Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

PT. Freeport Indonesia merupakan salah satu perusahaan pertambangan terbesar di Indonesia
bahkan di dunia. Pertambangan Freeport di Indonesia berupa jenis Galian Emas, Perak, Tembaga
dan material ikutan lainnya. Lokasinya di Grasberg dan Eastberg, Pegunungan Jaya Wijaya,
Papua. Luas konsesi adalah19.000 km2 (Grasberg) dan 100 km2(Eastberg).
Freeport merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi devisa Negara.Namun, pertambangan
freeport juga menimbulkan masalah yang kompleks, mulai dari pencemaran lingkungan,
terutama lingkungan sekitar, sampai kepada masalah sosial.Pencemaran yang terjadi di Freeport
di antaranya pencemaran tanah dan air. Dengan adanya kegiatan penambangan yang dilakukan
oleh Freeport, sebenarnya telah menunjukkan ketidakberdayaan kita dalam mengelola kekayaan
alam Indonesia.

B.

Rumusan Masalah

1.

Bagaimana kondisi dan sejarah pertambangan yang dikelola PT. Freeport Indonesia?

2.

Bagaimana dampak fisik pertambangan freeport terhadap masyarakat Papua?

3.

Bagaimana dampak sosial pertambangan freeport terhadap masyarakat Indonesia?

4.

Bagaimana dampak pertambangan freeport terhadap masyarakat Indonesia?

C.

Tujuan

1.

Mengetahui kondisi dan sejarah pertambangan yang dikelola PT. Freeport Indonesia.

2.

Mengetahui dampak fisik pertambangan freeport terhadap masyarakat Papua.

3.

Mengetahui dampak sosial pertambangan freeport terhadap masyarakat Indonesia.

4.

Mengetahui dampak pertambangan freeport terhadap masyarakat Indonesia.

BAB II
LANDASAN TEORI

A.

Pengertian Pertambangan

Berdasarkan pengertian yang dilansir oleh wikipedia (2013), Pertambangan adalah


rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan,
pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batubara, panas bumi, migas)
Menurut Undang-Undang nomor 4 tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah nomor 22 tahun
2010, yang dimaksud dengan pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan
dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi
penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.
Pertambangan mempunyai beberapa karakteristik, yaitu tidak dapat diperbarui,
mempunyai resiko relatif lebih tinggi, dan menimbulkan dampak lingkungan, baik fisik maupun
sosial yang relatif lebih tinggi dibandingkan pengusahaan komoditas lain.

B.

Pengertian Tailing

Tailing adalah limbah batuan / tanah halus sisa pengerusan dan pemisahan (estraksi) mineral
yang berharga (tembaga, emas, perak) dengan bahan tambang. Tailing terdiri dari 50% praksi
pasir halus dengan diameter sekitar 0,075 0,4 mm dan 50 % terdiri dari praksi lempung dengan
diameter kurang dari 0,075 mm.
Bahan tambang baik itu batuan, pasir maupun tanah setelah digali dan dikeruk, lalu estrak bumi
(mineral berbahaya) yang persentasenya sangat kecil dipisahkan lewat proses pengerusan, bahan
tambang yang begitu banyak disirami dengan zat-zat kimia (cianida, mercury, Arsenik) lalu bijih
emas tembaga atau perak disaring oleh Carbon Filter, proses pemisahan dan penyaringan mineral
ini menyisakan Lumpur dan air cucian bahan tambang yang disebut tailing , mineral berharga
diambil, sedangkan tailing akan terbawa bersama zat-zat kimia yang mengandung logam
berat/beracun.

BAB III
PEMBAHASAN

A.

Sejarah dan Kondisi Pertambangan Freeport

Freport atau PT. Freeport Indonesia merupakan perusahaan pertambangan yang mayoritas
sahamnya milik Freeport-McMoran Copper and Gold Inc. Freeport McMoRan Copper and Gold
Inc. pada awalnya merupakan sebuah perusahaan kecil yang berasal dari Amerika Serikat yang
memiliki nama Freeport Sulphur, didirikan pada tahun 1981 melaluimerger antara Freeport
Sulphur, yang mendirikan PT Freeport Indonesia dan McMoRan Oil and Gas Company.
Perusahaan minyak ini didirikan oleh Jim Bob Moffet yang menjadi CEO Feeport McMoRan.
Sejak menemukan deposit emas terbesar dan tembaga terbesar nomor tiga di dunia yang terletak

