Anda di halaman 1dari 18

FISIOLOGI HEWAN

LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN DARAH II
HITUNG JENIS-JENIS LEUKOSIT
(DIFFERENTIAL LEUCOCYT)

DWI PUTRA HENDRI WAHYUDI


153112620120056

Program Studi S1 Biologi


Jurusan Biologi Medik
Universitas Nasional
2015

LATIHAN 8
PERCOBAAN DARAH II
HITUNG JENIS-JENIS LEUKOSIT (DIFFERENTIAL COUNT)
A. Tujuan
Mahasiswa dapat :
1.

Membedakan macam-macam jenis leukosit

2.

Menghitung masing-masing jenis leukosit

3.

Menentukan daya kerapuhan eritrosit (fragility globuler)

4.

Menentukan golongan darah

B. Dasar teori
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua mahluk hidup
(kecuali tumbuhan) yang berfungsi mengirimkan hasil metabolisme yang
dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia dan juga
sebagai pertahanan terhadap virus dan bakteri. Komposisi darah terdiri
dari beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45 % bagian dari darah.
Bagian 55 % yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk
medium cair yang disebut plasma darah.
Korpuskula terdiri dari: Sel darah merah/eritrosit (sekitar 99 %);
eritrosit

tidak

mempunyai

nucleus

sel

ataupun

organel,

eritrosit

mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah


juga berperan penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan
eritrosit menderita penyakit anemia.
Sel darah putih atau leukosit (0,2 %); leukosit bertanggung jawab
terhadap sistem imun dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda
yang dianggap asing dan berbahaya, misalnya virus dan bakteri. Leukosit
bersifat ameboid atau tidak memiliki bentuk tetap. Orang yang kelebihan
leukosit menderita leukemia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit
menderita penyakit leukopenia.

Secara fisiologi, kepentingan darah yang utama untuk mengangkut


bahan makanan dan gas pernafasan, dari bagian permukaan hewan ke
berbagai sel yang melaksanakan metabolisme didalam tubuhnya. Fungsi
lain peredaran darah untuk mengangkut hormon dan bahan lain, serta
berperan dalam pengaturan suhu tubuh. Fungsi darah yang berhubungan
dengan sistem perlindungan, berperan dalam reaksi imunitas. Secara
keseluruhan darah juga harus mampu melaksanakan pencegahan agar
tidak terjadi kehilangan sejumlah volume darah karena luka atau sebab
lain sehingga harus ada mekanisme pembekuan darah.
Sel darah putih menghabiskan sebagian besar waktunya diluar
sistem sirkulasi berpatroli dalam cairan interstisial dan sistem limpatik.
Dimana

sebagian

besar

pertempuran

terhadap

kuman

pathogen

dilakukan. Secara normal satu milliliter kubik darah manusia mempunyai


sekitar 5000 sampai 10000 leukosit. Jumlah ini akan meningkat
sementara waktu ketika tubuh sedang perang melawan suatu infeksi.
(Campbell Reece Mitchael. 2004).
Leukosit mempunyai inti bulat dan cekung. Sel-sel ini dapat
bergerak bebas secara amuboid serta dapat menembus dinding kapiler
(diapedesis). Di dalam tubuh,leukosit tidak berasosiasi secara ketat
dengan organ atau jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen
seperti organisme sel tunggal. Leukosit mampu bergerak secara bebas
dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel asing, atau
mikroorganisme penyusup.Selain itu, leukosit tidak bisa membelah
diri atau bereproduksi dengan cara mereka sendiri, melainkan mereka
adalah

produk

dari selpunca hematopoietic

pluripotent

yang

ada

pada sumsum tulang.


Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan
hemopoetik yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai
penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Jenis dan fungsi Leukosit


Leukosit granurosit dikelompokan menjadi 3 jenis yaitu neutrofil,
basofil, eusinofil. Leukosit agranulosit dikelompokan menjadi 2, yaitu
monosit dan limfosit.
Neutrofil berjumlah ( 60%) dalam sel darah putih. Neutrofil
memiliki nukleus yang terdiri dari 2 sampai 5 lobus (ruang). Sel-sel ini
berukuran sekitar 8 milimikro dalam keadaan segar. Neutrofil bersifat
fagosit dengan cara masuk ke jaringan yang terinfeksi. Mula-mula sel-sel
neutrofil melekat pada reseptor yang terdapat pada partikel; kemudian
membuat

ruang

tertutup

yang

berisi

partikel-partikel

yang

berisi

fagositosis. Sebuah sel neutrofil dapat menfagositosis 5 sampai 20 bakteri


sebelum sel neutrofil menjadi inaktif dan mati.
Eosinofil berbentuk hampir seperti bola berukuran hampir 9
milimikro dalam keadaan segar. Memiliki nukleus yang terdiri dari dua
lobus dan bersifat fagosit dengan daya fagositosis yang lemah. Fungsi
eosinofil dapat mendetoksifikasi toksin penyebab radang. Eosinofil
dilepaskan oleh sel basofil atau jaringan yang rusak.
Basofil memiliki nukleus berbentuk s yang bersifat fagosit. Basofil
melepaskan heparin ke dalam darah. Heparin adalah mukupolisakarida
yang banyak terdapat di dalam hati dan paru-paru. Heparin dapat
mencegah pembekuan darah. Selain itu basofil juga melepaskan histamin.
Histamin adalah suatu senyawa yang dibebaskan sebagai reaksi terhadap
antigen yang sesuai.
Monosit memiliki satu nukleus besar yang berbentuk tapal kuda
atau ginjal. Berdiameter 12 sampai 20 mikrometer. Monosit dapat
berpindah dari aliran darah ke jaringan. Di dalam jaringan, monosit
membesar dan bersifat fogosit yang bersifat makrofag. Makrofag ini
bersama neutrofil merupakan leukosit fagosit utama, paling efektif dan
berumur panjang.

Limfosit berbentuk seperti bola dengan ukuran diameter 6 sampai


14 mikrometer. Dibentuk di sumsum tulang sedangkan pada janin dibuat
di hati. Terdapat dua jenis sel limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T.
Limfosit yang tetap berada di sumsum tulang berkembang menjadi limfosit
B, sedangkan limfosit yang berda di sumsum tulang dan pindah ke timus
berkembang menjadi limfosit T. Limfosit B berperan dalam pembentukan
antibodi. Limfosit T memiliki berbagai fungsi, contohnya limfosit siktoksit-T
berfungsi menghancurkan sel yang terserang virus. (Diah, 2007).

Hapusan Darah Tepi


Darah dapat dibuat preparat apus dengan metode supra vital yaitu
suatu metode untuk mendapatkan sediaan dari sel atau jaringan yang
hidup. Sel-sel darah yang hidup dapat mengisap zat-zat warna yang
konsentrasinya sesuai dan akan berdifusi ke dalam sel darah tersebut,
selanjutnya zat warna akan mewarnai granula pada sel bernukleus
polimorf.
Tujuan pemeriksaan sediaan apus darah tepi antara lain menilai
berbagai unsur sel darah tepi seperti eritosit, leukosit, dan trombosit dan
mencari adanya parasit seperti malaria, tripanasoma, microfilaria dan lain
sebagainya. Sediaan apus yang dibuat dan dipulas dengan baik
merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil yang baik.
Dasar dari pewarnaan Romanowsky adalah penggunaan dua zat
warna yang berbeda yaitu Azur B (Trimetiltionion) yang bersifat basa dan
eosin y (tetrabromoflurescein) yang bersifat asam. Azur B akan mewarnai
komponen sel yang bersifat asam seperti kromatin. DNA dan RNA.
Sedangkan eosin y akan mewarnai komponen sel yang bersifat basa
seperti granula eosinofil dan hemoglobin. Ikatan eosin y pada Azur B yang
bergenerasi dapat menimbulkan warna ungu, dan keadaan ini dikenal
sebagai efek Romanowsky giemsa efek ini sangat nyata pada DNA tetapi

