Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULAAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Belakangan ini pengguaan bahasa Indonesia baik dalam kehidupan nyata
maupun kehidupan fiksi, sudah mulai mengalami interverensi dan mulai bergeser
digantikan oleh penggunaan bahasa gaul. Dengan pemakaian bahasa gaul
pemakainya akan dikatakan orang modern atau orang kota dan bukan orang
daerah yang kurang modern. Anggapan seperti ini jelas salah, karena bahasa gaul
itu sangat dekat denagn bahsa betawi yang tidak lain adalah salah satu daerah juga
di Indonesia. Antara bahasa Indonesia dan bahasa gaul tentunya lebih modern dan
lebih maju bahasa Indonesia. Ini karena bahasa Indonesia merupakan bahasa
tingkat nasional yang merupakan gabungan dari bahasa daerah di Indonesia dan
bahasa asing. Sedangkan bahasa gaul merupakan bahasa tingkat daerah yang
berasal dari daerah betawi. Penggunan bahasa gaul dalam masyarakat luas di
Indonesia tentunya berdampak negatif terhadap pengguna bahasa Indonesia secara
baik dan benar pada saat ini dan masa yang akan datang. Saat ini masyarakat
sudah banyak menggunakan bahasa gaul dan pareahnya lagi generasi muda
Indonesia tidak lepas dari penggunaan bahasa gaul ini. Bahkan para generasi
muda inilah yang paling banyak menggunakan bahasa gaul daripada bahasa
Indonesia di krehidupan sehari-hari.
Penggunaan bahasa gaul dikalangan remaja dan anak muda sudah sangat
luas, dan sudah memprihatinkan, karena bahasa gaul yang mereka gunakan sudah
aneh-aneh. Penggunaannya sudah tidak tahu tempat dan suasana, dengan siapa
1

mereka bicara.Dengan terjadinya hal ini, sudah merusak keaalian dan kebakuan
bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia ialah bahasa yang terpenting di Negara Kesatuan
Republik Indonesia ini. Dengan menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan
benar, berati kita sudah menjunjung tinggi Bahasa Persatuan sebagaimana
tercantum dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Menjunjung tinggi
bahasa Indonesia bukan berarti kita melupakan bahasa daerah masing-masing.
Kita lebih baik berbahasa daerah daripada berbahasa gaul dalam situasi
yang tidak resmi. Mengapa demikian? Karena dengan kita menggunakan bahasa
daerah kita sudah melestarikan bahasa daerah yang merupakan pemerkaya bahasa
Nasional yang sekaligus pemerkaya bahasa Indonesia.

1.2 Perumusan Masalah


1)

Bagaimana bentukan kata bahasa gaul sebagai tutur remaja di Indonesia?

2)

Bagaimana struktur bahasa gaul sebagai tutur remaja di Indonesia ?

3)
Bagaimana pola makna bahasa gaul remaja Indonesia dalam karya tulis
remaja?
4)

Bagaimana eksistensi bahasa Indonesia saat ini ?

5)

Apa pengaruh eksistensi bahasa gaul terhadap Bahasa Indonesia ?

6)

Apa faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa gaul ?

7)
Bagaimana mengatasi perkembangan dan pemakaian bahasa gaul terhadap
remaja ?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian


1)
Mendeskripsikan bentukan kata bahasa gaul sebagai tutur remaja di
Indonesia
2)

Mendeskripsikan struktur bahasa gaul sebagai tutur remaja di Indonesia

3)
Mendeskripsikan pola makna bahasa gaul remaja Indonesia dalam karya
tulis remaja
4)

Menjelaskan eksistensi bahasa Indonesia saat ini

5)

Menjelaskan pengaruh eksistensi bahasa gaul terhadap Bahasa Indonesia

6)

Menjelaskan faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa gaul

7)
Menjelaskan cara mengatasi perkembangan dan pemakaian bahasa gaul
terhadap remaja.
1.4 Metodologi Penelitian
Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan
kuesioner sebagai teknik utama. Kuesioner dilakukan dengan mengisi beberapa
pertanyaan yang diberikan oleh penelit

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Asal Usul Bahasa

Hingga kini belum ada suatu teori pun yang diterima luas mengenai
bagaimana bahasa itu muncul di permukaan bumi. Ada dugaan kuat bahasa nonverbal muncul sebelum bahasa verbal. Teoretikus kontemporer mengatakan bahwa
bahasa adalah ekstensi perilaku social. Lebih dari itu, bahasa ucap bergantung
pada perkembangan kemampuan untuk menempatkan lidah secara tepat di berbagi
lokasi dalam sistem milik manusia yang memungkinkannya membuat berbagai
suara kontras yang diperlukan untuk menghasilkan ucapan.Kemampuan ini
mungkin berhubungan dengan kemampuan manusia lebih awal untuk
mengartikulasikan isyarat-isyarat jari-jemari dan tangan yang memudahkan
komunikasi noverbal. Konon, hewan primata (kera, monyet, gorila dan
sejenisnya) berevolusi sejak kira-kira 70 juta tahun lalu, dimulai dengan hewan
mirip tikus kecil yang hidup sejaman dengan dinosaurus.
Dulu, nenek moyang kita yang juga disebut Cro Magnon ini tinggal di
gua-gua. Mereka mempunyai sosok seperti kita, hanya saja lebih berotot dan lebih
tegap, mungkin karena hidup mereka peuh semangat dan makan makanan yang
lebih sehat. Mereka adalah pemburu dan pengumpul makanan yang berhasil.
Ketika mereka belum mapu berbahasa verbal, mereka berkomunikasi dengan
gambar-gambar yang mereka buat pada tulang, cadas dan dinding gua yang
banyak ditemukan di Spanyol dan Perancis Selatan. Mereka menggambarkan
4

