Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Perkembangan kehidupan manusia terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Bukan hanya dari segi teknologi, tetapi juga kebutuhan manusia yang mengalami perkembangan.
Zaman sekarang manusia lebih suka mengkonsumsi segala sesuatu yang bersifat praktis dan instan
dalam memenuhi segala kebutuhan demi mendapatkan suatu kepuasan, terutama dalam hal
pemenuhan kebutuhan primer atau makanan. Saat ini, kepiting sudah tidak asing lagi, hampir semua
masyarakat lebih sering mengkonsumsinya. Kepiting di dunia ini terdiri dari berbagai jenis yang
memiliki manfaat dan kerugian sendiri-sendiri. Hal ini dikarenakan tidak semua jenis kepiting yang
ada di dunia itu bisa dikonsumsi oleh manusia. Ada beberapa jenis kepiting yang bersifat racun bagi
manusia. Akan tetapi ada beberapa kepiting yang bisa dikonsumsi oleh manusia.
Pembudidayaan kepiting sebenarnya tidak begitu sulit. Hal ini dikarenakan sekarang ini
banyak petunjuk-petunjuk tentang budidaya kepiting seperti buku, majalah, dalam situs-situs internet
dan lain sebagainya. Buku-buku petunjuk itu dengan jelas menjelaskan tentang bagaimana budidaya
kepiting yang benar, akan tetapi kunci dari semuanya adalah keuletan dan ketekunan dari orang yang
membudidayakan kepiting itu sendiri.
Banyak jenis kepiting yang dibudidayakan oleh manusia, salah satunya kepiting soca. Kepiting
soca adalah kepiting bakau fase ganti kulit (moulting) atau kepiting lembut. Kepiting dalam fase ini
mempunyai keunggulan yaitu mempunyai cangkang yang lunak (soft carapace) sehingga dapat
dikonsumsi secara utuh. Banyaknya minat masyarakat untuk mengkonsumsi kepiting yang bersifat
praktis, akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui cara pembuatan (proses)
pembudidayaannya.
Oleh karena itu, karya tulis yang berjudul Budidaya Kepiting Soca Air Payau dengan
Teknik Mutilasi ini di tulis dengan tujuan memperkenalkan metode budidaya yang lebih
menguntungkan karena bisa meminimalisir waktu dan biaya produksi serta dapat memenuhi
permintaan konsumen yang semakin meningkat dalam jangka waktu yang relatif singkat.

1.2
1.
2.
3.

Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan Kepiting Soca?
Bagaimana cara budidaya Kepiting Soca dengan teknik mutilasi?
Apa manfaat budidaya Kepiting Soca?

1.3 Tujuan Penulisan


1.

Untuk mengetahui pengertian kepiting soca.


1

2.
3.

Untuk mengetahui cara budidaya kepiting soca dengan teknik mutilasi.


Untuk mengetahui manfaat dari budidaya kepiting soca.

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat tentang pembudidayaan Kepiting Air Payau adalah sebagai berikut :
1. Bagi Pembaca
a) Mahasiswa

Untuk menambah wawasan tentang pembudidayaan kepiting air payau.

Dengan bertambahnya pengetahuan tentang pembudidayaan kepiting air payau, di


harapkan dapat di manfaatkan bagi kehidupan sehari-hari.
b) Masyarakat
Untuk memberitahukan bagaimana cara pembudidayaan kepiting yang baik.

Untuk memberitahukan bahwa cara pembudidayaan kepiting dengan menggunakan


2.
3.

teknik mutilasi lebih mudah dan hasilnya menguntungkan.


Bagi Penulis
Untuk menambah pengetahuan tentang pembudidayaan kepiting air payau yang baik.
Untuk menambahkan pengalaman dalam pembudidayaan kepiting.
Bagi Masyarakat

Untuk memberitahukan bahwa budidaya kepiting soca itu mudah, dan menghasilkan
keuntungan yang besar karena budidaya kepiting memiliki kesempatan usaha di bidang

agrobisnis perikanan yang tinggi.


