Anda di halaman 1dari 34

SUPERVISI KEPALA SEKOLAH,

KOMPETENSI PEDAGOGIK,
DAN
GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

PALEMBANG 2012

24
Supervisi Kepala Sekolah
Penerapan
Kata penerapan (Ebta Setiawan 2007) berasal dari bahasa Inggris application (kata
benda) yang berarti 1). Proses, cara, perbuatan menerapkan; 2). Pemasangan; 3).
Pemanfaatan; perihal mempraktikkan (Ebta Setiawan 2011). Dari pengertian kata
penerapan tersebut, dapat difahami bahwa penerapan mengacu pada peoses, cara,
perbuatan menerapkan atau perihal sesuatu yang mengandung manfaat yang baik dan
nilai praktis.

Supervisi /Pengawasan Kepala Sekolah


Pengawasan atau supervisi merupakan dua istilah yang dapat dipertukarkan antara satu
sama lain jika membicarakan kepengawasan dalam pendidikan. Dalam konteks
pendidikan di Indonesia digunakan istilah pengawas, hanya saja dalam konteks
keilmuan berdasarkan literatur memakai istilah supervisor atau supervision (Rivai
2009, hlm. 824).
Supervisi adalah suatu program yang berencana untuk memperbaiki pengajaran
(supervision is a planned program for the improvement of instruction), (ahmad Rohani,
1991) dalam Rivai (2009, hlm. 824). Supervisi adalah segala usaha dari petugaspetugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas pendidikan lainnya untuk
memperbaiki pengajaran, mengembangkan pertumbuhan guru- guru, menyelesaikan dan
merevisi tujuan pendidikan, bahan- bahan pengajaran, metode mengajar dan penilaian
pengajaran.
Pengertian supervisi (pengawasan) menurut beberapa ahli yang terdapat dalam
Ahmad Rohani (1991) adalah sebagai berikut;
1) Menurut Alexander dan Sayrol, supervisi adalah suatu program inserviceeducation dan usaha memperkembangkan kelompok (group) secara bersama.

25
2) Menurut

Boardman,

supervisi

adalah

suatu

usaha

menstimulasi,

mengkoordinasi dan membimbing secara kontinyu pertumbuhan guru-guru


sekolah, baik secara individual maupun kolektif, agar lebih mengerti, dan lebih
efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran, sehingga dengan
demikian mereka mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam masyarakat
modern.
3) Mc Nemey melihat supervisi sebagai suatu proses penilaian. Ia mengatakan,
supervisi adalah prosedur memberi arah serta mengadakan penilaian secara
kritis terhadap proses pengajaran.

Dari beberapa definisi tersebut, tampak adanya perbedaan pandangan anatara


yang satu dangan yang lainnya. Hal ini terjadi karena titik pandang mereka juga
berbeda-beda.
Namun demikian, jika diperhatikan secara seksama, terdapat benang merah yang
sifatnya mengikat dalam meningkatkan mutu pembelajaran dengan tidak meninggalkan
unsur-unsur:
1) tujuan
2) situasi belajar-mengajar
3) supervisor.
Ketiga unsur inilah yang menjadi dasar kekuatan supervisi sebagai kegiatan
pengawasan dalam pendidikan dan pengajaran di lingkungan persekolahan. Aktivitas
supervisi atau pengawasan di lingkungan persekolahan bertujuan untuk mengefektifkan
proses administrasi pembelajaran, yang melibatkan semua unsur-unsur yang ada dalam
sekolah. Mulai dari guru-guru, kepala sekolah dan juga personel lain di sekolah yang
bertugas di lingkungan persekolahan itu.

26
Pelaksanaan kepengawasan (supervisi) oleh kepala sekolah terhadap gurugurunya di sekolah sangatlah penting, guna mencapai tujuan sekolah. kepala sekolah
bertanggung jawab atas terlaksananya semua kegiatan di sekolah, kepala sekolah
bertanggung jawab terhadap terlaklaksannya proses belajar mengajar yang dilaksanakan
guru, kepala sekolah bertanggung jawab terhadap terlaksananya semua program
kegiatan disekolahnya. Untuk melihat sejauh mana tanggung jawab kepala sekolah
tersebut dalam pelaksanaan supervisi, maka akan dibahas terlebi dahulu apa yang
dimaksud dengan pengertian supervisi.
Kepengawasan (supervisi) menurut Kirkpatrick (1987, hlm. 8) berasal dari
bahasa latin yaitu: supervidere, super berarti di atas, dan videre berarti melihat. Secara
harfiah supervisi artinya adalah pengawas. Kalau arti di atas digabung maka supervisi
berarti melihat dari atas yang dilakukan oleh pihak atasan (orang yang memilik
kelebihan) terhadap perwujudan kegiatan dari hasil kerja bawahan.
Pengertian ini membawa konsekuensi disamakannya pengertian pengawasan
dalam pengertian lama yaitu berupa inspeksi, pengawasan sebagai kegiatan kontrol
yang otoriter. Pengawasan berarti kegiatan menyelidiki kesalahan para bawahan (guru)
dalam melaksanakan instruksi atau perintah serta peraturan- peraturan dari atasan.
Kemudian Kirpatrick (1987, hlm. 8) mengemukakan kepengawasan (supervisi)
adalah tingkat pertama dari manajemen pada organisasi. Supervisi yang efektif adalah
proses yang secara cerdik memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber lainya untuk
mencapai tujuan organisasi. Dari semua organisasi, ada manajer dan karyawan yang
bukan manajer. Supervisor mempunyai wewenang formal untuk mengatur dan
mengawasi sumber-sumber personil yang bukan manajer, sebaliknya yang bukan
manajar tidak mempunyai wewenang formal atas orang lain meskipun mereka
mempunyai tanggung jawab untuk untuk menunjukkan hasil pekerjaan mereka dan
diminta pertanggung jawaban untuk menunjukkan hasil pekerjaan mereka dan diminta