di Papua, perusahaan ini berubah menjadi penambang emas raksasa skala dunia. perusahaan
Freeport adalah pembayar pajak terbesar kepada Indonesia.
PT. Freeport Indonesia telah beroperasi selama kurang lebih 46 tahun sejak 1967, dan kini
merupakan perusahaan penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg. PT. Freeport
Indonesia telah melakukan eksplorasi di Papua di dua tempat yaitu tambang Erstberg dari tahun
1967 dan tambang Grasberg pada tahun 1988 tepatnya dikawasan tembaga puri, kabupaten
Mimika, provinsi Papua.
PT. Freeport Indonesia telah mengetahui bahwa tanah di daerah Mimika Papua memiliki potensi
besar ada pertambangan emas terbesar di dunia, sehingga PT. Freeport Indonesia mulai
memasuki daerah Mimika pada tahun 1971 dengan membuka lahan awalnya di Erstberg.
Penandatanganan Kontrak Karya (KK) I pertambangan antara pemerintah Indonesia dengan
Freeport pada 1967, menjadi landasan bagi perusahaan ini mulai melakukan aktivitas
pertambangan. Tak hanya itu, KK ini juga menjadi dasar penyusunan UU Pertambangan Nomor
11/1967, yang disahkan pada Desember 1967 atau delapan bulan berselang setelah
penandatanganan KK.
Keberadaan dan operasional PT. Freeport Indonesia sejak 1967 hingga kini telah memberi
keuntungan yang sangat besar bagi perusahaan induknya, yakni Freeport McMoran di Amerika
Serikat. Hal ini terlihat dari jumlah penjualan Freeport pada tahun 2012, yaitu menjual 915.000
ons (28,6 ton) emas dan 716 juta pon (358 ribu ton) tembaga dari tambang Grasberg di Papua.
Hasil penjualan emas itu menyumbang 91% penjualan emas perusahaan induknya.
Berdasarkan laporan keuangan Freeport McMoran, total penjualan emas Freeport sebanyak 1,01
juta ons (31,6 ton) emas dan 3,6 miliar pon ( 1,8 juta ton) tembaga. Penjualan tembaga asal
Indonesia menyumbang seperlima penjualan komoditas sejenis bagi perusahaan induknya.
Harga komoditas pertambangan memang turun belakangan ini lantaran rendahnya permintaan di
pasar dunia. Namun, kondisi ini tidak terlalu berpengaruh terhadap keuntungan perusahaan.
Buktinya, laba Freeport naik sekitar 16 persen pada kuartal keempat tahun lalu menjadi USD 743
juta (Rp 7,2 triliun). Total pendapatan juga meningkat menjadi USD 4,51 miliar dari USD 4,16
miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Pada Maret 1973, Freeport memulai pertambangan terbuka di Ertsberg, kawasan yang selesai
ditambang pada tahun 1980 dan menyisakan lubang sedalam 360 meter. Pada tahun 1988,
Freeport mulai mengeruk cadangan raksasa lainnya, Grasberg, yang masih berlangsung saat ini.
Lubang tambang Grasberg telah mencapai diameter 2,4 kilometer pada daerah seluas 499 hektar
dengan kedalaman 800 meter. Diperkirakan terdapat 18 juta ton cadangan tembaga, dan 1.430
ton cadangan emas yang tersisa hingga rencana penutupan tambang pada 2041. Bahkan ada
spekulasi bahwa PT. Freeport Indonesia juga memproduksi uranium, suatu zat yang sangat dicari
oleh banyak negara di dunia untuk kebutuhan energi, walaupun sebenarnya hal ini belum terbukti
secara sah.

Aktivitas Freeport yang berlangsung dalam kurun waktu 46 tahun telah menimbulkan berbagai
dampak. Dampak yang ditimbulkan itu sangat kompleks dan semakin parah dalam kurun 5 tahun
terakhir, meliputi dampak fisik maupun dampak sosial

B.

Dampak Fisik Pertambangan Freeport

Kegiatan Pertambangan yang dilakukan oleh Freeport telah menimbulkan dampak fisik,
diantaranya adalah sebagai berikut.
1.

