Anda di halaman 1dari 48

PERTUMBUHAN IKAN KERAPU MACAN

(Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775)


DI PERAIRAN PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU

ARIS SUTRISNA

SKRIPSI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011

RINGKASAN
Aris Sutrisna, C24052449. Pertumbuhan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus
fuscoguttatus Forsskal, 1775) di Perairan Pulau Panggang, Kepulauan
Seribu. Di bawah bimbingan Rahmat Kurnia dan Yonvitner.
Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) adalah ikan
ekonomis penting yang banyak ditangkap di wilayah perairan kepulauan seribu
diantaranya di Kelurahan Pulau Panggang. Nilai ekonomisnya yang cukup tinggi
mengakibatkan tingginya kegiatan penangkapan dan penangkapan yang tidak
ramah lingkungan, sehingga diperlukan pengelolaan yang tepat untuk menjaga
keberlanjutan sumberdaya ikan macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775)
yang memerlukan data ilmiah, salah satu dari data ilmiah tersebut adalah indikator
pertumbuhan yang meliputi kajian mengenai laju tumbuh, panjang maksimum
yang masih mungkin dicapai oleh ikan serta bentuk hubungan panjang dan berat
yang terbentuk. Berkaitan dengan hal itu
penelitian ini bertujuan mengetahui pola pertumbuhan, parameter
pertumbuhan serta ukuran dewasa ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus
Forsskal, 1775) hasil tangkapan nelayan Pulau Panggang, Kabupaten
Administratif Kepulauan Seribu. Informasi ini diharapkan dapat menjadi masukan
dalam merumuskan pengelolaan yang tepat bagi kelestarian sumberdaya ikan
kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775).
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder,
Data primer penelitian ini diambil dari dari hasil tangkapan nelayan di Pulau
Panggang, Kelurahan Pulau Panggang. Pengumpulan data dilaksanakan selama 28
Hari dari Tanggal 29 Juli 1 September 2010. Data sekunder berasal dari hasil
penelitian ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) dari
Pulau Tigak pada tahun 1981 (Wright & Richards 1985). Data dianalisis dengan
menggunakan analisis regresi linier hubungan panjang dan bobot untuk menduga
pola pertumbuhan dan untuk menduga parameter pertumbuhan dalam persamaan
Von Bertalanffy digunakan metode ELEFAN I (Electronik Lenght Frequency
Analysis) dalam program FiSAT II.
Hasil analisa hubungan panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus Forsskal, 1775) di perairan Pulau Panggang mengikuti persamaan
W=9x10-6L3,14 dengan koefisien determinasi (R2) = 0,971. Hasil uji t pada SK
95% diketahui bahwa pola pertumbuhannya bersifat allometrik positif, dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa laju pertumbuhan bobot ikan kerapu macan
(Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) di perairan Pulau Panggang lebih
dominan dibandingkan dengan laju pertumbuhan panjangnya. Persamaan Von
Bertalanffy untuk ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775)
ini mengikuti persamaan Lt=855,23(1-e-0,6(t+0,11)). Parameter pertumbuhan panjang
infinitif atau panjang maksimum teoritis (L) diperoleh sebesar 855,23 mm
dengan koefisien pertumbuhan (K) sebesar 0,6 serta umur ikan pada saat
panjangnya nol (t0) adalah -0,11 tahun.
Pertumbuhan panjang berat yang bersifat allometrik positif menyatakan
bahwa kondisi lingkungan lebih dominan mempengaruhi pertumbuhan bobot ikan
kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) di perairan Pulau

Panggang. Sedangkan pertumbuhan panjang ikan kerapu macan di perairan Pulau


Panggang lebih cepat dibandingakan dengan ikan kerapu macan dari Pulau Tigak.
Ukuran ekonomis ikan kerapu macan yang yang ditangkap adalah ukuran yang
lebih besar dari 310 mm.
Kata Kunci: Ikan, Kerapu Macan, Parameter, Pertumbuhan, Pulau
Panggang, Kepulauan Seribu.

PERTUMBUHAN IKAN KERAPU MACAN


(Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775)
DI PERAIRAN PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU

Aris Sutrisna
C24052449

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI


DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:


Pertumbuhan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal,
1775) di Perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu
adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Agustus 2011

Aris Sutrisna
C24052449

PENGESAHAN SKRIPSI

Judul

Nama Mahasiswa

: Pertumbuhan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus


fuscoguttatus Forsskal, 1775) di Perairan Pulau Panggang,
Kepulauan Seribu
: Aris Sutrisna

Nomor Pokok

: C24052449

Program Studi

: Manajemen Sumberdaya Perairan

Menyetujui,
Pembimbing I,

Pembimbing II,

Ir. Rahmat Kurnia, M.Si


NIP. 19680928 199302 1 001

Dr. Yonvitner, S.Pi, M.Si


NIP. 19750825 200501 1 003

Mengetahui:
Ketua Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan,

Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc


NIP 19660728 199103 1 002

Tanggal Lulus :

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang memberikan
rahmat dan karunia-Nya kepad1a penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi
dengan judul Pertumbuhan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus
Forsskal, 1775) di Perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Penulis
mengucapkan terimakasih kepada Ir. Rahmat Kurnia, M.Si selaku dosen
pembimbing pertama dan Dr. Yonvitner, S.Pi, M.Si selaku dosen pembimbing
kedua dan semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
usulan penelitian ini.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang
pertumbuhan sumberdaya ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus
Forsskal, 1775) hasil tangkapan nelayan di sekitar perairan Pulau Panggang.
Sehingga dapat digunakan dalam pengelolaan sumberdaya ikan kerapu macan
(Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) ini untuk pengelolaan yang
berkelanjutan. Skripsi ini belum dapat dikatakan sempurna. Oleh karena itu
penulis tetap mengharapkan saran serta kritik guna kemajuan penulis di masa
mendatang.

Bogor, Agustus 2011

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH


Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar
besarnya kepada :
1. Ir. Rahmat Kurnia, M.Si selaku dosen pembimbing pertama dan Dr. Yonvitner,
S.Pi, M.Si selaku dosen pembimbing kedua yang telah memberikan bimbingan,
arahan, serta saran dalam pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi.
2. Dr. Ir. Yunizar Ernawati, M.S selaku dosen penguji tamu, Dr. Ir. H. Achmad
Fachruddin, M. Si selaku dosen penguji dari program studi dan Ir. Agustinus M
Samosir, M.Phil selaku ketua komisi pendidikan atas saran serta arahannya.
Terkhusus untuk Dr. Ir. Niken T. M. Pratiwi, M.Si atas semua kesabaran dan
arahannya.
3. Ucapan terimakasih untuk keluarga tercinta; Bapak (Bapak Komar), Ibu (Ibu
Enah), saudara-saudaraku (Neni, Ipah, Didin Saprudin dan Ai Fauziah) atas
motivasi, kesabaran dan dukungannya.
4. Seluruh staf Tata Usaha MSP, terutama kepada mbak Widar yang telah banyak
membantu memperlancar proses administrasi penyelesaian skripsi ini.
5. Teman-teman MSP 42 serta 43 terutama R. Restama Gustar H., Vita Verawati,
Ocstosani, Nuah Japet, atas motivasi dan dukungannya.
6. Teman-teman Pondok Apel dan Bujang serta rekan-rekan di Dokter Komputer,
ucapan terimakasih ini ini terutama untuk Cucu Sukmaya yang memberikan
dukungan yang tiada terkira, untuk Fahmi Bawazier, Dhian Prakarti, Asep
Mulyadiana, Rizka Abdurrahman, Trisawanto Nuratmojo dan sahabat tercinta
yang memberikan banyak inspirasi (Alm) Farhat Bawazier.
7. Penduduk Pulau Panggang yang telah banyak membantu, terutama untuk Wa
Sailah dan keluarga, Wa Udin dan keluarga, Wa Asep dan keluarga, Wa Luk
dan keluarga, Pak Nawawi, Mas Ahmad, Tiah dan Keluarga, Maruf, Siti
Muthmainnah, Ismail, Hendrik, Doddy, rekan-rekan di Seafarming Pulau
Panggang serta pihak/-pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu
yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung.

