Anda di halaman 1dari 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Praktikum yang dilakukan pada hari Selasa, tanggal 24 Maret 2015 adalah
tentang Uji Chi-Square (). Praktikum ini bertujuan untuk membuktikan perbandingan
menurut hukum Mendel, menghitung 2 untuk menguji data hasil pengamatan, serta dapat
menginterpretasikan nilai 2 setelah dibandingkan dengan nilai 2 pada tabel.
Dalam genetika chi-square (chi-kuadrat) sering kali digunakan untuk menguji
apakah data yang diperoleh dari suatu percobaan itu sesuai dengan ratio yang diharapkan atau
tidak. Pada suatu percobaan, jarang sekali memperoleh data yang sesuai dengan apa yang
diharapkan (secara teoritis), hampir selalu terjadi penyimpangan. Penyimpangan yang kecil,
relatif lebih dapat diterima dari pada penyimpangan yang besar. Sekarang yang menjadi
pertanyaan adalah seberapa besar penyimpangan itu dapat diterima dan seberapa sering
terjadinya atau berapa besar peluang terjadinya, dan jawabannya dapat dicari dengan uji X 2
(Campbell, Neil A. 2002).
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai
berikut:
1. 439 ungu, 169 putih (monohibrid)
Fenotip
Genotip
Observasi (O)
E
d = O-E
= d2 / E
Ungu (3)
A-439
x 608 = 456
-17
0,63
Putih (1)
Aa
169
x 608 = 152
17
1,90
Jumlah
608
608
2,53
2
Nilai X yang dihitung adalah 2,53. Persilangan dengan perbandingan 3:1 memiliki 2
kategori sehingga nilai derajat besar (db) = 2-1 = 1, sedangkan nilai X 2 tabel adalah 3,84
karena nilai X2 hitung (2,53) < X2 tabel pada p = 0,05 maka sesuai kesepakatan data hasil
percobaan dapat diterima atau sesuai dengan teori perbandingan yaitu 3:1.
2. 283 ungu, 261 kuning (monohibrid)
Fenotip
Genotip
Observasi (O)
E
d = O-E
= d2 / E
Ungu (3)
A-283
x 544 = 408
-125
38,29
Kuning (1)
Aa
261
x 544 = 136
-80
47,05
Jumlah
608
608
85,34
2
Nilai X yang dihitung adalah 85,34. Persilangan dengan perbandingan 3:1 memiliki 2
kategori sehingga nilai derajat besar (db) = 2-1 = 1, sedangkan nilai X 2 tabel adalah 3,84
karena nilai X2 hitung (85,34) > X2 tabel pada p = 0,05 maka sesuai kesepakatan data
hasil percobaan ditolak atau tidak dapat diterima (tidak sesuai dengan teori
perbandingan yaitu 3:1).
3. 499 ungu, 403 kuning (dihibrid, epistasi)
Fenotip

Genotip

Observasi (O)

d = O-E

= d2 / E

Ungu (9)
A-499
9/16 x 902 = 507,4
-8,4
0,14
Kuning (7)
Aa
403
7/16 x 902 = 394,6
8,4
0,18
Jumlah
902
902
0,32
Nilai X2 yang dihitung adalah 0,32. Persilangan dengan perbandingan 9:7 memiliki 2
kategori sehingga nilai derajat besar (db) = 2-1 = 1, sedangkan nilai X 2 tabel adalah 3,84
karena nilai X2 hitung (0,32) < X2 tabel pada p = 0,05 maka sesuai kesepakatan data hasil
percobaan dapat diterima atau sesuai dengan teori perbandingan yaitu 9:7.
4. 340 merah bulat, 119 merah keriput, 90 kuning bulat, 37 kuning keriput
Fenotip
Merah

