Anda di halaman 1dari 12

BAB I

METODE GEOMAGNETIK

1.1

PENDAHULUAN
Metode magnetik merupakan salah satu dari metode geofisika selain metode seismik

(refraksi dan refleksi), VLF, Resistivity, Ground Penetrating Radar, Gravity dan lainnya.
Geofisika merupakan ilmu yang mempelajari tentang struktur bawah permukaan untuk
mengetahui kandungan mineral di dalam bumi dengan menggunakan pengukuran, hukum,
metode, dan analisis fisika serta pemodelan matematika untuk mengeksplorasi dan menganalisis
struktur dinamik bumi (Anonim, 2007a dalam sudaryo dkk, 2011). Metode magnetik sering
digunakan untuk survei pendahuluan pada eksplorasi minyak bumi, panasbumi, mineral maupun
untuk keperluan pemantauan gunung api.
Metode geomagnetik digunakan untuk mengidentifikasi kondisi bawah permukaan bumi
dengan memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang diidentifikasikan oleh kerentanan sifat
magnet dari batuan tersebut. Pengukuran anomali geomagnet yang diukur diakibatkan oleh
perbedaan kontras suseptibilitas atau permeabilitas magnetik tubuh jebakan dari daerah
sekelilingnya. Perbedaan permeabilitas relatif itu diakibatkan oleh perbedaan distribusi mineral
ferromagnetic, paramagnetic dan diamagnetic. Alat yang digunakan untuk mengukur anomali
geomagnet yaitu magnetometer. Metode geomagnet ini sensitif terhadap perubahan vertical,
umumnya digunakan untuk mempelajari tubuh intrusi, batuan dasar, urat hydrothermal yang kaya
akan mineral ferromagnetic, alterasi, dan struktur geologi (Yopanz, 2007 dalam sudaryo dkk,
2011).
Metode magnetik pada dasarnya adalah memetakan gangguan lokal pada medan
magnet bumi yang disebabkan oleh variasi kemagnetan batuan untuk mengenal jenis anomali
regional dan lokal. Variasi medan lebih tidak menentu dan terlokalisir sebagai akibat dari medan
magnetic dipole yang merupakan besaran vektor. Metode magnetik memiliki dasar parameter
berupa magnetic susceptibility dan orientasi medan magnet, variasi unit pengukuran yang luas,
1

respon sumber dipole, point source behavior yang atraktif dan repulsif, merupakan kemunculan
potensial induced magnetization dan remanenet magnetization, dan tergantung waktu.
Prinsip mmagnetik sebenarnya hampir mirip dengan gravitasi hanya berbeda parameter,
dan sumber respon. Berdasarkan prinsip dasar gaya gravitasi :

Ekspresi dari gaya magnetik diantara dua pole diperoleh rumus dasar ;

Perbedaan dengan gravity terletak pada properti material dan pengaruh tanda monopole. Pada
gravity terdapat properti G yang merupakan nilai konstanta gravity, sedangkan pada magnetik
sebagai magnetik permeabilitas. Kemudian untuk tanda monopole pada gravity tidak terdapat
perbedaan, sedangkan pada magnetik digunakan simbol (-) atau (+).
Medan magnet bumi terdiri dari 3 bagian :
1. Medan magnet utama (main field)
Medan magnet utama merupakan medan rata-rata hasil pengukuran dalam jangka waktu
yang cukup lama mencakup daerah dengan luas lebih dari 106 km2.
2. Medan magnet luar (external field)
Pengaruh medan magnet luar berasal dari pengaruh luar bumi yang merupakan hasil
ionisasi di atmosfer yang ditimbulkan oleh sinar ultraviolet dari matahari. Karena
sumber medan luar ini berhubungan dengan arus listrik yang mengalir dalam lapisan
terionisasi di atmosfer, maka perubahan medan ini terhadap waktu jauh lebih cepat.
3. Medan magnet anomaly
Medan magnet anomali sering juga disebut medan magnet lokal (crustal field). Medan
magnet ini dihasilkan oleh

batuan yang mengandung mineral bermagnet seperti

Fe 7 S 8

magnetite (

Fe 2Ti O4

), titanomagnetite (

) dan lain-lain yang berada di kerak bumi.