RIWAYAT HIDUP
Penulis yang terlahir pada 19 Januari 1987 di Ciamis
merupakan anak ke tiga dari 5 bersaudara dari pasangan
Bapak Komar dan Ibu Enah. Penulis menempuh pendidikan
formal di TK Sejahtera III Jalatrang (1992-1993), SDN II
Jalatrang (1993-1999), MTs Talagasari (1999-2002) di
Ciamis, MAN Awipari (2002-2005) di Kota Tasikmalaya.
Kemudian penulis melanjutkan pendidikan strata satu di
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Institut Pertanian Bogor, pada
tahun 2005 melalui jalur USMI.
Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif sebagai Asisten Praktikum
Mata Kuliah Penerapan Komputer (2007, 2008 dan 2009). Penulis juga aktif
dalam kegiatan berorganisasi di Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa
(BEM KM) Institut Pertanian Bogor (2007/2008), sebagai staf Departemen
Pendidikan dan Pengambangan Sumberdaya Manusia (PPSDM). Penulis menjadi
staf Informasi dan Komunikasi (Infokom) (2006/2007 dan 2007/2008) pada
HIMASPER (Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan), dan juga
selain di organisasi mahasiswa penulis aktif dalam berbagai kepanitian kegiatan
kemahasiswaan lainnya.
Untuk menyelesaikan studi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
penulis menyusun skripsi yang berjudul Pertumbuhan Ikan Kerapu Macan
(Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) Di Perairan Pulau Panggang,
Kepulauan Seribu.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ..........................................................................................

xii

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

xiii

1. PENDAHULUAN .......................................................................................
1.1 Latar Belakang ......................................................................................
1.2 Perumusan Masalah ...............................................................................
1.3 Tujuan dan Manfaat...............................................................................

1
1
1
2

2. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................


2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Kerapu Macan .....................................
2.2 Distribusi, Habitat dan Lingkungan Ikan Kerapu Macan ......................
2.3 Kegiatan Budidaya Ikan kerapu acan ....................................................
2.4 Pertumbuhan Ikan Kerapu macan ........................................................

3
3
4
5
6

3. METODE PENELITIAN ..........................................................................


3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................
3.2 Alat dan Bahan ......................................................................................
3.3 Pengambilan Data..................................................................................
3.4 Sebaran Frekuensi Panjang ...................................................................
3.5 Analisis Data .........................................................................................
3.5.1 Model hubungan panjang berat ...................................................
3.5.2 Model Von Bertallanffy ..............................................................

8
8
8
9
10
10
10
11

4. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................


4.1 Kondisi Umum Pulau Panggang ..........................................................
4.2 Hubungan Panjang Berat ......................................................................
4.3 Model Pertumbuhan Panjang Von Bertalanffy .....................................
4.4 Alternatif Pengelolaan ...........................................................................

13
13
14
16
18

5. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................................


5.1 Kesimpulan ............................................................................................
5.2 Saran ....................................................................................................

20
20
20

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

21

LAMPIRAN ....................................................................................................

23

DAFTAR GAMBAR

Halaman
1. Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775)
Sumber: Binohlan (2010) ............................................................................

2. Peta distribusi penyebaran ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus


Forsskal, 1775) di dunia (dicetak tebal)
Sumber: Heemstra dan Randall (1993) .......................................................

3. Lokasi studi Kelurahan Pulau Panggang .....................................................

4. Skema pengambilan data panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus


fuscoguttatus Forsskal, 1775) di Pulau Panggang ......................................

5. Hubungan panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus


Forsskal, 1775) hasil tangkapan nelayan Pulau Panggang, Kepulauan
Seribu...........................................................................................................

15

6. Perbandingan model hubungan panjang berat ikan kerapu macan


(Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) antara Pulau Panggang dan
Pulau Tigak..................................................................................................

16

7. Kurva perbandingan pertumbuhan panjang ikan kerapu macan


(Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) di Pulau Panggang dan Pulau
Tigak ............................................................................................................

17

xi

DAFTAR TABEL

Halaman
1. Tabel data kualitas air di 9 pulau/gosong di Kelurahan Pulau
Panggang. Sumber: Estradivari et al. (2009) ............................................
13
2. Perbandingan Nilai a, b dan R2 ikan kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus Forsskal, 1775) di Pulau Panggang dan Pulau Tigak ..........

15

3. Perbandingan nilai parameter pertumbuhan panjang antara ikan


kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) di Pulau
Panggang dan Pulau Tigak. .......................................................................

17

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1. Foto-foto pengukuran panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus) hasil tangkapan nelayan di Pulau Panggang ....................... 24
2. Alat tangkap bubu dan pancing sebagai alat tangkap ikan kerapu
macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Pulau Panggang .............................

25

3. Data mentah pengamatan panjang berat ikan kerapu macan


(Epinephelus fuscoguttatus) hasil tangkapan nelayan di Pulau
Panggang ....................................................................................................

26

4. Data nilai tengah (Xi) dan frekuensi (Fi) ikan kerapu macan
(Epinephelus fuscoguttatus) di Pulau Tigak, Papua Nugini ........................

27

5. Pengukuran Sebaran frekuensi panjang ikan kerapu macan


(Epinephelus fuscoguttatus) hasil tangkapan nelayan di Pulau
Panggang ....................................................................................................

28

6. Penghitungan L dan k menggunakan program FISAT II ..........................

29

7. Perhitungan Penentuan b = 3 atau tidak (penentuan


isometrik/allometrik) ...................................................................................

30

8. Perbandingan simulasi pertumbuhan panjang ikan kerapu macan


(Epinephelus fuscoguttatus) di Pulau Panggang dan Pulau Tigak ..............

31

9. Perhitungan panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus


fuscoguttatus) dan logaritmanya .................................................................

32

10. Perhitungan model hubungan panjang berat berat ikan kerapu macan
(Epinephelus fuscoguttatus) di Pulau Tigak dan Pulau Panggang ..............

35

xiii

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ikan Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) adalah ikan
ekonomis penting yang banyak ditangkap di wilayah perairan Kepulauan Seribu
diantaranya di Kelurahan Pulau Panggang. Harga jual yang relatif mahal,
membuat ikan ini banyak ditangkap oleh nelayan. Akibat permintaan yang tinggi
kemudian banyak masyarakat menangkap dengan menggunakan potassium dan
bom, namun akibatnya terumbu karang yang menjadi habitat ikan ikut rusak.
Tingkat pemanfaatan yang tinggi dan overfishing menuntut diperlukannya
upaya pengelolaan agar kelestariannya terjaga. Aktivitas yang dilakukan
diantaranya melalui pemuliaan dan budidaya. Agar manfaat ekonomi juga terjaga,
maka kegitan budidaya seperti Sea Farming dan Sea Ranching kemudian
dikembangkan. Salah satu lokasi pengembangan budidaya ikan kerapu macan
adalah di Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu.
Walaupun kegiatan budidaya telah dikembangkan, namun kegiatan
penangkapan masih tetap dilakukan nelayan. Ikan kerapu yang ditangkap tidak
hanya berasal dari lokasi Gosong Semak Daun, tetapi juga dari pulau lainnya.
Ikan tangkapan nelayan juga cenderung kecil-kecil dan jumlahnya sedikit.
Kurangnya hasil tangkapan itu menandakan terjadinya over eksploitasi.
Dalam konteks ekonomi, penurunan ukuran ikan dan jumlah hasil
tangkapan juga mengurangi pendapatan nelayan. Untuk itu indikator pertumbuhan
panjang dan berat juga dijadikan indikator perubahan ekosistem. Indikator
pertumbuhan diantaranya adalah kajian mengenai laju tumbuh, panjang
maksimum yang masih mungkin dicapai oleh ikan serta bentuk hubungan panjang
dan berat yang terbentuk.

