Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Limfoma maligna atau disebut juga kanker kelenjar getah bening adalah sejenis kanker
yang tumbuh akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih) yang sebelumnya
normal. Hal ini berakibat sel abnormal nenjadi ganas. Seperti halnya limfosit normal,
limfosit ganas dapat tumbuh pada berbagai organ dalam tubuh termasuk kelenjar getah
bening, limpa, sum-sum tulang, darah maupun organ lainnya contoh saluran cerna,
paru, kulit dan tulang. Limfoma juga sering dikaitkan dengan paparan zat
karsinogenik.Limfoma maligna adalah setiap kelainan neoplastik jaringan limfoid.
Limfoma juga disebut sebagai penyakit limfosit yang menyerupai kanker. Disebut
penyakit limfosit karena menyerang sel darah putih sehingga berkembang (membelah)
abnormal dengan cepat dan menjadi ganas. Limfosit abnormal yang semakin banyak ini
(kemudian disebut limfoma) sering terkumpul di kelenjar getah bening dan membuat
bengkak. Karena sistem limfatik menyerupai peredaran darah yang bersikulasi ke
seluruh tubuh membawa getah bening, maka penyakit limfoma juga dapat terbentuk di
mana saja.

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan permasalahan yang penulis angkat
adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah konsep dasar penyakit dari limfoma maligna ?
2. Bagaimanakah konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien dengan limfoma
maligna ?

C.

Tujuan
Tujuan daripada penulisan ini adalah :
1. Mengetahui konsep dasar penyakit dari limfoma maligna
2. Mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien dengn limfoma maligna

BAB II
PEMBAHASAN

I. KONSEP DASAR PENYAKIT LIMFOMA MALIGNA


A. DEFINISI
Limfoma maligna (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan dari
sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B, sel T dan histiosit sehingga
muncul istilah limfoma maligna (maligna = ganas). Ironisnya, pada orang sehat
sistem limfatik tersebut justru merupakan komponen sistem kekebalan tubuh. Ada dua
jenis limfoma maligna yaitu Limfoma Hodgkin (HD) dan Limfoma non-Hodgkin
(LNH).
B. EPIDEMIOLOGI
Saat ini, sekitar 1,5 juta orang di dunia hidup dengan limfoma maligna terutama tipe
LNH, dan dalam setahun sekitar 300 ribu orang meninggal karena penyakit ini. Dari
tahun ke tahun, jumlah penderita penyakit ini juga terus meningkat. Sekadar
gambaran, angka kejadian LNH telah meningkat 80 persen dibandingkan angka tahun
1970-an. Data juga menunjukkan, penyakit ini lebih banyak terjadi pada orang
dewasa dengan angka tertinggi pada rentang usia antara 45 sampai 60 tahun.
Sedangkan pada Limfoma Hodgkin (DH) relative jarang dijumpai, hanya merupaka 1
% dari seluruh kanker. Di negara barat insidennya dilaporkan 3,5/100.000/tahun pada
laki-laki dan 2,6/100.000/tahun pada wanita. Di Indonesia, belum ada laporan angka
kejadian Limfoma Hodgkin. Penyakit limfoma Hodgkin banyak ditemukan pada
orang dewasa muda antara usia 18-35 tahun dan pada orang di atas 50 tahun.
C. ETIOLOGI
Penyebab dari penyakit limfoma maligna masih belum diketahui dengan pasti..Empat
kemungkinan penyebabnya adalah: faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan,
infeksi virus atau bakteria (HIV, virus human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV),
Epstein-Barr virus (EBV), Helicobacter Sp) dan toksin lingkungan (herbisida,
pengawet dan pewarna kimia).
D. FAKTOR PREDISPOSISI
1.
2.
3.
4.