27
pertanggung jawaban untuk hasil yang mereka capai. Oleh karena itu supervisi adalah
manajemen yang berhubungan dengan pemimpin.
Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, pengertian kepengawasan
(supervisi) berupa inspeksi tidak lagi sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini.
Supervisi pendidikan dalam hubungannya dengan kepemimpinan yang demokratis,
mengandung pengertian lain, kepengawasan (supervisi) pendidikan diartikan sebagai
pelayanan yang disediakan oleh pemimpin untuk membuat stafnya, atau personal yang
semangkin cakap sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan
ilmu pendidikan khususnya. Di sekolah apakah itu SD, SMP, SMU kepala sekolah
membantu guru-gurunya agar mampu meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar.
Harris (1975, hlm. 2), menyatakan defenisi kepengawasan (supervisi) yang
dikemukakan para ahli supervisi adalah suatu fungsi yang terdapat pada berbagai
tingkat dan bentuk organisasi sekolah. Pengawasan merupakan mata rantai terakhir
dalam rangkaian fungsi manajemen dan membawah putaran kegiatan manajemen
menjadi sebuah aktifitas yang berlanjut secara terus menerus. Burton dan Brueekner
(1996, hlm. 11) mengemukakan supervisi adalah sebuah pekerjaan yang memiliki
teknik keahlian yang biasanya ditujukan pada proses belajar dan peningkatan secara
kerjasama pada semua faktor yang berakibat pada pertumbuhan dan perkembangan
siswa. Menurutnya sistem sekolah semuanya dirancang, sudah tentu untuk tujuan akhir
dari ransangan belajar dan pertumbuhan siswa, dan supervisi memberikan keahlian dan
perhatian khusus untuk perkembangan dan pertumbuhan siswa.
Masih banyak lagi defenisi tentang kepengawasan (supervisi), tetapi yang
dikutip diatas dianggap dapat mewakili pandangan baru tentang supervisi yang
berkaitan dengan pemahaman tentang bagaimana belajar itu terjadi. Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi pendidikan, perkembangan dalam metodelogi pendidikan
dan berbagai sarana tentang perubahan dalam materi dan organisasi kurikulum.

28
Pandangan baru mengenai pengertian kepengawasan (supervisi) mencakup ideide pokok seperti, menggalakkan pertumbuhan propesional guru, mengembangkan
kepemimpinan demokratis, melepaskan energi, dan memecahkan masalah-masalah
belajar dan mengajar secara kreatif. Pendekatan baru tentang supervisi menekankan
pada peranan supervisi yaitu memberi bantuan, pelayanan atau jasa pada guru dengan
maksud untuk meningkatkan kemampuan guru. Seperti dikemukakan oleh alponso ,
Firth dan nevile (1981, hlm. 43), kepengawasan (supervisi) yang khusus ditujukan pada
pengajaran mempunyai tiga konsep utama yaitu (1) supervisi pengajaran harus langsung
mempengaruhi dan mengembangkan prilaku guru dalam mengelola proses belajar
mengajar,

(2)

perilaku

supervisi

membantu

guru

dalam

mengembangkan

kemampuannya harus didesain jelas, (3) tujuan akhir supervisi pengajaran adalah guru
semakin mampu memberikan fasilitator belajar bagi para siswanya. Adapun menurut
Jane Franseth: Today supervision is generally seen as leadership that encourages a
continuos involvement of all school personnel in a cooperative attempt to achieve the
most effective school program. (Pawlash, George. E. and Olivia, Peter F, 2008,
hlm.10).
Melalui bantuan dan pelayanan yang diberikan tujuan kepengawasan (supervisi)
adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Seperti yang dikemukakan oleh
Nawawi (1996, hlm. 105) bahwa tujuan kepengawasan (supervisi) pendidikan ialah
menilai kemampuan guru sebagai pendidik dan pengajar dalam bidang masing-masing,
guna membantu mereka melakukan perbaikan-perbaikan bilamana diperlukan dengan
menunjukkan kekurangan-kekurangannya agar diatasi dengan usaha sendiri. Dengan
kata lain kepengawasan (supervisi) bertujuan menolong guru-guru agar dengan
kesadarannya sendiri berusaha untuk berkembang dan tumbuh menjadi guru yang lebih
cakap dan lebih baik dalam menjalankan tugas-tugasnya.

29
Kemudian bafadal (1992, hlm. 2) mendefenisikan kepengawasan (supervisi)
adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya dalam
mengelola proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pengajaran.

Fungsi Kepengawasan (Supervisi) Kepala Sekolah


Adapun fungsi dari pengawasan pada manajerial sebuah instansi pendidikan adalah
1. Menghindari terjadinya penyimpangan program.
Dengan dilakukan pengawasan, maka program pendidikan yang ditetapkan pada
awal manajemen dapat berjalan berdasarkan perencanaan yang over all.
2. Meningkatkan kualitas kerja.
Dengan menerapkan kontrol manajemen, berarti juga menerapkan fungsi
pengawasan kerja, yang berdampak pada peningkatan kualitas kerja
3. Memperoleh umpan balik (feed back)
Lewat kontrol manajemen yang dilakukan, maka administrator pendidikan yang
melaksanakan kontrol akan memperoleh pengalaman dan penemuan-penemuan
kasus yang dapat dipergunakan sebagai bahan evaluasi yang nantinya dilakukan
penyempurnaan kegiatan kontrol.
4. Mengajak secara mendidik
Pengawasan manajemen juga dapat berfungsi sebagai terapan. Dengan control,
adminstrator pendidikan dapat menerapkan secara langsung dan tidak langsung,
secara efektif dan efisien, secara persuasif yang bersifat mendidik kepada para
personil program untuk memahami untuk maksud dan tujuan kegiatan yang
dilakukan.
5. Mengukur seberapa jauh pencapaian program pendidikan

30
Dengan mengetahui seberapa jauh tingkat ukur kemampuan dari manajemen
yang diterapkan maka akan dapat dilakukan proses peningkatan pada tindak
lanjutprogram manajemen selanjutnya

Fungsi kontrol (pengawasan pendidikan) sangat penting, karena erat kaitannya


dengan pelaksanaan dan hasil yang diharapkan oleh sistem pendidikan. Fungsi kontrol
pendidikan tetap mengacu dalam tiga hal, yakni berfungsi sebagai sensor, komparator,
dan aktivator.
Pada fungsi sensor, kontrol pendidikan itu mendayagunakan rencana pendidikan
sebagai ukuran yang dimaksudkan untuk mengukur pelaksanaan dan keberhasilan suatu
rencana pendidikan. Pada fungsi komparator bermaksud membandingkan antara hasil
pengukuran dan perencanaan pendidikan yang telah dikembangkan sebelumnya. Fungsi
aktivator dimaksudkan untuk mengarahkan tindakan manajerial bilamana terjadi suatu
perubahan dalam pelaksanaan sistem pendidikan. Dengan demikian fungsi-fungsi
tersebut erat kaitannya dengan kelancaran jalannya roda organisasi pendidikan, dan
ketercapaian hasil pelaksanaan sistem pendidikan sesuai dengan jenjangnya.
Fungsi kepengawasan adalah merupakan suatu kegiatan tetap yang sejenis
(mengenal, memantau, mengarahkan, menilai dan melaporkan) dalam suatu organisasi
yang menjadi tanggung jawab seseorang/badan. Adapun fungsi pengawasan

yang

dikembangkan Pengawas Pendidikan Agama Islam pada sekolah yaitu :