1.2 Perumusan Masalah


Sumberdaya ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775)
mengalami penurunan ukuran tangkap, jumlah hasil tangkap, serta kerusakan
habitat. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, maka perlu dilakukan berbagai
kajian, diantaranya pertumbuhan, laju pertumbuhan, dan kajian kondisi habitat.

Langkah yang perlu dilakukan meliputi penelitian tentang aspek biologi dan
ekologi ikan kerapu macan. Penelitian ini diharapkan dapat membantu
pengelolaan pemanfaatan sumberdaya ikan kerapu macan ini selanjutnya.

1.3 Tujuan dan Manfaat


Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pola pertumbuhan, parameter
pertumbuhan serta ukuran dewasa ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus
Forsskal,

1775)

hasil

tangkapan

nelayan

Pulau

Panggang,

Kabupaten

Administratif Kepulauan Seribu.


Sedangkan manfaat penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah
setempat supaya memberikan regulasi yang tepat demi kelestarian sumberdaya
ikan kerapu macan, sehingga baik langsung maupun secara tidak langsung
memberikan manfaat juga bagi nelayan setempat dan bagi ekosistemnya.
Penelitian ini juga diharapkan menambah khazanah keilmuan bagi peneliti
khususnya dan pembaca pada umumnya.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Kerapu Macan


Menurut Binohlan (2010) ikan kerapu macan digolongkan pada :
kelas

: Chondrichthyes

subkelas : Ellasmobranchii
ordo

: Percomorphi

divisi

: Perciformes

famili

: Serranidae

genus

: Epinephelus

spesies

: Epinepheus fuscoguttatus (Forsskal, 1775)

sinonim : Brown-marbled grouper, tiger grouper; nama lokal Indonesia:


kerapu macan, balong macan.

Gambar 1. Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775)


Sumber: Binohlan CB (2010)

Morfologi ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775)


seperti yang terlihat pada Gambar 1. Menurut Heemstra dan Randall (1993) tinggi
ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) lebih panjang dari
panjang kepalanya. Area interorbitalnya datar atau sedikit cekung, bagian
Preoperculumnya membulat dan bergerigi halus, ujung bagian atas operculumnya
cembung, ujung bagian depan tulang preorbital menekuk cukup dalam ke arah
lubang hidung dan rahang bagian atas memanjang dari posterior sampai mata.
Beberapa ciri morfologi yang lain dapat menjelaskan bentuk ikan ini secara
jelas. Pada ikan ini terdapat sekitar 10 - 12 buah Gill rakers di bagian atas dan 17

- 21 pada bagian bawah (tapi pada dasarnya sulit untuk dihitung). Ikan kerapu
macan memiliki XI jari keras dan 14 atau 15 jari lunak duri sirip dorsal (jari keras
ketiga atau keempat biasanya terpanjang), III jari keras dan 8 jari lunak sirip anal,
dan sirip pectoral sekitar 18-20 serta bentuk sirip caudal (ekor) membundar.
Warna tubuh ikan ini coklat pucat kekuningan, tubuh, kepala, dan sirip ditutupi
dengan bintik-bintik coklat kecil, yang mana bagian bercak lebih gelap dari area
tubuh lainnya.

2.2 Distribusi, Habitat dan Lingkungan Ikan Kerapu Macan

Gambar 2. Peta distribusi penyebaran ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal,
1775) di dunia (dicetak tebal)
Sumber: Heemstra dan Randall (1993)

Penyebaran ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775)


seperti terlihat pada Gambar 2. terdistribusi secara luas di wilayah Indo-Pasifik,
Laut Merah, kepulauan tropis India dan bagian barat-tengah Lautan Pasifik (timur
ke Samoa dan Kepulauan Phoenix). Ikan kerapu macan tersebar juga di sepanjang
pantai timur Afrika sampai Mozambik, Madagaskar, India, Thailand, Indonesia,
pantai tropis Australia, Jepang, Filipina, New Guinea, dan Kaledonia Baru
(Heemstra & Randall 1993).

Distribusi ikan ini di berbagai kepulauan dunia tersebut tidak terlepas dari
habitatnya di perairan yang berasosiasi dengan karang. Ikan kerapu macan banyak
ditemukan pada daerah yang kaya terumbu karangnya serta air yang jernih,
sampai kedalaman 60 m. Habitat ini termasuk perairan dangkal terumbu karang,
dasar laut berbatu, puncak laguna, kanal karang serta tubir (bagian terjal terluar
terumbu karang) (Binohlan 2010). Namun pada umumnya ikan ini hidup pada
kedalaman 5-20 meter di semua tipe terumbu karang dengan kondisi yang baik.
Kebanyakan ikan kerapu macan memanfaatkan liang/lubang/rongga di terumbu
karang sebagai tempat berlindung dan biasanya menetap (sedentary). (Yeeting et
al. 2001 in Ahmad 2009). Parameter ekologis yang cocok bagi pertumbuhan ikan
kerapu macan yaitu temperatur 24-31oC, salinitas 30-33 ppt, kandungan oksigen
terlarut > 3,5 ppm dan pH 7,8 8, perairan seperti ini, pada umumnya terdapat di
perairan terumbu karang (Lembaga Penelitian Undana 2006 in Ahmad 2009).
Terkait kebiasaan makan ikan ini dihabitatnya Heemstra dan Randal
(1993) menyatakan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal,
1775) merupakan ikan predator pemangsa ikan-ikan lain, krustase dan
cephalopoda. Ikan ini lebih aktif mencari makan di kolom perairan pada waktu
fajar dan senja hari, dibandingkan dengan saat malam/siang hari (Maryati 2004 in
Ahmad 2009).

2.3 Kegiatan Budidaya Ikan kerapu Macan


Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) termasuk golongan ikan
karang (coral reef fish) yang bisa dibudidayakan. Di perairan terumbu karang,
ikan ini diperkirakan hidup dengan kepadatan hanya 0,5-0,6 ton per km2 atau
sekitar 0,0005-0,0006 kg/m2, mengingat ikan ini tergolong ikan buas (spesies
predator, karnivora) yang cenderung hidup soliter dan membangun teritori. Di
wadah kultur seperti kantong jaring karamba jaring apung (KJA) kepadatan ikan
kerapu bisa mencapai 250 kg per 9 m2 atau sekitar 28 kg per m2, hampir 56.000
kali dari kepadatan di alam (Effendie 2006) .
Ditjen Perikanan Budidaya in Badri (2008) menyatakan dalam budidaya
ikan ini mempunyai laju pertumbuhan 2,5-3 gram/hari (hasil kajian Balai
Budidaya Laut Lampung). Kerapu bebek yang dipelihara dengan berat awal 1,3

gram dan panjang total 4 cm akan mencapai berat antara 400-500 gram selama 1214 bulan, sedangkan kerapu macan dapat dipanen pada bulan ke tujuh dengan
berat 525 gram. Pertambahan berat kerapu bebek relatif lebih lambat dibanding
kerapu macan hal ini dimungkinkan karena secara genetik memang lambat
tumbuh. Menurut Effendie MI (1997) bahwa faktor keturunan merupakan salah
satu faktor internal yang mempengaruhi pertumbuhan ikan, dan faktor tersebut
merupakan hal yang sulit untuk dikontrol.

