Anda di halaman 1dari 3

Anatomi & Fisiologi Tulang

Tulang terdiri atas matriks organic keras yang sangat diperkuat dengan endapan garam kalsium
dan garam tulang. Matriks organik ini terdiri dari serat-serat kolagen dan medium gelatin
homogen yang disebut substansi dasar. Substansi dasar ini terdiri atas cairan ekstraseluler
ditambah proteoglikan, khususnya kondroitin sulfat dan asam hialuronat yang membantu
mengatur pengendapan kalsium. Garam-garam tulang terutama terdiri dari kalsium dan fosfat.
Rumus garam utamanya dikenal sebagai hidroksiapatit.
Tahap awal pembentukan tulang adalah sekresi kolagen (kolagen monomer) dan substansi dasar
oleh osteoblas. Kolagen monomer dengan cepat membentuk serat-serat kolagen dan jaringan
akhir yang terbentuk adalah osteoid, yang akan menjadi tempat di mana kalsium mengendap.
Sewaktu osteoid terbentuk, beberapa osteoblas terperangkap dalam osteoid dan selanjutnya
disebut osteosit. Osteoblas dapat dijumpai di permukaan luar tulang dan dalam rongga tulang.
Lawan dari osteoblas yang membentuk tulang adalah osteoklas yang menyerap tulang dan
mengikisnya.
Pada pertumbuhan tulang normal, kecepatan pengendapan dan absorpsi tulang sama satu dengan
lainnya, sehingga massa total dari tulang tetap konstan. Biasanya, osteoklas terdapat dalam
massa yang sedikit tetapi pekat, dan sekali massa osteoklas mulai terbentuk, maka osteoklas akan
memakan tulang dalam waktu 3 minggu dan membentuk terowongan. Pada akhir waktu ini,
osteoklas akan menghilang dan terowongan itu akan ditempati osteoblas. Selanjutnya, mulai
dibentuk tulang baru. Pengendapan tulang ini kemudian terus berlangsung selama beberapa
bulan, dan tulang yang baru itu diletakkan pada lapisan berikutnya dari lingkaran konsentris
(lamella) pada permukaan dalam rongga tersebut sampai pada akhirnya terowongan itu terisi
semua. Pengendapan ini berhenti setelah ada pembuluh darah yang mendarahi daerah tersebut.
Kanal yang dilewati pembuluh darah ini disebut kanal harvers. Setiap daerah tempat terjadinya
tulang baru dengan cara seperti ini disebut osteon.
Apabila mendapat beban yang berat, tulang akan menebal. Selain itu, tulang akan terus
melakukan regenerasi kalau sudah mulai perlu diganti. Kemampuan tulang melakukan
regenerasi akibat adanya absorpsi-pengendapan tulang. Kecepatan absorpsi-pengendapan tulang
yang berlangsung cepat, misalnya pada anak-anak, cenderung membuat tulang rapuh
dibandingkan dengan absorpsi-pengendapan tulang yang lambat. Jadi, pada anak-anak akan
terjadi regenerasi yang cepat apabila ada kerusakan.
Tubuh manusia dewasa mengandung sekitar 1100gr kalsium, dan 99%nya berada dalam
kerangka tubuh. Kalsium dalam tulang terdiri Atas 2 tipe: cadangan yang dapat ditukar dengan
cepat, dan cadangan kalsium yang jauh lebih besar ddengan proses penukaran yang lambat. Ada
2 sistem homeostatik yang independen: sistem yang mengatur Ca2+ plasma yang tiap harinya
bergerak keluar masuk dari cadangan yang mudah ditukar; dan sistem yang berperan dalam
remodelling tulang melalui resropsi dan deposisi tulang yang konstan.

