, Ia
memilih untuk memandang ke alam luas dibalik jendela, dan memanjakan mata di
tiap detiknya.
Oh ya, Aku belum memberitahu kalian kemana kami akan pergi. Ini mungkin
terdengar mustahil, tapi percayalah, kami akan mengunjungi "Kota Robot". Ya,
memang kota yang dipenuhi "robot" secara literal. Selebihnya, jangan tanyakan
padaku, karena aku memang tidak terlalu suka "mekanika".
(1) "Console Game Portable" adalah sejenis video game yang bisa dibawa ke
manapun.

Maka,
Sesi doa bersama di bis menjadi awal perjalanan pada hari ini. "Selama tur, kalian
"Selamat Datang di Kota Robot"

juga akan dipandu oleh Pak Kuntoro. Beliau merupakan ahli robotika. Jika ada
pertanyaan yang ingin disampaikan, lebih baik tanyakan hari ini kepada beliau." Kata
Bu Delvina, sambil berdiri di bagian depan bis ditemani Pak Kuntoro di sampingnya.
"Selamat pagi, murid-murid." Sambut Pak Kuntoro dengan nadanya yang hangat.
"Selamat pagi, Pak." Jawab semua yang ada di bis, mungkin kecuali Aku dan Deren
yang asyik dengan permainan kami.
Sesi berkenalan dengan Pak Kuntoro pun berakhir ketika seseorang di bangku
belakang mengangkat tangannya tinggi, "Selamat pagi, nama saya 'Pahlevi Sinaga'.
Saya ingin bertanya, apa bedanya kota robot dengan kota manusia biasa?".
"Bedanya, kalau kota robot, tak ada yang 'cerewet' macam kau!" Deren pun
menceletuk. Dan seisi bis pun tertawa akibat nada Deren yang dibuat "Batak", karena
Pahlevi, atau Palep, yang merupakan turunan suku Batak.
Pak Kuntoro pun hanya tersenyum. "Hai kamu, pertanyaan temanmu tadi
sesungguhnya amat bagus. Janganlah dibuat guyonan. Karena kamu tidak akan pernah
tahu jawaban dari pertanyaan yang mana, yang akan mengubah hidupmu." Jawab Pak
Kuntoro. Deren pun terdiam.
"Begini, nak Pahlevi, manusia pastinya berbeda dengan robot. Robot hanyalah
melaksanakan apa yang manusia program. Sedangkan manusia? Kita melaksanakan
sesuatu dengan kehendak kita. Maka, kota robot memang didesain untuk menjalankan
sesuatu yang kita programkan." "Program apakah itu, Pak?" Tanya Pahlevi. "Program
apapun, untuk meningkatkan produktivitas negeri kita. Mislanya, disana ada sektor
pertanian terekayasa, maka robot yang mengurusinya atau kita sebut 'robot petani',
akan diprogramkan untuk bercocok tanam seperti layaknya manusia."
Jujur, aku tidak mengingat semua hal yang didiskusikan di bis, karena yang aku ingat
Deren selalu mengalahkanku dalam permainan kami. Dan itu sangat menyebalkan.
Tapi untunglah, diskusi itu usai saat semua murid bertengadah keluar jendela, dan
kalimat "Subhanallah!!", "Wah!" , "Keren!" , "Puji Tuhan!!" mulai bertebaran di
atmosfir bis kami.

"Selamat Datang di Kota Robot"

