Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mata adalah salah satu nindra yang penting bagi manusia, melalui mata
manusia menyerap informasi visual yang digunakan untuk melakasanakan
berbagai kegiatan. Gangguan terhadapa penglihatan banyak terjadi, mulai dari
gangguan ringan sampai dengsan kebutaan.7
Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduaduanya yang disebabkan oleh berbagai keadaan. Katarak dapat menyebabkan
berbagai komplikasi bahkan sampai menyebabkan kebutaan. 9 estimasi jumlah
orang dengan gangguan penglihatan di dunia sekitar 4,24%, sebesar 0,58% orang
menderita kebutaan dengan 51% yang disebabkan oleh

katarak dan sisanya

disebabkan oleh glaukoma, kekeurahn kornea, gangguan refraksi retinopati


diabetikum. Di Indonesia, prevalensi kebutaan lebih tinggi mencapai yaitu 0,9%.
Batas prevalensi kebutaan yang tidak menjadi maslah kesehatan berdasarkan
standar WHO adalah 0,5%.7
Jenis katarak yang paling sering terjadi adalah katarak senilis. Katarak
senilis merupakan kekeruhan lensa yang terjadi pada usia diatas 50 tahun. 5
Pada usia lanjut banyak terjadi perubahan pada lensa mata, antara lain
peningkatan massa dan ketebalan lensa serta penurunan daya akomodasi. Hal
tersebut yang mengakibatkan semakin tingginya kejadian katarak pada usia
lanjut.7,5 Terapi definitif katarak pada dasarnya adalah melalui tindakan
pembedahan

yang

bertujuan untuk memperbaiki tajam penglihatan pasien.

Namun, dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan faktor-faktor yang dapat

mempersulit tindakan, mempengaruhi hasil operasi maupun faktor yang dapat


meningkatkan risiko timbulnya komplikasi.5,8

1.2 Batasan Masalah

Batasan masalah dari penulisan refrat ini adalah definisi, epidemiologi,


klasifikasi, etiologi dan faktor risiko, pathogenesis, manifestasi klinis, diagnosis,
tatalaksana, dan prognosis dari katarak sinilis.
1.3 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan

refrat

ini

adalah

untuk

menambah

pengetahuan mengenai definisi, epidemiologi, klasifikasi, etiologi dan faktor

risiko, pathogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, tatalaksana, dan prognosis dari


katarak sinilis.
1.4 Metode Penulisan
Penulisan refrat ini

berdasarkan tinjauan kepustakaan dengan

merujuk ke beberapa literatur yang ada.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi

Katarak adalah kekeruhan pada lensa yang menyebabkan


penurunan fungsi lensa sebagai media refrakta. Biasanya terjadi akibat
proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran. Dapat juga
berhubungan dengan trauma mata tajam maupun tumpul, penggunaan
kortikosteroid jangka panjang, penyakit sistemik, pemajanan radiasi,
pemajanan yang lama sinar ultraviolet, atau kelainan mata lain seperti
uveitis anterior. Katarak senilis adalah katarak yang terkait usia yaitu

pada usia di atas 50 tahun. Biasanya mengenai kedua mata dan


berjalan progresif.5,7
2.2 Anatomi
Struktur mata dapat kita kelompokan menjadi 2 yaitu struktur
mata eskternal dan struktur mata internal. 5,7,8
1. Struktur mata eksternal
Gambar. 2.1 Struktur Mata Eksternal

a. Alis Mata
Alis adalah

dua

potong

kulit

tebal

melengkung

yang

ditumbuhi rambut. Alis dikaitkan pada otot-otot sebelah


bawahnya

serta

berfungsi

melindungi

mata

dari

sinar

matahari.
b. Kelopak Mata
Kelopak mata merupakan dua lempengan, yaitu lempeng
tarsal yang terdiri dari jaringan fibrus yang sangat padat
serta dilapisi kulit dan dibatasi konjungtiva. Jaringan dibawah
kulit ini tidak mengandung lemak. Kelopak mata atas lebih
besar daripada kelopak mata bawah serta digerakkan ke atas
oleh otot-otot melingkar, yaitu muskulus orbikularis okuli
yang dapat dibuka dan ditutup untuk melindungi dan
meratakan air mata ke permukaan bola mata dan mengontrol
banyaknya sinar yang masuk.
c. Bulu Mata
Bulu mata melindungi mata dari debu dan cahaya.
2. Struktur mata internal
a. Sklera
Pembungkus yang kuat dan fibrus. Sklera yang membentuk warna
putih pada mata dan tersambung pada bagian depan dengan
sebuah jendela membran yang bening, yaitu kornea. Sklera
melindungi struktur mata yang sangat halus serta membantu
mempertahankan bentuk bola mata
b. Khoroid
Lapisan tengah yang berisi pembuluh darah. Merupakan bagian
arteria oftalmika, cabang dari arteria karotis interna. Lapisan
vaskuler ini membentuk iris yang berlubang ditengahnya, atau yang
disebut pupil mata. Selaput berpigmen sebelah belakang iris
memancarkan warnanya dan dengan demikian menentukan apakah
sebuah mata itu berwarna biru, coklat, kelabu, dan seterusnya.

