Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengabaian adalah kegagalan pemberi pelayanan dalam menyediakan
dengan baik atau kegagalan dalam memberikan pelayanan yang menimbulkan kondisi
bahaya fisik, mental atau menimbulkan sakit mental seperti meninggalkan, menolak
memberi makan ataupun pelayanan yang berhubungan dengan kesehatan lanjut usia
(lansia). Kejadian pengabaian pada lansia ditemukan pada semua tingkat sosial
ekonomi dan pada semua tingkat pendidikan. Peningkatan kasus pengabaian lansia ini
sangat dipengaruhi oleh faktor individu yang hidup terlalu lama sehingga
membutuhkan pelayanan dalam jangka waktu yang lama, sehingga terjadi
peningkatan ketergantungan lansia terhadap keluarga. Pasangan lansia atau anak
dewasa sebagai penanggung jawab financial dan penanggung jawab keluarga dapat
menjadi pelaku pengabaian. Kondisi stress dan adanya beban tugas sebagai pemberi
pelayanan dapat menjadi penyebab timbulnya perilaku pengabaian ataupun kekerasan
terhadap lansia. Faktor beban yang dipikul keluarga, dimana keluarga harus
bertanggung jawab terhadap dua generasi yaitu orang tua dan anak. Hal ini
disebabkan adanya beban pekerjaan, melakukan pelayanan pada anak dan orang tua
dapat menjadi pemicu terjadinya perlakuan pengabaian pada lansia (Maurier &
Smith, 2005). Pengabaian merupakan kondisi yang berhubungan dengan kegagalan
pemberi perawatan dalam memberikan pelayanan yang dibutuhkan lansia baik itu
pemenuhan kebutuhan kesehatan fisik maupun kebutuhan kesehatan mental pada
lansia (Stanhope & Lancaster, 2010). Perilaku pengabaian yang dialami lansia adalah
1

penelantaran pada lansia dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang dipicu
oleh ketidakmampuan lansia memenuhi kebutuhannya akibat adanya keterbatasan.
Pengetahuan dan sikap keluarga mengenai perawatan lansia dengan benar akan
berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia. Namun, data mengenai pengetahuan dan
sikap keluarga dalam merawat lansia yang berhubungan dengan kejadian pengabaian
belum diketahui.
Saat ini Indonesia masuk ke dalam lima besar Negara dengan jumlah lansia
terbanyak. Sekitar 18,0 juta lansia tersebar di seluruh Indonesia dan 2,8 juta
diantaranya terlantar dan sekitar 4,6 juta lansia terancam terlantar (Pusdatin Kesos,
Kemensos 2010). Kementerian Sosial baru mampu menangani 46.500 lansia terlantar
melalui asistensi lansia sebanyak 26.000 lansia, program Home Care sebanyak 1.600
dan Day Care untuk sebanyak 4.500 lansia. Berdasarkan data dari Dinas Sosial
Kependudukan Catatan Sipil Prov. NTB pada tahun 2014 jumlah lansia terlantar di
NTB sebanyak 56.299 jiwa. Untuk wilayah Kota Mataram terdapat sebanyak 7255
jiwa lansia terlantar.
Kejadian pengabaian pada lansia membrikan gambaran bahwa dukungan
yang diberikan keluarga kepada lansia masih kurang. Diperkirakan angka kejadian
salah perlakuan terhadap lansia yang berupa pengabain terhadap lansia terus
mengalami peningkatan setiap tahunnya dan diperkirakan akan mencapai puncaknya
pada tahun 2020 (Meiner & Leuckonette, 2006). Pengetahuan dan tindakan keluarga
dalam memberikan perawatan pada lansia sangat berpengaruh dengan kejadian
pengabaian terhadap lansia. Dengan adanya fenomena tersebut peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap keluarga dalam

merawat lansia dengan kejadian pengabaian terhadap lansia. Diharapkan dengan


dengan peningkatan pengetahuan keluarga dapat memudahkan keluarga dalam
mensikapi perawatan pada lansia dengan benar sehingga dapat menurunkan angka
kejadian pengabaian terhadap lansia.

1.2 Identifikasi Masalah


Faktor Pendorong
1. Kepala keluarga
atau anak tertua
2. Pelayanan
kesehatan

Faktor Pendukung
1. Ketersediaan fasilitas
kesehatan
2. Keterampilan yang
berhubungan dengan
perawatan
3. Kondisi ekonomi
keluarga

Faktor Predisposisi
1. Pengetahuan
keluarga tentang
perawatan lansia
2. Sikap keluarga
dalam member
perawatan pada
lansia

Peningkatan pengetahuan
dan sikap keluarga dalam
memberikan
perawatan
pada lansia

Penurunan kejadian
pengabaian
terhadap lansia

Gambar 1.1

Identiikasi masalah faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian


pengabaian terhadap lansia.

1.3 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah
sebagai berikut:
Bagaimana hubungan pengetahuan dan sikap keluarga dalam merawat lansia
dengan kejadian pengabaian terhadap lansia di wilayah kerja Puskesmas Ampenan?

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan umum
Menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap keluarga dalam merawat
lansia dengan kejadian pengabaian terhadap lansia di wilayah kerja Puskesmas
Ampenan kota Mataram NTB
1.4.2 Tujuan khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan keluarga dalam merawat lansia.
2. Mengidentifikasi tingkan pengetahuan keluarga tentang pengabaian terhadap
lansia.
3. Mengidentifikasi sikap keluarga dalam merawat lansia.
4. Menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap keluaraga dalam merawat lansia
dengan kejadian pengabaian terhadap lansia.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Teoritis

Mengedukasi keluarga tentang cara merawat lansia dengan benar serta


mengenali tanda-tanda terjadinya pengabaian terhadap lansia yang terjadi didalam
keluarga maupun masyarakat.
1.5.2 Praktis
Diharapkan dengan adanya penelitian ini para petugas kesehatan khususnya
perawat komunitas terdorong untuk lebih meningkatkan perannya sebagai
konselor/pendidik dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam merawat lansi
dan dapat menekan angka pengabaian terhadap lansia.