Usia
Jenis kelamin
Gaya hidup yang tidak sehat
Pekerjaan
2

E. PATOFISIOLOGI
Penyakit ini biasanya berawal dari pembesaran nodus limfe tanpa nyeri, pada
salah satu sisi leher, yang menjadi sangat besar. Setiap nodus teraba kenyal dan tidak
nyeri. Selanjutnya nodus limfe daerah lain juga membesar dengan cara yang sama dan
menyebabkan penekanan berat pada jaringan sekitarnya. Tekanan terhadap trakea
menyebabkan kesulitan untuk bernapas; penekanan terhadap esophagus menyebabkan
kesulitan untuk menelan; penekanan pada saraf menyebabkan paralisis faringeal dan
neuralgia brachial, lumbal, atau sacral; penekanan pada vena dapat mengakibatkan
edema pada salah satu atau kedua ekstrimitas dan efusi ke pleura atau peritoneum;
dan penekanan pada kandung empedu menyebabkan ikterik obstruktif.
Kemudian
terjadi anemia progresif, jumlah leukosit biasanya tinggi dengan jumlah
polimorfonuklear (PMN) meningkat secara abnormal dan peningkatan jumlah
eosinofil. Sekitar separuh pasien mengalami demam ringan, dengan suhu tubuh jarang
melampaui 38,3oC. namun pada pasien yang mengalami keterlibatan mediastinal dan
abdominal dapat mengalami demam tinggi intermiten, suhun ya dapat mencapai
40.0oC selama periode 3 sampai 14 hari, kemudian kembali normal dalam beberapa
minggu.
Apabila penyakit tidak ditangani, perjalanannya akan berlanjut, pasien akan
kehilangan berat badan dan menjadi kakeksia (kelemahan secara fisik), terjadi infeksi,
anemia, timbul edema anasarka, tekanan darah turun, dan kematian pasti terjadi
dalam 1 sampai 3 tahun tanpa penanganan.

PATHWAY
Faktor
keturunan

Kelainan system
kekebalan

Infeksi virus
dan bakteri

Toksin
lingkungan

Infeksi
Mutasi sel limfosit
(sejenis leukosit)
Proses
Inflamasi

Limfoma
maligna

Kurang
terpajan
informasi

Kurang
pengetahuan

Hyperthermia
(demam)
Hiperkatabolik

Tidak mampu dlm


memasukkan, mencerna
mengabsorpsi makanan

Kurang nafsu
makan

Meningkatnya
katabolisme

Intake makanan
kurang

Keringat
malam

Berat badan
menurun

Ketidakseimbangan nutrisi

Mengenai
sumsum tulang

Anemia, pendarahan,
infeksi

Penurunan
komponen
selular utk
pengiriman
oksigen/nutrisi
ke sel

Perubahan perfusi
jaringan

Kelemahan,
keletihan

Ketidakseimbangan antara suplai


oksigen dgn
kebutuhan

Intoleran
aktivitas

F. KLASIFIKASI
1. Klasifikasi Penyakit
Ada dua jenis penyakit yang termasuk limfoma malignum yaitu penyakit Hodgkin
(PH) dan limfoma non Hodgkin (LNH). Keduanya memiliki gejala yang mirip.
Perbedaannya dibedakan berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi dimana pada
PH ditemukan sel Reed Sternberg, dan sifat LNH lebih agresif
2. Klasifikasi Patologi
Klasifikasi limfoma maligna telah mengalami perubahan selama bertahun-tahun.
Pada tahun 1956 klasifikasi Rappaport mulai diperkenalkan. Rappaport membagi
limfoma maligna menjadi tipe nodular dan difus kemudian subtipe berdasarkan
pemeriksaan sitologi. Modifikasi klasifikasi ini terus berlanjut hingga pada tahun
1982 muncul klasifikasi Working Formulation yang membagi limfoma maligna
menjadi keganasan rendah, menengah dan tinggi berdasarkan klinis dan patologis.
Seiring dengan kemajuan imunologi dan genetika maka muncul klasifikasi terbaru
pada tahun 1982 yang dikenal dengan Revised European-American classification
of Lymphoid Neoplasms (REAL classification). Meskipun demikian, klasifikasi
Working Formulation masih menjadi pedoman dasar untuk menentukan diagnosis,
pengobatan, dan prognosis, yaitu sebagai berikut :
Keganasan Limfoma malignum, limfositik kecil
rendah:
Limfoma malignum, folikular, didominasi sel berukuran kecil
cleaved
Limfoma malignum, folikular, campuran sel berukuran kecil
cleaved dan besar
Keganasan
menengah:

