Anda di halaman 1dari 119

EFISIENSI TEKNIS USAHATANI UBI JALAR

DI DESA CIKARAWANG, KABUPATEN BOGOR,


JAWA BARAT

SKRIPSI

FARAH RATIH
H34080138

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
i

RINGKASAN
FARAH RATIH. Efisiensi Teknis Usahatani Ubi Jalar di Desa Cikarawang,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan
HARMINI).
Laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,49 persen per tahun
menyebabkan terjadinya peningkatan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Kondisi ketahanan pangan khususnya yang berkaitan dengan penyediaan pangan
bagi manusia sangat penting untuk diperhatikan sesuai dengan Peraturan
Pemerintah No. 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan. Salah satu solusi dalam
upaya mewujudkan ketahanan pangan adalah diversifikasi pangan dengan
memanfaatkan pangan lokal yang ada seperti umbi-umbian.
Umbi-umbian termasuk dalam sub-sektor tanaman pangan. Sub-sektor
tanaman pengan menyerap tenaga kerja paling besar dibandingkan dengan subsektor pertanian lainnya. Salah satu komoditas tanaman pangan yang mengalami
pertumbuhan adalah ubi jalar. Pertumbuhan produksi dan produktivitas ubi jalar
di Indonesia pada tahun 2011 terhadap 2010 bernilai positif jika dibandingkan
dengan beberapa komoditi lainnya. Negara-negara maju telah lama memanfaatkan
ubi jalar sebagai produk olahan bernilai gizi tinggi seperti tepung ubi jalar dan
secara ekonomis memiliki peluang pasar yang besar. Namun, budidaya yang
selama ini dilakukan oleh petani ubi jalar diindikasikan masih belum efisien. Hal
tersebut dilihat dari penggunaan sumber daya yang tidak sesuai anjuran sehingga
menyebabkan tingkat pendapatan petani rendah.
Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis tingkat pendapatan usahatani
ubi jalar di Desa Cikarawang, (2) menganalisis faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi produksi ubi jalar di Desa Cikarawang, dan (3) menganalisis
efisiensi teknis serta faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis petani
ubi jalar di Desa Cikarawang.
Penelitian ini dilakukan di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor, Jawa
Barat. Waktu pengambilan data dilakukan pada bulan Maret-April 2012.
Responden penelitian ini sebanyak 35 orang petani ubi jalar yang menanam ubi
jalar pada musim tanam akhir tahun 2011. Analisis dilakukan menggunakan
pendekatan fungsi produksi Stochastic Frontier dengan metode pendugaan MLE.
Efisiensi biaya dapat diperoleh dari luasan lahan yang lebih besar.
Pendapatan usahatani petani di daerah penelitian dengan luas lahan lebih dari 0,5
Ha lebih besar daripada luas lahan kurang dari 0,5 Ha baik atas biaya tunai
maupun biaya total. Analisis R/C rasio pun menunjukkan nilai yang lebih besar
pada luasan lahan lebih dari 0,5 Ha. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani ubi
jalar di daerah penelitian menguntungkan untuk dilaksanakan karena nilai R/C
rasio menunjukkan nilai lebih dari satu. Faktor faktor yang mempengaruhi
produksi ubi jalar di daerah penelitian adalah adalah luas lahan, tenaga kerja,
penggunaan pupuk N, pupuk P, dan pestisida. Nilai rata-rata efisiensi teknis petani
responden hanya sebesar 0,564 artinya rata-rata produktivitas ubi jalar yang
dicapai petani adalah 56,4 persen dari produktivitas maksimum yang dapat
dicapai dengan sistem pengelolaan yang terbaik. Hal ini berkaitan dengan sumbersumber inefisiensi teknis yang berpengaruh terhadap inefisiensi teknis yaitu usia
petani dan pengalaman.

ii

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat


disampaikan antara lain (1) Sebaiknya petani yang belum bergabung dalam
kelompok tani dapat bergabung dengan kelompok tani setempat agar dapat
mempermudah pemerolehan input produksi, meningkatkan pengetahuan petani
melalui penyuluhan, mempermudah pemasaran produk, dan memperkuat posisi
tawarnya terhadap harga jual ubi jalar, (2) Disaat supply ubi meningkat di pasaran,
petani sebaiknya memberikan nilai tambah pada ubi jalar dengan mengolahnya
menjadi produk lain seperti tepung dan keripik ubi jalar sehingga petani dapat
memperoleh tambahan pendapatan, (3) Sebaiknya pemerintah melalui Dinas
Pertanian Tanaman Pangan dapat lebih mensosialisasikan teknologi budidaya ubi
jalar sehingga dapat meningkatkan efisiensi teknis usahatani ubi jalar, (4) Untuk
mengatasi hama lanas yang banyak menyerang ubi sebaiknya dilakukan pergiliran
atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman lain selain ubi jalar, (5) Pemerintah
daerah sebaiknya mengatur sistem irigasi pertanian di wilayah penelitian terlebih
setelah adanya pembangunan wisata setempat sehingga tidak berdampak pada
produktifitas komoditas pertanian, dan (6) Penelitian selanjutnya diharapkan
menganalisis tingkat efisiensi alokatif dan ekonomis sehingga diperoleh analisis
efisiensi yang lebih komprehensif.

iii

EFISIENSI TEKNIS USAHATANI UBI JALAR


DI DESA CIKARAWANG, KABUPATEN BOGOR,
JAWA BARAT

FARAH RATIH
H34080138

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk


memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

iv

LEMBAR PENGESAHAN
Judul
Nama

: Efisiensi Teknis Usahatani Ubi Jalar


di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
: Farah Ratih

NIM

: H34080138

Menyetujui,
Pembimbing

Ir. Harmini, M.Si


NIP. 19600921 198703 2 002

Mengetahui
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS


NIP. 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus :

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul Analisis Efisiensi
Teknis Usahatani Ubi Jalar di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan
tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Juli 2012

Farah Ratih
H34080138

vi

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 24 November 1991. Penulis
adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Firdaus dan Ibunda
Sri Hartati.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 02 pagi Kelapa Dua
Kebon Jeruk Jakarta pada tahun 2002. Pendidikan menengah pertama diselesaikan
pada tahun 2005 di SMPN 189 Jakarta. Pendidikan menengah atas di SMAN 65
Jakarta diselesaikan pada tahun 2008.
Penulis diterima pada Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Saringan Masuk Perguruan
Tinggi Negeri (SNMPTN) pada tahun 2008.
Selama mengikuti pendidikan, penulis tercatat sebagai pengurus Badan
Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen pada Biro BEMCorp
periode 2009-2010 dan pengurus Himpunan Profesi Mahasiswa Agribisnis
(HIPMA) pada Departemen Creativity and Career Development periode 20102011.
Penulis juga tercatat sebagai juara perak PKM kategori Pengabdian
Masyarakat PIMNAS XXIII, penerima dana hibah PKM bidang Kewirausahaan
dan Gagasan Tertulis PIMNAS XXIV, dan penerima dana hibah PKM bidang
Penelitian PIMNAS XXV.

vii

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Efisiensi Teknis
Usahatani Ubi Jalar di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
produksi ubi jalar, efisiensi teknis dan faktor-faktor yang mempengaruhi
inefisiensi teknis ubi jalar, serta pendapatan usahatani ubi jalar di Desa
Cikarawang.
Penulis menyadari karya tulis ini memiliki kekurangan dan keterbatasan.
Namun demikian, penulis berharap penelitian ini dapat memberi manfaat bagi
pembaca.
Bogor, Juli 2012
Farah Ratih

viii

UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala berkah yang
telah diberikan selama ini terutama dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis
menyadari skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk
rasa syukur, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1.

Ir. Harmini, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi atas waktu, bimbingan,
dan kesabarannya selama ini. Terima kasih atas didikan dan pengajaran yang
telah diberikan kepada penulis.

2.

Ir. Popong Nurhayati, MM selaku dosen penguji atas saran dalam


penyempurnaan skripsi ini.

3.

Yanti Nuraeni Muflikh, SP. M. Agribuss selaku dosen penguji dari komisi
pendidikan atas saran dan masukan bagi penulis.

4.

Ir. Narni Farmayanti, M.Sc sebagai pembimbing akademik. Terima kasih atas
bimbingan yang telah diberikan kepada penulis.

5.

Yeka Hendra Fatika, SP atas kesediaannya memberikan saran dan


masukannya terhadap penulisan skripsi ini

6.

Maryono,SP atas bantuannya dalam memahami frontier.

7.

Seluruh dosen Departemen Agribisnis. Terima kasih atas segala ilmu yang
telah diberikan kepada penulis.

8.

Papa Firdaus dan Mama Sri Hartati atas kasih sayang, setiap doa, dukungan,
dan perhatian yang telah diberikan kepada penulis. Semoga kelulusan penulis
dapat menjadi salah satu kebanggaan papa mama.

9.

Adik-adiku, Farah Fachria dan Bella Carenda atas kasih sayang, perhatian,
dan dukungannya terhadap penulis.

10. Bapak Ahmad Bastari, Bapak Ujang, dan Ibu Norma selaku Ketua Kelompok
Tani Hurip, Setia, dan KWT beserta seluruh petani responden penelitian ini
atas kesediaan, waktu, dan informasi yang diberikan.
11. Aparat kantor Desa Cikarawang atas kesediaanya memberikan informasi
desa.
12. Ryan Iga Septiawan, Amelia, Herawati atas dukungan, dan motivasinya
selama ini.

ix

13. Teman sebimbingan: Joko, Restika, dan Tsamaniatul atas kerjasama dan
motivasinya.
14. Teman-teman kontrakan Galuh Hanifatiha, Rullyana Nur Bianti, Novya
Azhari, Ariesta Adline Aprilia, Ira Suci Ariestia, dan Kade Ari Oktaviani atas
semangat, dukungan, dan motivasinya selama ini.
15. Keluarga Agribisnis 45 dan seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu
per satu yang membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Bogor, Juli 2012

Farah Ratih

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ....................................................................................

xiii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................

xv

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................

xvi

I.

PENDAHULUAN .........................................................................
1.1. Latar Belakang
1.2. Perumusan Masalah
1.3. Tujuan Penelitian
1.4. Manfaat Penelitian
1.5. Ruang Lingkup

1
1
6
8
8
9

II.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Empiris Ubi Jalar
2.2. Tinjauan Empiris Fungsi Produksi Stochastic Frontier
2.3. Tinjauan Empiris Efisiensi dan Inefisiensi Teknis

10
10
16
18

III.

KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual
3.1.1. Konsep Usahatani
3.1.2. Konsep Pendapatan Usahatani
3.1.3. Konsep Fungsi Produksi
3.1.4. Konsep Efisiensi
3.1.5. Konsep Fungsi Produksi Stochastic Frontier
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

22
22
22
25
28
30
31
34

IV.

METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
4.2. Jenis dan Sumber Data
4.3. Metode Pengambilan Contoh
4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
4.4.1. Analisis Efisiensi dengan Fungsi Produksi
Stochastic Frontier
4.4.2. Uji Hipotesis
4.4.3. Analisis Pendapatan Usahatani
4.4.4. Definisi Operasional

38
38
38
39
39

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN


5.1. Kondisi Geografis
5.2. Keadaan Sosial Ekonomi
5.3. Karakteristik Responden
5.4. Sistem Agribisnis Ubi Jalar
5.4.1. Subsistem Pengadaan Sarana Produksi
5.4.2. Subsistem Onfarm
5.4.3. Subsistem Pasca Panen
5.4.4. Subsistem Pemasaran

49
49
50
50
56
56
57
64
64

V.

40
42
44
45

xi

5.4.5. Subsistem Pendukung


VI.

VII.

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR


DI DESA CIKARAWANG
6.1. Penerimaan Usahatani Ubi Jalar
6.2. Biaya Usahatani Ubi Jalar
6.3. Pendapatan Usahatani Ubi Jalar

68
70
70
72
75

ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI UBI JALAR


DI DESA CIKARAWANG
78
7.1. Analisis Fungsi Produksi Stochastic Frontier
79
7.2. Analisis Efisiensi Teknis dan Inefisiensi Teknis
83

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN


8.1. Kesimpulan
8.2. Saran

91
91
91

DAFTAR PUSTAKA

93

LAMPIRAN

97

xii

DAFTAR TABEL
Halaman

Nomor
1.

Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pertanian tahun 2005-2008

2.

Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Padi dan Palawija

3
di

Indonesia

Luas Tanam, Luas Panen, Produksi, dan Hasil per Hektar Ubi
Jalar di Jawa Barat Tahun 2010

Faktor yang Diperkirakan Mempengaruhi Tingkat Inefisiensi


Teknis Beberapa Komoditi dalam Usahatani

20

5.

Tata Guna Lahan Desa Cikarawang tahun 2009

50

6.

Sebaran Jumlah dan Persentase Penduduk Berdasarkan Umur


di Desa Cikarawang tahun 2009

50

Sebaran Jumlah dan Persentase Penduduk Berdasarkan Mata


Pencaharian Penduduk di Desa Cikarawang tahun 2009 .....................

51

Sebaran Jumlah dan Persentase Penduduk Berdasarkan Tingkat


Pendidikan di Desa Cikarawang tahun 2009

51

Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan


Jenis Pekerjaan Sampingan

52

10. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan


Usia Petani

53

11. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan


Tingkat Pendidikan

53

12. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan


Pengalaman Berusahatani

54

13. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan


Keikutsertaan dalam Kelompok Tani

54

14. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan


Luas Lahan Garapan ...........................................................................

55

15. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan


Kepemilikan Lahan

55

16. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan


Jumlah Tanggungan Keluarga

55

17. Rata-rata Jumlah Panen dan Harga Jual Ubi Jalar pada Petani
dengan Luas Lahan < 0,5 Ha dan > 0,5 Ha

63

18. Sebaran dan Persentase Tempat Tujuan Petani Menjual Ubi Jalar

66

3.
4.

7.
8.
9.

xiii

19. Rata-rata Penggunaan Input Produksi Usahatani Ubi Jalar di Desa


Cikarawang pada Luas Lahan < 0,5 Ha dan > 0,5 Ha

69

20. Perbandingan Penerimaan Usahatani pada Luas Lahan < 0,5 Ha


dan > 0,5 Ha per Musim Tanam

72

21. Perbandingan Biaya Usahatani pada Luas Lahan < 0,5 Ha dan >
0,5 Ha per Musim Tanam

73

22. Sebaran Biaya Penyusutan pada Luas Lahan < 0,5 Ha dan > 0,5
Ha

75

23. Perbandingan Pendapatan Usahatani pada Luas Lahan < 0,5 Ha


dan > 0,5 Ha per Musim Tanam

76

24. Pendugaan Parameter Fungsi Produksi Stochastic Frontier CobbDouglas dengan Metode MLE

79

25. Pendugaan Parameter Fungsi Produksi Stochastic Frontier Linier


Berganda dengan Metode MLE

80

26. Elastisitas Fungsi Produksi Stochastic Frontier Linier Berganda


dengan Metode MLE

81

27. Sebaran Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pencapaian


Efisiensi Teknis dalam Usahatani Ubi Jalar di Desa Cikarawang

84

28. Sebaran Tingkat Pencapaian Efisiensi Teknis dalam Usahatani


Ubi Jalar di Desa Cikarawang pada Luas Lahan < 0,5 Ha dan
> 0,5 Ha

85

29. Parameter Dugaan Efek Inefisiensi Teknis Fungsi Produksi


Stochastic Frontier

85

xiv

DAFTAR GAMBAR
Nomor
1.

Halaman

Hubungan antara produk total, produk rata-rata, dan produk


marginal dalam proses produksi .........................................................

29

2.

Fungsi Produksi Stochastic Frontier ..................................................

33

3.

Kerangka Pemikiran Operasional ......................................................

37

4.

Gambar Peta Desa Cikarawang ............................................................

49

5.

Saluran Pemasaran Ubi ......................................................................

66

6.

Persentase Sebaran Harga Jual yang Diterima Petani Ubi Jalar ........

67

7.

Hubungan antara Usia Petani dengan Produktivitas Ubi Jalar.............

86

8.

Hubungan antara Lama Pendidikan dengan Produktivitas


Ubi Jalar .............................................................................................

87

Hubungan antara Pengalaman dengan Produktivitas Ubi Jalar ...........

88

9.

xv

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1.

Tabel Pola Pangan Harapan 2008-2009

97

2.

Perkembangan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan


Tahun 2005 2010*)

97

Persentase Rumah Tangga Pertanian di Jawa dan Luar Jawa


dengan Sumber Penghasilan Utama

98

Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Tanaman Ubi Jalar


di Beberapa Provinsi Indonesia Tahun 2011

98

Luas panen-Produktivitas-Produksi Tanaman Ubi Jalar Provinsi


Jawa Barat

98

Produksi, Luas panen, dan Produktivitas Ubi Jalar di Beberapa


Kecamatan di Kabupaten Bogor 2007-2008

99

3.
4.
5.
6.
7.

Output Frontier 4.1 Cobb-Douglas

100

8.

Output Frontier 4.1 Linier Berganda

101

9.

Foto Beberapa Kegiatan Usahatani Ubi Jalar di Desa Cikarawang

103

xvi

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan tingkat kepadatan
penduduk yang tinggi. Menurut hasil Sensus Penduduk 2010 (SP2010), jumlah
penduduk Indonesia sebesar 237,6 juta orang terdiri dari 119,6 juta orang laki-laki
dan perempuan sebanyak 118,0 juta orang. Dibandingkan dengan hasil Sensus
Penduduk 2000, telah terjadi penambahan jumlah penduduk sebanyak 32,5 juta
orang atau meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar 1,49 persen per tahun
(BPS 2012). Hal tersebut secara langsung menyebabkan terjadinya peningkatan
pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Dalam UU No. 7 tahun 1996 pasal 1, pangan merupakan segala sesuatu
yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah, yang diperuntukkan
sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan
tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam
proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman.
Untuk itu, kondisi ketahanan pangan khususnya yang berkaitan dengan
penyediaan pangan bagi manusia sangat penting untuk diperhatikan sesuai dengan
Peraturan Pemerintah No. 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan. Menurut
Peraturan Pemerintah No. 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan pasal 1 ayat 9
dijabarkan sebagai upaya peningkatan konsumsi aneka ragam pangan dengan
prinsip gizi seimbang. Ketahanan pangan sebagai suatu kondisi terpenuhinya
pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup,
baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau telah diamanatkan
dalam UU No. 7 tahun 1996. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Tanaman
Pangan 2011 juga telah menargetkan pada tahun 2010-2014 terjadi peningkatan
ketahanan pangan sejalan dengan peningkatan produksi per tahun yang rata-rata
padi 5,22 persen, jagung 10,02 persen, kedelai 20,05 persen, kacang tanah 10,20
persen, kacang hijau 4,55 persen, ubi kayu 5,54 persen, dan ubi jalar 6,78 persen.
Salah satu solusi dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan adalah
diversifikasi pangan. Diversifikasi pangan merupakan penganekaragaman produk
makanan, namun tidak hanya berfokus pada hal itu saja, melainkan juga harus
mengubah ketergantungan masyarakat terhadap salah satu jenis makanan pokok

saja seperti beras (BKP 2010). Suyastiri (2008) menyatakan bahwa diversifikasi
pangan merupakan hal yang sangat penting karena (1) dalam lingkup skala
nasional pengurangan konsumsi beras akan memberikan dampak positif terhadap
ketergantungan impor beras, (2) dapat mengubah lokasi sumberdaya ke arah yang
efisien, fleksibel, dan stabil jika didukung dengan pemanfaatan potensi lokal, dan
(3) diversifikasi konsumsi pangan penting dilihat dari segi nutrisi untuk dapat
mewujudkan Pola Pangan Harapan.
Cara yang dapat dilakukan dalam mencapai diversifikasi pangan salah
satunya dengan memanfaatkan pangan lokal yang ada seperti umbi-umbian. Hal
ini sesuai dengan Permentan No. 43 tahun 2009 tentang Gerakan Percepatan
Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal dan Peraturan Presiden No. 22
tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan
Berbasis Sumber Daya Lokal. Kedua kebijakan tersebut ditujukan untuk
mendorong terwujudnya penyediaan aneka ragam pangan dan peningkatan pangan
berbasis potensi sumber daya lokal.
Saat ini masyarakat sayangnya belum memahami benar penganekaragaman
pangan berbasis potensi lokal. Masyarakat saat ini sering kali beranggapan bahwa
mengkonsumsi makanan pokok selain beras diidentikkan sebagai masyarakat
golongan rendah1. Hal ini mengakibatkan ketergantungan terhadap beras tetap
tinggi. Bahkan, masyarakat di wilayah Timur Indonesia yang semula tidak
mengkonsumsi beras sebagai pangan pokoknya sudah beralih mengkonsumsi
beras.
Skor Pola Pangan Harapan (PPH) pada Lampiran 1 menunjukkan bahwa
konsumsi beras lebih tinggi daripada bahan pangan sumber karbohidrat alternatif,
seperti umbi-umbian, pangan hewani, minyak dan lemak, buah/biji berminyak,
kacang-kacangan, gula, sayur dan buah, dan lain-lain. Konsumsi pangan ideal
untuk padi-padian adalah 275 gram per kapita per hari, namun pada tahun 2008,
konsumsi padi-padian melebihi ideal sebesar 326 gram dan pada tahun 2009 pun
masih melebihi keadaan idealnya walaupun sudah menurun dibanding tahun 2009
yakni sebesar 314,4 gram. Bahkan skor PPH tahun 2009 menurun jumlahnya
1

Roadmap Penganekaragaman Pangan:Memadukan Sumber Daya Pemerintah, Swasta,


Perguruan Tinggi dan Swasta [http://www.journal.uii.ac.id/index.php/JEP/article/view/50/148]

dibandingkan skor PPH tahun 2008. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat
penganekaragaman pangan masyarakat masih rendah dilihat dari skor PPH masih
dibawah 100. Ini disebabkan karena pola pikir yang berkembang di masyarakat
bahwa dikatakan belum makan jika belum mengkonsumsi nasi. Diketahui pula
bahwa terjadi penurunan terhadap konsumsi beras, namun secara bersamaan
konsumsi bahan pangan lainnya juga ikut menurun seperti umbi-umbian. Jumlah
konsumsi pangan umbi-umbian idealnya yaitu 100 gram per kapita per hari,
namun pada tahun 2008 hanya 51,7 gram dan pada tahun 2009 hanya 40,2 gram
(BPS diolah BKP 2010).
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dalam Renstra tahun 2010-2014
menetapkan tujuh komoditas yang menjadi unggulan nasional, yaitu: padi, jagung,
kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar. Berdasarkan
Lampiran 2, produksi tanaman pangan selama periode 2005-2010 mengalami
pertumbuhan yang positif untuk lima komoditas unggulan nasional. Selain itu,
sub-sektor tanaman pangan juga menyerap tenaga kerja paling besar dibandingkan
dengan sub-sektor pertanian lainnya seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1
berikut.
Tabel 1. Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pertanian tahun 2005-2008
Subsektor

Tahun
2005

2006

Rata-rata
2007

2008

Tan.
22,961,255 22,765,897 22,311,310 23,382,721 22,547,778
Pangan
Hortikultu 2,728,861
2,686,072
2,637,874
2,574,835
2,666,165
-ra
Perkebun- 10,412,037 10,309,700 10,116,582 9,281,711
10,229,909
an
Total
41,561,987 41,229,716 41,907,617 42,689,635 41,599,395
Pertanian
Sumber: Renstra Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tahun 2010-2014

Laju
Pertumbuh
an (%)
2,44
-1,20
-4,18
1,27

Sub-sektor tanaman pangan rata-rata menyerap 22,5 juta orang atau 54,19
persen dari angkatan kerja di sektor petanian dengan laju pertumbuhan terbesar
yaitu 2,44 persen per tahun. Lampiran 3 juga menunjukkan bahwa tanaman
pangan merupakan sumber penghasilan utama sebagian besar rumah tangga
pertanian di Indonesia yaitu sebesar 32,24 persen.
Salah satu komoditas tanaman pangan yang mengalami pertumbuhan adalah
ubi jalar. Ubi jalar (Ipomea batatas L.) merupakan salah satu dari dua puluh jenis

pangan yang berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Ubi jalar berpotensi


dikembangkan untuk mendukung program penganekaragaman konsumsi pangan
berbasis sumberdaya lokal, karena: (1) sebagai salah satu sumber karbohidrat, (2)
produktivitasnya tinggi, (3) potensi diversifikasi produk beragam, (4) zat gizi
beragam, dan (5) potensi permintaan pasar lokal, regional, dan ekspor yang terus
meningkat (BPPP 2011). Selain itu, ubi jalar pun memiliki beberapa keunggulan
dibanding tanaman pangan lain yaitu risiko kegagalan relatif kecil, biaya produksi
relatif rendah, pemasaran mudah, daya adaptasi luas, dan hasil olahannya sangat
beragam2.
Sentra produksi ubi jalar di Indonesia dengan luas areal di atas 10.000 ha
berturut-turut adalah Jawa Barat, Papua, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan
Sumatera Utara (Zuraida 2009). Tingkat produksi ubi jalar paling tinggi di
Indonesia adalah Jawa Barat yaitu sebesar 422.3 ton. Begitu pun dengan luas
panen ubi jalar di provinsi Jawa Barat menempati peringkat kedua sebesar 28 Ha
(Lampiran 4). Namun, produktivitasnya menempati peringkat lebih rendah dari
peringkat luas panen dan produksi yaitu 150,6 kw/ha (BPS 2012). Karakteristik
sistem produksi ubi jalar di Indonesia saat ini dicirikan oleh skala usaha dan
penggunaan modal kecil, penerapan teknologi usahatani belum optimal, masih
ditempatkan sebagai tanaman samping, kurang tersedianya bibit bermutu menurut
agroekosistem, dan belum adanya sistem pewilayahan produksi komoditas ubi
jalar3.
Pertumbuhan produksi dan produktivitas ubi jalar di Indonesia pada tahun
2011 terhadap 2010 bernilai positif jika dibandingkan dengan beberapa komoditi
lainnya. Dapat dilihat pada Tabel 2 bahwa pertumbuhan 2011 terhadap 2010
produksi ubi jalar sebesar 5.92 persen yaitu dari 2.051 ton menjadi 2.172 ton.
Produktivitas ubi jalar pun tumbuh sebesar 7.99 persen dari 113.27 ton pada tahun
2010 menjadi 122.32 persen (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2011).

http://cybex.deptan.go.id [06 Februari 2012]

Dr. Handewi P. S. Rachman 2010. Kajian Keterkaitan Produksi, Perdagangan, dan Konsumsi
Ubi jalar.[http://km.ristek.go.id/assets/css/reset.css" rel="stylesheet" type="text/css"]

Tabel 2. Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Padi dan Palawija di


Indonesia
Tahun
No.
1.

2.

3.