Gambar 1.1 Perbedaan medan gavitasi dengan medan magnetik.


Dalam survei dengan metode magnetik yang menjadi target dari pengukuran adalah variasi
medan magnetik yang terukur di permukaan (anomali magnetik). Secara garis besar anomali
medan magnetik disebabkan oleh medan magnetik remanen dan medan magnetik induksi. Medan
magnet remanen mempunyai peranan yang besar terhadap magnetisasi batuan yaitu pada besar
dan arah medan magnetiknya serta berkaitan dengan peristiwa kemagnetan sebelumnya sehingga
sangat rumit untuk diamati. Anomali yang diperoleh dari survei merupakan hasil gabungan
medan magnetik remanen dan induksi, bila arah medan magnet remanen sama dengan arah
medan magnet induksi maka anomalinya bertambah besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam
survei magnetik, efek medan remanen akan diabaikan apabila anomali medan magnetik kurang
dari 25 % medan magnet utama bumi (Telford, 1976), sehingga dalam pengukuran medan magnet
berlaku :

HA = HT HM HL

dengan :

HT

: medan magnet total bumi

HM
: medan magnet utama bumi

HL
: medan magnet luar

HA
: medan magnet anomali

Medan magnet bumi memiliki komponene parameter fisis atau disebut elemen medan
magnet bumi yang dapat diukur arah dan intensitas kemagnetannya. Parameter fisis ini meliputi :
1. Deklinasi (D), yaitu sudut antara utara magnetik dengan komponen horizontal yang
dihitung dari utara menuju timur. Variasi dari 0 sampai 360 derajat.
2. Inklinasi(I), yaitu sudut antara medan magnetik total dengan bidang horizontal yang
dihitung dari bidang horizontal menuju bidang vertikal ke bawah. Variasi dari -90
sampai 90.
3. Intensitas Horizontal (H), yaitu besar dari medan magnetik total pada bidang horizontal.
4. Medan magnetik total (F), yaitu besar dari vektor medan magnetik total.
5. Magnetic Equator, yaitu lokasi disekitar bumi pada permukaan yang memiliki inklinasi
0.
6. Magnetic Poles, yaitu lokasi disekitar bumi pada permukaan yang memiliki inklinasi
dari -90 sampai 90 derajat.

Gambar 1.2 Komponen magnetik

Gambar 1.2 Komponen vektor magnetik


Suatu material dapat mengalami induksi magnetik, keadaan ketika suatu

material

magnetik diletakkan pada suatu tempat didekat medan magnet, materialtersebut akan
menghasilkan

kemagnetan sendiri. Kekuatan dari induksi medan magnetik oleh material

magnetik disebut intensitas magnenetisasi. Terdapat tiga tipe material magnetik (Faraday.M,
1846), yaitu :
1. Diamagnetik
Material material dimana atom-atom pembentukannya memiliki elekton yang telah
jenuh yang mana tiap elektronnya berpasangan dan mempunyai spin yang berlawanan
dalam setiap pasangannya. Nilai dari suseptibilitasnya negatif, sehingga intensitas
induksinya akan berlawan arah dengan gaya magnetnya atau medan polarisasi.
Contohnya yaitu batuan kuarsa, marmer, graphite, rocksalt, dan gypsum.
2. Paramagnetik
Material yang memiliki nilai suseptibilitas yang positif dan sangat kecil. Nilai
suseptibilitas positif dan berbanding terbaik dengan temperatur absolut. Jumlah elektron
ganjil, momen medan magnet atomnya searah dengan medan polarisasi. Contohnya :
olivin, piroksin, amphibol, biotit.
3. Ferromagnetik
Material yang memiliki banyak elektron bebas pada tiap kulit elektronnya, dan ini
menyebabkan batuan ini sangat mudah berinduksi oleh medan luar, bahan ini memiliki
nilai suseptibilitas positif dan besar.. Pada temperatur diatas suhu kritis yang disebut

titik curie. Gerak termal acak sudah cukup besar untuk merusak keteraturan penyearahan
ini dan bahan ferromagnetik berubah menjadi paramagnetik.
1.2