Limfoma malignum, folikular, didominasi sel berukuran besar


Limfoma malignum, difus, sel berukuran kecil
Limfoma malignum, difus, campuran sel berukuran kecil dan
besar
Limfoma malignum, difus, sel berukuran besar

Keganasan Limfoma malignum, sel imunoblastik berukuran besar


tinggi:
Limfoma malignum, sel limfoblastik
Limfoma malignum, sel berukuran kecil noncleaved
Lain-lain:

Komposit
Mikosis fungoides
Histiosit
Ekstamedular plasmasitoma
Tidak terklasifikasi

3. Stadium Limfoma Maligna


5

Penyebaran Limfoma dapat dikelompokkan dalam 4 stadium. Stadium I dan II


sering dikelompokkan bersama sebagai stadium awal penyakit, sementara stadium
III dan IV dikelompokkan bersama sebagai stadium lanjut.
a. Stadium I : Penyebaran Limfoma hanya terdapat pada satu kelompok yaitu
kelenjar getah bening.
b. Stadium II : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok
kelenjar getah bening, tetapi hanya pada satu sisi diafragma, serta pada
seluruh dada atau perut.
c. Stadium III : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok
kelenjar getah bening, serta pada dada dan perut.
d. Stadium IV : Penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening
setidaknya pada satu organ lain juga seperti sumsum tulang, hati, paru-paru,
atau otak.
G. GEJALA KLINIS
Gejala klinis dari penyakit limfoma maligna adalah sebagai berikut :
1. Limfodenopati superficial. Sebagian besar pasien datang dengan pembesaran
kelenjar getah bening asimetris yang tidak nyeri dan mudah digerakkan (pada
leher, ketiak atau pangkal paha)
2. Demam
3. Sering keringat malam
4. Penurunan nafsu makan
5. Kehilangan berat badan lebih dari 10 % selama 6 bulan (anorexia)
6. Kelemahan, keletihan
7. Anemia, infeksi, dan pendarahan dapat dijumpai pada kasus yang mengenai
sumsum tulang secara difus
H. PEMERIKSAAN FISIK
Palpasi pembesaran kelenjar getah bening di leher terutama supraklavikuler aksila
dan inguinal. Mungkin lien dan hati teraba membesar. Pemeriksaan THT perlu
dilakukan untuk menentukan kemungkinan cincin Weldeyer ikut terlibat. Apabila area
ini terlibat perlu diperiksa gastrointestinal sebab sering terlibat bersama-sama.
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk mendeteksi limfoma harus dilakukan biopsi dari kelenjar getah bening yang
terkena dan juga untuk menemukan adanya sel Reed-Sternberg. Untuk mendeteksi
Limfoma memerlukan pemeriksaan seperti sinar-X, CT scan, PET scan, biopsi
sumsum tulang dan pemeriksaan darah. Biopsi atau penentuan stadium adalah cara
mendapatkan contoh jaringan untuk membantu dokter mendiagnosis Limfoma. Ada
beberapa jenis biopsy untuk mendeteksi limfoma maligna yaitu :
6