bison, rusa kutub dan mamalia lainnya yang mereka buru. Inilah sarana pertama
yang dikenal manusia untuk merekan informasi.
Dalam tahap perkembangan berikutnya, antara 40.000 dan 35.000 tahun
lalu Cro Magnon mulai menggunakan bahasa lisan.Ini mungkin karena mereka
punya struktur tengkorak, lidah dan kotak suara yang mirip dengan yang kita
miliki sekarang. Kelebihan homo sapiens dari makhluk sebelumnya adalah
kemampuan mereka untuk mengembangkan salah satu jenis tanda yang disebut
dengan simbol atau lambang. Sedangkan makhluk hidup sebelumnya lebih
mengandalkan ikon, sinyal atau indeks dalam komunikasi mereka.Kemampuan
berbahasa inilah

yang membuat mereka terus bertahan hingga kini, tidak seperti makhluk mirip
manusia sebelumnya yang musnah. Karena Cro Magnon dapat berpikir lewat
bahasa, mereka mampu membuat rencana, konsep, berburu dengan cara yang
keras dan cuaca yang buruk. Mereka juga dapat mengawetkan makanan.
Sekitar 10.000 tahun Sebelum Makanan mereka menemukan cara-cara
bertani demi kelangsunagn hidup mereka. Pendek kata, homo sapiens semakin
makmur dari abad ke abad, karena mereka memiliki banyak pengetahuan untuk
bertahan hidup dan mengembangan budaya mereka, yang kemudian mereka
wariskan kepada generasi berikutnya. Mereka tidak hanya menggarap tanah dan
beternak tetapi juga mengembangkan teknologi termasuk penggunaan logam,
anyaman.Roda, kereta dan barang tembikar.Mereka juga punya waktu untuk

bersenangsenang, membuat inovasi dan berkontemplasi.Namun mereka belum


dapat menulis.Sementara itu, bahasa pun semakin beraneka ragam.Cara bicara
baru berkembang ketika orang-orang menyebar ke kawasan-kawasan baru tempat
mereka menemukan dan mengatasi problem-problem baru.Bahasa-bahasa lama
pun terus berevolusi dari generasi ke generasi.
Sekitar 5000 tahun lalu manusia melakukan transisi komunikasi dengan
memasuki era tulisan, sementara bahasa lisan pun terus berkembang. Transisi
paling dini dilakukan bangsa Sumeria dan bagsa Mesir kuno, lalu juga bangsa
Maya dan bangsa Cina yang mengembangkan sistem tulisan mereka secara
independen. Tahun 2000 Sebelum Masehi, papirus digunakan secara luas di Mesir
untuk menyampaikan pesan tertulis dan merekam informasi. Penyebaran sistem
tulisan itu akhirnya sampai juga ke Yunani.Bangsa Yunanilah yabg kemudian
menyempurnakan dan menyederhanakan sistem tulisan ini. Menjelang kira-kira
500 Sebelum Masehi, mereka telah menggunakan alfabet ini secara luas. Akhirnya
alfabet Yunani itu diteruskan ke Roma tempat sistem tulisan itu disempurnakan
lagi. Sistem tulisan dan bahasa lisan itu terus berkembang hingga kini.Kita pun
memasuki era pada abad ke 15, yang beberapa abad kemudian disusul oleh era
radio, era televisi dan kini era komputer.Kesemuanya merekam hasil peradaban
manusia untuk disempurnakan lagi oleh generasi-generasi mendatang lewat
kemampuan mereka dalam berbahasa.

2.2 Pengertian Bahasa


Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan
sesuatu yang terlintas di dalam hati.Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat
untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk
menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.Dalam studi
sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi,
bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.
Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah
komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.Sistem bahasa berupa
lambang-lambang bunyi, setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang
disebut makna atau konsep.Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau
menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan bahwa setiap
suatu ujaran bahasa memiliki makna.Contoh lambang bahasa yang berbunyi
nasi melambangkan konsep atau makna sesuatu yang biasa dimakan orang
sebagai makanan pokok.

2.3 Karakteristik Bahasa


Telah disebutkan bahwa bahasa adalah sebuah sistem berupa bunyi, bersifat
abritrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.Dari pengertian tersebut,
dapat disimpulkan bahwa di antara karakteristik bahasa adalah abritrer, produktif,
dinamis, beragam, dan manusiawi.
2.3.1

Bahasa Bersifat Abritrer

Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang


dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan
mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu.Secara kongkret, alasan
kuda melambangkan sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai
adalah tidak bisa dijelaskan. Meskipun bersifat abritrer, tetapi juga konvensional.
Artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang
dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya, lambang buku
hanya digunakan untuk menyatakan tumpukan kertas bercetak yang dijilid, dan
tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia
telah melanggar konvensi itu.

2.3.1

Bahasa Bersifat Produktif

Bahasa bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas,
namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas.Misalnya,
menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa
Indonesia hanya mempunyai kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000
buah kata tersebut dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
2.3.2

Bahasa Bersifat Dinamis

Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai
kemungkinan perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi
pada tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon.