Khoroid bersambung pada bagian depannya dengan iris, dan tepat


dibelakang iris. Selaput ini menebal guna membentuk korpus siliare
sehingga terletak antara khoroid dan iris. Korpus siliare itu berisi
serabut otot sirkulerndan serabut-serabut yang letaknya seperti
jari-jari sebuah lingkaran. Kontraksi otot sirkuler menyebabkan pupil
mata juga berkontraksi. Semuanya ini bersama-sama membentuk
traktus uvea yang terdiri dari iris, korpus siliare, dan khoroid.

Peradangan pada masing-masing bagian berturut-turut disebut


iritis, siklitis, dan khoroiditis, atau pun yang secara bersama-sama
disebut uveitis. Bila salah satu bagian dari traktus ini mengalami
peradangan, maka penyakitnya akan segera menjalar kebagian
traktus lain disekitarnya.
Gambar 2.2 Struktur Mata Internal

c. Retina
Lapisan saraf pada mata yang terdiri dari sejumlah lapisan serabut,
yaitu sel-sel saraf batang dan kerucut. Semuanya termasuk dalam
konstruksi retina yang merupakan jaringan saraf halus yang
menghantarkan impuls saraf dari luar menuju
jaringan saraf halus yang menghantarkan impuls saraf dari luar
menuju diskus optikus, yang merupakan titik dimana saraf optik
meninggalkan biji mata. Titik ini disebut titik buta, oleh karena tidak
mempunyai retina. Bagian yang paling peka pada retina adalah
makula, yang terletak tepat eksternal terhadap diskus optikus,
persis berhadapan dengan pusat pupil.
d. Kornea
Merupakan bagian depan yang transparan dan bersambung dengan
sklera yang putih dan tidak tembus cahaya. Kornea terdiri atas
beberapa lapisan. Lapisan tepi adalah epithelium berlapis yang
tersambung dengan konjungtiva.
e. Bilik anterior/Kamera okuli anterior
Terletak antara kornea dan iris.
f. Iris
Tirai berwarna didepan lensa yang bersambung dengan selaput
khoroid. Iris berisi dua kelompok serabut otot tak sadar (otot polos).
Kelompok

yang

satu

mengecilkan

ukuran

pupil,

sementara

kelompok yang lain melebarkan ukuran pupil itu sendiri.


g. Pupil
Bintik tengah pada mata yang berwarna hitam yang merupakan
celah dalam iris, dimana cahaya dapat masuk untuk mencapai
retina.

h. Bilik posterior /kamera okuli posterior


Terletak diantara iris dan lensa. Baik bilik anterior maupun bilik
posterior yang diisi dengan aqueus humor.
i. Aqueus humor

Cairan ini berasal dari badan siliaris dan diserap kembali ke dalam
aliran darah pada sudut iris dan kornea melalui vena halus yang
dikenal sebagai Saluran Schlemm.
j. Lensa
Suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna dan transparan.
Tebalnya 4 mm dan diameternya 9 mm. Dibelakang iris, lensa
digantung oleh zonula (zonula zinni)
yang menghubungkannya dengan korpus siliare. Di sebelah anterior
lensa terdapat humor aqueus dan disebelah posterior terdapat
vitreus humor. Kapsul lensa adalah membrane semipermiabel yang
dapat dilewati air dan elektrolit. Disebelah depan terdapat selapis
epitel subkapular. Nukleus lensa lebih keras daripada korteks nya.
Sesuai dengan bertambahnya usia, serat-serat lamelar sub epitel
terus diproduksi sehingga lensa lama-kelamaan menjadi kurang
elastik. Lensa terdiri dari 65% air, 35% protein, dan sedikit sekali
mineral yang biasa ada dalam jaringan tubuh lainnya. Kandungan
kalium lebih tinggi di lensa daripada di jaringan lainnya. Asam
askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun
tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah, maupun saraf
dalam lensa.
k. Vitreus humor
Daerah sebelah belakang biji mata, mulai dari lensa hingga retina
yang diisi dengan cairan penuh albumen berwarna keputih-putihan
seperti agar-agar. Berfungsi untuk memberi bentuk dan kekokohan
pada mata, serta mempertahankan hubungan antara retina dengan
selaput khoroid dan sklerotik.

Gambar 2.3 Lensa Mata


2.3Epidemilogi
Estimasi jumlah orang dengan gangguan penglihatan diseluruh
dunia pada tahun 2010 adalah 285 juta orang atau 4,24% populasi,
sebesar

0,58%

orang

menderita

kebutaan.

Penyebab

kebutaan

terbanyak di seluruh dunia adalah katarak 51%, diikuti oleh glaucoma


8% dan age related molecular degeneralation (AMD) sebesar 3%.
Sebanyak 21% tidak dapat ditentukan sebabnya dan 4% adalah
gangguan penglihatan sejak masa kanak-kanak.7
Orang yang berusia 50 tahun atau lebih merupakan kelompok usia
dengan gangguann penglihatan dan kebutaan terbanyak. Sekitar 65%
dengan

gangguan

penglihatan

dan

82%

mengalami

kebutaan.