Jenis Komoditi
Padi
Produksi (000 Ton)
Luas Panen (000 Ha)
Produktivitas (Kw/Ha)
Jagung
Produksi (000 Ton)
Luas Panen (000 Ha)
Produktivitas (Kw/Ha)
Ubi Jalar
Produksi (000 Ton)
Luas Panen (000 Ha)
Produktivitas (Kw/Ha)

Pertumbuhan 2011
terhadap 2010 (%)

2010

2011
ARAM-III

66,469
13,253
50,15

65,385
13,224
49,44

-1,63
-0,22
-1,42

18,328
4,132
44,36

17,230
3,870
44,52

-5,99
-6,34
0,36

2,051
181
113,27

2,172
178
122,32

5,92
-1,92
7,99

Keterangan: ARAM-III = Angka Ramalan-III


Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian, 2011

Di provinsi Jawa Barat pun dapat dilihat baik dari sisi produksi dan
produktivitas ubi jalar dari tahun 2007-2011 memiliki trend yang terus meningkat
seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 5. Produktivitas ubi jalar pada tahun
2007 sebesar 133,73 Kw/Ha meningkat menjadi 150.62 Kw/Ha pada tahun 2011.
Begitu pun dengan produksi ubi jalar meningkat dari 375.714 ton tahun 2007
menjadi 422.228 ton tahun 2011.
Di beberapa negara, ubi jalar sudah merupakan produk komersial yang
cukup diminati. Negara-negara maju telah lama memanfaatkan ubi jalar sebagai
produk olahan bernilai gizi tinggi dan secara ekonomis memiliki peluang pasar
yang besar (Hasyim 2008). Beberapa varietas unggul seperti Cilembu, Sari,
Cangkuan memiliki produktivitas antara 15-30 ton/hektar (Destialisma 2009).
Namun, disaat produksi ubi jalar sangat melimpah yakni saat musim panen
raya, nilai jual komoditas ini akan menurun. Hal tersebut sesuai dengan hukum
ekonomi yaitu ketika supply meningkat maka harga jualnya akan turun. Untuk itu,
perlu dilakukan terobosan agar nilai jual komoditas ini tetap stabil sepanjang
tahun. Salah satunya dengan memanfaatkan perkembangan ilmu dan teknologi
serta metode pengolahan hasil atau pasca panen yang lebih baik.
Banyak hal telah dilakukan dalam pengolahan pasca panen ubi jalar seperti
membuat tepung ubi jalar dan pemanfaatannya dalam pembuatan beberapa produk
(Destialisma 2009). Selain itu, tepung ubi jalar juga telah dikembangkan menjadi

bahan baku pangan seperti mencoba pemanfaatan tepung ubi jalar dalam
pembuatan produk-produk roti, cookies dan biskuit dengan hasil yang cukup
memuaskan. Berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat bahwa bahan baku berupa ubi
jalar diperlukan oleh industri sehingga perlu adanya kesinambungan bahan baku.
Namun, budidaya yang selama ini dilakukan oleh petani ubi jalar diindikasikan
masih belum efisien. Hal tersebut dilihat dari penggunaan sumber daya yang tidak
sesuai anjuran, tingkat pendapatan petani yang rendah, dan produksi ubi jalar
masih di bawah potensi produksi (Khotimah 2010).
Dari kedua sudut pandang tersebut, baik dari segi produksi maupun
pengolahannya, ubi jalar memiliki prospek yang baik dan sesuai dengan konsep
diversifikasi yang telah disebutkan sebelumnya. Oleh karena itu, diperlukan
berbagai upaya untuk meningkatkan produksi baik dalam hal kualitas maupun
kuantitas.
1.2. Perumusan Masalah
Jawa Barat merupakan provinsi sentra produksi ubi jalar terbesar di
Indonesia. Kabupaten Bogor merupakan salah satu Kabupaten yang berada di
dalamnya. Kontribusi PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kabupaten
Bogor terhadap PDRB Jawa Barat merupakan yang terbesar yaitu 9,57 persen
dari total PDRB Wilayah Bogor4. Tingginya angka PDRB di Kabupaten Bogor
dipacu oleh pertumbuhan indusri khususnya industri yang berada di bagian utara
Kabupaten Bogor. Di Kabupaten Bogor terdapat 40 buah kecamatan, 409 desa, 17
kelurahan, dan 426 desa.
Kabupaten Bogor merupakan salah satu sentra ubi jalar. Hal ini dapat dilihat
dari segi luas tanam, luas panen, produksi, dan hasil per hektar. Ubi jalar di
Kabupaten Bogor menempati posisi tertinggi kedua setelah Kabupaten Kuningan,
seperti yang ditunjukkan di atas (Tabel 3).

http://bakorpembang-wilbgr.jabarprov.go.id [06 Februari 2012]

Tabel 3. Luas Tanam, Luas Panen, Produksi, dan Hasil per Hektar Ubi Jalar
di Jawa Barat Tahun 2010
Tahun 2010
Kabupaten
Bogor
Sukabumi
Bandung
Tasikmalaya
Kuningan
Sumedang

Luas Tanam
(Ha)
3,965
1,441
3,258
2,145
5,553
1,591

Luas Panen
(Ha)
3,881
1,443
2,524
2,123
5,592
1,539

Produksi
(ton)
59,555
21,270
29,122
23,388
96,857
18,974

Hasil per Hektar


(Kw/Ha)
153,45
147,40
115,38
110,16
173,21
123,29

Sumber: BPS Jawa Barat, 2010

Salah satu wilayah penghasil ubi jalar di Kabupaten Bogor adalah Desa
Cikarawang. Desa Cikarawang terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten
Bogor, Provinsi Jawa Barat. Produktivitas ubi jalar di Kecamatan ini pada tahun
2007 dan 2008 sebesar 14,57 ton/ha dan 14,32 ton/ha (Lampiran 6). Di Desa
Cikarawang terdapat enam buah kelompok tani yang bergerak di komoditas padi
atau palawija. Kelompok tani tersebut antara lain kelompok tani Hurip, Setia,
Mekar, Subur Jaya, Andalan, dan KWT Melati.
Ubi jalar merupakan salah satu dari tujuh komoditas yang menjadi unggulan
nasional. Untuk itu, selama tahun 2010-2014 komoditas tersebut menjadi
perhatian pemerintah dalam rangka peningkatan ketahanan pangan dan
kesejahteraan petani (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2011). Hal ini akan
dapat terlaksana dengan baik jika komoditas tersebut dapat memberikan
keuntungan bagi petani sehingga petani mau untuk mengusahakan komoditas
tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis pendapatan usahatani ubi jalar
di Desa Cikarawang untuk mengetahui apakah usahatani ubi jalar di daerah
tersebut menguntungkan untuk dilaksanakan.
Potensi ubi jalar di Desa Cikarawang tersebut sayangnya dihadapi dengan
permasalahan produktivitas ubi jalar yang rendah. Rata-rata produktivitas ubi jalar
di Desa Cikarawang adalah 9,5 ton per hektar (wawancara dengan ketua
kelompok tani). Sedangkan menurut BPS (2012), produktivitas ubi jalar nasional
sebesar 12,232 ton per hektar. Ini menunjukkan bahwa produktivitas ubi jalar di
Desa Cikarawang masih rendah di bawah produktivitas nasional. Hal tersebut
diduga terjadi karena ketidakefisienan teknis dalam usahatani ubi jalar di Desa

Cikarawang sehingga diperlukan analisis efisiensi teknis usahatani ubi jalar di


Desa Cikarawang untuk mengetahui apakah usahatani ubi jalar di desa tersebut
sudah efisien.
Oleh karena itu, mengingat ubi jalar merupakan salah satu komoditas
unggulan nasional yang dapat meningkatkan ketahanan pangan maka diperlukan
pencapaian efisiensi teknis agar menghasilkan output yang optimal. Efisiensi
teknis dalam hal teknik budidaya yang benar akan mempengaruhi tingkat
pendapatan yang dihasilkan petani sehingga diperlukan informasi mengenai
keragaan budidaya untuk mengetahui pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi ubi jalar. Pencapaian efisiensi teknis juga sebagai upaya
peningkatan tingkat kompetitif dan keuntungan usahatani. Untuk itu dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana pendapatan usahatani petani ubi jalar di Desa Cikarawang?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi ubi jalar di Desa
Cikarawang ?
3. Bagaimana efisiensi teknis serta faktor apa yang mempengaruhi inefisiensi
teknis petani di Desa Cikarawang?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Menganalisis tingkat pendapatan usahatani ubi jalar di Desa Cikarawang.
2. Menganalisis faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi produksi
ubi jalar di Desa Cikarawang.
3. Menganalisis efisiensi teknis serta faktor-faktor yang mempengaruhi
inefisiensi teknis petani ubi jalar di Desa Cikarawang.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan pertimbangan, masukan, dan tambahan informasi bagi
petani ubi jalar dalam upaya peningkatan produktivitas dan pendapatan
usahatani ubi jalar di Desa Cikarawang.
2. Sebagai tambahan informasi dan masukan bagi pemerintah daerah dalam
upaya penyusunan strategi dan kebijakan pertanian yang lebih baik.
3. Sebagai informasi bagi para peneliti yang akan melakukan penelitian
lebih lanjut pada bidang yang berkaitan dengan penelitian ini.

1.5. Ruang Lingkup


Penelitian ini dilakukan di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor, Provinsi
Jawa Barat. Komoditas yang akan diteliti adalah ubi jalar. Petani yang dijadikan
contoh dalam penelitian ini adalah petani ubi jalar di dusun Carang Pulang dan
Cangkrang Desa Cikarawang yang menanam ubi jalar pada musim tanam akhir
tahun 2011. Analisis kajian dibatasi untuk melihat bagaimana pendapatan
usahatani petani ubi jalar di Desa Cikarawang, faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi produksi ubi jalar dan efisiensi teknis usahatani, dan faktor-faktor
yang mempengaruhi inefisiensi teknis petani ubi jalar di daerah penelitian.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Tinjauan Empiris Ubi Jalar
Ubi jalar memiliki peranan yang cukup besar dalam pembangunan
pertanian. Prospek ubi jalar pun sangat cerah jika dikelola baik dengan sistem
agribisnis yang terintegrasi dari subsistem hulu hingga hilir. Ubi jalar mudah
dibudidayakan di seluruh wilayah Indonesia menunjukkan bahwa komoditas ini
dikenal dan diterima masyarakat sebagai bahan pangan atau digunakan untuk
substitusi pangan pokok. Pengolahan ubi jalar juga sangat potensial untuk
dikembangkan sebagai bahan diversifikasi pangan.
Ubi jalar mempunyai potensi dan peluang besar untuk dimanfaatkan dalam
agroindustri sekaligus diversifikasi pangan (Harwono et.al. 1994 diacu dalam
Zuraida 2009). Dengan produktivitas 35 ton/ha umbi, ubi jalar mampu
menghasilkan 48 x 106 kalori/ha/hari sedangkan padi menghasilkan 33 x 106
kalori/ha/hari atau dengan kata lain ubi jalar menghasilkan kalori 45 persen lebih
tinggi dari padi (De Vries et al. 1976 diacu dalam Zuraida 2009).
Potensi ubi jalar yang beragam memungkinkan ubi jalar menjadi salah satu
komoditi ekspor Indonesia seperti ke Singapura, Belanda, Amerika Serikat,
Jepang dan Malaysia. Ubi jalar dapat digunakan sebagai bahan pangan, pakan,
dan bahan baku bagi industri seperti yang telah dilakukan di negara-negara maju.
Selain itu, bercocok tanam ubi jalar pun dapat mengisi potensi lahan kering di
Indonesia dan pemenuhan kebutuhan pangan pada masa datang seiring dengan
meningkatnya jumlah penduduk Indonesia.
Adapun petunjuk teknologi budidaya ubi jalar menurut Dinas Pertanian
Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat 2012 sebagai berikut:
1) Syarat Tumbuh
Daerah yang paling ideal untuk budidaya ubi jalar adalah daerah yang
bersuhu 21-27oC dan mendapat sinar matahari 11-12 jam/hari. Pertumbuhan dan
produksi yang optimal untuk usahatani ubi jalar tercapai pada musim kering
(kemarau). Di tanah yang kering (tegalan) waktu tanam yang baik untuk tanaman
ubi jalar yaitu pada waktu musim hujan, sedang pada tanah sawah waktu tanam
yang baik yaitu sesudah tanaman padi dipanen. Tanaman ubi jalar dapat ditanam

10

di daerah dengan curah hujan optimal antara 750-1500 mm/tahun dan berada pada
ketinggian 0-1.500 m dpl.
2) Penyiapan Bibit
Teknik perbanyakan tanaman ubi jalar yang sering dilakukan petani adalah
dengan stek batang atau pucuk. Bibit yang berupa stek harus memenuhi syarat:
tanaman telah berumur 2 bulan atau lebih, panjang stek antara 20-30 cm, disimpan
ditempat teduh selama 17 hari. Jumlah bibit yang dibutuhkan untuk areal
penanaman 1 hektar tergantung pada jarak tanam. Untuk jarak tanam 75x30 cm
maka kebutuhan bibitnya sekitar 32.000 stek.
3) Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan sebaiknya dilakukan pada saat tanah tidak terlalu basah
atau tidak terlalu kering, lengket atau keras. Cara penyiapan lahan dimulai dengan
mengolah tanah terlebih dahulu hingga gembur, kemudian dibiarkan selama satu
minggu, selanjutnya dibuat guludan-guludan, tanah diolah langsung bersamaan
dengan pembuatan guludan, lebar guludan bawah 60 cm, tinggi 3040 cm, lebar
atas 40 cm, dan jarak antar guludan 80100 cm.
4) Penanaman
Penanaman ubi jalar di lahan kering (tegalan) biasanya dilakukan pada awal
musim hujan (Oktober) atau akhir musim hujan (Maret). Di lahan sawah, waktu
tanam yang paling tepat adalah setelah padi rendengan atau padi gadu, yakni pada
awal musim kemarau. Stek ditanam miring dengan kedalaman tanam 10-15 cm
(4-6 ruas) dengan jarak tanam 10-15 cm.
5) Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman terdiri atas lima bagian yaitu penyulaman, pengairan,
penyiangan dan pembumbunan, pemupukan,

serta pengendalian hama dan

penyakit.
a) Penyulaman
Penyulaman merupakan suatu kondisi dimana terdapat bibit yang mati atau
tumbuh abnormal sehingga harus segera disulam (ditanam kembali) dan dilakukan
sesegera mungkin.

11

b) Pengairan
Pemberian air dilakukan selama 1530 menit hingga tanah (guludan) cukup
basah, kemudian airnya dialirkan ke saluran pembuangan. Pengairan berikutnya
masih diperlukan secara rutin hingga tanaman berumur 1-2 bulan. Pengairan
dihentikan pada umur 2 3 minggu sebelum panen.
c) Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dilakukan secara manual dengan menggunakan kored/cangkul
pada umur 2,5 dan 8 MST (Minggu Setelah Tanam). Setiap satu bulan sekali
dilakukan pembalikan tanaman untuk menghindari menjalarnya tanaman ke
segala arah. Pembumbunan dapat dilakukan pada umur 23 minggu setelah
tanam.
d) Pemupukan
Pemupukan ubi jalar dilakukan dua kali, pemupukan pertama saat tanam
dengan 1/3 dosis pupuk nitrogen, 1/3 dosis kalium ditambah seluruh dosis fosfor.
Pemupukan kedua, pada saat tanaman berumur 45 hari setelah tanam, dipupuk
dengan 2/3 dosis nitrogen dan 2/3 dosis kalium. Dosis pupuk yang dianjurkan
dalam usahatani ubi jalar adalah 45-90 kg N/Ha (100-200 kg urea/Ha) ditambah
25 kg P2O5/Ha (50 kg TSP/Ha), dan 50 kg K2O/Ha (100 kg KCl/Ha).
e) Pengendalian Hama dan Penyakit
Perlindungan tanaman dari OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)
dilakukan secara terpadu seperti berikut:
- Secara kultur teknis, diantaranya mengatur waktu tanam yang tepat, rotasi
tanaman, sanitasi kebun, dan penggunaan varietas yang tahan hama dan penyakit.
- Secara fisik dan mekanis, yaitu dengan memotong atau memangkas atau
mencabut tanaman yang sakit atau terserang hama dan penyakit cukup berat,
dikumpulkan dan dimusnahkan.
- Secara kimiawi yaitu dengan menggunakan pestisida secara selektif dan
bijaksana.
6) Panen
Ubi jalar berumur pendek (genjah) dapat dipanen pada umur 3-3,5 bulan,
sedangkan varietas berumur panjang (dalam) dipanen pada umur 4,55 bulan.
Tahap-tahap panen ubi jalar adalah dengan memotong (pangkas) batang ubi jalar

12

dengan sabit atau parang, kemudian disingkirkan dan dilanjutkan menggali


guludan dengan cangkul hingga terkuak ubinya, ubi tersebut diambil dan
dikumpulkan ke tempat pengumpulannya, selanjutnya ubi dibersihkan dari tanah
atau kotoran dan akar yang masih menempel, dan terakhir dilakukan seleksi dan
sortasi.
Berdasarkan pada beberapa penelitian sebelumnya, pemilihan lokasi
penelitian mengenai ubi jalar dilakukan secara purposive karena lokasi tersebut
merupakan sentra produksi ubi jalar (Khotimah 2010; Herdiman 2010; Defri
2011). Dikatakan sebagai sentra produksi ubi jalar karena baik dari segi luas areal,
produksi, dan produktivitasnya tinggi.
Masyarakat di daerah penelitian membudidayakan ubi jalar karena faktor
budaya dimana bercocok tanam ubi jalar sudah dilakukan sejak zaman nenek
moyang mereka. Selain itu, kesesuaian agroklimat di daerah penelitian pun
menjadikan ubi jalar banyak ditanam. Input yang digunakan dalam usahatani ubi
jalar antara lain bibit, pupuk, obat-obatan, lahan, tenaga kerja, dan modal. Ubi
jalar termasuk salah satu tanaman pangan yang mudah dibudidayakan bahkan di
lahan kering masam. Usahatani ubi jalar di lahan kering masam mempunyai
tingkat keuntungan, efisiensi ekonomi, dan daya kompetitif yang tinggi daripada
usahatani kacang hijau, kacang tanah dan kedelai tetapi lebih rendah dari jagung
(Krisdiana dan Heriyanto 2011).
Indikator yang penting untuk diperhatikan dalam budidaya ubi jalar adalah
penggunaan sarana produksi, teknik budidaya, dan pemasaran (Herdiman 2010).
Namun, selama ini budidaya ubi jalar masih dilakukan secara tradisional dan
belum menerapkan teknik budidaya yang sesuai dengan teori dan anjuran
penyuluh serta pola tanam yang dilakukan dalam usahatani ubi jalar adalah sistem
monokultur (Khotimah 2010; Defri 2011). Budidaya yang dilakukan hanya
berdasarkan pengalaman usahatani pada masing-masing petani. Budidaya ubi jalar
dapat dilakukan secara organik ataupun konvensional seperti pada umumnya.
Kelebihan budidaya ubi jalar secara organik adalah umbi lebih keras sehingga
lebih cocok jika disalurkan ke pabrik keripik dan masa panennya pun dapat
ditunda sampai usia tujuh bulan tanpa kebusukan pada umbi. Sedangkan budidaya
ubi jalar secara konvesional dengan menggunakan pupuk kimia kelebihannya

13

adalah umbi cepat besar dan masa panen lebih cepat namun umbi cepat
membusuk jika tidak segera dipanen (Herdiman 2010).
Bibit yang digunakan dalam usahatani ubi jalar dapat berasal dari hasil
produksi sebelumnya, produksi petani lain, dan hasil pembibitan sendiri.
Penentuan varietas tertentu yang ditanam di daerah penelitian karena varietas
tersebut memiliki rasa yang manis, produktivitas tinggi, tahan terhadap hama
penyakit, harga jual tinggi, dan permintaannya di pasar selalu ada sepanjang tahun
(Khotimah 2010; Defri 2011).
Ubi jalar dapat dipanen saat umur tanaman 4,5-6 bulan. Umur panen ubi
jalar dipengaruhi oleh kebutuhan petani, harga jual, dan orientasi usahatani. Di
Kabupaten Kuningan yang merupakan sentra ubi jalar terbesar di Jawa Barat, ratarata produksi total ubi jalar sebesar 20.117,23 kg/ha (Khotimah 2010).
Hasil panen petani berupa ubi jalar segar langsung dijual kepada pedagang
pengumpul, industri yang membutuhkan bahan baku ubi jalar atau dipasarkan
langsung ke pasar induk setempat (Khotimah 2010; Defri 2011) dan juga kepada
tengkulak seperti di Desa Gunung Malang (Defri 2011). Hal ini dikarenakan
produk turunan dari ubi jalar belum banyak dilakukan oleh petani. Sistem
penjualan ubi jalar terdiri atas dua jenis yaitu sistem borongan dan sistem bukti
(Herdiman 2010; Defri 2011). Sistem borongan merupakan sistem penjualan per
luas lahan, seperti yang dilakukan di Desa Purwasari sedangkan sistem bukti
meupakan sistem penjualan dimana pembeli yang melakukan pemanenan seperti
di Desa Gunung Malang.
Biaya terbesar yang dikeluarkan dalam usahatani ubi jalar adalah biaya
tenaga kerja luar keluarga (TKLK) seperti usahatani di Kecamatan Cilimus
sebesar 49,40 persen dari biaya total (Khotimah 2010) dan sebesar 54,65 persen di
Desa Purwasari (Defri 2011). Jumlah HOK yang digunakan dalam usahatani ubi
jalar terdiri dari 54,75 HOK Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK) dan 235,02
HOK Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK) (Khotimah 2010).
Dilihat dari daya saingnya, budidaya ubi jalar menguntungkan baik secara
finansial maupun ekonomi (Nurmala 2011; Khotimah 2010). Berbeda halnya
dengan jenis umbian lain seperti talas misalnya. Penerimaan usahatani talas di
Kecamatan Bogor Barat yaitu Rp. 18.250.592 per hektar dengan harga jual di

14

petani Rp. 1.448/umbi. Hal tersebut menyebabkan produksi talas mulai menurun
karena kecilnya penerimaan yang diterima dan harga jual yang rendah.
Pendapatan usahatani talas secara monokultur atas biaya total di Kecamatan
Bogor Barat tidak menguntungkan atau rugi sebesar Rp 4.163.962 (Sari 2012).
Hal ini disebabkan jumlah biaya yang diperhitungkan lebih besar dari jumlah
biaya tunai. Jumlah biaya diperhitungkan yang besar dikarenakan penggunaan
TKDK yang besar. Nilai R/C rasio atas biaya tunai usahatani talas sebesar 3,73
namun R/C rasio atas biaya total sebesar 0,81 artinya usahatani talas tidak
menguntungkan untuk diusahakan.
Hasil analisis pendapatan usahatani ubi jalar di Kecamatan Cilimus
menunjukkan bahwa pendapatan usahatani atas biaya tunai maupun biaya total
lebih besar dari nol. Selain itu, nilai rasio R/C atas biaya tunai sebesar 1,67 dan
rasio R/C atas biaya total 1,24 (Khotimah 2010). Hal tersebut menunjukkan
bahwa usahatani ubi jalar di lokasi penelitian menguntungkan. Hal yang sama
juga ditunjukkan pada pendapatan usahatani ubi jalar di Desa Purwasari
Kecamatan Dramaga dan di Desa Gunung Malang yang menguntungkan dilihat
dari nilai rasio R/C atas biaya tunai ataupun biaya total lebih dari satu (Herdiman
2010; Defri 2011).
Berdasarkan peramalan yang telah dilakukan pada penelitian terdahulu,
diketahui bahwa produksi kuartalan ubi jalar nasional tiap musim dan tahun
mengalami fluktuasi mengikuti fluktuasi produksi padi yang berkorelasi negatif,
sama halnya juga dengan konsumsi ubi jalar. Artinya disaat produksi padi
menunjukkan trend yang meningkat justru produksi ubi menunjukkan hasil
sebaliknya yakni trend yang cenderung menurun. Sama halnya dengan konsumsi
tahunan ubi jalar nasional yang mempunyai pola dengan trend cenderung
menurun. Diramalkan produksi dan konsumsi ubi jalar sampai tahun 2016 belum
bisa memenuhi target yang diharapkan (Aji 2008). Dari segi permintaan, petani
dan konsumen pada umumnya lebih menyukai ubi jalar dengan varietas yang
mempunyai tekstur kering, namun hingga saat ini belum dapat dipenuhi
dikarenakan produktivitas yang masih rendah5.

Agusman. Prospek dan Potensi Ubi Jalar. http ://258-prospek-dan-potensi-ubi-jalar.htm. [Maret


2011].

15

2.2.

Tinjauan Empiris Fungsi Produksi Stochastic Frontier


Pendekatan stochastic frontier merupakan salah satu metode yang

digunakan untuk melihat efisiensi dari suatu usahatani. Fungsi produksi stochastic
frontier menggambarkan hubungan antara input yang tersedia dan output
maksimum yang dapat dicapai dengan memperhatikan faktor-faktor yang
berpengaruh dalam usahatani.
Pendekatan Stochastic Production Frontier telah digunakan oleh Aisah
(2003) usahatani tomat di Desa Karawang Kecamatan Sukabumi; Astuti (2003)
usahatani kentang di Desa Margamulya

Kecamatan Pangalengan; Brahmana

(2005) usahatani padi lahan kering di Desa Tanggeung Cianjur; Maryono (2008)
usahatani padi program benih bersertifikat di Karawang; Hutauruk (2008) untuk
usahatani padi benih bersubsidi di Karawang; Khotimah (2010) usahatani ubi jalar
di Kuningan; Defri (2011) usahatani ubi jalar di Desa Purwasari Kabupaten
Dramaga.
Pendekatan ini dipilih karena sederhana dan dapat dibuat dalam bentuk
linier (Maryono 2008; Hutauruk 2008; Khotimah 2010). Fungsi produksi
stochastic frontier dapat digunakan untuk mengidentifikasi faktor produksi yang
mempengaruhi efisiensi teknis, dapat melihat efisiensi teknis usahatani dari sisi
input, dan efek inefisiensi yang berkaitan (Maryono 2008; Hutauruk 2008).
Dengan menggunakan fungsi produksi stochastic frontier peneliti dapat
mengetahui faktor produksi apa saja yang mempengaruhi efisiensi teknis
usahatani serta bagaimana pengaruhnya terhadap usahatani.
Model yang digunakan adalah model fungsi Stochastic Production Frontier
Cobb-Douglas

menggunakan

parameter

pendugaan

Maximum

Likelihood

Estimated (MLE) (Haryani 2009; Khotimah 2010; Prayoga 2010). Salah satu
keuntungan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas adalah jumlah
elastisitas dari masing-masing faktor produksi yang diduga merupakan pendugaan
skala usaha (return to scale) (Maryono 2008). Parameter MLE digunakan untuk
menggambarkan hubungan antara produksi maksimum yang dapat dicapai dengan
menggunakan faktor-faktor produksi yang ada. Faktor-faktor produksi yang
dimaksud antara lain lahan, modal, tenaga kerja, dan manajemen atau

16

pengelolaan. Selain itu, fungsi produksi yang diestimasi menggunakan parameter


pendugaan Maximum Likelihood Estimation (MLE) dapat mengidentifikasi faktor
produksi juga dapat melihat efisiensi teknis petani dan efek inefisiensi yang
berkaitan (Sukiyono 2005; Hutauruk 2008; Haryani 2009).
Untuk menduga output produksi suatu usahatani, diperlukan variabelvariabel faktor produksi tertentu. Beberapa variabel yang digunakan pada
penelitian-penelitian sebelumnya antara lain luas lahan, jumlah benih/bibit,
jumlah pupuk urea, jumlah tenaga kerja dalam keluarga, jumlah tenaga kerja luar
keluarga, pestisida (Sukiyono 2005; Hutauruk 2008; Maryono 2008; Haryani
2009; Nurmala 2011), pupuk daun, pupuk kandang (Sukiyono 2005; Khotimah
2010), dan nilai pengeluaran untuk irigasi pompa (Haryani 2009).
Menurut Hutauruk (2008); Maryono (2008); dan Haryani (2009), variabel
yang berpengaruh nyata terhadap fungsi produksi usahatani padi antara lain luas
lahan, jumlah benih, jumlah pupuk urea, jumlah pupuk KCl, jumlah tenaga kerja
luar dan dalam keluarga. Untuk obat hama penyakit menunjukkan hasil berbeda.
Hasil penelitian Maryono (2008) menunjukkan obat hama penyakit berpengaruh
nyata namun pada penelitian Hutauruk (2008) jumlah obat cair tidak berpengaruh
nyata terhadap produksi padi.
Pada usahatani cabai merah oleh Sukiyono (2005), faktor penduga fungsi
produksi frontier Cobb-douglas yang berpengaruh positif nyata adalah lahan,
urea, KCL, dan pupuk kandang, sedangkan pupuk TSP dan tenaga kerja
berpengaruh negatif nyata, serta pestisida dan benih tidak berpengaruh nyata.
Faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi ubi jalar adalah pupuk
kandang, tenaga kerja, dan penggunaan pupuk KCL. Sedangkan yang tidak
berpengaruh nyata adalah bibit, pupuk urea, dan TSP ( Nurmala 2011).
Penggunaan model stochastic frontier dimungkinkan untuk menduga
ketidakefisienan suatu proses produksi tanpa mengabaikan galat dari modelnya
(Sukiyono 2005). Dengan menggunakan model stochastic frontier, tidak
diperlukan pembagian sampel. Pengukuran inefisiensi teknis dilakukan regresi
secara terpisah. Dalam interpretasi hasil pengukuran dengan model stochastic

17

frontier, nilai tingkat inefisiensi merupakan nilai inefisiensi relatif yang


diasumsikan paling efisien6.
2.3.