Pada setiap waktu mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga
ada kosakata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
2.3.3

Bahasa Bersifat Beragam

Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena
bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar
belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam,
baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon.
Bahasa Jawa yang digunakan di Surabaya berbeda dengan yang digunakan di
Yogyakarta.Begitu juga bahasa Arab yang digunakan di Mesir berbeda dengan
yangdigunakan di Arab Saudi.
2.3.4

Bahasa Bersifat Manusiawi

Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia.Hewan tidak


mempunyai bahasa.Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa
bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia dalam
menguasai bahasa bukanlah secara instingtif atau naluriah, tetapi dengan cara
belajar. Hewan tidak mampu untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena itu
dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi.

2.4 Fungsi Bahasa dalam Kehidupan Manusia


Fungsi bahasa yang mendasar adalah untuk menamai atau menjuluki
orang, objek dan peristiwa. Setiap orang punya nama untuk identifikasi sosial.
Orang juga dapat menamai apa saja, objek-objek yang berlainan, termasuk
perasaan tertentu yang mereka alami. Penamaan adalah dimensi pertama bahasa

dan basis bahasa dan pada awalnya itu dilakukan manusia sesuka mereka, yang
lalu menjadi konvensi.Mengapa mataharidisebut matahari? Karena ia disebut
matahari! Adalah keliru menganggap sesuatu itu mempunyai hanya satu nama
yang benar. Benda yang kita terima dari tukang pos kita sebut surat. Ketika isinya
kita ketahui menawarkan barang atau jasa kita sebut iklan.Karena kita tidak
tertarik pada penawaran itu, benda itu kita buang ke keranjang sampah.Bagaimana
kita menjuluki Emha Ainun Najib?Budayawan, cendekiawan, seniman, pelukis,
kolumnis, kiai, penyanyi atau pelawak? Salah satu menjawabnya : Bergantung
pada apa yang sedang ia lakukan saat itu. Bila ia sedang berceramah agama, ia
kiai. Bila iamsedang menulis buku, artikel atau kolom ia penulis dan bila ia
penulis dan bila ia sedang menyanyi dengan iringan kelompok musiknya ia
penyanyi. Suatu objek mempunyai beberapa tingkat abstraksi.Ibu kita adalah ibu,
ibu adalah wanita, wanita adalah manusia, manusia adalah makhluk hidup dan
makhluk hidup adalah ciptaan Tuhan.Semakin luas kelasnya, semakin abstrak
konsep tersebut.Sepanjang hidup kita sebenarnya belajar mengabstraksikan segala
sesuatu.
Menurut Larry L.Barker, bahasa memiliki tiga fungsi: Penamaan (naming
atau labelling), interaksi dan transmisi informasi. Penamaan atau penjulukan
merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan, atau orang dengan
menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.Fungsi interaksi,
menurut Barker, menekankan berbagai gagasan dan emosi, yang dapat
mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan. Melalui
bahasa, informasi setiap hari, sejak bangun tidur hingga Anda tidur kembali, dari

10

orang lain, baik secara langsung atau tidak (melalui media massa misalnya).
Fungsi bahasa inilah yang disebut fungsi transmisi informasi yang lintas waktu,
dengan menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa depan, memungkinkan
kesinambungan budaya dan tradisi kita .Tanpa bahasa kita tidak mungkin bertukar
informasi; kita tidak mungkin menghadirkan semua objek dan tempat untuk kita
rujuk dalam komunikasi kita.
Dalam pada itu, Cansandra L. Book (1980), dalam Human
Communication: Principles, Contexts, and Skills, mengemukakan agar
komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memenuhi tiga fungsi, yaitu:
untuk mengenal dunia kita; berhubungan dengan orang lain; dan untuk
menciptakan koherensi dalam kehidupan kita. Fungsi pertama bahasa ini jelas
tidak terelakan. Melalui bahasa Anda mempelajari apa saja yang menarik minat
Anda, mulai dari sejarah suatu bangsa yang hidup pada masa lalu yang tidak
penah Anda temui, seperti bangsa Mesir kuno atau bangsa Yunani. Kita dapat
berbagi pengalaman, bukan hanya peristiwa masa lalu yang kita alami sendiri,
tetapi juga pengetahuan tentang masa lalu yang kita peroleh melalui sumber
kedua, seperti media cetak atau media elektronik. Kita juga menggunakan bahasa
untuk memperoleh dukungan atau persetujuan dari orang lain atas pengalaman
kita atau pendapat kita. Melalui bahasa pula Anda memperkirakan apa yang akan
dikatakan atau dilakukan seorang kawan Anda, seperti dalam kalimat Kemarin
kawan saya itu begitu marah kepada saya. Meskipun gambaran kita mengenai
masa depan tidak terlalu akurat, setidaknya bahasa memungkinkan kita
memikirkan, membicarakan dan mengantisipasi masa depan, misalnya apa yang

11

akan terjadi terhadap manusia dan alam semestaa berdasarkan dugaan yang
dikemukakan oleh para ahli ilmu pengetahuan dan orang bijak lainnya, juga
berdasarkan wahyu Tuhan atau sabda Nabi.
Fungsi kedua bahasa, yakni sebagai sarana untuk berhubungan dengan
orang lain, sebenarnya banyak berkaitan dengan fungsi sosial dan instrumental.
Ringkasnya, bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk
kesenangan kita dan mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan kita. Melalui
bahasa kita dapat mengendalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang sekitar
kita.Seorang nyonya rumah dapat memerintahkan, Tolong bawakan minuman
buat saya kepada pelayannya.Seorang kandidat dari sebuah partai politik dapat
menyampaikan gagasannya, namun sekaligus juga membujuk rakyat untuk
memilih partainya dan mempertimbangkan dirinya sebagai calon presiden yang
potensial. Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain bergantung tidak hanya
pada bahasa yang sama, namun juga pengalaman yang sama dan makna yang
sama yang kita berikan kepada kata-kita. Semakin jauh perbedaan antara bahasa
yang kita gunakan dengan bahasa mitra komunikasi kita, semakin sulit bagi kita
untuk mencapai saling pengertian. Meskipun orang Indonesia dan orang Malaysia
berbicara bahasa Melayu, atau orang Amerika dan orang Inggris berbicara bahasa
Inggris, mereka belum tentu mencapai kesepahaman, karena beberapa perbedaan
yang ada dalam kedua bahsa tersebut.
Sedangkan fungsi ketiga memungkinkan kita untuk hidup lebih teratur,
saling memahami mengenai diri kita, kepercayaan-kepercayaan kita, dan tujuantujuan kita.Kita tidak mungkin menjelaskan semua itu dengan menyusun kata-kata

