Anda di halaman 1dari 11

OSTEONECROSIS

Avascular necrosis adalah kematian jaringan tulang akibat kurangnya pasokan darah. Juga
disebut sebagai osteonecrosis, avascular necrosis menyebabkan retakan di tulang dan bisa
memicu kerusakan total tulang.
Aliran darah ke tulang dapat terganggu jika tulang mengalami retak atau sendi mengalami
dislokasi.
Kejadian avascular necrosis juga dikaitkan dengan penggunaan jangka panjang obat steroid
dosis tinggi dan asupan alkohol berlebihan.
Pinggul adalah sendi yang paling sering terpengaruh oleh penyakit ini. Sementara bisa terjadi
pada siapa saja, avascular necrosis biasanya terjadi pada pria antara usia 30 tahun hingga 60
tahun.
Gejala
1. Banyak orang tidak mengalami gejala pada tahap awal avascular necrosis.
2. Saat penyakit bertambah parah, sendi yang terkena mungkin mulai terasa nyeri
terutama jika terdapat beban atau melakukan aktivitas fisik.
3. Akhirnya, pada tahap lanjut, nyeri akan terasa meskipun sedang tidak melakukan
aktivitas fisik.
4. Nyeri bisa ringan atau berat dan umumnya berkembang secara bertahap. Sendi yang
paling mungkin terpengaruh adalah pinggul, bahu, lutut, tangan, dan kaki.
5. Nyeri akibat avascular necrosis pada pinggul akan terasa pada lipatan paha, paha, atau
pantat.

Penyebab

Avascular necrosis terjadi ketika aliran darah ke tulang terganggu atau berkurang, yang
mungkin disebabkan oleh:
1. Cedera tulang atau sendi
Luka trauma, misalnya dislokasi sendi, dapat mengurangi suplai darah ke tulang yang
terpengaruh sehingga menyebabkan kematian tulang.
Pengobatan kanker yang melibatkan radiasi juga berpotensi melemahkan tulang dan
membahayakan pembuluh darah.
2. Tekanan di dalam tulang
Beberapa kondisi kesehatan, seperti anemia sel sabit atau penyakit Gaucher, dapat
meningkatkan tekanan di dalam tulang yang membuat darah segar lebih sulit untuk mengalir
masuk.
Faktor Risiko
Risiko seseorang mengalami avascular necrosis akan meningkat seiring seseorang yang
menderita penyakit tertentu, manjalani perawatan medis, atau minum alkohol berlebihan.
Berikut adalah beberapa faktor yang meningkatkan risiko avascular necrosis:
1. Minum alkohol berlebihan
Kebiasaan minum alkohol yang berlangsung selama beberapa tahun dapat menyebabkan
timbunan lemak dalam pembuluh darah.
Kondisi ini akan membatasi aliran darah ke tulang. Semakin banyak alkohol yang diminum
setiap hari, semakin tinggi risiko avascular necrosis.

2. Obat-obatan

Beberapa jenis obat dapat meningkatkan risiko avascular necrosis, termasuk:


- Steroid
Dosis tinggi dan jangka panjang kortikosteroid, seperti prednison, akan meningkatkan risiko
avascular necrosis.
Seperti alkohol, obat ini juga meningkatkan jumlah lemak dalam darah yang menyebabkan
penyumbatan pada pembuluh-pembuluh kecil yang mengarah ke tulang.
- Obat osteoporosis
Orang yang mengonsumsi bifosfonat jenis obat yang digunakan untuk membantu
menguatkan tulang pada osteoporosis berisiko mengalami osteonecrosis rahang.
Risiko menjadi lebih besar pada orang yang menerima dosis besar bifosfonat intravena untuk
melawan kerusakan yang disebabkan oleh kanker di tulang.
3. Kondisi kesehatan tertentu
Beberapa kondisi kesehatan yang mendasari peningkatan risiko avascular necrosis,
diantaranya:

HIV/AIDS

Lupus

Diabetes

Anemia sel sabit

4. Prosedur medis
Beberapa jenis prosedur medis meningkatkan risiko avascular necrosis, termasuk:

Pengobatan kanker seperti radiasi

Dialisis, suatu proses untuk membersihkan darah setelah gagal ginjal

Transplantasi ginjal dan organ lainnya

Apa Osteonekrosis Itu?


