Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KULIAH GEOLOGI BATUBARA

Proses-proses Syn dan Post Depositional serta Kaitannya dengan Kualitas


dan Geometri Batubara

Oleh :
Marthyn Hapyosel R.S.
111.130.049
Kelas B

GEOLOGI BATUBARA
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2015

Geologi Batubara

PENGARUH PROSES SYN & POST DEPOSITIONAL PADA KUALITAS DAN


GEOMETRI BATUBARA

A. Pengertian
1. Syn Depositional
Syn-depositional adalah proses geologi yang berlangsung bersamaan
dengan pembentukan batubara. Proses-proses ini seperti perbedaan kecepatan
sedimentasi serta bentuk morfologi pada dasar cekungan, pola struktur yang
sudah terbentuk sebelumnya dan kondisi lingkungan saat batubara terbentuk.
2. Post Depositional
Post depositional adalah proses-proses geologi yang berlangsung setelah
lapisan batubara terbentuk seperti: adanya sesar, erosi oleh proses- proses yang
terjadi di permukaan, atau terobosan (intrusi) batuan beku. Proses ini juga
meliputi proses-proses geotektonik dan terjadi fase geokimia, yaitu prosesproses kimiawi bahan/material oleh proses-proses alam yang terjadi di dalam
bumi.
B. Batubara di Indonesia
Pembentukan endapan batubara yang terdapat di Indonesia umumnya terjadi
dalam zaman Tersier dan diantaranya dapat dibedakan dua kelompok yang
menonjol, yaitu batubara yang berasal dari zaman Eosen ( 50 juta tahun) umumnya
bermutu lebih tinggi dan tergolong sub-bituminous serta bituminous dan yang bersal
dari zaman Miosen ( 40 juta tahun) yang umumnya terdiri dari lignit atau subbituminous dengan nilai kalori lebih rendah dan kadar air cenderung tinggi.
Penyebaran endapan batubara di Indonesia cukup meluas baik di Indonesia
bagian

barat

maupun

Indonesia

bagian

timur. Kebanyakan

terdapat

di

cekungancekungan batubara pada beberapa tempat di Pulau Sumatera dan Pulau


Kalimantan, seperti Cekungan Sumatera Selatan, Cekungan Kutai, Cekungan Barito
dan sebagainya.
Kenyataan di lapangan lapisan batubara dijumpai dalam sebaran yang tidak
teratur, tidak menerus, menebal dan menipis, terpisah dan melengkung dengan
geometri yang bervariasi.
C. Kaitannya dengan Kualitas dan Geometri Batubara

Nama
NIM
Kelas

: Marthyn Hapyosel
: 111.130.049
:B

Page 1

Geologi Batubara

Pengaruh struktur geologi dapat bersifat syn-depositional (bersamaan dengan


akumulasi

gambut)

dan

post-depositional

(sesudah

pembentukan

lapisan

gambut/batubara). Dari struktur ini berpengaruh terhadap distribusi lapisan batubara


Struktur yang bersifat syn-depositional terutama terjadi karena kombinasi dari
akumulasi sediment yang tebal dan penurunan cekungan yang cukup cepat. Struktur
yang mungkin terjadi umumnya berupa slumping dan loading. Struktur yang sudah
ada sebelumnya dan kemudian aktif kembali pada saat deposisi gambut, dapat pula
menyebabkan terjadinya perubahan distribusi lapisan oleh karena deposisi lapisan
gambut akan mengikuti perubahan dasar pengendapan. Seperti sudah diketahui
struktur yang bersifat post-depositional seperti pensesaran dan perlipatan akan
menyebabkan distribusi lapisan yang bervariasi dan dapat berubah-ubah dari satu
tempat lain.
Kemudian proses post-depositional yang berupa pembentukan channel
menghasilkan fenomena washoout. Washout merupakan masalah utama dalam
operasi penambangan, yaitu ketebalan lapisan batubara berkurang atau tidak
menerusnya lapisan batubara akibat terpotong washout. Selain itu keberadaan
material batupasir ini akan mengakibatkan kesulitan dalam penggalian batubara
dengan menggunakan alat berat.
Pada proses syn-depositional contohnya seperti: perbedaan kecepatan akumulasi
batubara, morfologi cekungan, subsidence, erosi pensesaran, karst juga berpengaruh
akan ketebalan dan bentuk geometri batubara.
Pada proses post-depositional contohnya seperti: erosional dan tektonik juga
menjadi control dalam ketebalan serta bentuk geometri dari lapisan batubara.
Perbedaan tersebut dapat terjelaskan pada table dibawah ini.

Tabel 1. Tabel variasi ketebalan lapisan batubara

Nama
NIM
Kelas

: Marthyn Hapyosel
: 111.130.049
:B

Page 2

Geologi Batubara

Untuk kualitas batubara khususnya masalah kandungan Sulfur umumnya terjadi


pada batubara yang berasosiasi dengan kondisi marin. Material pirit khususnya yang
berbentuk framboidal, banyak melimpah pada lapisan-lapisan yang ditutupi secara
langsung oleh stratum marine (William & Keith, 1963 dalam B. Kuncoro 1996).
Lapisan yang terakumulasi pada daerah yang berkondisi marin, seperti
lingkungan back barrier dan lower delta plain yang lebih banyak ditumpangi oleh
sedimen-sedimen marin atau brackish daripada lingkungan upper delta plain atau
lingkungan fluviatil dan sebagian terdiri dari pirit framboidal.Menurut Caruccio et al
(1977) dalam B. Kuncoro 1996. Kandungan sulfur yang hadir sebagai markasit atau
pirit terjadi dalam bentuk butiran euhedral, massa berbutir kasar (lebih besar dari 25
mikron) yang menggantikan material asli tanaman, berupa massa lembaran (platy) yang
mengisi cleat atau rekahan dan framboidal pirit. Dari hasil penelitian sulfur pirit
berbentuk framboidal dihasilkan karena pengurangan sulfur oleh mikroba organisme
yang dijumpai di lingkungan marin hingga air payau dan tidak pada air tawar.
DAFTAR PUSTAKA

Nama
NIM
Kelas

: Marthyn Hapyosel
: 111.130.049
:B

Page 3

Geologi Batubara

Rusmarwanto, H., Kuncoro, B., Harjanto, A. 2015. Geologi dan Faktor - Faktor yang
Mempengaruhi Tebal Lapisan Batubara di Daerah Cintapuri dan Sekitarnya,
Kecamatan Simpang Empat Pengaro, Kabupalen Banjar, Kalimantan Selatan.
Yogyakarta: Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
Meta, S.S. 2011. LAPORAN SKRIPSI Geologi Dan Pengaruh Lingkungan
Pengendapan Terhadap Ketebalan Lapisan Batubara, Di Formasi Balikpapan, Desa
Tepok, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Yogyakarta: Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Nama
NIM
Kelas

: Marthyn Hapyosel
: 111.130.049
:B

Page 1