Anda di halaman 1dari 77

PROPOSAL

JUDUL
IMPLEMENTASI METODE FORWARD CHAINING PADA
SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT GIGI DAN MULUT

OLEH:
A. HARDIANTI
102904085

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN


KOMPUTER
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan adalah hal yang sangat penting dan utama bagi manusia.
Menjaga dan memelihara kesehatan haruslah merupakan prioritas utama karena
terganggunya kesehatan akan mempengaruhi aktivitas, kinerja dan produktivitas
manusia. Kesehatan membawa dampak yang sangat besar dalam semuanya aspek
kehidupan. Namun, pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang
mengabaikan kesehatan mereka. Salah satunya adalah rendahnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Gigi dan mulut merupakan organ yang vital bagi manusia. Oleh karena itu,
menjaga kesehatan kedua organ tersebut sangat penting namun kepedulian dan
persepsi masyarakat terhadap penyakit gigi dan mulut masih sangat rendah. Hal
ini ditandai dengan tingginya prevalensi karies dan penyakit periodontal di
Indonesia. Penyakit tersebut sudah sangat meluas di kehidupan masyarakat,
sehingga kebanyakan masyarakat menerima keadaan ini sebagai sesuatu yang
tidak terhindari. Kurangnya perhatian pada kesehatan gigi dan mulut dapat
menyebabkan penyakit yang lebih serius serta dapat menggangu kesehatan organ
tubuh lainnya. Meskipun bukan tergolong penyakit mematikan, namun infeksi
yang terjadi pada gigi jika tidak ditangani dengan benar dapat memicu penyakit
sistemik seperti penyakit diabetes militus, penyakit jantung koroner, defisisensi

nutrisi dan stroke. Infeksi yang terjadi pada rongga mulut juga dapat menjadi
sumber infeksi bagi organ tubuh lainnya yang disebut fokal infeksi seperti
pneumonia dan penyakit saluran pencernaan lainnya. Bila masalah ini tidak segera
ditangani, maka efek yang ditimbulkannya tidak hanya di sekitar rongga mulut
saja, tetapi juga berimbas kepada kesehatan secara umum dan bahkan fungsi
mental.
Penelitian menunjukkan bahwa penyakit gigi dan mulut merupakan
penyakit yang paling banyak dikeluhkan oleh masyarakat Indonesia. Penyakit ini
menduduki urutan pertama dari 10 jenis penyakit yang paling banyak dikeluhkan
yang jumlahnya mencapai 60% dari total masyarakat secara keseluruhan (SKRTSURKESNAS., 2001). Selain itu, data Riset Kesehatan Dasar (Rikesda)
Kementerian Kesehatan (2007) menunjukkan 72% masyarakat Indonesia
mempunyai pengalaman karies (gigi berlubang) serta 46,5% diantaranya
merupakan karies aktif yang belum dirawat. Hal ini lebih diperparah oleh
rendahnya motivasi masyarakat untuk berobat ke dokter gigi. Penduduk yang
mengeluh sakit gigi hanya 13% yang berobat jalan, 69,3% memilih mengobati
sendiri dan sisanya tidak melakukan pengobatan. Keadaan ini menunjukkan masih
rendahnya kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk berobat ke pakar yang
tepat (Depkes RI.,2007).
Perkembangan salah satu bidang teknologi informasi yaitu kecerdasan
buatan (artificial intelegence) yang telah merambah ke berbagai bidang kehidupan
dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ini. Bagian dari kecerdasan buatan
yaitu sistem pakar (expert system) dapat diterapkan untuk membuat sistem yang

dapat membantu masyarakat dalam mengetahui kesehatan gigi dan mulut serta
prediksi awal tentang penyakit gigi dan mulut yang dideritanya. Menurut Martin
dan Oxman (seperti dikutip Kusrini, 2006: 11) sistem pakar merupakan sistem
berbasis komputer yang menggunakan pengetahuan, fakta, dan teknik penalaran
dalam memecahkan masalah yang biasanya hanya dapat dipecahkan oleh seorang
pakar. Sistem pakar ini dapat menyimpan pengetahuan dari seseorang atau
beberapa orang pakar dalam suatu basis pengetahuan (knowledge base) dan
menggunakan sistem penalaran yang menyerupai seorang pakar dalam
memecahkan masalah.
Dalam perancangan suatu sistem pakar terdapat beberapa metode inferensi,
salah satunya adalah metode forward chaining. Metode ini melakukan
pemprosesan berawal dari sekumpulan data kemudian melakukan inferensi sesuai
dengan aturan yang ditetapkan sehingga ditemukan kesimpulan yang optimal.
Mesin inferensi akan terus melakukan looping pada prosesnya untuk mencapai
hasil keputusan yang sesuai. Metode ini sangat tepat digunakan pada sistem yang
prosesnya berjalan mulai dari penelusuran yang berupa pertanyaan seputar gejalagejala yang dialami user sampai pada pemberian kesimpulan dari jawaban yang
diberikan dari user.
Berdasarkan beberapa permasalahan tersebut, penulis membuat tugas akhir
dengan judul Implementasi Metode Forward Chaining Pada Sistem Pakar
Diagnosa Penyakit Gigi dan Mulut. Aplikasi sistem pakar ini diharapkan dapat
membantu dan memberikan informasi yang cukup bagi pasien sebelum
melakukan konsultasi dengan pakar dalam hal ini dokter gigi. Aplikasi ini hanya

merupakan alat bantu dan pendamping bagi pasien untuk memberikan informasi
awal tentang penyakit gigi dan mulut yang dideritanya mengingat kompleksitas
bidang kedokteran gigi yang tidak hanya menyangkut gejala-gejala yang dapat
dirasakan oleh pasien tetapi juga gejala yang perlu melakukan pengecekan dan tes
laboratorium. Oleh sebab itu tugas akhir ini hanya dibatasi sebagai prediksi awal
penyakit gigi dan mulut yang gejalanya dapat dirasakan dan diamati oleh pasien
selanjutnya pasien diarahkan untuk menghubungi dokter gigi untuk melakukan
pemeriksaan lebih lanjut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka rumusan masalah pada penelitian
ini adalah bagaimana merancang dan membangun sistem pakar diagnosa penyakit
gigi dan mulut dengan menggunakan metode inferensi forward chaining?
C. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada sistem pakar diagnosa penyakit gigi dan
mulut ini adalah sebagai berikut:
1. Sistem pakar ini dibuat untuk mendiagnosa penyakit gigi dan mulut pada
manusia.
2. Sistem pakar ini menggunakan metode forward chaining sebagai mesin
inferensi untuk menarik kesimpulan.
3. Interaksi antara user dan sistem berupa pertanyaan gejala penyakit yang harus
dijawab oleh user kemudian berakhir pada suatu kesimpulan.

4. Output dari sistem pakar ini berupa prediksi penyakit gigi dan mulut beserta
solusi pengobatannya.
5. User yang dapat mengakses sistem adalah user yang sebelumnya telah
mendaftar terlebih dahulu.
6. Administrator mempunyai hak akses untuk melakukan penambahan,
penghapusan dan pengeditan semua rule-rule sistem.
7. Pakar hanya sebagai sumber pengetahuan sehingga pakar tidak mempunyai
hak akses terhadap sistem jika pakar tidak bertindak sebagai admin.
8. Perancangan sistem menggunakan bahasa pemprograman PHP dengan basis
data MySQL dan desain aplikasi menggunakan Macromedia Dreamweaver
CS3.
D. Tujuan Rancang Bangun
Tujuan perancangan sistem pakar penyakit gigi dan mulut adalah untuk
membangun dan membangun suatu sistem pakar yang dapat membantu pasien
atau user dalam mengetahui tentang kesehatan gigi dan mulut serta prediksi awal
tentang penyakit gigi dan mulut yang dideritanya.

E. Manfaat

Manfaat dari pembuatan aplikasi sistem pakar diagnosa gigi dan mulut
adalah:
1. Bagi Pengguna/Pasien
Sistem pakar diagnosa gigi dan mulut dapat membantu masyarakat untuk
mengetahui tentang kesehatan gigi dan mulut dan penyakit gigi dan mulut yang
dideritanya. Sistem pakar ini juga memberi informasi awal tentang penyakit gigi
dan mulut yang diderita pasien sebelum melakukan konsultasi ke dokter gigi.
2. Bagi Penulis
Dapat dijadikan sebagai media latihan untuk mengaplikasikan kembali
teori-teori yang pernah dipelajari selama mengikuti perkuliahan.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori
1.

Sistem Pakar
Sistem pakar merupakan cabang dari Artificial Intelegence (AI) yang

mulai dikembangkan pada pertengahan 1960. Sistem pakar yang muncul pertama

kali adalah General-purpose Problem Solver (GPS) yang dikembangkan oleh


Newel dan Simon. Istilah sistem pakar berasal dari istilah knowledge-based expert
system. Istilah ini muncul karena untuk untuk memecahkan masalah, sistem pakar
menggunakan pengetahuan seorang manusia untuk menyelesaikan masalah
(Sutojo, 2010).
Menurut Turban (2001) sistem pakar adalah sebuah sistem yang
menggunakan pengetahuan manusia dimana pengetahuan tersebut dimasukkan ke
dalam sebuah komputer dan kemudian digunakan untuk menyelesaikan masalahmasalah yang biasanya membutuhkan kepakaran atau keahlian manusia.
Kusumadewi (2001) mendefinisikan sistem pakar sebagai sistem yang berusaha
mengadopsi

pengetahuan

manusia

ke

komputer, agar

komputer

dapat

menyelesaikan masalah seperti biasa dilakukan oleh para ahli. Sedangkan menurut
Marimin (1992), sistem pakar adalah sistem perangkat lunak komputer yang
menggunakan ilmu, fakta, dan teknik berpikir dalam pengambilan keputusan
untuk menyelesaikan masalah-masalah yang biasanya hanya dapat diselesaikan
oleh tenaga ahli dalam bidang yang bersangkutan.
Penyusunan sistem pakar mengkombinasikan kaidah-kaidah penarikan
kesimpulan (inference rules) dengan basis pengetahuan tertentu yang diberikan
oleh satu atau lebih pakar dalam bidang tertentu. Kombinasi dari kedua hal
tersebut disimpan dalam komputer, yang selanjutnya digunakan dalam proses
pengambilan keputusan untuk penyelesaian masalah tertentu.

a. Ciri Sistem Pakar


Sistem pakar merupakan program-program praktis yang menggunakan
strategi heuristik yang dikembangkan oleh manusia untuk menyelesaikan
permasalahan-permasalahan yang spesifik. Menurut Muhammad Arhami (2005,
230) sistem pakar memiliki ciri, sebagai berikut:
1) Memiliki informasi yang handal, baik dalam menampilkan langkahlangkah maupun dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang proses
penyelesaian.
2) Mudah dimodifikasi, yaitu dengan menambah atau menghapus suatu
kemampuan dari basis pengetahuannya.
3) Heuristik dalam menggunakan pengetahuan (yang sering kali tidak
sempurna) untuk mendapatkan penyelesaiannya.
4) Dapat digunakan dalam berbagai jenis komputer.
5) Memiliki kemampuan untuk beradaptasi.
b. Konsep Dasar Sistem Pakar
Konsep dasar sistem pakar meliputi enam hal yaitu ekspertise, ekspert,
transfering ekspert, inference, rules, dan explanation capability.
1) Kepakaran (Ekspertise)
Kepakaran merupakan suatu pengetahuan yang diperoleh dari
pelatihan, membaca, dan pengalaman. Kepakaran inilah yang memungkinkan
para ahli dapat mengambil keputusan lebih cepat dan lebih baik daripada
seorang yang bukan pakar.
2) Pakar (Ekspert)

Pakar adalah seseorang yang mempunyai pengetahuan, pengalaman


dan metode khusus serta mampu menerapkannya untuk memecahkan
masalah. Seorang pakar harus mampu menjelaskan dan mempelajari hal-hal
baru yang berkaitan dengan topik permasalahan.
3) Pemindahan Kepakaran (Transfering Expertise)
Tujuan dari sistem pakar adalah memindahkan kepakaran dari seorang
pakar kedalam komputer, kemudian ditransfer kepada orang lain yang bukan
pakar. Proses ini melibatkan akusisi pengetahuan, representasi pengetahuan,
Inferensi pengetahuan, dan pemindahan pengetahuan ke pengguna.