1.
2.
3.
4.
5.

penyusunan program pengawasan PAI;


pembinaan, pembimbingan,dan pengembangan profesi guru PAI;
pemantauan penerapan standar nasional PAI;
penilaian hasil pelaksanaan program pengawasan ; dan
pelaporan pelaksanaan tugas kepengawasan (permen menag RI no. 2 thn 2012,
tentang pengawas Madrasah dan pengawas pendidikan agama islam pada sekolah).

31
Tujuan Kepengawasan/Supervisi Kepala Sekolah
Tujuan kepengawasan kepala sekolah menurut Nawawi, (1996, hlm. 105) untuk
meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara menilai kemampuan guru sebagai
pendidikan dan pengajaran dalam bidang masing-masing guna membantu guru
melakukan perbaikan-perbaikan bilamana diperlukan dengan menunjukkan kekurangankekurangannya agar diatasi dengan usaha sendiri. Dengan kata lain menolong guru-guru
agar dengan kesadarannya sendiri berusaha untuk berkembang dan tumbuh menjadi
guru yang lebih cakap dan lebih baik dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Kemudian Bafadal (1992, hlm. 2) kepengawasan (supervisi) bertujuan
membantu guru-guru mengembangkan kemampuan mencapai tujuan pengajaran,
kepengawasan (supervisi) berarti membantu guru mengembangkan kemampuan
propesionalnya.
Bila diperhatikan ketiga tujuan kepengawasan (supervisi) kepala sekolah
terhadap guru maka secara umum tujuannya adalah: Membantu guru mengembangkan
kemampuannya mencapai tujuan pengajaran yang dicanangkan bagi muridnya,
membantu itu sendiri tidak saja berkenaan dengan aspek kognitif dan psikomotor
melainkan berkenaan juga dengan aspek efektifnya.
Sehubungan dengan tujuan tersebut, maka pelaksanaan program kepengawasan
(supervisi) yang baik harus mengandung kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan tujuan,
serta kebutuhan guru-guru terprogram agar tujuan dapat tercapai dengan efektif.
Kegiatan kepengawasan (supervisi) antara lain, kinjungan kelas, pembicaraan individu,
rapat dewan guru dan demontrasi mengajar.
Kepengawasan (Supervisi) pengajaran merupakan upaya membuat guru-guru
mengembangkan kemampuannyamencapai tujuan pengajaran. Dengan demikian,
kepengawasan (supervisi) berarti membantu guru mengembangkan kemampuan
profesionalnya. Hal serupa juga dikemukakan oleh Purwanto (1991, hlm.76),

32
kepengawasan (supervisi) adalah suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk
membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan
pekerjaan mereka secara afektif.
Bila kita perhatikan pengetian kepengawasan (supervisi) diatas maka secara
umum tujuan kepengawasan (supervisi) adalah membantu guru mengembangkan
kemampuannya mencapai tujuan pengajaran yang dicanangkan bagi muridgi murid,
bantuan itu sendiri tidak saja berkenaan dengan aspek kognitif dan psikomotor melaikan
berkenaan juga dengan aspek efektifnya.
Sehubungan dengan pengertian kepengawasan (supervisi), maka pelaksanaan
program kepengawasan (supervisi) yang baik harus mengandung kegiatan-kegiatan
yang sesuai dengan tujuan, serta kebutuhan guru-guru terprogram agar tujuan dapat
tercapai dengan efektif. Kegiatan supervisi itu antara lain, ialah kunjungan kelas,
pembicaraan individu, rapat dewan guru dan demontrasi mengajar.
Kepengawasan (supervisi) memegang peranan yang sangat penting bagi
pengembangan sikap dan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar, sebab
kepengawasan (supervisi) tidak hanya bermanfaat bagi peningkatan kualitas mengajar
guru itu sendiri, tetapi juga bagi efektifitas tujuan mengajar. Sutisna (1989 : 223)
menjelaskan kepengawasan (supervisi) sebagai bantuan dalam pengembangan situasi
belajar mengajar yang lebih baik.

Kompetensi Pedagogik Guru


Konsep Dasar Kompetensi Pedagogik Guru
Dalam literatur pendidikan seringkali dijumpai istilah-istilah ilmu mendidik dan
pendidikan atau istilah-istilah pedagogik (paedagogiek) dan pedagogi (paedagogie).
Istilah paedagogiek (bahasa Belanda) diterjemahkan dengan kata ilmu mendidik
atau ilmu tentang pendidikan. Pengertiannya ialah suatu uraian atau bahasan materi atau

33
teori mengenai apakah mendidik itu. Sedangkan pengertian ilmu mengandung arti
bahwa segala permasalahan yang harus tercakup dan dibicarakan telah masuk atau
dibahas di dalamnya, telah disusun secara teratur dan sistematis.
Istilah pedagogie (bahasa Belanda) diterjemahkan dengan kata pendidikan.
Istilah ini mengandung pengertian adanya suatu kegiatan atau keaktifan yang sedang
dilakukan yang berupa tindakan pendidikan seperti misalnya menasehati, menegur,
memberikan contoh dan sebagainya yang bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu.
Baik istilah pedagogiek maupun paedagogie, keduanya sudah diserap ke dalam
bahasa Indonesia dan ditulis dengan pedagogik dan pedagogi (djajadisastra et. al 1987,
hlm. 5).
Berkaitan dengan kompetensi pedagogik ini Allah Swt. berfirman:


Artinya: dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu
berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang
benar orang-orang yang benar!" Q.S. Al- Baqarah (2): 31.
Ayat di atas menerangkan tentang pembelajaran sebagaimana yang tersirat pada
kata allama, yang secara makna terdapat aktivitas pengajaran dari Sang Mahapengajar
yakni Allah Swt., dan Nabi Adam A.S. sebagai pembelajar. Dalam proses pembelajaran
tersebut bukan hanya melibatkan Adam A.S. saja sebagai subjek pembelajaran, akan
tetapi juga melibatkan malaikat sebagai subjek lain dari pembelajaran. Hal tersirat lain
yang dapat diungkapkan dari ayat tersebut adalah:

34
1.