Genotip
A--

Observasi (O)
E
340
9/16 x 586 = 326,6

d = O-E
3,4

= d2 / E
0,55

bulat (9)
Merah

Aa

119

3/16 x 586 = 109,9

9,1

0,75

keriput (3)
Kuning

Su--

90

3/16 x 586 = 109,9

-19,9

3,6

bulat (3)
Kuning

su su

37

1/16 x 586 = 36,6

0,4

0.004

keriput (1)
Jumlah
586
586
4,9
Nilai X2 yang dihitung adalah 4,9. Persilangan dengan perbandingan 9:3:3:1 memiliki 4
kategori sehingga nilai derajat besar (db) = 4-1 = 3, sedangkan nilai X 2 tabel adalah 7,82
karena nilai X2 hitung (4,9) < X2 tabel pada p = 0,05 maka sesuai kesepakatan data hasil
percobaan dapat diterima atau sesuai dengan teori perbandingan yaitu 9:3:3:1.
Menurut Suryo (2008), pada salah satu percobaan Mendel, Mendel menyilangkan
tanaman kacang ercis yang tinggi dengan yang pendek. Tanaman yang dipilih adalah tanaman
galur murni, yaitu tanaman yang jika menyerbuk sendiri tidak akan menghasilkan tanaman
yang berbeda dengannya. Dalam hal ini tanaman tinggi akan tetap menghasilkan tanaman
tinggi. Begitu juga tanaman pendek akan selalu menghasilkan tanaman pendek. Dengan
menyilangkan galur murni tinggi dengan galur murni pendek, Mendel mendapatkan tanaman
yang semuanya tinggi. Selanjutnya, tanaman tinggi hasil persilangan ini dibiarkan menyerbuk
sendiri. Ternyata keturunannya memperlihatkan nisbah (perbandingan) tanaman tinggi
terhadap tanaman pendek sebesar 3 : 1.
Berdasarkan teori di atas dapat dilihat bahwa persilangan monohibrid menurut
hukum Mendel mempunyai rasio perbandingan 3:1. Pada hasil perhitungan monohibrid 1,
hasilnya telah sesuai dengan teori yang ada terbukti dengan diterimanya H 0. Namun, untuk
perhitungan monohibrid 2, hasilnya belum sesuai dengan teori yang ada dengan ditolaknya
H0. Rasio perbandingan yang ditunjukkan pada perhitungan monohibrid 2 ini justru 1:1.

Rasio 1:1 ini timbul dikarenakan terjadi penyimpangan-penyimpangan terhadap hukum


Mendel 1.
Selain persilangan monohibrid, Mendel juga melakukan persilangan dihibrid,
yaitu persilangan yang melibatkan pola perwarisan dua macam sifat seketika. Salah satu di
antaranya adalah persilangan galur murni kedelai berbiji kuning-halus dengan galur murni
berbiji hijau-keriput. Hasilnya berupa tanaman kedelai generasi F1 yang semuanya berbiji
kuning-halus. Ketika tanaman F1 ini dibiarkan menyerbuk sendiri, maka diperoleh empat
macam individu generasi F2, masing-masing berbiji kuning-halus, kuning-keriput, hijau-halus,
dan hijau-keriput dengan nisbah 9 : 3 : 3 : 1 (Suryo. 2008).
Pada perhitungan dihibrid dengan hasil persilangan 340 merah bulat, 119 merah
keriput, 90 kuning bulat, dan 37 kuning keriput setelah diuji dengan menggunakan uji square
hasilnya telah sesuai dengan rasio perbandingan Mendel yaitu 9: 3: 3: 1 yang berarti H 0
diterima. Untuk persilangan dihibrid kedua yaitu dihibrid epistasis, dari hasil perhitungan
diperoleh perbandingan 9:7. Walaupun perbandingannya tidak sesuai dengan hukum Mendel,
namun H0 tetap diterima. Hal ini disebabkan karena dalam kasus ini yang digunakan adalah
dihibrid epistasis. Epistasis merupakan salah satu contoh kasus penyimpangan semu hukum
Mendel.
Menurut Suryo (2008), penyimpangan semu hukum Mendel merupakan bentuk
persilangan yang menghasilkan rasio fenotipe yang berbeda dengan dasar dihibrid menurut
hukum Mendel. Meskipun tampak berbeda, sebenarnya rasio fenotipe yang diperoleh
merupakan

modifikasi

dari

penjumlahan

rasio

fenotipe

hukum Mendel

semula.

Penyimpangan semu ini terjadi karena adanya 2 pasang gen atau lebih saling memengaruhi
dalam memberikan fenotipe pada suatu individu. Ciri-Ciri Penyimpangan Semu Hukum
Mendel yaitu:
1. Rasio fenotip yang dihasilkan berbeda dengan hukum Mendel
2. Adanya sifat-sifat tertentu pada gen yang menyebabkan perbedaan hasil pada fillial 2
3. Adanya interaksi antar gen
Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa:

Persilangan monohibrid akan menghasilkan rasio 3:1


Persilangan dihibrid akan menghasilkan rasio 9: 3: 3: 1
Hukum Mendel tidak selalu bersifat tetap terkadang dijumpai penyimpanganpenyimpangan tertentu.

Daftar Pustaka

Campbell, Neil A. 2002. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga


Suryo. 2008.Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Pres.