4) Inferensi (Inference)
Inferensi adalah sebuah prosedur (program) yang mempunyai
kemampuan untuk penalaran. Inferensi ditampilkan pada suatu komponen
yang disebut mesin inferensi yang mencakup prosedur-prosedur mengenai
pemecahan masalah. Pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pakar disimpan
pada basis pengetahuan oleh sistem pakar. Tugas mesin inferensi adalah
mengambil kesimpulan berdasarkan basis pengetahuan yang dimilikinya.
5) Aturan-Aturan (Rules)
Sistem berbasis rule (rule based systems) adalah salah satu
representasi pengetahuan yang menghubungkan premis dangan konklusi yang

10

diakibatkannya. Suatu aturan produksi dituliskan dalam bentuk jika-maka


(IF-THEN).
6) Kemampuan menjelaskan (Explanation Capability)
Fasilitas lain dari sistem pakar adalah kemampuannya untuk
menjelaskan saran atau rekomendasi yang diberikannya. Penjelasan dilakukan
dalam subsistem yang disebut subsistem penjelas (explanation). Bagian dari
sistem ini memungkinkan sistem untuk memeriksa penalaran yang dibuatnya
sendiri dan menjelaskan operasi-operasinya.

c. Struktur dan Arsitektur Sistem Pakar


Sistem pakar disusun oleh dua bagian utama, yaitu lingkungan
pengembangan
(consultation
digunakan

(development
environment)

oleh

pembuat

environment)
(Turban,

sistem

2001).

pakar

dan

lingkungan

Lingkungan

untuk

konsultasi

pengembangan

membangun

komponen-

komponennya dan memperkenalkan pengetahuan ke dalam basis pengetahuan


(knowledge base). Sedangkan lingkungan konsultasi digunakan oleh pengguna
untuk berkonsultasi sehingga pengguna mendapatkan pengetahuan dan nasihat
dari sistem pakar layaknya berkonsultasi dengan seorang pakar. Gambar 2.1
menunjukkan arsitektur sistem pakar.

11

Gambar 2.1
Arsitektur Sistem Pakar (Turban, 2001)
Komponen-komponen yang terdapat dalam sistem pakar seperti yang
digambarkan pada gambar 2.1, adalah sebagai berikut :
1) Akusisi Pengetahuan
Akusisi pengetahuan (knowledge acqusition) adalah akumulasi,
transfer dan transfer dan transformasi keahlian dalam menyelesaikan masalah
dari sumber pengetahuan ke dalam program komputer (Desiani, 2005). Tahap
akuisisi pengetahuan ini dikerjakan oleh seorang knowledge engineer.
Knowledge engineer adalah seorang yang memiliki latar belakang
pengetahuan tentang komputer dan mengerti cara pengembangan sistem

12

pakar serta yang menerjemahkan pengetahuan seorang pakar dalam bentuk


deklaratif sehingga dapat digunakan oleh sistem pakar.
2) Basis Pengetahuan (Knowledge Base)
Basis pengetahuan mengandung pengetahuan yang diperlukan untuk
memahami,

memformulasikan,

dan

menyelesaikan

masalah.

Basis

pengetahuan terdari dari fakta dan rule.


3) Mesin Inferensi (Inference Engine)
Mesin inferensi adalah sebuah program yang berfungsi untuk
memandu proses penalaran terdapat suatu kondisi berdasarkan pada basis
pengetahuanyang ada, manipulasi dan mengarahkan kaidah, model, dan fakta
yang disimpan dalam basis pengetahuan untuk mencapai solusi atau
kesimpulan. Dalam prosesnya, mesin inferensi menggunakan strategi
pengendalian, yaitu strategi yang berfungsi sebagai panduan arah dalam
melakukan proses penalaran. Ada tiga teknik pengendalian yang digunakan,
yaitu forward chaining, backward chaining, dan gabungan dari kedua teknik
tersebut.
4) Daerah Kerja (Blackboard)
Blackboard berfungsi untuk merekam hasil sementara yang dijadikan
sebagai keputusan dan untuk menjelaskan sebuah masalah yang sedang

13

terjadi. Sistem pakar membutuhkan blackboard, yaitu area pada memori yang
berfungsi sebagai basis data.
5) Antarmuka Pengguna (User Interface)
Antamuka pengguna atau user interface merupakan mekanisme yang
digunakan oleh pengguna dan sistem pakar untuk berkomunikasi. User
interface atau antamuka pengguna menerima informasi dari pemakai dan
mengubahnya kedalam bentuk yang dapat diterima oleh sistem. Selain itu,
antarmuka pengguna menerima informasi dari sistem dan menyajikannya
kedalam bentuk yang dapat dimengerti oleh pemakai. Perancangan user
interface haruslah memenuhi prinsip user friendly, yaitu mudah digunakan
oleh user dan sejelas mungkin agar tidak terjadi adanya salah interpretasi.

6) Subsistem Penjelasan (Explanation/ Justifier)


Subsistem Penjelasan berfungsi memberi penjelas kepada pengguna,
bagaimana suatu kesimpulan dapat diambil. Kemampuan seperti ini sangat
penting bagi pengguna untuk mengetahui proses pemindahan keahlian pakar
maupun dalam pemecahan masalah.
7) Sistem Perbaikan Pengetahuan (Knowledge Refining System)

14

Pakar memiliki kemampuan untuk menganalisis dan meningkatkan


kinerja serta kemampuan untuk belajar dari kinerjanya. Kemampuan tersebut
adalah penting dalam pembelajaran terkomputerisasi, sehingga program akan
mampu menganalisis penyebab kesuksesan dan kegagalan yang dialaminya.
8) Pengguna(User)
Pengguna sistem pakar pada umumnya bukanlah seorang pakar yang
membutuhkan solusi, saran, atau pelatihan dari permasalahan yang terjadi.
User pada sistem pakar berinteraksi melalui interface pemakai. Interface
tersebut terdapat berupa pertanyaan-jawaban, menu pilihan, bahasa alami atau
grafik. Subsistem penjelasan dalam sistem pakar memungkinkan program untuk
menjelaskan penalarannya kepada pemakai yang antara lain menyangkut
kebutuhan sistem terhadap data tertentu.

d. Representasi Pengetahuan
Representasi pengetahuan (knowledge representation) adalah cara untuk
menyajikan pengetahuan yang diperoleh ke dalam suatu skema/diagram tertentu
sehingga dapat diketahui relasi antara suatu pengetahuan dengan pengetahuan
yang lain dan dapat dipakai untuk menguji kebenaran penalaran. Teknik ini
membantu knowledge engineer dalam memahami struktur pengetahuan yang akan
dibuat sistem pakarnya. Terdapat beberapa teknik representasi pengetahuan yang

15

biasa digunakan dalam pengembangan suatu sistem pakar, yaitu representasi logika,
jaringan semantik, frame, script, dan aturan produksi.

Representasi logika menggunakan ekspresi-ekspresi dalam logika formal


untuk merepresentasikan basis pengetahuan. Pada dasaranya proses logika adalah
proses membentuk kesimpulan dan menarik suatu inferensi berdasarkan fakta
yang telah ada. Input dari proses logika berupa fakta-fakta yang diakui
kebenarannya sehingga dengan melakukan penalaran pada proses logika dapat
dibentuk suatu inferensi atau kesimpulan yang benar pula.
Teknik representasi yang kedua adalah jaringan semantik. Jaringan
semantik

merupakan

representasi

pengetahuan

yang

digunakan

untuk

menggambarkan data dan informasi yang menunjukkan hubungan antara berbagai


objek. Jaringan semantik merupakan grafik, yang terdiri

dari simpul-simpul

(nodes), yang merepresentasikan objek, dan busur-busur (arcs) yang menunjukkan


relasi antar objek-objek tersebut. Teknik ini merupakan alat yang efektif untuk
merepresentasikan pemetaan data agar tidak terjadi duplikasi data.
Teknik representasi frame digunakan untuk merepresentasikan
pengetahuan stereotype atau pengetahuan yang didasarkan
kepada karakteristik yang sudah dikenal yang merupakan
pengalaman masa lalu. Hal tersebut serupa dengan teknik
representasi script. Namun, perbedaannya adalah frame menggambarkan
objek,

sedangkan

script

menggambarkan

urutan

peristiwa.

Dalam

menggambarkan urutan peristiwa, script menggunakan slot yang berisi informasi


tentang orang, objek, dan tindakan-tindakan yang terjadi dalam suatu peristiwa.

16

Teknik representasi yang keempat adalah aturan produksi yang merupakan


salah satu representasi pengetahuan yang menghubungkan premis dengan
konklusi yang diakibatkannya. Aturan produksi dituliskan dalam bentuk jikamaka (if premis then konklusi). Konklusi pada bagian then bernilai benar jika
premis pada bagian if bernilai benar.
Representasi pengetahuan sistem pakar diagnosa penyakit gigi dan mulut
ini menggunakan teknik aturan produksi, dimana pengetahuan direpresentasikan
dalam suatu bentuk fakta (facts) dan aturan (rules) (Delima dkk., 2009).
e. Teknik Inferensi Forward Chaining
Domain pada sistem pakar berbasis rule pengetahuan direpresentasikan
dalam sebuah kumpulan rule berbentuk if-then, sedangkan data direpresentasikan
dalam sebuah kumpulan fakta-fakta tentang kejadian saat ini. Mesin Inferensi
membandingkan masing-masing rule yang tersimpan dalam basis pengetahuan
dengan fakta-fakta yang terdapat dalam database. Jika bagian if (kondisi) dari rule
cocok dengan fakta, maka rule dieksekusi dengan bagian then (aksi) diletakkan
dalam database sebagai fakta baru yang ditambahkan.
Strategi

inferensi

yang

dimulai

dengan

sekumpulan

fakta-fakta

pengetahuan, memperoleh fakta-fakta baru menggunakan aturan-aturan dimana


premis-premis sesuai dengan fakta-fakta pengetahuan, dan meneruskan prosesnya
sampai sebuah tujuan yang ditetapkan telah tercapai. (Durkin, 1994).
Algoritma forward chaining menurut Durkin (1994) digambarkan pada
gambar 2.2.

17

Gambar 2.2
Algoritma forward chaining (Durkin, 1994)

Proses penalaran forward chaining adalah sebagai berikut:


1) Strategi inferensi dimulai dengan diketahui adanya fakta-fakta.
2) Mendapatkan fakta baru menggunakan aturan-aturan yang premisnya sesuai
dengan fakta yang diketahui.
3) Proses tersebut di lanjutkan hingga tujuannya tercapai atau sampai tidak ada
lagi aturan yang premisnya sesuai dengan fakta yang ada.
Forward chaining merupakan suatu proses yang berdasarkan data dan
fakta, dimana user harus memberikan data atau fakta sebelum mesin inferensi

18

bekerja. Mesin inferensi menelusuri basis pengetahuan sesuai data atau fakta yang
diberikan untuk menghasilkan suatu kesimpulan akhir.