Tinjauan Empiris Efisiensi dan Inefisiensi Teknis


Efisiensi

merupakan

hal

penting

dalam

pengukuran

keberhasilan

pelaksanaan proses produksi. Efisiensi teknik yang tinggi berperan penting dalam
upaya peningkatan keuntungan suatu usahatani. Farrell (1957) diacu dalam
Tasman (2010), mengajukan pengukuran efisiensi yang terdiri dari dua komponen
yaitu efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Efisiensi teknis merupakan
kemampuan perusahaan untuk mendapat output maksimum dari satu set input
yang tersedia sedangkan efisiensi alokatif merupakan kemampuan dari perusahaan
menggunakan input dalam proporsi yang optimal sesuai dengan harga masingmasingnya. Kedua ukuran efisiensi ini kemudian dikombinasikan akan
menyediakan ukuran total efisiensi ekonomi.
Salah satu komponen dari pengukuran efisiensi ekonomi adalah efisiensi
teknis. Suatu usahatani baru dapat dikatakan efisiensi ekonomi jika sudah
mencapai efisiensi teknis (Sukiyono 2005). Hal tersebut menunjukkan bahwa
usahatani tersebut sudah menggunakan input produksi yang dimiliki secara
optimal. Haryani (2009) melakukan penelitian mengenai efisiensi usahatani padi
sawah pada program pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu di Kabupaten
Serang menunjukkan bahwa penyebab usahatani padi sawah efisien secara teknis
adalah karena penggunaan input sudah optimal. Tujuan pengoptimalan
penggunaan input tersebut adalah untuk memperoleh keuntungan maksimal.
Namun, pada usahatani yang telah efisien secara teknis, belum tentu secara
alokatif efisien. Penggunaan input meskipun efisien secara teknis tetapi tidak
secara alokatif dapat dilihat dari nilai produk marjinalnya yang lebih rendah
dibandingkan harga input (Hutauruk 2008). Menurut Bakhsoodeh dan Thomson
diacu dalam Hutauruk (2008), petani yang efisien secara teknis adalah petani yang
menggunakan lebih sedikit input untuk memproduksi sejumlah output pada

Jasmina dan Goeltom dalam Analisis Efisiensi Perbankan Indonesia : Metode Pengukuran Fungsi
Biaya Frontir. 2010

18

tingkat tertentu atau petani yang dapat menghasilkan output yang lebih besar dari
petani lainnya dengan menggunakan sejumlah input tertentu.
Identifikasi efisiensi penggunaan sumberdaya merupakan isu penting
berbagai peluang dan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi dan
peningkatan kesejahteraan rumah tangga tani (Weersink, Turvey & Godah 1990
diacu dalam Adiyoga 1999). Untuk melihat efisiensi penggunaan faktor produksi
dapat dilihat dari rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan
Marjinal (BKM) yang harus sama dengan satu (Dumaria 2003).
Penelitian tentang efisiensi teknis usahatani yang telah dilakukan
sebelumnya umumnya terdapat multikolineritas atau korelasi antar variabel,
terutama lahan sehingga mereka merestriksi modelnya dengan mengelompokkan
variabel yang ada menjadi variabel bebas dan variabel terikat. Seperti dalam
Rachmina dan Maryono (2008) bahwa variabel luas lahan menimbulkan
multikolinearitas pada model sehingga variabel luas lahan dijadikan pebobot pada
variabel dependen maupun independen. Setelah model direstriksi, terbentuklah
model baru, kemudian jika pada model tersebut masih terdapat multikolinier maka
diretriksi kembali hingga didapatkan nilai R2 yang besar dan VIF lebih kecil dari
10 (Astuti 2003; Aisah 2003; Hutauruk 2008).
Variabel faktor produksi yang berpengaruh signifikan terhadap efisiensi
teknis adalah luas lahan, tenaga kerja, pupuk, dan insektisida (Astuti 2003, Aisah
2003, Brahmana 2005, Hutauruk 2008). Hal lain yang dapat mengindikasikan
faktor-faktor produksi yang mempengaruhi efisiensi teknis usahatani adalah
dengan melihat faktor inefisiensi teknis usahatani. Beberapa penelitian mengenai
efisiensi teknis menggunakan metode efek inefisiensi teknis. Metode efek
inefisiensi teknis yang digunakan mengacu pada model efek inefisiensi teknis
yang dikembangkan oleh Battese dan Coelli (1998) (Hutauruk 2008; Maryono
2008; Khotimah 2010). Dalam model tersebut terdapat variabel i yang berfungsi
untuk menghitung efek inefisiensi.
Faktor yang diperkirakan mempengaruhi tingkat inefisiensi teknis beberapa
komoditi dalam usahatani adalah pengalaman berusahatani, pendidikan,
pendapatan di luar usahatani, dan kepemilikan lahan (Sukiyono 2005; Hutauruk
2008; Maryono 2008; Haryani 2009; Khotimah 2010). Hutauruk (2008) dan

19

Maryono (2008) menambahkan variabel umur bibit sedangkan Khotimah (2010);


Haryani (2009); Sukiyono (2005) menambahkan umur petani sebagai variabel
tingkat inefisiensi teknis. Selain itu, Khotimah (2010) juga menggunakan variabel
pekerjaan petani di luar usahatani dan penyuluhan dalam analisa efisiensi teknis
usahatani ubi jalar dan Maryono (2008) menambahkan rasio urea dan TSP, bahan
organik, dan legowo.
Hasil dari beberapa penelitian sebelumnya mengenai faktor yang
diperkirakan mempengaruhi tingkat inefisiensi teknis beberapa komoditi dalam
usahatani antara lain ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Faktor yang Diperkirakan Mempengaruhi Tingkat Inefisiensi Teknis
Beberapa Komoditi dalam Usahatani
Peneliti
Sukiyono (2005)

Komoditas

Variabel Produksi

Cabai merah
pendidikan formal

Pengaruhnya
terhadap Inefisiensi
(+); nyata
(-); tidak nyata
(-); tidak nyata

umur

Hutauruk (2008)

Maryono (2008)

Khotimah,H (2010)

Prayoga (2010)

pengalaman
Padi Benih umur bibit
Bersubsidi
pengalaman berusahatani
pendidikan
status kepemilikan lahan
pendapatan di luar
usahatani
jarak tanam
Padi
pengalaman petani
program
pendidikan formal petani
benih
umur bibit
bersertifikat
rasio urea-TSP
bahan organik
legowo
Ubi Jalar
umur petani
pengalaman berusahatani
pendidikan
pekerjaan petani di luar
usahatani
pendapatan
di
luar
usahatani
kepemilikan lahan
penyuluhan
Padi
jumlah anggota keluarga
Organik
usia produktif
lahan sawah
frekuensi
penyuluhan

(-); tidak nyata


(-); nyata
(-); tidak nyata
(-); nyata
(-); tidak nyata
(-); tidak nyata
(+); nyata
(-); nyata
(+); tidak nyata
(+); nyata
(+); nyata
(+); tidak nyata
(-); nyata
(+); nyata
(-); nyata
(+); nyata
(-); nyata
(+); nyata
(-); tidak nyata
(-); nyata
(-); nyata

mengikuti

20

Suatu variabel dikatakan memiliki pengaruh positif (+) terhadap inefisiensi


diartikan bahwa setiap peningkatan penggunaan variabel tersebut dalam usahatani
menyebabkan tingkat inefisiensi semakin meningkat. Sebaliknya, suatu variabel
dikatakan memiliki pengaruh negatif (-) terhadap inefisiensi diartikan bahwa
setiap peningkatan penggunaan variabel tersebut dalam usahatani menyebabkan
penurunan terhadap tingkat inefisiensi.
Suatu variabel dikatakan berpengaruh nyata terhadap inefisiensi diartikan
setiap perubahan yang terjadi pada variabel tersebut baik berupa peningkatan atau
penurunan akan berpengaruh pada peningkatan atau penurunan ketidakefisienan
teknis suatu usahatani. Sebaliknya, jika suatu variabel dikatakan berpengaruh
tidak nyata terhadap inefisiensi diartikan setiap perubahan yang terjadi pada
variabel tersebut tidak akan berpengaruh pada peningkatan atau penurunan
ketidakefisienan teknis suatu usahatani. Hal tersebut bisa terjadi karena
penggunaan variabel tersebut dalam suatu usahatani sudah berlebihan sehingga
peningkatan atau penurunan jumlahnya tidak mempengaruhi inefisiensi teknis
usahatani.

21

III. KERANGKA PEMIKIRAN


3.1.

Kerangka Pemikiran Konseptual

3.1.1. Konsep Usahatani


Usahatani dapat diartikan sebagai kegiatan onfarm dari sistem agribisnis.
Mosher (1966) diacu dalam Soeharjo (1973) menggambarkan istilah farm sebagai
bagian dari permukaan bumi dimana seorang petani, suatu keluarga tani atau
badan tertentu lainnya bercocok tanam atau memelihara ternak. Sejalan dengan
hal tersebut, Rifai (1960) diacu dalam Soeharjo (1973) mendefinisikan ilmu
usahatani sebagai ilmu yang mempelajari kesatuan organisasi dari alam, tenaga
kerja, modal, dan pengelolaan yang ditujukan untuk mendapatkan produksi di
lapangan pertanian.
Ilmu usahatani menurut Hernanto (1989) adalah ilmu yang mempelajari
dengan lebih terperinci tentang masalah-masalah yang relatif sempit. Sedangkan
menurut

Daniel

(2001),

usahatani

merupakan

kegiatan

mengorganisasi

(mengelola) aset dan cara dalam pertanian. Diartikan pula sebagai suatu kegiatan
yang mengorganisasi sarana produksi pertanian dan teknologi dalam suatu usaha
yang menyangkut bidang pertanian. Ilmu usahatani merupakan ilmu yang
mempelajari

cara-cara

petani

menentukan,

mengorganisasikan,

dan

mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi seefektif dan seefisien


mungkin sehingga usaha tersebut memberikan pendapatan semaksimal mungkin
(Suratiyah 2009).
Usahatani terbagi menjadi dua, yakni usahatani subsisten dan usahatani
komersial. Usahatani subsisten hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga. Sedangkan usahatani komersial sudah berorientasi pada pemenuhan
kebutuhan masyarakat banyak. Secara umum, sebagian besar petani masih
menerapkan pola subsisten yakni usahatani dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga atau belum sepenuhnya ditujukan untuk dijual ke pasar (pola komersial).
Soekartawi (1986) mengatakan pola subsisten ini biasanya dilakukan oleh petani
kecil. Usahatani tersebut memiliki keterbatasan dalam hal sumberdaya seperti
kekurangan modal, pendapatan yang rendah, namun cara kerjanya tidak sama.

22

Tujuan petani kecil melakukan usahatani adalah menggunakan seefisien mungkin


sumberdaya yang dimiliki.
Soeharjo (1973) membuat klasifikasi usahatani menjadi empat hal yaitu:
(1) menurut bentuknya yaitu berdasarkan cara penguasaan unsur-unsur produksi
dan pengelolaannya, dibedakan atas penguasaan faktor-faktor produksi oleh petani
seperti usahatani perorangan, kolektif, dan koperatif. Usahatani perorangan
merupakan usahatani yang penyusunan unsur-unsur produksi dan pengelolaannya
dilakukan oleh seseorang. Usahatani kolektif merupakan suatu bentuk usahatani
yang unur-unsur produksinya dimiliki organisasi secara kolektif baik dengan cara
membeli, menyewa, menyatukan milik perseorangan, atau berasal dari pemberian
pemerintah. Usahatani kooperatif merupakan bentuk peralihan antara usahatani
perorangan dengan kolektif. Pada usahatani koperatif, tidak semua unsur-unsur
produksi dikuasai bersama seperti lahan yang masih milik perseorangan.
(2) menurut coraknya yaitu berdasarkan tujuan ingin mencapai sesuatu dari hasil
kegiatan usahanya, seperti usahatani yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga (subsisten) dan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya
(komersil).
(3) menurut polanya yaitu pola usahatani ditentukan menurut banyaknya cabang
usahatani yang diusahakan. Berdasarkan hal tersebut, maka usahatani dapat
dibedakan menjadi usahatani khusus yaitu apabila usahatani hanya mempunyai
satu cabang usaha, usahatani tidak khusus saat petani mengusahakan beragam
cabang usahatani, dan usahatani campuran yaitu suatu bentuk usahatani yang
diusahakan secara bercampur baik sesama tanaman maupun tanaman dengan
ternak. Usahatani campuran dikenal pula dengan istilah tumpang sari.
(4) menurut tipenya yaitu usahatani yang digolongkan dalam beberapa tipe jenis
tanaman atau hewan yang diusahakan. Setiap daerah mempunyai kondisi yang
berbeda satu sama lain baik perbedaan fisik, ekonomi, maupun perbedaan yang
tidak termasuk pada keduanya.
Ilmu usahatani pada dasarnya memerhatikan cara-cara petani memperoleh
dan memadukan sumberdaya atau faktor produksi yang terbatas untuk mencapai
tujuannya. Menurut Daniel (2001) faktor produksi merupakan persyaratan yang
harus dipenuhi agar proses produksi dapat berjalan. Faktor produksi dalam usaha

23

pertanian mencakup tanah, modal, tenaga kerja, dan manajemen. Masing-masing


faktor mempunyai fungsi yang berbeda dan saling terkait satu sama lain. Jika
salah satu faktor produksi tidak tersedia, maka proses produksi tidak dapat
berjalan. Hernanto (1989) menyatakan empat unsur pokok atau faktor-faktor
produksi dalam usahatani :
1) Tanah
Tanah menjadi faktor kunci dalam usaha pertanian. Tanah diartikan bukan
hanya terbatas pada wujud nyata tanah saja, namun juga diartikan sebagai tempat
dimana usahatani dijalankan. Lahan usahatani dapat berupa tanah pekarangan,
tegalan, sawah, kandang, kolam, dan sebagainya. Dengan mengetahui keadaan
mengenai tanah, usahatani dapat dilakukan dengan baik. Faktor produksi tanah
terdiri dari beberapa faktor alam lainnya seperti air, udara, temperatur, sinar
matahari, dan lainnya. Keberadaan faktor produksi ini tidak hanya dilihat dari segi
luas atau sempitnya, namun juga dari segi jenis tanah, jenis pengunaan lahan,
topografi, kepemilikan/penguasaan lahan, fragmentasi lahan, dan konsolidasi
lahan.
2) Tenaga kerja
Dalam ilmu ekonomi, kerja diartikan sebagai daya manusia untuk
melakukan usaha atau ikhtiar yang dijalankan untuk memproduksi benda-benda
(Soeharjo 1973). Tenaga kerja merupakan pelaku dalam usahatani untuk
menyelesaikan beragam kegiatan produksi. Tenaga kerja dianggap sebagai faktor
mutlak karena keberadaan dan fungsinya. Tenaga kerja adalah alat kekuatan dan
otak manusia yang tidak dapat dipisahkan dari manusia dan ditujukan pada usaha
produksi. Soeharjo (1973) membagi tenaga kerja dalam usahatani berdasarkan
sumbernya menjadi dua yaitu tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan tenaga
kerja luar keluarga (TKLK). TKDK merupakan tenaga kerja dalam terdiri dari
kepala keluarga, istri dan anak sedangkan TKLK merupakan tenaga kerja luar
keluarga yang dibayar.
3) Modal
Modal menjadi faktor produksi yang mutlak diperlukan dalam usahatani.
Modal merupakan aset berupa uang atau alat tukar yang akan digunakan untuk
pengadaan sarana produksi. Modal dapat dibagi dua, yaitu modal tetap dan modal

24

bergerak. Modal tetap adalah barang-barang yang digunakan dalam proses


produksi yang dapat digunakan beberapa kali seperti mesin, pabrik, dan gedung.
Modal bergerak adalah barang-barang yang digunakan untuk sekali pakai atau
barang-barang yang habis digunakan dalam proses produksi seperti bahan mentah,
pupuk, dan bahan bakar. Sumber modal dapat diperoleh dari milik sendiri,
pinjaman atau kredit (kredit bank, kerabat, dan lain-lain), warisan, usaha lain atau
kontrak sewa. Keberadaan modal sangat menentukan tingkat atau jenis teknologi
yang akan digunakan serta dapat berakibat positif dan negatif bagi usahatani.
Penggunaan modal berfungsi membantu meningkatkan produktivitas dan
menciptakan kekayaan serta pendapatan usahatani.
4) Pengelolaan atau Manajemen
Manajemen/pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani bertindak
sebagai pengelola atau manajer dengan menentukan, mengorganisir, dan
mengkoordinasikan faktor-faktor produksi dari usahanya. Faktor manajemen
berfungsi untuk mengelola faktor produksi lain seperti tanah, tenaga kerja, dan
modal. Pengelolaan faktor produksi yang dimaksud adalah memaksimalkan
produk dengan mengombinasikan faktor produksi yang tersedia atau meminimalkan faktor produksi tersebut dengan jumlah produk tertentu.
3.1.2. Konsep Pendapatan Usahatani
Analisis pendapatan mempunyai kegunaan bagi petani. Soeharjo (1973)
menyebutkan terdapat dua tujuan utama dari analisis pendapatan, yaitu
menggambarkan keadaan sekarang dari suatu kegiatan usaha dan menggambarkan
keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan. Bagi seorang petani,
analisis pendapatan memberikan bantuan untuk mengukur apakah kegiatan
usahanya pada saat ini berhasil atau tidak. Soekartawi et al. (1986)
mendefinisikan beberapa ukuran arus uang tunai, diantaranya sebagai berikut:
1. Penerimaan tunai usahatani merupakan nilai uang yang diterima dari penjualan
produk usahatani. Nilai produk usahatani yang dikonsumsi tidak dihitung
sebagai penerimaan tunai usahatani.
2. Pengeluaran tunai usahatani didefinisikan sebagai

jumlah uang yang

dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani. Nilai kerja yang
dibayarkan dengan benda tidak dihitung sebagai pengeluaran tunai usahatani.

25

3. Selisih antara penerimaan tunai usahatani dengan pengeluaran tunai usahatani


disebut pendapatan tunai usahatani.
Penerimaan usahatani merupakan hasil kali antara harga jual yang diterima
petani per satuan dengan jumlah produksi yang dihasilkan. Penerimaan usahatani
meliputi dua hal yaitu penerimaan tunai dan tidak tunai. Penerimaan tunai
didapatkan dari hasil yang dijual sedangkan penerimaan tidak tunai adalah hasil
yang dikonsumsi sendiri oleh petani. Penerimaan tunai usahatani merupakan
ukuran kemampuan usahatani untuk menghasilkan uang tunai.
Soeharjo (1973) menjelaskan penerimaan usahatani berwujud tiga hal, yaitu
hasil penjualan tanaman, ternak, ikan, atau produk yang akan dijual, produk yang
dikonsumsi pengusaha dan keluarganya selama melakukan kegiatan, dan kenaikan
nilai inventaris.
Istilah lainnya dalam penerimaan usahatani adalah pendapatan kotor
usahatani. Pendapatan kotor usahatani merupakan nilai produk total usahatani
dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun tidak dijual, mencakup
semua produk yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, digunakan dalam
usahatani untuk bibit ataupun makanan ternak, digunakan untuk pembayaran, dan
disimpan atau ada di gudang pada akhir tahun (Soekartawi et al. 1986).
Pengeluaran atau biaya dalam usahatani terdiri atas dua hal yaitu biaya tunai
dan biaya diperhitungkan atau tidak tunai (Soekartawi et al. 1986). Biaya tunai
merupakan pengeluaran uang tunai yang dikeluarkan secara langsung oleh petani.
Biaya yang diperhitungkan merupakan pengeluaran petani berupa faktor produksi
tanpa mengeluarkan uang tunai. Soekartawi et al. (1986) juga menyatakan bahwa
apabila dalam usahatani itu digunakan mesin-mesin pertanian, maka harus
dihitung penyusutannya dan dianggap sebagai pengeluaran.
Penyusutan merupakan penurunan nilai inventaris yang disebabkan karena
hilang, rusak, dan pengaruh umur atau karena digunakan (Soeharjo 1973). Untuk
menghitung penyusutan didasarkan pada harga perolehan (cost) sampai dengan
modal tersebut dapat memberikan manfaat (Suratiyah 2009). Soeharjo (1973)
menyebutkan terdapat empat cara untuk menghitung penyusutan, yaitu (1)
menghitung selisih antara nilai penjualan pada awal tahun dengan nilai penjualan
pada akhir tahun, (2) menggunakan sistem garis lurus dimana penyusutan

26

dianggap sama besarnya untuk setiap saat. Besarnya penyusutan sama dengan
harga pembelian dikurangi harga tidak terpakai dibagi dengan lamanya
pemakaian, (3) menggunakan sistem penyusutan yang menurun, yaitu dengan
menentukan persentase tertentu terhadap nilai pembelian yang telah dipotong
penyusutan tahun sebelumnya, (4) menggunakan sistem sebanding dengan jumlah
angka-angka tahun.
Menurut Soekartawi et al. (1986), pengeluaran total usahatani didefinisikan
sebagai nilai semua masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan di dalam
produksi, tetapi tidak termasuk tenaga kerja dalam keluarga. Pengeluaran total
usahatani dipisahkan menjadi pengeluaran tetap dan pengeluaran tidak tetap.
Pengeluaran tetap merupakan pengeluaran usahatani yang besarnya tidak
bergantung kepada besarnya produksi. Pengeluaran tidak tetap atau variabel
merupakan pengeluaran yang digunakan untuk tanaman atau ternak dan
jumlahnya berubah sebanding dengan besarnya produksi tanaman atau ternak
tersebut.
Soekartawi et al. (1986) menyatakan selisih antara pendapatan kotor
usahatani dengan pengeluaran total usahatani disebut pendapatan bersih usahatani.
Pendapatan bersih usahatani mengukur imbalan yang diperoleh keluarga petani
dari penggunaan faktor-faktor produksi kerja, pengelolaan, dan modal milik
sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan ke dalam usahatani. Pendapatan
bersih usahatani mengukur keuntungan usahatani yang dapat dipakai untuk
membandingkan penampilan beberapa usahatani. Soekartawi et al. (1986)
mendefinisikan pendapatan usahatani sebagai kelebihan uang tunai usahatani
ditambah dengan penerimaan tunai rumah tangga seperti upah kerja yang
diperoleh dari luar usahatani.
Pendapatan bersih usahatani juga dapat diketahui melalui analisis R/C rasio.
R/C rasio menunjukkan penerimaan usahatani yang akan diperoleh petani untuk
setiap rupiah biaya yang dikeluarkan dalam usahatani. Semakin besar nilai R/C
menunjukkan bahwa semakin besar pula penerimaan usahatani yang diperoleh
untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan. Hal tersebut menyimpulkan bahwa
kegiatan usahatani tersebut menguntungkan untuk dilaksanakan.

27

Kegiatan usahatani dikatakan layak jika nilai R/C rasio menunjukkan angka
lebih dari satu, artinya setiap penambahan biaya yang dikeluarkan akan
menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih besar daripada tambahan
biayanya. Sebaliknya jika nilai R/C rasio lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa
tambahan biaya setiap rupiahnya menghasilkan tambahan penerimaan yang lebih
kecil sehingga kegiatan usahatani dikatakan tidak menguntungkan. Jika nilai R/C
rasio sama dengan satu artinya usahatani memperoleh keuntungan normal.
3.1.3. Konsep Fungsi Produksi
Fungsi produksi merupakan hubungan fisik atau hubungan teknik antara
macam dan jumlah korbanan yang digunakan dengan jumlah produk yang
dihasilkan (Soeharjo 1973). Menurut Daniel (2001), fungsi produksi merupakan
suatu fungsi yang menunjukkan hubungan hasil

fisik (output) dengan input.

Tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi adalah dengan cara
menambahkan jumlah salah satu atau lebih dari input yang digunakan. Soekartawi
(2002) menjelaskan bahwa fungsi produksi adalah hubungan fisik antara
produksi/variabel yang dijelaskan (Y) dengan masukan/variabel yang menjelaskan
(Xi). Variabel yang dijelaskan (Y) berupa produksi dan (Xi) berupa input
produksi i, sehingga besar kecilnya Y bergantung dari besar kecilnya X1, X2, X3,..,
Xm yang digunakan. Pengertian lain dari fungsi produksi adalah menunjukkan
berapa output yang dapat diperoleh dengan menggunakan sejumlah variabel input
yang berbeda. Secara aljabar hubungan Y dan X ditulis sebagai berikut :
Y = f {X1, X2,...,Xn}
dimana : Y = produksi
X1 = input X1
X2 = input X2
Xn = input X yang ke-n
Masukan X1, X2, X3,...,Xm dikelompokkan menjadi dua yaitu input yang
dapat dikuasai seperti luas tanah, jumlah pupuk, tenaga kerja, dan lainnya serta
input yang tidak dapat dikuasai seperti iklim. Input yang digunakan dalam suatu
fungsi produksi belum tentu digunakan pula pada fungsi produksi lainnya. Hal ini
tergantung dari penting tidaknya pengaruh input tersebut terhadap produksi.

28

Dalam memilih bentuk fungsi produksi sebaiknya secara teoritis model


tersebut dapat dipertanggungjawabkan, dapat diduga dengan baik dan mudah serta
analisisnya memiliki implikasi ekonomi (Soekartawi 2002). Kurva produksi juga
dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.
M
Y

PTI
[y=f(x1| x2=x20]

X1
AP,
MP

AP1
MP1

X1

Gambar 1. Hubungan antara produk total, produk rata-rata, dan produk marginal dalam proses
produksi.
Sumber: (Coelli, et. al. 1998)

Sumbu X menunjukkan besaran faktor produksi dan sumbu Y mengukur


produksi total yang dihasilkan. Pada saat kurva PT (produksi total) berubah ke
titik B maka saat itu kurva PM mencapai titik maksimum. Pada saat itu, law of
diminishing returns mulai berlaku. Titik M menunjukkan titik dimana kurva PT
mencapai maksimum. Pada saat bersamaan, kurva PM memotong sumbu X yaitu
pada saat PM menjadi negatif. Produk marginal (PM) adalah tambahan satu
satuan produksi atau hasil yang diperoleh akibat penambahan satu satuan input.
Produk marginal dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

29

Produk marginal =

Y
X

Namun, penambahan input tidak selamanya menghasilkan penambahan


output. Apabila sudah jenuh (melewati titik maksimum) maka pertambahan hasil
akan semakin kecil (law of diminishing returns). Artinya setiap penambahan satu
unit masukan akan mengakibatkan proporsi unit tambahan produksi yang semakin
kecil dibanding unit tambahan masukan tersebut. Kemudian produk total (PT)
adalah jumlah produk atau hasil yang diperoleh dalam proses produksi.
Sedangkan produk rata-rata (PR) adalah perbandingan antara produk total dengan
input produksi.
3.1.4. Konsep Efisiensi
Efisiensi merupakan faktor penting dalam menentukan produksi. Menurut
Soekartiwi (2002), efisiensi diartikan sebagai upaya penggunaan input yang
sekecil-kecilnya untuk mendapatkan produksi yang sebesar-besarnya. Suatu hal
dikatakan efisien jika dapat menghasilkan output lebih tinggi dengan penggunaan
sejumlah input yang sama atau penggunaan input lebih rendah untuk
menghasilkan sejumlah output tertentu.
Soekartawi (2002) menjelaskan bahwa terdapat tiga konsep efisiensi yaitu
efisiensi teknis (technical efficiency), efisiensi harga (price/allocative efficiency),
dan efisiensi ekonomis (economic efficiency). Efisiensi teknis tercapai saat
sejumlah faktor produksi yang ada menghasilkan output yang tinggi, sedangkan
efisiensi harga terjadi saat keuntungan tinggi yang diperoleh dari suatu usahatani
disebabkan oleh pengaruh harga. Kemudian, efisiensi ekonomis merupakan
perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan.
Efisiensi ekonomis terjadi jika peningkatan hasil dari usahatani diperoleh dengan
menekan harga faktor produksi dan menjual hasil tersebut dengan harga yang
tinggi.
Pengukuran efisiensi yang diajukan oleh Farrell (1957) diacu dalam Coelli
et al. (1998) terdiri dari dua komponen: efisiensi teknis yang merefleksikan
kemampuan perusahaan untuk mendapat output maksimum dari satu set input
yang tersedia, dan alokatif efisiensi yang merefleksikan kemampuan dari
perusahaan menggunakan input dalam proporsi yang optimal, sesuai dengan

30

harga masing-masingnya. Kedua ukuran efisiensi ini kemudian dikombinasikan


akan menyediakan ukuran total efisiensi ekonomi. Ia juga menyarankan bahwa
fungsi diestimasikan dari data sampel menggunakan non-parametric piece-wiselinear technology atau fungsi parametrik, seperti bentuk Cobb-Douglas.
Efisiensi teknis atau inefisiensi teknis usahatani ke-i diduga dengan
menggunakan persamaan yang dirumuskan oleh Coelli et al. (1998) sebagai
berikut:
TEi =

= exp(-Ui)

dimana yi adalah produksi aktual dari pengamatan dan yi adalah produksi


frontier yang diperoleh dari fungsi produksi frontier stochastic.
3.1.5.Konsep Fungsi Produksi Stochastic Frontier
Pendekatan stochastic frontier merupakan salah satu metode yang
digunakan untuk melihat efisiensi dari suatu usahatani. Coelli et al. (1998)
menyatakan terdapat dua metode pendekatan yang sering digunakan untuk
mengukur efisiensi dari usahatani yaitu Stochastic Frontier dan Data
Envelopment Analysis. Kedua metode tersebut dapat digunakan untuk mengukur
perubahan teknis dan perubahan efisiensi jika panel data tersedia.
Perbedaan antara kedua metode tersebut adalah pada stochastic frontier
menggunakan metode parametrik yang berkaitan dengan pengukuran kesalahan
acak dan menggunakan model ekonometrik sedangkan Data Envelopment
Analysis menggunakan metode non parametrik dimana tidak mempertimbangkan
adanya kesalahan acak dan menggunakan linier programming. Suliyanto (2005)
mendefinisikan metode parametrik sebagai statistik inferensia yang membahas
parameter-parameter populasi, digunakan jika data yang dianalisis berskala
interval atau rasio dan distribusi datanya normal atau mendekati normal
sedangkan metode non parametrik merupakan statistik inferensia yang tidak
membahas parameter-parameter populasi, digunakan jika data yang dianalisis
berskala nominal atau ordinal dan distribusi data populasinya tidak normal.
Fungsi produksi terdiri dari dua konsep yaitu fungsi produksi batas (frontier
production function) dan fungsi produksi rata-rata. Beberapa fungsi produksi yang
sering digunakan dalam penelitian antara lain fungsi produksi Cobb-Douglas,

31

fungsi produksi linier berganda, dan fungsi produksi transendental. Fungsi


produksi stochastic frontier merupakan fungsi produksi yang menggambarkan
output maksimum yang dapat dihasilkan dalam suatu proses produksi.
Karakteristik yang cukup penting dari model produksi frontier untuk
mengestimasi

efisiensi

teknis

adalah

adanya

pemisahan

dampak

dari

goncangan/shok peubah eksogen terhadap output dengan kontribusi ragam/variasi


dalam bentuk efisiensi teknis (Giannakas et al. 2003 diacu dalam Prayoga 2010).
Coelli et al. (1998) menyatakan bahwa fungsi produksi frontier adalah fungsi
produksi yang menggambarkan output maksimum yang dapat dicapai dari setiap
tingkat penggunaan input. Jadi apabila suatu usahatani berada pada titik di fungsi
produksi frontier artinya usahatani tersebut efisiensi secara teknis.
Coelli et al. (1998) mengemukakan fungsi stochastic frontier merupakan
perluasan dari model asli deterministik untuk mengukur efek-efek yang tidak
terduga (stochastic frontier) di dalam batas produksi. Dalam fungsi produksi ini
ditambahkan random error, vi, ke dalam variabel acak non negatif (non-negative
random variable), ui, seperti dinyatakan dalam persamaan seperti berikut:
Yi = Xi + (Vi - Ui) dimana i = 1,2,3.n
dimana :
Yit = produksi yang dihasilkan petani-i pada waktu-t
Xit = vektor masukan yang digunakan petani-i pada waktu-t
it = vektor parameter yang akan diestimasi
Vit= variabel acak yang berkaitan dengan faktor-faktor eksternal sebarannya
simetris dan menyebar normal (Vit

N(o, v2|))

Uit= variabel acak non negatif dan diasumsikan mempengaruhi tingkat


inefisiensi teknis serta berkaitan dengan faktor-faktor internal dan
sebaran U it bersifat setengah normal (U it

N(o, v2|)

Random error, vi, berguna untuk menghitung ukuran kesalahan dan faktor acak
lainnya seperti cuaca, iklim, hama penyakit, bersama-sama dengan efek
kombinasi dari variabel input yang tidak terdefinisi di fungsi produksi. Variabel vi
merupakan variabel acak yang bebas dan secara identik terdistribusi normal
(independent-identically distributed atau i.i.d) dengan rataan bernilai nol dan
ragamnya konstan. Variabel ui diasumsikan i.i.d eksponensial atau variabel acak
32

setengah normal (half-normal variables). Variabel ui berfungsi untuk menangkap


efek inefisiensi teknis.
Model produksi frontier stochastic didasarkan pada model yang
dikembangkan oleh Battese dan Coelli (1991) yaitu TE effect model. Model ini
menetapkan efek inefisiensi teknis dalam model bentuk frontier stochastic yang
diformulasikan sebagai berikut:
i = 0 + Zi +Wi
i adalah salah satu kesalahan baku yang menyusun error term dalam model yang
menggambarkan ketidakefisienan teknik suatu usahatani dan bernilai positif,
sehingga semakin besar nilai i maka makin besar pula ketidakefisienan suatu
usahatani, dimana Zi adalah variabel penjelas, adalah parameter skalar, dan Wi
adalah variabel acak.
Spesifikasi asli mencakup fungsi produksi stochastic frontier dispesifikasi
untuk data silang (cross-sectional data) yang mempunyai error term yang
mempunyai dua komponen, satu disebabkan oleh random effects dan yang lain
disebabkan oleh inefisiensi teknis. Data cross section merupakan data yang
dikumpulkan

dalam

satu

waktu

tertentu

pada

beberapa

objek

untuk

menggambarkan keadaan (Suliyanto 2005).