2.4 Pertumbuhan Ikan Kerapu Macan


Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran panjang atau berat dalam satu
ukuran waktu, sedangkan bagi populasi adalah pertambahan jumlah (Effendie
1997). Pertumbuhan merupakan proses biologi yang kompleks, dimana banyak
faktor yang mempengaruhinya, seperti kualitas air, ukuran, umur, jenis kelamin,
ketersediaan

organisme-organisme

makanan,

serta

jumlah

ikan

yang

memanfaatkan sumber makanan yang sama. Menurut Effendie (1997) faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan dibagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor dalam
dan faktor luar. Faktor dalam meliputi faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
dari ikan, seperti keturunan, sex, umur, parasit, dan penyakit. Sedangkan faktor
luar yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain jumlah dan ukuran makanan
yang tersedia, suhu, oksigen terlarut, dan faktor kualitas air. Faktor ketersedian
makanan sangat berperan dalam proses pertumbuhan. Pertama ikan memanfaatkan
makanan untuk memelihara tubuh dan menggantikan sel-sel tubuh yang rusak,
kemudian kelebihan makanan yang tersisa baru dimanfaatkan untuk pertumbuhan.
Pola pertumbuhan terdiri atas dua macam, yaitu pola pertumbuhan
isometrik dan allometris. Pertumbuhan isometris adalah perubahan terus menerus
secara proporsional antara panjang dan berat dalam tubuh ikan. Pertumbuhan
allometrik adalah perubahan yang tidak seimbang antara panjang dan berat dan
dapat bersifat sementara (Effendie 1997).
Ikan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) yang
termasuk ikan berumur panjang ini, bisa mencapai umur 40 tahun dan memiliki
panjang maksimum yang pernah diketahui berukuran sepanjang 1200 mm
(Binohlan 2010). Ikan kerapu macan berganti kelamin menjadi jantan ketika

mencapai ukuran tertentu (Hermaphrodit protogyni) (Kordi 2001). Berdasarkan


dari penelitian Pulau Palau, diketahui spesies betina dewasa berkisar pada ukuran
420 mm, dan jantan dewasa berkisar pada ukuran 698 mm (Johannes et al. 1999).
Adapun umur dan ukuran dugaan ikan ini benar-benar dewasa, yang mana 50%
betina aktif secara seksual selama masa bertelur adalah ukuran panjang total 570
mm (Pears et al. 2007 in SRFCA 2009).

3. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian


Pengambilan data penelitian ini dilakukan dengan mengambil data dari
para pengumpul ikan di Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang, Kabupaten
Administrasi Kepulauan Seribu, Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta).
Secara geografis Pulau Panggang terletak pada 10620'00' Bujur Timur (BT)
hingga 10657'00' BT dan 510'00' Lintang Selatan (LS) hingga 557'00' LS.
Pengambilan data dilaksanakan selama 28 Hari dari Tanggal 29 Juli 1 September
2010. Lokasi penelitian seperti disajikan dalam Gambar 3.

Gambar 3. Lokasi studi Kelurahan Pulau Panggang

3.2 Alat dan Bahan


Alat pengukur panjang ikan menggunakan penggaris ketepatan 1 mm
sepanjang 300 mm dan meteran kain ketepatan 1 mm sepanjang 1500 mm.
Sedangkan untuk berat ikan menggunakan timbangan pegas berketepatan 100 g
dengan kapasitas maksimum 10.000 g dan untuk data pendukung digunakan
kamera digital sebagai peralatan dokumentasi. Adapun bahan yang digunakan
adalah ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) yang
diperoleh dari pengumpul ikan karang konsumsi hidup (gambar alat, serta ikan
hasil pengukuran ditampilkan pada Lampiran 1).

3.3 Pengambilan Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
sekunder. Data sekunder diambil dari data frekuensi panjang ikan kerapu macan
(Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) dari Pulau Tigak (data seperti terlihat
pada Lampiran 4). Adapun data primer diambil dari data panjang berat ikan
kerapu macan hasil tangkapan nelayan. Data diambil setiap hari kecuali hari
Jumat, setiap sore dan pagi hari ketika ikan yang didaratkan oleh nelayan dijual
ke pengumpul, setelah ditimbang (gram) ikan diukur panjangnya (mm), lalu
dicatat pada data sheet tanpa dibedakan atas jenis kelaminnya (data frekuensi
panjang seperti terlihat pada Lampiran 3). Skema pengukuran panjang dan berat
ikan kerapu macan seperti terlihat pada Gambar 4.

Ikan Kerapu didaratkan Nelayan

Ikan Kerapu Dijual Ke Suplier


Pengambilan Data
(Pengukuran Panjang dan Berat)
Packing dan Dijual Ke Jakarta

Gambar 4. Skema pengambilan data panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus Forsskal, 1775)

3.4 Sebaran Frekuensi Panjang


Data yang digunakan dalam metode sebaran frekuensi panjang adalah data
panjang total dari ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775).
Pengukuran ikan kerapu macan dilakukan dengan menggunakan meteran kain
yang memiliki ketelitian 1 mm. Adapun langkah-langkah untuk membuat sebaran

10

frekuensi panjang mengikuti cara yang disarankan oleh Walpole (1997). Hasil dari
sebaran frekuensi panjang seperti yang ditampilkan pada Lampiran 5.

3.5 Analisis Data


3.5.1 Model hubungan panjang berat
Berat dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Hubungan
panjang dan berat dapat diketahui dengan rumus (Effendie 1997):
W = aLb
Keterangan : W
L
a, b

= berat ikan (gram)


= panjang total ikan (milimeter)
= konstanta

Jika rumus umum tersebut ditransformasikan dengan logaritma, maka akan


didapatkan persamaan linier atau persamaan garis lurus sebagai berikut :
Log W = log a + b log L
Analisis hubungan panjang dan berat bertujuan mengetahui pola
pertumbuhan dengan menggunakan parameter panjang dan berat ikan. Hasil
analisis pertumbuhan panjang-berat akan menghasilkan suatu nilai konstanta (b),
yang akan menunjukkan laju pertumbuhan parameter panjang dan berat. Ikan
yang memiliki nilai b=3 (isometrik) menunjukkan pertambahan panjangnya
seimbang dengan pertambahan berat. Sebaliknya jika nilai b3 (allometrik)
menunjukkan pertambahan panjang tidak seimbang dengan pertambahan
beratnya. Jika pertambahan berat lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan
panjang (b>3), maka disebut sebagai pertumbuhan allometrik positif. Sedangkan
apabila pertambahan panjang lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan berat
(b<3), maka disebut sebagai pertumbuhan allometrik negatif (Effendie 1997).

11

3.5.2 Model Von Bertallanffy


Data frekuensi panjang digunakan untuk menduga model pertumbuhan
Von Bertallaffy. Model ini menggunakan rumus (Sparre & Venema 1999):
L(t )

L (1 e

k ( t t0 )

Keterangan:
L(t)
L
k
t0

: panjang pada waktu t,


: panjang pada t tak berhingga,
: koefisien pertumbuhan,
: waktu pada saat L0.
Parameter pertumbuhan L dan k didapat dari pengolahan sebaran

frekuensi panjang ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775)


dengan program Fisat II. Metodenya adalah metoda Elefan I (Electronic Length
Frequencys Analisis). Adapun t0 didapat dari rumus persamaan empiris Pauly
(Pauly 1984), yakni:
log(-t0) = -0,3922 0,2752 (Log ( L )) 1,0380 (log (k))
Nilai pendugaan t dapat dicari dengan menggunakan rumus:

Beberapa metode perhitungan yang dapat digunakan untuk menentukan


model pertumbuhan adalah; plot Gulland & Holt, plot Ford-Walford, metode
Chapman, dan plot Von Bertalanffy. Keunggulan plot Gulland & Holt (1959)
adalah nilai t (interval waktu) tidak perlu menjadi konstanta, akan tetapi hanya
masuk akal jika nilai t kecil. Keunggulan plot Ford (1933) - Walford (1946)
adalah dapat mengestimasi nilai L (panjang asimptote) dan K (koefisien
pertumbuhan) secara cepat tanpa perhitungan-perhitungan. Namun metode yang
dikembangkan oleh Chapman (1961) dan Gulland (1969) ini mengatakan bahwa
metode tersebut hanya bisa diaplikasikan jika observasi-observasi yang dilakukan
bersifat berpasangan karena nilai t menjadi suatu konstanta. Metode yang
dianggap lebih baik dari metode di atas adalah plot Von Bertalanffy (1934) karena
dapat mengestimasi nilai k yang lebih masuk akal, dengan catatan digunakan
suatu estimasi yang masuk akal dari L. Kekurangan dari metode ini adalah tidak