Untuk memberitahukan bahwa dengan adanya pembudidayaan kepiting, dapat membantu
penyediaan bahan pangan dan lapangan kerja baru.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1

Pengertian Kepiting
Kepiting adalah binatang crustacea berkaki sepuluh, yang biasanya mempunyai "ekor" yang

sangat pendek (bahasa Yunani: brachy = pendek, ura = ekor), atau yang perutnya sama sekali
tersembunyi di bawah thorax. Menurut Kamus besar Biologi, kepiting adalah ketam yang hidup di
pantai yang berkaki sepuluh, dua di antaranya berupa supit yang tajam dan kuat, punggungnya keras,
berwarna hijau kehitaman selebar telapak tangan dan dapat di makan. Hewan ini dikelompokkan ke

dalam Filum Athropoda, Sub Filum Crustacea, Kelas Malacostraca, Ordo Decapoda, Suborder
Pleocyemata dan Infraorder Brachyura (Linneaeus, 1758).

2.2 Anatomi Kepiting


Tubuh kepiting umumnya ditutupi dengan exoskeleton (kerangka luar) yang sangat keras, dan
dipersenjatai dengan sepasang capit. Kepiting hidup di air laut, air tawar dan darat dengan ukuran
yang beraneka ragam (Anonim, 2008).
Menurut Prianto (2007), walaupun kepiting mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam
tetapi seluruhnya mempunyai kesamaan pada bentuk tubuh. Seluruh kepiting mempunyai chelipeds
dan empat pasang kaki jalan. Pada bagian kaki juga dilengkapi dengan kuku dan sepasang penjepit,
chelipeds terletak di depan kaki pertama dan setiap jenis kepiting memiliki struktur chelipeds yang
berbeda-beda. Chelipeds dapat digunakan untuk memegang dan membawa makanan, menggali,
membuka kulit kerang dan juga sebagai senjata dalam menghadapi musuh. Di samping itu, tubuh
kepiting juga ditutupi dengan Carapace. Carapace merupakan kulit yang keras atau dengan istilah
lain exoskeleton (kulit luar) berfungsi untuk melindungi organ dalam bagian kepala, badan dan
insang.
Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi
menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting, kecuali
beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut
kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah
rostrum yang panjang. Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih (phyllobranchiate), mirip
dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda. Insang yang terdapat di dalam tubuh
berfungsi untuk mengambil oksigen biasanya sulit dilihat dari luar. Insang terdiri dari struktur yang
lunak terletak di bagian bawah carapace. Sedangkan mata menonjol keluar berada di bagain depan
carapace.
Berdasarkan anatomi tubuh bagian dalam, mulut kepiting terbuka dan terletak pada bagian
bawah tubuh. Beberapa bagian yang terdapat di sekitar mulut berfungsi dalam memegang makanan
dan juga memompakan air dari mulut ke insang. Kepiting memiliki rangka luar yang keras sehingga
mulutnya tidak dapat dibuka lebar. Hal ini menyebabkan kepiting lebih banyak menggunakan sapit
dalam memperoleh makanan. Makanan yang diperoleh dihancurkan dengan menggunakan sapit,
kemudian baru dimakan (Shimek, 2008).
Kepiting bakau ukurannya bisa mencapai lebih dari 20 cm. Sapit pada jantan dewasa lebih
panjang dari pada sapit betina. Kepiting yang bisa berenang ini terdapat hampir di seluruh perairan
pantai Indonesia, terutama di daerah mangrove, di daerah tambak air payau, muara sungai, tetapi
jarang ditemukan di pulau-pulau karang (Nontji, 2002). Disamping morfologi sapit, kepiting jantan
dan betina dapat dibedakan juga berdasarkan ukuran abdomen, dimana abdomen jantan lebih sempit
dari pada abdomen betina.
3

Menurut Prianto (2007) bahwa, bagian tubuh kepiting juga dilengkapi bulu dan rambut
sebagai indera penerima. Bulu-bulu terdapat hampir di seluruh tubuh tetapi sebagian besar
bergerombol pada kaki jalan. Untuk menemukan makanannya kepiting menggunakan rangsangan
bahan kimia yang dihasilkan oleh organ tubuh. Antena memiliki indera penciuman yang mampu
merangsang kepiting untuk mencari makan. Ketika alat pendeteksi pada kaki melakukan kontak
langsung dengan makanan, chelipeds dengan cepat menjepit makanan tersebut dan langsung
dimasukkan ke dalam mulut. Mulut kepiting juga memiliki alat penerima sinyal yang sangat sensitif
untuk mendeteksi bahan-bahan kimia. Kepiting mengandalkan kombinasi organ perasa untuk
menemukan makanan, pasangan dan menyelamatkan diri dari predator.
Kepiting memiliki sepasang mata yang terdiri dari beberapa ribu unit optik. Matanya terletak
pada tangkai, dimana mata ini dapat dimasukkan ke dalam rongga pada carapace ketika dirinya
terancam. Kadang-kadang kepiting dapat mendengar dan menghasilkan berbagai suara. Hal yang
menarik pada berbagai spesies ketika masa kawin, sang jantan mengeluarkan suara yang keras dengan
menggunaklan chelipeds-nya atau menggetarkan kaki jalannya untuk menarik perhatian sang betina.
Setiap spesies memiliki suara yang khas, hal ini digunakan untuk menarik sang betina atau untuk
menakut-nakuti pejantan lainnya.