Jumlah observasi terpilih yang dihilangkan secara alami, diberi nama
pendekatan probabilistic frontier. Metode ini dikenal sebagai stochastic frontier
approach. Dalam model stochastic frontier, output diasumsikan dibatasi dari atas
oleh suatu fungsi produksi stokastik.
Struktur dasar dari model stochastic production frontier dapat dilihat pada
Gambar 2.

33

Frontir output (Yi*),


exp (xi + vi). If vi > 0
Production function,
Y = exp(x)
Frontir output (Yj*),
exp (xj + vj). If vj < 0

Gambar 2. Fungsi Produksi Stochastic Frontier


Sumber: (Coelli, et. all. 1998)

Frontier output (yi*) merupakan hasil output batas (frontier) dari petani i
yakni melampaui nilai dari fungsi produksi f(x ). Penyebabnya adalah aktivitas
produksi yang dipengaruhi oleh kondisi menguntungkan, dimana variabel vi
bernilai positif. Sebaliknya, Frontier output (yj*) merupakan hasil output batas
(frontier) dari petani j yakni berada di bawah fungsi produksi f(x ). Penyebabnya
adalah aktivitas produksi yang dipengaruhi oleh kondisi tidak menguntungkan,
dimana variabel vi bernilai negatif (Coelli et al.1998).
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Menurut BPS (2012), laju pertumbuhan penduduk Indonesia setiap
tahunnya meningkat sebesar 1,49 persen. Hal tersebut secara langsung
menyebabkan terjadinya peningkatan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Untuk itu, kondisi ketahanan pangan khususnya yang berkaitan dengan
penyediaan pangan bagi manusia sangat penting untuk diperhatikan. Salah satu
solusi dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan adalah diversifikasi pangan.
Namun, masyarakat saat ini belum memahami benar penganekaragaman pangan

34

berbasis potensi lokal. Hal ini dibuktikan dengan tingkat konsumsi pangan ideal
untuk padi-padian masih melebihi kondisi ideal.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dalam Renstra tahun 2010-2014
menetapkan tujuh komoditas yang menjadi unggulan nasional, salah satunya
adalah ubi jalar dimana produksinya selama periode 2005-2010 mengalami
pertumbuhan positif. Ubi jalar berpotensi dikembangkan untuk mendukung
program penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal. Potensi
tersebut antara lain partisipasi masyarakat dalam mengkonsumsi ubi jalar tinggi,
pertumbuhan produksi dan produktivitas ubi jalar di Indonesia pada tahun 2011
terhadap 2010 bernilai positif, dan ubi jalar berpotensi menjadi komoditi ekspor
Indonesia.
Salah satu daerah penghasil ubi jalar terbesar di Kabupaten Bogor adalah
Desa Cikarawang. Beberapa permasalahan yang terjadi dalam usahatani ubi jalar
antara lain belum diterapkannya teknik budidaya dan penggunaan faktor produksi
yang sesuai dengan teori dan anjuran, sehingga tingkat efisiensi teknis petani
diduga belum optimal.
Mengingat ubi jalar merupakan salah satu komoditas unggulan nasional
yang dapat meningkatkan ketahanan pangan maka diperlukan pencapaian efisiensi
teknis agar menghasilkan output yang optimal. Oleh karena itu, penelitian ini
menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi ubi jalar.
Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi produksi ubi jalar antara lain luas lahan,
jarak tanam, tenaga kerja, penggunaan pupuk kandang, pupuk N, pupuk P, dan
jumlah pestisida. Kemudian akan dilihat nilai efisiensi teknis tiap individu petani
dan serta faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis individu petani.
Faktor yang diduga mempengaruhi inefisiensi teknis antara lain usia petani,
tingkat pendidikan formal, pengalaman, keikutsertaan dalam kelompok tani,
varietas yang ditanam, status petani dalam rumah tangga, status usahatani, status
kepemilikan lahan, dan pola tanam. Adapun bagan kerangka pemikiran
operasional disajikan pada Gambar 3.
Berdasarkan referensi yang ada maka penelitian ini menggunakan fungsi
produksi stochastic frontier yang diestimasi menggunakan Maximum Likelihood
Estimation (MLE) untuk mengidentifikasi faktor produksi yang mempengaruhi

35

efisiensi teknis, melihat efisiensi teknis usahatani dari sisi input, dan efek
inefisiensi yang berkaitan. Selain itu, fungsi produksi stochastic frontier
digunakan karena sederhana, dan dapat dibuat dalam bentuk linier. Variabel yang
akan digunakan pada penelitian ini untuk menduga produksi ubi jalar luas lahan,
jarak tanam, tenaga kerja, penggunaan pupuk kandang, pupuk N, pupuk P, dan
jumlah pestisida. Sedangkan variabel yang akan digunakan untuk menduga
inefisiensi teknis ubi jalar adalah usia petani, tingkat pendidikan formal,
pengalaman, keikutsertaan dalam kelompok tani, varietas yang ditanam, status
petani dalam rumah tangga, status usahatani, status kepemilikan lahan, dan pola
tanam.

36

Usahatani Ubi Jalar


1. Berpotensi menjadi komoditas pendukung program
diversifikasi pangan berbasis potensi lokal
2. Ubi jalar termasuk 7 komoditas unggulan nasional
3. Produktivitas masih di bawah produktivitas nasional
4. Tingkat efisiensi teknis petani diduga belum optimal

Perlu Informasi Efisiensi Teknis


dan Pendapatan Usahatani Ubi Jalar

Usahatani
1. Budidaya: pembibitan-panen
2. Penggunaan Sarana Produksi

Penerimaan

Biaya

Pendapatan Usahatani
1. Pendapatan Besih
Usahatani
2. R/C rasio atas Biaya
Tunai dan R/C rasio
atas Biaya Total
Rekomendasi Usahatani yang
Efisien secara Teknis dan
Memberikan Keuntungan
Maksimum bagi Petani

Stochastic Production Frontier

1.Faktor-faktor
yang
mempengaruhi Produksi:
luas lahan, jarak tanam, tenaga
kerja, jumlah pupuk kandang, pupuk
N, pupuk P, dan pestisida.

P
r
o
d
u
k
s
i

2.Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
Efisiensi
dan
Inefisiensi Teknis:
usia petani, tingkat pendidikan
formal, pengalaman, keikutsertaan
dalam kelompok tani, varietas yang
ditanam, status petani dalam rumah
tangga, status usahatani, status
kepemilikan lahan, dan pola tanam.

Efisiensi Teknis Usahatani

Gambar 3. Kerangka Pemikiran Operasional

37

IV. METODE PENELITIAN


4.1.

Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor,

Jawa Barat. Lokasi ini dipilih secara sengaja (purposive). Alasan pemilihan
Kabupaten Bogor dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Bogor merupakan
sentra produksi ketiga ubi jalar di Jawa Barat (Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Jawa Barat, 2011). Pemilihan Desa Cikarawang sebagai lokasi penelitian karena
sebagian besar masyarakat di desa tersebut merupakan petani ubi jalar. Sedangkan
pemilihan dusun lokasi penelitian dilakukan secara acak (random sampling) dari
tiga dusun yang berada di Desa Cikarawang terpilih dua dusun yaitu Dusun
Carang Pulang dan Dusun Cangkrang. Waktu pengambilan data dilakukan pada
bulan Maret-April 2012.
4.2. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder.
Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden yakni
petani ubi jalar di dusun Carang Pulang dan Cangkrang di Desa Cikarawang.
Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan

dalam bentuk

kuesioner. Data primer yang dikumpulkan adalah karakteristik responden dan


karakteristik usahatani. Karakteristik responden yang dikumpulkan seperti nama,
usia, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani, keikutsertaan dalam kelompok
tani, dan sebagainya. Data tersebut digunakan untuk memberikan gambaran
umum tentang kondisi petani ubi jalar di Desa Cikarawang. Adapun karakteristik
usahatani ubi jalar digunakan untuk menganalisis efisiensi teknis penggunaan
faktor produksi dan pendapatan usahatani. Karakteristik usahatani ubi jalar
meliputi luas lahan yang ditanami ubi jalar, input-input produksi yang digunakan,
serta produksi ubi jalar selama satu musim tanam pada akhir tahun 2011.
Data sekunder yang berhubungan dengan luas panen, produktivitas,
produksi ubi jalar, dan hal lainnya diperoleh melalui buku, jurnal, skripsi, tesis,
internet, instansi pemerintah terkait seperti Biro Pusat Statistik (BPS), BP3K
Kabupaten Bogor, Badan Ketahanan Pangan (BKP), dan Pemerintah Desa
Cikarawang.

38

4.3. Metode Pengambilan Contoh


Petani dalam penelitian adalah petani yang menanam ubi jalar pada musim
tanam akhir tahun 2011. Populasi penelitian ini adalah petani ubi jalar di dusun
Carang Pulang dan Cangkrang di Desa Cikarawang. Dari tiga kelompok tani yang
terdapat di dua dusun tersebut, diketahui jumlah anggota kelompok tani sebanyak
85 orang.
Metode pengambilan contoh menggunakan cluster sampling, dimana
sample diambil dari masing-masing dusun terpilih. Jumlah responden yang
digunakan dalam penelitian sebanyak 35 orang petani ubi jalar. Jumlah tersebut
dipilih secara sengaja (purposive) dengan cara mendatangi ketua kelompok tani
yang ada di setiap dusun (3 orang), kemudian ketua poktan memilih masingmasing anggotanya dengan pertimbangan anggota yang dipilih merupakan petani
yang menanam ubi jalar saat itu dan bersedia untuk diwawacarai sehingga
didapatkan sebanyak 43 persen berasal dari kelompok tani Hurip, 31 persen dari
kelompok tani Setia, dan 26 persen dari kelompok wanita tani Melati. Jumlah
responden tersebut dipilih dengan pertimbangan adanya keterbatasan waktu dan
dana dalam penelitian ini. Selain itu, kondisi lapang di lokasi penelitian relatif
homogen artinya petani ubi jalar di Desa Cikarawang menanam ubi pada waktu
yang bersamaan yaitu pada akhir tahun 2011 dan jenis input produksi yang
digunakan pun relatif sama sehingga jumlah responden sebanyak 35 orang
dianggap sudah cukup mewakili keragaman populasi yang ada. Gay dan Diehl
(1992) diacu dalam Rahayu (2005) pun menyatakan bahwa apabila penelitian
bersifat korelasional (hubungan), jumlah sampel minimal sebanyak 30 subjek.
4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan analisis data dilakukan secara deskriptif baik analisis
kualitatif maupun kuantitatif berdasarkan data primer dan sekunder hasil
penelitian. Analisis data secara kualitatif digunakan untuk mengetahui keragaan
usahatani ubi jalar di Desa Cikarawang. Analisis kuantitatif dilakukan untuk
mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi ubi jalar dan
efisiensi produksi di Desa Cikarawang.
Data yang diperoleh, sebelumnya akan mengalami proses pengeditan
kemudian pengolahan dan selanjutnya dianalisis. Pengolahan data secara

39

kuantitatif dilakukan dengan menggunakan alat bantu kalkulator dan komputer


(Microsoft Excel, Minitab 14, dan Frontier 4.1).
4.4.1 Analisis Efisiensi dengan Fungsi Produksi Stochastic Frontier
Alat analisis yang digunakan untuk menganalisis data adalah fungsi
produksi stochastic frontier Cobb Douglas dan Linier Berganda. Fungsi produksi
tersebut digunakan untuk menganalisis efisiensi teknis usahatani dari sisi
input/faktor produksi yang digunakan dan faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi efisiensi teknis.
Berdasarkan penelitian terdahulu, faktor-faktor produksi yang akan
digunakan adalah luas lahan, jarak tanam, tenaga kerja, pupuk kandang, pupuk
urea, pupuk cair, pupuk KCl, pupuk TSP, pupuk phonska, pupuk NPK, dan
pestisida. Namun, variabel-variabel tersebut disesuaikan dengan kondisi di lapang
sehingga variabel pupuk urea, pupuk cair, pupuk KCl, pupuk TSP, dan pupuk
NPK dihilangkan karena data yang diperoleh sedikit sehingga kurang
merepresentasikan keragaman populais. Untuk itu, variabel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah luas lahan, jarak tanam, tenaga kerja, pupuk kandang, pupuk
N, pupuk P, dan pestisida. Peubah-peubah independen tersebut dimasukkan ke
dalam persamaan sehingga model persamaan penduga fungsi produksi stochastic
frontier Cobb Douglas dapat ditulis sebagai berikut:
Ln Y = o + 1LnX1 + 2LnX2 + 3LnX3 + 4LnX4 + 5LnX5 + 6LnX6 +
7LnX7 + Vi - Ui
dimana:
Y = output (ubi jalar) dalam satuan ton
X1 = luas lahan dalam satuan Ha
X2 = jarak tanam dalam barisan satuan cm
X3 = jumlah tenaga kerja dalam satuan HOK
X4 = pupuk kandang dalam satuan kg
X5 = pupuk N dalam satuan kg
X6 = pupuk P dalam satuan kg
X7 = pestisida dalam satuan ml
Vi-Ui = error term (i = efek inefisiensi teknis dalam model)

40

Nilai koefisien yang diharapkan adalah : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 > 0. Nilai koefisien


positif berarti dengan meningkatnya faktor produksi (input) diharapkan akan
meningkatkan produksi ubi jalar.
Salah satu alasan pokok mengapa fungsi Cobb-Douglas lebih banyak
digunakan oleh para peneliti karena hasil pendugaan garis melalui fungsi produksi
Cobb-Douglas akan menghasilkan koefisien regresi yang sekaligus menunjukkan
besaran elastisitas dimana besaran elastisitas tersebut menunjukkan tingkat
besaran skala usaha (return to scale) (Soekartawi 2002). Saat j < 1 artinya
proporsi penambahan input produksi akan menghasilkan tambahan produksi
dengan proporsi lebih rendah (decreasing return to scale), saat j = 1 artinya
proporsi penambahan input produksi sama dengan proporsi tambahan produksi
(constant return to scale), sedangkan saat j > 1 artinya proporsi penambahan
input produksi akan menghasilkan tambahan produksi dengan proporsi lebih besar
(increasing return to scale). Soekartawi (2002) menyatakan nilai j harus positif
dan lebih kecil dari satu. Ini artinya penggunaan fungsi Cobb-Douglas dalam
keadaan hukum kenaikan yang semakin berkurang (law of diminishing returns)
untuk setiap input j, sehingga setiap penambahan input produksi dapat
menghasilkan tambahan produksi yang lebih besar.
Pada fungsi produksi stochastic frontier linier berganda, nilai koefisien pada
setiap variabelnya tidak menunjukkan elastisitas variabel tersebut. Untuk itu,
elastisitas variabel dapat diperoleh dari perhitungan sebagai berikut (Soekartawi
2002):
ep =
dimana

.
adalah PM (produk marginal). Untuk itu, besarnya elastisitas

tergantung dari besar kecilnya nilai PM suatu variabel input.


Analisis efisiensi teknis atau inefisiensi teknis usahatani ke-i diduga dengan
menggunakan persamaan yang dirumuskan oleh Coelli et al. (1998) sebagai
berikut:
TEi =

= exp(-Ui)

dimana TE adalah efisiensi teknis petani ke-i, yi adalah produksi aktual dari
pengamatan, yi adalah produksi frontier yang diperoleh dari fungsi produksi

41

frontier stochastic dan exp (-i) adalah nilai harapan (mean) dari i, jadi 0 TEi
1. TE effect model pun menetapkan efek inefisiensi teknis dalam model bentuk
stochastic frontier yang diformulasikan sebagai berikut:
i = 0 + Zij j +Wi
i adalah salah satu kesalahan baku yang menyusun error term dalam model yang
menggambarkan ketidakefisienan teknik suatu usahatani dan bernilai positif,
sehingga semakin besar nilai i maka makin besar pula ketidakefisienan suatu
usahatani.
Untuk menentukan nilai efek inefisiensi teknis (i) pada penelitian ini
digunakan rumus sebagai berikut:
i = 0 + Z11 + Z22 + Z33 + Z44 + Z55 + Z66 + Z77 + Z88+ Z99+ Wi
dimana:
i = output (ubi jalar) dalam satuan ton
Z1 = usia petani dalam satuan tahun
Z2 = tingkat pendidikan dalam satuan tahun
Z3 = pengalaman dalam satuan tahun
Z4 = dummy keikutsertaan dalam kelompok tani
Z5 = dummy varietas yang ditanam
Z6 = dummy status dalam rumah tangga
Z7 = dummy status usahatani
Z8 = dummy status kepemilikan lahan
Z9 = dummy pola tanam
Seluruh parameter baik dalam fungsi produksi stochastic frontier dan efek
inefisiensi secara simultan diperoleh melalui program Frontier 4.1. Pengujian
parameter dan efek inefisiensi teknis dilakukan dengan menggunakan parameter
pendugaan Maximum Likelihood (MLE) pada tingkat kepercayaan 5 %.
4.4.2. Uji Hipotesis
Sebagai jawaban awal dari analisis di atas dilakukan uji hipotesis berikut :
Hipotesis:
H0 : = 0

42

H1 : > 0
Hipotesis nol menyatakan bahwa efek inefisiensi teknis tidak ada dalam model
fungsi produksi. Jika hipotesis ini diterima, maka model fungsi produksi rata
rata sudah cukup mewakili data empiris. Uji statistik yang digunakan adalah uji
Chi Square.
LR = -2{ln[L(H0)/L(H1)]} = -2{ln[L(H0)]-ln[L(H1)]}
dimana L(H0) dan L(H1) adalah nilai dari fungsi likelihood dibawah hipotesis H0
dan H1.
Kriteria Uji :
LR galat satu sisi > 2 restriksi (tabel Kodde dan Palm) tolak H0
LR galat satu sisi < 2 restriksi (tabel Kodde dan Palm) terima H0
Tabel Chi Square Kodde dan Palm adalah tabel upper and lower bound dari nilai
kritis untuk uji persamaan dan tidak persamaan restriksi.
Hipotesis kedua :
H0 : 1 = 0
H1 : 1

Hipotesis nol artinya koefisien dari masing masing variabel di dalam model efek
inefisiensi sama dengan nol. Jika hipotesis ini diterima maka masingmasing
variabel penjelas di dalam model efek inefisiensi tidak memiliki pengaruh sama
sekali terhadap tingkat inefisiensi di dalam proses produksi.
Uji statistik yang digunakan adalah :
t-hitung = i 0
S (i)
t-tabel = t(/2, n-k)
Kriteria uji:
t-hitung > t-tabel (/2, n-k) : tolak Ho
t-hitung < t-tabel (/2, n-k) : terima Ho
dimana:
k = jumlah variabel bebas
n = jumlah pengamatan/responden
S(i) = simpangan baku koefisien efek inefisiensi

43

4.4.3. Analisis Pendapatan Usahatani


Pendapatan suatu usahatani dipengaruhi oleh sejauh mana efisiensi yang
telah dilakukan oleh seorang petani. Efisiensi sendiri erat kaitannya dengan input
produksi yang digunakan. Salah satu input produksi yang digunakan adalah lahan.
Efisiensi dipengaruhi oleh skala usaha (lahan), dimana semakin luas skala usaha
diduga akan lebih efisien dan dapat meningkatkan pendapatan petani. Dinas
Pertanian mengelompokan luas lahan menjadi tiga bagian yaitu < 0,5 Ha (petani
gurem), 0,5-1 Ha, dan > 1 Ha. Dikarenakan di daerah penelitian tidak terdapat
responden dengan luas lahan usahatani ubi jalar > 1 Ha sehingga pengelompokan
0,5-1 Ha disingkat menjadi > 0,5 Ha. Oleh karena itu, analisis pendapatan
usahatani yang dilakukan dalam penelitian membandingkan petani responden
berdasarkan luas lahan garapan petani yakni luas lahan kurang dari 0,5 Ha (petani
gurem) dan lebih dari 0,5 Ha.
Analisis pendapatan usahatani digunakan untuk mengukur keuntungan
usahatani yang dapat dipakai untuk membandingkan penampilan beberapa
usahatani. Hal tersebut dilakukan dengan mencatat seluruh penerimaan total dan
pengeluaran/biaya total selama satu musim tanam. Pendapatan usahatani
dibedakan menjadi pendapatan atas biaya tunai dan biaya total. Secara sistematis
rumus penerimaan dituliskan sebagai berikut:
TR tunai = Py x Ytunai
TR diperhitungkan = Py x Y diperhitungkan
TR total = TR tunai + TR diperhitungkan
dimana:
Py = harga output (Rp/kg)
Ytunai = jumlah output yang dijual oleh petani (kg)
Y

diperhitungkan

= jumlah output yang dikonsumsi oleh petani baik untuk


dimakan maupun digunakan sebagai bibit (kg)

TR tunai = total penerimaan tunai usahatani (Rp)


TR diperhitungkan = total penerimaan diperhitungkan usahatani (Rp)
TRtotal = total penerimaan tunai usahatani (Rp)
sedangkan rumus biaya total dituliskan sebagai berikut:
TC = Biaya Tunai + Biaya Diperhitungkan
44

dimana:
Biaya Tunai = pengeluaran berupa uang tunai yang dikeluarkan secara
langsung oleh petani (Rp)
Biaya Diperhitungkan = pengeluaran petani berupa faktor produksi tanpa
mengeluarkan uang tunai (Rp)
TC = total biaya usahatani (Rp)
Dalam penelitian ini, komponen penyusutan dihitung dengan metode garis
lurus dengan rumus sebagai berikut:
Penyusutan/tahun = Biaya Nilai sisa
Umur Ekonomis
Sementara pendapatan usahatani dapat dinyatakan dalam persamaan
matematika sebagai berikut:
tunai = TR tunai Biaya Tunai
total = TRtotal TC
dimana:
= pendapatan (Rp)
Selain itu, analisis pendapatan usahatani dapat dilakukan dengan analisis
R/C rasio yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar penerimaan yang
dihasilkan dari setiap rupiah yang dikeluarkan. Suatu usahatani dikatakan
menguntungkan apabila R/C rasio lebih besar dari satu. Sebaliknya, apabila R/C
rasio lebih kecil dari satu maka usahatani tersebut tidak menguntungkan. Semakin
besar nilai R/C rasio maka usahatani tersebut semakin menguntungkan.
Perhitungan R/C dirumuskan sebagai berikut:
Rasio R/C atas biaya tunai = Total penerimaan (Rp) = Py x Y
Total biaya tunai (Rp)

biaya tunai

Rasio R/C atas biaya total = Total penerimaan(Rp) = Py x Y


Total biaya (Rp)

TC

4.4.4. Definisi Operasional


Variabel yang diamati dalam penelitian ini merupakan dta dan informasi
usahatani ubi jalar di Desa Cikarawang. Variabel-variabel tersebut terlebih dahulu

45

didefinisikan untuk mempermudah pengumpulan data yang mengacu pada konsep


di bawah ini:
1. Produksi ubi jalar (Y) adalah ubi jalar yang dihasilkan pada akhir musim tanam
tahun 2011. Satuan pengukuran yang digunakan adalah ton.
2. Luas lahan (X1) adalah luas lahan yang digunakan dalam usahatani ubi jalar.
Satuan pengukuran yang digunakan adalah hektar (Ha).
3. Jarak tanam (X2) adalah jarak tanam dalam baris guludan yang digunakan
petani untuk menanam stek ubi jalar selama satu kali musim tanam. Satuan
pengukuran yang digunakan adalah centimeter (cm).
4. Tenaga kerja (X3) adalah jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani
ubi jalar baik tenaga kerja dalam keluarga maupun luar keluarga. Kegiatan
usahatani yang dimaksud adalah dalam proses produksi mulai dari persiapan
lahan sampai pasca panen selama satu musim tanam ubi jalar. Satuan
pengukuran yang digunakan adalah hari orang kerja (HOK).
5. Pupuk kandang (X4) adalah jumlah pupuk kandang yang digunakan petani
untuk menanam ubi jalar selama satu kali musim tanam. Satuan pengukuran
yang digunakan adalah kilogram (kg).
6. Pupuk N (X5) adalah jumlah pupuk urea yang digunakan petani untuk
menanam ubi jalar selama satu kali musim tanam. Satuan pengukuran yang
digunakan adalah kilogram (kg). Kandungan N pada pupuk urea mencapai 46
% (Suratiyah 2009). Untuk itu, jumlah pupuk N dalam penelitian ini diperoleh
dari hasil konversi pupuk urea yang digunakan petani yaitu 46 % dari jumlah
pupuk urea.
7. Pupuk P (X6) adalah jumlah pupuk phonska yang digunakan petani untuk
menanam ubi jalar selama satu kali musim tanam. Satuan pengukuran yang
digunakan adalah kilogram (kg). Pupuk P diperoleh dari hasil konversi pupuk
phonska yang digunakan petani yaitu 18 % dari jumlah pupuk urea. Hal ini
didasarkan bahwa SP-18 yang digunakan oleh petani.
8. Pestisida (X7) adalah jumlah pestisida yang digunakan petani untuk menanam
ubi jalar selama satu kali musim tanam. Satuan pengukuran yang digunakan
ml.