12

secara acak, melainkan berdasarkan aturanaturan tertentu yang telah kita sepakati
bersama.Akan tetapi, kita tidak sebenarnya tidak dapat selamanya dapat
memenuhi ketiga fungsi bahasa tersebut, oleh karena itu, meskipun bahasa
merupakan sarana komunikasi dengan manusia lain, saran ini secara inheren
mengandung kendala, karean sifatnya yang cair dan keterbatasannya.Seperti
dikatakan S.I Hayakawa, Kata itu bukan objek. Bila orang-orang memaknai
suatu kata secara berbeda, maka akan timbul kesalapahaman di antara mereka.

2.5 Bahasa Gaul


2.5.1 Asal-usul Bahasa Gaul
Sejumlah kata atau istilah mempunya arti khusus, unik, menyimpang atau
bahkan bertentangan dengan arti yang lazim ketika digunakan oleh orang-orang
dari subkultur tertentu, bahasa Subkultur ini disebut bahasa khusus (special
language), bahasa gaul atau argot.
Bahasa gaul sebenrnya sudah ada sejak 1970-an. Awalnya istila-istilah
dalam bahasa gaul itu untuk merahasiakan obrolan dalam komunitas tertentu. Tapi
karena sering digunakan di luar komunitasnya, lama-lam istilah-istilah tersebut
jadi bahasa sehari-hari.
Bahasa prokem Indonesia atau bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas
Indonesiadan jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitaskomunitas Indonesia. Bahasa prokem yang berkembang di Indonesia lebih
dominan dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang mengalami

13

penyimpangan/pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang


menetap di Jakarta.
Akar dari bahasa gaul adalah bahasa prokem. Kata prokem sendiri
merupakan bahasa gaul preman. Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan
preman untuk berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Agar kalimat mereka
tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka merancang kata-kata baru dengan
cara antara lain mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan
angka-angka, penggantian fonem, distrubusi fonem, penambahan awalan, sisipan,
atau akhiran.
Karena begitu seringnya mereka menggunakan bahasa sandi mererka itu di
berbagai tempat, lama-lama orang awam pun mengerti yang mereka maksud.
Artinya mereka yang bukan preman pun ikut-ikutan menggunakan bini dalam
obrolan sehari-hari sehingga bahasa prokem tidal lagi menjadi bahasa rahasia.
Kalau enggak percaya coba deh Tanya bokap atau nyokap kita, tahu engga mereka
dengan istilah moakal,mokat, atau bokin. Kalau mereka engga mengerti artinya
berarti di masa mudanya dulu mereka bukan anak gaul.
Dengan motif yang lebih kurang sama dengan dengan preman, kaum waria
juga menciptakan sendiri bahasa rahasia mereka. Sampai sekarang kita masih
sering mendengar istilah bencong untuk menyebut seorang banci? Nah, kata
bencong itu sudah ada sejak awal 1970-an juga, ya hampir beramaan deh dngan
bahasa prokem. Pada perkembangannya, konon para waria atau banci inilah yang
paling rajin berkreasi menciptakan istilah-istilah baru yang kemudian
memperkaya bahasa gaul.

14

Kosakata bahasa gaul yang berkembang belakangan ini sering enggak


beraturan alias engga ada rumusnya. Sehingga kita perlu menghafal setiap kali
muncul istilah baru. Misalnya untuk sebuah lawakan yang engga lucu, kita bias
menyebutnya garing atau jayus. Ada juga yang menyebut jasjus.Untuk sesuatu
yang engga oke, biasa kita sebut cupu. Jayus dan cupu bias dibilang kosa kata
baru.

2.5.2 Pengertian Bahasa Gaul


Menurut Wikipedia bebas-hasil dari penelusuran situs google mengatakan
bahwa bahasa gaul atau bahasa prokem adalah ragam bahasa Indonesia non
standar yang lazim digunakan diJakarta pada tahun 1970-an yang kemudian
digantikan oleh ragam yang disebut sebagai bahasa gaul. Bahasa prokem ditandai
oleh kata-kata Indonesia atau kata dialek Betawi yang dipotong duafonemnya
yang paling akhir kemudian disisipi bentuk -ok- di depan fonem terakhir yang
tersisa. Misalnya, kata bapak dipotong menjadi bap, kemudian disisipi -okmenjadi bokap.Diperkirakan ragam ini berasal dari bahasa khusus yang digunakan
oleh para narapidana. Seperti bahasa gaul, sintaksis dan morfologi ragam ini
memanfaatkan sintaksis dan morfologi bahasa Indonesia dan dialek Betawi.
Bahasa gaul atau argot atau bahasa prokem adalah penggunaan kata-kata
dalam bahasa yang tidak resmi dan ekspresi yang bukan merupakan standar
penuturan dialek atau bahasa. Kata dalam bahasa gaul biasanya kaya dalam
domain tertentu, seperti kekerasan, kejahatan dan narkoba dan seks.