Proses pembelajaran (pada kata allama/mengajarkan) dalam ayat


tersebut diatas melibatkan multi interaksi, yakni Allas Swt., sebagai Sang
MahaPengajar, manusia sebagai subjek pembelajar pertama dan utama dan malaikat

2.

juga tentunya sebagai subjek pembelajar kedua.


Penggunaan alat/media seperti nama-nama dari objek tertentu (dalam

kata al-asmaa/nama-nama).
3.
Penggunaan metode

tanya-jawab

untuk

pengujian

kemampuan

pembelajar yang bersangkutan (pertanyaan Allah Swt., pada kalimat anbiunii bi


asmaai haa-ulaa-i/ beritahukanlah aku mengenai nama-nama tersebut), dan
4.
Pengevaluasian terhadap Nabi Adam tentang asma-asma yang diajarkan
Allah kepadanya di hadapan malaikat sebagaimana dikemukakan Nata (2005, hlm.
186).

Keempat poin yang merupakan simpulan dari Q.S. Al- Baqarah (2): 31 di atas
memiliki relevansi dengan rincian standar kompetensi pedagogik guru Pendidikan
Agama Islam (PAI), baik yang dikemukakan oleh Sagala (2008) maupun pada rincian
yang terdapat pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 16
Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik guru dan kompetensi guru, yang
menjelaskan standar kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional (Aqib, 2008, hlm. 42).
Adapun

pengertian

kompetensi

pedagogik

adalah

kemampuan

dalam

pengelolaan peserta didik, meliputi (Sagala 2008):


1.
2.

3.
4.

pemahaman wawasan guru akan landasan dan filsafat pendidikan;


guru memahami potensi dan keberagaman peserta didik, sehingga dapat
didesain strategi pelayanan belajar sesuai keunikan masing-masing peserta
didik;
guru mampu mengembangkan kurikulum/silabus baik dalam bentuk dokumen
maupun implementasi dalam bentuk pengalaman belajar;
guru mampu menyusun rencana dan strategi pembelajaran berdasarkan standar
kompetensi dan kompetensi dasar;

35
5.
6.
7.

mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik dengan suasana dialogis


dan interaktif;
mampu memanfaatkan teknologi pembelajaran;
mampu melakukan evaluasi hasil belajar dengan memenuhi prosedur dan
standar yang dipersyaratkan.

Tuntutan atas berbagai kompetensi ini harus mendorong guru untuk memperoleh
informasi yang dapat memperkaya kemampuan agar tidak mengalami ketinggalan
dalam kompetensi keguruannya, terutama dalam kompetensi pedagogik. Semua hal
tersebut di atas merupakan komponen yang dapat menunjang terbentuknya kompetensi
pedagogik guru.
Kompetensi pedagogik tersebut, diduga dapat berpengaruh pada proses
pengelolaan pendidikan di kelas sehingga mampu melahirkan lulusan pendidikan yang
bermutu (Usman 2010, hlm. 9). Lulusan yang bermutu dapat dilihat pada hasil langsung
pendidikan dalam bentuk nilai yang dicapai siswa dan dapat juga dilihat dari perilaku
mereka di masyarakat.
Tuntutan atas berbagai kompetensi ini harus mendorong guru untuk memperoleh
informasi yang dapat memperkaya kemampuan agar tidak mengalami ketinggalan
dalam kompetensi keguruannya, terutama dalam kompetensi pedagogik. Semua hal
tersebut di atas merupakan komponen yang dapat menunjang terbentuknya kompetensi
pedagogik guru.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 16 Tahun 2007
tentang standar kualifikasi akademik guru dan kompetensi guru, menjelaskan standar
kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
sosial dan kompetensi profesional (Aqib, 2008, hlm. 42). Selanjutnya kompetensi
pedagogik (dalam Aqib, 2008, hlm. 42) yang harus dimiliki oleh guru Pendidikan
Agama Islam (PAI) meliputi:

36
1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial,
2.
3.
4.
5.

kultural, emosional dan intelektual


Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu
Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan

pembelajaran
6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimiliki
7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik
8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran
10. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran
Kesepuluh kompetensi inti dalam konteks kompetensi pedagogik guru dan guru
Pendidikan Agama Islam (PAI) khususnya dapat dirinci sebagai berikut:
1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial,
kultural, emosional dan intelektual:
Memahami karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan aspek fisik,

1.1.
1.2.
1.3.

intelektual, sosial-emosional, moral, spiritual, dan latar belakang sosial-budaya.


Mengidentifikasi potensi peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu
Mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik dalam mata pelajaran yang

1.4.

diampu
Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam mata pelajaran yang

diampu.
2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
2.1. Memahami berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
2.2.

mendidik terkait dengan mata pelajaran yang diampu


Menerapkan berbagai pendekatan strategi, metode, dan teknik pembelajaran

yang mendidik secara kreatif dalam mata pelajaran yang diampu


3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu
3.1. Memahami prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
3.2. Menentukan tujuan pembelajaran yang diampu
3.3. Menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan
3.4.

pembelajaran yang diampu


Memilih materi pembelajaran yang diampu yang terkait dengan pengalaman
belajar dan tujuan pembelajaran

37
3.5.

Menata materi pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih

dan karakteristik peserta didik


3.6. Mengembangkan indikator dan instrumen penilaian
4. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
4.1. Memahami prinsip-prinsip perancangan pembelajaran yang mendidik
4.2. Mengembangkan komponen-komponen rancangan pembelajaran
4.3. Menyusun rancangan pembelajaran yang lengkap, baik untuk kegiatan di dalam
4.4.

kelas, laboratorium, maupun lapangan


Melaksanakan pembelajaran yang mendidik di kelas, di laboratorium, dan di

4.5.

lapangan dengan memperhatikan standar keamanan yang dipersyaratkan.


Menggunakan media pembelajaran dan sumber belajar yang relevan dengan
karakteristik peserta didik dan mata pelajaran yang diampu untuk mencapai

4.6.

tujuan pembelajaran secara utuh.


Mengambil keputusan transaksional dalam pembelajaran yang diampu sesuai

dengan situasi yang berkembang.