46

9. Usia petani (Z1) adalah usia petani yang mengusahakan usahatani ubi jalar.
Satuan pengukuran yang digunakan adalah tahun. Semakin tua usia petani
diduga akan menurunkan tingkat inefisiensi karena semakin tua petani
menunjukkan semakin tinggi pengalamannya.
10.Tingkat pendidikan petani (Z2) adalah lamanya pendidikan formal yang pernah
diperoleh petani. Satuan pengukuran yang digunakan adalah tahun. Semakin
lama tingkat pendidikan formal petani, diduga berpengaruh negatif terhadap
inefisiensi teknis.
11.Pengalaman petani (Z3) adalah lamanya petani dalam mengusahakan usahatani
ubi jalar. Satuan pengukuran yang digunakan adalah tahun. Semakin lama
pengalaman petani dalam berusahatani maka akan berpengaruh negatif
terhadap inefisiensi teknis.
12.Keikutsertaan dalam kelompok tani (Z4) diukur dalam bentuk dummy.
Keikutsertaan dalam kelompok tani diduga akan berpengaruh negatif terhadap
inefisiensi teknis karena dengan ikut dalam kegiatan kelompok tani maka
pengetahuan petani akan bertambah. Nilai 1 untuk kondisi bergabung dengan
poktan dan nilai 0 untuk kondisi tidak bergabung dengan poktan.
13.Varietas yang ditanam (Z5) diukur dalam bentuk dummy. Dummy varietas yang
ditanam diduga akan berpegaruh negatif terhadap inefisiensi teknis jika
varietas yang digunakan memang varietas yang unggul. Nilai 1 untuk varietas
AC dan nilai 0 untuk varietas lainnya.
14.Status dalam rumah tangga (Z6) diukur dalam bentuk dummy. Dummy status
dalam rumah tangga diduga mempengaruhi petani dalam mengolah lahan. Nilai
1 untuk kepala keluarga dan nilai 0 untuk ibu rumah tangga.
15.Status usahatani (Z7) diukur dalam bentuk dummy. Dummy status usahatani
diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis usahatani karena tingkat
keseriusan petani dalam menggarap usahataninya. Nilai 1 untuk usahatani
sebagai pekerjaan utama dan nilai 0 untuk usahatani sebagai sampingan.
16.Status kepemilikan lahan (Z8) diukur dalam bentuk dummy. Dummy status
kepemilikan lahan diduga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis. Nilai
1 untuk petani pemilik dan nilai 0 untuk petani penggarap.

47

17.Pola tanam (Z9) diukur dalam bentuk dummy. Dummy pola tanam diduga
berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis. Nilai 1 untuk pola tanam
tumpang sari dan nilai 0 untuk pola tanam monokultur.

48

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN


5.1.

Kondisi Geografis
Desa Cikarawang adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan

Dramaga. Luas wilayah desa ini sebesar 226,56 Ha. Dilihat dari topografi dan
kontur tanah Desa Cikarawang secara umum berupa dataran dan persawahan
dengan ketinggian 193 m di atas permukaan laut. Kondisi suhu rata-rata harian
250C-300C. Desa Cikarawang terdiri dari tiga dusun, tujuh RW, dan 32 RT. Letak
Desa Cikarawang ditunjukkan pada Gambar 4 di bawah ini.

Gambar 4. Peta Desa Cikarawang

Secara administratif, Desa Cikarawang berbatasan dengan:


- Sungai Cisadane di sebelah Utara
- Kelurahan Situ Gede Kecamatan Bogor Barat di sebelah Timur
- Sungai Ciapus di sebelah Selatan
- Sungai Ciapus dan Sungai Cisadane di sebelah Barat
Luas wilayah Desa Cikarawang adalah 214,06 Ha dengan luasan terbesar
adalah sawah yakni 128,109 Ha (59,84 persen), pemukiman dan pekarangan
sebesar 41,465 Ha (19,37 persen), ladang sebesar 35,226 Ha (16,45 persen). Luas

49

lahan lainnya adalah sarana umum seluas 9,26 Ha (4,32 persen), seperti yang
ditunjukkan pada Tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5. Luas Wilayah Menurut Tata Guna Lahan Desa Cikarawang Tahun 2009
Tata guna lahan
Luas (Ha)
Pemukiman dan pekarangan
41,465
Sawah
128,109
Ladang
35,226
Jalan
7,5
Pemakaman
0,6
Perkantoran
0,16
Bangunan pendidikan
0,6
Bangunan peribadatan
0,4
Sumber: Potensi Desa Cikarawang 2009

5.2.

Keadaan Sosial Ekonomi


Jumlah penduduk Desa Cikarawang adalah sebanyak 8.227 orang dengan

jumlah penduduk perempuan sebanyak 4.028 orang dan laki-laki sebanyak 4.199
orang. Jumlah penduduk paling banyak adalah pada sebaran umur antara 16-56
tahun yaitu sebanyak 6.087 orang (73,98 persen), seperti yang ditunjukkan pada
Tabel 6 di bawah ini. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Desa
Cikarawang berada pada usia produktif.
Tabel 6. Sebaran Jumlah dan Persentase Penduduk Berdasarkan Umur di Desa
Cikarawang tahun 2009
Umur (tahun)
Jumlah (orang)
Persentase (%)
<1
241
2,93
1-<5
725
8,81
5-<7
170
2,07
716
8,70
7 - 15
6.087
73,99
16 - 56
> 56
288
3,50
Jumlah
8.227
100
Sumber: Potensi Desa Cikarawang 2009

Jumlah penduduk di Desa Cikarawang mayoritas bermata pencaharian


sebagai buruh swasta sebesar 42,64 persen dan sebesar 17,62 persen berprofesi di
sektor pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa luas persawahan yang besar di desa
tersebut belum dimanfaatkan dengan optimal oleh masyarakat setempat atau
hanya dijadikan sebagai pekerjaan sampingan. Selain menggantungkan hidupnya
sebagai buruh swasta, penduduk di Desa Cikarawang juga menggantungkan hidup

50

pada sektor pertanian.


Tabel 7. Sebaran Jumlah dan Persentase Penduduk Berdasarkan Mata
Pencaharian Penduduk di Desa Cikarawang tahun 2009
Sektor
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Pertanian
310
17,62
Peternakan
3
0,17
Perikanan
2
0,11
Perkebunan
25
1,42
Perdagangan
31
1,76
Industri rumah tangga
12
0,68
Bidan
3
0,17
Buruh tani
225
12,79
Buruh swasta
750
42,64
PNS
180
10,23
Montir
3
0,17
Pensiunan
215
12,22
Sumber: Potensi Desa Cikarawang 2009

Berdasarkan tingkat pendidikannya (Tabel 8), jumlah penduduk di Desa


Cikarawang sebesar 29,55 persen telah menamatkan pendidikannya pada tingkat
SMA dan tidak ada penduduk yang buta huruf. Hal ini menunjukkan bahwa
penduduk di Desa Cikarawang sudah menguasai baca tulis.
Tabel 8. Sebaran Jumlah dan Persentase Penduduk Berdasarkan Tingkat
Pendidikan di Desa Cikarawang tahun 2009
Tingkat Pendidikan
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Tidak tamat SD
441
12,14
SD
1.002
27,57
SMP
1.002
27,57
SMA
1.074
29,55
D1
48
1,32
D2
15
0,41
D3
52
1,43
Sumber: Potensi Desa Cikarawang 2009

5.3.

Karakteristik Responden
Karakteristik responden yang akan dijelaskan meliputi jenis pekerjaan

sampingan, usia petani,

tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani,

keikutsertaan dalam kelompok tani, luas lahan garapan, kepemilikan lahan, dan
jumlah tanggungan keluarga. Karakteristik petani tersebut akan memengaruhi
keputusan petani dalam melakukan usahatani ubi jalar.

51

Jenis pekerjaan sampingan yang dimaksudkan adalah jenis pekerjaan yang


dilakukan oleh responden selain bertani ubi jalar. Dari 35 responden, sebanyak 22
orang menganggap berusahatani ubi jalar sebagai pekerjaan utama. Selain itu,
responden tersebut juga memiliki pekerjaan sampingan. Adapun pekerjaan
sampingan responden tersebut antara lain berternak, buruh tani, bertani
hortikultura, dan ibu rumah tangga seperti yang dijelaskan pada Tabel 9.
Tabel 9. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Jenis
Pekerjaan Sampingan
Pekerjaan Sampingan
Jumlah (orang)
Persentase (%)
berternak
9
25,71
buruh tani
6
17,14
bertani hortikultura
3
8,57
Ibu rumah tangga
4
11,43
Tidak ada pekerjaan sampingan
13
37,14
Jumlah
35
100
Tabel 9 memperlihatkan bahwa mayoritas reponden yaitu 25,71 persen
bekerja sampingan sebagai peternak dan sebanyak 37,14 persen tidak memiliki
pekerjaan sampingan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di
daerah penelitian menggantungkan diri pada bertani ubi jalar. Alasan responden
memiliki pekerjaan sampingan sebagai peternak adalah agar memudahkan
responden untuk memeroleh pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan
ternak dimana pupuk kandang tersebut digunakan dalam usahatani ubi jalar.
Selain itu, petani juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari hasil
penjualan ternak. Sedangkan responden yang bekerja pula sebagai buruh tani
adalah petani yang mencari tambahan penghasilan selain dari menggarap lahannya
sendiri.
Berdasarkan data responden, petani yang menjadi responden berusia antara
28-80 tahun. Tabel 10 menunjukkan petani responden didominasi oleh petani
dengan usia 46-55 tahun. Sebagian besar petani responden yakni 82,75 persen
memang masih berada dalam usia produktif (< 66 tahun). Usia produktif artinya
orang tersebut telah siap dan bisa bekerja. Namun juga terlihat bahwa
minat usia muda untuk bertani sangat rendah.

52

Tabel 10. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Usia
Petani
Usia Petani (tahun)
Jumlah (orang)
Persentase (%)
26-35
3
8,57
36-45
8
22,86
46-55
10
28,57
56-65
8
22,86
> 65
6
17,15
Jumlah
35
100
Pada Tabel 11 menunjukkan tingkat pendidikan formal petani responden
dari tingkat pendidikan terakhir yang pernah dijalani. Tabel tersebut menunjukkan
sebesar 91,43 persen dari petani responden telah mengenyam pendidikan.
Responden terbesar adalah responden berpendidikan Sekolah Dasar (SD) yaitu
sebesar 48,57 persen. Ini menunjukkan bahwa untuk bertani ubi jalar tidak
diperlukan tingkat pendidikan tinggi dalam budidaya ubi jalar. Namun, diduga
tingkat pendidikan formal petani akan memengaruhi peningkatan produksi ubi
jalar. Hal tersebut dikarenakan semakin tinggi pendidikan petani responden maka
adaptasi penyerapan teknologi akan lebih mudah.
Tabel 11. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Tingkat
Pendidikan
Tingkat Pendidikan
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Tidak bersekolah
3
8,57
Tidak tamat SD
3
8,57
SD
17
48,57
SMP
3
8,57
SMA
8
22,86
Sarjana
1
2,86
Jumlah
35
100
Pengalaman berusahatani responden diduga memengaruhi tingkat produksi
usahatani ubi jalar. Diduga bahwa semakin lama pengalaman berusahatani petani
maka kemampuan dalam pengelolaan usahatani akan semakin baik. Sebesar 68,57
persen dari 35 responden yang ada, pengalaman berusahatani responden berada
pada kurun waktu > 15 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani ubi jalar
telah lama responden lakukan sejak dahulu dan hanya sebagian kecil saja yang

53

baru memulainya. Ini membuktikan bahwa petani responden telah memiliki


pengetahuan budidaya ubi jalar yang besar.
Tabel 12. Sebaran Jumlah dan Persentase
Pengalaman Berusahatani
Pengalaman Berusahatani
Jumlah
(tahun)
(orang)
<5
5- 15
> 15
Jumlah

Petani Responden Berdasarkan


Persentase
(%)
1
10
24
35

2,86
28,57
68,57
100

Keikutsertaan dalam kelompok tani diduga akan memengaruhi produksi


usahatani. Hal ini dikarenakan keikutsertaan petani dalam kelompok tani
memungkinkan petani untuk dapat mengikuti pelatihan serta penyuluhan terkait
usahatani. Selain itu juga dapat mempermudah pemerolehan input produksi baik
dalam hal jumlah maupun harga. Adapun data keikutsertaan petani dalam
kelompok tani ditampilkan pada Tabel 13.
Tabel 13. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan
Keikutsertaan dalam Kelompok Tani
Keikutsertaan dalam
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Kelompok Tani
Hurip
11
31,43
Setia
8
22,86
KWT
10
28,57
Tidak Ikut
6
17,14
Jumlah
35
100
Sebagian besar petani responden yaitu 80 persen sudah tergabung dalam
kelompok tani dan hanya sebesar 17,14 persen saja yang belum tergabung dalam
kelompok tani. Alasan tidak bergabungnya petani dalam kelompok tani karena
petani merasa tidak memiliki waktu lebih untuk mengikuti kegiatan yang
diadakan oleh kelompok tani. Selain itu, petani pun sudah merasa mampu untuk
memenuhi kebutuhan input produksi ataupun bertani ubi jalar sendiri.
Berdasarkan data di lapangan, sebaran luas lahan garapan petani responden
dijelaskan oleh Tabel 14.
Diketahui rata-rata luas lahan yang digarap oleh petani responden kurang
dari 0,5 hektar atau dikatakan sebagai petani gurem. Hanya 11,43 persen saja yang

54

luas lahannya berada pada rentang 0,5-1 hektar. Diduga semakin luas lahan maka
produksinya pun akan semakin tinggi.
Tabel 14. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Luas
Lahan Garapan
Luas Lahan (Ha)
Jumlah (orang)
Persentase (%)
< 0,5
31
88,57
0,5 1
4
11,43
>1
0
0
Jumlah
35
100
Berdasarkan status kepemilikan lahan, terdapat tiga tipe kepemilikan lahan
yaitu lahan milik sendiri, bagi hasil, dan gadai. Petani dengan kepemilikan lahan
bagi hasil artinya menggarap lahan orang lain dan hasil penjualan ubi nantinya
dibagi dua dengan perbandingan 2:1 dengan pemilik lahan. Lahan gadai artinya
petani menggarap lahan milik orang lain yang digadaikan kepadanya hingga
pemilik lahan dapat mengembalikan uang yang dipinjamnya kepada petani.
Tabel 15. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan
Kepemilikan Lahan
Kepemilikan Lahan
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Pribadi
22
62,86
Bagi hasil
9
25,71
Gadai
4
11,43
Jumlah
35
100
Sebanyak 22 orang petani responden (62,86 persen) memiliki sendiri lahan
pertaniannya, dan sebesar 25,71 persen merupakan lahan bagi hasil serta lahan
gadai sebesar 11,43 persen.
Jumlah tanggungan keluarga yang dimiliki responden cukup bervariasi
antara 1-7 orang. Persentase terbesar jumlah tanggungan keluarga sebesar 62,86
persen petani responden dengan jumlah 3-5 orang dan hanya sebagian kecil saja
yakni 14,29 persen yang memiliki tanggungan keluarga lebih dari 5 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Sebaran Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Jumlah
Tanggungan Keluarga
Jumlah Tanggungan
Jumlah (orang)
Persentase (%)
Keluarga
<3
8
22,86
3-5
22
62,86
55

>5
Jumlah

5
35

14,29
100

Sebelum dilakukan analisis pendapatan dan efisiensi teknis usahatani ubi


jalar, terlebih dahulu akan dijelaskan sistem agribisnis ubi jalar di Desa
Cikarawang. Sistem agribisnis ubi jalar di Desa Cikarawang ini digunakan
sebagai landasan untuk menganalisis pendapatan dan efisiensi teknis usahatani ubi
jalar. Sistem agribisnis merupakan suatu kegiatan yang terintegrasi dari hulu
hingga hilir dimulai dari subsistem pengadaan sarana produksi, subsistem
produksi, subsistem pasca panen, subsistem pemasaran, dan subsistem pendukung.
5.4.

Sistem Agribisnis Ubi Jalar Di Desa Cikarawang

5.4.1. Subsistem Pengadaan Sarana Produksi


a. Sumber-sumber Perolehan Sarana Produksi
Sarana produksi pertanian diperoleh petani ubi di daerah penelitian dengan
sistem pembelian di toko pertanian setempat ataupun pemberian dari kelompok
tani dan petani lain. Subsistem ini meliputi penyediaan bibit, pupuk, pestisida, dan
sarana produksi pertanian lainnya untuk menunjang kegiatan produksi pada
subsistem onfarm ubi.
Penyediaan bibit ubi didapatkan dengan cara pengipukan ubi, stek hasil
produksi sebelumnya, atau hasil produksi petani lain. Petani yang bergabung
dalam kelompok tani dapat memperoleh bibit ubi dari kelompok tani secara cumacuma. Jenis pupuk yang digunakan yaitu pupuk kandang, urea, TSP, KCl, NPK,
phonska, dan pupuk cair. Pupuk urea, TSP, KCl, NPK, phonska, dan pupuk cair
dapat dibeli di toko pertanian terdekat dan poktan. Sedangkan pupuk kandang
diperoleh dari kotoran hewan ternak yang dipelihara sendiri oleh petani ataupun
dibeli dari peternak di daerah penelitian. Selain itu, beberapa petani
memanfaatkan sisa tanaman yang tidak dipanen untuk dijadikan sebagai pupuk
kompos, dimana sisa tanaman ini diolah bersama dengan tanah. Pemanfaatan sisa
tanaman ini menjadikan tanah menjadi lebih gembur.

56

Alat-alat pertanian yang digunakan meliputi cangkul, kored, gunting, dan


alat-alat lainnya. Para petani sudah memiliki masing-masing alat tersebut. Alat
pertanian ini diperoleh petani di toko besi ataupun toko pertanian.

b. Pihak-pihak yang Mengusahakan Sarana Produksi


Pelaku-pelaku dalam subsistem pengadaan sarana produksi ini adalah para
petani, poktan Hurip, dan toko pertanian. Khusus untuk bibit ubi jalar dapat
diperoleh petani di kelompok tani hurip. Poktan ini biasanya memberikan bantuan
berupa bibit ubi jalar kepada para anggota kelompoknya secara cuma-cuma.
c. Kendala dalam Pengadaan Sarana Produksi
Permasalahan yang dihadapi para petani ubi jalar pada subsistem pengadaan
sarana produksi adalah sumberdaya berupa modal usaha yang terbatas untuk
pembelian sarana produksi sehingga untuk input produksi seperti pupuk tidak
selalu dapat dibeli setiap musimnya melainkan hanya dapat dibeli jika modal
usaha hasil panen sebelumnya sudah kembali.
5.4.2. Subsistem Onfarm
a. Pelaku-pelaku dalam Subsistem Produksi
Kegiatan produksi dilakukan sendiri oleh pemilik lahan ataupun tenaga
kerja dalam keluarga serta luar keluarga. Tenaga kerja luar keluarga yang
digunakan umumnya merupakan buruh tani di Desa Cikarawang. Pekerja bekerja
mulai pukul 07.00-12.00 dengan upah yang diterima bergantung jenis kelamin dan
pembagian kerjanya. Pekerja pria di pembuatan guludan dibayar dengan sistem
tumbak dimana per tumbaknya (4 m) dihargai Rp.1.200-1.500 sedangkan untuk
pekerjaan lainnya dibayar Rp. 20.000. Selain diberi bayaran berupa uang tunai,
pekerja pria pun menerima natura berupa makanan ringan dan kopi. Pekerja
wanita biasanya dipekerjakan dalam proses pembibitan dan penanaman dengan
upah Rp. 15.000 tanpa natura.
b. Skala Usaha
Usahatani ubi jalar di Desa Cikarawang rata-rata termasuk dalam skala
kecil. Penentuan hal tersebut didasarkan pada luasan lahan yang digunakan untuk
bertani ubi jalar. Rata-rata luas lahan yang digunakan untuk mengusahakan ubi

57

jalar berukuran 2.000 m2. Peralatan yang digunakan pun masih cukup sederhana
sehingga budidaya ubi jalar di daerah penelitian masih tergolong skala kecil.
c. Proses Produksi dan Teknologi
Proses usahatani ubi dilakukan di lahan terbuka, mulai dari proses
pembibitan sampai dengan pemanenan. Proses budidaya ubi jalar secara umum
meliputi pembibitan, pengolahan lahan dan pembuatan guludan, penanaman,
pengairan, penyulaman, pembongkaran sementara, penyiangan, pembalikan
batang, pemupukan, pengendalian hama penyakit, dan pemanenan.
(1) Pembibitan
Varietas yang ditanam oleh petani responden di wilayah penelitian adalah
ubi jalar varietas AC (kuningan). Alasan utama mayoritas petani menanam
varietas AC dikarenakan varietas tersebut lebih cepat dipanen dibandingkan
varietas lainnya. Ubi jenis ini dapat dipanen lebih cepat dibandingkan jenis ubi
lainnya yaitu dalam kurun waktu 3,5-4 bulan. Selain itu, varietas AC juga
memiliki beberapa kelebihan antara lain produktivitas tinggi, mudah ditanam,
umbi besar, dan kecocokan dengan lahan.
Terdapat tiga metode yang digunakan petani di wilayah penelitian untuk
memperoleh bibit ubi jalar yaitu dengan cara pengipukan atau melakukan
pembibitan sendiri, hasil produksi sebelumnya, atau hasil produksi petani lain.
Mayoritas petani responden yaitu sebanyak 57,14 persen menggunakan bibit dari
hasil panen sebelumnya, sebanyak 14,29 persen melakukan pengipukan untuk
pembibitan, dan bibit hasil produksi petani lain sebanyak 28,57 persen.
Pembibitan dengan cara pengipukan ubi dimulai dengan menanam ubi di
lahan penunasan. Umbi yang ditanam adalah umbi dengan ukuran besar dan sehat.
Jumlah umbi yang digunakan untuk pengipukan kurang lebih sebanyak 50 kg.
Setelah 2-3 bulan, tunas yang tumbuh dipotong dan dipindahkan ke lahan yang
lebih luas. Tiga bulan kemudian bibit ubi sudah dapat digunakan sebagai bibit
dengan cara memotong bagian pucuk atau batang tunas tersebut. Bibit hasil
pengipukan dapat digunakan hingga tiga generasi.
Bibit yang diperoleh dari hasil produksi sebelumnya atau hasil produksi
petani lain menggunakan stek pucuk atau stek batang. Pemetikan stek pucuk dan
batang tersebut diperoleh dari tanaman ubi jalar yang sudah berumur kurang lebih

58

dua bulan, pertumbuhan tanamannya sehat dan normal. Pemetikan dilakukan


dengan menggunakan gunting dan mayoritas petani melakukannya di pagi hari.
Ukuran stek yang digunakan sepanjang 25-30 cm. Perbanyakan dengan stek
batang dan pucuk memiliki kelemahan yaitu terjadi penurunan hasil pada
turunannya sehingga maksimum hanya 3-5 generasi yang dapat digunakan
sebagai tunas untuk penanaman berikutnya. Mayoritas petani menggunakan
tenaga kerja dalam keluarga dalam proses pembibitan. Tenaga kerja yang
digunakan untuk pembibitan sebanyak 1,66 HOK.
Secara umum proses pembibitan di daerah penelitian sesuai dengan literatur
budidaya yang ada. Namun yang membedakan hanyalah tidak dilakukannya
proses penyimpanan bibit ditempat teduh selama satu minggu seperti yang
dianjurkan. Ini terjadi karena petani responden terbiasa menanam bibit langsung
setelah bibit dipotong dari indukannya.
(2) Pengolahan Lahan dan Pembuatan Guludan
Pengolahan lahan bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik dan menstabilkan
kondisi tanah dari kondisi sebelumnya. Pengolahan lahan yang dilakukan petani
responden dalam usahatani ubi jalar bergantung pada tanaman yang ditanam
sebelumnya. Tanaman yang biasa ditanam petani sebelum menanam ubi adalah
padi dan ubi. Rotasi antara kedua tanaman tersebut berpengaruh pada efisiensi
usahatani ubi jalar. Pengaruhnya antara lain adalah pada modal dan manajemen
lahan. Jika lahan sebelumnya ditanam oleh ubi, maka saat pembuatan guludan,
tanah diberikan pupuk kandang untuk menambah unsur hara dalam tanah
sehingga diperlukan tambahan modal untuk pembelian pupuk kandang dengan
upah setiap tenaga kerja sebesar Rp. 1.200 per tumbak (4 m) sedangkan jika lahan
sebelumnya ditanami padi maka tidak perlu diberikan pupuk kandang saat
pembuatan guludan namun upah setiap tenaga kerja yang dibayarkan lebih besar
yaitu Rp. 1.500 per tumbak.
Pada tahap pembuatan guludan, umumnya guludan dibuat dengan lebar 40100 cm, tinggi 35-70 cm, jarak antar guludan 15-100 cm, dan panjangnya
disesuaikan dengan kondisi lahan. Guludan adalah tanah yang dibentuk meninggi
menyerupai setengah lingkaran. Pengolahan lahan dan pembuatan guludan di
daerah penelitian sudah sesuai dengan anjuran.

