Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM GENETIKA

Siklus Hidup Drosophila sp.

Di susun oleh :
Fariha Suci Rahmasari
Annisa Rizqi Yasmine

(13304241005)
(13304241009)

Mia Noor Shafira Pridiasari

(13304241015)

Ihsan Adi Pratama

(13304241024)

Setiarti Dwi Rahayu

(13304241031)

Henky Becheta Anggraeni

(13304241078)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVESITAS NEGERI YOGYAKARTA
Maret, 2015
1

A. TOPIK
Mengenal lalat buah Drosophila sp.
B. TUJUAN
Mengetahui siklus hidup lalat buah Drosophila sp.
C. LATAR BELAKANG
Drosophila melanogaster hampir selalu dipakai dalam berbagai penelitian
genetika, baik di dalam lab maupun penelitian kecil pada pelajar sekolah menengah. Dipilih
karena beberapa alasan sederhana seperti biaya murah, tidak memerlukan tempat yang bersih,
mudah didapat, dan mudah untuk dikembangbiakkan. Jenis mutan pada spesies ini juga
terbilang banyak dengan beberapa perbedaan pada warna badan, bentuk sayap, dan warna
mata. Ukurannya yang kecil juga emudahkan kita untuk mengamatinya dengan lebih aman
dan seksama.
Drosophila melanogaster termasuk salah satu endopterygota yang melakukan
metamorfosis sempurna. Pada Drosophila melanogaster, terdapat fase telur, larva instar I,
larva instar II, larva instar III, pre-pupa, pupa dan imago. Penting bagi pelajar genetika untuk
mempelajari siklus hidup Drosophila melanogaster agar kita dapat mengetahui morfologi tiap
fase pada lalat tersebut serta perubahannya. Selain itu, secara ilmu genetika bila kita
mempelajari siklus hidup lalat tersebut, kita dapat mengetahui kontribusi letak alel pada
kromosom dalam menentukan morfologi serta perubahan pada tiap fase. Dengan demikian,
kita dapat mengaplikasikannya terhadap organisme yang lebih makro serta ilmu genetika
dapat terlaksana dengan baik.
Lalat buah ( Drosophila ) adalah organisme yang memiliki ciri-ciri yang sudah
dikenal dan sesuai untuk penyelidikan genetika karena mudah berkembang biak dan memiliki
siklus hidup yang singkat. Sepasang lalat buah dapat menghasilkan 300-400 butir telur. Siklus
hidup Drosophilla teridiri dari stadium telur-larva-pupa imago. Telur Drosophilla berukuran
kira-kira 0,5 mm berbentuk lonjong, permukaan dorsal agak mendatar, sedangkan permukaan
ventral agak membulat. Pada bagian anterodoral terdapat sepasang filament yang fungsinya
untuk melekatkan diri pada permukaan, agar telur tidak tenggelam dalam medium. Pada
bagian ujung anterior terdapat lubang kecil yang disebut mtcrophil, yaitu temapat masuknya
spermatozoa. Telur yang dikeluarkan dari tubuhnya biasanya sudah dalam tahap blastula.
Dalam waktu 24 jam telur akan menetas menjadi larva. Larva yang menetas ini akan
2