2.3

Siklus Hidup Kepiting


Seperti hewan air lainnya reproduksi kepiting terjadi di luar tubuh, hanya saja sebagian

kepiting meletakkan telur-telurnya pada tubuh sang betina. Kepiting betina biasanya segera
melepaskan telur sesaat setelah kawin, tetapi sang betina memiliki kemampuan untuk menyimpan
sperma sang jantan hingga beberapa bulan lamanya. Telur yang akan dibuahi selanjutnya dimasukkan
pada tempat (bagian tubuh) penyimpanan sperma.
Setelah telur dibuahi telur-telur ini akan ditempatkan pada bagian bawah perut (abdomen).
Jumlah telur yang dibawa tergantung pada ukuran kepiting. Beberapa spesies dapat membawa
puluhan hingga ribuan telur ketika terjadi pemijahan. Telur ini akan menetas setelah beberapa hari
kemudian menjadi larva (individu baru) yang dikenal dengan zoea. Ketika melepaskan zoea ke
perairan, sang induk menggerak-gerakkan perutnya untuk membantu zoea agar dapat dengan mudah
lepas dari abdomen. Larva kepiting selanjutnya hidup sebagai plankton dan melakukan moulting
beberapa kali hingga mencapai ukuran tertentu agar dapat tinggal di dasar perairan sebagai hewan
dasar (Prianto, 2007). Daur hidup kepiting meliputi telur, larva (zoea dan megalopa), post larva atau
juvenil, anakan dan dewasa. Perkembangan embrio dalam telur mengalami 9 fase (Juwana, 2004).
Larva yang baru ditetaskan (tahap zoea) bentuknya lebih mirip udang dari pada kepiting. Di kepala
terdapat semacam tanduk yang memanjang, matanya besar dan di ujung kaki-kakinya terdapat
rambut-rambut. Tahap zoea ini juga terdiri dari 4 tingkat untuk kemudian berubah ke tahap megalopa
dengan bentuk yang lain lagi. Larva kepiting berenang dan terbawa arus serta hidup sebagai plankton

(Nontji, 2002). Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa larva kepiting hanya mengkonsumsi
fitoplankton beberapa saat setelah menetas dan segera setelah itu lebih cenderung memilih
zooplankton sebagai makanannya (Umar, 2002). Keberadaan larva kepiting di perairan dapat
menentukan kualitas perairan tersebut, karena larva kepiting sangat sensitif terhadap perubahan
kualitas perairan (Sara, dkk., 2006).
Selain itu kepiting ini juga mengalami beberapa proses pergantian kulit (moulting). Setiap
proses tubuhnya akan tumbuh menjadi lebih besar. Selama siklus hidupnya kepiting bakau menempati
dua macam habitat yaitu air payau masa juvenil (kepiting muda) sampai dewasa, dan air laut pada
masa pemijahan sampai megalova.

2.4

Habitat dan Penyebaran Kepiting


Kepiting merupakan fauna yang habitat dan penyebarannya terdapat di air tawar, payau dan

laut. Jenis-jenisnya sangat beragam dan dapat hidup di berbagai kolom di setiap perairan. Sebagaian
besar kepiting yang kita kenal banyak hidup di perairan payau terutama di dalam ekosistem
mangrove. Beberapa jenis yang hidup dalam ekosistem ini adalah Hermit Crab, Uca sp, Mud Lobster
dan kepiting bakau. Sebagian besar kepiting merupakan fauna yang aktif mencari makan di malam
hari (nocturnal) (Prianto, 2007).