Gambar 2.3
Proses Forward Chaining (Arhami, 2005)
Pada teknik forward chaining pencarian dimulai dengan fakta yang
diketahui, kemudian mencocokkan fakta-fakta tersebut dengan bagian if dari rules
if-then. Bila ada fakta yang cocok dengan bagian if, maka rule tersebut dieksekusi.
Bila sebuah rule dieksekusi, maka sebuah fakta baru ditambahkan ke dalam
database. Setiap kali pencocokan, dimulai dari rule teratas. Setiap rule hanya
boleh dieksekusi sekali saja. Proses pencocokan berhenti bila tidak ada lagi rule
yang bisa dieksekusi. Berikut salah satu penerapan teknik
dalam bentuk aturan IF-THEN :
IF gusi bengkak AND
Gusi licin dan mengkilap AND
Gusi merah muda AND
Gusi mudah berdarah AND
Terdapat endapan plak AND
AND terdapat karang gigi
19

forward chaining

THEN pasien terkena penyakit Gingivitis


Kaidah aturan tersebut memerlukan sejumlah fakta-fakta mengenai
keluhan yang dialami pasien berupa gusi licin dan mengkilap, gusi merah muda,
gusi mudah berdarah dan terdapat plak dan karang gigi. Maka konklusi yang
dihasilkan untuk pasien adalah Gingivitis.
f. Strategi Pencarian
1) Depth First Search
Prosedur Depth First Search merupakan pencarian yang dilakukan
dari node awal secara mendalam hingga yang paling terakhir (dead-end) atau
sampai ditemukan goal. Depth First Search akan mengungjungi simpul
cabang atau anak yang terlebih dahulu. Ilustrasi dari Depth First Search
digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2.4
Strategi Pencarian Depth First Search (Arhami, 2005)

20

Gambar tersebut proses pencarian dilakukan dengan mengungjungi


cabang terlebih dahulu hingga tiba disimpul akhir. Apabila tujuan yang
diinginkan belum tercapai maka pencarian dilanjutkan ke cabang sebelumnya
hingga cabang-cabang di bawahnya, demikian seterusnya hingga diperoleh
goal.
2) Breadth First Search
Prosedur Breadth First Search merupakan pencarian yang dilakukan
dengan mengungjungi tiap-tiap node secara sistematis pada setiap level
hingga goal state ditemukan. Penelusuran yang dilakukan adalah dengan
mengungjungi node-node pada level yang sama hingga ditemukan goal.
Ilustrasi Breadth First Search ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Gambar 2.5
Strategi Pencarian Breadth First Search (Arhami, 2005)

21

3) Best First Search


Teknik Pencarian Best First Search merupakan kombinasi dari
Breadth First Search dan Depth First Search. Ilustrasi Best First Search
ditunjukkan pada gambar berikut ini.

Gambar 2.6
Strategi Pencarian Best First Search

2. Diagnosa
Diagnosa adalah identifikasi sifat-sifat penyakit atau kondisi atau
membedakan satu penyakit atau kondisi dari yang lainnya. Penilaian dapat
dilakukan melalui pemeriksaan fisik, tes laboratorium, atau sejenisnya, dan dapat
dibantu oleh program komputer yang dirancang untuk memperbaiki proses
pengambilan keputusan.
Menurut Thondike dan Hagen (1955) diagnosis dapat diartikan sebagai :

22

a. Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit apa yang dialami
seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai
gejala-gejalanya.
b. Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan
karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial.
c. Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang seksama atas
gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal.
Pekerjaan diagnostik bukan hanya sekedar mengidentifikasi jenis dan
karakter, latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu saja, akan
tetapi mengimplikasikan suatu upaya untuk memprediksikan kemungkinan dan
menyarankan tindakan pemecahannya
3. Penyakit Gigi dan Mulut
a. Pengertian Gigi dan Mulut
Mulut merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan
minuman. Dalam bahasa Latin, mulut dikenal dengan nama oral atau oris.
Komponen organ yang menyertai mulut antara lain: gigi, bibir sebagai pembatas
sebelah depan, lidah sebagai pembatas sebelah bawah, faring sebagai pembatas
sebelah belakang, pipi sebagai pembatas sebelah samping dan palatum (langitlangit) sebagai pembatas sebelah atas (Martawiansyah, 2008 : 2).
Gigi merupakan bagian keras yang terdapat dalam rongga mulut. Pada
umumnya manusia memiliki struktur, bentuk dan jumlah yang sama. Pada anakanak terdapat 20 buah gigi sulung, dimana tiap-tiap rahang terdiri atas 4 gigi seri,
2 gigi taring, dan 4 gigi geraham. Untuk gigi dewasa, memiliki 32 buah gigi tetap,

23

pada tiap rahangnya terdiri atas 4 gigi seri, 2 gigi taring, 4 gigi geraham kecil, dan
6 gigi geraham besar (Martawiansyah, 2008 : 3). Struktur gigi terdiri dari tiga
bagian yaitu mahkota gigi merupakan bagian yang menonjol di atas gusi, akar gigi
yang merupakan bagian terpendam dalam tulang rahang, dan leher gigi yang
merupakan pembatas bertemunya mahkota dan akar gigi.

Gambar 2.7
Penampang gigi ( http://medicastore.com)
Gigi memiliki tiga bagian utama yang penting yaitu: email, dentin, dan
pulpa. Email merupakan bagian terluar gigi yang paling tipis, berwarna putih
mengkilap namun agak transparan (translucent) dan keras. Kekerasan email gigi
ini dimungkinkan oleh bahan pembentuk email itu sendiri yang berupa struktur
kristalin (kristal hidroksiapatit) dimana 96% terdiri dari bahan anorganilk, 1%
organik dan sisanya adalah air. Bagian kedua gigi setelah email adalah dentin.
Berbeda dengan email, dentin berwarna kekuningan dan merupakan bagian
terbesar dari gigi. Komposisi dentin juga berbanding terbalik dengan email
dimana dentin terdiri dari 85% material organik, ini sebabnya dentin bersifat
sedikit lebih lunak dari email. Bentuk dentin yang berpori karena tersusun dari

24

tubuli dentin menyebabkan dentin lebih sensitif terhadap rangsang suhu maupun
kimia. Sedangkan pulpa merupakan sebuah ruangan di tengah-tengah gigi. Pada
ruang pulpa ini terdapat pembuluh darah kecil serta syaraf-syaraf gigi. Hal
tersebut menyebabkan merasakan sakit yang luar biasa saat terdapat karies (gigi
berlubang).
a. Macam-Macam Penyakit Gigi dan Mulut
Berikut ini adalah macam-macam penyakit gigi dan mulut :
1) Abses Periodontal
Periodontitis abses ialah suatu inflamasi yang mengandung nanah
dijaringan periodontal, bersifat kronis atau akut, sering kali abses menjadi kronis
dan abses kronis menjadi akut. Periodontal abses terlihat adanya pengumpulan
pus sepanjang akar gigi disebabkan infeksi jaringan periodontal dan gigi masih
vital, periodontal abses terjadi akibat adanya factor iritasi, seperti plak, kalkulus,
infaksi bakteri, infaksi makanan atau trauma jaringan. Keadaan ini dapat
menyebabkan kerusakan tulang alveolar, sehingga terjadi gigi goyang.
2) Gingivitis
Gingivitis adalah salah satu gangguan gigi berupa pembengkakan atau
radang pada gusi (gingiva). Radang gusi adalah bentuk pertama penyakit pada
selaput periodontal yang menjadi awal rusaknya jaringan pendukug gigi, antara
lain gusi, selaput periodontal, dan tulang gigi. Penyakit ini disebabkan oleh

25

timbunan plak berkepanjangan. Plak adalah material yang terdiri dari bakteri,
lendir dan sis makanan yang menempel pada gigi bagian luar.
3) Karies Gigi
Karies Gigi (Kavitasi) adalah daerah yang membusuk di dalam gigi, yang
terjadi akibat suatu proses yang secara bertahap melarutkan email (permukaan
gigi sebelah luar yang keras) dan terus berkembang ke bagian dalam gigi. Hal-hal
yang mendukung terjadinya karies gigi adalah gigi yang peka, yaitu gigi yang
mengandung sedikit fluor atau memiliki lubang, lekukan maupun alur yang
menahan plak, bakteri, mulut mengandung sejumlah besar bakteri serta sisa-sisa
makanan. Jika pembusukan berhenti sebelum mencapai dentin, maka email bisa
membaik dengan sendirinya dan bintik putih di gigi akan menghilang.
Jika pembusukan telah mencapai dentin, maka bagian gigi yang membusuk harus
diangkat dan diganti dengan tambalan (restorasi). Mengobati pembusukan pada
stadium dini bisa membantu mempertahankan kekuatan gigi dan memperkecil
kemungkinan terjadinya kerusakan pulpa.
4) Periodontitis
Periodontitis adalah peradangan dari gingivitis yang menyebar sampai ke
struktur penyangga gigi. Periodontitis merupakan salah satu penyebab utama
lepasnya gigi pada dewasa dan penyebab lepasnya gigi pada lanjut usia. Sebagian
besar periodontitis merupakan akibat dari penumpukan plak dan karang gigi
diantara gigi dan gusi.
5) Anodonsia

26

Anodonsia adalah kelainan genetik (keturunan) berupa tidak tumbuhnya


gigi karena tidak adanya benih gigi. Terdapat 3 macam anodonsia, yaitu complete
anodonsia, hipodonsia dan oligodonsia.
6) Abses Periapikal
Abses Periapikal adalah pengumpulan nanah yang telah menyebar dari
sebuah gigi ke jaringan di sekitarnya, biasanya berasal dari suatu infeksi.
Penyebab Abses Periapikal adalah tubuh menyerang infeksi dengan sejumlah
besar sel darah putih, nanah adalah sekumpulan sel darah putih dan jaringan yang
mati. Biasanya nanah dari infeksi gigi pada awalnya dialirkan ke gusi, sehingga
gusi yang berada di dekat akar gigi tersebut membengkak. Nanah bisa dialirkan ke
kulit, mulut, tenggorokan atau tengkorak, tergantung pada lokasi gigi yang
terkena.
Gejala Abses Periapikal adalah gigi terasa sakit, bila mengunyah juga
timbul nyeri. Kemungkinan ada demam disertai pembengkakan kelenjar getah
bening di leher dan jika sangat berat, di daerah rahang terjadi pembengkakan.
Abses diatasi dengan menghilangkan infeksi dan membuang nanah melalui bedah
mulut atau pengobatan saluran akar. Tindakan yang terpenting adalah mencabut
pulpa yang terkena dan mengeluarkan nanahnya.

7) Trench Mouth

27

Trench Mouth adalah suatu infeksi gusi yang tidak menular. Infeksi ini
menyebabkan rasa nyeri, demam dan kelelahan. Istilah trench mouth berasal dari
Perang Dunia I dimana banyak serdadu yang tinggal di bedeng (trench) menderita
infeksi ini. Hal yang mendukung terjadinya penyakit ini adalah kebersihan mulut
yang jelek, stres fisik maupun stres emosional, diet, dan kurang istirahat.
Biasanya, trench mouth dimulai secara tiba-tiba berupa nyeri gusi, gelisah dan
kelelahan. Ujung-ujung gusi yang terletak diantara dua gigi mengalami pengikisan
dan tertutup oleh jaringan mati yang berupa lapisan berwarna abu-abu. Kelenjar
getah bening di bawah rahang seringkali membengkak dan timbul demam ringan.
Pengobatan dilakukan dengan pembersihan, dimana semua jaringan gusi yang
mati dan karang gigi dibuang.
8) Gigi Bernanah (Abses Gigi)
Abses gigi adalah kumpulan nanah yang disebabkan oleh infeksi bakteri di
bagian dalam gigi. Abses gigi biasanya terjadi sebagai akibat dari rongga gigi
tidak diobati, atau retak pada gigi yang memungkinkan bakteri masuk ke bagian
dalam gigi. Pengobatan untuk abses gigi dengan mengeringkan abses dan
membersihkan daerah infeksi. Gigi itu sendiri dapat dipertahankan dengan
perawatan saluran akar, tetapi dalam beberapa kasus mungkin perlu dicabut.
Meninggalkan abses gigi yang tidak diobati dapat menyebabkan hal serius,
bahkan mengancam jiwa dan terjadi komplikasi.
9) Abrasi Gigi

28

Abrasi Gigi adalah hilangnya struktur atau terkikisnya bagian luar gigi
(enamel), dan bahkan terkadang struktur bagian dalam gigi juga ikut terkikis. Hal
ini terjadi disebabkan oleh seringnya menyikat gigi terlalu keras tetapi juga dapat
disebabkan oleh terlalu banyak banyak makan makanan yang bersifat asam, asam
refluks . Penyebab abrasi gigi juga bisa terjadi akibat adanya gesekan antar gigi
atas dan gigi bawah. Atau mungkin anda terbiasa mengigit benda benda yang agak
keras seperti menggit bolpen atau benda lainnya, hal ini tanpa anda sadari sedikit
demi sedikit dapat mengikis gigi anda.
10) Bruxism
Bruxism adalah suatu kebiasaan yang terlihat dalam mulut berupa suatu
ritme yang tidak disadari dan tidak disengaja atau gerakan nonfungsional dalam
menggertakan gigi, menggerus gigi, dan mengepalkan gigi, biasanya terjadi
selama waktu tidur, dimana hal ini dapat menimbulkan rasa sakit pada kepala dan
kerusakan gigi yang nantinya dapat menyebabkan terjadinya traumatik oklusi.

