Anda di halaman 1dari 3

Dampak Positif PT.

Freeport
PT.Freeport mempunyai komitmen untuk memberi dampak positif bagi
masyarakat di tempat di mana PT.Freeport tengah melakukan kegiatan, karena hal ini
bukan saja merupakan strategi bisnis yang tepat, tetapi juga menjadi tanggung jawab
warga korporasi yang baik. Berkarya menuju pembangunan berkelanjutan ikut
memastikan lingkungan yang sehat bagi tenaga kerja PT.Freeport maupun masyarakat
di dalam wilayah kegiatan PT.Freeport yang hidup dan berkembang, yang sangat
penting bagi berlanjutnya keberhasilan PT.Freeport. Sebagai tamu dan salah satu
pemangku kepentingan utama di dalam masyarakat, PT Freeport Indonesia (PTFI)
mempunyai komitmen untuk menciptakan dan mendukung program pengalihan
keterampilan kepada masyarakat setempat serta menciptakan dampak positif yang
permanen setelah kegiatan pertambangan tidak ada lagi di wilayah itu.
Keterlibatan dan Pengembangan Masyarakat
Keterlibatan masyarakat merupakan suatu komitmen pembangunan
berkelanjutan yang mendasar. Tujuan PT.Freeport adalah untuk menyatukan asasasas pembangunan berkelanjutan, termasuk kebutuhan dan perhatian pemangku
kepentingan PT.Freeport ke dalam keputusan bisnis PT.Freeport serta memastikan
pencegahan, peringanan dan memperbaiki dampak sosial yang timbul dari kegiatan
operasi k PT.Freeport. PT Freeport Indonesia (PTFI) telah memberi kontribusi senilai
lebih dari 55 juta dolar AS melalui donasi sukarela, program pengembangan dan
investasi dalam masyarakat lainnya selama 2008.
Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. dan PTFI telah meluncurkan
Kebijakan Masyarakat baru yang disetujui Dewan Direksi perusahaan pada awal
2009, yang menegaskan komitmen PT.Freeport untuk melakukan peningkatan
berkesinambungan dipihak PT.Freeport atas evaluasi sosial, interaksi dengan
pemangku kepentingan, kemitraan dengan masyarakat serta program pengembangan
setempat.
Program keterlibatan pemangku kepentingan mencakup upaya memahami
kebutuhan masyarakat; menyediakan berbagai sumber daya, termasuk dukungan
teknis dan dana; menawarkan pengetahuan dan keterampilan dari perusahaan maupun
sumber daya eksternal; serta memberi semangat kepada karyawan sukarelawan untuk
membantu masyarakat PT.Freeport meningkatkan diri. Membantu untuk membangun
dan menjaga masyarakat sehat merupakan tanggung jawab bersama PTFI dengan
pemerintah daerah setempat, kelompok masyarakat, tokoh pengusaha dan tokoh
masyarakat lainnya. Adapun menjadi kepentingan semua pihak untuk menciptakan
masyarakat yang kuat serta ekonomi yang sehat dan bertahan yang mampu bertahan
dalam setiap kondisi baik dan buruk yang lazim terjadi pada industri pertambangan.