Kepiting pada fase larva (zoea dan megalopa) hidup di dalam air sebagai plankton. Kepiting
mulai kehidupan di darat setelah memasuki fase juvenil dan dewasa seiring dengan pembentukan
carapace. Kepiting dan rajungan tergolong dalam satu suku (familia) yakni Portunidae dan seksi
(sectio) Brachyura. Cukup banyak jenis yang termasuk dalam suku ini. Dr. kasim Moosa yang banyak
menggeluti taksonomi kelompok ini mengemukakan bahwa di Indo-Pasifik Barat saja diperkirakan
ada 234 jenis, dan di Indonesia ada 124 jenis. Di Teluk Jakarta dan Kepulauan Seribu diperkirakan
ada 46 jenis. Tetapi dari sekian jenis ini, hanya ada beberapa saja yang banyak dikenal orang karena
biasa dimakan, dan tentu saja berukuran agak besar. Jenis yang tubuhnya berukuran kurang dari 6 cm
tidak lazim dimakan karena terlalu kecil dan hampir tidak mempunyai daging yang berarti. Beberapa
jenis yang dapat dimakan ternyata juga dapat menimbulkan keracunan (Nontji, 2002).
Menurut Prianto (2007), bahwa di seluruh dunia terdapat lebih dari 1000 spesies kepiting
yang dikelompokkan ke dalam 50 famili. Sebagian besar kepiting hidup di laut, tersebar di seluruh
lautan mulai dari zona supratidal hingga di dasar laut yang paling dalam. Sebagian jenis kepiting ada
yang hidup di air tawar. Keanekaragaman kepiting yang paling tinggi ada di daerah tropis dan di
selatan Australia, disini lebih dari 100 jenis kepiting telah diidentifikasi.
Konsentrasi maksimum kepiting terjadi pada malam hari pada saat air pasang. Kebanyakan
kepiting memanjat akar mangrove dan pohon untuk mencari makan. Pada saat siang hari, waktu
5

pasang terendah kebanyakan kepiting tinggal di dalam lubang untuk berlindung dari serangan burung
dan predator lainnya.
Kepiting mangrove seperti Scylla serrata (Mud Crab) merupakan hewan yang hidup di
wilayah estuaria dengan didukung oleh vegetasi mangrove. Hewan ini merupakan hewan omnivora
dan kanibal, memakan kepiting lainnya, kerang dan bangkai ikan. Kepiting ini dapat tumbuh sampai
ukuran 25 cm atau dengan berat mencapai 2 kg, dimana kepiting betina ukurannya lebih besar dari
yang jantan (DPI & F, 2003).

2.5

Makan dan Kebiasaan Makan


Dalam hutan mangrove biasanya kepiting besar menyerang kepiting yang lebih kecil, dan

melumpuhkan dengan merusak umbai-umbai, kemudian merusak karapas menjadi potong-potongan


dan mengambil bagian-bagian yang lunak dari mangsanya untuk dimakan. Menurut Arriola
(1940) dalam Rosmaniar (2008) kepiting bakau adalah organisme pemakan segala bangkai
(Omnivorous scavenger) dan pemakan sesama jenis (cannibal).

Kepiting bakau juga merupakan pemakan bentos atau organisme yang bergerak lambat
seperti bivalvia, kepiting kecil, kumang, cacing, jenis-jenis gastropoda dan crustacea (Rosmaniar,
2008). Selanjutnya menurut Hutching dan Sesanger (1987) mengatakan bahwa kepiting bakau hidup
disekitar hutan mangrove dan memakan akar-akarnya. Tangan dan capit kepiting yang besar
memungkinkan menyerang musuh dengan ganas dan merobek makanannya. Menurut Rosmaniar
(2008) sobekan-sobekan makanan tersebut dimasukan ke mulut dengan menggunakan kedua
capitnya.waktu makan kepiting bakau tidak tertentu, tetapi malam hari lebih aktif mencari makan dari
pada siang hari karena kepiting tergolong hewan nokturnal yang aktif di malam hari.