Prevalensi kebutaan di Indonesia rentan umur 55-64 tahun sebesar

1,1%, usia 65-74 tahun sebesar 3,5% dan usia diatas 75 tahun sebsar
8,4%. Kelompok usia lanjut di Indonesia yang mengalami kebutaan
masih tinggi yaitu diatas 0,5% yang merupakan standar kesehatan
penglihatan yang ditetapkan oleh WHO.7

2.4 Klasifikasi Katarak Senilis


Katarak senilis secara klinis dikenal dalam empat stadium yaitu
insipien, intumesen, imatur, matur dan hipermatur.5
Tabel 1. Perbedaan stadium katarak senilis5

Kekeruhan
Cairan lensa
Iris
Bilik mata
depan
Sudut bilik
mata
Iris shadow

Insipien
Ringan
Normal
Normal

Imatur
Sebagian
Bertambah
Terdorong

Matur
Seluruh
Normal
Normal

Hipermatur
Masif
Berkurang
Tremulans

Normal

Dangkal

Normal

Dalam

Normal

Sempit

Normal

Terbuka

Negatif

Positif

Negatif

Pseudopos

test
Penyulit

Glaukoma

Uveitis +
Glaukoma

1. Katarak Insipien
Pada katarak stadium insipien terjadi kekeruhan mulai dari tepi ekuator
menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai
terlihat di dalam korteks. Pada katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai
terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan
korteks berisi jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada katarak insipien.
Kekeruhan ini dapat menimbulkan polipia oleh karena indeks refraksi yang
tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk
waktu yang lama.5

2. Katarak Intumesen.
Pada katarak ini terjadi kekeruhan lensa dan lensa yang degeneratif
menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa
menjadi bengkak dan besar yang mendorong iris sehingga bilik mata menjadi
dangkal dibandingkan keadaan normal. Pencembungan lensa ini menjadi
penyulit glaukoma. Katarak ini biasanya terjadi pada katarak yang berjalan
cepat dan mengakibatkan miopia lentikular. Pada keadaan ini dapat terjadi
hidrasi korteks hingga lensa mencembung dan daya biasnya bertambah, yang
memberikan miopisasi. Pada pemeriksaan slit lamp terlihat vakuol pada lensa
disertai peregangan jarak lamel serat lensa.5

3. Katarak Imatur
Pada katarak senilis stadium imatur sebagian lensa keruh atau katarak
yang belum mengenai seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat
bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa
yang degeneratif. Pada keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan
hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma sekunder.5

4. Katarak Matur
Pada katarak senilis stadium matur kekeruhan telah mengenai seluruh
masa lensa. Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion kalsium yang
menyeluruh. Bila katarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan
lensa akan keluar, sehingga lensa kembali pada ukuran yang normal. Terjadi

10

kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa.
Kedalaman bilik mata depan kembali berukuran normal, tidak terdapat
bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.5

5. Katarak Hipermatur
Pada katarak stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut, dapat
menjadi keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi kelur
dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan
kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa.
Kadang-kadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula
Zinn menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan
kapsul yang tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat
keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu
disertai dengan nukleus yang terbenam di dalam korteks lensa karena lebih
berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni.5

Katarak senilis yang terkait usia yang juga dapat dibagi berdasarkan
morfologinya: (1) Katarak kortikal yang dibagi kembali menjadi tipe koroner dan
kuneiform yang progresivitasnya lambat. (2) Katarak sklerotik nuklear, kekeruhan
difus yang mengenai nukleus lensa, progresivitasnya lambat. (3) Katarak
subscapular posterior, kekeruhan granuler dari plak yang terletak di posterior dari
kapsul lensa, mungkin berkembang dengan cepat progresivitas penyakitnya. Dan
(4) tipe Morgagnian (lensa hipermatur), seluruh lensa opak, dan nukleus lensa
jatuh ke inferior.9

11

Gambar 1. Klasifikasi katarak senilis berdasarkan


morfologi 9

12

2.5 Etiologi Katarak


Duke Elder (1969) mencoba membuat ikhtisar dari penyebab-penyebab
yang dapat menimbulkan katarak sebagai berikut.
1. Sebab-sebab biologik:
a) Usia tua
Pada seluruh makhluk hidup lensa mengalami penuaan dimana keadaan ini
menjadi katarak.
b) Genetik
Pengaruh genetik dikatakan berhubungan dengan degenerasi yang timbul pada
lensa.
2. Sebab-sebab imunologik:
Badan manusia mempunyai kemampuan membentuk antibodi spesifik
terhadap salah satu dari protein-protein lensa. Oleh sebab-sebab tertentu dapat
terjadi sensitisasi secara tidak disengaja oleh protein lensa yang menyebabkan
terbentuknya antibodi tersebut, bila hal ini terjadi maka dapat menimbulkan
katarak.
3. Sebab-sebab fungsional:
Akomodasi yang sangat kuat mempunyai efek yang buruk terhadap serabutserabut lensa dan cenderung memudahkan terjadinya kekeruhan pada lensa.
Ini dapat terlihat pada keadaan-keadaan seperti intoksikasi ergotamin, keadaan
tetani dan paratiroidisme.
4. Gangguan yang bersifat lokal terhadap lensa dapat berupa:
a) Gangguan nutrisi pada lensa
b) Gangguan permeabilitas kapsul lensa

13

c) Efek radiasi dari cahaya matahari


5. Gangguan metabolisme umum:
Defisiensi vitamin dan gangguan endokrin dapat menyebabkan katarak
misalnya seperti pada penyakit diabetes melitus atau hiperparatiroid.