5. Memanfaatkan teknologi informasi

dan

komunikasi

untuk

kepentingan

pembelajaran.
5.1. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran yang
diampu.
6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimiliki.
6.1. Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mendorong peserta didik
6.2.

mencapai prestasi secara optimal


Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mengaktualisasikan potensi

peserta didik, termasuk kreativitasnya.


7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik
7.1. Memahami berbagai strategi komunikasi yang efektif, empatik, dan santun
7.2.

secara lisan, tulisan dan/atau bentuk lain.


Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik dengan
bahasa yang khas dalam interaksi kegiatan/permainan yang mendidik yang
terbangun secara siklikal dari
(a) Penyiapan kondisi psikologis peserta didik untuk ambil bagian dalam
permainan melalui bujukan dan contoh,
(b) Ajakan kepada peserta didik untuk ambil bagian,
(c) Respons peserta didik terhadap ajakan guru, dan
(d) Reaksi guru terhadap respons peserta didik, dan seterusnya.

38
8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
8.1. Memahamai prinsip-prinsip penilaian dari evaluasi dan hasil belajar sesuai
8.2.

dengan karakteristik mata pelajaran yang diampu


Menentukan aspek-aspek proses dan hasil belajar untuk dinilai dan dievaluasi

8.3.
8.4.
8.5.

sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang diampu.


Menentukan proses penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
Mengembangkkan instrumen penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
Mengadministrasikan
penilaian
proses
dan
hasil belajar
secara

berkesinambungan dengan menggunakan berbagai instrumen


8.6. Menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk berbagai tujuan
8.7. Melakukan evaluasi pproses dan hasil belajar
9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran
9.1. Menggunakan informasi hasil penialian dan evaluasi uuntuk menentukan
9.2.

ketuntasan belajar
Menggunakan informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk merancang program

9.3.
9.4.

remedial dan pengayaan


Mengomunikasikan hasil penilaian dan evaluasi kepada pemangku kepentingan
Memanfaatkan informasi hasil penilaian dan evaluasi pembelajaran untuk

meningkatkan kualitas pembelajaran


10. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran
10.1. Melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan
10.2. Memanfaatkan hasil refleksi untuk perbaikan dan pengembangan pembelajaran
dalam mata pelajaran yang diampu
10.3. Melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
dalam mata pelajaran yang diampu.

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)


Guru (kata benda) adalah orang yang pekerjaannya (mata pencariannya, profesinya)
mengajar (KBBI offline Versi 1.2. http://ebsoft.web.id). Selanjutnya, Vembriarto
mengartikan guru sebagai pendidik profesional di sekolah dengan tugas utama mengajar
(1994, hlm. 21). Dalam bahasa Arab sebutan guru dikenal dengan beberapa istilah,
seperti al-alim (jamaknya ulama) yang berarti orang yang mengetahui atau al-muallim,
yang berarti guru. Selain itu ada pula yang menggunakan istilah al-mudarris untuk arti
orang yang mengajar atau orang yang memberi pelajaran (Ali dan Muhdlor, 1998, hlm.

39
1769). Selain itu terdapat pla istilah ustadz yang sepadan dengan kata al-alim yang
berarti orang yang pandai atau cendikia (al- Munawwir 1997, hlm. 398).
Menurut beberapa ahli, guru adalah orang yang terhormat di masyarakat,
memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa, melaksanakan pendidikan pada tempattempat tertentu secara formal maupun tidak formal (Djamarah 2010, hlm. 31). Guru
merupakan pendidik profesional yang secara definisi sebutan guru dalam UndangUndang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) termasuk
dalam genus pendidik (Danim 2010, hlm. 17).
Guru juga diartikan sebagai suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus
sebagai guru dan tidak dapat digantikan oleh sembarang orang di luar bidang
pendidikan (Uno 2011, hlm. 15). Menurut Uno, guru perlu mengetahui dan dapat
menerapkan prinsip-prinsip mengajar agar guru dapat melaksanakan tugas mendidik
dan mengajar secara profesional.
Ada juga yang menyebutkan bahwa guru adalah orang yang dipanggil guna
mendampingi siswa untuk/ dalam belajar. Karena itu guru dituntut untuk selalu mencari
tahu bagaimana seharusnya siswa dapat belajar, kendala- kendala apa yang menghambat
mereka belajar, dan mencarikan solusi sehingga hambatan-hambatan belajar siswa
tersebut dapat teratasi (Kunandar 2007, hlm. 48).
Pendapat lain menyatakan, guru adalah orang yang mempunyai banyak tugas.
Setidaknya ada tiga bidang tugas seorang guru, yakni tugas dalam bidang profesi yang
menuntut keahlian kusus, tugas kemanusiaan yang berkaitan dengan bagaimana guru
sekaligus dapat menjadi orangtua kedua siswa, dan tugas kemasyarakatan yang
berkaitan dengan keteladanan guru di masyarakat (Usman 2010, hlm. 6).
Menurut Usman seperti dikutip Muhaimin (2011, hlm. 181) mengatakan bahwa
guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang

40
memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Lebih jauh menurut Usman, suatu profesi
memiliki persyaratan tertentu, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

menuntut adanya keterampilan yang mendasarkan pada konsep dan teori ilmu
pengerahuan yang mendasar;
menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan profesinya;
menuntut tingkat pendidikan yang memadai;
menuntut adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang
dilaksanakan;
memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan;
memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya;
memiliki objek tetap seperti dokter dengan pasiennya, guru dengan peserta didiknya,
dan;
diakui masyarakat karena memang diperlukan jasanya di masyarakat.

Guru profesional
Secara holistik guru berada pada tingkatan tertinggi dalam Sistem Pendidikan
Nasional (SPN). Guru memiliki otonomi yang kuat sehubungan dengan tugasnya yang
sangat banyak terkait dengan kedinasan dan profesinya di sekolah. Guru adalah orang
yang tidak terisolasi dari perkembangan sosial masyarakatnya, dan guru adalah orang
yang bertugas mewarskan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada siswa (Sagala 2011,
hlm. 11-12).
Istilah yang sangat melekat pada predikat guru adalah profesional. Profesional
berasal dari kata profession. Profession mengandung arti yang sama dengan occupation
(Arifin 2000, hlm. 105), atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh
melalui pendidikan dan pelatihan khusus. Dengan kata lain, profesi dapat diartikan
sebagai suatu bidang keahlian yang khusus untuk menangani lapangan kerja tertentu
yang membutuhkan. Menurut Tafsir, profesionalisme adalah faham yang mengajarkan
bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional (1994, hlm. 107).
Kunandar mengemukakan pula bahwa profesionalisme berasal dari kata profesi
yang artinya suatu bidang yang ingin atau ditekuni oleh seseorang. Profesi juga
diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan

41
dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Jadi
profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu (Kunandar
2007, hlm. 45).
Suparlan menyebutnya dengan istilah profesional. Menurutnya profesional
adalah menunjukkan kepada dua hal yakni orang atau penampilan atau kinerja orang itu
dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya (Suparlan 2006, hlm. 71). Sudjana dalam
Usman mengungkapkan bahwa profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat
dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang
dilkakukan oleh mereka yang karena tidak memperoleh pekerjaan lain (Usman 2000,
hlm. 14).
Mencermati pengertian- pengertian profesional yang dikemukakan banyak tokoh
di atas, maka pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya. Karena suatu
profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya. Karena suatu profesi memerlukan
kompetensi dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesi tersebut. Dengan kata
lain, pekerjaan profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka
yang khusus dipersiapkan untuk itu (Uno 2011, hlm. 15) Dengan demikian pengertian
profesional guru adalah kemampuan dan keahlian khusus yang dimiliki seseorang dalam
bidang keguruan sehingga ia mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru
dengan baik dan maksimal.
Guru adalah pendidik profesional yang secara definisi sebutan guru dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)
termasuk dalam genus pendidik (Danim 2010, hlm. 17).
Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan
dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan para orangtua. Di
negara-negara Timur sejak dahulu kala guru dihormati masyarakat. Orang India
menanggap guru sebagai orang suci dan sakti. Di Jepang guru disebut sensei (orang

42
yang lebih dahulu lahir atau orang lebih tua). Semengtara di Inggris guru disebut
teacher, di Jerman disebut der Lehrer, yang keduanya bearti pengajar (Daradjat et. al.
2008, hlm. 39-40).
Selanjutnya ada pula yang mengartikan bahwa guru profesional adalah guru
yang mampu menerapkan hubungan dalam bentuk multi dimensional. Guru yang
demikian adalah guru yang secara internal memenuhi kriteria administratif, akademis,
dan kepribadian (Nurdin 2004, hlm. 20).
Dari uraian tersebut di atas, penulis menyimpulkan beberapa macam sifat atau
ciri guru profesional antara lain:
1.

memiliki kualifikasi ilmu pengetahuan dan keterampilan secara khusus dan


mendalam

2.

memberikan jasa intelektual kepada masyarakat;

3.

memiliki kewenangan intelektual yang khas dalam masyarakat;

4.

memiliki kode etik tertentu.


Berdasarkan pendapat para tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah

seorang profesional yang memikul tanggung jawab pendidikan dan pengajaran


sepanjang hayat. Guru adalah orang yang diberi amanah untuk mewariskan nilai-nilai
dan norma-norma kemanusiaan secara profesional terhadap siswa dalam rangka
mengembangkan berbagi potensi mereka.
Terlebih lagi bagi seorang guru Pendidikan Agama Islam, ia harus mempunyai
nilai lebih dibandingkan dengan guru-guru lainnya. Guru Pendidikan Agama Islam
(PAI), di samping melaksanakan tugas keagamaan, ia juga melaksanakan tugas
pendidikan dan pembinaan bagi siswa. Ia membantu dalam pembentukan kepribadian,
pembinaan akhlak, di samping menumbuhkembangkan keimanan dan ketakwaan para
siswa (Mulyasa 2011, hlm. 40). Dengan tugas yang cukup berat tersebut, guru
Pendidikan Agama Islam (PAI) dituntut agar memiliki keterampilan dan profesionalitas

43
dalam menjalankan tugas kependidikan utama dalam melakukan pembelajaran. Karena
pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-tarbiyah, attadib

dan al-talim,

dimana

ketiga

istlah

tersebut

menggambarkan

proses

menumbuhkembangkan berbagi potensi yang dimiliki manusia yang menumbuhkan


keterampilan guru (Ramayulius dan Nizar 2009, hlm. 84).
Pengertian pendidikan agama Islam
Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam menyakini,
memahami, menghayati dan mengamalkan agama islam melalui kegiatan bimbingan,
pengarahan atau latihan dengan memperhatikan tuntunan untuk menghormati agama
lain dala hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk
mewujudkan kesatuan nasional (GBPP SMU, 1995, hlm. 1).
Dari definisi di atas profesionalisme guru pendidikan agama Islam adalah guru
yang terdidik, telatih dan ahli di bidang pendidikan agama Islam yang mampu
menjadikan siswa-siswi memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam itu
sendiri. Sehingga akan berimbas kepada kehidupan sehari- hari baik itu hubungan
dengan Allah maupun hubungan dengan manusia yang didalamnya terdapat orang tua,
guru, teman dan orang-orang yang hidup disekitarnya.

Tujuan pendidikan Agama Islam


Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI no 22 Tahun 2006, tentang Standar Isi
untuk satuan pendidikan Dasar dan Menengah bahwa Pendidikan Agama Islam
bertujuan untuk :
1. Menumbuh kembangkan aqidah melalui pemberian, pemupukan, pembiasaan, serta
pengalaman peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim
yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