2.6

Penangkapan
Alat tangkap yang sering di gunakan masyarakat nelayan masih sangatlah tradisional yakni jenis

alat tangkap tombak dan panah. Di perairan pesisir Maluku biasanya menggunakan jenis alat tangkap
tombak serta menggunakan perahu motor tempel. Selain itu juga nelayan di Indonesia sering
menggunakan jaring insang untuk menangkap kepiting bakau di sekitar perairan mangrove (O-fish,
2010).
Menurut Zairon (2010) alat yang digunakan untuk menangkap kepiting bakau adalah alat tangkap
bubu. Sedangkan Menurut DPI & F (2005), perangkap kepiting yang digunakan dalam penagkapan
kepitng bakau yaitu alat yang terbuat dari kawat atau jaring dimana biasanya di dalam perangkap
tersebut diberikan umpan dengan jenis dan jumlah yang sama.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kepiting Soca
Kepiting soca (soft carapace) adalah kepiting yang memiliki kulit yang masih dalam keadaan
lunak karena baru berganti kulit / moulting. Pergantian kulit pada kepiting soca disebabkan karena
teknik mutilasi, yaitu pemotongan kaki-kakai kepiting dengan menyisihkan 1 kaki renang. Kepiting
soca di budidayakan di air payau dan kepiting yang digunakan untuk budidaya kepiting soca ialah
kepiting bakau yang berusia 10 sampai 12 hari.

3.2 Pembudidayaan Kepiting Soca


Berikut ini langkah-langkah dari pembuatan kepiting soca dengan teknik mutilasi :
1.

Proses pemilihan bibit kepiting yang baik untuk menjadi bakal bibit kepiting soca adalah

kepiting yang memiliki berat kisaran 0,1 s.d 0,5 Ons. Pilihlah kepiting bibit yang masih segar dan
tidak lembek agar dapat bertahan sampai proses "moulting" nantinya yang biasanya berkisar antara
hari ke-10 s.d hari ke-15 sejak pertama penurunan bibit dalam satu periode.
2.

Proses mutilasi / pengguntingan kaki kepiting. Kepiting yang telah memenuhi kriteria,

selanjutnya dilakukan proses "mutilasi" atau biasa disebut dengan proses pengguntingan kaki serta
7

capit kepiting. Proses ini adalah proses yang paling menentukan tingkat persentase keberhasilan
proses panen kepiting soca nantinya dikarenakan apabila salah dan tidak berhati-hati saat
menggunting kaki serta capit kepiting bibit maka akan menimbulkan dampak pendarahan pada
kepiting yang sangat berpengaruh terhadap kematian bibit sebelum sampai ketahap "moulting" atau
pergantian cangkang kepiting soca. Bagian capit dan kaki kepiting yang digunting adalah 2 (dua) capit
utama kemudian seluruh kaki kecil bagian kiri dan kanan serta 1 (satu) kaki renang bagian belakang
sebelah kiri atau kanan bertujuan untuk mempercepat proses ganti kulit (moulting) sehingga yang
tersisa hanya 1 (satu) kaki renang bagian kanan/kiri yang masih melekat dibadan kepiting. proses
ganti kulit yang dialami bibit kepiting dengan satu kaki renang dapat diperoleh dalam jangka waktu
15 hari sedangkan bibit yang kedua kaki renangnya tidak di potong mengalami proses ganti kulit lebih
lama yaitu mencapai waktu 30 - 35 hari.

3.

Proses penempatan kepiting yang telah di mutilasi dalam keramba. Proses ini bertujuan agar

kepiting yang telah di mutilasi tidak di serang oleh kepiting yang lain karena kepiting yang telah di
mutilasi tidak memiliki kaki dan capit. Salain itu, penempatan kepiting yang telah di mutilasi
bertujuan agar kepiting tidak melakukan aktifitas dan hanya makan karena kepiting yang telah di
mutilasi tidak bisa berjalan. Proses ini adalah proses yang sangat mudah dan sederhana dengan
ketentuan 5 kepiting diletakkan kedalam setiap 1 keramba. Sangat dianjurkan tidak tergesa-gesa dan
melempar kepiting bibit ke dalam kotak agar tidak menambah kondisi "stress" kepiting bibit pasca
proses "mutilasi" namun meletakkannya dengan perlahan-lahan. Proses ini berlangsung hingga
kepiting menjadi gemuk sehingga siap untuk moulting.
4.

Proses moulting. Proses ini berlangsung selama 15 hari setelah kepiting di mutilasi. Proses ini

merupakan proses terakhir dari pembudidayaan kepiting soca. Setelah kepiting melakukan moulting,
kepiting harus segera di panen. Proses ketika pemanenan kepiting adalah :

Amati tanda-tanda menjelang moulting.

Ambil sesegera mungkin setelah terjadi moulting (usahakan kurang dari 2 jam setelah moulting).