11) Dry Socket


Dry socket atau yang disebut juga sebagai alveolar osteitis (alveolar:
tulang pendukung gigi-geligi, osteitis: radang tulang) adalah sebuah kondisi
dimana tulang alveolar dari gigi yang sudah dicabut berada dalam keadaan bebas
terpapar (terbuka tanpa lapisan gusi menutupi). Jangan anda bayangkan bahwa

29

terjadi sobek di gusi anda kemudian tulang rahang terlihat langsung dari luar.
Kondisi penyakit ini adalah tidak menyatunya jaringan gusi dalam menutupi
lubang bekas gigi yang dicabut sehingga tulang di bagian dalam rongga tersebut
tidak tertutupi. Tulang yang tidak tertutupi ini akan mengalami rangsangan yang
menyebabkan sakit seandainya ada benda asing yang mengenainya.
Perawatan dry socket hanya dapat dilakukan oleh dokter gigi. Perawatan
untuk penyakit ini adalah membersihkan rongga gigi dari sisa-sisa makanan dan
partikel asing dengan cairan hidrogen peroksida serta menempelkan perban
anestetik ke dalam rongga untuk melindungi rongga bekas pencabutan, yang harus
diganti dalam 1-2 hari selama seminggu.
12) Parit Mulut
Parit mulut adalah bentuk parah yang menyebabkan radang gusi
menyakitkan, infeksi, pendarahan gusi dan ulcerations. Penyakit ini biasa terjadi
di negara-negara berkembang dengan gizi buruk dan kondisi kehidupan
masyarakat miskin. Tanda dan gejala pada penyakit ini adalah gusi sakit parah,
pendarahan dari gusi, gusi bengkak, sakit ketika makan atau menelan, luka antara
gigi dan gusi, rasa busuk dalam mulut, bau mulut, demam, serta embengkakan
kelenjar getah bening di sekitar kepala, leher atau rahang.
13) Hipersensitivitas Dentin
Hipersensitivitas dentin adalah rasa yang tidak nyaman atau nyeri yang
disebabkan rangsangan termal, kimiawi dan mekanik pada satu atau lebih gigi.

30

Rasa sensitif ini terjadi apabila dentin terbuka yang disebabkan oleh resesi
gingiva, abrasi, erosi, penyakit periodontal, kerusakan restorasi, atau karies.
Tubulus pada daerah yang sensitif lebih lebar dan banyak daripada di area yang
tidak sensitif. Daerah sensitif biasanya terletak pada permukaan servikal margin
gigi.

4. Alat Perancangan Sistem


a. Data Flow Diagram
Data Flow Diagram (DFD) adalah representasi grafik dari sebuah sistem.
DFD menggambarkan komponen-komponen sebuah sistem, aliran-aliran data di
mana komponen-komponen tersebut, dan asal, tujuan, dan penyimpanan dari data
tersebut.
DFD adalah suatu model logika data atau proses yang dibuat untuk
menggambarkan dari mana asal data dan kemana tujuan data yang keluar dari
sistem, dimana data disimpan, proses apa yang menghasilkan data tersebut dan
interaksi antara data yang tersimpan dan proses yang dikenakan pada data
tersebut. DFD sering digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah
ada atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa
mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir atau dimana
data tersebut akan disimpan. Berikut ini adalah simbol DFD menurut versi
Yourdon dan De Marco.
Tabel 2.1
DFD Versi Yourdon dan De Marco

31

No

Simbol-simbol

Keterangan
Kesatuan luar (Eksternal Entity) adalah
lingkungan luar system yang dapat berupa

1.

orang, organisasi, atau sistem lain yang


memberikan input atau menrtima output
dari sistem.
Arus data (Data Flow) adalah aliran data

2.

yang mengalir di antara proses, simpanan


data dan kesatuan luar.
Simbol

3.

proses,

menunjukkan

suatu

kegiatan yang dilakukan oleh orang atau


mesin untuk mengolah data masukan
menjadi keluaran

4.

Penyimpanan

data,

digunakan

untuk

memodelkan kumpulan data atau paket

b. Entity Relationship Diagram (ERD)


Entity Relationship Diagram (ERD) merupakan suatu model untuk
menjelaskan hubungan antar data dalam basis data berdasarkan objek-objek dasar
data yang mempunyai hubungan antar relasi. Untuk menggambarkan ERD
menggambarkannya digunakan beberapa notasi dan simbol.
Menurut Fathansyah (1999:70), model Entity Relationship Diagram berisi
komponen-komponen himpunan entitas dan relasi yang masing-masing dilengkapi
dengan atribut yang merepresentasikan seluruh fakta dari dunia nyata yang kita

32

tinjau, dapat digambarkan dengan lebih sistematis dengan menggunakan Entity


Relationship Diagram.
Tabel 2.2
Komponen ERD
No

Simbol-simbol

Keterangan
merupakan representasi

Entitas,
sebuah

1.

objek

tempat

dimana

dari
sistem

menyimpan data.
Atribut, merupakan data yang dihubungkan
dengan

2.

entitas.

menjelaskan,

Digunakan

mengedintifikasi

untuk
,

dan

mengekspresikan hubungan antar entitas.


Relasi, adalah hubungan yang terjadi antar

suatu atau lebih entitas.

c. Flowchart
Flowchart

adalah

bagan-bagan

yang

mempunyai

arus

yang

menggambarkan langkah-langkah penyelesaian suatu masalah. Flowchart


menampilkan langkah-langkah yang disimbolkan dalam bentuk kotak, beserta
urutannya dengan menghubungkan masing masing langkah tersebut menggunakan
tanda panah. Diagram ini bisa memberi solusi selangkah demi selangkah untuk
penyelesaian masalah yang ada di dalam proses atau algoritma tersebut.
Flowchart atau diagram alir memiliki bagan-bagan yang melambangkan
fungsi tertentu. Simbol Flowchart disajikan pada tabel berikut :

33

Tabel 2.3
Simbol Flowchart
Bagan

Nama
Terminator

Flow

Fungsi
Awal atau akhir program

Arah aliran program

Preparation

Proces

inisialisasi/pemberian nilai
awal
Proses/pengolahan data

Input/Output
Data

input/output data

Sub Program

sub program

Decision
On Page
Connector

Seleksi atau kondisi


Penghubung bagian-bagian
flowchart pada halaman yang
sama

5. Alat Pengembangan Sistem Pakar


a. PHP
PHP yang merupakan singkatan dari Hypertext Preprocessor, adalah
bahasa pemrograman yang mana file dan seluruh prosesnya dikerjakan di server,

34

kemudian hasilnya yang dikirimkan ke clien, tempat pemakai menggunakan


browser (Kadir, 2008:2). Kode-kode PHP diciptakan oleh Rasmus Lerdorf yang
menulis dua versi pertama dari PHP dan juga berpartisipasi dalam pengembangan
versi-versi PHP selanjutnya.
PHP merupakan bahasa pemprograman web server-side yang bersifat open
source. PHP script yang terintegrasi dengan HTML dan berada server side HTML
embeded scripting (Anhar, 2010:3). Selain itu, PHP merupakan bahasa
pemrograman yang bersifat interpreter, artinya baris-baris program PHP di
terjemahkan satu persatu ke dalam bahasa mesin dan diproses oleh interpreter
PHP menjadi HTML. Sehingga client yang berupa browser hanya melihat hasil
HTML tanpa melihat program PHP di dalamnya.
Mesin PHP mencari baris-baris yang berada di dalam tag <?php atau <?
dan ?> di dalam halaman HTML, dan menerjemahkannya sehingga web server
dapat memberikan hasil berupa HTML. Model kerja HTML diawali dengan
permintaan suatu halaman web oleh browser. Berdasarkan URL (Uniform
Resource Locator) atau dikenal dengan sebutan alamat internet, browser
mendapatkan

alamat

dari

web

server,

mengidentifikasi

halaman

yang

dikehendaki, dan menyapaikan segala informasi yang dibutuhkan oleh server.


Selanjutnya ketika berkas PHP yang diminta didapatkan oleh server, isinya segera
dikirimkan ke mesin PHP dan mesin inilah yang memproses dan memberikan
hasilnya (berupa kode HTML) ke server, dan server akan menyampaikan ke clien.
b. MySQL

35

MySQL adalah salah satu perangkat lunak sistem manajemen basis data
(data base) SQL atau sering disebut dengan DBMS (Database Management
System) (Hirin dan Virgi, 2011).
MySQL merupakan database relasional dimana informasi dibagi menjadi
beberapa data yang terpisah secara logis. Data-data yang terpisah tersebut
diletakkan dalam bentuk tabel. Tabel menyimpan informasi dan pengambilannya
(retrieval). Ketika informasi sudah tersimpan di tabel-tabel yang terpisah,
pengguna dapat melihat (view), mengedit (edit), menambah (add), dan menghapus
(delete) informasi dengan berbagai metode. Keunggulan menggunakan database
relasional terletak pada kurangnya redundansi data. Konsekuensinya tidak hanya
ruang penyimpanan hardisk menjadi berkurang, tetapi kecepatan pemprosesan
data juga berkurang (Tim Penulis Wahana Komputer, 2010:3)
Keunggulan MySQL adalah kemampuannya dalam menyediakan berbagai
fasilitas atau fitur-fitur yang dapat digunakan oleh bermacam-macam user.
Sebagai sebuah manajemen system database server, MySQL mampu menangani
beberapa instruksi sekaligus dari beberapa user dalam satu waktu serta merekam
semua data user di dalam sistemnya dalam tabel user.

c. Adobe Dreamweaver
Macromedia Dreamweaver adalah sebuah HTML editor profesional untuk
mendesain secara visual dan mengelola situs web maupun halaman web.

36

Dreamweaver mambuatnya menjadi lebih mudah dengan menyediakan tool-tool


yang sangat berguna dalam peningkatan kemampuan dan pengalaman kita dalam
mendesain web.
Menurut Widodo (2008:281), Macromedia Dreamweaver adalah Program
editor html yang sangat andal dan banyak di minati oleh para web desainer.
Pada versi terbarunya, program ini telah di akuisisi oleh Adobe Corportion
sehingga namanya berubah menjadi Adobe Dreamweaver yang di kemas dalam
paket Adobe CS3, CS4 dan CS5 (Creative Suite Seri 3, 4, dan 5).
Pada tugas akhir ini penulis menggunakan Adobe Dreamweaver CS3 yang
merupakan HTML editor professional yang berfungsi mendesain, melakukan
editing dan mengembangkan aneka website. Salah satu kelebihan Adobe
Dreamweaver CS3 yaitu ruang kerja Adobe Dreamweaver CS3 beserta tools yang
tersedia dapat digunakan dengan sangat mudah dan cepat sehingga anda bisa
membangun suatu website dengan cepat dan tanpa harus melakukan coding.
Selain itu, Adobe Dreamweaver CS3 juga mempunyai integrasi dengan produk
macromedia lainnya, seperti flash dan firework. Flash sudah sangat terkenal
sebagai sebagai program untuk membuat animasi yang berbasis web dengan
perkembangan kebutuhan dan teknologi.

B. Kerangka Pikir

37

Kerangka pikir dalam sistem pakar penyakit gigi dan mulut dijabarkan
sebagai berikut:

Gambar 2.8
Kerangka Pikir
BAB III
METODE PENELITIAN

38

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian rancang bangun sistem pakar
diagnosa penyakit gigi dan mulut dengan metode inferensi forward chaining.