Dampak Negatif PT. Freeport


PT. Freeport Indonesia merupakan pertambangan emas terbesar di dunia yang
saham kepemilikannya hampir seluruhnya dimiliki oleh McMoRan Cooper & Gold
Inc. Lokasi penambangan di Papua memiliki dua tempat yaitu di Erstberg dan
Grasberg di kawasan Tembaga Pura kabupaten Mimika Provinsi Papua. Namun
dibalik kekayaan tanah Papua yang kaya akan bahan galian mineral yang sangat
berharga tidak mampu mengangkat kesejahteraan warga sekitarnya dari jaman dulu
hingga sekarang masih saja lambat perkembangannya dibandingkan dengan daerah
pertambangan di wilayah Indonesia lainnya. Sepanjang sejarahnya PT. Freeport
Indonesia menorehkan beberapa kisah yang sangat merugikan bagi warga papua
maupun warga Indonesia secara keseluruhan.
Ditahun 2003 PT Freeport Indonesia mengaku mengaku telah membayar TNI
untuk mengusir penduduk di wilayah sekitar tambang untuk meninggalkan lokasi
pertambangan. Dikutip dari New York Times Desember tahun 2005, jumlah uang
yang dibayarkan dari tahun 1998-2004 hampir mencapai jumlah 20 juta dollar AS.
Kemudian ada juga tambahan 10 juta dolar (sekitar Rp 92 miliar) yang juga
dibayarkan kepada militer dan polisi pada jangka waktu itu sehingga totalnya sekitar
Rp 276 miliar. Freeport dilaporkan sering melakukan penganiayaan terhadap warga
sekitar, ditahun 2011 Petrus Ajam Seba seorang buruh dilaporkan terbunuh. Seorang
ahli antropologi asal Australia, Chris Ballard, yang pernah bekerja untuk Freeport,
dan Abigail Abrash, seorang aktivis HAM dari Amerika Serikat, memperkirakan,
sebanyak 160 orang telah dibunuh oleh militer antara tahun 19751997 di daerah
tambang dan sekitarnya.
Sebuah studi bernilai jutaan dolar tahun 2002 yang dilakukan Parametrix,
perusahaan konsultan Amerika, dibayar oleh Freeport dan Rio Tinto, mitra bisnisnya,
yang hasilnya tidak pernah diumumkan kepada publik mencatat, bagian hulu sungai
dan daerah dataran rendah basah yang dibanjiri dengan limbah tambang itu sekarang
tidak cocok untuk kehidupan makhluk hidup akuatik. Laporan itu diserahkan ke New
York Times oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. New York
Times berkali-kali meminta izin kepada Freeport dan pemerintah Indonesia untuk
mengunjungi tambang dan daerah di sekitarnya karena untuk itu diperlukan izin
khusus bagi wartawan. Semua permintaan itu ditolak. Freeport hanya memberikan
respon secara tertulis. Sebuah surat yang ditandatangani oleh Stanley S Arkin,
penasihat hukum perusahaan ini menyatakan, Grasberg adalah tambang tembaga,
dengan emas sebagai produk sampingan, dan bahwa banyak wartawan telah
mengunjungi pertambangan itu sebelum pemerintah Indonesia memperketat aturan
pada tahun 1990-an.

Nabib Nabiel Almusawa Komisi IV DPR menyampaikan masyarakat sekitar


freeport kesulitan mendapatkan air bersih karena kerusakan hutan dan limbah yang
mencemari kawasan perairan, yang berasal dari buangan limbah PT freeport ke
badan sungai Ajkwa. Bukan hanya mengakibatkan susahnya air bersih tapi juga
menyebabkan biota sungai dan biota laut. Freeport telah membuang tailing dengan
kategori limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) melalui Sungai Ajkwa. Limbah ini
telah mencapai pesisir laut Arafura. Tailing yang dibuang Freeport ke Sungai Ajkwa
melampaui baku mutu total suspend solid (TSS) yang diperbolehkan menurut hukum
Indonesia. Limbah tailing Freeport juga telah mencemari perairan di muara sungai
Ajkwa dan mengontaminasi sejumlah besar jenis mahluk hidup serta mengancam
perairan dengan air asam tambang berjumlah besar.
Hampir seluruh penduduk miskin Papua adalah warga asli Papua. Jadi
penduduk asli Papua yang miskin adalah lebih dari 66% dan umumnya tinggal di
pegunungan tengah, wilayah Kontrak Karya Frepoort. Kepala Biro Pusat Statistik
propinsi Papua JA Djarot Soesanto, merelease data kemiskinan tahun 2006, bahwa
setengah penduduk Papua miskin (47,99 %). Pendapatan Domestik Bruto (PDB)
Papua Barat memang menempati peringkat ke 3 dari 30 propinsi di Indonesi pada
tahun 2005. Namun Indeks Pembangunan Manusi (IPM) Papua, yang diekspresikan
dengan tingginya angka kematian ibu hamil dan balita karena masalah-masalah
kekurangan gizi berada di urutan ke-29. Lebih parah lagi, kantong-kantong
kemiskinan tersebut berada di kawasan konsesi pertambangan Freeport.