2.6 Patofisiologi Katarak


1. Aging Process.10
Patogenesis dari katarak yang berhubungan dengan usia belum sepenuhnya
diketahui. Berdasarkan usia lensa, terjadi peningkatan berat dan ketebalan serta
menurunnya kemampuan akomodasi. Lapisan serat kortikal berbentuk konsentris,
akibatnya nukleus dari lensa mengalami penekanan dan pergeseran (nukleus
sklerosis). Kristalisasi adalah perubahan yang terjadi akibat modifikasi kimia dan
agregasi protein menjadi high-molecular weight-protein.
Perubahan lain pada katarak terkait usia pada lensa termasuk menggambarkan
konsentrasi glutatin dan kalium dan meningkatnya konsentrasi sodium dan
kalsium. Tiga tipe katarak yang berhubungan dengan usia adalah nuklear, kortikal,
dan subkapsular posterior katarak. Pada beberapa pasien penggabungan dari
beberapa tipe juga ditemukan.

Katarak nuklear
Pada dekade keempat dari kehidupan, tekanan yang dihasilkan dari fiber lensa

perifer meyebabkan pemadatan pada seluruh lensa, terutama nukleus. Nukleus


bewarna coklat kekuningan (brunescent nuclear cataract).

Katarak kortikal

14

Pada katarak kortikal terjadi penyerapan air sehingga lensa menjadi cembung
dan terjadi miopisasi akibat perubahan indeks refraksi lensa. Pada keadaan ini
penderita seakan-akan mendapatkan kekuatan baru untuk melihat dekat dengan
bertambahnya usia. Katarak kortikal sering dihubungkan dengan perubahan pada
kortek lensa. Beberapa perubahan morfologi yang akan terlihat pada pemeriksaan
slit lamp dengan midriasis maksimum:
-

Vacuoles: akumulasi cairan akan terlihat sebagai bentuk vesicle cortical

sempit yang kecil. Sisa vacuoles kecil dan meningkat jumlahnya.


Water fissure: pola dari fissure yang terisi cairan, dan akan terlihat diantara

fiber.
Lamella yang terpisah: suatu zona berisi cairan diantara lamella
Cuneiform cataract: ini sering ditemukan dengan opaksitas radier dari
lensa perifer seperti jari-jari roda.

Katarak subkapsular posterior


Terjadinya kekeruhan di sisi belakang lensa. Katarak ini menyebabkan

pandangan silau dan kabur pada kondisi cahaya terang, serta kemampuan
membaca menurun. Banyak ditemukan pada pasein diabetes melitus, pasca
radiasi, dan trauma.

2. Obat Yang Menginduksi Perubahan Lensa.10

Kortikosteroid
Penggunaan kostikosterod jangka panjang dapat menginduksi terjadinya

katarak subkapsular posterior tergantung dari dosis dan durasi terapi, serta respon
individual terhadap kortikosteroid. Terjadinya katarak telah dilaporkan melalui
beberapa rute: sistemik, topikal, subkonjungtival dan nasal spray. Pasien dengan
prednisolon oral diobservasi selama 1-4 tahun, 11% yang menggunakan dosis 10

15

mg/hari mengalami katarak. Pada penelitian lain, pasien dengan steroid topikal
berlanjut

menjadi

keratoplasti

yang

berlanjut

menjadi

katarak

setelah

mendapatkan sekitar 2,4 tetes per hari deksametason 0,1% selama 10 bulan.

Phenotiazine
Phenotiazine merupakan golongan major dari psikotropik, yang dapat

menyebabkan terjadinya deposit pigmen pada anterior epitelium lensa pada


konfigurasi axial. Deposit tersebut tergantung dari dosis dan lama pemberian.

Miotik
Antikolinesterase dapat menginduksi katarak. Insiden terjadinya katarak telah

dilaporkan sebesar 20% pada pasien setelah 55 bulan menggunakan pilokarpin


dan 60% pada pasien yang menggunakan fosfolin iodin.