B. Rancangan Penelitian
Pengembangan suatu sistem merupakan suatu pengembangan yang
terstandarisasi yang dapat mendefinisikan suatu set aktivitas, metode, praktik
terbaik, dan perangkat terotomatisasi yang digunakan pengembang sistem dan
untuk mengembangkan suatu sistem.
Pengembangan sistem pakar penyakit gigi dan mulut ini, menggunakan
metode pengembangan Expert System Developtment Life Cycle (ESDLC) Durkin
(1994) dimana metode ini mempunyai enam tahap pengembangan yaitu penilaian
(assesment),

akuisisi

pengetahuan,

desain,

pengujian,

dokumentasi

dan

pemeliharaan. Setiap tahapan dalam metode ESDLC ini dapat merepresentasikan


kebutuhan pada pengembangan sistem pakar diagnosa penyakit gigi dan mulut.
Expert System Developtment Life Cycle (ESDLC) yang merupakan konsep
dasar perancangan dan pengembangan sistem pakar digambarkan sebagai berikut:

39

Gambar 3.1
Tahap Pengembangan Sistem Pakar (Durkin, 1994)
1. Penilaian (Assessment)
Merupakan proses untuk menentukan kelayakan dan justifikasi atas
permasalahan yang akan diambil. Setelah proyek pengembangan dianggap layak
dan sesuai dengan tujuan, maka selanjutnya ditentukan fitur-fitur penting dan
ruang lingkup proyek serta sumber daya yang dibutuhkan. Sumber pengetahuan
yang diperlukan diidentifikasi dan ditentukan persyaratan persyaratan proyek.

40

2. Akuisisi Pengetahuan
Proses

akuisisi

pengetahuan,

seorang

perekayasa

pengetahuan

menjembatani antara pakar dengan basis pengetahuan. Perekayasa pengetahuan


mendapatkan pengetahuan dari pakar, mengolahnya dan menyimpannya dalam
basis pengetahuan. Pengetahuan ini digunakan untuk memberikan informasi
tentang permasalahan yang menjadi bahan acuan dalam mendesain sistem pakar.
Tahap ini meliputi studi dengan diadakannya pertemuan dengan pakar untuk
membahas aspek dari permasalahan.
3. Design
Pengetahuan yang telah didapatkan dalam proses akuisisi pengetahuan,
dapat

didesain

antarmuka

maupun

teknik

penyelesaian

masalah

dapat

diimplementasikan ke dalam sistem pakar. Tahap desain ini, seluruh struktur dan
organisasi dari pengetahuan harus ditetapkan dan dapat direpresentasikan kedalam
sistem. Sebuah sistem prototype di bangun pada tahap design. Tujuan dari
pembangunan prototype tersebut adalah untuk memberikan pemahaman yang
lebih baik atas masalah.

4. Pengujian
Tahap ini dimaksudkan untuk menguji apakah sistem pakar yang dibangun
telah sesuai dengan tujuan pengembangan maupun kesesuaian kinerja sistem

41

dengan metode penyelesaian masalah yang bersumber dari pengetahuan yang


sudah didapatkan. Apabila dalam tahap ini terdapat bagian yang harus dievaluasi
maupun dimodifikasi maka hal tersebut harus segera dilakukan agar sistem pakar
dapat berfungsi sebagaimana tujuan pengembangannya.
Metode pengujian yang digunakan pada perancangan sistem pakar
penyakit gigi dan mulut adalah black box testing. Black box testing adalah
pengujian yang difokuskan pada persyaratan fungsional atau kebenaran input dan
output yang dihasilkan dari perangkat lunak yang dibangun. Pengujian black box
ini akan dilakukan dengan cara memberi input dari pengguna kepada sistem yang
sudah berjalan dan mengamati hasil output dari sistem. Pengujian tersebut akan
dilakukan pada setiap use case untuk mengetahui kesesuaian fungsi dari perangkat
lunak.
5. Dokumentasi
Tahap dokumentasi diperlukan untuk mengkompilasi semua informasi
proyek sistem pakar ke dalam bentuk dokumen yang dapat memenuhi persyaratan
yang dibutuhkan pengguna dan pengembang sistem. Dokumentasi tersebut
menjelaskan tentang bagaimana mengoperasikan sistem, instalasi, kebutuhan
minimum sistem maupun bantuan yang mungkin diperlukan oleh pengguna
maupun pengembang sistem pakar. Selain hal tersebut, maka secara khusus harus
juga

mendokumentasikan

prosedur

penelusuran

inferensinya.

42

masalah

dalam

mesin

6. Pemeliharaan
Setelah sistem digunakan dalam lingkungan kerja, maka selanjutnya
diperlukan pemeliharaan secara berkala. Pengetahuan itu sifatnya tidak statis
melainkan terus tumbuh dan berkembang. Pengetahuan dari sistem perlu
diperbaharui atau disempurnakan untuk memenuhi kebutuhan saat ini.
C. Tahap Penelitian
Adapun tahap penelitian dalam perancangan sistem pakar diagnosa gigi
dan mulut ini adalah sebagai berikut:

43

Gambar 3.2
Tahap Penelitian
1. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah merupakan tahap awal dari penyusunan penelitian ini
untuk menentukan masalah dan mencaei jalann alternatif dari pemecahan
masalah. Dalam perancangan sistem pakar ini, penulis membahas tentang
penyakit gigi dan mulut yang umum terjadi pada masyarakat, gejala-gejala yang
ditimbulkan oleh penyakit tersebut serta memberikan solusi pengobatannya.
Untuk bahasa pemprograman penulis menggunakan bahasa pemprograman PHP
dengan basis data MySQL, selain iu penulis juga menggunakan metode inferensi
forward chaining.
2. Pengumpulan Data
Pada tahap pengumpulan data terlebih dahulu dilakukan studi pustaka dan
wawancara seorang pakar yang merupakan dokter spesialis penyakit gigi dan
mulut. Tahap ini dilakukan untuk mengetahui informasi yang dibutuhkan secara
akurat.
3. Akuisisi Pengetahuan
Akuisisi pengetahuan merupakan proses transfer informasi dari pakar
untuk mengambil pengetahuan. Hal ini dilakukan untuk mengembangkan sistem
pakar dengan menggunakan basis pengetahuan penyakit gigi dan mulut untuk

44

menghasilkan sebuah aplikasi sistem pakar yang dapat digunakan oleh user
setelah uji validitasnya oleh pakar.
4. Representasi Pengetahuan
Representasi pengetahuan merupakan tahapan repesentasi yang dapat
dilakukan setelah akuisisi data, yaitu berupa:
a. Teknik Inferensi
Teknik inferensi digunakan untuk mencapai kesimpulan yang sesuai
dengan gejala-gejala penyakit yang dialami oleh pasien. Dalam hal ini, teknik
yang digunakan adalah metode inferensi forward chaining yang memulai
penelusurannya dari sekumpulan fakta atau data yang berakhir pada satu
kesimpulan.
b. Teknik Penelusuran
Teknik penelusuran yang digunakan adalah metode depth first search, yaitu
teknik pencarian yang yang menelusuri teknik penelusuran dari node ke node
bergerak menurun ke tingkat dalam yang berurutan. Dengan kata lain teknik
penelusuran ini mencari pada kedalaman sebelah kiri terlebih dahulu, kemudian
bila belum ditemuakan goalnya dilanjutkan ke sisi sebelah kanan dan seterusnya
sampai ditemukan target/goal.
c. Kaidah Produksi

45

Pengetahuan yang diperoleh dari pakar atau sekumpulan data harus


direpresentasikan dalam format yang dipahami oleh manusia dan dapat dieksekusi
dalam format yang dipahami oleh manusia dan dapat dieksekusi pada komputer.
Teknik representasi pengetahuan yang digunakan adalah teknik kaidah produksi.
Representasi pengetahuan kaidah produksi pada dasarnya berbasis aturan (rule
based) yang berupa IF THEN.
Pernyataan setelah IF merupakan antecedent, yaitu bagian yang
mengekspresikan situasi atau premis. Sedangkan pernyataan setelah THEN adalah
konsekuen yang menyatakan suatu tindakan tertentu atau konklusi yang
diterapkan jika suatu situasi atau premis bernilai benar.
5. Design
Pada tahap ini dilakukan proses pembangunan sistem berdasarkan
rancangan yang telah dibuat sebelumnya sesuai dengan kebutuhan sistem.
6. Pengujian
Uji coba sistem dilakukan setelah proses instalasi perangkat keras dan
instalasi perangkat lunak. Uji coba sistem bertujuan untuk memastikan bahwa
elemen-elemen komponen dari sistem telah berfungsi sesuai dengan diharapkan.
Pengujian ini dilakukan untuk mencari kelemahan sistem yang mungkin terjadi,
termasuk pada saat pengujian sistem yang baru.
Pada pengujian program, masing masing program yang berjalan dengan
baik dan benar belum tentu dapat berjalan dengan program yang lainnya.

46

Kumpulan program yang telah diintegrasikan perlu diuji coba kembali untuk
melihat apakah suatu program dapat menerima input dan memproses data dengan
baik serta dapat memberikan output pada program. Metode pengujian yang
digunakan pada perancangan sistem pakar penyakit gigi dan mulut adalah black
box testing. Black box testing adalah pengujian yang difokuskan pada persyaratan
fungsional atau kebenaran input dan output yang dihasilkan dari perangkat lunak
yang dibangun. Pengujian black box ini akan dilakukan dengan cara memberi
input dari pengguna kepada sistem yang sudah berjalan dan mengamati hasil
output dari sistem. Pengujian tersebut akan dilakukan pada setiap use case untuk
mengetahui kesesuaian fungsi dari perangkat lunak.
7. Implementasi
Tahap implementasi dapat dilakukan setelah design bebas dari bug atau
error di dalam program tersebut. Kemudian dibuatlah proses dokumentasi yang
berfungsi sebagai petunjuk pembuatan dan pelaksanaan pengoperasian program
tersebut.
8. Dokumentasi
Apabila semua tahapan yang dimulai dari penelitian hingga pada
pengujian sistem dan evaluasi sistem sudah sesuai dan tidak terjadi kesalahan,
maka tahap akhir melakukan dokumentasi dan penulisan laporan hasil penelitian.
D. Kebutuhan Sistem

47

Alat dan bahan yang digunakan untuk perancangan perangkat lunak ini
adalah sebuah PC/laptop dengan spesifikasi sebagai berikut:
1. Perangkat keras yang digunakan yaitu:
a. Processor
: Intel Core i5 @ 2.30 GHz
b. RAM
: 2 GB
c. Hard Disk
: 500 GB
2. Perangkat lunak yang digunakan yaitu:
a. Sistem Operasi Windows 7
b. Web browser
c. Adobe Dreamweaver CS3 sebagai desain aplikasi
d. MySQL, digunakan sebagai manajemen data base.
e. Appserv, untuk web server localhost.
f. Bahasa pemrograman PHP, HTML, CSS dan

JavaScript untuk

mengembangkan aplikasi.
E. Prosedur Rancang Bangun
Adapun prosedur rancang bagun sistem pakar diagnosa gigi dan mulut
adalah dengan terlebih dahulu mengumpulkan data-data yang diperlukan. dalam
bentuk basis pengetahuan. Basis pengetahuan diperoleh dari kegiatan akusisi
pengetahuan. Akuisisi pengetahuan merupakan suatu proses untuk mengumpulkan
data-data pengetahuan mengenai suatu masalah. Bahan pengetahuan ini dapat
diambil dari literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah, seperti misalnya
buku-buku, jurnal, artikel dan lain sebagainya. Setelah melakukan pengumpulan

48

data dan analisis terhadap basis pengetahuan tahap selanjutnya adalah melakukan
perancangan database, interface dan coding program.
1. Basis Pengetahuan
Langkah

pertama

dalam

mengembangkan

sistem

pakar

adalah

mengidentifikasikan permasalahan yang akan dikaji, dalam hal ini adalah


mengidentifikasikan permasalahan yang akan dibuat telebih dahulu, adapun
masalah-masalah yang diambil dalam pembuatan sistem pakar ini adalah gejalagejala yang terdapat pada seorang penderita penyakit gigi dan mulut serta
diagnosa penyakitnya. Data yang diperoleh dijadikan suatu basis pengetahuan.
Berikut ini data daftar penyakit gigi dan mulut yang umum.
Tabel 3.1
Data Penyakit
Kode
P1
P2
P3
P4
P5
P6
P7
P8
P9
P10
P11
P12
P13
P14