12

menerima Lt yang lebih besar dari L. Hal ini mungkin saja terjadi pada ikan yang
sangat tua (Sparre & Venema 1999).
Model Von Bertalanffy merupakan model sederhana akan tetapi model ini
sering memberikan kecocokan data empiris yang lebih baik. Bentuk tubuh ikan
dalam Model Von Bertalanffy diasumsikan tidak berubah selama masa
pertumbuhan. Permukaan tubuh (S) bersifat proporsional / sebanding dengan L2
sedangkan volume (V) sebanding dengan L3. Pertumbuhan tubuh sebagai
sebanding dengan permukaan tubuh (S). Tubuh mengkonsumsi nutrisi untuk
mempertahankan kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Jumlah nutrisi yang
digunakan untuk mempertahankan kelangsungan hidup itu lebih besar jika
dibandingkan dengan yang digunakan untuk pertumbuhan. Besarnya nutrisi yang
dikonsumsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup itu sebanding dengan
volume (V) (Beverton & Holt 1956 in Sulanjari & Sutimin 2008).

13

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Umum Pulau Panggang


Pulau Panggang merupakan satu dari banyak gugusan pulau di Kepulauan
Seribu. Pulau Panggang yang dihuni sekitar 5.443 jiwa ini merupakan pulau
dengan peruntukan pemukiman selain Pulau Pramuka (Anonim 2009). Komoditas
perikanan utama pulau ini adalah terumbu karang, ikan hias dan ikan karang
konsumsi seperti ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775).
Sebagian besar penduduknya adalah nelayan bubu, tombak, jaring dan pancing.
Ikan kerapu macan di daerah perairan Pulau Panggang biasanya ditangkap
dengan alat tangkap bubu. Nelayan bubu berangkat pukul 5 dan pulang pukul
15.00. Sementara, bubu diambil pada keesokan pagi harinya. Sebelum dilarang,
nelayan biasa menggunakan potassium. Penangkapan oleh nelayan harian
dilakukan perorangan dengan menggunakan kapal sendiri. Daerah tangkapannya
sekitar perairan Kelurahan Pulau Panggang. Ada juga nelayan jaring dan bubu
yang menggunakan bantuan kompresor yang menangkap ikan kerapu macan di
Pulau Pari atau di Pulau Payung.

Tabel 1. Tabel data kualitas air di 9 pulau/gosong di Kelurahan Pulau Panggang.


Sumber: Estradivari et al. (2009)
Oksigen
Suhu
Salinitas
No
Lokasi
pH
terlarut
(C)
()
(mg/l)
1
P. Panggang
29,4
7,9
32,0
7,443
2
P. Pramuka
28,3
3
Gosong Pramuka
29,9
7,8
31,0
7,303
4
Gosong Balik Layar
29,0
5
P. Semak daun
29,7
6
Gosong Karang
29,0
Lebar
7
P. Karang Congkak
28,7
8
P. Kotok Besar
30,3
9
P. Karang Bongkok
28,3
Ket: P. = Pulau

14

Berdasarkan data parameter ekologis yang cocok bagi pertumbuhan ikan


kerapu macan yaitu temperatur 24-31oC, salinitas 30-33 ppt, kandungan oksigen
terlarut > 3,5 ppm dan pH 7,8 8, perairan seperti ini, pada umumnya terdapat di
perairan terumbu karang (Lembaga Penelitian Undana 2006 in Ahmad 2009).
Kondisi lingkungan di perairan kelurahan Pulau Panggang ini cocok untuk
kehidupan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775), baik
untuk ikan budidaya maupun ikan kerapu macan yang hidup di alam, seperti
terlihat dari data pada Tabel 1.
Selain penangkapan, kegiatan budidaya di Pulau Panggang sudah banyak
dilakukan warga setempat melalui kegiatan yang dikenal dengan nama sea
farming. Permintaan ikan ini di pasar sekarang tidak tergantung penuh pada
kegiatan penangkapan, pemenuhan permintaan sudah bisa diperoleh dari nelayan
budidaya. Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dengan harga Rp.
140.000 / kg dan waktu pembesaran yang lebih cepat daripada ikan kerapu lain,
menjadi pilihan banyak pembudidaya untuk dibesarkan dalam keramba jaring
apung (KJA) nelayan budidaya setempat (Udin, Yousuf dan Nawawi, Komunikasi
Pribadi 20 Agustus 2010). Kegiatan budidaya ini juga mempengaruhi permintaan
terhadap ikan hasil tangkapan sampingan yang biasanya dijadikan sebagai
runcah/pakan ikan kerapu macan budidaya.
Ikan ini mencapai ukuran pasar (siap panen) pada kegiatan budidaya
dimulai dari ukuran 500 gram, atau sekitar 300-330 mm. Ukuran tersebut didapat
setelah waktu pembesaran selama 7-12 bulan dari ukuran 100 mm, tergantung
pemberian pakan. Pada kegiatan budidaya di Pulau Panggang sebagian besar
nelayan memberikan pakan runcah (ikan yang di iris-iris) tanpa pelet/pakan
tambahan lainnya sebanyak satu kali sehari, beberapa nelayan ada yang memberi
pakan dua kali sehari (Udin, Yousuf & Nawawi, Komunikasi Pribadi 20 Agustus
2010).

4.2 Hubungan Panjang Berat


Dalam stok perikanan, input stok diperoleh dari pertumbuhan dan
rekruitment, dalam pengertiannya pertumbuhan adalah pertambahan ukuran
panjang atau berat dalam satu ukuran waktu, sedangkan bagi populasi adalah

15

pertambahan jumlah (Effendie 1997). Terdapat hubungan antara panjang dan


berat, terkait pola pertumbuhan ikan, yang dapat dirumuskan dalam w=aLb.

Gambar 5. Hubungan panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus


Forsskal, 1775) hasil tangkapan nelayan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.

Hubungan panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus


Forsskal, 1775) yang diperoleh dari sekitar perairan Pulau Panggang mengikuti
persamaan: W=7x10-6L3,14, dengan koefisien determinasi (R2) = 0,971. Hal ini
menunjukan tingkat kepercayaan terhadap model ini sebesar 97,1%. Hasil analisis
regresi linear menghasilkan persamaan Y= -6,1724+3,14X, sehingga didapat nilai
b adalah 3,14. Setelah dilakukan uji t pada selang kepercayaan 95%, diputuskan
bahwa nilai b sebesar 3,14 bersifat allometrik positif. Dengan kata lain, laju
pertumbuhan bobot ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal,
1775) di sekitar Pulau Panggang lebih dominan dibandingkan dengan laju
pertumbuhan panjangnya. Model hubungan tersebut dapat diperlihatkan dalam
Gambar 5.
Tabel 2. Perbandingan Nilai a, b dan R2 Ikan kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus Forsskal, 1775) di antara Pulau Panggang, Indonesia dan
Pulau Tigak, Papua Nugini
Parameter Pertumbuhan
Pulau Panggang
Pulau Tigak
a
7 x 10-6
1,1 x 10-5
b
3,14
3,08
R2
0,97
0,97
b
-6 3,14
Persamaan W=aL
W=7x10 L
W=1,1x10-5L3,08
Keterangan:
a,b = Konstanta, R2 = Koefisien Determinasi
W = Berat (gram), L = Panjang (mm)

16

Sebagai perbandingan hubungan panjang berat ikan kerapu macan


(Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) di Pulau Tigak, berdasarkan penelitian
Wright dan Richards (1985) di pulau tersebut hubungan panjang dan berat ikan ini
mengikuti persamaan W=1,1x10-5L3,08, dengan koefisien determinasi (R2) = 0,97,
yang dapat menjelaskan besarnya pengaruh dari panjang total terhadap bobot
tubuh ikan sebesar 97%. Jika dibandingkan dengan akan terlihat perbandingan
seperti yang disajikan pada Tabel 2.