TINJAUAN DALAM EKSPLORASI PANASBUMI


Di daerah panas bumi, larutan hidrotermal dapat menimbulkan perubahan sifat

kemagnetan batuan. Kemagnetan batuan akan menjadi turun atau hilang akibat panas yang
ditimbulkan. Karena panas terlibat dalam alterasi hidrotermal, maka tujuan dari survei magnetik
pada daerah panas bumi adalah untuk melokalisir daerah anomali magnetik rendah yang diduga
berkaitan erat dengan manifestasi panasbumi. Metode magnetik bertujuan untuk mencari
informasi struktur geologi bawah permukaan seperti instrusi, sesar/patahan, hal ini
mempengaruhi sistem manifestasi panas bumi berupa manifestasi aktif dan non aktif yang terjadi
di daerah penyelidikan.
Survey magnetik memberikan hasil yang cepat dan ekonomis untuk mengukur prospek
temperatur yang tinggi jika pengukuran dilakukan dari udara. Interpretasi data geomagnet dapat
memberikan gambaran penting dari reservoir. Survey geomagnet bawah permukaan juga dapat
memberikan gambaran tentang alterasi di permukaan yang dangkal dan dapat digunakan
mengetahui struktur bawah permukaan.
Metoda magnet ini dilakukan dengan cara mengukur intensitas medan magnet yang
terjadi pada batuan-batuan yang ada di sekitarnya akibat adanya proses induksi medan magnet
bumi secara alami. Intensitas magnet suatu batuan ditentukan juga oleh faktor kerentanan
(susceptibilitas) magnet k dari batuan tersebut, yaitu kemampuan dari suatu batuan dalam
menerima sifat magnet dari medan magnet bumi. Batuan yang sedikit atau sama sekali tidak
mengandung mineral magnetit, akan mempunyai intensitas magnet yang kecil, sehingga untuk
batuan yang telah mengalami ubahan (alterasi) atau pelapukan, intensitasnya akan rendah.
Intensitas dapat ditentukan sebagai berikut :

I = k H, dimana I = intensitas medan magnet batuan (nT) , H = intensitas madan magnet


bumi yang menginduksi batuan dalam (nT) , k = kerentanan magnet batuan.
Metode geomagnet ini sangat sensitif terhadap perubahan vertical, umumnya digunakan
untuk mempelajari tubuh intrusi, batuan dasar, urat hydro-thermal yang kaya akan mineral
ferromagnetic dan struktur geologi. Metode geomagnet ini digunakan pada studi geothermal
2

karena mineral-mineral ferromagnetic akan kehilangan sifat kemagnetannya bila dipanasi


mendekati temperatur Curie. Oleh karena itu digunakan untuk mempelajari daerah yang diduga
mempunyai potensi geothermal. Metode eksplorasi geomagnet banyak digunakan karena data
acquitsition dan data proceding dilakukan tidak serumit metode gaya berat. Penggunaan filter
matematis umum dilakukan untuk memisahkan anomali berdasarkan panjang gelombang maupun
kedalaman sumber anomali magnetik yang ingin diselidik

Gambar 1.6 Daftar nilai susceptibility jenis-jenis mineral dan batuan


Dari tabel diatas diperlihatkan bahwa batuan yang tersususn dari mineral lempung, batuan
sedimen, serta mengandung banyak air (fluida) akan memiliki nilai succeptibilitas yang rendah.
Sedangkan untuk batuan beku seperti garabo, granit, dan basalt, memiliki nilai susceptibilitas
yang tinggi.

Hasil pengolahan data magnetik berdasarkan karakteristik batuan dilapangan dan dengan
ditambahkan data geologi, geokimia, dan data geofisika lainnya dapat menghasilkan model suatu
sistem geotermal disuatu daerah. Hasil dari interpretasi data dapat ditentukan letak caprock,
reservoir, sistem rekahan pengontrol sistem geotermal, dan litologi penyusun suatu daerah.
Selain itu dapat pula ditentukan letak zona upflow, outflow, dan sumber panas suatu sistem panas
bumi berada. Hal ini sangat berguna untuk kelanjutan dan prospeksi dalam suatu eksplorasi awal
lapangan panasbumi.