1. Biopsi kelenjar getah bening, jaringan diambil dari kelenjar getah bening yang
membesar.
2. Biopsi aspirasi jarum-halus, jaringan diambil dari kelenjar getah bening dengan
jarum suntik. Ini kadang-kadang dilakukan untuk memantau respon terhadap
pengobatan.
3. Biopsi sumsum tulang di mana sumsum tulang diambil dari tulang panggul untuk
melihat
apakah
Limfoma
telah
melibatkan
sumsum
tulang.
J. TERAPI
1. Cara pengobatan bervariasi dengan jenis penyakit. Beberapa pasien dengan tumor
keganasan tingkat rendah, khususnya golongan limfositik, tidak membutuhkan
pengobatan awal jika mereka tidak mempunyai gejala dan ukuran lokasi
limfadenopati yang bukan merupakan ancaman.
2. Radioterapi
Walaupun beberapa pasien dengan stadium I yang benar-benar terlokalisasi dapat
disembuhkan dengan radioterapi, terdapat angka yang relapse dini yang tinggi
pada pasien yang dklasifikasikan sebagai stadium II dan III. Radiasi local untuk
tempat utama yang besar harus dipertimbangkan pada pasien yang menerima
khemoterapi dan ini dapat bermanfaat khusus jika penyakit mengakibatkan
sumbatan/ obstruksi anatomis.
Pada pasien dengan limfoma keganasan tingkat rendah stadium III dan IV,
penyinaran seluruh tubuh dosis rendah dapat membuat hasil yang sebanding
dengan khemoterapi.
3. Kemoterapi
a. Terapi obat tunggal Khlorambusil atau siklofosfamid kontinyu atau intermiten
yang dapat memberikan hasil baik pada pasien dengan limfoma keganasan
tingkat rendah yang membutuhkan terapi karena penyakit lanjut atau gejala
sistemik
b. Terapi kombinasi. (misalnya COP (cyclophosphamide, oncovin, dan
prednisolon)) juga dapat digunakan pada pasien dengan tingkat rendah atau
sedang berdasakan stadiumnya.
K. PROGNOSIS
Kebanyakan pasien dengan penyakit limfoma maligna tingkat rendah bertahan hidup
lebih dari 5-10 tahun sejak saat didiagnosis. Banyak pasien dengan penyakit limfoma
maligna tingkat tinggi yang terlokalisasi disembuhkan dengan radioterapi. Dengan
khemoterapi intensif, pasien limfoma maligna tingkat tinggi yang tersebar luas
mempunyai perpanjangan hidup lebih lama dan dapat disembuhkan.
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA LIMFOMA MALIGNA

A. PENGKAJIAN
1. Biodata klien dan penanggung jawab
2. Data
a. Data subyektif
a. Demam berkepanjangan dengan suhu diatas 38 derajat celcius
b. Sering keringat malam
c. Cepat merasa lelah
d. Badan lemah
e. Nafsu makan menurun
f. Intake makan dan minum menurun
b. Data obyektif
1) Timbul benjolanyang kenyal, mudah digerakkan pada leher, ketiak atau
pangkal paha
2) Wajah pucat
3. Kebutuhan dasar
a. Aktivitas/Istirahat
Gejala
: Kelelahan, kelemahan atau malaise umum, kehilangan
produktifitas
dan penurunan toleransi latihan, kebutuhan
tidur dan istirahat lebih banyak
Tanda
: Penurunan kekuatan, bahu merosot, jalan lamban dan tanda
lain yang menunjukkan kelelahan
b. Sirkulasi
Gejala
: Palpitasi, angina/nyeri dada
Tanda
: Takikardia, disritmia, sianosis wajah dan leher (obstruksi
drainase vena karena pembesaran nodus limfa adalah kejadian
yang jarang), ikterus sklera dan ikterik umum sehubungan
dengan kerusakan hati dan obtruksi duktus empedu dan
pembesaran
nodus
limfa
(mungkin
tanda
lanjut)
pucat (anemia), diaforesis, keringat malam.
c. Integritas Ego
Gejala
: Faktor stress, misalnya sekolah, pekerjaan, keluarga,
takut/ansietas sehubungan dengandiagnosis dan kemungkinan
takut mati, takut sehubungan dengan tes diagnostik dan
modalitas pengobatan (kemoterapi dan terapi radiasi), masalah
finansial : biaya rumah sakit, pengobatan mahal, takut
kehilangan pekerjaan sehubungan dengan kehilangan waktu
kerja. Status hubungan : takut dan ansietas sehubungan menjadi
orang yang tergantung pada keluarga.
Tanda
: Berbagai perilaku, misalnya marah, menarik diri, pasif.
d. Eliminasi

Gejala

e.

f.

g.

h.