15

Bahasa prokem ini mengalami pergerseran fungsi dari bahasa rahasia


menjadi bahasa gaul. Dalam konteks kekinian, bahasa gaul merupakan dialek
bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau
komunitas tertentu (contohnya, kalangan homo seksual atau waria). Penggunaan
bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian
mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan
menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999.
Meskipun bahasa gaul sebenarnya merujuk kepada bahasa khas yang
digunakan setiap komunitas atau subkultur apa saja, bahas gaul lebih sering
merujuk pada bahasa rahasia yang digunakan dalam kelompok yang menyimpang,
seperti kelompok preman, kelompok penjual narkotika, kaum
homoseksual/lesbian, pelacur, dsb.
Saat ini bahasa gaul telah banyak terasimilasi dan menjadi umum
digunakan sebagai percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkngan social
bahkan dalam media-media popular seperti TV, radio, dunia perfilman nasional,
dan sering pula digunakan dalam bentuk publikasipublikasi yang ditunjukan untuk
kalangan remaja oleh majalah-majalah remaja popular.
Bahasa gaul umumnya digunakan di lingkungan perkotaan. Terdapat
cukup banyak variasi dan perbedaan dari bahasa gaul bergantung pada kota
tempat seseorang tinggal, utamanya dipengaruhi oleh bahasa daerah yang berbeda
dari etnis-etnis yang menjadi penduduk mayoritas dalam kota tersebut. Sebagai
contoh, di Bandung, Jawa Barat. Perbendaharaan kata dalam bahasa gaulnya
banyak mengandung kosakata-kosakata yang berasal dari bahasa sunda.

16

2.5.3 Ciri-ciri Bahasa Gaul


Berikut ini beberapa ciri dari bahasa gaul:
1) Kosakata khas: berkata bilang, berbicara ngomong, cantik kece, dia
doi, doski, kaya tajir, reseh berabe, ayah bokap, ibu nyokap, cinta
cintrong, aku gua, gue, gwa, kamu lu, lo, elu, dll.
2) Penghilangan huruf (fonem) awal: sudah udah, saja aja, sama ama,
memang emang, dll.
3) Penghilangan huruf h: habis abis, hitung itung, hujan ujan, hilang
ilang, hati ati, hangat anget, tahu tau, lihat liat, pahit pait, tahun
taon, bohong boong, dll.
4) Penggantian huruf "a" dengan "e": benar bener, cepat cepet, teman
temen, cakap cakep, sebal sebel, senang seneng, putar puter, seram
serem.
5) Penggantian diftong "au", "ai" dengan "o" dan "e": kalau kalo, sampai
sampe, satai sate, gulai gule, capai cape, kerbau kebo, pakai pake,
mau (bukan diftong) mo, dll.
6) Pemendekan kata atau kontraksi dari kata/frasa yang panjang: terima kasih
makasi/trims,
bagaimana gimana, begini gini, begitu gitu, ini nih, itu tuh.
Pengunaan Imbuhan
1) Peluluhan sufiks me-, pe- seperti: membaca baca, bermain main,
berbelanja belanja,

17

membeli beli, membawa bawa, pekerjaan kerjaan, permainan mainan,


dst.
2) Penggunaan akhiran "-in" untuk menggantikan akhiran "-kan": bacakan
bacain, mainkan mainin, belikan beliin, bawakan bawain, dst.
3) Nasalisasi kata kerja dengan kata dasar berawalan 'c': mencuci nyuci,
mencari nyari,
mencium nyium, menceletuk nyeletuk, mencolok nyolok
4) Untuk membentuk kata kerja transitif, cenderung menggunakan proses
nasalisasi. Awalan "me-", akhiran "-kan" dan "-i" yang cukup rumit dihindarkan.
- Proses nasalisasi kata kerja aktif+ in untuk membentuk kata kerja transitif aktif:
memikirkan
mikirin, menanyakan nanyain, merepotkan ngerepotin, mengambilkan
ngambilin
- Bentuk pasif 1: di + kata dasar + in: diduakan diduain, ditunggui
ditungguin, diajari diajarin, ditinggalkan ditinggalin

Bentuk pasif 2: ke + kata dasar yang merupakan padanan bentuk pasif "ter-"
dalam bahasa Indonesia baku: tergaet kegaet, tertimpa ketimpa, terpeleset
kepeleset, tercantol kecantol, tertipu ketipu, tertabrak ketabrak

2.5.4 Contoh Bahasa Gaul


Kebanyakan partikel mampu memberikan informasi tambahan kepada orang lain
yang tidak dapat dilakukan oleh bahasa Indonesia baku seperti tingkat keakraban

18

antara pembicara dan pendengar, suasana hati/ekspresi pembicara, dan suasana


pada kalimat tersebut diucapkan.
-

Deh/ dah(Bagaimana kalau ...)

Coba dulu deh.(tidak menggunakan intonasi pertanyaan) - Bagaimana kalau


dicoba dulu?
-

Dong(Tentu saja ...)

Sudah pasti dong. Sudah pasti / Tentu saja.


Mau yang itu dong Tentu saja saya mau yang itu.
-

Eh(Pengganti subjek, sebutan untuk orang kedua)

Eh, namamu siapa? - Bung, namamu siapa?