"Ya, murid-murid, selamat datang di 'Kota Robot' ! " Sahut Pak Kuntoro, seperti
pembukaan gerbang di film "Jurassic Park" atau "Alice in the Wonderland".
Gerbang Kota Robot sudah di depan kami. Sebuah kota yang dilingkupi dengan
sejenis campuran kaca dan material sintetis lainnya membentuk sebuah dome atau
kubah yang mengitarinya yang hampir tembus pandang. Gerbang masuknya seperti
semi-hologram terdiri atas banyak segi enam yang dapat membuka dan menutup
sendiri. Aku terpukau, mataku saja tak sanggup menampung semua keajaiban yang
Aku lihat. Seperti inilah dunia masa depan yang aku bayangkan. Tidak. Bahkan lebih
dari itu.
"Baik murid-murid, sebentar lagi kita akan turun dari Bis. Jadi, harap semuanya
bersiap. Ingat, kita hanya akan mengunjungi sektor industri, dan jangan terpisah dari
rombongan." Kata Bu Delvina.
"Pstt.. Adi.. Aku punya ide nih!" bisik Derel. "Ide apa?" "Aku dengar, di sektor
industrial kota ini, ada yang memproduksi console game yang terbaru!" seru Derel
berbisik. "Lalu?" Tanyaku. Tapi Derel hanya membalas dengan bahasa alisnya yang
membentuk gelombang itu. "Bu Delvina melarang kita pisah rombongan. Aku engga
mau! Lagipula bukannya itu sama saja mencuri?" Tegasku. "Ayolah, rombongan kita
juga nanti akan ke sektor industri, lagipula kamu juga pasti mau mencoba rasanya
main game edisi terbaru, kan?" "Em.. Untuk kita coba saja ya, bukan untuk dibawa
pulang!" "Setuju!".
Euforia kami di Kota Robot seperti tak ada henti-hentinya. Seolah selalu ada yang
bisa kami takjubi. Mulai dari robot-robotnya yang bergerak tanpa berpijak, atau dalam
sains disebut "anti-gravitasi", kemudian juga ada robot pemandu yang serupa dan
berbicara seperti manusia asli, dan masih banyak robot juga teknologi mutakhir
lainnya. "Adi, rombongan kita sudah sampai di sektor industri nih, ayo kita ke industri
console game!" Ajak Derel, tanda permulaan dari "misi gelap" kami. Kami pun
memutuskan untuk memisahkan diri dari yang lain, dengan alibi "buang air kecil".
Untung saja di kota ini tidak ada robot pendeteksi kejujuran.

"Selamat Datang di Kota Robot"

Terlihat hologram bertandakan "divisi peralatan hobi" menunjukkan bahwa kami


harus berjalan ke arah selatan. Rombongan kami terlihat sudah cukup jauh, aku pun
mulai khawatir. "Kalau kita tersesat, bagaimana?" Risauku. "Tenang, kita punya .. "
Kata Derel sambil memperlihatkan handphone-nya yang ternyata tidak mendapat
sinyal. "Sama, handphone-ku juga tidak dapat sinyal, Der!" "Setidaknya, kita bisa
tanya kepada robot pemandu sekitar, kan?" Jawab Derel membungkus rasa paniknya.
Tapi badai kerisauan itu pun berubah menjadi pelangi, saat kami melihat pabrik yang
kami cari sudah di depan mata. Langsung saja, Aku dan Derel menuju tempat produk
akan di kemas, karena disitulah kami bisa langsung mencoba console game terbaru.
"Nah itu dia! console game terbaru!! Ayo kita coba!" Seru Derel.
Namun, saat kami mencoba mengambil salah satu produk untuk dicoba ...
Pelangi tadi ternyata berwajahkan badai yang lebih besar. Sirine dari segala penjuru
pun berbunyi.
TEET!!! TEET!!! TEET!!! TEET!!!
TEET!!! TEET!!! TEET!!! TEET!!!
Aku panik. Derel pun lebih panik. "Derel!! Ayo kita lari!!" . Aku melihat sekitar,
banyak robot keamanan mulai berdatangan seraya berbunyi "PENYUSUP
TERDETEKSI!! PENYUSUP TERDETEKSI!! AKTIFKAN MODE
KEAMANAN!!" berulang-ulang.
Insting kami akhirnya membawa kaki kami berlari keluar dari pabrik itu, menjauh
dari para robot keamanan. Terengah-engah kami berlari, dan tak sengaja menabrak
Pak Kuntoro yang juga sedang panik. "Ada apa ini??" Tanya Pak Kuntoro
kebingungan. Aku dan Derel hanya bisa terdiam. Sementara para robot keamanan
sudah mulai terlihat dari kejauhan, menuju ke sini.
"Adakah cara menghentikan sirine dan mode keamanannya, Pak?" Tanyaku.
"Itulah, kota ini sebenarnya adalah proyek pemerintah yang dipaksa selesai 3 bulan
yang lalu. Kota ini belum sempurna. Bahkan untuk masalah keamanan. 'Mode
Keamanan' sendiri akan otomatis mengaktivasi para robot keamanan untuk

"Selamat Datang di Kota Robot"