: Perubahan karakteristik urine dan atau feses. Riwayat


Obstruksi usus, contoh intususepsi, atau sindrom malabsorbsi
(infiltrasi dari nodus limfa retroperitoneal)
Tanda
: Nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan pembesaran pada
palpasi (hepatomegali), nyeri tekan pada kudran kiri atas dan
pembesaran pada palpasi (splenomegali), penurunan haluaran
urine urine gelap/pekat, anuria (obstruksi uretal/ gagal ginjal),
disfungsi usus dan kandung kemih (kompresi batang spinal
terjadi lebih lanjut).
Makanan/cairan
Gejala
: Anoreksia/kehilangan nafsu makan, disfagia (tekanan pada
easofagus), adanya penurunan berat badan yang tak dapat
dijelaskan sama dengan 10% atau lebih dari berat badan dalam
6 bulan sebelumnya dengan tanpa upaya diet.
Tanda
: Pembengkakan pada wajah, leher, rahang atau tangan kanan
(sekunder terhadap kompresi venakava superior oleh
pembesaran nodus limfa). Ekstremitas : edema ekstremitas
bawah sehubungan dengan obtruksi vena kava inferior dari
pembesaran nodus limfa intraabdominal (non-Hodgkin), asites
(obstruksi vena kava inferior sehubungan dengan pembesaran
nodus limfa intra abdominal)
Neurosensori
Gejala
: Nyeri saraf (neuralgia) menunjukkan kompresi akar saraf oleh
pembesaran nodus limfa pada brakial, lumbar, dan pada
pleksus sacral. Kelemahan otot, parestesia.
Tanda
: Status mental : letargi, menarik diri, kurang minatumum
terhadap sekitar.Paraplegia (kompresi batang spinaldari tubuh
vetrebal, keterlibatan diskus pada kompresiegenerasi, atau
kompresi suplai darah terhadap batng spinal)
Nyeri/Keamanan
Gejala
: Nyeri tekan/nyeri pada nodus limfa yang terkena misalnya,
pada sekitar mediastinum, nyeri dada, nyeri punggung
(kompresi vertebral), nyeri tulang umum (keterlibatan tulang
limfomatus). Nyeri segera pada area yang terkena setelaah
minum alkohol.
Tanda
: Fokus pada diri sendiri, perilaku berhati-hati.
Pernapasan
Gejala
: Dispnea pada kerja atau istirahat; nyeri dada.
Tanda
: Dispnea, takikardia, batuk kering non-produktif, tanda distres
pernapasan, contoh peningkatan frekwensi pernapasan dan
kedaalaman penggunaan otot bantu, stridor, sianosis.
Parau/paralisis laringeal (tekanan dari pembesaran nodus pada
saraf laringeal)
9

i. Keamanan
Gejala

Tanda

: Riwayat sering/adanya infeksi (abnormalitasimunitas seluler


pencetus untuk infeksi virus herpes sistemik, TB,
toksoplasmosis atau infeksi bakterial). Riwayat monokleus
(resiko tinggi penyakit Hodgkin pada pasien yang titer tinggi
virus Epstein-Barr). Riwayat ulkus/perforasi perdarahan gaster.
Pola sabit adalah peningkatan suhu malam hari terakhir sampai
beberapa minggu (demam pel Ebstein) diikuti oleh periode
demam, keringat malam tanpa menggigil. Kemerahan/pruritus
umum
: Demam menetap tak dapat dijelaskan dan lebih tinggi dari
38oC tanpa gejala infeksi. Nodus limfe simetris, tak
nyeri,membengkak/membesar (nodus servikal paling umum
terkena, lebih pada sisi kiri daripada kanan, kemudian nodus
aksila dan mediastinal). Nodus dapat terasa kenyal dan keras,
diskret
dan
dapat
digerakkan.
Pembesaran
tosil
, pruritus umum. Sebagian area kehilangan pigmentasi melanin
(vitiligo).