Nama Penyakit
Abses Periodontal
Abses Periapikal
Alveolar Osteitis
Anodonsia
Abrasi Gigi
Bruxism (Gigi Gemerutuk)
Gangguan Gigi Bungsu
Gingivitis
Gigi Bernanah
Gigi Berlubang
Gigi Sensitif (Hipersensitivitas Dentin)
Parit Mulut
Periodontitis
Trench Mouth

49

Berdasarkan data penyakit tersebut maka penulis melakukan identifikasi


terhadap gejala-gejala penyakit gigi dan mulut. Gejala tersebut meliputi gejala
umum yang dialami oleh penderita penyakit gigi dan mulut.
Tabel 3.2
Data Penyakit
No

Gejala

G1
G2
G3
G4
G5
G6
G7
G8
G9
G10
G11
G12
G13
G14
G15

Sulit mengunyah
Terjadi pembengkakan pada gusi atau kemerahan
Bau busuk yang keluar dari mulut
Rahang terjadi pembengkakan
Demam
Rasa sakit atau nyeri pada atau disekitar gusi (bila atau tanpa disentuh)
Gusi atau gigi bernanah
Pembengkakan kelenjar getah bening
Rasa sakit ketika membuka mulut
Gigi terasa sakit atau berdenyut
Gigi terasa ngilu dan lebih sensitif
Gusi mudah berdarah
Luka atau adanya kantong antara gigi dan gusi
Sensitif pada rasa manis
Bentuk gusi agak membulat (unstippling)
Hilangnya seluruh atau sebagian bekuan darah di lokasi bekas
pencabutan gigi
Terlihatnya tulang dalam daerah bekas pencabutan
Tidak tumbuhnya semua atau beberapa gigi, baik gigi susu maupun gigi
permanen
Bentuk gigi tampak terkikis
Sakit Telinga
Insomnia atau merasa gelisah
Sakit Kepala
Konsistensi gusi menjadi lebih lunak
Pipi bengkak.
Adanya noda putih atau kecoklatan pada permukaan gigi.
Permukaan gigi kasar
Gigi tampak lebih panjang dari normal
Gigi Goyah
Ujung gusi diantara 2 gigi mengalami pengikisan dan tertutup oleh

G16
G17
G18
G19
G20
G21
G22
G23
G24
G25
G26
G27
G28
G29

50

lapisan berwarna abu-abu


Relasi antara data penyakit dan data gejala ditunjukkan pada tabel berikut
ini.
Tabel 3.3
Data Penyakit
No

P1

G1
G2
G3
G4
G5
G6
G7
G8
G9
G10
G11
G12
G13
G14
G15
G16
G17

v
v

P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10 P11 P12 P13 P14


v

v
v

v
v

V
V
V
V

V
V
V

v
V

V
V

V
v

V
v

V
V

V
V

V
V
V
V

V
v

V
v

V
v

V
V

v
v

v
v

G18
v
G19
V
G20
v
G21
v
G22
V
G23
v
G24
V
G25
V
G26
v
G27
G28
G29
2. Perancangan Entity Relationship Diagram (ERD)

51

v
v
v

Untuk memperhatikan data serta informasi yang akan digunakan dalam


proses pembangunan aplikasi ini, maka dibangun sebuah desain basis data dengan
menggunakan tools Entity Relationship Diagram pada gambar berikut ini:

Gambar 3.3
Entity Relationship Diagram (ERD)
3. Perancangan Data Flow Diagram (DFD)

Data Flow Diagram (DFD) adalah diagram alir yang dipresentasikan


dalam bentuk lambang-lambang tertentu yang menunjukan aliran data, proses,
tempat penyimpanan data, dan entitas eksternal. DFD sistem pakar untuk diagnosa
gigi dan mulut ini dimulai dari DFD level 0 sampai level 2.

52

a. DFD Level 0

Gambar 3.4
DFD Level 0
b. DFD Level 1 Proses 1.0

Gambar 3.5

53

DFD Level 1 Proses 1.0


c. DFD Level 1 Proses 2.0

Gambar 3.6
DFD Level 1 Proses 2.0

d. DFD Level 2 Proses 1.1

Gambar 3.7

54

DFD Level 2 Proses 1.1


e. DFD Level 2 Proses 1.2

Gambar 3.8
DFD Level 2 Proses 1.2
4. Perancangan Basis Data
Dalam perancangan basis data sistem pakar ini, penulis membuat beberapa
buah tabel yang saling berelasi. Tabel-tabel tersebut terdiri dari tabel admin, tabel
data user, tabel gejala, tabel penyakit, dan tabel hasil diagnosa. Adapun struktur
dan deskripsi dari masing-masing tabel sebagai berikut:
a. Tabel Admin

55

Tabel ini digunakan untuk menyimpan data admin yang terdiri dari
username, password, pertanyaan dan jawaban. Dalam tabel ini, yang menjadi
primary key adalah id_admin. Adapun struktur tabelnya dapat dilihat pada tabel
3.4.
Tabel 3.4
Tabel Data Pakar
Atribute
id_admin
username
password

Tipe Data
Varchar
Varchar
Varchar

Panjang
10
20
50

Keterangan
Primary Key

b. Tabel Gejala
Tabel ini berisi data gejala untuk setiap penyakit ya n g berupa
kode_gejala, nama_gejala, ifyes, ifno. Dalam tabel ini kode_gejala sebagai
primary key. Adapun struktur tabelnya dapat dilihat pada tabel 3.6.
Tabel 3.5
Tabel Gejala
Atribute
kode_gejala
nama_gejala
ifyes
ifno
gambar
kode_penyakit

Tipe Data
varchar
varchar
varchar
varchar
longblob
varchar

Panjang
4
100
4
4

Keterangan
Primary Key

Foreign Key

c. Tabel Penyakit
Tabel

ini

berisi

data

penyakit

yang

berupa

kode_penyakit,

nama_penyakit, definisi, pengobatan awal dan pencegahan. Dalam tabel ini


56

kode_penyakit sebagai primary key. Adapun struktur tabelnya dapat dilihat pada
tabel 3.7.
Tabel 3.6
Tabel Penyakit
Atribute
kode_penyakit
nama_penyakit
definisi
gambar
pengobatan awal
pencegahan

Tipe Data
varchar
varchar
varchar
longblob
varchar
varchar

Panjang
4
50
500

Keterangan
Primary Key

500
500

d. Tabel Hasil Diagnosa


Tabel ini digunakan untuk menyimpan data hasil diagnosa diagnosa user.
Tabel ini terdiri dari id_diagnosa, iduser, kode_penyakit, tanggal diagnosa.
Dalam tabel ini, id_diagnosa merupakan primary key sedangkan iduser
merupakan foreign key

yang

datanya mengacu ke tabel data user dan

kode_penyakit merupakan foreign key yang datanya mengacu ke tabel


penyakit. Adapun struktur tabelnya dapat dilihat pada tabel 3.8.
Tabel 3.7
Tabel Hasil Diagnosa
Atribute
id_diagnosa
iduser
kode_penyakit
tanggal_diagnosa

Tipe Data
int
varchar
varchar
datetime

5. Perancangan Struktur Menu

57

Panjang
5
10
4

Keterangan
Primary Key
Foreign Key
Foreign Key

Perancanagn struktur menu berisikan menu dan sub menu yang berfungsi
untuk memudahkan user di dalam menggunakan sistem.
a. Struktur Menu Sistem
Struktur menu pada sistem terdiri dari halaman utama, informasi, login
dan registrasi.

Gambar 3.9
Struktur Menu Sistem
f. Struktur Menu Pakar
Struktur menu pakar terdiri dari halaman utama, bantuan, informasi, ubah
password serta pengolahan basis data pengetahuan yang terdiri dari daftar
penyakit, daftar gejala dan daftar user. Struktur menu pakar ditampilkan pada
gambar berikut ini.

58

Gambar 3.10
Struktur Menu Pakar
g. Struktur Menu User
Struktur menu user terdiri dari halaman utama/home, informasi, profil,
diagnosa dan lihat hasil diagnosa. Sebelum melakukan konsultasi tentang
diagnosa gigi dan mulut, user terlebih dahulu harus melakukan registrasi. Jika
proses registrasi berhasil, maka user dapat melakukan login sesuai dengan
username serta password user. Struktur menu user ditampilkan pada gambar
berikut ini.

59

Gambar 3.11
Struktur Menu User
b. Perancangan Antar Muka
Perancangan antar muka bertujuan untuk memberikan gambaran tentang
aplikasi

yang

akan

dibangun

sehingga

akan

mengimplementasikan aplikasi.
a. Perancangan Halaman Utama Sistem

Gambar 3.12
Halaman Utama Sistem
b. Perancangan Halaman Diagnosa

60

mempermudah

dalam

Gambar 3.13
Halaman Diagnosa
F. Teknik Analisis dan Teknik Pengumpulan Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
deskriptif analitis, yaitu masalah yang diteliti diuraikan dan dianalisis. Hal
tersebut dimulai dari pengedentifikasian masalah hingga analisis yang dilakukan
terhadap kebutuhan data dan kebutuhan sistem. Teknik ini akan menggambarkan
semua data yang ada kemudian dianalisis dan dibandingkan berdasarkan
kenyataan yang sedang berlangsung dan selanjutnya mencoba mencari pemecahan
masalahnya.
Data yang diperoleh dianalisis oleh knowledge engineer dan pakar pada
proses akusisi pengetahuan untuk memperoleh basis pengetahuan sistem pakar.
Proses selanjutnya adalah data yang diperoleh dalam bentuk basis pengetahuan
direpresentasikan dalam format yang dapat digunakan dalam sistem pakar
meliputi metode inferensi dan teknik penelusuran gejala hingga diperoleh hasil
diagnosis penyakit gigi dan mulut. Metode inferensi merupakan mekanisme
berfikir dan pola penalaran yang digunakan sistem untuk mencapai suatu
kesimpulan. Penelitian ini menggunakan metode inferensi forward cahaining
dengan melakukan penalaran dari suatu masalah menuju solusinya. Penalaran
yang dilakukan dimulai dengan mencocokan kaidah-kaidah dalam

basis

pengetahuan dengan fakta-fakta yang ada dalam basis data. Sedangkan untuk
penulusuran gejala menggunakan teknik depth first search pencarian yang

61

dilakukan dari node awal secara mendalam hingga yang paling terakhir (deadend) atau sampai ditemukan solusi.
Metode Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara yang dilakukan
untuk mengumpulkan data. Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer
dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara
langsung (dari tangan pertama), sementara data sekunder adalah data yang
diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Penelitian ini menggunakan
metode studi pustaka untuk memperoleh data sekunder dan metode wawancara
berupa tanya jawab langsung dengan dokter gigi untuk mendapatkan data primer.
1. Studi Pustaka
Menurut Miller dkk (2010) tinjauan pustaka adalah bagian penting dari
proyek penelitian yang baik, dan jika tidak dilakukan dengan benar proyek dapat
berakhir sia-sia. Metode ini dilakukan untuk mendapatkan data literatur tambahan
dari buku acuan mengenai sistem pakar berbasis komputer dan metode forward
chaining. Sumber yang digunakan berupa buku, jurnal, karya ilmiah, dan situssitus penunjang lainnya yang dapat membantu dalam penyelesaian laporan
penelitian ini.
2. Wawancara
Salah satu objek penelitian adalah wawancara. Menurut Jogiyanto (2007)
wawancara adalah komunikasi dua arah untuk mendapatkan data dari responden.
Wawancara dapat berupa wawancara personal, wawancara intersep dan
wawancara telepon. Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara secara

62

langsung dengan pakar yaitu dokter spesialis penyakit gigi dan mulut. Diharapkan
dari hasil wawancara tersebut, dapat diperoleh penjelasan tentang jenis dan gejala
penyakit gigi dan mulut serta apa saja pengobatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir. 2008. Dasar Pemrograman Web Dinamis Menggunakan PHP.


Yogyakarta: Andi.
Anhar. 2010. Panduan Menguasai PHP dan MySQL. Jakarta: Mediakita.
Anonim. 2013. 60 Persen Penyakit Gigi
Disebabkan
Karies.
http://kesehatan.rmol.co/read/2013/03/29/104256/60Persen-Penyakit-Gigi-Disebabkan-Oleh-Karies______, 2011.
Pulpitis reversibel,
Nekrosis pulpa.