Gambar 6. Perbandingan model hubungan panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus
fuscoguttatus Forsskal, 1775) antara Pulau Panggang dan Pulau Tigak

Kedua model ini kemudian disimulasikan dan seperti terlihat dalam


Gambar 6 dan hasil simulasi pada Lampiran 10. Dari hasil simulasi diketahui
bahwa ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) di Pulau
Tigak memiliki hubungan panjang berat yang cenderung sama dibandingkan
dengan ikan kerapu macan di Pulau Panggang.

4.3 Model Pertumbuhan Panjang Von Bertalanffy


Perbandingan data model pertumbuhan panjang Von Bertalanffy antara
ikan kerapu di Pulau Panggang dan Pulau Tigak terlihat seperti ditampilkan pada
Tabel 3. Pertumbuhan panjang ikan kerapu di Pulau Panggang mengikuti
persamaan: Lt=855,23(1-e-0,6(t+0,11)) sedangkan di Pulau Tigak mengikuti
persamaan: Lt=852,95(1-e-0,29(t+0,23)), berdasarkan literatur (Binohlan 2010) bahwa

17

ikan ini pernah ditemukan diperkirakan sampai 40 tahun, maka dibuat simulasi t
sampai 40 seperti terlihat pada Gambar 7 dan Lampiran 8.
Tabel 3. Perbandingan nilai parameter pertumbuhan panjang antara ikan kerapu
macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) di Pulau Panggang
dan Pulau Tigak.
NO
Parameter
Pulau Panggang,
Pulau Tigak,
2010
1981
1
Jumlah Sampel (ekor)
104
359
2
855,23
829,50
L (mm)
3
K
0,6
0,29
4
t0
-0,11
-0,23
Keterangan:
: panjang pada t tak berhingga,
L
k
: koefisien pertumbuhan,
t0
: waktu pada saat L0.

Gambar 7. Kurva perbandingan pertumbuhan panjang ikan kerapu macan (Epinephelus


fuscoguttatus Forsskal, 1775) di Pulau Panggang dan Pulau Tigak

Pertumbuhan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal,


1775) di Pulau Panggang termasuk cepat mengingat pada umur 1 tahun 8,4 bulan
diduga mendekati ukuran kedewasaan (mature) bila dibandingkan dengan ikan di
Pulau Tigak ikan ini diduga mencapai ukuran dewasanya pada 2 tahun 2,4 bulan.
Menurut Pears et al. (2007) in SRFCA (2009) umur dan ukuran dugaan ikan ini
benar-benar dewasa adalah ukuran panjang total 57 cm.
Menurut Binohlan (2010) diketahui bahwa ikan ini mempunyai umur
panjang sampai 40 dengan nilai k=0,16 0.2, sementara nilai k = 0,6 di Pulau
Panggang memperlihatkan pertumbuhannya 3 kali lebih cepat dari literatur.
Dibandingkan dengan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal,

18

1775) di Pulau Tigak yang mempunyai nilai k=0,29, pertumbuhan panjang ikan
kerapu macan di sekitar perairan Pulau Panggang lebih cepat (Gambar 7).
Cepatnya pertumbuhan ini bisa disebabkan dari lingkungan yang cukup
mendukung pertumbuhan ikan ini. Laju pertumbuhan yang cepat menunjukkan
kelimpahan makanan dan kondisi tempat hidup yang sesuai (Moyle & Cech 2004
in Tutupoho 2008).
Ikan kerapu (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) macan bersifat
hermafrodit protogyni, yakni berubah menjadi jantan pada ukuran tertentu (Kordi
2001). Perkiraan ikan kerapu macan mencapai ukuran betina dewasa (420 mm) di
Pulau Panggang dimulai pada umur 1 tahun 1 bulan. Sementara Pulau Tigak
dimulai pada umur 2 tahun 3 bulan. Ukuran jantan dewasa (698 mm) di Pulau
Panggang dimulai pada umur 2 tahun 9 bulan, dan di Pulau Tigak pada umur 6
tahun 2 bulan. Ukuran ini didasarkan pada pernyataan Johannes et al. 1999 bahwa
berdasar dari penelitian Pulau Palau, diketahui spesies betina dewasa berkisar
pada ukuran 420 mm, dan jantan dewasa berkisar pada ukuran 698 mm.
Menurut (Udin 12 Agustus 2010, komunikasi pribadi) ukuran ideal pasar
untuk ikan ini adalah 300 1300 gram. Jadi, pada ukuran kisaran tersebut ikan
kerapu macan di alam menjadi target utama. Ukuran mata pancing dan mulut
bubu disesuaikan dengan ukuran pasar tersebut. Ikan dengan bobot kurang dari
300 gram tidak akan diterima pasar dan biasanya dipelihara di keramba, untuk
dibesarkan lagi. Ukuran ikan kerapu macan 300 1300 gram di sekitar perairan
Pulau Panggang berkisar pada ukuran 260 480 mm, dan diduga pada umur ikan
tersebut 6 bulan sampai 1 tahun 4 bulan.
4.4 Alternatif Pengelolaan
Hasil analisis menunjukan bahwa ikan ini akan mulai ditangkap pada
ukuran 260 m (berumur kurang lebih 6 bulan), karena sudah menjadi ukuran
pasar. Ukuran paling ideal sebenarnya dimulai dari 500 gram atau 600 gram,
karena ukuran tersebut adalah ukuran ikan yang diminati banyak konsumen.
Ukuran ini panjangnya sekitar 310 mm (8 bulan).
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pola pertumbuhan ikan kerapu
macan di perairan Kelurahan Pulau Panggang, bersifat alometrik positif. Hal ini
menunjukan bahwa pertambahan bobot lebih cepat daripada pertambahan

19

panjang. Kenyataan ini dapat diakibatkan ketersediaan makanan yang banyak.


Pada sisi lain panjang infinitifnya lebih cepat dicapai dibandingkan di Pulau
Tigak. Kondisi tersebut dimungkinkan karena persaingan dalam mencari makanan
berkurang akibat adanya penangkapan yang berimplikasi pada penurunan stok
ikan. Berdasarkan hal ini, perlu dilakukan beberapa hal. Pertama dilakukan upaya
restocking. Caranya dengan menebar bibit ikan ke perairan tersebut untuk
menjaga ketersediaan stok ikan tersebut di alam.
Kedua, supaya stok ikan setelah restocking terjaga maka penangkapan ikan
disarankan hanya untuk nelayan tangkap yang tidak membudidaya dengan hasil
tangkapan yang dikendalikan. Untuk itu perlu ada pembatasan ukuran mulut bubu
dan mata pancing sehingga hanya dapat menangkap ikan yang berukuran diatas
500 gram (310 mm) ke atas. Ukuran pancing yang disarankan adalah nomor 9,
dan diameter mulut bubu disesuaikan dengan ukuran ikan.
Ketiga, dilihat dari pertumbuhannya sebaiknya diterapkan larangan
penangkapan 8 bulan setelah restocking. Hal ini supaya tekanan penangkapannya
tidak terlalu besar.
Keempat, larangan penggunaan alat tangkap yang membahayakan
lingkungan. Alat demikian diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia
pasal 8 nomor 34 tahun 2004 tentang perikanan.
Pertumbuhan yang cepat di daerah perairan Pulau Pangang membuat sea
ranching ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal, 1775) di daerah
perairan Pulau Pangang ini sangat potensial untuk dikembangkan. Dengan catatan
terkendalinya kegiatan penangkapan setelah restocking.

20

5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Pola pertumbuhan panjang berat yang bersifat allometrik positif
menyatakan bahwa kondisi lingkungan lebih dominan mempengaruhi
pertumbuhan bobot ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus
Forsskal, 1775) di perairan Pulau Panggang.
2. Pertumbuhan panjang ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus
Forsskal, 1775) di perairan Pulau Panggang lebih cepat dibandingakan
dengan ikan kerapu macan dari Pulau Tigak.
3. Ukuran ekonomis ikan kerapu macan yang yang ditangkap adalah ukuran
yang lebih besar dari 310 mm.
5.2 Saran
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ketersediaan makanan banyak tapi
ketersediaan stok sedikit. Oleh karena itu, disarankan perlunya melakukan
restocking.