Tulang adalah bahan yang hidup dan tumbuh. Tulang mempunyai kerangka protein. Kalsium
memperkuat kerangka tersebut. Lapisan luar tulang mempunyai saraf dan jaringan pembuluh
darah yang kecil. Tulang terus-menerus diuraikan dan diperbarui.
Odha mengalami dua macam penyakit tulang dengan angka yang luar biasa tinggi:
yaituosteoporosis dan osteonekrosis. Masalah ini mungkin disebabkan oleh infeksi HIV
sendiri. Mungkin osteoporosis diburukkan oleh beberapa obat yang dipakai untuk mengobati
HIV.
Osteonekrosis berarti kematian tulang. Kehilangan aliran darah melaparkan sel yang
membuat tulang baru. Osteonekrosis juga disebut nekrosis avaskular (avascular
necrosis/AVN).
Bila osteonekrosis melanjutkan, pembuatan tulang tidak cukup untuk mengganti tulang yang
diuraikan. Bentuk tulang berubah, dan sendi tidak lagi bekerja dengan lembut. Hal ini
menyebabkan radang (artritis) dan nyeri.
Osteonekrosis biasanya berpengaruh pada tulang paha. Kepala (tombol) tulang paha
mendapatkan aliran darahnya dari hanya satu pembuluh darah. Bila pembuluh ini tersumbat
atau dihalangi, aliran darah ini ditutup dengan akibat osteonekrosis. Hal serupa dapat
berpengaruh pada bahu dan lutut.
Osteonekrosis jarang terjadi. Penyakit ini berpengaruh pada 10.000-20.000 orang di AS setiap
tahun. Statistik untuk Indonesia belum diketahui. Osteonekrosis umumnya ditemukan pada

laki-laki dan perempuan berusia 30-an, 40-an dan 50-an. Berbeda dengan osteoporosis,
penyakit ini tidak menjadi lebih lazim pada usia lanjut. Odha lebih sering mengalami
osteonekrosis dibandingkan populasi umum.

Apa Penyebab Osteonekrosis?


Osteonekrosis disebabkan oleh kehilangan aliran darah pada tulang. Hal ini dapat disebabkan
oleh patah tulang atau sambungan tulang terlepas. Tidak diketahui mengapa Odha cenderung
mengalami osteonekrosis. Beberapa penyakit dapat mengurangi aliran darah ke tulang. Di
beberapa kasus, lemak menyumbat pembuluh darah dalam tulang. Infeksi HIV dapat
menyebabkan masalah dengan metabolisme lemak. Tingkat lemak yang tinggi dalam darah
(lihat LI 123) dapat menyumbang pada gumpalan darah. Lebih banyak radang (LI 484) dapat
meningkatkan pembekuan darah dan juga meningkatkan risiko gumpalan darah.
Obat yang dipakai untuk mengurangi radang (kortikosteroid, mis. prednison atau
hidrokortison) dapat meningkatkan risiko osteonekrosis bila dipakai secara lama. Merokok
dan konsumsi alkohol secara berlebihan juga dikaitkan dengan osteonekrosis.
Tidak ada bukti yang mengaitkan penggunaan obat antiretroviral apa pun dengan
osteonekrosis.

Bagaimana Kita Tahu Kita Osteonekrosis?