63

Ireversibel, dan

Oleh

http://luv2dentisha.wordpress.com/2010/05/08/pulpitisreversibel-ireversibel-nekrosis-pulpa/, diakses 10 Desember


2013.
______, 2011. Kandidiasis Oral. http:// caramelite. wordpress.
com/2011/06/14/ kandidiasis-oral/, diakses 10 Desember
2013.
______,
2013.
Periodontitis
(Pyorrea).
http://medicastore.com/penyakit/306/Periodontitis_pyorrhea.html, diakses
10 Desember 2013.
______, 2013. Seputar Luka di Sudut Bibir (Angular Cheilitis).
http://doktersehat.com/seputar-luka-di-sudut-bibir-angular-cheilitis/, diakses
10 Desember 2013.
Arhami, Muhammad. 2005. Konsep Dasar Sistem Pakar. Yogyakarta: Andi
Offset.
Desiani, Anita, Arhami, Muhammad. 2005. Konsep Kecerdasan Buatan.
Yogyakarta: Andi Offset.
Durkin, John. 1994. Expert System Design and Development. New Jersey:
Prentice Hall Internation Inc.
Fathansyah. 1999. Basis Data. Bandung: CV. Informatika.
Jogiyanto, HM. 2005. Analisis dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi
Offset.
Kursini. 2006. Sistem Pakar Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Andi Offset.
Kursini. 2007. Strategi Perencanaan dan Pengelolaan Basis Data. Yogyakarta:
Andi Offset.
Maradesa, Edar. 2012. Penerapan Metode Foward Chaining untuk Diagnosa
Penyakit Katarak. Skripsi tidak diterbitkan. Gorontalo: Fakultas Teknik
Universitas Negeri Gorontalo.
Marimin. 2005. Teori dan Aplikasi Sistem Pakar dalam Teknologi Manajerial
Edisi 2. Bogor: IPB Press.
Marlinda, Linda. 2004. Sistem Basis Data. Yogyakarta: Andi Offset.

64

Martariwansyah. 2008. Gigiku Kuat Mulutku Sehat. Bandung. Salamadani


Publishing
Nogroho, Bunafit. 2008. Membuat Aplikasi Sistem Pakar dengan PHP dan Editor
Dreamweaver. Yogyakarta: Gava Media.
Nursaman, Destiani Dini, Dhamiri, Dhami Johar. 2010. Pembangunan Aplikasi
Sistem
Pakar
untuk
Diagnosis
Penyakit
Gigi
dan
Mulut
Pada
Manusia.
(online),
vol.9,
(http://jurnal.sttgarut.ac.id/index.php/algoritma/article/view/13, diakses 4
Desember 2013).
P. Langkas, Robert dan Craig S. Miller. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut
yang Lazim. Jakarta: Hipokrates.
Prasetya Andreas, Hery. 2010. Cepat Kuasai PHP + MySQL. Yogyakarta: Andi
Offset.
Simarmata, Jenner. 2010. Rekayasa Perangkat Lunak. Yogyakarta: Andi Offset.
Sutojo, T., Mulyanto Edy, Suhartono Vincent. 2011. Kecerdasan Buatan.
Yogyakarta: Andi Offset.
Kusumadewi, Sri. 2006. Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya).
Yogyakarta: Graha Ilmu.
The World Health Report 2006, Working Together for Health.
2006. Switzerland: The World Health Organization.
Tim Wahana Komputer. 2010. Panduan Belajar MySQL Database Server. Jakarta:
Mediakita.
Turban, Efraim dkk. 2005. Decision Support System and Intelligent Systems.
Yogyakarta: Andi Offset.
Wardana, I Nyoman Kusuma. 2008. Perancangan Sistem Pakar untuk Diagnosa
Penyakit Mulut dan Gigi Menggunakan Bahasa Pemprograman Clips,
(online),
(http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/view/757/686,
diakses 4 Desember 2013).
Whitten, Jeffery L. 2004. Metode Desain dan Analisis Sistem. Yogyakarta: Andi
Offset.

65

66

Lampiran

67

PENYAKIT GIGI DAN MULUT


NO
.
1.

2.

NAMA
GEJALA
PENYAKIT
Abses
Sulit mengunyah
Periodontal
Terjadi
pembengkakan pada
gusi atau kemerahan
Gusi atau gigi
bernanah
Rasa sakit ketika
membuka mulut

Abses Periapikal Sulit mengunyah


Rahang terjadi
pembengkakan
Demam
Pembengkakan
kelenjar getah
bening
Gigi terasa sakit atau
berdenyut

DEFINISI
Periodontitis abses ialah
suatu inflamasi yang
mengandung nanah di
jaringan periodontal.
Abses periodontal
disebabkan infeksi pada
jaringan periodontal. Abses
merupakan suatu nanah
yang terjadi pada gusi
(gingiva). Terjadi karena
faktor iritasi, seperti plak,
kalkulus, invasi bakteri,
impaksi makanan atau
trauma jaringan. Terkadang
pula akibat gigi yang akan
tumbuh.

Abses Periapikal adalah


pengumpulan nanah yang
telah menyebar dari
sebuah gigi ke jaringan di
sekitarnya, biasanya
berasal dari suatu infeksi.
Penyebab Abses
Periapikal adalah tubuh
menyerang infeksi dengan

PENJELASAN LANJUT
Perawatan terdiri dari insisi untuk pembuatan drenase. Aplikasi arteri klem
untuk membesarkan lubang drenase harus mencapai dasar poket. Tindakan ini
dikerjakan setelah pasien dilindungi dengan antibiotika dulu sebelumnya
untuk mencegah penyebaran infeksi ke tulang alveolar dan penyebaran
infeksi menjadi septikemi. Jika fase akut telah reda, apabila gigi masih dapat
dipertahankan, karena kerusakan tulang hanya pada satu dinding alveolar,
dilakukan kuretase dan perawatan periodonsium lanjutan. Namun apabila
tulang alveolar sudah rusak lebih dari satu dinding maka pilihan utama ialah
pencabutan gigi.

Abses atau selulitis diatasi dengan menghilangkan infeksi dan membuang


nanah melalui bedah mulut atau pengobatan saluran akar.
Untuk membantu menghilangkan infeksi seringkali diberikan antibiotik.
Tindakan yang terpenting adalah mencabut pulpa yang terkena dan
mengeluarkan nanahnya.

68

3.

Alveolar
Osteitis/ Dry
socket

Bau busuk yang


keluar dari mulut
Pembengkakan
kelenjar getah
bening
Hilangnya seluruh
atau sebagian
bekuan darah di
lokasi bekas
pencabutan gigi
Terlihatnya tulang
dalam daerah bekas
pencabutan

sejumlah besar sel darah


putih; nanah adalah
sekumpulan sel darah
putih dan jaringan yang
mati. Biasanya nanah
dari infeksi gigi pada
awalnya dialirkan ke gusi,
sehingga gusi yang berada
di dekat akar gigi tersebut
membengkak.
Dry socket atau yang
disebut juga sebagai
alveolar osteitis (alveolar:
tulang pendukung gigigeligi, osteitis: radang
tulang) adalah sebuah
kondisi dimana tulang
alveolar dari gigi yang
sudah dicabut berada
dalam keadaan bebas
terpapar (terbuka tanpa
lapisan gusi menutupi).
Kondisi penyakit ini
adalah tidak menyatunya
jaringan gusi dalam
menutupi lubang bekas
gigi yang dicabut
sehingga tulang di bagian

Pengobatan dry socket terutama difokuskan pada pengurangan gejala,


terutama nyeri. Pengobatan dry socket dapat meliputi:
Pembersihan daerah bekas pencabutan
Dressing dengan bahan yang mengandung obat
Pemberian obat nyeri
Perawatan diri
Nyeri dan gejala lainnya harus terus membaik dan kemungkinan akan dapat
sembuh dalam waktu 5-10 hari.

69

dalam rongga tersebut


tidak tertutupi. Tulang
yang tidak tertutupi ini
akan mengalami
rangsangan yang
menyebabkan sakit
seandainya ada benda
asing yang mengenainya.
4.

Anodonsia

5.

Abrasi Gigi

Tidak tumbuhnya
semua atau beberapa
gigi, baik gigi susu
maupun gigi
permanen
Gigi terasa ngilu dan
lebih sensitif
Bentuk gigi tampak
terkikis

Anodonsia adalah
kelainan genetik
(keturunan) berupa tidak
tumbuhnya gigi karena
tidak adanya benih gigi.
Abrasi Gigi adalah
hilangnya struktur atau
terkikisnya bagian luar
gigi (enamel), dan bahkan
terkadang struktur bagian
dalam gigi juga ikut
terkikis. Hal ini terjadi
disebabkan oleh
seringnya menyikat gigi
terlalu keras tetapi juga
dapat disebabkan oleh
terlalu banyak banyak
makan makanan yang
bersifat asam, asam

Tidak ada pengobatan untuk anodonsia, biasanya pasien dibuatkan gigi tiruan
agar fungsi dan estetis rongga mulut tetap terjaga.

Untuk perawatan lebih mengarah pada pencegahan. Yaitu jangan


menggunakan sikat gigi yang kasar. Gunakanlah sikat gigi yang memiliki
tekstur yang lebih lembut. Dan cara nggosok giginya pun jangan terlalu keras
dan berlebihan. Bahkan dalam menggunakan tusuk gigi pun anda juga harus
berhati hati. Hindari terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang sifatnya
asam.
Jika enamel gigi yang hilang cuma sedikit, biasanya kita bisa mengatasinya
dengan menggunakan pasta gigi berfloride. Namun Apa bila gigi sudah
terlanjur mengalami abrasi, makan pengobatan yang bisa ditempuh adalah
dengan cara melakukan penambalan pada gigi yang terkena abrasi.

70

Sulit mengunyah
Sensitif pada rasa
manis
Sakit Telinga
Insomnia atau merasa
gelisah

6.

Bruxism (Gigi
Gemerutuk)

7.

Gangguan Gigi Sulit mengunyah


Bungsu
Terjadi
pembengkakan pada
gusi atau kemerahan
Bau busuk yang
keluar dari mulut
Rahang terjadi
pembengkakan
Rasa sakit atau nyeri

refluks .
Bruxism adalah suatu
kebiasaan yang terlihat
dalam mulut berupa suatu
ritme yang tidak disadari
dan tidak disengaja atau
gerakan
nonfungsional
dalam menggertakan gigi,
menggerus gigi, dan
mengepalkan
gigi,
biasanya terjadi selama
waktu tidur, dimana hal
ini dapat menimbulkan
rasa sakit pada kepala dan
kerusakan
gigi
yang
nantinya
dapat
menyebabkan terjadinya
traumatik oklusi.

Secara umum, obat-obatan tidak terlalu efektif untuk perawatan bruxism.


Dalam beberapa kasus, dokter mungkin menyarankan untuk melakukan
relaksasi otot sebelum tidur. Untuk membantu meringankan nyeri, langkahlangkah perawatan yang dapat dilakukan di rumah, di antaranya dengan
melakukan relaksasi dan pemijatan otot wajah dan rahang, bahu, dan leher,
serta menghindari makanan yang keras seperti kacang-kacangan. Kompres
dingin atau hangat juga dapat diberikan pada rahang yang membengkak, tidur
yang cukup, minum banyak air dan cobalah untuk mengurangi stres harian.

71

8.

Gingivitis

9.