3. Katarak Metabolik1

Diabetes mellitus
Jika glukosa darah meningkat, akan meningkatkan komposisi glukosa dalam

aqueous humor. Glukosa pada aqueous humor akan berdifusi masuk ke dalam
lensa, sehingga komposisi glukosa dalam lensa meningkat. Beberapa dari glukosa
akan dikonversi menjadi sorbitol, yang tidak akan dimetabolisme tetapi tetap di
lensa dan mengurangi kejernihan lensa. Setelah itu, perubahan tekanan osmotik
menyebabkan

masuknya

cairan

ke

dalam

lensa,

yang

menyebabkan

pembengkakan lensa. Fase hidrasi lensa dapat menyebabkan perubahan kekuatan


refraksi dari lensa. Pasien dengan diabetes juga dapat terjadi penurunan
kemampuan akomodasi, sehingga presbiopi dapat terjadi pada usia muda.
Galaktosemia

16

Galaktosemia adalah ketidakmampuan tubuh untuk mengkonversi galaktosa


menjadi glukosa. Sebagai konsekuensi, terjadi akumulasi galaktosa pada seluruh
jaringan tubuh, lebih lanjut lagi galaktosa dikonversi menjadi galaktitol (dulcitol),
sejenis gula alkohol dari galaktosa. Pada pasien dengan galaktosemia, 75%
berlanjut menjadi katarak. Akumulasi dari galaktosa dan galaktitol dalam sel lensa
meningkatkan tekanan osmotik dan masuknya cairan ke dalam lensa. Nukleus dan
korteks menjadi lebih keruh disebabkan oleh oil droplet.

4. Efek Dari Nutrisi1


Meskipun defisiensi nutrisi dapat menyebabkan katarak pada binatang percobaan,
etiologi ini pada manusia masih belum jelas. Beberapa penelitian menyebutkan
vitamin A, vitamin C, vitamin E, niasin, tiamin, riboflavin, beta karoten, dan
kosumsi tinggi protein dapat melindungi terjadinya katarak. Namun sejauh ini, the
Age-related Eye Disease Study (AREDS) memperlihatkan selama 7 tahun, tinggi
kosumsi vitamin C, E, beta karoten tidak menunjukan penurunan perkembangan
atau progresivitas dari katarak.
Kekeruhan lensa dengan nukleus yang mengeras akibat usia lanjut
biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. Perubahan lensa pada usia
lanjut.5:
1. Kapsul
-

Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak)

Mulai presbiopia

Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur

Terlihat bahan granular

17

2. Epitel makin tipis


-

Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat

Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata

3. Serat lensa:
-

Lebih iregular

Pada korteks jelas kerusakan serat sel

Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah protein


nukleus (histidin, triptofan, metionin, sistein dan tirosin) lensa, sedang warna
coklet protein lensa nukleus mengandung histidin dan triptofan dibanding
normal.

Korteks tidak berwarna karena:

Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi.

Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda.

2.7 Manifestasi Klinis


Gejala katarak senilis biasanya berupa keluhan penurunan tajam
penglihatan secara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif).
Penglihatan seakan- akan melihat asap/kabut dan pupil mata tampak berwarna
keputihan. Apabila katarak telah mencapai stadium matur lensa akan keruh secara
menyeluruh sehingga pupil akan benar-benar tampak putih. Gejala dan tanda
gangguan katarak menurut American Academy of Ophthalmology (2014) meliputi:
1. Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
2. Peka terhadap sinar atau cahaya.
3. Dapat terjadi pergeseran miopik.

18

4. Didapakan penglihatan ganda pada mata (diplopia/poliopia).


5. Menurunnya fungsi penglihatan.
5. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.

2.8 Diagnosis
Diagnosis katarak senilis dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk mendeteksi adanya
penyakit-penyakit yang menyertai (contoh: diabetes melitus, hipertensi, cardiac
anomalies). Penyakit seperti diabetes militus dapat menyebabkan perdarahan
perioperatif sehingga perlu dideteksi secara dini sehingga bisa dikontrol sebelum
operasi.6

1. Anamnesis
Pemahaman dasar dari gejala-gejala kelainan pada mata dibutuhkan untuk
menentukan pemeriksaan oftalmologi yang tepat. Gejala okuler dapat dibagi
menjadi

kategori

dasar:

(1)

abnormalitas

penglihatan,

abnormalitas

penampakan/anatomis, dan rasa nyeri dan tidak nyaman pada mata. Kapan onset
dimulainya gejala dan progresivitasnya, berapa lama durasi dari gejalanya, apakah
intermiten atau terus menerus. Apakah lokasinya fokal atau difus, melibatkan satu
mata atau kedua mata. Dan yang terakhir apakah pasien menganggap gejalanya itu
ringan, sedang, atau berat.
Keluhan utama ditentukan berdasarkan durasi, frekuensi, intermitensi, dan
progresifitas gejala dari onset. Lokasi, berat gejala, dan keadaan sekitar mata juga
penting, begitu pula gejala lain yang terkait. Pengobatan yang pernah dan sedang

19

dijalani harus dicatat. Riwayat penyakit dahulu perlu diketahui jika ada.
Gangguan vaskuler yang berkaitan dengan manifestasi pada mata seperti diabetes
dan hipertensi perlu ditanyakan. Riwayat obat-obatan mata dan sistemik perlu
ditanyakan, termasuk obat-obatan yang mempengaruhi kesehatan mata seperti
kortikosterioid. Terakhir, riwayat alergi obat perlu dicatat. Riwayat keluarga
penting dalam gangguan mata, seperti strabismus, amblopia, glaukoma, katarak,
dan masalah retina (ablasio retina atau degenerasi makula). Gangguan medis
seperti diabetes juga relevan untuk diketahui.