Gambar 1.6 Ilustrasi Diagram balok model suatu sistem panasbumi hasil interpretasi data
geomagneti dengan data pendukung lainnya daerah panas bumi Candi Umbul-Telomoyo,
Provinsi Jawa Tengah (Dudi Hermawan, dkk)

1.3

METODE PENGUKURAN GEOMAGNETIK


Pengukuran geomagnetik menggunakan alat magnetometer misalnya fluxgate dan proton

magnetometer. Seperti halnya medan gaya berat secara umum dise- tiap titik permukaan bumi
2

akan memiliki nilai intensitas magnet tertentu (IGRF). Terdapat akuisisi data dalam metode
medan geomagnet yaitu base-rover dan looping.
1. Base- Rover
Pengukuran yang menggunakan dua buah alat PPM dimana satu buah untuk pengambilan
data base yang penempatan alat PPM tersebut di tempatkan pada tempat yang bebas dari
noise guna mencatat nilai variasi harian dan tetap sedangkan satunya untuk pengambilan
data di lapangan guna mencatat intensitas medan total dari tiap lintasan. Proses
pengolahan data manual Base Rover yaitu dengan cara ymenghitung data dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
sebagai berikut :
BL = H Base X T Base Rover
T Terukur
BLN = Intensitas terdekat BL

Hvar = BLN Bl1


Ha = H intensitas rover IGRF - Hvar
.
Keterangan : BL

: kuat medan magnet

BLn

: kuat medan magmet dititik n

Hvar

: nilai variasi harian

Bl1

: Bl pada stasiun 1

IGRF

: International Geomagnetics Reference Field

Ha

medan magnet anomali

2. Looping
Pengukuran yang menggunakan satubuah alat PPM dimana satu buah untuk pengambilan
nilai variasi harian juga untuk pengambilan data di lapangan guna mencatat intensitas

medan total dari tiap lintasan. Proses pengolahan data manual Base Rover yaitu dengan
cara menghitung data dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Koreksi IGRF = Hrerata IGRF
Var iansi harian = (Ti Tawal) X (T akhir T awal)
( Hrerata akhir Hrerata awal)
Ha = H intensitas rover IGRF - Hvar
Keterangan :
Ti
: Waktu di titik pengambilan
Tawal : Waktu di titik awal
Takhir : Waktu di titik akhir
IGRF : International Geomagnetics Reference Field
Ha
: medan magnet anomali
Metodologi pengolahan data magnetik terdapat dua jenis yaitu pengolahan base Rover
dan pengolahan metode satu alat. Untuk pengolahan Base Rover sebagai berikut,
mulai
3.
Data
H rata-rata
data Rover

Variansi
harian data
base

Selesai
Nilai h
Pembuatan
peta
mengguna

Sedangkan untuk metode satu alat, sebagai berikut,


mulai
Selesai

Data

Koreksi
IGRF

Variansi
data harian

Pembuatan
peta
mengguna
Nilai h

Gambar 1.6 Alat magnetometer LEMI-018 (Anonim, 2007d dalam Sudaryo, 2011)

1.4

PEMODELAN DAN INTERPRETASI DATA GEOMAGNETIK

Pengolahan data awal berupa base rover dan metode satualat diolah menggunakan exel
dan dilakukan koreksi. Kemudian hasil data di lakukan konturing menggunakan surfer. Hasil peta
geomagnetik akan dihasilkan seperti gambar berikut,

Gambar 1.7 peta anomali geomagnetik daerah panasbumi G.Endut, lebak Banten (alandra idral
1dkk, 2006)
Dapat dilihat dari peta nilai medan magnet anomali tertinggi yaitu pada tengah daerah penelitian
sedangkan pada daerah barat dan timur cenderung lebih rendah. . Hal ini menandakkan bahwa
nilai intensitas medan magnet pada tengah daerah penelitan lebih besar dari daerah lain di
sekitarnya. Selanjutnya dapaat dianalisa lebih detil guna menentukkan nilai supsebilitas daerah
tersebut.
Interpretasi selanjutnya menentukan model geologi berdasarkan data geomagnetik
didukung dengan data eologi, dan geokimia. Penentuan akhir merupakan suatu model sistem
panasbumi suatu daerah.