Gigi Bernanah

pada atau disekitar


gusi (bila atau tanpa
disentuh)
Sakit Kepala
Pembengkakan
kelenjar getah
bening
Gusi mudah berdarah
Bentuk gusi agak
membulat
(unstippling)
Konsistensi gusi
menjadi lebih lunak

Demam
Gusi atau gigi
bernanah
Gigi terasa sakit atau

Gingivitis adalah salah


satu gangguan gigi berupa
pembengkakan atau
radang pada gusi
(gingiva). Radang gusi
adalah bentuk pertama
penyakit pada selaput
periodontal yang menjadi
awal rusaknya jaringan
pendukug gigi, antara lain
gusi, selaput periodontal,
dan tulang gigi. Penyakit
ini disebabkan oleh
timbunan plak
berkepanjangan. Plak
adalah material yang
terdiri dari bakteri, lendir
dan sis makanan yang
menempel pada gigi
bagian luar.
Abses gigi adalah
kumpulan nanah yang
disebabkan oleh infeksi
bakteri di bagian dalam

Untuk mengatasi gingivitis, dilakukan tindakan perawatan. Tujuan dari perawatan


adalah untuk menekan inflamasi pada gingiva. Gigi dibersihkan seluruhnya oleh
dokter gigi. Perawatan ini mungkin, menggunakan beberapa macam instrumen untuk
melepaskan dan membuang deposit dari gigi (scalling).
Kondisi medis yang menyebabkan atau memperburuk gingivitis harus diatasi.
Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka pertumbuhan gusi yang berlebihan
harus diangkat melalui pembedahan. Jika terjadi kekurangan vitamin C dan niasin,
maka diberikan tambahan vitamin.
Gingivostomatitis herpetik akut biasanya membaik tanpa pengobatan dalam waktu 2
minggu. Bisa diberikan obat kumur anestetik untuk mengurangi rasa tidak nyaman
ketika penderita makan dan minum. Pasien dapat melakukan tindakan-tindakan
pencegahan gingivitis dengan menjaga kebersihan mulut. Gigi geligi seharusnya
disikat paling tidak dua kali sehari dan menggunakan dental floss sedikitnya atu kali
sehari. Untuk orang-orang yang rentan terhadap gingivitis, sikat gigi dan flossing
dapat disarankan setiap selesai makan dan menjelang tidur.

Dalam perawatan gigi bernanah, tindakan pertama yang dilakukan dokter


adalah menghilangkan infeksi. Ketika infeksi sudah hilang, nanah akan
menghilang dan rasa sakit akan menurun secara signifikan. Dokter gigi
biasanya akan meresepkan antibiotik untuk menghilangkan infeksi, serta
72

berdenyut
Pipi bengkak.

10.

Gigi Berlubang/ Rasa sakit ketika


Karies
membuka mulut
Adanya noda putih
atau kecoklatan pada
permukaan gigi.
Permukaan gigi kasar

gigi. Abses gigi biasanya


terjadi sebagai akibat dari
rongga gigi tidak diobati,
atau retak pada gigi yang
memungkinkan bakteri
masuk ke bagian dalam
gigi.
Karies Gigi (Kavitasi)
adalah daerah yang
membusuk di dalam gigi,
yang terjadi akibat suatu
proses yang secara
bertahap melarutkan
email (permukaan gigi
sebelah luar yang keras)
dan terus berkembang ke
bagian dalam gigi. Halhal yang mendukung
terjadinya karies gigi
adalah gigi yang peka,
yaitu gigi yang
mengandung sedikit fluor
atau memiliki lubang,
lekukan maupun alur
yang menahan plak,
bakteri, mulut
mengandung sejumlah
besar bakteri serta sisa-

menyarankan pasien untuk berkumur menggunakan air garam hangat. Jika


kondisi gigi atau gusi bernanah lebih buruk, dokter gigi akan melakukan
prosedur perawatan akar gigi untuk menghambat pertumbuhan plak. Namun
dalam kasus yang berat, dokter gigi biasanya akan mencabut gigi yang
bernanah agar infeksi tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Pemeriksaan yang akan dilakukan oleh dokter gigi adalah pemeriksaan klinis,
disertai dengan pemeriksaan radiografik bila dibutuhkan, tes sensitivitas pada
gigi yang dicurigai sudah mengalami nekrosis, dan tes perkusi untuk melihat
apakah infeksi sudah mencapai jaringan penyangga gigi.
Pencegahan
Sikat gigi dengan pasta gigi berfluoride dua kali sehari, pada pagi hari setelah
sarapan dan malam hari sebelum tidur.
Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa
makanan yang tersangkut di antara celah gigi-geligi.
Hindari makanan yang terlalu manis dan lengket, juga kurangi minum
minuman yang manis seperti soda.
Lakukan kunjungan rutin ke dokter gigi tiap 6 bulan sekali.
Perhatikan diet pada ibu hamil dan pastikan kelengkapan asupan nutrisi,
karena pembentukan benih gigi dimulai pada awal trimester kedua.
Penggunaan fluoride baik secara lokal maupun sistemik.

73

11

Gigi Sensitif
Gigi terasa ngilu dan
(Hipersensitivita
lebih sensitif
s Dentin)

sisa makanan.
Hipersensitivitas dentin
adalah rasa yang tidak
nyaman atau nyeri yang
disebabkan rangsangan
termal, kimiawi dan
mekanik pada satu atau
lebih gigi. Rasa sensitif
ini terjadi apabila dentin
terbuka yang disebabkan
oleh resesi gingiva,
abrasi, erosi, penyakit
periodontal, kerusakan
restorasi, atau karies.
Tubulus pada daerah yang
sensitif lebih lebar dan
banyak daripada di area
yang tidak sensitif.
Daerah sensitif biasanya
terletak pada permukaan
servikal margin gigi.

Pencegahan
Bahan makanan yang bersifat erosif seperti buah-buahan yang asam, jus buah yang
asam, dan minuman beralkohol memegang peranan dalam dentin hipersensitif. Asam
yang timbul dari lambung pada orang dengan masalah pencernaan juga rentan untuk
mengalami dentin hipersensitif. Selain itu, menyikat gigi dengan pasta gigi yang
abrasif juga dapat mengabrasi permukaan dentin di daerah leher gigi. Oleh karena
itu, tidak dianjurkan untuk menyikat gigi langsung setelah mengkonsumsi
makanan/minuman yang asam untuk mengurangi efek merusak dari asam dan abrasi.
Sebaiknya diberi jeda waktu antara 2-3 jam. Menyikat gigi juga tidak perlu dengan
tekanan berlebihan dan lakukan dengan arah vertikal dari atas ke bawah.

Perawatan Rumah
Pasien dapat mengurangi hipersensitivitas dentin di rumah dengan
menggunakan pasta gigi dan obat kumur yang mengandung bahan aktif
tertentu. Telah dilakukan penelitian yang menguji efektifitas pasta gigi yang
mengandung potassium citrate. Ion potassium diyakini dapat berdifusi ke
tubuli dentin dan mengurangi kemungkinan terstimulasinya syaraf, sehingga
hipersensitivitas dentin berkurang. Banyak pasta gigi yang juga mengandung
bahan aktif lain seperti fluoride dan bahan antiplak. Aplikasi fluor topikal
membuat adanya penghalang di permukaan gigi dengan terbentuknya
presipitat kalsium florida (CaF2) sehingga tubuli dentin tertutup. Akibatnya
hipersensitivitas dentin dapat berkurang. Cara menyikat gigi juga patut
diperhatikan. Kebanyakan orang banyak berkumur-kumur setelah menggosok
gigi. Sebetulnya kumur-kumur tidak perlu terlalu banyak karena kumur
dengan air dapat menyebabkan bahan aktif menjadi larut dan terbuang dari
mulut sehingga efektifitas dari pasta gigi menjadi berkurang.
Perawatan Dokter Gigi

74

Untuk mengurangi dentin hipersensitif, dokter gigi mengaplikasikan bahan


desensitisasi yang tujuannya untuk menutup tubuli dentin sehingga
mengurangi hipersensitifitas. Bahan tersebut dapat mengandung fluoride, atau
potassium nitrate, atau bahan aktif lainnya.
12

Parit Mulut

13.

Periodontitis

Sulit mengunyah
Terjadi
pembengkakan
pada gusi atau
kemerahan
Bau busuk yang
keluar dari mulut
Demam
Rasa sakit atau
nyeri pada atau
disekitar gusi (bila
atau tanpa disentuh)
Pembengkakan
kelenjar getah
bening
Luka atau adanya
kantong antara gigi
dan gusi
Bentuk gusi agak
membulat
(unstippling)
Terjadi
pembengkakan
pada gusi atau

Parit mulut adalah bentuk


parah yang menyebabkan
radang gusi menyakitkan,
infeksi, pendarahan gusi
dan ulcerations.

Periodontitis adalah
peradangan dari gingivitis
yang menyebar sampai ke

Ada beberapa cara untuk mengobati periodontitis, tergantung pada tingkat


keparahannya. Tujuan pengobatan periodontitis adalah untuk benar-benar
membersihkan bakteri dan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
75

kemerahan
Rasa sakit atau
nyeri pada atau
disekitar gusi (bila
atau tanpa disentuh)
Gusi atau gigi
bernanah
Luka atau adanya
kantong antara gigi
dan gusi

struktur penyangga gigi.


Pengobatan dapat dilakukan oleh dokter gigi atau dokter gigi spesialis
Periodontitis merupakan
periodonsia. Pengobatan akan berhasil jika pasien memperbaiki pola menjaga
salah satu penyebab
kesehatan mulut setiap hari.
utama lepasnya gigi pada
Perawatan non bedah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi
dewasa dan penyebab
periodontitis, antara lain:
lepasnya gigi pada lanjut
usia. Sebagian besar
periodontitis merupakan Scaling Scaling merupakan tindakan untuk menghilangkan kalkulus dan
bakteri dari permukaan gigi dan di bawah gusi. Hal tersebut dapat
akibat dari penumpukan
dilakukan oleh dokter gigi dengan menggunakan instrumen atau perangkat
plak dan karang gigi
ultrasonik.
diantara gigi dan gusi.

Root planing Root planing merupakan tindakan menghaluskan


permukaan akar, dan mengecilkan penumpukan kalkulus lebih lanjut.
Jika pasien memiliki periodontitis yang mungkin tidak merespon atau tidak
membaik dengan perawatan non bedah dan kebersihan mulut yang baik. Pada
kasus ini, pengobatan periodontitis mungkin memerlukan operasi gigi,
seperti:

Pembedahan dengan flap (operasi pengurangan kantong gusi) Pada


prosedur ini, dokter gigi atau dokter gigi spesialis periodonsia akan
membuat sayatan kecil pada gusi sehingga bagian jaringan gusi dapat
diangkat kembali, memperlihatkan akar untuk skala yang lebih efektif dan
planing (penghalusan).
Pencegahan terbaik adalah menjaga kebersihan mulut dan gigi.
Pengobatan dan pencegahan gingivitis dapat mengurangi resiko terjadinya
76

periodontitis.
14

Trench Mouth

Sulit mengunyah
Bau busuk yang
keluar dari mulut
Rahang terjadi
pembengkakan
Demam
Rasa sakit atau
nyeri pada atau
disekitar gusi (bila
atau tanpa disentuh)
Gusi mudah
berdarah
Hilangnya seluruh
atau sebagian
bekuan darah di
lokasi bekas
pencabutan gigi

Trench Mouth adalah


suatu infeksi gusi yang
tidak menular. Infeksi ini
menyebabkan rasa nyeri,
demam dan kelelahan.
Ujung-ujung gusi yang
terletak diantara dua gigi
mengalami pengikisan
dan tertutup oleh jaringan
mati yang berupa lapisan
berwarna abu-abu.
Kelenjar getah bening di
bawah rahang seringkali
membengkak dan timbul
demam ringan. Hal yang
mendukung terjadinya
penyakit ini adalah
kebersihan mulut yang
jelek, stres fisik maupun
stres emosional, diet, dan
kurang istirahat.
Biasanya, trench mouth
dimulai secara tiba-tiba
berupa nyeri gusi, gelisah
dan kelelahan.

Pengobatan dilakukan dengan pembersihan, dimana semua jaringan gusi


yang mati dan karang gigi dibuang. Karena pembersihan ini menimbulkan
nyeri, maka digunakan obat bius lokal. Beberapa hari pertama setelah
pembersihan, penderita diharuskan berkumur-kumur dengan larutan
hidrogen peroksida (setengah bagian hidrogen peroksida 3% dicampur
dengan setengah bagian air), beberapa kali dalam sehari.
Selama 2 minggu, penderita mengunjungi dokter gigi setiap 1-2 hari.
Pembersihan berlanjut sampai terjadinya penyembuhan. Menjaga
kebersihan mulut sangat penting dalam mencegah terjadinya trench mouth.
Makanan bergizi dan keadaan kesehatan yang baik juga membantu
mencegah terjadinya penyakit ini. Tindakan pencegahan lainnya adalah
berhenti merokok dan mencoba mengatasi stres.

77