j. Seksualitas
Gejala

: Masalah tentang fertilitas/ kehamilan (sementara penyakit


tidak mempengaruhi, tetapi pengobatan mempengaruhi)
Penurunan libido.
k. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala
: Faktor resiko keluargaa (lebih tinggi insiden diantara keluarga
pasien Hodgkin dari pada populasi umum). Pekerjaan terpajan
pada herbisida (pekerja kayu/kimia)
4. Pemeriksaan fisik
a. KU
b. TTV
Kaji adanya peningkatan temperature, takikardi, dan penurunan tekanan darah
(Donna D, 1995). Demam merupakan salah satu gejala dari Limfoma maligna.
c. Pemeriksaan fisik pada daerah leher, ketiak dan pangkal paha
Gejala pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal, tidak
terasa nyeri, mudah digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha)
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hyperthermia b.d tak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap inflamasi
2. Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan komponen selular untuk pengiriman
oksigen/nutrisi ke sel
3. Intoleran aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan
4. Ketidakseimbangan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh b.d tidak mampu dalam
memasukkan, mencerna, mengabsorpsi makanan karena factor biologi
10

5. Kurang pengetahuan b.d kurang terpajan informasi


C. RENCANA KEPERAWATAN
DIAGNOSA
TUJUAN DAN
RENCANA
KRITERIA HASIL
KEPERAWATAN
1.
Hyperther
Setelah
diberikan 1. Observasi suhu
mia b.d tak asuhan keperawatan
tubuh klien
efektifnya
selama 3 x 24 jam
termoregulasi
diharapkan
suhu
sekunder
tubuh klien turun /
terhadap
dalam
keadaan
inflamasi
normal
dengan
kriteria hasil :
suhu tubuh dalam 2. Berikan kompres
batas normal (35,9hangat pada dahi,
37,5 derajat celcius)
aksila, perut dan
lipatan paha
3. Anjurkan
dan
berikan
minum
yang
banyak
kepada
klien
(sesuai
dengan
kebutuhan cairan
tubuh klien)
4. Kolaborasi dalam
pemberian
antipiretik

2.

Perubahan
perfusi
jaringan
b.d
penurunan
komponen
selular untuk
pengiriman
oksigen/nutrisi
ke sel

Setelah
diberikan
asuhan keperawatan
selama 3 x 24 jam
diharapkan
klien
menunjukkan perfusi
jaringan
yang
adekuat
dengan
kriteria hasil :
1. Tanda-tanda vital
stabil
2. Membran
mukosa
warna
merah muda
3. Haluran
urine

1.
Awasi tanda vital,
warna
kulit,
membrane
mukosa,
dan
dasar kuku

2.
Tinggikan
tempat
tidur
sesuai
dengan toleransi

RASIONAL
1. Dengan memantau
suhu tubuh klien
dapat mengetahui
keadaan klien dan
juga
dapat
mengambil
tindakan
dengan
tepat
2. Kompres
dapat
menurunkan suhu
tubuh klien
3. Dengan
banyak
minum diharapkan
dapat
membantu
menjaga
keseimbangan
cairan dalam tubuh
klien
4. Antipiretik dapat
menurunkan suhu
tubuh

1. Memberikan
informasi tentang
derajat
keadekuatan
perfusi jaringan
dan
untuk
intervensi
selanjutnya
2. Meningkatkan
ekspansi paru dan
memaksimalkan
oksigenasi untuk
kebutuhan seluler
3. Memaksimalkan
11

adekuat

transport oksigen
ke jaringan
4. Meningkatkan
jumlah
sel
pembawa oksigen
dan juga untuk
mengurangi resiko
pendarahan

