Anda di halaman 1dari 8

BAB II

PEMBAHASAN
A. SURAT PERMINTAAN VISUM
Pada Surat Permintaan Visum et Repertum (SPV) tertulis
tanggal19 Desember 2013. Surat permintaan diterima pada tanggal19
Desember

2013

pukul

19.25

WITA

oleh

dokter

Forensik

RS.Bhayangkara Mappaodang.

B. Multiple Cause of Damage


Damage

: Kerusakan jaringan kulit, pembuluh

darah, lemak, dan otot.


Penyebab damage langsung (A-1): Luka iris pada dahi kanan
Penyebab yang Mendasari (A-2) : Trauma benda tajam

C. Hasil Pemeriksaan.
Tampak satu buah luka terbuka pada dahi kanan dengan ukuran
panjang tiga koma lima sentimeter dan lebar nol koma enam
sentimeter. Sudut pertama luka terletak dua koma lima sentimeter
sebelah kanan garis tengah tubuh dan dua koma lima sentimeter dari
garis mendatar melewati kedua mata. Sudut pertama runcing. Sudut
kedua luka terletak tiga koma lima sentimeter sebelah kanan garis
tengah tubuh dan satu koma lima sentimeter dari garis mendatar yang
melewati kedua mata. Sudut kedua runcing. Garis batas luka
bentuknya teratur dan tepi rata. Tebing luka rata dan terdiri atas
jaringan ikat, lemak, serta otot. Jembatan jaringan tidak ada. Dasar
luka terdiri atas jaringan otot. Didapatkan perdarahan aktif. Daerah di
sekitar garis batas luka tidak didapati memar.
Sesuai dengan teori, Luka merupakan kerusakan atau hilangnya
hubungan antar jaringan (discontinuous tissue) seperti jaringan kulit,
jaringan lunak, jaringan otot, jaringan pembuluh darah, jaringan saraf
dan tulang.1
Luka yang diakibatkan oleh benda tajam dapat dibedakan dari
luka yang disebabkan oleh benda lainnya; yaitu dari keadaan sekitar
luka yang tenang, tidak ada luka lecet atau luka memar, tepi dan
dinding

luka yang rata, dan dari sudut-sudutnya yang runcing

seluruhnya atau hanya sebagian yang runcing serta tidak adanya


jembatan jaringan. 2,3
Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka
seperti ini adalah benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis
maupun runcing, yang bervariasi dari alat-alat seperti pisau, golok, dan
sebagainya hingga keping kaca, gelas, logam, sembilu, bahkan tepi
kertas atau rumput.3
Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau
sayat (incised Wound), luka tusuk (Stab Wound) dan luka bacok (Chop
Wound). 4
Pada kasus ini, luka yang ditemukan adalah luka iris atau sayat
(incised Wound). Luka iris adalah luka karena alat yang tepinya tajam
dan timbulnya luka oleh karena alat ditekan pada kulit dengan
kekuatan relatif ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit. Contoh
alat : pisau, pecahan kaca, pisau silet, pedang, potongan seng. 4,5,6
Karakteristik luka iris :

Pinggir luka rata

Sudut luka tajam

Rambut ikut terpotong

Jembatan jaringan ( -)

Biasanya mengenai kulit, otot, pembuluhdarah, tidak sampai tulang.


Bentuk Luka Iris:
1. Bila sejajar arah serat elastic/otot luka berbentuk celah
2. Bila tegak lurus arah serat elastic/otot luka berbentuk menganga
3. Bila miring terhadap serat elastic / otot luka berbentuk asimetrik.

Luka dapat dibagi menjadi tiga sesuai derajat ringan beratnya


luka tersebut yaitu luka ringan, luka sedang dan luka berat. Luka
ringan adalah luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
dalam menjalankan pekerjaan jabatan/pekerjaan mata pencaharian.
Pada kasus ini, ditemukan luka iris pada bagian dahi kanan yang
sesuai

dengan

gambaran

akibat

persentuhan

dengan

benda

tajam.Luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau halangan dalam


menjalankan pekerjaan jabatannya sebagai siswa (pelajar) sehingga
termasuk sebagai luka ringan.
Sebagai tambahan, luka sedang adalah luka yang dapat
menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan
jabatan/pekerjaan

mata

pencaharian

untuk

sementara

waktu.