2. Pemeriksaan Mata Dasar


Penglihatan
Penglihatan yang baik merupakan kombinasi dari jalur visual neurologis yang
intak, struktur mata yang sehat, dan fokus mata yang tepat. Secara umum,
pengukuran kejelasan penglihatan lebih bersifat subjektif karena menilai respon
dari pasien
Refraksi
Mata emetropi merupakan mata dengan lapangan pandang normal dengan
fokus optimal. Mata ametropi (miopi, hipermiopi, atigmatisme) perlu lensa
korektif untuk melihat. Abnormalitas optik ini dinamakan kelainan refraksi.
-

Penilaian Visus Sentral


Penilaian ketajaman penglihatan dengan menggunakan Snellen chart atau E
chart untuk anak-anak usia di atas 3,5 tahun yang belum dapat membaca. Jika
pasien tidak bisa membaca baris teratas Snellen chart, bisa menggunakan
Hand Movement (HM). Jika msaih tidak bisa, pasien diminta untuk melihat

20

arah gerak cahaya (Light Perception/LP). Mata yang tidak bisa melihat cahaya
sama sekaliu dikatakan No Light Perception (NLP). Tes pinhole dapat
-

digunakan apabila pasien butuh kacamata namun tidak tersedia.


Penilaian Visus Periferal
Lapangan pandang periferal dapat dengan cepat dinilai menggunakan tes
konfrontasi. Tes ini harus dimasukkan ke dalam setiap pemeriksaan
oftalmologi lengkap karena mungkin saja gangguan lapangan pandang tidak
terlihat pada pasien.

Pupil
Kedua pupil harus simetris, dan yang perlu dinilai adalah besar, ukuran,
dan respon terhadap cahaya dan akomodasi. Abnormalitas pupil bisa disebabkan
oleh (1) gangguan neurologis, (2) inflamasi intraokuler yang menyebabkan baik
spasme sfingter pupil ataupun adesi iris ke lensa (sinekia posterior), (3)
meningkatnya TIO yang menyebabkan atoni dari sfingter pupil, (4) koreksi bedah
sebelumnya, (6) efek dari obat-obatan mata atau sistemik, san (6) variasi normal
yang benigna.
Untuk mencegah akomodasi, pasien diminta untuk memfiksasi pandangan
pada satu titik yang jauh sambil penlight di arahkan menuju mata. Nilai respon
langsung (konstriksi pupil yang disenteri) dan respon konsensual pupil (konstriksi
simultan normal dari pupil lain yang tidak disenteri).

Motilitas Okuler
Tujuan dari tes ini adalah untuk melihat kesejajaran mata dan
pergerakannya, baik duksi maupun versi. Pada individu normal memiliki
penglihatan binokuler.

21

Penilaian Kesejajaran Mata


Penilaian untuk melihat kesejajaran binokuler dengan menggunakan
penlight yang di arahkan kepada mata pasien. Reflek cahaya pinpoint harus
ada pada kedua kornea (refleks kornea) dan berada di tengah pupil di tiap mata
jika kedua mata sejajar. Jika posisi mata konvergen, misal sebelah mata
mengarah ke dalam (esotropia), refleks kornea akan tampak di daerah
temporal dari pupil mata, dan jika posis mata divergen, salah satu mata
mengarah keluar (eksotropia), refleks kornea akan terpantulkan lebih kea rah
nasal dari mata.
Tes menutup merupakan metode yang lebih akurat untuk memverifikasi
kesejajaran mata normal. Tes ini membutukan visus yang baik pada kedua
mata. Pasien diminta melihat benda yang jauh dengan kedua mata terbuka.
Jika kedua mata memfiksasi ke arah yang sama, menutup satu mata tiba-tiba
tidak akan mempengaruhi posisi mata lain atau fiksasi berlanjut. Tes menutup

yang abnormal dapat dilihat pada pasien dengan diplopia.


Penilaian Pergerakan Ekstraokuler
Pasien diminta untuk mengikuti target dengan kedua mata ketika bergerak
dalam empat arah kardinal. Penilai mencatat gerakan, kelembutan, jarak, dan
kesimetrisan gerak dan amati fiksasi yang tidak stabil (misal pada nistagmus).