21

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim] 2009. Profil Wilayah: Pulau Panggang Saksi Bisu Sejarah


Pemerintahan. [terhubung berkala]. http://www.pulauseribu.net/modules/
news/article.php?storyid=253. [25 September 2010].
[SCRFA] Society for the Conservation of Reef Fish Aggregations. 2009. The
Brown Marbled Grouper: Description of Epinephelus fuscoguttatus.
[terhubung berkala]. http://www.scrfa.org/index.php/about-fish-spawningaggregations/aggregating-species/the-brown-marbled-grouper.html,
[25
September 2010).
Ahmad A. 2009. Estimasi daya Dukung Terumbu Karang Berdasarkan Biomasa
Ikan Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Perairan Sulamadaha,
Maluku Utara (Suatu Pendekatan Pengelolan Ekologis). Tesis. Sekolah
Pascasarjana. IPB. Bogor.
Badri A. 2008. Tehnik Budidaya Kerapu Macan. [terhubung berkala].
http://my.opera.com/indiejeans/blog/tehnik-budidaya-kerapu-macan. [22
Agustus 2011].
Binohlan CB. 2010. Epinephelus fuscoguttatus (Forsskl, 1775)..[terhubung
berkala]. http://www.fishbase.org/summary/SpeciesSummary.php?genus
name=Epinephelus&speciesname=fuscoguttatus.[2 Juli 2010].
Effendi I. 2006. Riset Terapan Pengembangan Sea Farming di Kepulauan Seribu.
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor
(PKSPL-IPB). Bogor.
Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.
92p.
Estradivari, Setyawan E, Yusri S. 2009. Terumbu karang Jakarta: Pengamatan
Jangka Panjang Terumbu Karang Kepulauan Seribu (2003-2007). Yayasan
TERANGI. Jakarta.
Heemstra PC, Randall JE. 1993. FAO species catalogue. Vol. 16. Groupers of the
world (Family Serranidae, Subfamily Epinephelinae). An annotated and
illustrated catalogue of the grouper, rockcod, hind, coral grouper and
lyretail species known to date. FAO Fisheries Synopsis. No. 125, Vol. 16.
Rome, FAO.
Johannes RE, Squire LC, Graham T, Sadovy Y, Renguul H. 1999. Spawning
aggregations of groupers (Serranidae) in Palau. Report No. 1, The Nature
Conservancy.
Kordi KMGH. 2001. Usaha Pembesaran Ikan Kerapu di Tambak. Kanisius.
Yogyakarta.115p.
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor (PKSPLIPB). 2006. Konsep Pengembangan Sea Farming di Kabupaten
Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Working Paper.

22

Riyanto, M. 2008. Respon Penciuman Ikan Kerapu macan (Epinephelus


fuscoguttatus) Terhadap Umpan Buatan. Tesis. Sekolah Pascasarjana. IPB.
Bogor.
Sampang,
AG.
1999.
Frequency
Distribution
of
Epinephelus
fuscoguttatus..[terhubung berkala]. http: //www.fishbase.org/PopDyn/
LengthFreqDistribution.php?stockcode=4658&lfcode=1421
.[25
September 2010].
Spare P, Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. Buku 1: Manual.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Penerjemah. Jakarta: Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perikanan.
Sulanjari, Sutimin. 2008. Model Dinamik Pertumbuhan Biomassa Udang Windu
Dengan Faktor Mortalitas Bergantung Waktu. Jurusan Matematika
FMIPA, Universitas Diponegoro. Semarang. 120p.
Yudha IG. 2003. Studi Pembesaran Ikan Kerapu Macan (Epinephelus
fuscoguttatus) di Perairan Pulau Puhawang, Lampung Selatan, Kabupaten
Lampung Selatan Prosiding Seminar Ilmiah Hasil-Hasil Penelitian Dosen
Universitas Lampung dalam rangka Dies Natalis Universitas Lampung ke38, tanggal 19-20 September 2003.
Tutupoho SNE. Pertumbuhan Ikan Motan (Thynnichthys thynnoides, Bleeker
1852) di Perairan Rawa Banjiran Sungai Kampar Kiri, Riau. Skripsi.
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Walpole RE. 1992. Pengantar statistika, Edisi ke-3. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta. 515p.
Wright A, Richards. 1985. A multispecies fishery associated with coral reefs in
the Tigak Islands, Papua New Guinea. Asian Marine Biology 2: 69-84.

23

LAMPIRAN

24

Lampiran 1. Foto-foto pengukuran panjang berat ikan kerapu macan


(Epinephelus fuscoguttatus) hasil tangkapan nelayan di Pulau
Panggang

Pengukuran Panjang Ikan Kerapu Macan

Pengukuran Berat Ikan Kerapu Macan

25

Lampiran 2. Alat tangkap bubu dan pancing sebagai alat tangkap ikan
kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Pulau Panggang

Alat Pancing

Pancing No. 9 10 Dipakai Untuk


Menangkap Kerapu Macan

Alat Tangkap bubu

26

Lampiran 3. Data mentah pengamatan panjang berat ikan kerapu macan


(Epinephelus fuscoguttatus) hasil tangkapan nelayan di Pulau
Panggang
L(mm) W(gram)
280
300
280
400
290
400
260
300
300
400
350
700
480
1300
610
5000
360
700
830
8000
350
700
230
100
250
200
260
300
290
400
320
500
280
400
330
600
320
600
310
500
320
500
320
600
340
700
270
300
320
500
390
900
540
3200
650
5500
350
800
340
600
310
400
320
500
310
500
340
600

L(mm) W(gram)
300
400
290
400
330
600
330
600
270
300
330
500
360
800
320
600
320
600
320
500
260
300
321
500
382
800
294
400
288
300
283
300
616
5000
354
600
313
500
295
300
324
600
321
500
332
600
469
1500
492
2000
291
400
298
400
501
2000
361
600
612
3700
349
600
352
700
351
700
285
400

L(mm) W(gram)
651
5500
401
1000
305
400
308
400
341
600
505
2000
552
2700
283
300
339
600
545
2600
345
600
365
700
324
500
326
500
615
3600
768
7500
295
400
403
1000
462
1300
329
500
338
500
299
400
332
500
798
8000
502
2100
665
4500
294
400
338
600
282
300
324
600
433
1400
375
400
285
300
261
200
552
2400
513
2000

27

Lampiran 4, Data nilai tengah (Xi) dan frekuensi (Fi) ikan kerapu macan
(Epinephelus fuscoguttatus) di Pulau Tigak, Papua Nugini

Xi
230
250
270
290
310
330
350
370
390
410
430
450
470
490
510
530
550
570
590
610
630
650
670
690
710
730
750
770
790

Fi
3
0
11
11
25
25
28
31
29
25
21
21
18
7
18
7
18
14
3
11
3
7
7
3
7
3
0
0
3

28

Lampiran 5. Pengukuran sebaran frekuensi panjang ikan kerapu macan


(Epinephelus fuscoguttatus) hasil tangkapan nelayan di Pulau Panggang
n (jumlah sampel) = 104 ekor
Jumlah Kelas =1+3.32 x LOG(104) = 7.70 = 8
Nilai Minimum = 230 mm
NIlai Maksimum = 830 mm
Interval = (830 23 0) / 8= 78
Sebaran frekuensi panjang ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus)
hasil tangkapan nelayan di Pulau Panggang
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Selang Kelas
(mm)
230-307
308-385
386-463
464-541
542-619
620-697
698-775
776-853

Batas Kelas

Xi

229,5-307,5
307,5-385,5
385,5-463,5
463,5-541,5
541,5-619,5
619,5-697,5
697,5-775,5
775,5-853,5

268,5
346,5
424,5
502,5
580,5
658,5
736,5
814,5

Fi
30
48
5
8
7
3
1
2

29

Lampiran 6. Penghitungan L dan k menggunakan program FISAT II


Berikut langkah-langkah yang dilakukan untuk menghitung L dan
k menggunakan program FISAT II:
1. Dibuat sebaran kelas frekuensi panjang
2. Dicari Xi (nilai tengah) selang serta frekuensinya
3. Masuk program fisat II
4. Dibuat file.lfq (file-new)
5. Masukan keterangan, spesies, satuan pengukuran, nilai tengah
selang serta intervalnya
6. Klik add sample, isi keterangan datanya - OK
7. Cari Nilai L dan k dengan menu, Asses Direct fit of L/F Data
ELEFAN I
8. Klik tab k scan, klik compute
9. Klik Save MSD untuk menyimpan kurva, dan hasil L dan k.