Cuci kepiting dengan air bersih.

Setelah itu, masukkan kepiting ke dalam sterofom yang berisi es. Hal ini bertujuan agar kepiting
yang telah dipanen, bisa mati sehingga kulit kepiting yang telah moulting tidak kembali mengeras.

Setelah kepiting mati, masukkan kepiting satu persatu kedalam kantung plastic (yang ada
kretekannya).

Simpan kedalam freezer (menunggu jumlah cukup).


8

Untuk menjaga agar kepiting tetap dalam keadaan segar, perlu di beri es yang dihancurkan
berselang-seling antara kepiting dengan es.

Tutup sterofomrapat-rapat dengan isolasi.


Dalam proses pembudidayaan kepiting soca, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1.

Kualitas Air

a.

Suhu 10 derajat Celcius, mampu hidup, sedangkan dalam suhu 15 derajat Celsius adalah suhu
maksimum untuk pertumbuhan.

b.

Salinitas air
No
1.

2.
3.

Jenis Air
Air Payau

Air Tawar
Air Laut

Salinitas air
10-20 ppt

Hasil
Mempercepat
moulting

(ganti

< 10 ppt

kulit)
Moulting

kurang

> 20 ppt

sempurna
Moulting
membutuhkan
waktu lama

c.
1.

pH : 6-8, Kurang dari 6 akan mati.


Kriteria Pemilihan Bibit Kepiting yang baik
a.

Ukuran 50-100 gr/ekor

b.

Anggota badan lengkap

c.

Tidak sedang bertelur

d. Ukuran seragam
e.

Warna cerah (coklat, coklat kehijauan)


9

2.

f.

Gerakan lincah ,tidak lemas

g.

Cangkang tidak luka/ cacat

Pemberian pakan

Jenis pakan
Jumlah pakan
Pemberian pakan

: ikan rucah
: 5% dari berat badan kepiting
: 2x sehari pagi dan sore

3.3 Manfaat budidaya kepiting soca


Adapun manfaat dari pembudidayaan kepiting soca yaitu :
a.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama protein hewani (pemenuhan kebutuhan
protein yang terkandung dalam daging kepiting), lemak serta mineral.

b.

Sebagai komoditas dalam (impor) dan luar negeri (ekspor) yang dijadikan sebagai kekayaan
bangsa Indonesia sebagai kekayaan hasil alamnya terutama di bidang perikanan.

c.

Pembudidayaan kepiting juga akan meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya,


sebagaimana telah dijelaskan bahwa semakin besar peningkatan permintaan masyarakat akan
kepiting soca, maka semakin banyak pula pendapatan yang didapatkan oleh pembudidaya.

d. Membuka lapangan kerja dan kesempatan usaha di bidang agribisnis perikanan.


e.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia akan konsumsi yang serba praktis.

10

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa kepiting soca (soft carapace) ialah kepiting yang mempunyai kulit yang masih
lunak karena baru mengalami pergantian kulit atau disebut moulting dengan menggunakan teknik
mutilasi. Teknik mutilasi adalah suatu cara dengan memotong kaki-kaki kepiting dan menyisakan satu
pasang kaki renang pada kepiting untuk mempercepat proses moulting atau pergantian kulit.
Setelah kepiting mengalami proses moulting, kepiting tersebut harus segera di pasarkan
karena setelah beberapa jam kepiting tersebut melakukan moulting, kulit kepiting tersebut akan
mengeras dengan sendirinya.
Dengan adanya pembudidayaan kepiting soca air payau ini, sehingga dapat membuka
lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat, meningkatkan pendapatan masyarakat, menambah devisa
negara, memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, dan juga dapat memenuhi kebutuhan manusia akan
konsumsi yang serba praktis.
4.2

Saran
Diharapkan bagi :
1. Bagi Pembudidaya Kepiting Soca

Agar terus menambah wawasan tentang pembudidayaan kepiting soca sehingga dapat
2.

meningkatkan kualitas produksi dari kepiting soca.


Bagi Mahasiswa
Mahasiswa juga harus lebih menguasai konsep dan kaidah penelitian agar lebih
mengetahui bukan hanya sekedar tahu.

11

DAFTAR PUSTAKA

Dahuri, R. 2002. Membangun Kembali Perekonomian Indonesia melalui


Sektor Perikanan dan Kelautan. LISPI. Jakarta.

12