44
2. Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia, yaitu
manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, produkti, jujur, adil, etis,
berdisiplin, bertoleransi, menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta
mengembangkan budaya agama dalam komoditas sekolah.
Untuk mewujudkan tujuan di atas, ada empat dimensi pokok yang harus
diperhatikan dalam proses pembelajaran PAI :
1. Dimensi keimanan siswa terhadap ajaran Agama Islam.
2. Dimensi pemahaman (intelektual) serta keilmuan siswa terhadap ajaran Agama
islam.
3. Dimensi penghayatan atau pengamalan batin yang dirasakan siswa dalam
menjalankan ajaran syariat islam.
4. Dimensi pengalaman, dalam arti bagaimana ajaran Agama Islam yang telah diimani
dan diyakini itu dapat dipahami dan dihayati oleh siswa kemudian mampu
diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (Kementerian Agama RI Direktorat
Jenderal Pendidikan Islam Direktorat Pendidikan Agama Islam tahun 2011, hlm.
11).
Fungsi guru pendidikan Agama islam
Penyelenggaraan proses pembelajaran Pendidikan Pgama Islam (PAI) di sekolah
berfungsi sebagai :
1. Pengembangan, artinya PAI disekolah diselenggarakan dalam rangka
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT. yang
telah tertanam dalam lingkungan keluarganya. Pada dasarnya menenemkan
keimanan dan ketaqwaan itu adalah tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.
Karena itu, sekolah melalui gurunya memiliki fungsi menumbuhkan dan
mengembangkan keimanan dan ketaqwaan yang telah dimiliki siswa, melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran, pelatihan dan pembiasaan agar keimanan dan
ketakwaan peserta didik berkembang secara optimal sesuai tingkat perkembangan
psikologis peserta didik.
2. Penyaluran, pendidikan agama Islam yang diselenggarakan di sekolah memiliki
fungsi menyalurkan bakad khusus dibidang agama yang dimiliki peserta didik agar
bakad tersebut dapat disalurkan dan berkembang secara optimal untuk
kemaslahatan dirinya dan orang lain.
3. Perbaikan, dalam rangka memperbaiki kesalahan- kesalahan, kekurangankekurangan, dan kelemahah-kelemahan yang dimiliki peserts didik dalam hal
keyakinannya, pemahaman dan pengamalan ajaran agama islam dalam kehidupan
sehari-hari, baik yang menyangkut hubungan dengan Allah SWT, maupun dengan
sesame manusia.
4. Pencegahan, dapat menangkal hal- hal negarif dari lingkungan sekitar atau budaya
luar yang tidak sesuai, bertentangan dengan ajaran agama yang sekaligus dapat
membahayakan dirinya dan menghambat dirinya untuk menjadi seorang muslim
yang baik.

45
5. Penyesuaian, mengarahkan peserta didik dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Juga dapat
mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama islam.
6. Sumber Nilai, harus dapat menjadi pedoman hidup bagi manusia untuk mencapai
kebahagiaan dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak (Kemenag Dirjen Pendis,
2011, hlm. 11-13).

Melihat berbagai pendapat dan pandangan para ahli bahwa pendidikan adalah
sesuatu yang unik dan komplek. Oleh karena itu pendidikan dipandang sebagai sebuah
usaha yang dapat dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian atau profesionalitas
yang tinggi. Guru yang memenuhi kriteria profesional inilah yang mampu menjalankan
fungsi utamanya secara efektif dan efisien untuk mewujudkan proses pendidikan dan
pembelajaran guna mengembangkan potensi siswa (Danim 2010, hlm. 18).

Kompetensi guru Pendidikan Agama Islam (PAI)


Kompetensi secara bahasa berasal dari kata kompeten yang memiliki arti wewenang,
cakap, berkuasa untuk memutuskan atau menentukan sesuatu hal (Nirmala dan Pratama
2003, hlm. 222). Menurut Yasyin (1997, hlm. 381) mendefinisikan bahwa kompetensi
adalah pekerjaan yang benar-benar dilakukan oleh seseorang sesuai dengan kemampuan
dan keterampilan yang dimilikinya. Pengertian kompetensi yang dikemukakan oleh
Yasyin tersebut menekankan pada aspek kemampuan atau kecakapan.
Kompetensi juga diartikan sebagai prilaku, sebagaimana dikemukakan oleh Mc.
Load seperti dikutip oleh Usman (2000, hlm. 14) yaitu perilaku yang rasional untuk
mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.
Sementara dalam Undang- Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan
dosen dijelaskan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan
perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dan dosen dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan (Mulyasa 2008, hlm. 25). Pengertian yang mirip
juga dikemukakan oleh Kunandar (2007, hlm. 52), yaitu ketika mendefinisikan

46
kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh
seseorang

yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga dia dapat melakukan

perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.


Berdasarkan pendapat para pakar mengenai pengertian kompetensi, dapat
dimengerti bahwa kompetensi adalah suatu kewenangan atau kekuasaan untuk
menentukan sesuatu hal yang menjadi wewenangnya. Konsep kompetensi dapat dipakai
untuk menunjukkan kepada suatu proses yang dinamis dimana pekerjaan-pekerjaan
mengubah sifat-sifat yang esensial ke arah suatu profesi.
Dalam konteks profesi guru, kompetensi mengandung arti kemampuan
seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab
dan layak

atau kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi

keguruannya (Usman 2000, hlm. 14). Dengan demikian kompetensi guru diartikan
sebagai seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat
mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif (Kunandar 2007, hlm. 55). Namun, jika
pengertian kompetensi guru tersebut dikaitkan dengan pendidikan agama Islam yakni
pendidikan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, terutama dalam mencapai
ketentraman batin dan kesehatan mental pada umumnya, maka kompetensi guru
Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah kewenangan untuk menentukan arah, pola dan
pelaksanaan Pendidikan Agama Islam yang akan diajarkan pada jenjang tertentu di
sekolah tempat guru itu mengajar (Daradjat 1995, hlm. 95). Lebih jauh menurut
Daradjat, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di samping melaksankan tugas
pengajaran dan memberitahukan pengetahuan keagamaan, ia juga melaksanakan tugas
pembinaan bagi peserta didik, ia membantu pembentukan kepribadian, pembinaan
akhlak serta menumbuhkembangkan keimanan dan ketakwaan para peserta didik (1995,
hlm. 99).

47
Kemampuan atau kompetensi guru, khususnya guru Pendidikan Agama Islam
(PAI), tidak melulu memiliki keunggulan pribadi yang dijiwai oleh keutamaan hidup
dan nilai-nilai luhur yang dihayati serta diamalkan. Nammun seorang guru Pendidikan
Agama Islam hendaknya memiliki kemampuan pedagogis atau hal-hal yang
menyangkut dengan bagaimana agar tugas-tugas kependidikan seorang guru Pendidikan
Agama Islam (PAI) dapat dilaksanakan dengan kreatif, efektif, inovatif dan
menyenangkan.
Pada penelitian ini, penulis hanya mengkaji salah satu kompetensi yang harus
dimiliki oleh guru, yaitu kompetensi pedagogik saja, khususnya kompetensi pedagogik
guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
Kompetensi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat dilihat pada penjelasan
berikut (Aqib 2008, hlm. 61).
1.
2.

Menginterpretasikan materi, struktur, konsep dan pola pikir ilmu-ilmu yang


relevan dengan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
Menganalisis materi, struktur, konsep dan pola pikir ilmu-ilmu yang relevan
dengan Pendidikan Agama Islam (PAI).