tidak pada RNA sehingga menimbulkan kontras antara inti yang berwarna
untuk sitoplasma yang berwarna biru.
Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah segar yang berasal
dari kapiler atau vena, yang dihapuskan pada kaca obyek. Pada keadaan
tertentu dapat pula digunakan darah EDTA.
Kriteria preparat yang baik :
1. Lebar dan panjangnya tidak memenuhi seluruh kaca benda
sehingga masih ada tempat untuk pemberian label.
2. Secara granulapenebalannya nampak berangsur-angsur menipis
dari kepala ke arah ekor.
3. Ujung atau ekornya tidak berbentuk bendera robek.
4. Tidak berulang-ulang karena bekas lemak ada di atas kaca benda.
5. Tidak terputus-putus karena gerakan gesekan yang ragu-ragu.
6. Tidak terlalu tebal (karena sudut penggeseran yang sangat kecil)
atau tidak terlalu tipis (karena sudut penggeseran yang sangat
besar).
7. Pewarnaan yang baik.

Jenis Apusan darah:


1. Sediaan darah tipis
Ciri-ciri sediaan apus darah tipis yaitu lebih sedikit membutuhkan
darah untuk pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus darah tebal,
morfologinya lebih jelas, dan perubahan pada eritrosit dapat terlihat jelas.
1. Ciri-ciri sediaan apus darah tebal yaitu lebih banyak membutuhkan

darah untuk pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus


darah tipis, jumlah selnya lebih banyak dalam satu lapang

pandang, dan bentuknya tak sama seperti dalam sediaan apus


darah tipis.

Diferential Count (Hitung Jenis Leukosit)


Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama membuat sediaan
apus darah yang diwarnai dengan pewarna Giemsa, Wright atau May
Grunwald. Amati di bawah mikroskop dan hitung jenis-jenis leukosit
hingga didapatkan 100 sel. Tiap jenis sel darah putih dinyatakan dalam
persen (%). Jumlah absolut dihitung dengan mengalikan persentase
jumlah dengan hitung leukosit, hasilnya dinyatakan dalam sel/L.
Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan
pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak
imersi. Pada hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang akan
digunakan perlu diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis sehingga
eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan
tidak boleh mengandung cat, dan eritrosit tidak boleh bergerombol.
Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai
jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya
memiliki fungsi yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah
neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit
memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses
penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari
masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masingmasing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total
(sel/l).
Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit
lebih banyak dari netrofil segmen, sedang pada orang dewasa
kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga bervariasi dari satu sediaan apus

ke sediaan lain, dari satu lapangan ke lapangan lain. Kesalahan karena


distribusi ini dapat mencapai 15%.
Bila pada hitung jenis leukosit, diperoleh eritrosit berinti lebih dari 10
per 100 leukosit, maka jumlah leukosit/l perlu dikoreksi. Berikut ini
merupakan beberapa hasil yang mungkin diperoleh pada hitung jenis
leukosit:
Netrofilia
Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil melebihi nilai
normal. Penyebab biasanya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia
dan logam berat, gangguan metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan,
kehilangan darah dan kelainan mieloproliferatif.
Banyak faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi,
seperti penyebab infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas
peradangan dan pengobatan. Infeksi oleh bakteri seperti Streptococcus
hemolyticus dan Diplococcus pneumonine menyebabkan netrofilia yang
berat, sedangkan infeksi oleh Salmonella typhosa dan Mycobacterium
tuberculosis tidak menimbulkan netrofilia. Pada anak-anak netrofilia
biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Pada penderita yang
lemah, respons terhadap infeksi kurang sehingga sering tidak disertai
netrofilia. Derajat netrofilia sebanding dengan luasnya jaringan yang
meradang karena jaringan nekrotik akan melepaskan leukocyte promoting
substance sehingga abses yang luas akan menimbulkan netrofilia lebih
berat daripada bakteremia yang ringan. Pemberian adrenocorticotrophic
hormone (ACTH) pada orang normal akan menimbulkan netrofilia tetapi
pada penderita infeksi berat tidak dijumpai netrofilia.
Rangsangan yang menimbulkan netrofilia dapat mengakibatkan
dilepasnya granulosit muda keperedaran darah dan keadaan ini disebut
pergeseran ke kiri atau shift to the left.