Osteonekrosis mengakibatkan rasa sakit pada sendi. Rasa sakit pada daerah pinggul mungkin
tanda osteonekrosis. Pada awal, rasa sakit mungkin terjadi hanya waktu kita membebani
sendi. Dalam kasus lebih berat, rasa sakit dapat terus-menerus. Bila osteonekrosis terus
berlanjut, berjalan kaki dapat menjadi mustahil.
Pengamatan magnetic resonance imaging (MRI) dapat mendeteksi tahap awal osteonekrosis.
Rontgen dan pengamatan lain dapat mendeteksi kasus lanjut. Beberapa dokter memakai
pembedahan sebagai tes untuk osteonekrosis.

Bagaimana Kita Menghadapi Osteonekrosis?


Osteonekrosis kadang kala dapat pulih pada seorang yang sehat, terutama jika penyakit
diakibatkan cedera dari kecelakaan. Tubuh kita dapat memperbaiki pembuluh darah yang
rusak dan membangun kembali tulang yang rusak. Jika osteonekrosis disebabkan konsumsi
alkohol atau steroid, tubuh mungkin mampu memulihkan diri bila penggunaannya dihentikan.
Pengobatan pertama umumnya obat antinyeri. Kita juga dapat mengurangi beban pada sendi.
Ini sebaliknya dengan terapi yang dianjurkan untuk osteoporosis.
Pengobatan dengan obat bifosfonat (mis. alendronat atau residronat) dapat membantu
membentuk tulang kembali, sedikitnya untuk waktu yang singkat. Ada laporan yang jarang
mengenai osteonekrosis pada rahang pada orang yang memakai alendronat selama lebih dari
lima tahun. Kebanyakan kasus ini berhubungan dengan penggunaan alendronat secara infus,
dan dengan pencabutan gigi atau infeksi.
Pengobatan dapat bekerja dengan baik untuk pasien dengan osteonekrosis dini pada daerah
tulang yang kecil. Namun, pengobatan tidak berhasil bagi mereka dengan osteonekrosis
pinggul atau lutut dan keruntuhan tulang progresif.
Tindakan bedah mungkin dianjurkan untuk meringankan rasa sakit dan mencegah keruntuhan
tulang. Tindakan yang disebut dekompresi inti (core decompression) dapat dipakai untuk
mencabut sepotong (inti) tulang dari daerah yang terkena dalam upaya untuk meningkatkan
aliran darah. Dalam kasus yang lebih lanjut, ahli bedah dapat mencabut tulang mati dan
mengatur kembali tempat tulang sehingga permukaan sendi yang menahan beban didukung
oleh tulang yang sehat.
Jika sendi sudah runtuh, mengganti sendi mungkin satu-satunya cara untuk mengurangi rasa
sakit dan mengembalikan fungsi.

Garis Dasar
Odha mengalami osteonekrosis (juga disebut sebagai AVN) dengan angka yang luar biasa
tinggi. HIV sendiri atau efek samping ARV mungkin bertanggung jawab.

Rasa sakit pada sendi, terutama pada daerah pinggul, mungkin tanda osteonekrosis. Jika kita
mengalami rasa sakit pada sendi, kita sebaiknya bicara dengan dokter sebelum meningkatkan
program olahraga kita. Kasus ringan mungkin dapat diobati dengan penawar rasa sakit dan
pengurangan penggunaan sendi tersebut. Kasus berat mungkin membutuhkan tindakan bedah.