59

Jumlah tenaga kerja rata-rata yang digunakan dalam pembuatan guludan


sebanyak 3,99 HOK dengan upah yang diberikan dihitung dengan ukuran per
tumbak dihargai Rp. 1.200-1.500 dimana satu tumbak berukuran 4 m. Upah
tenaga kerja pada pengolahan lahan pun dipengaruhi oleh jenis tanaman yang
ditanam sebelumnya. Upah pengolahan lahan yang sebelumnya ditanami padi
lebih mahal daripada yang ditanami ubi.
(3) Penanaman
Penanaman ubi jalar yang dilakukan petani di lokasi penelitian adalah
sistem monokultur. Proses penanaman ubi jalar dengan sistem monokultur artinya
dalam satu luasan lahan hanya ditanami oleh satu jenis tanaman saja yaitu ubi.
Dari 35 petani responden hanya 3 petani saja yang menggunakan sistem tanam
tumpang sari. Tanaman yang ditumpangsarikan dengan ubi antara lain jagung dan
kacang tanah. Penanaman ubi jalar di daerah penelitian dilakukan pada bulan
November dan Maret. Jarak tanam bibit ubi antara 0-30 cm. Teknik penanaman
stek ubi jalar ditanam dengan posisi miring terhadap tanah atau mendekati posisi
tertidur. Alasan petani menanam dengan posisi tersebut agar menghasilkan umbi
dengan jumlah lebih banyak. Tenaga kerja yang digunakan untuk menanam stek
ubi jalar adalah tenaga kerja wanita sebanyak 2,15 HOK dengan upah sebesar Rp.
15.000. Penanaman di daerah penelitian sesuai dengan anjuran.
(4) Pengairan
Pengairan bertujuan untuk memberikan atau menambahkan unsur hara dan
mineral pada tanaman terutama di saat musim kemarau. Di lokasi penelitian,
petani mengandalkan air hujan sebagai sumber utama untuk mengairi lahan. Jika
musim kemarau datang maka petani mengairi lahan ubi jalar melalui irigasi yang
berasal dari waduk Situgede. Waktu pengairan tidak ditentukan secara pasti oleh
petani sedangkan menurut anjuran pengairan perlu rutin dilakukan hingga
tanaman berumur 1-2 bulan. Pengairan baru dihentikan pada umur 2-3 minggu
sebelum panen.
(5) Penyulaman
Penyulaman merupakan proses penanaman kembali tanaman di lahan
dikarenakan tanaman sebelumnya tidak tumbuh atau afkir. Cara penyulaman
yakni dengan mencabut tanaman yang mati kemudian mengganti dengan tanaman

60

baru. Penyulaman dilakukan oleh petani di lokasi penelitian pada waktu satu
minggu setelah tanam. Pada lokasi penelitian, penyulaman juga biasanya
dilakukan bersamaan dengan penyiangan gulma. Penyulaman umumnya
dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga. Jumlah rata-rata tenaga kerja yang
digunakan untuk penyulaman sebanyak 1,11 HOK.
(6) Pembongkaran Sementara
Pembongkaran sementara merupakan proses pembukaan kembali sisi-sisi
guludan ubi jalar. Bongkaran guludan selanjutnya didiamkan selama 1 minggu.
Setelah 1 minggu, bongkaran tersebut ditaburkan pupuk kandang di kedua atau
satu sisi dan pupuk NPK di sisi lainnya (jika ingin menggunakannya) kemudian
bongkaran kembali ditutup.Tujuan dilakukan pembongkaran sementara agar dapat
memberikan ruang masuk cahaya matahari ke dalam tanah sehingga dapat
menjadikan ukuran umbi lebih besar dan menggemburkan tanah.
(7) Penyiangan
Penyiangan adalah proses pencabutan gulma di sekitar tanaman ubi. Gulma
merupakan tanaman lain yang kehadirannya tidak diinginkan dan dapat
menggangu pertumbuhan tanaman utama. Penyiangan dilakukan agar tanaman ubi
dapat memperoleh unsur hara dan cahaya matahari dalam jumlah cukup tanpa
tersaingi oleh tumbuhan lain. Kegiatan ini dilakukan oleh petani di lokasi
penelitian setelah tanaman berumur 2-4 minggu. Jumlah rata-rata tenaga kerja
yang digunakan untuk penyiangan sebanyak 1,11 HOK.
(8) Pembalikan Batang
Pembalikan batang atau lebih dikenal petani dengan istilah pengebatan
merupakan pengangkatan tanaman ubi dari tanah agar akar-akar kecil yang baru
tumbuh tidak menempel di tanah dan hasil fotosintesis seluruhnya difokuskan
untuk memperbesar umbi. Pembalikan batang hanya dilakukan oleh beberapa
petani saja di lokasi penelitian.
(9) Pemupukan
Pemupukan merupakan kegiatan terpenting dalam berusahatani ubi jalar.
Petani di lokasi penelitian melakukan pemupukan pada saat pengolahan lahan dan
pembongkaran sementara. Pupuk yang banyak digunakan oleh petani di lokasi
penelitian dalam bertani ubi jalar antara lain pupuk kandang, pupuk urea dan

61

pupuk phonska. Pupuk kimia lainnya seperti pupuk NPK, TSP, dan KCl jarang
digunakan oleh petani. Pupuk kandang diperoleh petani dari kotoran hewan ternak
yang mereka pelihara atau membelinya dari peternak di lokasi penelitian. Ratarata jumlah pupuk kandang yang digunakan adalah 99,64 kg/ha, urea sebanyak
99,64 kg/ha, dan phonska sebanyak 82,56 kg/ha. Sedangkan pupuk NPK
digunakan petani sebanyak 41,28 kg/ha, TSP sebanyak 51,96 kg/ha, KCl hanya
sebanyak 1,14 kg/ha. Selain pupuk jenis padat, sebagian kecil petani pun
menggunakan pupuk cair sebanyak 49,11 ml/ha.
Pemberian pupuk jenis padat dilakukan dengan membuat alur pada guludan
dengan kedalaman 5-10 cm kemudian pupuk ditaburkan sambil ditimbun dengan
tanah. Jumlah rata-rata tenaga kerja yang digunakan untuk pemupukan sebanyak
1,36 HOK.
(10) Pengendalian Hama dan Penyakit
Di lokasi penelitian, pengendalian hama penyakit tanaman ubi jalar
dilakukan sesuai kondisi hama penyakit yang menyerang tanaman. Pengendalian
menggunakan pestisida dilakukan jika tanaman yang diserang lebih dari 10 persen
sedangkan jika hanya sedikit hama penyakit yang menyerang hanya dilakukan
penanganan dengan memangkas atau mencabutnya
Hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman ubi di lokasi penelitian
adalah lanas dan ulat. Penyebabnya adalah perubahan cuaca dari musim kemarau
ke musim hujan atau sebaliknya sehingga hama dan penyakit berkembang.
Akibatnya ubi jalar yang sudah mendekati waktu panen menjadi membusuk dan
daun umbi pun menjadi banyak berlubang sehingga hanya sekitar 20-50 persen
saja dari total jumlah panen biasanya yang dapat dipanen. Pengendalian hama
penyakit

dilakukan

dengan

menyemprotkan pestisida

sebanyak 50

ml

dicampurkan dengan 20 liter air. Jumlah rata-rata tenaga kerja yang digunakan
untuk pengendalian hama penyakit sebanyak 0,1 HOK.
(11) Panen
Ubi jalar di lokasi penelitian dapat dipanen pada umur 3,5-4 bulan.
Pengambilan keputusan waktu panen dipengaruhi oleh permintaan pasar dan juga
kebutuhan finansial petani. Jika kebutuhan finansial petani mendesak maka pada
umur 3,5 bulan ubi akan langsung dipanen. Rata-rata hasil panen per Ha yang

62

dijual petani sebanyak 92,326 ton. Harga ubi jalar di lokasi penelitian berfluktuasi
mengikuti harga pasar berkisar Rp. 1.200- Rp. 2.000. Pada Tabel 17 disajikan
rata-rata jumlah panen dan harga jual yang diterima petani di daerah penelitian
yang dibedakan berdasarkan luasan lahan.
Tabel 17. Rata-rata Jumlah Panen dan Harga Jual Ubi Jalar pada Petani dengan
Luas Lahan < 0,5 Ha dan > 0,5 Ha
Keterangan
< 0,5 Ha
> 0,5 Ha
Jumlah panen (kg/Ha)

13.422,15

12.967,26

1.832

2.000

Harga Jual (Rp/kg)

Pada Tabel 17 diketahui jumlah panen ubi jalar petani dengan luas lahan <
0,5 Ha sebesar 13.422,15 kg/Ha, sedikit lebih besar dibandingkan dengan petani
dengan luas lahan > 0,5 Ha yaitu 12.967,26 kg/Ha. Rata-rata harga jual yang
diterima petani pun berbeda, petani dengan luas lahan < 0,5 Ha memperoleh harga
jual sebesar Rp.1.832/kg sedangkan petani dengan luas lahan > 0,5 Ha
memperoleh harga jual sebesar Rp.2.000/kg.
Semua petani di lokasi penelitian menjual hasil panen langsung di lahannya
dengan biaya panen ditanggung oleh poktan atau tengkulak selaku pembeli. Petani
menerima penjualan hasil panennya setelah 3-7 hari kemudian. Adapun kegiatan
pemanenan antara lain pemetikan daun untuk bibit dan pakan, penggalian ubi
jalar, pembersihan umbi dari tanah, pengumpulan dalam karung, dan
pengangkutan hasil panen ke jalan. Umumnya tengkulak hanya akan membeli
umbi dengan kualitas terbaik dan sisanya akan dibiarkan begitu saja di lahan.
Sistem penjualan ubi jalar dilakukan dengan sistem bukti artinya tengkulak
akan memberikan tanda bukti sesuai dengan jumlah panen ubi jalar pada petani.
Upah yang diterima oleh tenaga kerja pemanenan disesuaikan dengan jumlah
umbi hail panen yang dikerjakan. Setiap satu kilogram umbi dihargai Rp.100
untuk setiap pekerja. Jumlah rata-rata tenaga kerja yang digunakan untuk panen
sebanyak 0,44 HOK.
d. Kendala Produksi
Permasalahan yang dihadapi petani pada subsistem produksi adalah
serangan organisme pengganggu tanaman seperti lanas atau hama boleng. Lanas
merupakan kumbang kecil yang bagian sayap dan moncongnya berwarna biru,

63

namun coraknya berwarna merah. Kumbang betina dewasa hidup pada permukaan
daun sambil meletakkan telur di tempat yang terlindung. Telur menetas menjadi
larva (ulat), selanjutnya ulat akan membuat gerekan (lubang kecil) pada batang
atau ubi yang terdapat di permukaan tanah terbuka. Gejalanya adalah terdapat
lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan
berbau menyengat. Hama ini biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang sudah
berubi. Bila hama terbawa oleh ubi ke gudang penyimpanan, sering merusak ubi
hingga menurunkan kuantitas dan kualitas produksi secara nyata (Jayanto 2009).
Ini terjadi karena perubahan musim secara tiba-tiba dan persoalan ini belum
teratasi secara efektif. Untuk mengatasi hama lanas yang banyak menyerang ubi
sebaiknya petani melakukan pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman
lain selain ubi jalar.
Permasalahan lain adalah saluran irigasi agak terhambat setelah adanya
pembangunan wisata Situgede sehingga menyulitkan petani dikala musim
kemarau tiba. Untuk itu, pemerintah daerah sebaiknya mengatur sistem irigasi
pertanian di wilayah penelitian terlebih setelah adanya pembangunan wisata
setempat sehingga tidak berdampak pada produktifitas komoditas pertanian.
5.4.3. Subsistem Pasca Panen
Ubi jalar yang sudah memasuki masa panen dipanen menggunakan cangkul
kemudian umbi dibersihkan dari tanah yang melekat dan selanjutnya ubi yang
berukuran besar dimasukkan dalam karung untuk selanjutnya dibawa ke gudang
pengumpulan untuk ditimbang beratnya. Tidak ada kriteria pasti untuk
mengelompokkan ubi ke dalam kategori baik, yang terpenting umbi berukuran
besar dan tidak terserang hama. Umbi berukuran kecil dan masih berkualitas baik
biasanya dimanfaatkan menjadi tepung ubi sedangkan kualitas buruk dibiarkan di
lahan. Tidak terdapat kendala yang berarti di dalam subsistem pasca panen.
5.4.4. Subsistem Pemasaran
a.Saluran Pemasaran
Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden, setidaknya terdapat
enam saluran pemasaran dalam usahatani ubi jalar. Penjabaran dari setiap saluran
pemasaran adalah sebagai berikut:

64

1. Petani Ubi-Konsumen Akhir


Saluran pemasaran ini merupakan saluran terpendek dari sejumlah saluran
pemasaran yang ada. Petani ubi dalam saluran ini langsung menjualnya kepada
konsumen akhir yang langsung membeli di lahan.
2. Petani Ubi-Tengkulak-Pengecer-Konsumen Akhir
Pada saluran pemasaran kedua, petani ubi menjual hasil panennya kepada
tengkulak yang datang langsung ke lahan petani. Petani yang menjalankan saluran
ini adalah petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani. Tengkulak
selanjutnya menjual ubi ke pengecer di pasar tedekat seperti Pasar Petir, Bogor,
dan Ciampea. Selanjutnya ubi dibeli oleh konsumen akhir. Harga beli ubi
ditentukan oleh tengkulak sehingga menunjukkan bahwa bargaining position
petani di daerah penelitian masih rendah.
3. Petani Ubi-Tengkulak-Pedagang Besar-Pengecer-Konsumen Akhir
Pada saluran pemasaran ketiga, petani ubi menjual hasil panennya kepada
tengkulak. Saluran ini pun dilakukan oleh petani yang tidak tergabung dalam
kelompok tani. Harga beli ubi ditentukan oleh tengkulak sehingga menunjukkan
bahwa bargaining position petani di daerah penelitian masih rendah. Selanjutnya
tengkulak menjualnya ke pedagang besar di pasar. Pedagang besar kemudian
menjualnya ke pengecer. Selanjutnya ubi dibeli oleh konsumen akhir.
4. Petani Ubi-Poktan-Pabrik Saos-Pedagang Besar-Pengecer-Konsumen Akhir
Saluran pemasaran ini merupakan saluran pemasaran terpanjang dari saluran
pemasaran yang ada dan saluran yang paling banyak dilakukan petani di daerah
penelitian. Dalam saluran ini, ubi yang dijual ke poktan selanjutnya dijual ke
pabrik saos yang sudah menjalin kerjasama dengan poktan. Saos ini kemudian
dijual ke pedagang besar, dilanjutkan ke pengecer dan konsumen akhir. Harga beli
ubi oleh poktan mengikuti harga ubi yang berlaku di pasar.
5. Petani Ubi-Poktan-Pengecer-Konsumen Akhir
Pada saluran ini, petani menjual ubi hasil panennya kepada poktan baik
dalam bentuk ubi segar ataupun dalam bentuk sawutan (ubi yang telah diparut dan
dikeringkan). Selanjutnya poktan mengolah ubi segar dan sawutan tersebut

65

menjadi tepung ubi. Tepung ubi selanjutnya dijual ke pengecer di wilayah


Jakarta, Tangerang, dan Bekasi untuk selanjutnya dijual pada konsumen akhir.
6. Petani Ubi-Pengecer-Konsumen Akhir
Saluran pemasaran ini merupakan saluran yang paling sedikit dilakukan
oleh petani di daerah penelitian. Petani menjual ubi langsung kepada pengecer di
pasar terdekat.
Adapun dalam bentuk bagan saluran pemasaran komoditas ubi jalar dapat
dilihat pada Gambar 5 di bawah ini.
Konsumen akhir
Konsumen
akhir

Pengecer
Tengkulak
Pedagang
Besar

Petani
Ubi

Pengecer

Pabrik Saos
Poktan

Pedagang
Besar

Pengecer
Pedagang Pengecer

Pengecer
Konsumen Akhir

Konsumen Akhir

Gambar 5. Saluran Pemasaran Ubi Jalar di Desa Cikarawang

Berdasarkan pada saluran pemasaran ubi jalar yang ada di daerah penelitian
menunjukkan bahwa petani menjual hasil panennya ke tempat yang berbeda satu
sama lain. Adapun sebaran dan persentase tempat tujuan petani menjual ubi
jalarnya disajikan pada Tabel 18 di bawah ini.
Tabel 18. Sebaran dan Persentase Tempat Tujuan Petani Menjual Ubi Jalar
Tempat Tujuan
Jumlah (Orang)
Persentase (%)
Poktan Setempat

20

57,14

Tengkulak

12

34,29

8,57

35

100

Pasar
Jumlah

Tabel 18 menunjukkan bahwa petani di daerah penelitian paling banyak


menjual hasil panennya ke poktan setempat dengan persentase sebesar 57,14
persen. Harga beli ubi jalar yang ditetapkan oleh gapoktan mengikuti harga jual

66

ubi yang berlaku di pasar. Saat pengambilan data penelitian, harga jual ubi sebesar
Rp. 2.000. Lembaga selanjutnya yang menjadi tempat tujuan petani menjual ubi
jalarnya adalah tengkulak yaitu sebesar 34,29 persen. Harga jual yang diterima
petani berkisar Rp.1.200-1.800. Hal tersebut menunjukkan bahwa petani yang
bergabung dalam kelompok tani menerima harga lebih tinggi dibandingkan
dengan petani yang tidak bergabung dalam kelompok tani. Petani yang menjual
hasil panennya ke tengkulak hanya bertindak selaku price taker karena bargaining
position petani ubi jalar di daerah penelitian yang masih lemah sehingga mereka
hanya menerima harga yang ditentukan oleh tengkulak sedangkan hanya sebagian
kecil (8,57 persen) dari petani responden yang berada di daerah penelitian yang
menjualnya langsung ke pasar. Untuk itu, sebaiknya petani yang belum bergabung
dalam kelompok tani dapat bergabung dengan kelompok tani setempat agar dapat
memperkuat posisi tawarnya terhadap harga jual ubi jalar.
Harga jual ubi yang diterima oleh petani pun berbeda. Sebaran harga jual
yang diterima oleh petani ubi jalar di daerah penelitian disajikan pada Gambar 6
di bawah ini.

Gambar 6. Persentase Sebaran Harga Jual yang Diterima Petani Ubi Jalar

Berdasarkan Gambar 6 diketahui bahwa mayoritas petani ubi jalar di daerah


penelitian sebanyak 66 persen menerima harga jual ubi sebesar Rp.2.000.
Persentase terbesar kedua yaitu sebanyak 20 persen petani menerima harga jual
ubi sebesar Rp.1.500. Harga jual ubi terbesar kedua selanjutnya yaitu sebesar

67

Rp.1.800 diterima oleh petani di daerah penelitian sebesar 8 persen sedangkan


persentase terendah yaitu sebanyak 3 persen petani menerima harga masingmasing Rp.1.200 dan Rp.1.700. Perbedaan harga tersebut diakibatkan oleh
perbedaan tempat tujuan menjual ubi yang dilakukan oleh petani di daerah
penelitian.
b. Kendala Pemasaran
Permasalahan yang dihadapi petani pada subsistem pemasaran adalah harga
jual ubi fluktuatif sehingga disaat supply ubi di pasar melimpah dan menyebabkan
harga ubi sangat rendah petani enggan untuk memanen ubi dan membiarkannya
saja di lahan. Harga yang berfluktuasi juga menyebabkan modal yang telah
dikeluarkan petani pada musim sebelumnya tidak kembali sehingga petani
kesulitan untuk membeli input produksi di musim tanam berikutnya. Keadaan
tersebut dapat diatasi petani dengan memberikan nilai tambah pada ubi jalar
sehingga disaat supply ubi meningkat, petani dapat mengolahnya menjadi produk
lain seperti tepung dan keripik ubi jalar. Dengan cara ini petani dapat memperoleh
tambahan pendapatan yang dapat digunakan untuk membeli input produksi di
musim tanam berikutnya.
5.4.5. Subsistem Pendukung
Lembaga pendukung yang terdapat dalam usahatani ubi jalar di daerah
penelitian adalah kelompok tani, penyuluh dari Dinas Pertanian melalui BP3K
Kabupaten Bogor dan Institut Pertanian Bogor melalui Himpunan Profesi
Mahasiswa Agribisnis (HIPMA). Kelompok tani berperan dalam pengadaan input
produksi usahatani ubi jalar seperti bibit dan pupuk kimia, pemasaran ubi jalar
baik dalam bentuk fresh product maupun olahan, pelatihan budidaya maupun
pengolahan ubi jalar, dan memfasilitasi penyuluhan serta pelatihan yang diberikan
oleh Dinas Pertanian dan Institut Pertanian Bogor melalui Himpunan Profesi
Mahasiswa Agribisnis (HIPMA). Ketiga lembaga ini sangat berpengaruh bagi
pengembangan usahatani ubi jalar baik dalam hal budidaya maupun pasca panen.
Adapun rekapitulasi rata-rata penggunaan input produksi dalam usahatani
ubi jalar di Desa Cikarawang beserta harganya baik untuk petani dengan luas
lahan < 0,5 Ha dan > 0,5 Ha disajikan pada Tabel 19 di bawah ini.

68

Tabel 19. Rata-rata Penggunaan Input Produksi Usahatani Ubi Jalar di Desa
Cikarawang pada Luas Lahan < 0,5 Ha dan > 0,5 Ha
Input Produksi
< 0,5 Ha
> 0,5 Ha
Jumlah
Harga
Jumlah
Harga
(Rp/satuan)
(Rp/satuan)
Pupuk Kandang (kg)
4.735,26
1.489
1.677,42
1.544
Pupuk Urea (kg)
112,10
4.842
83,87
1.075
Pupuk cair (ml)
64,97
10.000
29,03
12.500
Pupuk KCl (kg)
2,04
2.500
Pupuk TSP (kg)
67,52
2.589
32,26
2.500
Pupuk Phonska (kg)
135,03
3.516
16,13
2.560
Pupuk NPK (kg)
10,19
3.000
80,65
3.000
Pestisida (kg)
177,07
21.400
6,45
4.667
TKLK (HOK)
113,11
21.049
43,65
21.049
Irigasi (tahun)
1,00
801.189
1,00
523.656
Pajak Lahan (tahun)
1,00
801.189
1,00
523.656
TKDK (HOK)
56,40
21.049
3,37
21.049
Penyusutan (tahun)
1,00
46.312
1,00
52.813
Sewa lahan (tahun)
1,00
6.450.106
1,00
8.064.516
Dapat diketahui bahwa petani dengan luas lahan < 0,5 Ha menggunakan
pupuk phonska jauh lebih banyak yaitu sebanyak 135,03 kg daripada petani
dengan luas lahan > 0,5 Ha yang hanya menggunakan sebanyak 16,13 kg
sedangkan petani dengan luas lahan > 0,5 Ha justru lebih banyak menggunakan
pupuk NPK yaitu sebanyak 80,65 kg. Ini menunjukkan bahwa petani dengan luas
lahan < 0,5 Ha lebih memilih menggunakan pupuk phonska untuk memenuhi
kebutuhan unsur makro tanamannya sedangkan petani dengan luas lahan > 0,5
Ha lebih memilih menggunakan pupuk NPK daripada phonska.

69

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR


DI DESA CIKARAWANG
Usahatani ubi jalar di Desa Cikarawang menurut bentuk dan coraknya
tergolong ke dalam usahatani perorangan dimana pengelolaannya dilakukan
secara individu dan bersifat komersial. Analisis pendapatan usahatani terdiri atas
analisis penerimaan, analisis biaya, analisis pendapatan, dan analisis R/C rasio.
Analisis pendapatan meliputi pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas
biaya total. Komponen penyusun analisis pendapatan adalah penerimaan baik
tunai maupun tidak tunai dan biaya baik bersifat tunai maupun diperhitungkan.
Adapun analisis pendapatan usahatani dilakukan dengan membandingkan petani
responden berdasarkan luas lahan garapan petani yakni luas lahan kurang dari 0,5
Ha (petani gurem) dan lebih dari 0,5 Ha. Pengelompokan luas lahan tersebut
didasarkan pada pengelompokan luas lahan oleh Dinas Pertanian menjadi tiga
bagian yaitu < 0,5 Ha (petani gurem), 0,5-1 Ha, dan > 1 Ha. Di daerah penelitian
tidak terdapat responden dengan luas lahan usahatani ubi jalar > 1 Ha sehingga
pengelompokan 0,5-1 Ha disingkat menjadi > 0,5 Ha.
6.1. Penerimaan Usahatani Ubi Jalar
Penerimaan usahatani meliputi dua hal yaitu penerimaan tunai dan tidak
tunai. Penerimaan tunai didapatkan dari hasil yang dijual sedangkan penerimaan
tidak tunai adalah hasil yang dikonsumsi sendiri oleh petani. Penjumlahan antara
penerimaan tunai dan tidak tunai disebut penerimaan total usahatani. Penerimaan
usahatani merupakan hasil kali antara harga jual yang diterima petani per
kilogram dengan jumlah produksi yang dihasilkan dalam satu musim.
Pada luas lahan garap petani < 0,5 Ha, rata-rata produktivitas petani sebesar
13,306 ton per Ha sedangkan pada luas lahan antara > 0,5 Ha produktivitasnya
adalah 12,935 ton per Ha. Namun penerimaan total petani dengan luas lahan > 0,5
Ha lebih besar daripada petani dengan luas lahan < 0,5 Ha. Hal ini disebabkan
karena harga jual yang mereka terima pun berbeda, harga jual ubi dari petani
dengan luas lahan > 0,5 Ha lebih besar daripada petani dengan luas lahan < 0,5
Ha. Adapun harga jual ubi jalar di tingkat petani dengan luas lahan < 0,5 Ha
adalah Rp. 1.832 dan pada luas lahan antara > 0,5 Ha adalah Rp. 2.000. Perbedaan

70

harga yang diterima oleh petani tersebut dihasilkan dari rata-rata harga jual yang
diterima oleh petani responden di daerah penelitian. Setiap petani menjual ubi
tidak hanya ke satu tempat yang sama sehingga harga yang diterima pun
bervariasi. Petani dengan luas lahan < 0,5 Ha menjual ubi ke tiga tempat yang
berbeda yaitu poktan, tengkulak, dan pasar sedangkan petani dengan luas lahan >
0,5 Ha hanya menjual ubi jalar ke poktan setempat. Ini menyebabkan rata-rata
harga ubi di tingkat petani dengan luas lahan < 0,5 Ha dan > 0,5 Ha berbeda.
Untuk itu, sebaiknya petani yang belum bergabung dalam kelompok tani dapat
bergabung dengan kelompok tani setempat agar dapat memperkuat posisi
tawarnya terhadap harga jual ubi jalar.
Selain itu, penerimaan tidak tunai petani dengan luas lahan > 0,5 Ha lebih
rendah. Artinya petani dengan luas lahan > 0,5 Ha lebih sedikit mengonsumsi
secara pribadi hasil produksinya atau lebih banyak hasil yang dijual sehingga
penerimaannya pun menjadi lebih besar. Rata-rata jumlah ubi yang dikonsumsi
oleh petani dengan luas lahan > 0,5 Ha hanya sebanyak 32,26 kg sedangkan
petani dengan luas lahan < 0,5 Ha sebanyak 116,15 kg. Ini menunjukkan bahwa
petani dengan luas lahan > 0,5 Ha sudah berpikir lebih komersil dari petani
dengan luas lahan < 0,5 Ha yang cenderung lebih subsisten.
Penerimaan total petani dengan luas lahan < 0,5 Ha sebesar Rp. 24.592.816
dan penerimaan total petani dengan luas lahan antara > 0,5 Ha sebesar Rp.
25.935.484. Hasil ini berbeda jauh dengan penelitian sebelumnya mengenai
usahatani ubi jalar oleh Defri 2011 di Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga.
Walaupun produktivitas ubi di wilayah tersebut hampir sama yaitu sebesar 13,281
ton namun penerimaan tunai hanya sebesar Rp. 10.017.883,60 dan total
penerimaan sebesar Rp. 10.198.907,60. Hal ini dikarenakan harga jual ubi di
wilayah tersebut

masih sangat rendah yaitu Rp. 754,26/kg. Selengkapnya

disajikan pada Tabel 20.

71

Tabel 20. Perbandingan Penerimaan Usahatani pada Luas Lahan < 0,5 Ha dan >
0,5 Ha per Musim Tanam
Komponen Penerimaan
Nilai (Rp)
< 0,5 Ha
> 0,5 Ha
Penerimaan Tunai
- Ubi yang dijual
24.380.002
25.870.968
Penerimaan Tidak Tunai
- Konsumsi oleh RT
212.814
64.516
Total Penerimaan
24.592.816
25.935.484
Mayoritas petani responden penelitian menjual hasil panennya kepada
poktan setempat. Mekanisme penjualannya adalah perwakilan pengurus poktan
yang biasanya diwakili oleh ketua poktan datang langsung ke lahan petani dan
membeli di lokasi tersebut. Adapun beban biaya panen dan pasca panen
merupakan tanggungan poktan. Alasan petani menjual hasil panennya kepada
poktan adalah karena alasan kemudahan, merasa tidak enak atau sungkan karena
banyak membantu dalam penyediaan input produksi, dan faktor kebiasaan.
Pembayaran hasil panen kepada petani tidak diberikan pada hari yang sama
dengan hari panen melainkan 3-7 hari kemudian.
6.2.

Biaya Usahatani Ubi Jalar


Biaya dalam usahatani terdiri atas dua hal yaitu biaya tunai dan biaya

diperhitungkan atau tidak tunai. Biaya tunai merupakan pengeluaran uang tunai
yang dikeluarkan secara langsung oleh petani. Biaya yang diperhitungkan
merupakan pengeluaran petani berupa faktor produksi tanpa mengeluarkan uang
tunai.
Pada Tabel 21 diketahui bahwa total biaya yang dikeluarkan petani dengan
luas lahan < 0,5 Ha jauh lebih besar dari total biaya yang dikeluarkan petani
dengan luas lahan > 0,5 Ha. Biaya total untuk petani dengan luas lahan < 0,5 Ha
sebesar Rp. 22.683.655 sedangkan untuk petani dengan luas lahan > 0,5 Ha hanya
sebesar Rp. 13.591.107. Hal serupa juga terjadi dengan pengeluaran tunai.
Pengeluaran tunai petani dengan luas lahan < 0,5 Ha juga jauh lebih besar
daripada pengeluaran petani dengan luas lahan > 0,5 Ha. Pengeluaran tunai petani
dengan luas lahan < 0,5 Ha sebesar Rp. 15.000.082 dan pengeluaran petani
dengan luas lahan > 0,5 Ha sebesar Rp. 5.402.755. Hal ini terjadi karena petani
dengan luas lahan > 0,5 Ha lebih efisien dalam penggunaan input produksi terlihat

72

dari jumlah input produksi yang digunakan jauh lebih sedikit daripada petani
dengan luas lahan < 0,5 Ha sehingga biaya yang dikeluarkan pun menjadi jauh
lebih kecil.
Tabel 21. Perbandingan Biaya Usahatani pada Luas Lahan < 0,5 Ha dan > 0,5 Ha
per Musim Tanam
Komponen Biaya
< 0,5 Ha
> 0,5 Ha
Nilai (Rp)
Persentase
Nilai (Rp)
Persentase
(%)
(%)
BiayaTunai
Pupuk Kandang
5.349.873
23,58
2.589.516
19,05
Pupuk Urea
542.794
2,39
90.161
0,66
Pupuk cair
649.682
2,86
362.903
2,67
Pupuk KCl
5.096
0,02
0,00
0,00
Pupuk TSP
174.791
0,77
80.645
0,59
Pupuk Phonska
474.744
2,09
41.290
0,30
Pupuk NPK
30.573
0,13
241.935
1,78
Pestisida
3.789.299
16,70
30.108
0,22
TKLK
2.380.853
10,50
918.884
6,76
Irigasi
801.189
3,53
523.656
3,85
Pajak Lahan
801.189
3,53
523.656
3,85
Total Biaya Tunai
15.000.082
66,13
5.402.755
39,75
Biaya
Diperhitungkan
Pupuk Kandang
1.699.560
7,49
TKDK
1.187.155
5,23
71.023
0,52
Penyusutan
46.312
0,20
52.813
0,39
Sewa lahan
6.450.106
28,44
8.064.516
98,49
Total Biaya
7.683.574
33,87
8.188.352
60,25
Diperhitungkan
Total Biaya
22.683.655
100,00
13.591.107
100,00
Hasil ini berbeda jauh dengan penelitian sebelumnya mengenai usahatani
ubi jalar oleh Defri 2011 di Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga. Total biaya
yang dikeluarkan pada penelitian ini lebih besar daripada penelitian sebelum.
Biaya usahatani pada penelitian sebelum sebesar Rp. 8.304.829,20. Hal ini
dikarenakan memang jumlah input yang digunakan pada penelitian ini lebih
banyak. Pada penelitian sebelumnya, biaya tunai input yang dikeluarkan hanyalah
pupuk urea, TSP, phonska, TKLK, dan pajak lahan.
Pada komponen biaya tunai, biaya terbesar yang dikeluarkan petani baik
petani dengan luas lahan < 0,5 Ha maupun luas lahan > 0,5 Ha adalah biaya

73

pupuk kandang dengan persentase sebesar 23,58 persen untuk petani dengan luas
lahan < 0,5 Ha dan sebesar 19,05 persen untuk petani dengan luas lahan > 0,5 Ha.
Ini menunjukkan bahwa petani masih lebih menyukai menggunakan pupuk
organik daripada pupuk kimia. Pupuk organik yang digunakan berasal dari sisa
umbi yang membusuk dan dibiarkan di lahan serta kotoran hewan seperti kotoran
kerbau dan kotoran ayam.
Biaya tenaga kerja luar keluarga pada petani dengan luas < 0,5 Ha maupun
luas lahan > 0,5 Ha juga memiliki persentase yang besar dalam komponen biaya
tunai petani sama halnya pada penelitian sebelumnya. Hampir setiap kegiatan
seperti pembibitan, pengolahan lahan, penanaman, penyiangan, dan pemupukan
menggunakan jasa dari TKLK atau buruh tani. Para pekerja biasanya dibayar
langsung setelah selesai bekerja. Untuk pekerja pria dibayar sekitar Rp. 20.000Rp. 25.000 ditambah dengan bayaran natura berupa makan dan rokok sedangkan
pekerja wanita dibayar sekitar Rp. 15.000-Rp. 20.000 tanpa natura. Namun untuk
kegiatan pengolahan lahan, petani membayar pekerja dengan sistem borongan
disesuaikan dengan luas lahan petani.
Pada komponen biaya diperhitungkan, persentase terbesar adalah biaya
lahan. Ini merupakan opportuniy cost jika lahannya disewakan kepada orang lain.
Biaya terbesar berikutnya adalah tenaga kerja dalam keluarga. Petani dengan luas
lahan < 0,5 Ha mengeluarkan biaya lebih besar untuk komponen tenaga kerja
dalam keluarga daripada petani dengan luas lahan > 0,5 Ha. Hal ini menunjukkan
petani dengan luas lahan < 0,5 Ha (petani gurem) lebih banyak menggunakan
tenaga kerja dari dalam keluarga daripada petani dengan luas lahan > 0,5 Ha.
Penggunaan TKDK lebih sedikit digunakan petani dengan luas lahan > 0,5 Ha
karena sebagian besar petani telah menggunakan jasa buruh tani untuk
mengerjakan lahan ubinya.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya pada bab kerangka pemikiran,
apabila dalam usahatani itu digunakan mesin-mesin pertanian, maka harus
dihitung penyusutannya dan dianggap sebagai pengeluaran. Komponen biaya
penyusutan cukup kecil nilainya karena peralatan yang dimiliki petani hanya
berupa peralatan sederhana seperti cangkul, golok, parang, garpu, dan pacul.