3. Pemeriksaan Fisik Eksternal


Sebelum memeriksa bola mata dengan alat magnifikasi, pemeriksaan
eksternal umum adneksa okuler (kelopak mata dan area periokuler) perlu
dilakukan. Lesi kulit, tanda inflamasi: bengkak, eritem, hangat,dan nyeri
dievaluasi dengan inspeksi dan palpasi.
4. Pemeriksaan Biomikroskop Slit lamp
Dengan menggunakan slit lamp, depan dari segmen anterior bola mata
dapat dilihat. Penilaian margo dan bulu mata, permukaan konjungtiva

22

palpebral dan bulbar, kornea dan lapisan air mata, serta aqueous humor dapat
dinilai. Dengan pupil yang didilatasi, lensa kristalin dan bagian depan vitreous
humor juga dapat dinilai.
Biomikroskop slit lamp dapat memperlihatkan lokasi anteroposterior dari
suatu lesi dalam struktur kornea, lensa, dan badan vitreous. Dengan
pembesaran tertinggi, slit lamp dapat memperlihatkan sel dalam aqueous
humor, seperti sel darah merah atau putih, atau granula berpigmen. Flare yang
merupakan peningkatan konsentrasi protein dalam aqueous, dapat dideteksi
jika ada inflamasi intraokuler. Normalnya tidak ditemukan sel maupun flare
pada pemeriksaan slit lamp.
5. Tonometri
Tonometri adalah metode untuk mengukur tekanan intraokuler dengan
instrument yang telah dikalibrasi. Rentang normal TIO adalah 10-21 mmHg.
6. Oftalmoskop direk
Oftalmoskop dapat menilai segmen anterior mata seperti konjungtiva,
kornea, dan iris. Slit lamp lebih superior dalam menilai aspek ini, namun tidak
portabel dan mungkin tidak ada. Oftalmoskop juga dapat menilai refleks
fundus. Kekeruhan apapun yang terletak seoanjang jalur optik sentral akan
menghalangi refleks ini dan akan terlihat seperti titik hitam ataupun bayangan.
Jika kekeruhannya bergerak atau melayang, lokasi lesi terletak di dalam
vitreous humor (misal perdarahan kecil). Jika menetap, mungkin lesi terletak
pada lensa (misal pada katarak fokal) atau korna (misal, scar).
Kemampuan utama oftalmoskop direk adalah dapat menilai fundus.
Gambarannya mungkin dapat dirusak oleh media okuler berawan seperti
katarak, atau pupil yang kecil. Menggelapkan ruangan biasanya mendilatasi
pupil secara natural sehingga mempermudah evaluasi fundus sentral, termasuk
disk, macula, dan pembuluh retina proksimal.

23

Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk


mengetahui kemampuan melihat pasien. Visus pasien dengan katarak subkapsuler
posterior dapat membaik dengan dilatasi pupil. Pada stadium insipien dan imatur
bisa dicoba dikoreksi dengan lensa kacamata. Reflek pupil terhadap cahaya pada
katarak masih normal. Didapatkan leukokoria (pupil berwarna putih) pada katarak
matur. Tampak kekeruhan lensa terutama jika pupil dilebarkan, berwarna keabuabuan yang harus dibedakan dengan refleks senil. Diperiksa proyeksi iluminasi
dari segala arah pada katarak matur untuk mengetahui fungsi retina secara garis
besar.6
Pada pemeriksaan slit lamp biasanya dijumpai keadaan palpebra,
konjungtiva, dan kornea dalam keadaan normal. Iris, pupil, dan COA terlihat
normal. Pada lensa pasien katarak, didapatkan lensa keruh. Dapat dievaluasi luas,
tebal, dan lokasi kekeruhan lensa. Dilakukan pemeriksaan shadow iris untuk
menentukan stadium pada penyakit katarak senilis. Tes positif pada katarak
insipient, katarak imatur, katarak hipermatur, dan negatif pada katarak matur.
Dengan oftalmoskop, pada stadium insipien dan imatur tampak kekeruhan
kehitam-hitaman dengan latar belakang jingga, sedangkan pada stadium matur
didapatkan reflek fundus negatif. Tidak ditemukan tanda-tanda inflamasi pada
lensa.6

2.9 Diagnosis Banding


1. Glaukoma Kronis
2. Presbiopi : Rabun jauh dekat yang terjadi karena faktor usia.
3. Fibroplasti retrolensa

24

4. Oklusi pupil
5. Retinoblastoma
2.10 Tata Laksana1
Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Untuk menentukan kapan
katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan. Tajam
penglihatan dikaitkan dengan tugas sehari-hari penderita. Pada pembedahan
katarak dilakukan pengangkatan lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan
prosedur intrakapsular atau ekstrakapsular :
1.

Ekstraksi intrakapsular (ICCE).


Teknik ini jarang dilakukan lagi sekarang.

2.

Ekstraksi ekstrakapsular (ECCE).


Pada teknik ini, bagian depan kapsul dipotong dan diangkat, lensa
dibuang dari mata, sehingga menyisakan kapsul bagian belakang. Lensa
intraokuler buatan dapat dimasukkan ke dalam kapsul tersebut. Kejadian
komplikasi setelah operasi lebih kecil kalau kapsul bagian belakang utuh.

3. Fakofragmentasi dan fakoemulsifikasi.


Merupakan teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran-getaran
ultrasonik untuk mengangkat lensa melalui irisan yang kecil (2-5 mm),
sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca-operasi. Teknik ini kurang
efektif pada katarak yang padat.