Eh, ke sini sebentar. - Pak/Bu, ke sini sebentar.
Ke sini sebentar, eh. - Ke sini sebentar, Bung.
-

Kan(Kependekan dari 'bukan', dipakai untuk meminta

pendapat/penyetujuan orang lain (pertanyaan))


Bagus kan? - Bagus bukan?
Kan kamu yang bilang? -Bukankah kamu yang bilang demikian?
Dia kan sebenarnya baik. -Dia sebenarnya orang baik,bukan?
-

Kok(Kata tanya pengganti 'Kenapa (kamu)')

Kok kamu terlambat? Kenapa kamu terlambat?


-

Lho/Loh(Kata seru yang menyatakan keterkejutan. Bisa digabung dengan


kata tanya. Tergantung

intonasi yang digunakan, partikel ini dapat mencerminkan bermacam-macam


ekspresi)

19

Lho, kok kamu terlambat? -Kenapa kamu terlambat? (dengan ekspresi heran)
Loh, apa-apaan ini! Apa yang terjadi di sini? (pertanyaan retorik dengan
ekspresi terkejut/marah)
-

Nih(Kependekan dari 'ini')

Nih balon yang kamu minta. -Ini (sambil menyerahkan barang). Balon yang kamu
minta.
Nih, saya sudah selesaikan tugasmu. - Ini tugasmu sudah saya selesaikan.
-

Sih(Karena ...)

Dia serakah sih. - Karena dia serakah. (dengan ekspresi mencemooh)


Kamu sih datangnya terlambat .- Karena kamu datangterlambat. (dengan ekspresi
menyesal)
-

Tuh/ tu(Kependekan dari 'itu', menunjuk kepada suatu objek)

Lihat tuh hasil dari perbuatanmu. - Lihat itu, itulah hasil dari perbuatanmu.
Tuh orang yang tadi menolongku. - Itu lihatlah, itu orang yang menolongku.
-

Yah(Selalu menyatakan kekecewaan dan selalu digunakan di awal kalimat


atau berdiri sendiri.)

Yah, Indonesia kalah lagi -Indonesia kalah lagi (dengan ekspresi kecewa)
Bahasa gaul dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis lagi, ada yang
disebut bahasa
gaul kaum selebritis, kaum gay dan lesbian atau kaum waria. Bahasa ini
digunakan untuk
memproteksi kelompok mereka dari komunitas lain. Sehingga komunikasi yang
mereka lakukan,

20

hanya kelompok mereka saja yang mengerti.


1) Bahasa kaum selebritis
Perhatikan kata-kata yang sering digunakan oleh kalangan selebritis dalam bahasa
gaul yaitu:
- Baronang = baru
- Cinewinek = cewek
- Pinergini = pergi
- Ninon tinon = nonton
2) Bahasa gay dan bahasa waria
Di negara kita bahasa gaul kaum selebritis ternyata mirip dengan bahasa gaul
kaum
gay (homoseksual) dan juga bahasa gaul kaum waria atau banci. Sekelompok
mahasiswa saya
dari Fikom Unpad, berdasarkan penelitian mereka atas kaum gay di Bandung
menemukan
sejumlah kata yang mereka gunakan, misalnya adalah:
- Cinakinep = Cakep
- Duta = Uang
- Kemek = Makan
- Linak = Laki-laki
- Maharani = Mahal
- Jinelinek = Jelek
3) Bahasa kaum waria

21

Bahasa adalah sebagian dari bahasa gaul yang dianut sebuah komunitas banci
(waria), seperti yang diperoleh sekelompok mahasiswa berdasarkan wawancara
dengan seorang waria.
- Akika/ike = aku
- Bis kota = besar
- Cakra = ganteng
- Cucux = cakep/keren
- Diana = dia
- Inang = Iya
2.5.5 Dampak Negatif Bahasa Gaul
a. Segi ekonomi
Bahasa gaul ditawarkan dan dikonsumsi oleh masyarakat modern yang
mempunyai ciri agar gaya hidup meningkat, akan tetapi bagi kelompok sosial
yang mudah dibentuk oleh pasar akan terjadi kontraksi antara nilai tradisional dan
masyarakat modern. Sehingga menggiring kaum muda untuk tidak hemat pada
pola hidup yang sederhana. Apabila sikap ini bila dipupuk akan menimbulkan
masalah sosial besar. Bagi yang mengkonsumsi bahasa gaul maka mempengaruhi
pola hidup yang serba gemerlap. Bila remaja yang tingkat sosialnya rendah bisa
jadi timbul rasa prustasi, secara psikologis menimbulkan akibat yang buruk
karena bahasa gaul sering digunakan para remaja modern yang tingkat sosialnya
tinggi.
Dengan adanya bahasa gaul akan mempengaruhi perilaku remaja, untuk itu remaja
dididik untuk

22

mengkonsumsi barang-barang tertentu sebagai indikator bahwa mereka adalah


bagian dari remaja gaul tadi, remaja berkeinginan untuk memiliki barang-barang
yang baru sedangkan yang lama dianggap sudah ketinggala jaman dan remaja
merasa rendah apabila bertemu atau berkomunikasi dengan teman-temannya
karena bahasa atau barang-barangnya tidak gaul.
b. Segi norma susila
Salah satu gejala negatif bahasa gaul mempunyai dampak pada prilaku yang tidak
baik bila
digunakan pada orang yang lebih tua (orang tua). Untuk itu bahasa gaul kurang
baik karena keluar dari tatanan norma sopan santun.
c. Segi norma agama
Karena ingin disebut tren sehingga sering kali membuat orang lepas dari etika
moral bahkan lepas dari nilai agama, sehingga bila sering menggunakan bahasa
gaul maka akan terpengaruh dengan berpakaian gaul (ketat, transparan atau bukabukaan) padahal memperlihatkan aurot dalam agama kita dianggap primitif,
bahkan berpengaruh pada pacaran yang sama-sama gaul (kelompok konsumsi
bahasa gaul). Bahkan akan lebih gawat apabila mengarah pada hubungan sek
diluar nikah karena sudah saling menyenangi/kecocokan dalam pembicaraan yang
menggunakan bahasa gaul.
Dengan adanya majalah-majalah, telebisi, serta musik yang merupakan media
informasi yang
sehari-hari dapat diperoleh oleh para remaja akan cepat tersebarnya bahasa gaul,
apalagi dalam