Penghitungan L dan K dalam Interface Program FISAT II

30

Lampiran 7. Perhitungan penentuan b = 3 atau tidak (penentuan


isometrik/allometrik)
Hubungan Panjang Berat: W=7x10-6L3,14
Hubungan Linear Panjang berat: y = -6,172 + 3.14x
Uji Hipotesis
H0 = b sama dengan 3
H1 = b tidak sama dengan 3
Statistik Regresi
R2 = 0,971837
Tabel Sidik Ragam
db
Jumlah Kuadrat (JK) Kuadrat Tengah (KT)
Regresi
1
14,89
14,89
Sisa
102
0,43
0,00423
Total
103
15,32
b

= 3,14

Standar error = 0.05


t Hitung = 2,65
t Tabel = 2.27
Kesimpulan :

T hitung > T tabel

Tolak H0 jadi, b tidak sama dengan 3, artinya Pola Pertumbuhan


Allometrik Positif jadi b sama dengan 3, artinya Pola Pertumbuhan Isometrik
(pertambahan berat lebih besar dari pertambahan setiap satuan panjang)

31

Lampiran 8. Perbandingan simulasi pertumbuhan panjang ikan kerapu


macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Pulau Panggang dan
Pulau Tigak
t
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

L(t) (mm) P.
Panggang
53.40
415.20
613.70
722.70
782.50
815.30
833.30
843.20
848.60
851.60
853.20
854.10
854.60
854.90
855.00
855.10
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20

L(t) (mm)
P. Tigak
53.60
248.90
395.10
504.40
586.30
647.50
693.30
727.60
753.30
772.40
786.80
797.60
805.60
811.60
816.10
819.50
822.00
823.90
825.30
826.40
827.20

t
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

L(t) (mm)
P. Panggang
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20
855.20

L(t) (mm)
P. Tigak
827.70
828.20
828.50
828.80
828.90
829.10
829.20
829.30
829.30
829.40
829.40
829.40
829.40
829.50
829.50
829.50
829.50
829.50
829.50
829.50

32

Lampiran 9. Perhitungan panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus


fuscoguttatus) dan logaritmanya
L(mm)
280
280
290
260
300
350
480
610
360
830
350
230
250
260
290
320
280
330
320
310
320
320
340
270
320
390
540
650
350
340
310
320
310
340
300
290
330
330

W(g)
300
400
400
300
400
700
1300
5000
700
8000
700
100
200
300
400
500
400
600
600
500
500
600
700
300
500
900
3200
5500
800
600
400
500
500
600
400
400
600
600

Log L Log W
2,45
2,48
2,45
2,6
2,46
2,6
2,41
2,48
2,48
2,6
2,54
2,85
2,68
3,11
2,79
3,7
2,56
2,85
2,92
3,9
2,54
2,85
2,36
2
2,4
2,3
2,41
2,48
2,46
2,6
2,51
2,7
2,45
2,6
2,52
2,78
2,51
2,78
2,49
2,7
2,51
2,7
2,51
2,78
2,53
2,85
2,43
2,48
2,51
2,7
2,59
2,95
2,73
3,51
2,81
3,74
2,54
2,9
2,53
2,78
2,49
2,6
2,51
2,7
2,49
2,7
2,53
2,78
2,48
2,6
2,46
2,6
2,52
2,78
2,52
2,78

33

Perhitungan panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan


logaritmanya (lanjutan)
L(mm)
270
330
360
320
320
320
260
321
382
294
288
283
616
354
313
295
324
321
332
469
492
291
298
501
361
612
349
352
351
285
651
401
305
308
341
505
552
283

W(g)
300
500
800
600
600
500
300
500
800
400
300
300
5000
600
500
300
600
500
600
1500
2000
400
400
2000
600
3700
600
700
700
400
5500
1000
400
400
600
2000
2700
300

Log L
2,43
2,52
2,56
2,51
2,51
2,51
2,41
2,51
2,58
2,47
2,46
2,45
2,79
2,55
2,5
2,47
2,51
2,51
2,52
2,67
2,69
2,46
2,47
2,7
2,56
2,79
2,54
2,55
2,55
2,45
2,81
2,6
2,48
2,49
2,53
2,7
2,74
2,45

Log W
2,48
2,7
2,9
2,78
2,78
2,7
2,48
2,7
2,9
2,6
2,48
2,48
3,7
2,78
2,7
2,48
2,78
2,7
2,78
3,18
3,3
2,6
2,6
3,3
2,78
3,57
2,78
2,85
2,85
2,6
3,74
3
2,6
2,6
2,78
3,3
3,43
2,48

34

Perhitungan panjang berat ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan


logaritmanya (lanjutan)
L(mm)
339
545
345
365
324
326
615
768
295
403
462
329
338
299
332
798
502
665
294
338
282
324
433
375
285
261
552
513

W(g)
600
2600
600
700
500
500
3600
7500
400
1000
1300
500
500
400
500
8000
2100
4500
400
600
300
600
1400
400
300
200
2400
2000

Log L
2,53
2,74
2,54
2,56
2,51
2,51
2,79
2,89
2,47
2,61
2,66
2,52
2,53
2,48
2,52
2,9
2,7
2,82
2,47
2,53
2,45
2,51
2,64
2,57
2,45
2,42
2,74
2,71

Log W
2,78
3,41
2,78
2,85
2,7
2,7
3,56
3,88
2,6
3
3,11
2,7
2,7
2,6
2,7
3,9
3,32
3,65
2,6
2,78
2,48
2,78
3,15
2,6
2,48
2,3
3,38
3,3

35

Lampiran 10. Perhitungan model hubungan panjang berat ikan kerapu


macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Pulau Tigak dan Pulau
Panggang
Lt
(mm)
230
240
250
260
270
280
290
300
310
320
330
340
350
360
370
380
390
400
410
420
430
440
450
460
470
480
490
500
510
520

W(g)
P.Panggang
182
208
237
268
302
338
378
420
466
514
567
622
682
745
811
882
957
1036
1120
1208
1301
1398
1500
1608
1720
1837
1960
2089
2223
2362

W(g)
P. Tigak
207
236
267
302
339
379
422
469
519
572
629
689
754
822
894
971
1052
1137
1227
1321
1421
1525
1634
1749
1868
1993
2124
2261
2403
2551

Lt
(mm)
530
540
550
560
570
580
590
600
610
620
630
640
650
660
670
680
690
700
710
720
730
740
750
760
770
780
790
800
810
820
830

W(g)
P.Panggang
2508
2660
2817
2981
3152
3329
3512
3702
3900
4104
4315
4534
4760
4994
5236
5485
5742
6008
6281
6563
6854
7153
7461
7778
8104
8439
8783
9137
9500
9874
10257

W(g)
P. Tigak
2705
2865
3032
3205
3384
3571
3764
3964
4171
4385
4606
4835
5072
5316
5568
5828
6096
6372
6657
6950
7251
7562
7881
8209
8546
8893
9249
9614
9989
10374
10768