Tembaga yang dihamburkan dan pencemaran

Pengerukan dan pembuangan dilakukan tanpa pengolahan yang bersifat penghamburan tembaga
dan pencemaran lingkungan. Lebih dari 3 miliar ton tailing dan lebih dari empat miliar ton
limbah batuan akan dihasilkan dari operasi Freeport sampai penutupan pada tahun 2041. Secara
keseluruhan, Freeport-Rio Tinto menyia-nyiakan 53.000 ton tembaga per tahun, yang dibuang ke
sungai sebagai Air Asam Batuan (Acid Rock Drainage, ARD) dalam bentuk buangan (leachate)
dan tailing. Tingkat pencemaran logam berat semacam ini sejuta kali lebih buruk dibanding yang
bisa dicapai oleh standar praktik pencegahan pencemaran industri tambang.
2.

Air Asam Batuan (Acid Rock Drainage)

Hampir semua limbah batuan dari tambang Grasberg berpotensi membentuk asam. Limbah
batuan ini dibuang ke sejumlah tempat di sekitar Grasberg dan menghasilkan ARD dengan
tingkat keasaman tinggi mencapai rata-rata pH = 3. Kandungan tembaga pada batuan rata-rata
4.500 gram per ton (g/t) dan eksperimen menunjukkan bahwa sekitar 80% tembaga ini akan
terbuang (leach) dalam beberapa tahun.
3.

Tingkat racun tailing dan dampak terhadap perairan

Sebagian besar kehidupan air tawar telah hancur akibat pencemaran dan perusakan habitat
sepanjang daerah aliran sungai yang dimasuki tailing. Total Padatan Tersuspensi (TSS) dari
tailing secara langsung berbahaya bagi insang dan telur ikan, serta organisme pemangsa,
organisme yang membutuhkan sinar matahari (photosynthetic), dan organisme yang menyaring
makanannya (filter feeding).
4.

Logam berat pada tanaman dan satwa liar

Tailing Freeport mengandung tingkat racun logam selenium (Se), timbal (Pb), arsenik (As), seng
(Zn), mangan (Mn) dan tembaga (Cu) yang secara signifikan lebih tinggi. Konsentrasi dari
beberapa jenis logam tersebut yang ditemukan dalam tailing melampaui acuan US EPA dan
pemerintah Australia dan juga ambang batas ilmiah phytotoxicity. Hal ini menunjukkan
kemungkinan timbulnya dampak racun pada pertumbuhan tanaman.
Pengujian dan pengambilan sampel lapangan menunjukkan bahwa tanaman yang tumbuh di
tailing mengalami penumpukan logam berat pada jaringan (tissue), menimbulkan bahaya pada

mahluk hutan yang memakannya. Semua spesies hewan disekitar Freeport terkena dipastikan
terkena racun yang berasal dari logam
5.

Perusakan habitat muara

Tailing sungai Freeport-Rio Tinto akan merusak hutan bakau seluas 21 sampai 63 km2 akibat
sedimentasi. Kanal-kanal muara sudah tersumbat tailing dan dengan cepat menjadi sempit dan
dangkal. Kekeruhan air muara pun telah jauh melampaui standar yang diterapkan di Australia,
sehingga menghambat proses fotosintesa perairan.
6.

Kontaminasi pada rantai makanan di muara

Logam dari tailing menyebabkan kontaminasi pada rantai makanan di Muara Ajkwa. Daerah
yang dimasuki tailing Freeport menunjukkan kandungan logam berbahaya yang secara signifikan
lebih tinggi dibanding dengan muara-muara terdekat yang tak terkena dampak dan dijadikan
acuan. Logam berbahaya tersebut adalah tembaga, arsenik, mangan, timbal, perak dan seng.
Satwa liar di daerah hutan bakau terpapar logam berat karena mereka makan tanaman dan hewan
tak bertulang belakang yang menyerap logam berat dari endapan tailing, terutama tembaga.
7.

Gangguan ekologi

Adanya pengendapan tailing maka ekosistem yang berfungsi dan beraneka ragam dengan ikan
dan udang yang melimpah berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa bagian luar Muara
Ajkwa, termasuk daerah pantai Laut Arafura, mengalami penurunan jumlah hewan yang hidup
dasar laut (bottom-dwelling animals) sebesar 40% hingga 70%.
8.