74

Tabel 22 menunjukkan sebaran biaya penyusutan petani dengan luas lahan < 0,5
Ha dan > 0,5 Ha.
Tabel 22. Sebaran Biaya Penyusutan pada Luas Lahan < 0,5 Ha dan > 0,5 Ha
Biaya Penyusutan (Rp.)
< 0,5 Ha (orang)
> 0,5 Ha (orang)
< 20.000

20.000 - < 40.000

10

40.000 - < 60.000

60.000 - < 80.000

80.000 - < 100.000

> 100.000

Jumlah

31

46.312

52.813

Rata-rata (Rp.)

Dari sejumlah komponen biaya yang dikeluarkan petani, hanya nilai biaya
pupuk NPK saja yang lebih besar dikeluarkan oleh petani dengan luas lahan > 0,5
Ha dibanding petani dengan luas lahan < 0,5 Ha. Hal ini menunjukkan bahwa
petani dengan luas lahan > 0,5 Ha lebih banyak menggunakan pupuk NPK
dibandingkan penggunaan pupuk kimia jenis lain.
6.3.

Pendapatan Usahatani Ubi Jalar


Pendapatan usahatani dibedakan menjadi pendapatan tunai dan pendapatan

total. Pendapatan tunai diperoleh dari hasil selisih penerimaan tunai dengan biaya
tunai sedangkan pendapatan total merupakan selisih penerimaan total dengan
biaya total. Berdasarkan Tabel 22 dapat diketahui pendapatan atas biaya tunai dan
pendapatan atas biaya total baik pada petani dengan luas lahan < 0,5 Ha dan
petani dengan luas lahan > 0,5 Ha.
Pendapatan atas biaya tunai petani dengan luas lahan < 0,5 Ha adalah
sebesar Rp. 9.379.921. Sedangkan pendapatan atas biaya tunai petani dengan luas
lahan > 0,5 Ha sebesar Rp. 20.468.213. Kemudian pendapatan atas biaya total
petani dengan luas lahan < 0,5 Ha adalah sebesar Rp. 1.909.161. Sedangkan
pendapatan atas biaya total petani dengan luas lahan > 0,5 Ha sebesar Rp.
12.344.377. Dengan demikian, pendapatan atas biaya tunai maupun biaya total

75

petani dengan luas lahan lebih dari 0,5 Ha lebih besar daripada petani dengan luas
lahan kurang dari 0,5 Ha.
Tabel 23. Perbandingan Pendapatan Usahatani pada Luas Lahan
0,5 Ha per Musim Tanam
Keterangan
Nilai (Rp.)
< 0,5 Ha
Penerimaan
Penerimaan Tunai
24.380.002
Penerimaan Diperhitungkan
212.814
Total Penerimaan
24.592.816
Pengeluaran
Pengeluaran Tunai
15.000.082
Pengeluaran Diperhitungkan
7.683.574
Total Pengeluaran
22.683.655
Pendapatan atas Biaya Tunai
9.379.921
Pendapatan atas Biaya Total
1.909.161
R/C rasio atas Biaya Tunai
1,63
R/C rasio atas Biaya Total
1,07

< 0,5 Ha dan >

> 0,5 Ha
25.870.968
64.516
25.935.484
5.402.755
8.188.352
13.591.107
20.468.213
12.344.377
4,79
1,90

Analisis R/C rasio juga menunjukkan penerimaan usahatani yang akan


diperoleh petani untuk setiap rupiah biaya yang dikeluarkan. Semakin besar nilai
R/C rasio maka semakin besar juga penerimaan usahatani yang diperoleh. Hal
tersebut menunjukkan kegiatan usahatani menguntungkan untuk dilaksanakan.
Nilai R/C rasio atas biaya tunai petani dengan luas lahan > 0,5 Ha lebih
besar daripada petani dengan luas lahan < 0,5 Ha. R/C rasio atas biaya tunai
petani dengan luas lahan > 0,5 Ha sebesar 4,79 sedangkan petani dengan luas
lahan < 0,5 Ha sebesar 1,63. Artinya adalah setiap seribu rupiah biaya yang
dikeluarkan petani maka akan memperoleh penerimaan sebesar Rp. 4.790 (luas
lahan > 0,5 Ha) dan Rp. 1.630 (luas lahan < 0,5 Ha). Sedangkan untuk R/C rasio
atas biaya total luas lahan < 0,5 Ha dan > 0,5 Ha adalah sebesar 1,07 dan 1,90
artinya setiap seribu rupiah biaya yang dikeluarkan petani maka akan memperoleh
penerimaan sebesar Rp. 1.070 (luas lahan < 0,5 Ha) dan Rp. 1.900 (luas lahan >
0,5 Ha). Hal ini menunjukkan bahwa usahatani ubi jalar menguntungkan baik bagi
petani dengan luas lahan < 0,5 Ha maupun luas lahan > 0,5 Ha.
Hasil ini pun tidak berbeda dengan penelitian sebelumnya mengenai
usahatani ubi jalar oleh Defri 2011 di Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga
dengan nilai R/C rasio atas biaya tunai sebesar 1,88 dan R/C atas biaya total

76

sebesar 1,23. Hasil penelitian tersebut menunjukkan usahatani ubi jalar di daerah
penelitian tersebut juga menguntungkan. Hal tersebut karena nilai R/C atas biaya
tunai maupun biaya total lebih besar dari satu.

77

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI


UBI JALAR DI DESA CIKARAWANG
Komoditas pertanian erat kaitannya dengan tingkat produktivitas dan
efisiensi yang rendah. Kedua ukuran tersebut dipengaruhi oleh faktor yang
sifatnya dapat dikendalikan maupun tidak oleh petani. Pada bagian ini akan
membahas analisis faktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar dan analisis
efisiensi teknis serta faktor faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis
produksi ubi jalar di Desa Cikarawang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan stochastic frontier Cobb-Douglass
dan linier berganda. Metode ini dapat digunakan untuk mengestimasi tingkat
efisiensi teknis. Parameter penduga yang digunakan adalah Maximum Likelihood
(MLE). Metode MLE digunakan untuk menduga keseluruhan parameter faktor
produksi, intersep, dan varians dari kedua komponen error. Metode MLE
menggambarkan hubungan antara produksi maksimum yang dapat dicapai dengan
sejumlah faktor produksi yang digunakan.
Terdapat tujuh variabel independen penduga faktor produksi ini antara lain
luas lahan (X1), jarak tanam dalam baris (X2), tenaga kerja (X3), jumlah pupuk
kandang (X4), jumlah pupuk N (X5), jumlah pupuk P (X6), dan jumlah pestisida
(X7). Pada model fungsi produksi yang dibentuk, seluruh variabel independen
memiliki nilai VIF di bawah 10 sehingga menunjukkan bahwa tidak terjadi
multikolinieritas pada fungsi produksi tersebut.
Keberadaan nilai koefisien yang negatif sebaiknya dihindari untuk dua
alasan. Pertama, agar relevan dengan analisis ekonomi maka nilai koefisien
fungsi produksi harus positif. Ini berlaku asumsi bahwa penggunaan fungsi CobbDouglas adalah dalam keadaan law of diminishing returns untuk setiap input
sehingga setiap penambahan input produksi dapat menghasilkan tambahan
produksi yang lebih besar (Soekartawi 2002). Kedua, nilai koefisien yang negatif
menyebabkan penurunan fungsi biaya dual tidak dapat dilakukan, sehingga dalam
penentuan fungsi produksi dipilih fungsi produksi yang memiliki nilai koefisien
keseluruhan yang positif (Coelli 1998).

78

7.1.

Analisis Fungsi Produksi Stochastic Frontier Usahatani Ubi Jalar


Hasil pendugaan terhadap fungsi produksi stochastic frontier menggunakan

tujuh variabel independen diperlihatkan pada Tabel 20. Nilai parameter pada
fungsi produksi stochastic frontier (MLE) menunjukkan elastisitas produksi batas
dari sejumlah input yang digunakan. Elastisitas pada fungsi produksi batas yang
lebih besar menunjukkan bahwa peningkatan masing-masing input produksi
dengan asumsi input lainnya tetap akan berpengaruh pada peningkatan produksi
yang lebih besar dibandingkan dengan fungsi produksi rata-rata. Tabel 24
menunjukkan koefisien parameter dugaan fungsi produksi stochastic frontier
dengan metode MLE beserta nilai signifikansinya dengan menggunakan fungsi
produksi Cobb-Douglas.
Tabel 24. Pendugaan Parameter Fungsi Produksi Stochastic Frontier Cobb
Douglas dengan Metode MLE
Variabel
Koefisien MLE
t-hitung
Konstanta
2,293
3,651
Ln Luas lahan (Ha)
0,799*
7,264
Ln Jarak tanam (cm)
-0,001
-0,033
Ln Tenaga kerja (HOK)
0,182
1,307
Ln Pupuk kandang (kg)
0,061*
1,940
Ln Pupuk N (kg)
-0,064*
-2,135
Ln Pupuk P (kg)
-0,099*
-2,767
Ln Pestisida (ml)
0,002
0,072
2
0,095

0,999
R-sq
0,762
Keterangan: * nyata pada 5 %
t-tabel = 1,703
Nilai koefisien MLE fungsi produksi Cobb-Douglas menghasilkan output
yang bernilai negatif serta berpengaruh nyata yaitu pada variabel pupuk N dan
pupuk P. Seperti telah dibahas pada bab metode penelitian, penggunaan fungsi
Cobb-Douglas berada dalam keadaan law of diminishing return untuk setiap
inputnya. Dengan demikian, model fungsi produksi Cobb-Douglas tidak dapat
digunakan untuk mengestimasi produksi ubi jalar pada penelitian ini sehingga
fungsi produksi linier berganda digunakan dalam penelitian ini. Tabel 25
menunjukkan koefisien parameter dugaan fungsi produksi stochastic frontier
dengan metode MLE dengan menggunakan fungsi produksi linier berganda.

79

Tabel 25. Pendugaan Parameter Fungsi Produksi


Berganda dengan Metode MLE
Variabel
Koefisien MLE
Konstanta
0,585
Luas lahan (Ha)
15,866*
Jarak tanam (cm)
-0,013
Tenaga kerja (HOK)
0,036*
Pupuk kandang (kg)
0,000
Pupuk N (kg)
-0,105*
Pupuk P (kg)
-0,209*
Pestisida (ml)
0,014*
2

R-sq
Keterangan: * nyata pada 5 %
t-tabel = 1,703

Stochastic Frontier Linier


t-hitung
1,344
11,912
-0,729
3,364
0,656
-8,981
-4,259
1,786
0,744
0,125
0,916

Pada Tabel 25 diketahui nilai parameter sebesar 0,125. Artinya adalah


perbedaan antara produksi yang sesungguhnya dengan kemungkinan produksi
maksimum sebesar 12,5 persen disebabkan karena perbedaan inefisiensi teknis.
Parameter merupakan rasio dari varians efisiensi teknis (i) terhadap varians
total produksi (i).
Hasil pendugaan parameter dengan menggunakan fungsi produksi linier
berganda menunjukkan nilai koefisien determinasi (R-sq) sebesar 91,6 persen,
artinya sebesar 91,6 persen keragaman produksi ubi jalar di daerah penelitian
dapat dijelaskan oleh input-input produksi yang digunakan dalam model
sedangkan sisanya sebesar 8,4 persen dijelaskan oleh komponen error yang tidak
dimasukkan dalam model. Koefisien dari variabel-variabel pada fungsi produksi
linier berganda tidak menunjukkan elastisitas seperti pada fungsi produksi CobbDouglas sehingga diperlukan perhitungan elastisitas produksi dari setiap variabel
fungsi produksi. Hasil perhitungan nilai elastisitas produksi dari setiap variabel
independen fungsi produksi linier berganda ditunjukkan pada Tabel 26.

80

Tabel 26. Elastisitas Fungsi Produksi Stochastic Frontier Linier Berganda dengan
Metode MLE
Variabel
Elastisitas
Luas lahan (Ha)
7,669*
Jarak tanam (cm)
0,709
Tenaga kerja (HOK)
-0,118*
Pupuk kandang (kg)
0,191
Pupuk N (kg)
-0,375*
Pupuk P (kg)
-5,386*
Pestisida (ml)
-5,391*
Keterangan: * nyata pada 5 %
t-tabel = 1,703
Hasil perhitungan elastisitas fungsi produksi stochastic frontier linier
berganda dengan metode MLE menunjukkan bahwa faktor produksi yang
berpengaruh nyata dan bernilai positif terhadap produksi ubi jalar di daerah
penelitian pada taraf nyata 5 persen hanyalah variabel luas lahan. Sebaliknya,
variabel

tenaga kerja, pupuk N, pupuk P, dan pestisida bernilai negatif dan

berpengaruh nyata sedangkan variabel yang bernilai positif tetapi berpengaruh


tidak nyata antara lain jarak tanam dan pupuk kandang.
Di daerah penelitian, variabel luas lahan memiliki nilai elastisitas positif dan
berpengaruh nyata pada taraf nyata 5 persen. Nilai elastisitas variabel ini yaitu
sebesar 7,669. Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu oleh Defri 2011. Nilai
koefisien lahan sebesar 7,669 menunjukkan setiap peningkatan luas lahan sebesar
satu persen maka akan meningkatkan produksi ubi sebesar 7,669 persen, cateris
peribus. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat produksi ubi jalar masih berbanding
lurus dengan luas lahan. Penggunaan lahan sangat berpengaruh besar terhadap
produksi ubi.
Variabel jarak tanam memiliki nilai elastisitas positif tetapi tidak
berpengaruh nyata terhadap produksi ubi di daerah penelitian. Artinya setiap
penambahan atau pengurangan jarak tanam ubi dalam satu guludan tidak akan
berpengaruh pada peningkatan produksi ubi. Hal ini diduga terjadi karena variasi
jarak tanam stek ubi yang dilakukan oleh petani responden rendah atau dapat
dikatakan jarak tanam stek ubi jalar hampir seragam yaitu 5-20 cm.
Tenaga kerja memiliki nilai elastisitas negatif dan berpengaruh nyata
terhadap produksi ubi pada taraf nyata 5 persen. Nilai koefisien tenaga kerja
sebesar -0,118 menunjukkan setiap peningkatan jumlah penggunaan tenaga kerja

81

sebesar satu persen maka akan menurunkan produksi ubi sebesar 0,118 persen,
cateris peribus. Hal ini menunjukkan rata-rata tenaga kerja yang digunakan petani
di daerah penelitian yaitu sebanyak 29,885 HOK seperti yang sudah dikemukakan
sebelumnya sudah cukup bahkan berlebih. Penggunaan tenaga kerja oleh petani
baik tenaga kerja dalam keluarga maupun luar keluarga di daerah penelitian
sangat lazim mulai dari proses penyiapan guludan, penanaman, pemupukan,
hingga pemanenan.
Variabel pupuk kandang bernilai elastisitas positif dan berpengaruh tidak
nyata terhadap produksi ubi di daerah penelitian. Nilai koefisien pupuk kandang
sebesar 0,191. Hal ini menunjukkan rata-rata pupuk kandang yang digunakan
petani di daerah penelitian yaitu sebanyak 3,2 ton seperti yang sudah
dikemukakan sebelumnya sudah cukup bahkan berlebih. Berdasarkan informasi
yang diperoleh dari petani menunjukkan bahwa pupuk kandang memiliki peran
penting untuk meningkatkan kesuburan tanah yang akan mempengaruhi
pertumbuhan ubi jalar. Ini dapat dilihat dari jumlah penggunaan pupuk kandang
yang paling besar dibandingkan dengan penggunaan pupuk lainnya.
Variabel pupuk N memiliki nilai elastisitas negatif dan berpengaruh nyata
terhadap produksi ubi di daerah

penelitian pada taraf nyata 5 persen. Nilai

elastisitas pupuk N adalah sebesar -0,375. Hal ini menjelaskan bahwa


penambahan penggunaan pupuk N sebesar satu persen justru akan mengurangi
produksi sebesar 0,375 persen. Kondisi di lapangan petani menggunakan pupuk N
rata-rata sebanyak 20,89 kg per hektar. Jumlah tersebut sebenarnya masih berada
di bawah dosis pupuk yang dianjurkan dalam usahatani ubi jalar adalah 45-90 kg
N/H, namun diduga penyebabnya adalah karena petani di daerah penelitian selain
menggunakan pupuk urea yang di dalamnya mengandung unsur N, petani juga
menggunakan pupuk kandang dalam jumlah besar yaitu sebanyak 3,2 ton/Ha.
Pupuk kandang sendiri juga diketahui mengandung unsur N yang besar sehingga
unsur N yang digunakan petani dalam usahtani ubi jalar di daerah penelitian sudah
cukup bahkan berlebih.
Variabel pupuk P memiliki nilai elastisitas negatif dan berpengaruh nyata
terhadap produksi ubi di daerah

penelitian pada taraf nyata 5 persen. Nilai

koefisien variabel ini sebesar -5,386. Hal ini menjelaskan bahwa penambahan

82

penggunaan pupuk P sebesar satu persen justru akan mengurangi produksi ubi
jalar di daerah penelitian sebesar 5,386 persen. Hal ini diduga terjadi akibat
penggunaan pupuk P yang terkandung dalam pupuk phonska melebihi batas yang
dianjurkan yaitu 25 kg phonska/Ha sedangkan rata-rata penggunaan pupuk
phonska di lapang sebesar 75,58 kg phonska/Ha sehingga penambahan
penggunaan pupuk P akan mengurangi produksi ubi jalar.
Di daerah penelitian, variabel pestisida memiliki nilai elastisitas negatif dan
berpengaruh nyata terhadap produksi ubi. Nilai koefisien lahan sebesar 5,391
menunjukkan setiap peningkatan penggunaan pestisida sebesar satu persen maka
akan menurunkan produksi ubi sebesar 5,391 persen, cateris peribus. Rata-rata
penggunaan pestisida di daerah penelitian sebanyak 91,76 kg. Ini menunjukkan
penggunaan pestisida di daerah penelitian sudah cukup bahkan berlebih. Kejadian
ini juga diduga terjadi akibat residu penggunaan pestisida sebelumnya sehingga
lahan tidak bisa menyerap kandungan pestisida dengan baik. Berdasarkan hasil
wawancara di lapang, petani yang melakukan penyemprotan pestisida cenderung
hanya menduga-duga takaran yang mereka gunakan, tidak ada jumlah pasti yang
diberikan petani sehingga diduga melebihi dosis yang dianjurkan. Takaran yang
lebih banyak biasanya digunakan saat jumlah hama penyakit yang menyerang
tanaman lebih banyak.
Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa variabel pupuk N, pupuk P, dan
pestisida memiliki nilai elastisitas negatif dan berpengaruh nyata terhadap
produksi ubi di daerah penelitian. Penyebabnya diduga terjadi akibat penggunaan
pupuk maupun pestisida yang melebihi batas dari yang dianjurkan sehingga
peningkatan penggunaannya justru akan menurunkan produksi ubi jalar. Untuk
itu, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah subsistem pendukung yang
ada diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada petani mengenai
penerapan teknologi pemupukan berimbang dan pestisida tepat guna sesuai
dengan dosis anjuran agar dapat meningkatkan efisiensi teknis usahatani ubi jalar.
7.2. Analisis Efisiensi Teknis dan Inefisiensi Teknis
Efisiensi teknis dianalisis menggunakan model fungsi produksi stochastic
frontier. Sebaran efisiensi teknis petani responden dapat dilihat pada Tabel 27.
Pada Tabel 26 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata efisiensi teknis petani
83

responden hanya sebesar 0,564 dengan nilai terendah 0,131 dan nilai tertinggi
0,955. Berdasarkan nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa rata-rata
produktivitas ubi jalar yang dicapai petani adalah 56,4 persen dari produktivitas
maksimum yang dapat dicapai dengan sistem pengelolaan yang terbaik. Petani
responden masih memiliki banyak kesempatan untuk memperoleh hasil potensial
yang lebih tinggi seperti yang diperoleh petani yang memiliki nilai efisiensi teknis
paling tinggi. Dalam jangka pendek, secara rata-rata petani ubi jalar di daerah
penelitian berpeluang untuk meningkatkan produksi sebesar 40,94 persen (10,564/0,955).
Tabel 27. Sebaran Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pencapaian Efisiensi
Teknis dalam Usahatani Ubi Jalar di Desa Cikarawang
Indeks Efisiensi
Jumlah (orang)
Persentase (%)
7
20,00
0,2
> 0,2 0,3
2
5,71
> 0,3 0,4
2
5,71
> 0,4 0,5
5
14,29
> 0,5 0,6
0
0,00
> 0,6 0,7
3
8,57
> 0,7 0,8
3
8,57
> 0,8 0,9
4
11,43
> 0,9 1
9
25,71
Total
35
100
Rata-rata
0,564
Minimum
0,131
Maksimum
0,955
Adapun sebaran efisiensi petani ubi jalar di Desa Cikarawang berdasarkan
luas lahannya disajikan dalam Tabel 28 berikut. Pada Tabel 28 dapat diketahui
bahwa nilai rata-rata efisiensi teknis petani responden dengan luas lahan berturutturut < 0,5 Ha dan > 0,5 Ha sebesar 0,474 dan 0,576. Berdasarkan nilai rata-rata
tersebut menunjukkan bahwa rata-rata produktivitas ubi jalar yang dicapai petani
dengan luas lahan < 0,5 Ha adalah 57,6 persen dari produktivitas maksimum yang
dapat dicapai dengan sistem pengelolaan yang terbaik sedangkan rata-rata
produktivitas ubi jalar yang dicapai petani dengan luas lahan > 0,5 Ha sebesar
47,4 persen dari produktivitas maksimum yang dapat dicapai dengan sistem
pengelolaan yang terbaik. Hal ini menunjukkan hasil yang berbeda dengan hasil
analisis pendapatan yang telah dijabarkan sebelumnya dimana petani dengan luas

84

lahan > 0,5 Ha lebih efisien dari aspek biaya. Berdasarkan sebaran efisiensi petani
berdasarkan luas lahan ternyata petani dengan luas lahan > 0,5 Ha justru memiliki
nilai efisiensi teknis lebih rendah dibandingkan dengan petani yang memiliki luas
lahan < 0,5 Ha.
Tabel 28. Sebaran Tingkat Pencapaian Efisiensi Teknis dalam Usahatani Ubi
Jalar di Desa Cikarawang pada Luas Lahan < 0,5 Ha dan > 0,5 Ha
< 0,5 Ha
> 0,5 Ha
Indeks
Jumlah
Persentase
Jumlah
Persentase
Efisiensi
(orang)
(%)
(orang)
(%)
5
16,13
2
0,50
0,2
> 0,2 0,3
2
6,45
0
0,00
> 0,3 0,4
2
6,45
0
0,00
> 0,4 0,5
5
16,13
0
0,00
> 0,5 0,6
0
0,00
0
0,00
> 0,6 0,7
2
6,45
1
0,25
> 0,7 0,8
3
9,68
0
0,00
> 0,8 0,9
4
12,90
0
0,00
> 0,9 1
8
25,81
1
0,25
Total
31
100
4
100
Rata-rata
0,576
0,474
Minimum
0,131
0,167
Maksimum
0,955
0,931
Tabel 29 menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi
teknis petani di daerah penelitian dengan menggunakan efek inefisiensi teknis dari
fungsi produksi stochastic frontier. Variabel yang berpengaruh nyata terhadap
efek inefisiensi adalah usia petani dan pengalaman.
Tabel 29. Parameter Dugaan Efek Inefisiensi Teknis Fungsi Produksi Stochastic
Frontier
Variabel
Nilai Dugaan
t-rasio
Konstanta
5,606
2,778
Usia petani
-0,122*
-3,085
Tingkat pendidikan
-0,139
-1,199
Pengalaman
0,074*
2,598
Keikutsertaan poktan
-0,010
-0,012
Varietas yang ditanam
-0,293
-0,272
Status dalam Rumah Tangga
0,808
1,074
Status usahatani
-0,911
-1,407
Status kepemilikan lahan
1,126
1,594
Pola tanam
-0,145
-0,147
*
Keterangan:
nyata pada 5 %
t-tabel = 1,703

85

Adapun pengaruh dari masing-masing efek inefisiensi teknis diuraikan


sebagai berikut:
1. Usia Petani
Faktor usia responden diduga berpengaruh negatif dan nyata terhadap
inefisiensi teknis usahatani ubi jalar di daerah penelitian pada taraf nyata 5 persen.
Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu oleh Khotimah 2010. Koefisien pada
faktor usia sebesar -0,122 menunjukkan bahwa penambahan usia petani satu tahun
maka akan menurunkan tingkat inefisiensi sebesar 0,122 cateris paribus. Hasil ini
sesuai dengan hipotesis awal dimana diduga semakin bertambah usia petani maka
akan menurunkan tingkat inefisiensi karena semakin tua petani menunjukkan
semakin berpengalaman sehingga semakin baik dalam mengelola usahataninya.
Mayoritas petani responden di daerah penelitian berusia 46-55 tahun
menunjukkan petani masih berada pada usia produktif. Selain itu, bertani ubi jalar
pun tidak membutuhkan teknik budidaya yang sulit untuk diterapkan serta tidak
terlalu membutuhkan kemampuan fisik yang besar. Oleh karena itu, di lokasi
penelitian penambahan usia petani responden tidak menyebabkan peningkatan
tingkat inefisiensi teknis. Pada Gambar 7 di bawah ini membuktikan bahwa
semakin tua usia petani tidak menyebabkan penurunan produktivitas ubi jalar.

Gambar 7. Hubungan antara Usia Petani dengan Produktivitas Ubi Jalar

2. Tingkat Pendidikan
Faktor tingkat pendidikan adalah lama waktu (tahun) yang digunakan petani
untuk menjalani pendidikan formalnya. Tingkat pendidikan diduga berpengaruh
negatif tetapi tidak nyata. Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu oleh
86

Khotimah 2010 dimana pendidikan berpengaruh negatif terhadap inefisiensi


teknis. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama tingkat pendidikan formal
petani maka akan menurunkan tingkat inefisiensi produksi ubi jalar. Hasil ini
sesuai dengan hipotesis awal yang telah dikemukakan. Pendidikan dapat
menurunkan tingkat inefisiensi karena pendidikan pada umumnya akan
mempengaruhi cara berpikir petani. Pengetahuan membaca dan menulis dapat
digunakan petani untuk membuat catatan seputar kegiatan usahataninya.
Kemampuan membaca petani juga dapat digunakan untuk membaca tulisantulisan seperti brosur, majalah, surat kabar, dan media cetak lainnyayang berkaitan
dengan usahataninya sehingga dapat menambah pengetahuan petani. Gambar 8
menunjukkan hubungan antara produktivitas dan lama pendidikan petani
responden di daerah penelitian.