OSTEONEKROSIS
Osteonekrosis sebagai komplikasi dari kemoterapi pertama kali dikenal pada tahun 1957.
Osteonekrosis merupakan kelainan tulang yang umumnya terjadi pada tulang paha. Walaupun
bentuk dari kematian tulang umumnya diketahui, penyebab terjadinya hal tersebut
bermacam-macam dan histopatologinya tidak dapat dibedakan.
Definisi
Osteonekrosis ialah suatu kelainan akibat dari kehilangan suplai darah pada tulang yang
terjadi secara sementara atau permanen. Darah membawa nutrisi yang penting dan oksigen ke
tulang.8 Tanpa darah, jaringan tulang akan mati dan pada akhirnya tulang akan hancur.
Osteonekrosis juga dikenal dengan nama avascular necrosis, aseptic necrosis dan ischemic
nerosis.
Osteonekrosis dapat terjadi pada semua tulang, tetapi umumnya pada tulang paha,
perluasan tulang dari sendi lutut ke sendi pinggul. Bagian lain yang juga sering terjadi
meliputi tulang lengan bagian atas, bahu, pergelangan kaki dan rahang. Osteonekrosis dapat
mengenai satu tulang, beberapa tulang dalam waktu yang bersamaan dan beberapa tulang
dalam waktu yang berbeda.
Secara normal, tulang akan menghancurkan dan membangun kembali elemen-elemen
pada tulang. Menggantikan tulang yang sudah tua dengan tulang yang baru. Proses ini
menjaga agar tulang tetap kuat dan menjaga keseimbangan mineral-mineral yang terdapat

pada tulang. Osteonekrosis merupakan proses penghancuran tulang yang lebih cepat
dibandingkan perbaikannya

Etiologi dan Gejala Klinis


1.

Etiologi

Osteonekrosis disebabkan oleh gangguan suplai darah ke tulang.8-10 Bila pembuluh darah
dihambat oleh lemak, maka akan menjadi sempit dan lemah, sehingga tidak dapat
memberikan suplai darah dalam jumlah yang cukup dan nutrisi yang penting ke jaringan
tulang untuk tetap berfiungsi.9 Osteonekrosis sering kali terjadi pada pasien yang memiliki
faktor resiko dan kondisi dari pengobatan.8,10 Faktor penyebab osteonekrosis bermacammacam, diantaranya adalah :
a. Trauma
Pada saat terjadinya trauma di sendi, akan terjadi fraktur atau dislokasi yang menyebabkan
pembuluh darah rusak. Keadaan ini mempengaruhi sirkulasi darah ke tulang dan akhirnya
bisa menyebabkan nekrosis. Penelitian menunjukkan dislokasi dan fraktur pada pinggang
merupakan faktor resiko yang paling besar terjadinya osteonekrosis.8,10 Tekanan yang
meningkat pada tulang merupakan penyebab lain dari osteonekrosis. Ketika adanya tekanan
yang berlebih pada tulang, pembuluh darah akan mengecil sehingga mempersulit distribusi
darah ke dalam sel-sel tulang.

b. Terapi bifosfonat
Bifosfonat merupakan pengobatan yang digunakan untuk memperkuat tulang dan mencegah
fraktur akibat adanya kehilangan kepadatan tulang. Penelitian menunjukkan pada saat
bifosfonat digunakan untuk memperkuat tulang, obat ini mempunyai efek yang berlawanan
terhadap tulang rahang. Penggunaan jangka panjang dapat menghambat aliran darah ke
rahang sehingga meningkatkan resiko terjadinya osteonekrosis pada rahang.
c. Radiasi

Jaringan tulang yang menerima radiasi tinggi merupakan faktor penyebab terjadinya nekrosis
pada jaringan lunak dan tulang.13 Hal ini dapat kronis atau akut. Dosis radiasi yang tinggi
(40Gy atau 400cGy/rads) dapat mengurangi suplai darah pada tulang sehingga tulang dapat
kehilangan oksigen yang dibutuhkan. Hasilnya terjadi kematian pada jaringan tulang.14,15
Oleh karena itu sangat penting adanya medical record untuk mengetahui secara tepat
seberapa besar radiasi yang diterima oleh pasien dan didaerah mana radiasi tersebut diberikan
langsung