25

Operasi katarak terdiri dari pengangkatan sebagian besar lensa dan


penggantian lensa dengan implan plastik. Saat ini pembedahan semakin banyak
dilakukan dengan anestesi lokal daripada anestesi umum. Anestesi lokal
diinfiltrasikan di sekitar bola mata dan kelopak mata atau diberikan secara topikal.
Jika keadaan sosial memungkinkan, pasien dapat dirawat sebagai kasus perawatan
sehari dan tidak memerlukan perawatan rumah sakit.1
Kekuatan implan lensa intraokular yang akan digunakan dalam operasi
dihitung sebelumnya dengan mengukur panjang maata secara ultrasonik dan
kelengkungan kornea (maka juga kekuatan optik) secara optik. Kekuatan lensa
umumnya dihitung sehingga pasien tidak akan membutuhkan kacamata untuk
penglihatan jauh. Pilihan lensa juga dipengaruhi oleh refraksi mata kontralateral
dan apakah terdapat terdapat katarak pada mata tersebut yang membutuhkan
operasi. Jangan biarkan pasien mengalami perbedaan refraktif pada kedua mata.2

26

Gambar 1. Pembedahan katarak4

Pascaoperasi pasien diberikan tetes mata steroid dan antibiotik jangka pendek.
Kacamata baru dapat diresepkan setelah beberapa minggu, ketika bekas insisi
telahsembuh. Rehabilitasi visual dan peresepan kacamata baru dapat dilakukan
lebih cepat dengan metode fakoemulsifikasi. Karena pasien tidak dapat
berakomodasi maka pasien membutuhkan kacamata untuk pekerjaan jarak dekat
meski tidak dibutuhkan kacamata untuk jarak jauh. Saat ini digunakan lensa
intraokular multifokal, lensa intraokular yang dapat berakomodasi sedang dalam
tahap pengembangan.1
2.11 Komplikasi
Apabila

dibiarkan

katarak

akan

menimbulkan

gangguan

penglihatan dan komplikasi seperti glaukoma, uveitis dan kerusakan


retina.3
2.12 Prognosis
Apabila pada proses pematangan katarak dilakukan penanganan
yang tepat sehingga tidak menimbulkan komplikasi serta dilakukan
tindakan pembedahan pada saat yang tepat maka prognosis pada
katarak senilis umumnya baik.

27

BAB III
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang
terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun. Penyebab
terjadinya katarak senilis ialah karena proses degeneratif. Selain
itu katarak senilis juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor
seperti adanya penyakit metabolisme, trauma serta paparan
sinar ultraviolet.
Katarak senilis secara klinis dikenal dalam empat stadium,
yaitu stadium insipien, imatur, matur dan hipermatur. Gejala
umum gangguan katarak meliputi penglihatan tidak jelas seperti
terdapat kabut menghalangi objek, peka terhadap sinar atau
cahaya, dapat terjadi penglihatan ganda pada satu mata
memerlukan pencahayaan yang baik untuk dapat membaca,
lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Untuk
menentukan kapan katarak dapat dibedah ditentukan oleh

28

keadaan tajam penglihatan. Tajam penglihatan dikaitkan dengan


tugas sehari-hari penderita.
Apabila dibiarkan katarak akan menimbulkan gangguan
penglihatan dan komplikasi seperti glaukoma, uveitis dan
kerusakan retina. Apabila pada proses pematangan katarak
dilakukan penanganan yang tepat sehingga tidak menimbulkan
komplikasi serta dilakukan tindakan pembedahan pada saat
yang tepat maka prognosis pada katarak senilis umumnya baik.
DAFTAR PUSTAKA

1.

Bruce J, Chew C, Bron A. 2006. Lecture Notes Ophthalmology 9th ed,


terj. Jakarta : Erlangga

2.

Duke-Elder, S. 1969. System of Ophthalmology vol. 11. St. Louis: CV Mosby.

3.

Global Online Information. 2009. Pengertian dan Definisi Katarak.


Diakses

dari

http://info.g-

excess.com/id/info/PengertiandanDefinisiKatarak.info,

School.

2007.

Diakses

dari

Desember 2015]

4.

Harvard

Health

Cataract

Publications.

Surgery-Cataract:

Harvard
Eye

Medical
Care.

http://www.aolhealth.com/eye-care/learn-about-it/cataract/cataractsurgery, [ 5 Desember 2015 ]

5.

Ilyas, S. 2005. Ilmu Penyakit Mata. Ed. 3. Jakarta: FKUI.

6.

Ocampo,

V.V.D.

2014.

Senile

Cataract.

Diakses

http://emedicine.medscape.com/article/1210914-overview,

januari 2010 ]

29

dari
[ 31

7.

Situasi gangguan penglihatan dan kebutaan. 2014. Pusat data

8.

kementrian kesehatan RI. Diperoleh dari depkes.go.id


Snell RS, 2012 Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran, edisi 6.

9.

Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC


Vaughan DG, Asbury T, Eva PR, 2000. Oftalmologi umum edisi 14.
Widya medika.

10. Zorab, A. R, Straus H, Arturo C, et al. 2014. Lens and Cataract in: Basic
and Clinical Science Course Sction 11. San Fransiso: American Academy of
Oftalmology

30