3.
Berikan
oksigen
tambahan sesuai
dengan indikasi
4.
Kolaborasi
dalam
pemberian darah
merah
lengkap
sesuai
dengan
indikasi
dan
awasi secara ketat
3.
Ketidaksei Setelah
diberikan
untuk komplikasi 1. Mengidentifikasi
mbangan
asuhan keperawatan
transfuse.
defisiensi nutrisi
nutrisi ; kurang selam 3 x 24 jam
dan juga untuk
dari kebutuhan diharapkan
intervensi
tubuh b.d tidak kebutuhan
nutrisi 1. Kaji
riwayat
selanjutnya
mampu dalam klien dapat terpenuhi
nutrisi, termasuk 2. Mengawasi
memasukkan,
dengan criteria hasil :
makanan yang
masukan kalori
mencerna,
1. Menunjukkan
disukai
mengabsorpsi
peningkatan berat
3. Mengawasi
makanan
badan/berat
2. Observasi
dan
penurunan berat
karena faktor
badan stabil
catat
masukan
badan
dan
biologi
2. Nafsu
makan
makanan klien
efektivitas
klien meningkat
3. Timbang berat
intervensi nutrisi
3. Klien
badan klien tiap 4. Meningkatkan
menunjukkan
hari
pemasukan kalori
perilaku
secara total dan
perubahan pola
juga
untuk
hidup
untuk 4. Berikan makan
mencegah distensi
mempertahankan
sedikit
namun
gaster
berat badan yang
frekuensinya
5. Meningkatkan
sesuai
sering
masukan protein
dan kalori
5. Kolaborasi
4.
Intoleran
Setelah
diberikan
dalam pemberian 1. Untuk intervensi
aktivitas
b.d asuhan keperawatan
suplemen nutrisi
selanjutnya
ketidakseimban selama 3 x 24 jam
gan
antara diharapkan
klien
suplai oksigen dapat
beraktivitas 1. Kaji kemampuan
dengan
kembali
dengan
klien
untuk 2. Meningkatkan
kebutuhan
criteria hasil :
melakukan
istirahat
untuk
12

Klien
melaporkan
tugas/aktivitas
menurunkan
peningkatan toleransi
sehari-hari
kebutuhan oksigen
aktivitas
2. Berikan
tubuh
lingkungan yang
nyaman,
3. Meningkatkan
pertahankan tirah
secara
bertahap
baring
bila
tingkat
aktivitas
diindikasikan
sampai
normal
3. Tingkatkan
dapat memperbaiki
tingkat aktivitas
tonus otot/stamina
klien
sesuai 4. Stress
dapat
dengan toleransi
menimbulkan
dekopensasi/kegag
alan
4. Anjurkan klien
untuk
menghentikan
aktivitas
bila
5.
Kurang
Setelah
diberikan
pusing/kelemaha 1. Memudahkan
pengetahuan
asuhan keperawatan
n terjadi
dalam melakukan
b.d
kurang sela 1 x 24 jam
prosedur terpiutuk
terpajan
diharapkan
kepada klien
informasi
diharapkan klien dan 1. Berikan
2. Klien dan keluarga
keluarganya
dapat
komunikasi
klien dapat
mengetahui tentang
terapiutuk
mengetahui proses
penyakit
yang
kepada klien dan
penyakit yang
diderita oleh klien
keluarga klien
diderita oleh klien
dengan criteria hasil : 2. Berikan
KIE
1. Klien
dan
mengenai proses
keluarga
klien
penyakitnya
dapat memahami
kepada klien dan
proses penyakit
keluarga klien
klien
2. Klien
dan
keluarga
klien
mendapatkan
informasi
yang
jelas
tentang
penyakit
yang
diderita oleh klien
3. Klien
dan
keluarga
klien
dapat mematuhi
13

proses terapiutik
yang
akan
dilaksanakan

D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi keperawatan dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan yang
telah dibuat.
E. EVALUASI
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan :
1. Suhu tubuh klien dalam rentang normal (35,9-37,5 derajat celcius).
2. Klien menunjukkan perfusi jaringan yang adekuat.
3. Kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi.
4. Klien dapat berktivitas kembali.
5. Klien dan keluarganya dapat mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh
klien.

BAB III
14

PENUTUP

SIMPULAN
Limfoma adalah kanker yang berasal dari jaringan limfoid mencakup sistem limfatik
dan imunitas tubuh. Tumor ini bersifat heterogen, ditandai dengan kelainan umum yaitu
pembesaran kelenjar limfe diikuti splenomegali, hepatomegali, dan kelainan sumsum tulang.
Tumor ini dapat juga dijumpai ekstra nodal yaitu di luar sistem limfatik dan imunitas antara
lain pada traktus digestivus, paru, kulit, dan organ lain. Dalam garis besar, limfoma dibagi
dalam 4 bagian, diantaranya limfoma Hodgkin (LH), limfoma non-hodgkin (LNH),
histiositosis X, Mycosis Fungoides. Dalam praktek, yang dimaksud limfoma adalah LH dan
LNH, sedangkan histiositosis X dan mycosis fungoides sangat jarang ditemukan.

15