Ada 2 tipe kalsium: plasma dan bebas. Kalsium plasma ada yang terikat pada protein (albumin
dan globulin) dan ada juga yang berdifusi (berionisasi dan berkompleks dengan HCO3-, sitrat,
dst). Kalsium bebas yang terionisasi dalam cairan tubuh adalah perantara kedua dan diperlukan
untuk pembekuan darah, kontraksi otot, dan fungsi saraf. Penurunan kadar Ca2+ dapat
menyebabkan tetani hipokalsemik yang ditandai dengan sejumlah besar spasme otot rangka,
seperti yang terjadi pada laringospasme dimana jalan napas akan tersumbat dan menimbulkan
asfiksia fatal.
Metabolisme kalsium pada manusia dewasa yang mengonsumsi 1000mg (25mmol) kalsium per
hari. Terdapat 3 hormon yang mengatur metabolisme kalsium, yaitu: (1) 1,25dihidroksikolikalsiferol yang merupakan hormon steroid yang dibentuk dari vitamin D. Reseptor
1,25-dihidrokolekalsiferol ditemukan di banyak jaringan selain usus, ginjal, dan tulang. Jaringan
tersebut di antaranya adalah kulit, limfosit, monosit, otot rangka dan jantung, payudara, dan
kelenjar hipofisis anterior. Zat ini dapat mempermudah penyerapan Ca2+ dari usus,
mempermudah reasorbsi Ca2+ di ginjal, meningkatkan aktivitas sintetik osteoblas, dan
diperlukan untuk klasifikasi normal matriks. (2) Hormon paratiroid (PTH) yang memobilisasi
kalsium dari usus. PTH bekerja langsung pada tulang untuk meningkatkan resorpsi tulang,
ekskresi fosfat dalam urine dan memobilisasi Ca2+. (3) Kalsitonin yang menurunkan kadar
kalsium dengan cara menghambat resorpsi tulang, dan menghambat aktivitas osteoklas secara in
vitro.
Ketiga hormon ini bekerja secara terpadu untuk mempetahankan kadar Ca2+ yang konstan dalam
cairan tubuh.
Mineralisasi tulang merupakan proses penempatan kalsium ke dalam jaringan tulang. Sedangkan
demineralisasi merupakan proses yang antagonis dengan mineralisasi yaitu proses pengambilan
kalsium dari jaringan tulang.
Selama hidup, tulang secara terus-menerus diresobsi dan dibentuk tulang baru. Kalsium dalam
tulang mengalami pergantian dengan kecepatan 100% per tahun pada bayi dan 18% per tahun
pada orang dewasa. Remodeling tulang ini, sebagian bessar adalah proses local yang berlangsung
di daerah yang terbatas oleh populasi sel yang disebut unit remodeling tulang.
Tulang mempertahankan bentuk eksternalnya selama masa pertumbuhan akibat proses
remodeling konstan, disertai proses pengerasan tulang oleh osteoblas (mineralisasi) dan pada
proses resoprsi oleh osteoklas (demineralisasi) yang terjadi pada permukaan dan di dalam tulang.
Osteoklas membuat terowongan ke dalam tulang korteks yang diikuti oleh osteoblas, sedangkan
remodeling tulang trabekular terjadi di permukaan trabekular. Pada kerangka manusia, setiap saat
sekitar 5% tulang mengalami remodeling oleh sekitar 2 juta unit remodeling tulang. Kecepatan
pembaruan untuk tulang adalah sekitar 4% per tahun untuk tulang kompak dan 20% per tahun
untuk tulang trabekular.
Terdapat beberapa kelainan yang dapat terjadi pada tulang, antara lain: (1) Osteopetrosis,
merupakan penyakit tulang yang jarang sekali dijumpai dan sering kali parah. Hal ini dimana
osteoklas mengalami gangguan dan tidak mampu menyerap tulang secara wajar sehingga
osteoblas bekerja tanpa ada yang menyeimbagi. Akibatnya adalah pemadatan tulang, gangguan
neurologik akibat penyempitan dan distorsi forame tempat lewatnya berbagai saraf, dan kelainan
hematologik akibat dipenuhinya rongga sumsum. (2) Osteoporosis, merupakan kelainan pada
tulang yang disebabkan oleh kelebihan relatif fungsi osteoklas. Matriks tulang pada penyakit ini

berkurang dan insidens fraktura meningkat. Artinya, keadaan tulang osteoporosis ini sangat
rapuh karena osteoklas tidak diimbangi oleh osteoblas. Osteoporosis ini sering terjadi pada
wanita dewasa terutama yang telah mnegalami menopaose karena tingkat estrogen sangat
berpengaruh dalam pembetukan tulang atau osteoblas. (3) Osteomalasia, merupakan kelainan
pada tulang yang terjadi karena gagalnya osteoid pada tulang untuk mengeras karena kekurangan
vitamin D dan Estrogen, selain itu juga penurunannya tingkat kalsium dan fosfat serta
demineralisasi seperti yang telah dijelaskan di atas. Hal ini juga terjadi karena meningkatnya
hormon paratiroid dalam tubuh. Osteomalasia ini sering disebut softbone atau tulang lunak.