Pada infeksi ringan atau respons penderita yang baik, hanya dijumpai
netrofilia ringan dengan sedikit sekali pergeseran ke kiri. Sedang pada
infeksi berat dijumpai netrofilia berat dan banyak ditemukan sel muda.
Infeksi tanpa netrofilia atau dengan netrofilia ringan disertai banyak sel
muda menunjukkan infeksi yang tidak teratasi atau respons penderita
yang kurang.
Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda
degenerasi, yang sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih
kasar dan gelap yang disebut granulasi toksik. Disamping itu dapat
dijumpai inti piknotik dan vakuolisasi baik pada inti maupun sitoplasma
Eosinofilia
Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil melebihi
nilai normal. Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi. Histamin
yang dilepaskan pada reaksi antigen-antibodi merupakan substansi
khemotaksis yang menarik eosinofil. Penyebab lain dari eosinofilia adalah
penyakit kulit kronik, infeksi dan infestasi parasit, kelainan hemopoiesis
seperti polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik.
Basofilia
Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil melebihi nilai
normal. Basofilia sering dijumpai pada polisitemia vera dan leukemia
granulositik kronik. Pada penyakit alergi seperti eritroderma, urtikaria
pigmentosa dan kolitis ulserativa juga dapat dijumpai basofilia. Pada
reaksi antigen-antibodi basofil akan melepaskan histamin dari granulanya.
Limfositosis
Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah
limfosit melebihi nilai normal. Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi

virus seperti morbili, mononukleosis infeksiosa; infeksi kronik seperti


tuberkulosis, sifilis, pertusis dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti
leukemia limfositik kronik dan makroglobulinemia primer.
Monositosis
Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit melebihi
nilai normal. Monositosis dijumpai pada penyakit mieloproliferatif seperti
leukemia monositik akut dan leukemia mielomonositik akut; penyakit
kollagen seperti lupus eritematosus sistemik dan reumatoid artritis; serta
pada beberapa penyakit infeksi baik oleh bakteri, virus, protozoa maupun
jamur.
Perbandingan antara monosit : limfosit mempunyai arti prognostik
pada tuberkulosis. Pada keadaan normal dan tuberkulosis inaktif,
perbandingan antara jumlah monosit dengan limfosit lebih kecil atau sama
dengan 1/3, tetapi pada tuberkulosis aktif dan menyebar, perbandingan
tersebut lebih besar dari 1/3.
Netropenia
Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari
nilai normal. Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan
yaitu meningkatnya pemindahan netrofil dari peredaran darah, gangguan
pembentukan netrofil dan yang terakhir yang tidak diketahui penyebabnya.
Termasuk dalam golongan pertama misalnya umur netrofil yang
memendek karena drug induced. Beberapa obat seperti aminopirin
bekerja sebagai hapten dan merangsang pembentukan antibodi terhadap
leukosit. Gangguan pembentukan dapat terjadi akibat radiasi atau obatobatan seperti kloramfenicol, obat anti tiroid dan fenotiasin; desakan
dalam sum-sum tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak diketahui

sebabnya misal pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa dan
rickettisa; cyclic neutropenia, dan chronic idiopathic neutropenia.
Limfopenia
Pada orang dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari
nilai normal. Penyebab limfopenia adalah produksi limfosit yang menurun
seperti

pada

penyakit

Hodgkin,

sarkoidosis;

penghancuran

yang

meningkat yang dapat disebabkan oleh radiasi, kortikosteroid dan obatobat sitotoksis; dan kehilangan yang meningkat seperti pada thoracic duct
drainage dan protein losing enteropathy.
Eosinopenia dan lain-lain
Eosinopenia terjadi bila jumlah eosinofil kurang dari nilai normal. Hal
ini dapat dijumpai pada keadaan stress seperti syok, luka bakar,
perdarahan dan infeksi berat; juga dapat terjadi pada hiperfungsi koreks
adrenal dan pengobatan dengan kortikosteroid.
Pemberian epinefrin akan menyebabkan penurunan jumlah eosinofil
dan basofil, sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut.
Walaupun demikian, jumlah basofil, eosinofil dan monosit yang kurang
dari normal kurang bermakna dalam klinik. Pada hitung jenis leukosit pada
pada orang normal, sering tidak dijumlah basofil maupun eosinofil.
C. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA
A. Alat dan Bahan Hitung Jenis Leukosit