23

media ini ditampilkan tokoh-tokoh yang terkenal yang menjadi idola para remaja
tersebut.
d. Segi budaya
Bahasa gaul memang menambah kasanah budaya bangsa kita, akan tetapi apabila
bahasa tersebut
kurang terkontrol maka akan mengakibatkan penambahan budaya yang norak,
kebarat-baratan,
imitasi yang menimbulkan modernisasi yang tidak benar.
2.6 Hipotesis
Seiring dengan perkembangan zaman penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja
makin meluas dan sudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari remaja.
Penggunaan bahasa gaul di kalangan remaja dapat mempengaruhi perilaku
remaja.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu

: 13 november 2015 21 november 2015

Tempat: Area Universitas Pelita Harapan


3.2 Populasi
Populasi yang saya kami teliti ada Mahasiswa/i di UPH
3.3 Sampel
Sampel yang kami ambil adalah beberapa dari :
24

a) Universitas Pelita Harapan


3.4 Metode Analisis Data
Dari hasil angket tersebut, kami akan mengumpulkan
jawaban-jawaban yang didapat dari angket, kemudian akan
dianalisis dengan cara membandingkan jawaban-jawaban tersebut.
Metode analisis data yang digunakan adalah metode kuantitatif dan
kualitatif. Kami menggunakan metode kuantitatif untuk menghitung
jumlah persentase dan kualitatif untuk mendeskripsikan hasil
persentase ini.

3.5 Objek Penelitian


Bahasa gaul yang biasanya muncul karena sering digunakannya istilahistilah baru oleh pengguna bahasa, dapat mempererat pergaulan dan memperkaya
perbendaharaan bahasa Indonesia. Bahasa gaul termasuk salah satu variasi bahasa
yang digunakan masyarakat terutama dari kalangan selebritis dan kalangan muda
sebagai bahasa santai dalam komunikasi sehari-hari untuk menambah rasa
keakraban dan keintiman di antara mereka.
Penggunaan bahasa gaul oleh kalangan remaja memiliki banyak kemenarikan jika
dicermati secara mendalam. Bahasa gaul yang digunakan oleh kalangan tersebut
akan menciptakan suasana khusus dalam proses komunikasi. Hal ini disebabkan
oleh beberapa hal, di antaranya adalah:
1. Bahasa gaul muncul dan digunakan oleh masyarakat dan bahasa gaul sifatnya
asing bagi masyarakat lain di luar pemakainya;
2. Bahasa gaul berbeda dengan bahasa sandi yang digunakan oleh suatu organisasi
tertentu;
25

3. Bahasa gaul memiliki ciri tersendiri dalam penggunaannya yang berbeda


dengan bahasa masyarakat pada umumnya;
4. Bahasa gaul mempunyai sifat-sifat kerahasiaan tertentu bagi masyarakat di luar
pemakainya;
5. Bahasa gaul berdampingan dengan bahasa yang telah lazim, dan biasanya
digunakan oleh masyarakat pada umumnya
3.6 Metode Penelitian
Metode penelitian yang kami gunakan adalah observasi dan penelusuran
pustaka. Kami melakukan observasi dengan membagikan kuisioner kepada
beberapa mahasiswa di beberapa kampus. Selain itu kami juga mencari informasi
mengenai Bahasa gaul melalaui penelusuran pustaka.

BAB IV
Hasil dan Pembahasan
Diketahui dari 15 mahasiswa Universitas Pelita Harapan
jurusan Teknik Industri yang sudah kami survei tentang " Bahasa Gaul

Terhadap Perilaku Pengaruh Remaja", didapat hasil sebagai berikut:

26

4.1 Bagaimana pengaruh bahasa gaul pada tutur kata remaja di Indonesia ?

12

10

Sangat Berpangaruh

Biasa Saja

Tidak Berpangaruh

Terhitung 11 orang menjawab Sangat Berpangaruh


sementara 3 orang menjawab Biasa Saja, 1 orang menjawab Tidak
Berpangaruh. Cukup signifikan dari grafik diatas kita dapat

27

menyimpulkan bahwa lebih dari 73% mahasiswa berpendapat


Bahasa gaul sangat berpengaruh pada setiap remaja di Indonesia.

4.2 Bagaimana pengaruh bahasa gaul saat membuat makalah atau


karya tulis ?
8
7
6
5
4
3
2
1
0

Sangat Berpangaruh

Biasa Saja

Tidak Berpangaruh

28

Diketahui jawaban dari 7 orang yang menjawab Sangat


Berpangaruh akan pengaruh bahasa gaul saat membuat makalah, dan 6
orang saja yang menjawab Biasa Saja, diikutin dengan 2 orang
yang menjawab Tidak Berpengaruh. Disini terlihat bahwa 46,7%
mengatakan bahwa Bahasa gaul sangat berpangaruh dalam
pembuatan makalah.