Dampak pada Taman Nasional Lorenz

Taman Nasional Lorenz yang terdaftar sebagai warisan dunia, wilayahnya mengelilingi daerah
konsesi Freeport. Untuk melayani kepentingan tambang, luas taman nasional telah dikurangi.
Kawasan pinus pada situs Warisan Dunia ini terkena dampak air tanah yang sudah tercemar
buangan limbah batuan yang mengandung asam dan tembaga dari tailing Freeport-Rio Tinto.
9.

Regenerasi di Daerah Tumpukan Tailing

Tailing tambang pada akhirnya akan meliputi 230 km2 DAS Ajkwa, pada kedalaman hingga 17
meter. Daerah tailing ini kekurangan karbon organik dan gizi kunci lainnya, dengan kapasitas
menahan air yang sangat buruk. Kawasan DAS Ajkwa yang luas yang telah mengalami kematian
tumbuhan akibat tailing tidak akan pernah bisa kembali ke komposisi semula meski pembuangan
tailing berhenti.
10. Transparansi
Terlepas dari keharusan legal untuk menyediakan akses publik terhadap informasi terkait
lingkungan, perusahaan belum pernah mengumumkan dokumen-dokumen pentingnya. FreeportRio Tinto juga tak pernah mengumumkan laporan audit eksternal independen sejak 1999.
Dengan demikian perusahaan melanggar persyaratan ijin lingkungan.

C.

Dampak Sosial dan Budaya Pertambangan Freeport

Pertambangan Freeport menimbulkan dampak sosial dan budaya. Hal ini dapat dilihat dari sisi
kependudukannya. Pemukiman penduduk semakin tersingkir dan menjadiperkampungan kumuh
di tengah-tengah kawasan Industri tambang termegah di Asia.
Dengandemikian perkembangan tambang di tengah-tengah suku Amungme dan Kamoro inibuka
nnya mendatangkan kehidupan yang lebih baik, melainkan semakin
menyudutkanmereka menjadi kelompok marginal. Hal
ini semakin terdorong oleh semakin besarnya arusurbanisasi ke Timika dari daerah-daerah sekita
rnya dan dari pulau lain di Indonesia.
Dimanakehidupan homogen dimasa lalu seketika menghadapi tantangan dari luar dengan hadirny
aberbagai suku dan bangsa yang masuk wilayah adat suku Amungme dan Kamoro.
Persoalan lain yang paling
mendasar bagi masyarakat adat Amungme maupunmasyarakat adat Kamoro adalah perlunya pen
gakuan kepada mereka sebagai Manusia di atastanah mereka sendiri.
Persoalan martabat manusia harus dihargai oleh
siapapun. Kalaumartabat suku Amungme dan suku Kamoro dihargai sebagai manusia,
makapersolan PT. Freeport
harus diselesaikan dengan melibatkan kedua suku tersebut sebagai masyarakat adatpemilik sumb
er daya alam tambang tersebut.
Meski di tanah leluhurnya terdapat tambang emas terbesar di dunia, orang Papua
khususnya mereka yang tinggal di Mimika, Paniai, dan Puncak Jaya
pada tahun hanyamendapat rangking Indeks Pembangunan Manusia ke 212 dari 300an
lebih kabupaten di Indonesia. Hampir 70% penduduknya tidak mendapatkan akses terhadap air
yang aman, dan 35.2% penduduknya tidak memiliki akses terhadap fasilitas kesehatan. Selainitu,
lebihdari 25% balita juga tetap memiliki potensi kurang gizi.
Dampak lain dari kehadiran Freeport di Indonesia
adalah terjadinya berbagai kasuspelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM),
sebagai akibat protes masyarakat terhadap Freeport yang
terkesan tidak memperhatikan kesejahteraan masyarakat Adat Suku Amungme danKomoro yang
disebut sebagai pemilik tanah, emas, tembaga, hutan yang
kemudian dikuasaioleh pihak perusahaan. Dalam aksi protes,
masyarakat selalu berhadapan dengan pihakaparat keamanan (TNI/POLRI), yang
bertugas mengamankan Perusahaan, maka terjadilahpelanggaran Hak Asasi Manusia.
Kasus pelanggaran HAM di wilayah penambanganberlangsung cukup lama sejak hadirnya
Freeport hingga kini.
Dari data BPS, Jumlah orang miskin di tiga kabupaten tersebut, mencapai lebih dari 50% total
penduduk. Artinya, pemerataan kesejahteraan tidak terjadi.
Meskipunpengangguran terbuka rendah,
tetapi secara keseluruhan pendapatan masyarakat setempatmengalami kesenjangan.
Bisa jadi kesenjangan yang muncul antara para pendatang danpenduduk asli yang
tidak mampu bersaing di tanahnya sendiri. Bisa jadi pula, angkapresentase yang