'menyerang' penyusup. Tapi sepertinya semua manusia di sini dianggap menjadi


penyusup. Dan saya khawatir jika para robot keamanan itu tidak bisa dihentikan!"
Para robot keamanan itu pun mulai berdatangan dengan senapan 'masa depan'-nya.
Tak ada pilihan lain lagi selain lari. Namun ada yang salah, Pak Kuntoro enggan
untuk ikut melarikan diri. "Ada apa, Pak? Jika kita tidak bergegas, maka hidup kita
akan berakhir di tangan robot-robot itu!" Sahutku.
"Ini, ini salah saya. Saya yang telah mendesain kota ini, saya pula yang harus
bertanggung jawab atas semua kejadian ini. Saya tidak bisa lari dari ini semua. Kalian
lah yang harus segera lari." Jawab Pak Kuntoro, lirih. "Ambil ini, ini adalah tiket
kalian untuk keluar dari kota ini." Kata Pak Kuntoro sambil memberikan 3 gelang
tangan digital. "Gelang ini bisa membuat kalian terlihat seperti robot. Sehingga kalian
bisa melarikan diri dengan aman." "Tapi, Pak, bagaimana dengan teman-teman
rombongan kami?" Tanya Derel. "Saya .. Saya khawatir hanya kalian berdua yang
masih 'bertahan' ." "Cepat! Pergilah!" Lanjut Pak Kuntoro.
Aku berani bertaruh, perasaan yang aku rasakan sekarang ini tiada yang bisa
menerkanya, bahkan batinku sendiri. Tak tega, sedih, kaget, menyesal, dan entah
masih banyak perasaan lagi yang tak terejakan. Terpaksa, Aku dan Dere akhirnya
memakai gelang digital itu masing-masing. Benar saja, hologram keluar dari alat itu,
dan membuat kami menyerupai robot.
Tak terasa, kaki kami sudah melangkah begitu jauh meninggalkan Pak Kuntoro di
sektor industri, hingga akhirnya kami tiba di areal dekat pintu gerbang. Semua
kosong, kecuali beberapa robot keamanan berjaga di depan gerbang raksasa itu.
Sepertinya, memang hanya Aku dan Derel yang selamat. Tapi dugaanku salah, ketika
Derel melihat 2 orang, manusia, berlari dari arah belakang kami. "Adi, lihat itu! Itu!
Itu! Mischa dan Palep! Mereka selamat!!!" Kami pun melepas gelang digital kami dan
melambaikan tangan agar mereka dapat menyadari rupaku dan Derel.
"Kalian?? Kalian selamat?? Dari mana saja kalian??" Tanya Mischa terengah-engah.
"Tidak ada waktu untuk bercengkerama, para robot keamanan mengejar kami sedari
tadi dengan senapan canggihnya. Kita harus bergegas!" Tegas Pahlevi. Tanpa sadar,
"Selamat Datang di Kota Robot"

para robot keamanan dari arah gerbang, mendeteksi keberadaan kami. Kondisi
bertambah buruk saat robot keamanan lainnya pun berdatangan dari arah kota. "Pakai
ini, gelang ini bisa membuatmu menyerupai robot, sehingga para robot itu tidak dapat
mendeteksimu lagi." Ujar Derel. "Tapi, ini hanya ada 3, sedangkan kita ada 4 orang."
Kata Mischa.
"Sebenarnya, ini semua salahku, ideku. Aku mengajak Adi untuk mengambil console
game terbaru dari sektor industri. Dan saat kami menyentuh barangnya, tiba tiba mode
keamanan para robot menjadi aktif dan membuat semua kekacauan ini." "Kalian yang
harus selamat, ini semua bukan salah kalian. Ini salahku. Maafkan aku." Tangis Derel.
"Tidak! Kita tidak bisa pergi! Tidak tanpa kamu Derel!" Teriak Aku dan Mischa
bersautan. "Em.. teman-teman, para robot keamanan itu sudah mulai dekat!" Ujar
Pahlevi.
Tanpa aba-aba, Derel pun dengan cepat memakaian gelang digital itu ke tanganku,
Mischa, dan Pahlevi. "Hai kalian para robot!!! Aku disini!!! Aku manusia!! Aku
penyusup!!!" Teriak Derel seraya mengundang lebih banyak robot berdatangan.
"Cepat kalian lari!!! Sampaikan salamku pada orangtuaku.." lanjut Derel. Badanku
lemas seketika, namun tangan Pahlevi dan Mischa menggiringku berlari ke arah
gerbang.
"Derel!!!" Teriakku, walau Derel sudah tidak terlihat lagi, tertutupi kerumunan robot
penjaga. Yang aku dengar, hanyalah suara tembakan senapan beberapa kali. Ingin Aku
berteriak lagi, tapi teriakanku hanyalah membakar abu.
Akhirnya kami dapat keluar dari kota neraka ini. Walau tanpa Derel. Entah, Aku
masih tidak bisa menerka bagaimana bisa perjalanan tur yang luar biasa, seketika
berubah menjadi "neraka" dalam beberapa detik. Aku menyesal saat kembali teringat
akan kata-kata Ibuku sebelum berangkat. Mungkin itulah akibatnya, aku terlalu
mengindahkan kata-kata Derel, daripada kata Ibuku sendiri.
Hanya ada penyesalan, dan tangis, yang aku sisakan hari ini.
Tamat.
"Selamat Datang di Kota Robot"