4.3 Apakah anda menggunakan bahasa gaul dengan teman sebaya ?


14
12
10
8
6
4
2
0

Iya

Tidak

29

Dari hasil survei kami selanjutnya, yaitu Apakah anda

menggunakan bahasa gaul dengan teman sebaya, 13 orang menjawab Ya,


dan hanya 2 orang saja yang menjawab Tidak. Hampir 86,7%
persen menjawab bahwa mereka menggunakan Bahasa gaul
dengan teman sebaya.

4.4 Apakah pada saat ini masih banyak yang menggunakan bahasa
baku dalam komunikasi ?

30

12

10

Ada

Tidak Ada

Hasil survei apakah Apakah pada saat ini masih banyak yang

menggunakan bahasa baku dalam komunikasi hasilnya yaitu 11 orang


menjawab Ya, dan 4 orang menjawab Tidak. Disini terbukti bahwa
setiap orang masih ada yang memakai Bahasa baku dalam
berkomunikasi.

4.5 Berpengaruhkah eksistensi bahasa gaul terhadap Bahasa


Indonesia ?
31

12

10

Sangat Berpangaruh

Biasa Saja

Tidak Berpengaruh

Terhitung 11 orang menjawab Sangat Berpangaruh


sementara 3 orang menjawab Biasa Saja, 1 orang menjawab Tidak
Berpangaruh. Cukup signifikan dari grafik diatas kita dapat
menyimpulkan bahwa lebih dari 73,3% mahasiswa berpendapat
Bahasa gaul sangat berpangaruh pada eksistensi Bahasa Indonesia.

BAB V
Penutup
5.1 Kesimpulan
Dari uraian pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan antara lain:
1. Bahasa gaul telah banyak terasimilasi dan menjadi umum. Bahasa gaul
sering digunakan sebagai

32

percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam media


populer.
2. Bahasa gaul sudah muncul sejak 1970-an yaitu bahasa prokem. Pada tahun
yang sama kaum waria
juga ciptakan bahasa mereka sendiri, kemudian bahasa kaum banci ini menjadi
bahasa pergaulan
anak muda secara umum. Kata-kata bahasa inggris juga makin marak disisipkan
dalam percakapan
sehari-hari.
3. Kebanyakan remaja dan anak muda kurang menerapkan penggunaan
Bahasa Indonesia yang baku
sesuai kaidahnya karena tidak biasa dalam kehidupan sehari-hari.
4. Bahasa gaul umumnya digunakan di lingkungan perkotaan, tetapi saat ini
sudah merambah ke
daerah pinggiran atau pedesaan. Terdapat banyak variasi dan perbedaan dari
bahasa gaul.
Bergantung pada tempat seseorang tinggal.
5. Bahasa indonesia merupakan bahasa nasional yang harus diutamakan
penggunaannya.

33

5.2 Saran
Dari kesimpulan yang ditulis diatas, penulis dapat memberikan
beberapa saran antara lain:
1. Para remaja dan anak muda harus biasa menggunakan bahasa indonesia
yang baku sesuai dengan
kaidahnya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Dalam forum resmi hendaknya masyarakat khususnya para remaja dan
anak muda tetap
menggunakan tatanan bahasa indonesia yang baku.
3. Media-media cetak atau elektronik harus tetap menggunakana tatanan
Bahasa Indonesia yang
baku dalam menyajikan informasi kepada masyarakat.
4. Menyadarkan masyarakat Indonesia terutama para generasi muda, bahwa
Bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional harus diutamakan penggunaanya.
5. Meningkatkan pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah dan perguruan
tinggi dengan tugas praktik
dialog atau monolog seperti dalam bermain drama, penulisaan artikel makalah
dsb.

34

Daftar Pustaka
http://adiprakosa.blogspot.com/2008/10/komunikasi-verbal-dan-non-verbal.html.,
diakses pada tanggal 17
November 2015.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/12/antara-bahasa-gaul-prokem-danbahasa-alay-486171.html.,
diakses pada tanggal 17 November 2015.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_prokem_Indonesia, diakses pada tanggal 18
November 2015
http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_gaul, diakses pada tanggal 18 November
2015.
http://klitihengineering.blogspot.com/2012/06/dampak-bahasa-gaul.html, diakses
pada tanggal 19
November 2015.
http://ekorizalsaputra.wordpress.com/2012/11/24/makalah-penggunaan-bahasagaul-di-kalanganremaja/,
diakses pada tanggal 19 November 2015.
http://www.tumbuh-kembang-anak.blogspot.com/, diakses pada tanggal 20
November 2015

35

Lampiran
Pertanyaan-pertanyaan pada metode angket mengenai

Bahasa Gaul Terhadap Perilaku Pengaruh Remaja, dibatasi dengan ruang


lingkup mahasiswa-mahasiswi Universitas Pelita Harapan, tanggal
13 21 november 2015.

1. Bagaimana pengaruh bahasa gaul pada tutur kata remaja di Indonesia ?


a) Sangat Berpangaruh
b) Biasa Saja
c) Tidak Berpangaruh
2. Bagaimana pengaruh bahasa gaul saat membuat makalah atau karya
tulis ?
a) Sangat Berpangaruh
b) Biasa Saja
c) Tidak Berpangaruh
3. Apakah anda menggunakan bahasa gaul dengan teman sebaya ?
a) Iya
b) Tidak
4. Apakah pada saat ini masih banyak yang menggunakan bahasa baku
dalam komunikasi ?
a) Ada
b) Tidak Ada
5. Berpengaruhkah eksistensi bahasa gaul terhadap Bahasa Indonesia ?
a) Sangat Berpangaruh

36

b) Biasa Saja
c) Tidak Berpangaruh

37