menunjukkan kemiskinan, seperti akses terhadap air bersih, kurang gizi,


akses terhadap sarana kesehatan mengandung bias rasisme. Artinya,
kemiskinan dihadapioleh penduduk asli dan bukan pendatang.
Sedangkan dampak sosial dari pembuangan tailing
kesungai Aikwa terhadap keduasuku tersebut maupun suku-suku lain dari Papua,
dapat terlihat dekat dengan mata dimanakota Timika yang dulunya banyak dusun sagu yang
memberi makan bagi masyarakat adatKamoro, dan suku-suku lain dari Papua maupun Indonesia
yang tinggal di kota Timika telahrusak.
Akibatnya masyarakat tidak bisa mendapatkan sagu sebagai sumber makanan pokokmereka,
disamping itu berkembang pesatnya pembangunan yang didukung oleh Freeport
membuat suku Amungme dan Kamoro menjadi minoritas di
atas tanahnya sendiri. Denganperalatan sederhana, mereka,
baik pendatang maupun masyarakat local, beranimempertaruhkan nasib, bahkan nyawa, demi
mencari konsentrat emas. Kebetulan, metodepenambangan oleh Freeport memang tidak bisa
100% menangkap konsentrat emas yang adadalam bijih.

D.

Dampak Ekonomi Pertambangan Freeport

PT. Freeport Indonesia yang bergerak di bidang pertambangan memberikan manfaat ekonomi
langsung dan tidak langsung yang cukup besar bagi pemerintah di tingkat pusat, provinsi
maupun kabupaten, dan bagi perekonomian Papua dan Indonesia secara keseluruhan. Manfaat
langsung termasuk kontribusinya suatu perusahaan kepada negara, mencakup pajak, royalti,
dividen, iuran dan dukungan langsung lainnya. Kami merupakan penyedia lapangan kerja swasta
terbesar di Papua, dan termasuk salah satu wajib pajak terbesar di Indonesia.
Laba Freeport naik sekitar 16 persen pada kuartal keempat tahun lalu menjadi USD 743 juta (Rp
7,2 triliun). Total pendapatan juga meningkat menjadi USD 4,51 miliar dari USD 4,16 miliar
pada periode sama tahun sebelumnya.

BAB IV
PENUTUP

A.

Kesimpulan

Pertambangan Freeport adalah bukti kesalahan pengurusan pada sektor pertambangan di


Indonesia dan mudah tergodanya pemerintah akan penghasilan devisa yang instan.. Pemerintah
menganggap emas hanya sebatas komoditas devisa yang kebetulan berada di tanah Papua.
Padahal apabila dikelola sendiri, Tambang Freeport akan menghasilkan keuntungan ratusan kali
lipat yang didapatkan sekarang.

Dalam 5 tahun terakhir, kerusakan fisik berupa kerusakan lingkungan yang ditimbulkan akibat
Pertambangan Freeport semakin parah. Selain itu, Pertambangan Freeport juga menimbulkan
dampak sosial dan budaya yang kompleks. Dari dampak-dampak yang ditimbulkan, pemerintah
Indonesia masih tidak bergeming untuk menghentikan eksploitasi besar-besaran yang dilakukan
oleh Freeport. Pemerintah justru menyetujui perpanjangan masa kontrak Freeport hingga tahun
2041.
B.

Saran

1.
Melakukan evaluasi terhadap seluruh aspek pertambangan Freeport terutama aspek
pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.
2.
Melakukan perubahan Kontrak Karya Freeport yang lebih menguntungkan bagi negara
pada umumnya dan bagi rakyat Papua pada khususnya.
3.
Memberi fasilitas konsultasi penuh dengan penduduk asli Papua terutama yang berada di
wilayah operasi Freeport dan pihak berkepentingan lainnya mengenai masa depan pertambangan
tersebut.
4.
Memetakan dan mengkaji sejamlah skenario bagi masa depan Freeport, termasuk
kemungkinan penutupan, kapasitas produksi dan pengolahan limbah.