mengalami dua kali pergantian kulit, sehingga periode stadium yang paling aktif. Larva
kemudian menjadi pupa yang melekat pada permukaan yang relatif kering, yaitu pada dinding
botol kultur atau pada kertas saring. Pupa akan menetas menjadi imago setelah berumur 8-11
hari bergantung pada spesies dan suhu lingkungan.
Oleh karena itu, praktikum genetika ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui
siklus hidup lalat buah Drosophila sp. Diharapkan dengan adanya praktikum ini, kita dapat
mengetahui bagaimana suatu lalat buah Drosophila sp. melewati suatu fase dalam hidupnya
dari sejak lahir hingga menjadi dewasa.
D. TINJAUAN PUSTAKA
Drosophila melanogaster memiliki klasifikasi phylum Arthropoda, kelas Insecta,
ordo Diptera, Sub Ordo Cyclorrhapha, series Acalyptrata, Familia Drosophilidae dan Genus
Drosophila (Strickberger, 1962). Drosophila melanogaster (lalat buah) adalah suatu serangga
kecil dengan panjang dua sampai lima millimeter dan komunitasnya sering kita temukan di
sekitar buah yang rusak/busuk (Iskandar, 1987). Drosophila melanogaster seringkali
digunakan dalam penelitian biologi terutama dalam perkembangan ilmu genetika (Manning,
2006).
Selain itu, Drosophila juga diklasifikasikan ke dalam sub ordo Cyclophorpha
(pengelompokan lalat yang pupanya terdapat kulit instar 3, mempunyai jaw hooks) dan
termasuk ke dalam seri Acaliptrata yaitu imago menetas dengan keluar dari bagian anterior
pupa (Wheeler, 1981).
Ada beberapa alasan Drosophila melanogaster dijadikan sebagai model
organisme yaitu karena D. melanogaster ukuran tubuhnya kecil, mudah ditangani dan mudah
dipahami, praktis, siklus hidup singkat yaitu hanya dua minggu, murah dan mudah dipelihara
dalam jumlah besar (Iskandar, 1987), mudah berkembangbiak dengan jumlah anak banyak,
beberapa mutan mudah diuraikan (King, 1962), memiliki empat pasang kromosom raksasa
yang terdapat pada kelenjar saliva pada fase larva (Strickberger, 1962). Pada kondisi
laboratorium lalat buah dewasa rata-rata mati dalam 6 atau 7 hari (Shorrocks, 1972).
Keberadaan organisme di alam ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor dalam dan faktor luar
termasuk lingkungan. Faktor luar meliputi faktor fisik, kimia dan biologis. Untuk hewan,
faktor fisik termasuk didalamnya adalah makanan mempunyai peranan lebih besar dalam
3

menentukan keberadaan hewan tertentu di suatu tempat dibandingkan dengan faktor kimia.
Suhu lingkungan sangat berpengaruh terhadap kehidupan lalat buah. Ciri-ciri yang bersifat
kuantitatif, panjang tubuh sangat sensitif terhadap perubahan faktor lingkungan seperti
fluktuasi suhu atau perubahan baik secara kuantitas maupun kualitas jenis makanan
(Junitha,1991).
Drosophila melanogaster, sejenis serangga biasa yang umumnya tidak berbahaya
dan merupakan pemakan jamur yang tumbuh pada buah. Lalat buah adalah serangga yang
mudah berkembang biak. Dari satu perkawinan saja dapat dihasilkan ratusan keturunan, dan
generasi yang baru dapat dikembangkan setiap dua minggu. Karakteristik ini menunjukkan
lalat buah organisme yang cocok sekali untuk kajian-kajian genetik (Campbell, 2002).
Telur lalat berukuran sekitar 0,5 mm. Pada ujung anteriornya terdapat sebuah
lubang yang disebut micropyle dan dibatasi oleh dua sampai empat buah tonjolan yang
memanjang berbentuk sendok. Telur tersebut dibuahi di dalam tubuh dan sperma masuk
dalam micropyle. Telur baru yang dikeluarkan, pada umumnya sudah memasuki tahap
blastula atau tahap lanjut apabila proses peneluran terganggu. Telur tersebut mengalami
perkembangan selama kurang lebih 24 jam dan menetas menjadi larva (Hartati, 2008).
Drosophila melalui tiga tahapan larva, dimana larva makan, tumbuh, dan larva berganti kulit
(kulit lapisan luarnya yang keras) (Campbell, 2003).
Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorphosis sempurna, yaitu dari
telur larva instar I larva instar II larva instar III pupa imago. Fase perkembangan dari
telur dapat dilihat lebih jelas pada gambar ini :