1. Kaca objek
2. Blood lancet
3. Autoclick
4. Spuit

5. Tissue
6. Kapasalkohol
7. Mikroskop
8. Darah perifer/vena
9. Methanol
10. Pewarna Giemsa atau Wright
11. Buffer pH 6,4
12. Aquadest

Cara Kerja:
1. Disediakan 2 kaca objek yang bersih dan bebas dari
lemak, diteteskan satu tetes darah perifer pada salah
satu bagian dekat ujung kaca objek.
2. Tempatkan ujung kaca lain pada pinggiran tetesan darah,
Tarik sedikit demi sedikit kebelakang hingga tetesan
darah menyebar
3. Kemudian di dorong kedepan tanpa menekan permukaan
kaca objek terlalu keras. Disesuaikan besarnya tetesan
darah dengan sudut kaca objek. Jika terlalu besar
tetesannya makan sudut antara dua objek diperkecil dan
sebaliknya
4. Sediaan harus mempunyai bagian yang tebal dan bagian
yang tipis
5. Dikeringkan di udara, difiksasi dengan cairan methanol
selama 10 menit lalu diwarnai dengan pewarnaan
Giemsa dan Wright

6. Pewarnaan Giemsa : Sediaan yang telah difiksasi diberi


larutan Giemsa 10-15 tetes yang diencerkan dengan 10
ml buffer dengan pH 6,4 atau diwarnai dengan larutan
Giemsa yang sudah tersedia. Biarkan kurang lebih 20
menit, lalu cuci pelan-pelan dengan air mengalir,
dikeringkan dan diperiksa di bawah mikroskop dengan
pembesaran kuat.
7. Pewarnaan Wright :Sediaan yang telah difiksasi diberi
larutan Wright dengan cara seperti di atas, biarkan 1-2
menit. Kemudian cuci pelan-pelan dengan air mengalir,
dikeringkan dan diperiksa di bawah mikroskop dengan
pembesaran kuat.
8. Identifikasi macam-macam leukosit terutama dengan
memperhatikan ciri-ciri leukosit, bentuk inti, ada/tidaknya
granula, dan sebagainya.
9. Pemeriksaan

dilakukan

pada

daerah

yang

telah

ditentukan, dimulai dari salah satu sudut bagian bawah


keatas kemudian bergeser kekanan lalu turun kebawah,
bergeser kekanan lalu naik keatas dan seterusnya.
Dicatat sel-sel yang ditemukan pada kolom satu sampai
mendapatkan 10 sel, kemudian pindah ke kolom dua,
tiga dan seterusnya hingga jumlah sel = 100.
10. Dihitung persentase masing-masing jenis leukosit.

B. Alat dan Bahan Pemeriksaan Golongan Darah

1. Blood lancet
2. Kapas alkohol
3. Kapas kering

4. Antisera A, B, AB dan D
5. Lidi
6. Darah perifer

Cara Kerja:
1. Dituliskan terlebih dahulu identitas OP pada kartu
golongan darah yang tersedia
2. Ditusuk jari menggunakan blood lancet steril
3. Diteteskan

darah

yang

akan

diperiksa

golongan

darahnya pada masing-masing kolom yang tersedia pada


kartu golongan darah
4. Ditambahkan setetes serum yang mengandung Antibodi
Anti-A, Antibodi Anti-B, Antibodi Anti-AB dan Antibodi AntiD (Anti Rhesus) pada masing-masing kolom
5. Diaduk pelan-pelan masing-masing campuran darah dan
serum dengan pengaduk yang berbeda
6. Diamati masing-masing ada/tidaknya aglutinasi
7. Ditentukan golongan darahnya

D. HASIL PERCOBAAN
Terlampir

E. Lembar Data Latihan 8


Nama

: Dwi Putra Hendri Wahyudi

NPM

: 153112620120056

Nama OP

: Ani Eliya

Umur

: 21 th

1. Hasil hitung jenis leukosit


Jenis
Leukosi
t
Bas
Eos
Net.
batang
Net.
segmen
Limf

II

III

IV

VI

VII

VIII

IX

1
1

Mono

Jumlah

10

1
10

10

1
10

1
0

10

71
11

2
10

1
9

1
8

Jumlah
(%)