Gambar 8. Hubungan antara Lama Pendidikan dengan Produktivitas Ubi Jalar

3. Pengalaman
Pengalaman diukur berdasarkan lamanya (jumlah waktu) petani telah
berusahatani ubi jalar. Tabel 29 menunjukkan bahwa pengalaman petani diduga
berpengaruh positif dan nyata pada taraf nyata 5 persen terhadap efek inefisiensi.
Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu oleh Khotimah 2010. Koefisien pada
faktor pengalaman sebesar 0,074 menunjukkan bahwa peningkatan pengalaman
petani satu persen justru akan meningkatkan inefisiensi teknis sebesar 0,074
persen. Hal ini bisa terjadi karena semakin lama pengalaman petani dalam

87

berusahatani ubi jalar maka akan merasa semakin benar apa yang sudah biasa
diterapkannya. Salah satu indikatornya adalah hasil produksi yang baik menurut
petani sehingga petani enggan mengikuti saran-saran yang diberikan penyuluh
walaupun pada nyatanya apa yang telah diterapkannya selama bertani tidak sesuai
anjuran. Gambar 9 menunjukkan hubungan antara produktivitas dan pengalaman
petani responden di daerah penelitian.

Gambar 9. Hubungan antara Pengalaman dengan Produktivitas Ubi Jalar

4. Keikutsertaan dalam Kelompok Tani


Variabel keikutsertaan dalam

kelompok tani dianggap dapat mewakili

variabel pendidikan non formal petani. Ini dikarenakan dalam sebuah kelompok
tani akan terdapat kegiatan-kegiatan seperti penyuluhan dan pelatihan yang
merupakan bagian dari pendidikan non formal petani. Tabel 29 menunjukkan
bahwa faktor keikutsertaan petani dalam kelompok tani diduga berpengaruh
negatif tetapi tidak nyata. Koefisien keikutsertaan poktan sebesar -0,010. Artinya
bahwa keikutsertaan petani dalam kelompok tani akan menrunkan tingkat
inefisiensi petani dalam berusahatani ubi jalar atau menyebabkan efisiensi teknis
produksi ubi jalar menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan petani yang tidak
ikut serta dalam kelompok tani. Ini disebabkan karena pendidikan yang diperoleh
petani dalam kelompok tani berupa penyuluhan dan pertemuan rutin akan
membuka wawasan petani serta menambah keterampilan dan pengalaman petani
dalam mengelola usahataninya. Variabel ini berpengaruh tidak nyata karena

88

sebanyak 82,58 persen (29 orang) dari seluruh responden penelitian telah
tergabung dalam kelompok tani setempat sehingga variasinya rendah.
5. Varietas yang Ditanam
Faktor varietas yang ditanam diduga memberikan pengaruh negatif terhadap
inefisiensi teknis. Hasil perhitungan pada Tabel 29 menunjukkan bahwa varietas
yang ditanam memiliki pengaruh tidak nyata terhadap inefisiensi teknis. Nilai
negatif pada variabel ini menunjukkan bahwa penggunaan varietas Ace dapat
memperkecil tingkat inefisiensi teknis dibandingkan dengan menanam varietas
jenis lain. Variabel ini berpengaruh tidak nyata karena hanya sebanyak 11,43
persen saja (4 orang) dari seluruh responden penelitian yang tidak menanam
varietas Ace.
6. Status dalam Rumah Tangga
Status dalam rumah tangga diduga akan berpengaruh positif tetapi tidak
nyata terhadap inefisiensi teknis pada taraf nyata 5 persen. Artinya petani yang
berstatus sebagai kepala keluarga akan lebih tidak efisien secara teknis. Hal ini
terjadi karena status sebagai kepala keluarga menjadikan petani bertanggung
jawab terhadap kelangsungan hidup keluarganya sehingga menuntut seseorang
untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Jika hasil dari bertani ubi jalar
dirasakan belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga maka petani akan
mencari tambahan pekerjaan lain sehingga konsentrasinya terhadap usahatani ubi
jalar sedikit berkurang. Petani responden di daerah penelitian, selain berusahatani
ubi jalar juga bekerja sebagai peternak. Hal tersebut dapat menyebabkan petani
memluangkan waktu lebih banyak untuk mengurus ternaknya, dimana hewan
ternak harus diberi makan minimal dua kali dalam sehari berbeda halnya dengan
tumbuhan.
7. Status Usahatani
Status usahatani ubi jalar petani sebagai pekerjaan utamanya diduga
berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis. Tabel 29 menunjukkan variabel
status usahatani negatif tetapi tidak nyata. Artinya petani yang menganggap
bertani ubi jalar sebagai pekerjaan utamanya akan lebih efisien secara teknis
dibandingkan dengan petani yang hanya menganggap bertani ubi jalar sebagai
pekerjaan sampingan saja. Petani yang menganggap bertani ubi jalar sebagai

89

pekerjaan utamanya lebih fokus dan bersungguh-sungguh dalam usahatani ubi


jalar.
8. Status Kepemilikan Lahan
Status kepemilikan lahan diduga akan berpengaruh positif dan tidak
berpengaruh nyata terhadap inefisiensi secara teknis. Hasil ini sesuai dengan
penelitian terdahulu oleh Khotimah 2010 dimana variabel kepemilikan lahan
berpengaruh positif terhadap inefisiensi usahatani ubi jalar. Ini diduga terjadi
karena petani yang mempunyai lahan sendiri (petani pemilik) bebas menentukan
faktor-faktor produksi yang digunakannya baik berupa lahan, peralatan, dan
sarana produksi lainnya tanpa dipengaruhi atau ditentukan oleh orang lain serta
petani tidak mengeluarkan untuk untuk menyewa lahan sehingga kurang
berorientasi pada hasil produksi. Petani menganggap bahwa jika hasil produksinya
rendah maka tidak akan terlalu merugikan dirinya sendiri atau orang lain. Berbeda
halnya jika petani menyewa atau menyakap lahan. Petani yang menyewa atau
menyakap lahan mengeluarkan biaya untuk menyewa lahan dan menerapkan
sistem bagi hasil bagi petani penyakap sehingga mereka berusaha menggunakan
input produksi yang tersedia secara efisien agar memperkecil kerugian yang
mungkin didapatkan.
9. Pola Tanam
Pola tanam tumpangsari diduga akan berpengaruh negatif terhadap
inefisiensi teknis. Namun demikian, pola tanam tumpangsari pengaruhnya tidak
nyata. Artinya pola tanam tumpangsari akan menurunkan inefisiensi atau
menyebabkan efisiensi teknis produksi ubi lebih tinggi dibandingkan pola tanam
monokultur.
Pada penelitian ini, fokus yang dilakukan hanya untuk melihat efisiensi dari
konsep efisiensi teknis saja dimana efisiensi teknis tercapai di saat sejumlah faktor
produksi yang ada dapat menghasilkan output yang tinggi sedangkan kedua
konsep lainnya yaitu efisiensi harga dan efisiensi ekonomis tidak dianalisis dalam
penelitian ini. Untuk itu, agar diperoleh analisis efisiensi yang lebih komprehensif
sebaiknya penelitian selanjutnya menganalisis kedua konsep lainnya yaitu
efisiensi harga dan efisiensi ekonomis.

90

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN


8.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya,

maka kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah:


1. Efisiensi biaya dapat diperoleh dari luasan lahan > 0,5 Ha. Pendapatan
usahatani petani di daerah penelitian dengan luas lahan > 0,5 Ha lebih
besar daripada luas lahan < 0,5 Ha baik atas biaya tunai maupun biaya
total. Analisis R/C rasio pun menunjukkan nilai yang lebih besar pada
luasan lahan yang lebih besar. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani ubi
jalar di daerah penelitian menguntungkan untuk dilaksanakan karena
nilai R/C rasio menunjukkan nilai lebih dari 1.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar di daerah penelitian
adalah luas lahan, tenaga kerja, penggunaan pupuk N, pupuk P, dan
pestisida.
3. Nilai rata-rata efisiensi teknis petani responden hanya sebesar 0,564
artinya rata-rata produktivitas ubi jalar yang dicapai petani adalah 56,4
persen dari produktivitas maksimum yang dapat dicapai dengan sistem
pengelolaan yang terbaik. Hal ini berkaitan dengan sumber-sumber
inefisiensi teknis yang berpengaruh terhadap inefisiensi teknis yaitu usia
petani dan pengalaman.
8.2

Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat

disampaikan antara lain:


1. Sebaiknya petani yang belum bergabung dalam kelompok tani dapat
bergabung dengan kelompok tani setempat agar dapat mempermudah
pemerolehan input produksi, meningkatkan pengetahuan petani melalui
penyuluhan, mempermudah pemasaran produk, dan memperkuat posisi
tawarnya terhadap harga jual ubi jalar.
2. Disaat supply ubi meningkat di pasaran, petani sebaiknya memberikan
nilai tambah pada ubi jalar dengan mengolahnya menjadi produk lain

91

seperti tepung dan keripik ubi jalar sehingga petani dapat memperoleh
tambahan pendapatan.
3. Sebaiknya pemerintah melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dapat
lebih mensosialisasikan dan mengefektifkan teknologi budidaya ubi jalar
sehingga dapat meningkatkan efisiensi teknis usahatani ubijalar.
4. Untuk mengatasi hama lanas yang banyak menyerang ubi sebaiknya
dilakukan pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman lain selain
ubi jalar.
5. Pemerintah daerah sebaiknya mengatur sistem irigasi pertanian di
wilayah penelitian terlebih setelah adanya pembangunan wisata setempat
sehingga tidak berdampak pada produktifitas komoditas pertanian.
6. Penelitian selanjutnya diharapkan menganalisis tingkat efisiensi alokatif
dan ekonomis sehingga diperoleh analisis efisiensi yang lebih
komprehensif.

92

DAFTAR PUSTAKA
Adiyoga W. 1999. Beberapa Alternatif Pendekatan untuk Mengukur Efisiensi dan
In-Efisiensi dalam Usahatani. Informatika Pertanian 8.
Aisah N. 2003. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Teknis Produksi Usahatani
Tomat dengan Pendekatan Stochastic Production Frontier di Desa
Karawang, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa
Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
AjiN. 2008. Peramalan Produksi dan Konsumsi Ubi Jalar Nasional dalam Rangka
Rencana Program Diversifikasi Pangan Pokok [skripsi]. Bogor: Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Astuti I. 2003. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Teknis Produksi Usahatani
Kentang di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten
Bandung dengan Pendekatan Stochastic Production Frontier[skripsi].
Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
[BKP] Badan Ketahanan Pangan. 2010. Pola Pangan Harapan Tahun 2008-2009.
Jakarta: Badan Ketahanan Pangan.
[BKP] Badan KetahananPangan. 2010. Nasi Aruk dan Ketahanan Pangan
Nasional. Jakarta: Badan Ketahanan Pangan.
[BKP] Badan Ketahanan Pangan. 2011. Pemanfaatan Pangan Lokal Perkuat
Ketahanan Pangan. Jakarta: Badan Ketahanan Pangan.
[BPS] Badan Pusat Statistik Nasiona Jawa Barat. 2010. Luas panen-ProduktivitasProduksi Tanaman Ubi Jalardi Jawa Barat. Bandung: Badan
Pusat Statistik.
[BPS] Badan Pusat Statistik Nasional. 2012a. Berbagai tahun. Luas panenProduktivitas-Produksi Tanaman Ubi Jalar Provinsi Jawa Barat Tahun 20002011. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
[BPS] BadanPusat Statistik Nasional. 2012b. Hasil Sensus Penduduk
2010.Jakarta: Badan Pusat Statistik.
[BPPP Kementan] Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian
Pertanian.2011. Kajian Keterkaitan Perdagangan Ubi Jalar untung
Mendukung Program Keanekaragaman Pangan dan Gizi. Jakarta: Balai
Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertanian.
[BPTP]
Balai
Pengkajian
Teknologi
Pertanian.
2009.
Panduan
PengelolaanUsahatani (Ipomoea batatas). Bandung: Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Jawa Barat.
[BP4K] Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikan dan Kehutanan
Kabupaten Bogor. 2011.Data Kelompok Tani Wilayah Dramaga.
http://
bp4k.bogorkab.go.id.[10 November 2011].

93

Brahmana MC. 2005. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Teknis Produksi


Usahatani Padi Lahan Kering dengan Pendekatan Stochastic Production
Frontier di Desa Tanggeung, Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur,
Provinsi Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor.
Coelli T, D.S.P. Rao, dan Battese G.E. 1998. An Introduction to Efficiency and
Productivity Analysis. Kluwer Academic Publisher. London.
Daniel M. 2001. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara.
Defri K. 2011. Analisis Pendapatan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Produksi Usahatani Ubi Jalar (Studi Kasus Desa Purwasari Kecamatan
Dramaga Kabupaten Bogor)[skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi Manajemen,
InstitutPertanian Bogor.
Destialisma 2009. Pengolahan Hasil Tanaman Pangan. Jakarta: Dit PHP-PPHP.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat. 2012. Petunjuk Teknis
Pengelolaan Produksi Ubi Jalar.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian. 2011.
Rencana
Strategis Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tahun 2010-2014.
Dumaria E. 2003. Analisis Efisiensi Usahatani Nenas di Desa Tambakan,
Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat [skripsi]. Bogor:
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Haryani D. 2009. Analisis Efisiensi Usahatani. Padi Sawah Pada Program
Pengelolaan Tanaman Dan Sumberdaya Terpadu Di Kabupaten Serang
Provinsi Banten. [tesis]. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian
Bogor.
Hasyim A dan M Yusuf. 30 Juli 2008. Diversifikasi Produk Ubi Jalar Sebagai
Bahan Pangan Substitusi Beras. Tabloid Sinar Tani.
Herdiman F. 2010. Analisis Pendapatan Usahatani Ubi Jalar di Desa Gunung
Malang Kecamatan Tenjolaya Kabuaten Bogor. [skripsi]. Bogor:
Fakultas Ekonomi Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Hernanto F. 1989. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya.
Hutauruk T L.2008. Analisis Efisiensi Usahatani Padi Benih Bersubsidi Di
Kecamatan
Telagasari,Kabupaten
Karawang,
Jawa
Barat
:
PendekatanStochastic
ProductionFrontier. [skripsi]. Bogor:
Fakultas
Pertanian.
Institut PertanianBogor.
Jayanto A D. 2009. Budidaya Ubi Jalar. Deputi Menegristek Bidang
Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Khotimah H. 2010. Analisis Efisiensi Teknis dan Pendapatan Usahatani Ubi jalar
di Kecamatan Cilimus Kabupaten kuningan Jawa Barat ; Pendekatan
StochasticProduction Frontier.[skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi
Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

94

Krisdiana R dan Heriyanto. 2011. Prospek Pengembangan dan Kendala Usahatani


Ubi Jalar di Lahan Kering Masam. http://www.puslittan.bogor.net.
[10November 2011].
Maryono. 2008. Analisis Efisiensi Teknis dan Pendapatan Usahatani Padi
Program Benih Bersertifikat: Pendekatan Stochastic Production Frontier.
Studi kasus di Desa Pasirtalaga, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang
[skripsi].Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Nurmala S D. 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Ubi Jalar (Studi
Kasus: Kelompok Tani Hurip, Desa Cikarawang, Kecaatan Darmaga,
Kabupaten Bogor). [skripsi].Bogor: FakultasEkonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor.
Prayoga A. 2010. Produktivitas dan Efisiensi Teknis Usahatani Padi Organik
Lahan Sawah. Jurnal Agro Ekonomi Volume 28 (1):1-19.
Rachmina D dan Maryono. 2008. Analisis Efisiensi Teknis dan Pendapatan
Usahatani Padi ProgramBenih Bersertifikat di Kabupaten Karawang:
Pendekatan Stochastic Production Frontier.Jurnal Agribisnis dan Ekonomi
Pertanian Volume 2. No 1-Juni 2008.
Rahayu S. 2005. SPSS Versi 12.00 dalam Riset Pemasaran. Bandung: Alfabeta.
Sari W S. 2012. Analisis Pendapatan Usahatani dan Nilai Tambah Talas di
Kecamatan Bogor Barat,Kota Bogor. [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi
Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Soeharjo A. 1973. Sendi - Sendi Pokok Ilmu Usahatani. Bogor: Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor.
Soekartawi A, Soeharjo, John L Dillon, J BrianHardaker. 1986. Ilmu Usahatani
dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Jakarta: UI-Press.
Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian Teori dan Aplikasi Edisi
Revisi 2002. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sukiyono K. 2005. Faktor Penentu Tingkat Efisiensi Teknik Usahatani Cabai
Merah di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong. Jurnal Agro
Ekonomi 23 (2):176-190.
Suliyanto. 2005. Analisis Data dalam Aplikasi Pemasaran. Bogor: Penerbit Glalia
Indonesia.
Suratiyah K. 2009. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya.
Suyastiri N M. 2008. Diversifikasi Konsumsi Pangan Pokok Berbasis Potensi
Lokal dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Pedesaan di
Kecamatan Semin Kabupaten Gunung Kidul. Jurnal Ekonomi Pembangunan
Volume 13 (1):51-60.
TasmanA. 2010. Pengukuran Efisiensi : Pendekatan Stochastic Frontiers. Jambi:
Fakultas Ekonomi. Universitas Jambi.
Zuraida N. 2009. Status Ubi Jalar sebagai Bahan Diversifikasi Pangan Sumber
Karbohidrat. Iptek Tanaman Pangan 4 (1):69-80.
95

LAMPIRAN

96

Lampiran 1. Tabel Pola Pangan Harapan 2008-2009


No Kelompok Pangan
Th. 2008
Th. 2009
Skor
Skor
Gram
PPH Gram
PPH
1
Padi-padian
326,0
25,0 314,4
25,0
2
Umbi-umbian
51,7
1,6
40,2
1,2
3
Pangan hewani
90,0
15,7
84,8
14,8
4 Minyak dan lemak
22,8
5,0
21,8
4,9
Buah/biji
5
berminyak
7,6
1,0
6,8
0,9
6
Kacang-kacangan
24,4
6,2
22,4
5,7
7
Gula
25,8
2,4
23,8
2,2
8
Sayur dan buah
241,7
25,1 199,5
21,0
9
Lain-lain
51,9
0,0
53,6
0,0
Total
Skor PPH
81,9
75,7

PPH Nasional
Skor
Gram
PPH
275
5,0
100
2,5
150
24,0
20
5,0
10
35
30
250
-

1,0
10,0
2,5
30,0
0,0
100

Sumber : Susenas 2008 dan 2009; BPS, diolah pusat BKP

Lampiran 2. Perkembangan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan


Tahun 2005 2010*)
(000 ton)
Tahun

Komoditi
Padi
Jagung
Kedelai
Kacang Tanah
Kacang Hijau
Ubi Kayu
Ubi Jalar

2005
54.151
12.524
808
836
321
19.321
1.857

2006
54.455
11.609
748
838
316
19.987
1.854

2007
57.157
13.288
593
789
322
19.988
1.887

2008
60.326
16.317
776
770
298
21.757
1.882

2009
64.399
17.630
975
778
314
22.039
2.058

*)

2010
66.411
18.364
908
780
292
23.908
2.051

Pertumb.
(%)
4,19
8,43
4,30
-1,34
-1,75
4,42
2,07

Sumber : BPS
Keterangan : *) Angka Sementara

97

Lampiran 3. Persentase Rumah Tangga Pertanian di Jawa dan Luar Jawa dengan
Sumber Pengahasilan Utama
Sumber Penghasilan
Jawa (%)
Luar Jawa
Indonesia (%)
Utama
(%)
Tanaman Pangan
32,47
31,97
32,24
Hortikultura
4,89
3,94
4,45
Perkebunan
4,81
29,52
16,09
Kehutanan
1,38
0,26
0,87
Peternakan
4,52
3,16
3,90
Perikanan
1,94
4,13
2,94
Pertanian Lain
1,23
2,00
1,58
Buruh Pertanian
9,43
4,94
7,38
Luar Pertanian
39,34
20,07
30,54
Sumber: BPSdalam Renstra Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tahun 20102014
Lampiran 4. Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Tanaman Ubi Jalar di
Beberapa Provinsi Indonesia Tahun 2011
Provinsi
Luas Panen
Produktivitas
Produksi (ton)
(Ha)
(Kw/Ha)
Sumatera Utara
13.629
123,03
167.680
Jawa Barat
28.033
150,62
422.228
Jawa Tengah
8.127
179,28
145.698
Jawa Timur
14.340
152,95
219.324
Nusa Tenggara Timur
15.160
82,49
125,048
Papua
35.810
101,05
361.870
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2011

Lampiran 5. Luas panen-Produktivitas-Produksi Tanaman Ubi Jalar


Provinsi Jawa Barat
Tahun

Luas Panen
(Ha)

Produktivitas(Ku/Ha)

Produksi
(Ton)

2007
2008
2009
2010
2011

28 096
27 252
33 387
30 073
28 033

133,73
138,15
140,67
143,32
150,62

375 714
376 490
469 646
430 998
422 228

Keterangan : Data Tahun 2011 adalah Angka Ramalan III.


Sumber : Badan Pusat Statistik, 2011

98

Lampiran 6. Produksi, Luas panen, dan Produktivitas Ubi Jalar di Beberapa


Kecamatan di Kabupaten Bogor 2007-2008
No

Kecamatan

2007

2008

Produksi (ton)

Luas
Panen
(Ha)

Produktivitas (ton/ha)

Produksi (ton)

Luas
Panen
(Ha)

Produktivitas (ton/ha)

8.857

291

14,59

8.732

603

14,48

Tenjolaya

Cibungbulang

244

655

14,35

8.822

601

14,68

3
4
5

Ciampea
Dramaga
Megamendung

2.540
2.040
2.604

122
135
152

14,61
14,57
13,71

8.576
2.720
3.644

586
190
269

14,63
14,32
13,55

Sumber: BPS Kabupaten Bogor 2009

99

Lampiran 7. Output Frontier 4.1 Cobb-Douglas


Output from the program FRONTIER (Version 4.1c)
instruction file = terminal
data file =
b-dta.txt
the ols estimates are :
coefficient
standard-error
t-ratio
beta 0
0.15646305E+01
0.63238341E+00
0.24741802E+01
beta 1
0.77955046E+00
0.11651197E+00
0.66907329E+01
beta 2
0.47402077E-02
0.43662874E-01
0.10856380E+00
beta 3
0.95086622E-01
0.16515517E+00
0.57574113E+00
beta 4
0.20910603E-01
0.35892061E-01
0.58259687E+00
beta 5
-0.67089973E-01
0.32809789E-01
-0.20448158E+01
beta 6
-0.76976047E-01
0.39488253E-01
-0.19493404E+01
beta 7
0.28053361E-01
0.29886929E-01
0.93864985E+00
sigma-squared 0.20197388E+00
log likelihood function = -0.17128106E+02
the final mle estimates are :
coefficient
standard-error
beta 0
0.22932925E+01
0.62809119E+00
beta 1
0.79904093E+00
0.10999768E+00
beta 2
-0.10633516E-02
0.31867162E-01
beta 3
0.18192212E+00
0.13922626E+00
beta 4
0.61482233E-01
0.31699894E-01
beta 5
-0.63903571E-01
0.29937151E-01
beta 6
-0.99588106E-01
0.35987243E-01
beta 7
0.21225518E-02
0.29337534E-01
delta 0
0.12349210E+01
0.81411721E+00
delta 1
-0.22024088E-01
0.10696798E-01
delta 2
-0.94417290E-02
0.25227724E-01
delta 3
0.84595768E-02
0.87830439E-02
delta 4
0.66160053E+00
0.22411848E+00
delta 5
-0.13323815E-01
0.25247062E+00
delta 6
0.26232518E+00
0.19160583E+00
delta 7
-0.13666066E+00
0.15374437E+00
delta 8
0.90337597E-01
0.17140481E+00
delta 9
0.23246404E+00
0.25732509E+00
sigma-squared 0.95146750E-01 0.28309083E-01
gamma
0.99999999E+00
0.42489306E-04
log likelihood function = -0.79730133E+01
LR test of the one-sided error = 0.18310185E+02

t-ratio
0.36512095E+01
0.72641619E+01
-0.33368257E-01
0.13066653E+01
0.19395091E+01
-0.21345909E+01
-0.27673169E+01
0.72349359E-01
0.15168836E+01
-0.20589421E+01
-0.37426004E+00
0.96317141E+00
0.29520124E+01
-0.52773723E-01
0.13690877E+01
-0.88888232E+00
0.52704235E+00
0.90338663E+00
0.33609972E+01
0.23535334E+05

100

Lampiran 8. Output Frontier 4.1 Linier Berganda


Output from the program FRONTIER (Version 4.1c)
instruction file = terminal
data file =
a-dta.txt
the ols estimates are :
coefficient
standard-error
beta 0
-0.45404992E-01
0.48189339E+00
beta 1
0.16182887E+02
0.15607741E+01
beta 2
-0.51594744E-02
0.23416878E-01
beta 3
0.39958029E-01
0.12870683E-01
beta 4
-0.76191003E-04
0.61867954E-03
beta 5
-0.10476762E+00
0.13788879E-01
beta 6
-0.23066665E+00
0.53178122E-01
beta 7
0.12502479E-01
0.84923740E-02
sigma-squared 0.14818430E+01
log likelihood function = -0.52003917E+02
the final mle estimates are :
coefficient
standard-error
t-ratio
beta 0
0.58478542E+00
0.43504038E+00
beta 1
0.15866282E+02
0.13320080E+01
beta 2
-0.13346385E-01
0.18296637E-01
beta 3
0.36270559E-01
0.10782128E-01
beta 4
0.46774556E-03
0.71302204E-03
beta 5
-0.10471485E+00
0.11659904E-01
beta 6
-0.20899118E+00
0.49069053E-01
beta 7
0.13983410E-01
0.78310321E-02
delta 0
0.56057301E+01
0.20176402E+01
delta 1
-0.12222414E+00
0.39619305E-01
delta 2
-0.13877245E+00
0.11571339E+00
delta 3
0.73845877E-01
0.28428411E-01
delta 4
-0.10117960E-01
0.86291313E+00
delta 5
-0.29344096E+00
0.10783107E+01
delta 6
0.80775514E+00
0.75184726E+00
delta 7
-0.91948044E+00
0.65368281E+00
delta 8
0.11259729E+01
0.70635991E+00
delta 9
-0.14551309E+00
0.99242179E+00
sigma-squared 0.74412895E+00 0.22678952E+00
gamma
0.12498623E+00
0.34529814E+00
log likelihood function = -0.43141106E+02
LR test of the one-sided error = 0.17725623E+02

t-ratio
-0.94222069E-01
0.10368501E+02
-0.22033144E+00
0.31045773E+01
-0.12315100E+00
-0.75979791E+01
-0.43376231E+01
0.14722007E+01

0.13442095E+01
0.11911552E+02
-0.72944470E+00
0.33639516E+01
0.65600435E+00
-0.89807645E+01
-0.42591239E+01
0.17856407E+01
0.27783597E+01
-0.30849643E+01
-0.11992774E+01
0.25976083E+01
-0.11725352E-01
-0.27213025E+00
0.10743607E+01
-0.14066156E+01
0.15940499E+01
-0.14662424E+00
0.32811434E+01
0.36196612E+00

101

technical efficiency estimates :


firm year
eff.-est.
1 1
0.60688775E+00
2 1
0.93108641E+00
3 1
0.95279773E+00
4 1
0.35201988E+00
5 1
0.47857353E+00
6 1
0.83299569E+00
7 1
0.19241129E+00
8 1
0.41374286E+00
9 1
0.41009902E+00
10 1
0.65233257E+00
11 1
0.13105300E+00
12 1
0.48312822E+00
13 1
0.47333914E+00
14 1
0.91350980E+00
15 1
0.79473209E+00
16 1
0.16678930E+00
17 1
0.73408890E+00
18 1
0.17034694E+00
19 1
0.19389374E+00
20 1
0.20707499E+00
21 1
0.95494074E-01
22 1
0.60495389E+00
23 1
0.83184963E+00
24 1
0.17838283E+00
25 1
0.92166984E+00
26 1
0.81293210E+00
27 1
0.28056510E+00
28 1
0.91998186E+00
29 1
0.15907751E+00
30 1
0.73151873E+00
31 1
0.89741584E+00
32 1
0.96603533E+00
33 1
0.39501732E+00
34 1
0.93047508E+00
35 1
0.93290755E+00

mean efficiency = 0.56426227E+00

102

Lampiran 9. Foto Beberapa Kegiatan Usahatani Ubi Jalar di Desa Cikarawang

103