Perkembangan dimulai setelah terjadinya fertilisasi, yang terdiri dari dua periode.
Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda
4

menetas dan telur ini terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam. Dan pada saat seperti ini, larva
tidak berhenti untuk makan (Silvia, 2003).
Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur disebut perkembangan
postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual
dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual
terjadi pada saat dewasa (Silvia, 2003).
Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di
permukaan makan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa
dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan mungkin
maksimum 400-500 buah dalam 10 hari (Silvia, 2003). Telur Drosophila dilapisi oleh dua
lapisan, yaitu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi
kuat (Khorion) di bagian luar anteriornya terdapat dua tangkai tipis. Konon mempunyai kulit
bagian luar yang keras dari telur tersebut (Borror, 1992).
Larva Drosophila berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing, dan
menggali dengan mulut berwarba hitam di dekat kepala. Untuk pernapasan pada trakea,
terdapat sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior (Silvia,
2003)
Saat kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodeik berganti kulit untuk
mencapai ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integument baru diperluas dengan
kecepatan makan yang tinggi. Selama periode pergantian kulit, larva disebut instar. Instar
pertama adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Dan indikasi instar
adalah ukuran larva dengan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah pergantian kulit yang
kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk berbentuk pupa. Pada tahap terakhir,
larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium makanan ke tempat yang kering dan
berhenti bergerak. Dan jika dapat diringkas, pada Drosophila, destruksi sel-sel larva terjadi
pada pose pergantian kulit (molting) yang berlangsung empat kali dengan tiga stadia instar :
dari larva instar 1 ke instar II, dari larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari
pupa ke imago (Ashbumer, 1985).
Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium, dan jika
terdapat banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan berlangsung baik. Larva
yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue dalam botol.
5

Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan seperti lem yang
dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa. Saat larva Drosophila
membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen,
tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan
kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada
instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini,
larva berganti menjadi lalat dewasa (Ashburner, 1985).
Struktur dewasa tampak jelas selama periode pada bagian kecil jaringan dorman
yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan preadult (sebelum dewasa) disebut
aniagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari aniagen ke bentuk
dewasa (Silvia, 2003).
Dewasa pada Drosophila dalam satu siklus hidupnya berusia 9 hari. Setelah keluar
dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya belum terbentang. Sementara itu,
lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan akan menyimpan sperma dalam jumlah
yang sangat banyak dari lalat buah jantang. Pada ujung anterior terdapat mikropyle, tempat
spermatozoa masuk ke dalam telur. Walaupun banyak sperma yang masuk ke dalam
mikropyle tapi hanya satu yang dapat berfertilisasi dengan pronuleus betina dan yang lainnya
segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio (Borrror, 1992).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidup Drosophila
melanogaster diantaranya sebagai berikut:
1. Suhu Lingkungan
Drosophila melanogaster mengalami siklus selama 8-11 hari dalam kondisi ideal.
Kondisi ideal yang dimaksud adalah suhu sekitar 25-28C. Pada suhu ini lalat akan
mengalami satu putaran siklus secara optimal. Sedangkan pada suhu rendah atau sekitar
180C, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya relatif lebih lama
dan lambat yaitu sekitar 18-20 hari. Pada suhu 30C, lalat dewasa yang tumbuh akan
steril.
2. Ketersediaan Media Makanan
Jumlah telur Drosophila melanogaster yang dikeluarkan akan menurun apabila
kekurangan makanan. Lalat buah dewasa yang kekurangan makanan akan menghasilkan

larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun sering
kali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa dapat menjadi dewasa yang
hanya dapat menghasilkan sedikit telur. Viabilitas dari telur telur ini juga dipengaruhi
oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina.
3. Tingkat Kepadatan Botol Pemeliharaan
Botol medium sebaiknya diisi dengan medium buah yang cukup dan tidak terlalu padat.
Selain itu, lalat buah yang dikembangbiakan di dalam botol pun sebaiknya tidak terlalu
banyak, cukup beberapa pasang saja. Pada Drosophila melanogaster dengan kondisi ideal
dimana tersedia cukup ruang (tidak terlalu padat) individu dewasa dapat hidup sampai
kurang lebih 40 hari. Namun apabila kondisi botol medium terlalu padat akan
menyebabkan menurunnya produksi telur dan meningkatnya jumlah kematian pada
individu dewasa.
4. Intensitas Cahaya
Drosophila melanogaster lebih menyukai cahaya remang-remang dan akan mengalami
pertumbuhan yang lambat selama berada di tempat yang gelap (Shorrocks, 1972).
E. Metode
a. Tempat dan Waktu Praktikum
Tempat Praktikum
: Laboratorium Zoologi
Waktu Praktikum
: 17 s.d. 23 Maret 2015
b. Alat dan Bahan
1. Drosophila melanogaster liar
2. Mikroskop stereo dan binokuler
3. Kaca pembesar (loup)
4. Cawan petri
5. Kuas
6. Kaca objek
7. Oven
8. Blender
9. Pisang ambon masak
10. Eter
11. Tegosept
12. Botol kultur dan tutup dari busa
13. Corong
c. Prosedur Kerja
Pembuatan Media Pemeliharaan Lalat Buah
Ada beberapa resep untuk membuat media pemeliharaan lalat buah. Media yang dibuat
dari bahan dasar campuran tape dan pisang sering dipakai untuk media pemeliharaan.

Dalam praktikum ini dipakai media dengan bahan bahan dasar pisang ambon. Cara
pembuatannya adalah sebagai berikut :
Memotong 500 gram daging buah pisang ambon masak dilumatkan dengan
blender
Memasukkan 15 gram tepung agar-agar dilarutkan dalam 478 cc air, kemudian
masak sampai mendidih
Memasukkan bubur pisang dan Tegosept (7 cc) ke dalam larutan air & agar yang
sedang dimasak

Memanaskan lagi sampai hampir mendidih

Memasukkan medium ke dalam botol biakan yang telah disteril dalam oven

Memasukkan kertas saring yang telah dilipat, untuk menyerap kelebihan air

Menututup dengan sumbat busa yang bersih

Penangkapan Lalat Buah Di Alam

Menyiapkan botol selei yang bersih

Memasukan potongan buah yang masak

Meletakkan di tempat yang terbuka. Dijaga jangan sampai ada semut yang masuk

Setelah sehari atau beberapa hari, akan ada lalat buah yang masuk

Menututup botol dengan kain setelah jumlah lalat yang masuk ke dalam botol cukup
banyak

Mengikat kain penutup botol dengan karet atau rafia

Memindahkan lalat pada botol biakan yang telah berisi media

Eterisasi
Untuk pengamatan dan penghitungan lalat buah harus dibius terlebih dahulu. Zat kimia
yang biasa dipakai adalah Etil Asetat atau Dietil Eter. Bahan lain yang juga dapat dipakai
dan merupakan derivat dari Etil Asetat adalah Fly Nap. Cara pembiusan :

Menyentakkan botol pada telapak tangan secara perlahan, supaya lalat buah yang menempel
pada tutup busa dapat jatuh ke bawah

Memindahkan lalat buah ke botol kosong dengan bantuan corong

Menutup botol berisi lalat buah dengan sumbat busa

Memasukkan kapas yang telah ditetesi eter ke dalam botol berisi lalat melalui sela-sela
sumbat busa

Setelah lalat terbius, memindahkan lalat ke atas kertas putih atau ke dalam cawan petri

Melakukan pengamatan dengan cepat. Apabila pengamatan belum selesai lalat sudah sadar,
lakukan pembiusan sekali lagi

Setelah pengamatan, lalat dimasukkan kembali pada botol medium semula

Pengamatan
1. Pegamatan jenis kelamin
Amati lalat buah yang telah ditangkap

Memedakan jenis kelamin lalat betina dan jantan, kemudian gambar kedua jenis lalat
tersebut, beri keterangan bagian-bagiannya, sehingga tampak jelas perbedaan kedua jenis
kelamin lalat tersebut