Gejala Klinis
Pada stadium awal, pasien tidak akan merasakan adanya keluhan. Seiring berkembangnya
penyakit ini maka akan timbul rasa sakit pada persendian
Pertama sekali, pasien akan hanya merasakan nyeri ketika adanya beban pada tulang atau
persendian. Dengan berkembangnya penyakit, kemudian rasa nyeri tersebut akan timbul
ketika istirahat. Rasa nyeri dapat meningkat dan intensitasnya mulai dari ringan hingga tajam.
Bila osteonekrosis progresif serta tulang dan permukaan persendian hancur, maka rasa
nyeri akan meningkat secara drastis. Rasa nyeri terasa tajam dan pasien akan mengalami
keterbatasan pergerakan pada persendian. Pada beberapa kasus, terutama yang mengenai
persendian dimulai dengan terjadinya osteoarthritis. Jangka waktu antara gejala awal yang
timbul hingga hilangnya fungsi persedian berbeda-beda pada setiap pasien, mulai dari
beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun.

Diagnosa
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik secara keseluruhan dan melakukan anamnese mengenai
riwayat medis pasien, dokter dapat menggunakan satu atau lebih teknik untuk mendiagnosa
osteonekrosis. Seperti penyakit yang lain, diagnosa dini akan meningkatkan kesuksesan
dalam melakukan perawatan.8,10 Berikut ini adalah beberapa cara dalam mendiagnosa
osteonekrosis :

a. X-Ray

Teknik ini merupakan test yang dilakukan pertama kali oleh dokter.8,9,10,17 Teknik ini dapat
membantu membedakan osteonekrosis yang berasal dari penyebab lain seperti fraktur. Pada
stadium awal osteonekrosis, gambaran x-ray dapat terlihat normal karena x-ray tidak cukup
sensitif untuk mendeteksi perubahan pada tulang sehingga dibutuhkan cara lain untuk
menegakkan diagnosa. Pada stadium akhir, gambaran x-ray memperlihatkan kerusakan tulang
dan juga berguna untuk melihat perkembangan penyakit.

b. Magnetic Resonance Imaging (MRI)


Dari hasil penelitian memperlihatkan magnetic resonance imaging atau MRI sangat sensitif
untuk mendiagnosa osteonekrosis pada stadium awal. Seperti x-ray, bone scan dan CT Scan,
MRI menedeteksi perubahan kimia pada tulang.8,10,18 MRI membantu dokter dalam
memberikan gambaran daerah yang terinfeksi dan proses perbaikan perbaikan tulang. Pada
kondisi ini, MRI memperlihatkan daerah yang terinfeksi tanpa adanya gejala.

c. Bone scan
Teknik ini digunakan pada pasien yang pada test x-ray hasilnya normal dan tidak mempunyai
faktor resiko terjadinya osteonekrosis. Pada teknik ini, sebuah bahan radioaktif yang tidak
berbahaya disuntikkan secara intravena dan akan terlihat gambaran tulang dari kamera
khusus. Gambar tersebut memperlihatkan bagaimana bahan injeksi tersebut berjalan masuk
kedalam aliran darah di tulang. Kemudian akan menunjukkan daerah yang terinfeksi,
sehingga mengurangi bahaya radiasi yang berlebih pada pasien. Teknik ini tidak dapat
mendeteksi osteonekrosis pada stadium awal.
d. CT Scan
CT Scan merupakan gambaran tiga dimensi dari tulang yang memperlihatkan seberapa luas
kerusakan tulang yang terjadi.8-10 Gambar yang dihasilkan lebih jelas dari x-ray dan bone
scan. Beberapa dokter tidak setuju bahwa teknik ini kurang
bermanfaat dalam menegakkan diagnosa dari osteonekrosis. Walaupun sebuah diagnosis
umumnya dapat ditegakkan tanpa harus melakukan CT-Scan. Teknik ini kurang sensitif
dibandingkan MRI.

e. Biopsi
Biopsi merupakan teknik pembedahan dimana jaringan dari tulang yang terinfeksi diambil
dan diteliti. Biopsi merupakan cara terakhir yang dilakukan untuk mendiagnosa
osteonekrosis, dan teknik ini jarang digunakan karena memerlukan pembedahan