Teori Pembelajaran
Kata teori (kata benda) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan
sebagai pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data

48
dan argumentasi. Teori dapat juga diartikan sebagai pendapat, cara, dan aturan untuk
melakukan sesuatu (KBBI offline Versi 1.2. http://ebsoft.web.id).
Kata pembelajaran merupakan kata turunan dari kata belajar yang ditambahkan
awalan pe dan akhiran an. Kata belajar itu sendiri secara bahasa dapat berarti 1)
berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, 2) berlatih, dan berubah tingkah laku atau
tanggapan

yang

disebabkan

oleh

pengalaman

(KBBI

offline

Versi

1.2.

http://ebsoft.web.id).
Adapun pengertian pembelajaran menurut Sagala (2005, hlm. 61) dalam
Ramayulis ialah membelajarkan siswa menggunakan azaz pendidikan maupun teori
belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran
merupakan proses komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai
pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik.
Menurut Muhaimin ( 2003, hlm. 82) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah
upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam definisi ini terkandung makna bahwa dalam
pembelajaran tersebut ada kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan
metode/ strategi yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
lebih jauh menurutnya, strategi pembelajaran adalah suatu pola umum perbuatan guru
sebagai organisasi belajar dengan peserta didik sebagai subyek belajar di dalam
mewujudkan kegiatan belajar-mengajar. Atau karakteristik abstrak dari serentetan
perbuatan guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam definisi yang dikembangkan oleh Muhaimin tersebut di atas terkandung
makna bahwa peserta didik tidak dilihat sebagai obyek yang pasif, tetapi lebih dilihat
sebagai subyek yang sedang belajar atau mengembangkan segala potensinya. Karena itu

49
dalam strategi pembelajaran itu diaktualisasikan dalam bentuk pendekatan, metode dan
teknik/prosedur dalam pembelajaran (2003, hlm. 83).
Terdapat tiga faktor penting yang terkandung dalam kegiatan pembelajaran
Muhaimin 2003, hlm. 83), yaitu:
1.

kondisi pembelajaran, yaitu faktor yang mempengaruhi metode dalam


meningkatkan hasil pembelajaran, yang meliputi tujuan (pernyataan tentang
hasil belajar apa yang harus dan diharapkan tercapai) dan karakteristik bidang
studi (aspek-aspek mata pelajaran yang ditekankan dan hendak diberikan
kepada atau dipelajari oleh peserta didik), kendala (keterbatasan sumbersumber, seperti waktu, media, personalia dan uang), serta karakteristik peserta
didik (aspek-aspek atau kualitas individu peserta didik, seperti bakat, motivasi,
hasil belajar yang telah dimilikinya);

2.

Strategi pembelajaran, yang meliputi strategi pengorganisasian isis


pembelajaran, strategi penyampaian isi pembelajaran, dan strategi pengelolaan
pembelajaran;

3.

Hasil pembelajaran, yang menyangkut efektifitas, efisiensi, dan daya tarik


pembelajaran.

Ketika guru akan melaksanakan kegiatan pembelajaran, maka pikirannya dan


tindakannya

harus

mempertimbangkan

tertuju
kondisi

pada

ketiga

pembelajaran,

faktor

tersebut,

strategi

dalam

pembelajaran,

arti

selalu

dan

hasil

pembelajaran.

Teori Belajar Behaviorisme


Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari
sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspekaspek mental. Dengan kata lain,

50
behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu
dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian
rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini,
diantaranya:
1.

Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike;


Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukumhukum belajar, diantaranya:
1) Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang
memuaskan, maka hubungan Stimulus Respons akan semakin kuat.
Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka
semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons;
2) Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa
kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan satuan pengantar
(conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang
mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu;
3) Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons
akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang
apabila jarang atau tidak dilatih.

2.

Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov;


Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan
hukum-hukum belajar, diantaranya:
1) Law

of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika


dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi
sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
2) Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika
refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan
kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

51

3.

Operant Conditioning menurut B.F. Skinner;


Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya
terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:
1) Law

of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan


stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat;
2) Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat
melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan
perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan


operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap
lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh
stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu
sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya
sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus
lainnya seperti dalam classical conditioning.
4.

Social Learning menurut Albert Bandura


Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori
belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya.
Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku
individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan
juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan
skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa
yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui

52
peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih
memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment,
seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu
dilakukan.

Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar


behavioristik ini, seperti: Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip
kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan
Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan
Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard
dengan teori pengurangan dorongan.

Teori Belajar Kognitif Piaget


Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran
konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai
rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan
perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu
meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete
operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses
rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton

53
(2005) menyebutkan bahwa assimilasi adalah the process by which a person takes
material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence
of their senses to make it fit dan akomodasi adalah the difference made to ones mind
or concepts by the process of assimilation
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan
dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi
kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh
interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru.Guru
hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi
dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru
mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak;
2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan
baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaikbaiknya;
3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing;
4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya;
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan
diskusi dengan teman-temanya.

Teori Belajar Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne


Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang
sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari
pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil

54
belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi
internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam
diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang
terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan
yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,
(1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali;
(6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.

Teori Belajar Gestalt


Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai bentuk atau
konfigurasi. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu
akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka
dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :
1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap
bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar
belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya
membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar,
maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figur;
2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu
maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk
tertentu;
3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan
dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki;
4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang
berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau
bentuk tertentu;
5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya
bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan
yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan

55
6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola
obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:


1. Perilaku Molar hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku
Molecular. Perilaku Molecular adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau
keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku Molar adalah perilaku dalam keterkaitan
dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola
adalah beberapa perilaku Molar. Perilaku Molar lebih mempunyai makna
dibanding dengan perilaku Molecular;
2. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan
geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan
yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang
nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah.
(lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang
penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis);
3. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian
peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya,
adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan
sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak
seperti gunung atau binatang tertentu;
4. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses
yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan
merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap
rangsangan yang diterima.

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :


1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam
perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki
kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam
suatu obyek atau peristiwa;
2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur
yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran.
Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang
dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya
dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal
yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis
dengan proses kehidupannya;

56
3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan.
Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada
keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan
berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh
karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan
membantu peserta didik dalam memahami tujuannya;
4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan
dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan
hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan
peserta didik;
5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi
pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar
terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam
situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam
tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip
pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan
umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah
menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi
untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh
karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsipprinsip pokok dari materi yang diajarkannya.