10

2. Pemeriksaan Golongan Darah


Nama OP

: Dwi Putra Hendri Wahyudi

Hasil

: Golongan Darah B, Rh. Pos (+)

10

10

100

F. Pembahasan
Praktikum hitung jenis leukosit dilakukan pada tanggal 25
November 2015. Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah
berbagai jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masingmasingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel
itu adalah neutrofil (stab/ segmen ), limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil.
Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik
mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya
menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel.
Praktikum dilakukan dengan cara yaitu pertama- tama disiapkan
semua peralatan serta bahan yang akan digunakan. Kemudian ditaruh
objek glass (hapusan darah tepi) di atas meja mikroskop. Dan dicari
lapang pandang pada perbesaran 10X lensa objektif. Setelah ditemukan
lapang pandang, objek glass ditetesi dengan oil emersi dan diputar lensa
objektif kearah perbesaran lensa 100X. Kemudian diidentifikasi jenis
leukosit pada setiap lapang pandang. Identifikasi dilakukan di daerah
penghitungan (counting area). Identifikasi sel dimulai dari satu sisi
bergerak ke sisi lain, kemudian kembali ke sisi semula dengan arah
zigzag

berjarak

lapangan

pandang.

Untuk

memudahkan

penghitungan, maka dibuat kotak penghitungan jenis leukosit. Jenis


leukosit yang mula- mila terlihat dimasukkan dalam kolom-1, bila jumlah
sel sudah 10 pindah ke kolom-2. Setiap kolom mengandung 10 sel yang
sudah diidentifikasi, dan bila ke- 10 kolom sudah terisi berarti sudah 100
leukosit yang diidentifikasi dan dihitung. Selanjutnya ditentukan hasil diff
count dengan cara mencocokkan hasil yang diperoleh dengan nilai
rujukan dari hasil differential count.
Pada praktikum diperoleh hasil hitung jenis leukosit yaitu
sebagai berikut:
Basofil / Eosinofil / Batang / Segmen / Limfosit / Monosit
G. Kesimpulan

/1%

/ 9%

/ 71%

11%

8%

Dari percobaan yang telah dilakukan

pada tanggal 25

November 2015 terhadap hitung jenis sel darah putih, didapatkan


hasil yang normal, walaupun ditemukan netrofil batang di atas nilai
normal (2-6%) yaitu 9%. Ditemukannya penambahan netrofil
batang sebanyak 3% dari nilai seharusnya di rasa tidak terlalu
signifikan dan tidak memiliki makna yang berarti, karna netrofil
segmen masi mendominasi.
Dari hasil percobaan diketahui bahwa OP memiliki golongan
darah B, hal ini didapat berdasarkan hasil aglutinasi yang terjadi
pada kartu golongan darah. Yaitu pada lubang Anti B dan juga Anti
AB. Aglultinasi dapat terjadi karna Antigen (Ag) yang dimiliki atau
yang berikatan dengan eritrosit OP adalah Ag B yang akan
berikatan dengan Antisera B pada reagen sehingga membentuk
aglutinasi.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Reece Mitchael. 2004. Biologi. Jilid 3. Erlangga. Jakarta


http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1990228
leukosit/#ixzz1q8Jkp94p
http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_darah_putih
http://patologiklinikku.blogspot.com/2008/05/pemeriksaan-hitung-jumlahleukosit.html
http://kadri-blog.blogspot.com/2010/11/pembahasan-leukosit.html
http://www.scribd.com/mobile/doc/76108011?query=fungsi+leukosit
https://yullyanalis.wordpress.com/2013/06/28/hitung-jenis-leukositdifferential-count-dan-evaluasi-hapusan-darah-tepi-hdt/
Noortiningsih, dkk. 2014. Modul Praktikum Fisiologi Hewan. Jakarta

Diah Aryulina, dkk. 2007. Biologi 2. Jakarta: Esis

Anda mungkin juga menyukai