10

2. Pengamatan siklus hidup lalat buah


Pelihara 3 pasang lalat buah dalam botol yang telah berisi media

Memberi catatan pada botol : tanggal mulai pemeliharaan, nama kelompok

Mengamati perubahan yang terjadi setiap hari, misalnya terdapatnya telur, larva
instar 1, 2, 3, prapupa, pupa, pigmentasi pupa dan keluarnya lalat dewasa

Setelah terbentuk pupa, mengeluarkan lalat parental dari dalam botol, masukkan
ke dalam botol berisi detergen

F. Hasil dan Pembahasan


a. Hasil
Hari ke1
2
3
4
5
6
b. Pembahasan

Hasil Pengamatan
Tidak terlihat apa pun
Tidak terlihat apa pun
Tidak terlihat apa pun
Tampak larva
Tampak larva
Tampak pupa

Keterangan fase siklus


Kemungkinan telur
Kemungkinan telur
Kemungkinan telur
Larva
Larva
Pupa

Pada praktikum mengenal lalat buah Drosophila sp. dilakukan kultur terhadap
lalat buah liar yang selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap siklus hidup lalat buah
tersebut. Untuk memperoleh lalat buah liar dilakukan penangkapan lalat buah liar di alam.
Pada kegiatan ini praktikan menangkap lalat buah di Kebun Biologi UNY. Cara
menangkap lalat buah ialah dengan memancing kedatangannya menggunakan buah yang
berbau menyengat atau buah yang sudah busuk. Selanjutnya buah tersebut diletakkan di
wadah, misalnya botol plastik yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga lalat buah
11

tidak dapat kabur ketika telah masuk perangkap. Kemudian meletakkan perangkap lalat
buah di tempat tertentu, misalnya di bawah pohon. Setelah itu, membiarkan perangkap
selama beberapa jam atau satu hari hingga banyak lalat buah yang terperangkap. Jika lalat
buah sudah terperangkap, lalu botol plastik tersebut ditutup dan lalat buah siap di bawa ke
laboratorium untuk pengamatan lebih lanjut.
Lalat buah yang diperoleh tersebut kemudian dipilah dan dibedakan antara
jantan dan betina. Agar dapat mengamati siklus hidup lalat buah, maka lalat buah jantan
dan betina yang telah dipilih dimasukan ke dalam botol media yang telah dibuat
sebelumnya. Lalat buah yang akan dipindahkan ke botol media, terlebih dahulu dibius
dengan sedikit eter untuk melemahkan lalat buah agar tidak terbang. Cara membiusnya
ialah dengan menetskan sedikit eter pada kapas, lalu kapas tersebut dimasukkan dalam
botol berisi lalat buah liar. Setelah beberapa menit, maka lalat buah akan pingsan.
Selanjutnya memindahkan lalat buah tersebut ke dalam botol media menggunakan kuas
agar tidak melukai atau merusak lalat buah. Kemudian tutup botol media dengan penutup
busa dan diberi label dengan keterangan tertentu. Setelah itu, lalat buah dalam media
tersebut disimpan di tempat yang aman dan diamati perkembangan setiap hari dalam
seminggu. Maka akan terlihat perkembangan lalat buah dari telur hingga dewasa sehingga
praktikan dapat mengetahui siklus hidup lalat buah tersebut.
Berdasarkan percobaan dan pengamatan yang dilakukan, dari lalat buah yang
dikultur pada hari pertama, kedua, dan ketiga, belum nampak adanya telur. Karena ukuran
telur lalat buah yang amat kecil memungkinkan peneliti tidak melihat adanya telur
tersebut. Pada hari ke-4 dan ke-5 pengamatan, sudah ada banyak larva. Larva lalat buah
berbentuk oval atau lonjong berwana putih susu dan bergerak di permukaan media dan di
sekitar dinding. Pada hari ke-6 terdapat banyak pupa di dinding botol. Pupa lalat buah
berwarna coklat dan diam berada di tepi dinding botol kultur.
Berdasarkan sumber yang kami peroleh, siklus lalat buah adalah sebagai
berikut:
1. Telur
Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di
permukaan makan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat
12

dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari
dan mungkin maksimum 400-500 buah dalam 10 hari (Silvia, 2003).
2. Larva
Larva Drosophila berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing, dan menggali
dengan mulut berwarba hitam di dekat kepala. Untuk pernapasan pada trakea, terdapat
sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior (Silvia,
2003). Saat kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodik berganti kulit untuk
mencapai ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integument baru diperluas dengan
kecepatan makan yang tinggi. Selama periode pergantian kulit, larva disebut instar.
Instar pertama adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Dan
indikasi instar adalah ukuran larva dengan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah
pergantian kulit yang kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk berbentuk
pupa. Pada tahap terakhir, larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium
makanan ke tempat yang kering dan berhenti bergerak. Dan jika dapat diringkas, pada
Drosophila, destruksi sel-sel larva terjadi pada pose pergantian kulit (molting) yang
berlangsung empat kali dengan tiga stadia instar : dari larva instar 1 ke instar II, dari
larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago (Ashbumer,
1985).
3. Pupa
Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium, dan jika terdapat
banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan berlangsung baik. Larva
yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue dalam
botol. Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan seperti
lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa. Saat larva
Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras
dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai
dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa)
menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan
tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa (Ashburner,
1985).
4. Lalat dewasa
Struktur dewasa tampak jelas selama periode pada bagian kecil jaringan dorman yang
sama seperti pada tahap embrio. Dewasa pada Drosophila dalam satu siklus hidupnya
13

berusia 9 hari. Setelah keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya
belum terbentang. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan
akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah jantah.
(Borrror, 1992).
Pada percobaan siklus hidup lalat ini, Drosophila yang dikembangbiakkan baru
mencapai tahap pupa dan belum mencapai tahap lalat dewasa. Hal ini dikarenakan untuk
menjadi lalat dewasa pupa tersebut masih membutuhkan waktu beberapa hari lagi.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Borror (1992) di atas Dewasa pada Drosophila dalam satu
siklus hidupnya berusia 9 hari. Karena tahapan pupa pada percobaan ini baru terlihat pada
hari keenam maka pupa tersebut masih membutuhkan 3 hari lagi untuk menjadi lalat dewasa.
G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa lalat buah
Drosophila sp. mengalami metamorfosis sempurna dengan tahap-tahapnya adalah sebagai
berikut:
P: Lalat dari alam

><

Lalat dari alam

Telur

Ulat (larva)

Kepompong (pupa)

Lalat muda

Lalat dewasa (imago)


DAFTAR PUSTAKA
Ashburner, Michael. 1989. Drosophila, A Laboratory Handbook. USA : Coldspring Harbor
Laboratory Press.
Borror et al. 1998. Pengenalan Pelajaran Serangga. 8th Ed. Terjemahan dari an Introduction to
Study of Insect oleh Soetiyono Partosoedjono. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Campbell, et. Al. 2002. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
14

Djoko T. Iskandar. 1987. Penuntun Praktikum Genetika. Bandung: PAU Ilmu Hayati dan Jurusan
Biologi ITB
Hartati. 2007. Penuntun Praktikum Genetika. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM
Shorrocks, B. 1972. Drosophila. London: Ginn & Company Limited.
Silvia,

Triana.

2003.

Pengaruh

Pemberian

Berbagai

Konsenterasi

Formaldehida Terhadap
Perkembangan Larva Drosophila. Bandung : Jurusan Biologi Universitas
Padjdjaran.
Strickberger, Monroe, W. 1962. Experiments in Genetics with Drosophila.
London: John Wiley
and Sons, inc..
Wheeler, MR. 1981. The Drosophilidae: a taxonomic overview. In: The
genetics and biology of
Drosophila (Ashburner M, Carson HL and Thompson JN Jr, eds). New York:
Academic Press.

15