Anda di halaman 1dari 3

RIGID PAVEMENT DAN FLEKSIBEL PAVEMENT

Perkerasan jalan adalah lapisan atau badan jalan yang menggunakan bahan khusus, yaitu
campuran antara agregat dan bahan ikat yang digunakan untuk melayani beban lalu lintas.
Agregat yang dipakai terdiri dari batu pecah, batu belah, batu kali, sedangkan bahan ikat yang
digunakan berupa aspal, semen. Dari segi jenis bahan pengikat yang dipergunakan dikenal dua
jenis perkerasan yaitu perkerasan lentur dan perkerasan kaku. Konstruksi perkerasan lentur
(Flexible Pavement), yaitu perkerasan yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikatnya.
Lapisan-lapisan perkerasan bersifat memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar

a. Lapisan permukaan (Surface Course)


Surface Course terdiri atas campuran mineral agregat dan bahan pengikat. Penggunaan
bahan aspal diperlukan agar lapisan dapat bersifat kedap air, disamping itu bahan aspal
sendiri memberikan bantuan tegangan tarik, yang berarti mempertinggi daya dukung lapisan
terhadap beban roda.
b. Lapisan Pondasi Atas (base course)
Bermacam-macam bahan alam/setempat (CBR > 50%, PI < 4%) dapat digunakan sebagai
bahan lapis pondasi, antara lain : batu pecah, kerikil pecah yang distabilisasi dengan semen,
aspal, pozzolan, atau kapur
c. Lapisan Pondasi Bawah (sub base course)
Terdiri atas lapisan dari material berbutir (granular material) yang dipadatkan, distabilisasi
ataupun tidak, atau lapisan tanah yang distabilisasi
d. Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)
Persoalan tanah dasar yang sering ditemui antara lain :
Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) dari jenis tanah tertentu sebagai akibat
beban lalu-lintas.
Sifat mengembang dan menyusut dari tanah tertentu akibat perubahan kadar air.
Daya dukung tanah tidak merata dan sukar ditentukan secara pasti pada daerah dan
jenis tanah yang sangat berbeda sifat dan kedudukannya, atau akibat pelaksanaan
konstruksi.
Lendutan dan lendutan balik selama dan sesudah pembebanan lalu-lintas untuk jenis
tanah tertentu.
Tambahan pemadatan akibat pembebanan lalu-lintas dan penurunan yang
diakibatkannya, yaitu pada tanah berbutir (granular soil) yang tidak dipadatkan secara
baik pada saat pelaksanaan konstruksi.

Kerusakan pada konstruksi perkerasan lentur dapat disebabkan oleh:


a. Lalu lintas, yang dapat berupa peningkatan beban, dan repetisi beban.
b. Air, yang dapat berasal dari air hujan, sistem drainase jalan yang tidak baik dan naiknya air
akibat kapilaritas.
c. Material konstruksi perkerasan. Dalam hal ini dapat disebabkan oleh sifat material itu sendiri
atau dapat pula disebabkan oleh sistem pengolahan bahan yang tidak baik.
d. Iklim, Indonesia beriklim tropis, dimana suhu udara dan curah hujan umumnya tinggi, yang
dapat merupakan salah satu penyebab kerusakan jalan.
e. Kondisi tanah dasar yang tidak stabil. Kemungkinan disebabkan oleh system pelaksanaan
yang kurang baik, atau dapat juga disebabkan oleh sifat tanah dasarnya yang memang kurang
bagus
f. Proses pemadatan lapisan di atas tanah dasar yang kurang baik.
Perkerasan kaku (rigid pavement) adalah perkerasan yang menggunakan beton semen sebagai
bahan ikat sehingga mempunyai tingkat kekakuan yang relatif cukup tinggi. Konstruksi utama
dari perkerasan kaku berupa satu lapis beton semen mutu tinggi. Sedangkan lapis pondasi bawah
(sub base) berupa cement treated sub base dan granural sub base bukanlah merupakan
komponen konstruksi utama. Fungsi masing-masing komponen konstruksi perkerasan kaku
(rigid pavement) :
1. Tanah dasar atau sub grade dalam perkerasan kaku adalah tanah yang telah disiapkan
(dibentuk dan dipadatkan) untuk meletakkan konstruksi perkerasan, baik berupa tanah asli
ataupun tanah timbunan. Tanah dasar ini berfungsi menerima beban lalu lintas yang telah
disalurkan oleh konstruksi perkerasan, penyebaran dan penyaluran beban kepada tanah dasar
tersebut dilakukan oleh perkerasan dengan ketebalan dan mutu sedemikian rupa, sehingga
tekanan beban yang sampai ke tanah dasar sesuai dengan kemampuan atau daya dukung
tanah dasar yang bersangkutan.
2. Tulangan plat pada perkerasan kaku mempunyai bentuk, lokasi dan fungsi yang berbeda
dengan tulangan plat pada konstruksi beton lain. Misalnya, lantai gedung, balok, dan lain
sebagainya. Tulangan plat pada perkerasan kaku mempunyai bentuk, lokasi, serta fungsi
khusus sebagai berikut :
Fungsi tulangan plat beton terletak pada 1/4 tebal plat di sebelah atas.
Fungsi tulangan plat beton adalah memegang beton agar tidak retak.
3. Tulangan sambungan pada perkerasan kaku (rigid pavement) dikenal dua jenis sambungan,
yaitu tulangan sambungan melintang disebut dowel dan sambungan memanjang disebut tie
bar.
4. Alur permukaan atau grooving/brushing
Permukaan perkerasan kaku disamping kuat dan awet harus pula tidak licin. Permukaan tidak
licin dengan membentuk alur-alur di permukaan beton melalui pengaluran/penyikatan sebelum
beton ditutup wet burlap dan sebelum beton mengeras. Arah alur grooving bisa memanjang atau
melintang. Beberapa perbedaan penting antara perkerasan lentur dan kaku antara lain yaitu pada
proses konstruksi, perilaku terhadap beban dan material pengikat.

Tabel Perbandingan antara Perkerasan Lentur dan Kaku


No
1

2
3
4
5
6
7

10

11

Item
Perkerasan lentur
Perkerasan kaku
Umur
rencana Efektif 5 sampai 10 tahun. Perlu Efektif dapat mencapai 20
(masa layanan)
beberapa tahap pembangunan sampai 30 tahun dalam satu kali
masa layanan seperti perkerasan konstruksi
kaku
Lendutan
Cenderung melendut
Lendutan jarang terjadi
Perilaku terhadap Perkerasan lentur lebih sensitif pada overloading dibanding
overloading
perkerasan kaku, ini dikaitkan dengan perilaku terhadap lendutan
Kebisingan
dan Perkerasan lentur mempunyai tingkat kebisingan dan vibrasi yang
vibrasi
lebih rendah
Pantulan cahaya
Perkerasan lentur mempunyai daya pantul yang lebih lemah
dibandingkan perkerasan kaku
Bentuk permukaan Permukaan perkerasan lentur lebih halus dibandingkan perkerasan
kaku
Proses konstruksi
Relatif lebih mudah dan cepat. Dengan teknologi bahan aditif
Dengan teknologi campuran, untuk beton, maka proses
waktu yang dibutuhkan dari pematangan bisa berlangsung
mulai penghamparan sampai cepat sekitar 2 hari, tetapi beton
dibuka untuk lalu-lintas hanya yang terlalu cepat matang
membutuhkan waktu sekitar 2 cenderung mudah retak
jam
Perawatan
Memerlukan perawatan rutin, Tidak perlu perawatanrutin, tetapi
tetapi relatif lebih mudah
perbaikan kerusakan relatif lebih
sulit
Biaya konstrksi dan Dikaitkan dengan proses maka Biaya awal lebih mahal tetapi
perawatan
biaya awal lebih murah, tetapi tidak memerlukan perawatan
perlu ada perawatan rutin yang rutin sampai umur efektif
tahunan dan lima tahunan
Karakteristik
Beban didistribusikan secara Dengan nilai kekakuan yang
terhadap
berjenjang pada tiap lapisan
tinggi maka seluruh beban
pembebanan
diterima olehstruktur
Karakteristik
Material yang
diperlukan Material utama adalah agregat,
meterial
adalah aspal, dan filler (jika semen,
dan
filler
(jika
diperlukan). Sangat sensitif diperlukan). Air dapat membantu
terhadap air
pada saat pematangan beton
(Sumber : Rekayasa Jalan Raya, Atma Jaya Yogyakarta 1999)