Sedangkan luka berat pula adalah luka yang:


Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan
sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut.
Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau
pekerjaan pencaharian.
Kehilangan salah satu panca indera.
Mendapat cacat berat.
Menderita sakit lumpuh.
Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih.
Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan.
Dan pada kasus ini tidak didapatkan luka sedang maupun luka
berat lainnya yang memenuhi kriteria yang telah disebutkan.
D. Diagnosis dan Pemeriksaan
4

Diagnosis dibuat secara klinis dan anamnesis tentang riwayat


dapat membantu penegakan diagnosis dan terapi lebih lanjut.

E. Penatalaksanaan
Pembersihan Luka, penjahitan luka sebanyak lima jahitan,
penyuntikan anti tetanus nol koma lima miligram intramuskular,
pemberian antibiotik cefadroxil lima ratus miligram dua kali sehari,
pemberian anti nyeri asam mefenamat lima ratus miligram tiga kali
sehari
F. Prognosis
Sembuh, baik jika tanpa komplikasi
Kesimpulan
Dari fakta diatas, penyidik dapat menentukan kualifikasi luka
berdasarkan ilmu pengetahuan Kedokteran Forensik, yang hanya baru
dipahami setelah mempelajari pasal-pasal dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana, yang bersangkutan dengan Bab XX (Tentang Penganiayaan),
terutama pasal 351 dan pasal 352; dan Bab IX (Tentang Arti Beberapa Istilah
Yang Dipakai Dalam Kitab Undang-Undang), yaitu pasal 90.
Pasal 351
1. Penganiayaan dihukum dengan pidana penjara paling lama 2
tahun 8 bulan atau pidana paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.
2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka, yang bersalah diancam
pidana penjara paling lama 5 tahun.

3. Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling


lama 7 tahun.
4. Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 352
1.

Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka


penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, diancam
sebagai penganiayaan ringan denga pidana penjara paling lama 3
bulan atau denda paling banyak

empat ribu lima ratus rupiah.

Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan


kejahatan itun terhadap orang yang bekerja padanya, atau menjadi
bawahannya.
2.

Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 90
Luka berat berarti :
Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan
sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut.
Tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas

jabatan

atau pekerjaan pencaharian.


Kehilangan salah satu panca indera.
Mendapat cacat berat.
Menderita sakit lumpuh.
Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih.
Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan.

Dari pasal-pasal tersebut dapat dibedakan 3 jenis tindak pidana, yaitu:


1. Penganiayaan ringan
2. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat
3. Penganiayaan yang mengakibatkan kematian
Oleh karena istilah penganiayaan merupakan istilah hukum yang
berarti : dengan sengaja melukai atau menimbulkan perasaan nyeri pada
seseorang, maka Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter tidak dapat
mencantumkan istilah penganiayaan, karena penentuan sengaja atau tidak
bukanlah kompetensi dari dokter. Oleh karena itu, dokter hanya perlu
mencantumkan kualifikasi derajat luka sebagai petunjuk bagi hakim serta
penyidik untuk menentukan jenis pidananya, apakah penganiayaan ringan
atau penganiayaan yang menimbulkan luka berat.
Berdasarkan dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Ditemukan
satu buah luka terbuka pada daerah kepala bagian Dahi kanan dengan
ukuran panjang tiga koma lima sentimeter dan lebar nol koma enam
sentimeter. Ujung sebelah luar luka terletak dua koma lima sentimeter
sebelah kanan garis tengah tubuh dan dua koma lima sentimeter dari atas
garis mendatar melewati kedua mata. Garis batas luka bentuknya teratur, tepi
rata dan kedua sudutnya runcing. Tebing luka rata dan terdiri atas jaringan
ikat, lemak, serta otot. Jembatan jaringan tidak ada. Dasar luka terdiri atas
jaringan otot dan perdarahan aktif. Daerah di sekitar garis batas luka tidak
didapati memar.
Dari hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa derajat luka yang
terjadi pada korban tergolong dalam derajat luka ringan dimana luka yang
dialami korban hanya menyebabkan rasa nyeri dan korban mendapatkan
perawatan berupa jahitan sebanyak lima jahitan

Luka
menjalankan

lris

tidak

pekerjaan

menimbulkan

penyakit

jabatan/pekerjaan

atau

mata

halangan

pencaharian

dalam
yang

menjadikannya sebagai luka ringan yang diakibatkan oleh persentuhan tubuh


dengan benda tajam.