Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan yaitu: tercapainya kemampuan
untuk hidup sehat bagi setiap penduduk sebagai salah satu unsur
kesejahteraan nasional. Dalam sistem kesehatan nasional (SKN) juga
disebutkan bahwa perawatan kesehatan keluarga diselenggarakan untuk
mewujudkan kesehatan keluarga sehat, bahagia, dan sejahtera meliputi
kesejahteraan suami, istri, dan anggota keluarga lainnya (UU NO 23 Dep
Kes RI 1992).
Masalah kesehatan di Indonesia masih sangat memperihatinkan,
berbagai macam usaha telah dilakukan oleh berbagai pihak demi
tercapainya kehidupan yang sehat dan sejahtera. Masalah kesehatan
sering muncul ditengah masyarakat sangat komplek, masalah kesehatan
muncul dan di dukung oleh latar belakang sosial ekonomi dan
pengetahuan yang masih rendah yang mengakibatkan munculnya
berbagai macam penyakit di masyarkat yang salah satunya adalah
penyakit saluran pernapasan, yaitu TB paru.
Tuberculosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Mikobakterium Tuberkulosis (dan kadang-kadang oleh M. bovis dan
africanum). Organisme ini disebut pula sebagai bakteri asam (Manase,
2006).
Di Indonesia tuberculosis paru (TB) masih tinggi angka kejadiannya
pada kasus TB paru maka diperlukan pemahaman tentang penyakit TB

paru, sebelum memberikan pelayanan keperawatan pada penderita TB


paru, maka perlu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
penulis dalam memberikan pelayanan kesehatan yang baik dalam
pemberian tindakan medis maupun dalam bentuk preventif, promotif,
kuratif, dah rehabilitatif.
Penyakit tuberculosis masih menjadi masalah kesehatan dunia
dimana WHO melaporkan bahwa setengah persen dari penduduk dunia
terserang penyakit ini, sebagian berada di Negara berkembang sekitar
75%, diantaranya Indonesia setiap tahun ditemukan 539.000 kasus baru
TB BTA positif dengan kematian 101.000. Menurut catatan Departemen
Kesehatan sepertiga penderita tersebut ditemukan di Rumah Sakit dan
sepertiga lagi di puskesmas, sisanya tidak terdeteksi dengan baik
(Depkes, 2010). Angka penemuan kasus di NTB pada tahun 2011
sebanyak 5321 penderita, yang terdiri dari 3156 laki-laki dan 2165
perempuan sedangkan BTA (Basil Tahan Asam) positif baru maupun
pengobatan ulang sebanyak 3512 penderita, yang terdiri dari 2114 lakilaki dan 1398 perempuan (PROFIL DATA KESEHATAN INDONESIA,
2011).
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai gejala, tanda, dan
cara pencegahan penyakit ini mengakibatkan tingginya angka penularan.
Tingginya angka penularan TB mengakibatkan semakin meningkatnya
kasus TB di daerah Gunungsari selama dua tahun terakhir. Dari data
yang didapatkan di Puskesmas Gunungsari, jumlah penderita TB BTA

positif baru sejumlah 30 orang pada tahun 2011, dan mengalami


peningkatan menjadi 42 penderita TB BTA positif baru pada tahun 2012.
Penyuluhan tentang tanda, gejala, serta cara pencegahan TB dapat
memberikan konstribusi yang positif dalam upaya meningkatkan
pengetahuan masyarakat untuk menekan angka penularan TB di wilayah
Gunungsari.
Menurut friedman (1989) bahwa keluarga adalah kumpulan dua
orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan
emosional dan individu mempunyai peran masing-masing yang
merupakan bagian dari keluarga salah satu tujuan SKN adalah mencapai
derajat kesehatan yang optimal. Tujuan ini akan terwujud apabila ada
kesadaran dari keluarga sebagai salah satu sasaran dari perawatan
kesehatan masyarakat mengenai pentingnya hidup sehat.
Pengawas menelan obat atau disebut dengan istilah PMO adaalah
bertugas menjamin keteraturan pengobatan agar sembuh atau sukses.
PMO dapat berasal dari manapun juga, seperti petugas kesehatan, LSM,
Badan Perwakilan Desa (BPD), masyarakat atau keluarga (Hasibuan,
2001). Oleh karena itu, Depkes merekomendasikan persyaratan menjadi
PMO adalah dikenal, dan disetujui penderita maupun oleh petugas
kesehata selain itu harus disegani oleh penderita sendiri, kemudian
tempat tinggal dekat penderita dan bersedia membantu dengan sukarela
(Depkes, 2000b) selain itu, PMO harus memahami tanda dan gejala
penyakit termasuk cara penularannya, pengobatan, dan perawatannya
(CDC,2005b).

Peningkatan pengetahuan dan sikap keluarga perlu ditingkatkan


dengan penyuluhan yang berkelanjutan dan penyebaran leaflet tentang
pencegahan TB paru. Pada uraian diatas maka penulis tertarik untuk
mengambil kasus TB paru sebagai judul karya tulis ilmiah, yaitu
Gambaran Pengetahuan dan Sikap Keluarga Tentang Pencegahan
Penularan TB Paru di puskesmas Gunungsari.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka penulis merumuskan
masalah sebagai berikut : Bagaimanakah tingkat pengetahuan dan
sikap keluarga tentang pencegahan penularan TB paru?.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap keluarga tentang
pencegahan penularan TB Paru
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui pengetahuan keluarga dengan pencegahan penularan
TBC paru
b. Mengetahui sikap keluarga dengan pencegahan penularan TBC
paru
D. Manfaat penelitian
1. Institusi Pendidikan
Menambah bahan referensi bagi institusi dan merupakan data
awal bagi peneliti selanjutnya.
2. Masyarakat

Mengetahui cara yang tepat untuk pencegahan penularan


penyakit TBC
3. Untuk Peneliti
Memperkaya ilmu pengetahuan sehingga berguna bagi pekerjaan
dan tugas peneliti sebagai bahan masukan yang digunakan untuk
penerapan prilaku keluarga yang baik dalam pencegahan penularan
TB paru yang dapat menurunkan penularan TB paru.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori
1. Pengetahuan
a. Pengertian

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi


setelah orang melakukan penginderaan suatu obyek tertentu
(Notoatmojo S, 2001).
b. Proses Pengetahuan
Penelitian Roger (1974) mengungkapkan bahwa sebelum
orang mengadopsi perilaku baru di dalam diri orang tersebut
terjadi proses yang berurutan yaitu:
1) Awarnes (kesadaran) dimana orang menyadari bahwa arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus atau obyek.
2) Interest (tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut.
3) Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik atau tidaknya
stimulus atau obyek tersebut.
4) Trial (uji coba) dimana obyek mulai mencoba melakukan
sesuatu atau sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh
stimulus tersebut.
5) Adaptation (adaptasi) dimana subyek telah berperilaku baru
sesuai dengan pengetahuan.
6) Kesadaran sikap terhadap stimulus.
c. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang mencakup dalam domain kognitif
mempunyai enam tingkatan yaitu:
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan
tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang
spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan

yang telah diterima, oleh sebab tahu merupakan tingkatan


pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur
orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan,
dan sebagainya.
2) Memahami (comprehenstion)
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan
dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus
dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.
3) Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau
kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai
pengunaan hokum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan
sebagainya dalam kontek atau situasi yang lain.
4) Analisis (analisys)
Analisa adalah suatu kemampuan untuk dapat
menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponenkomponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi
tersebut, dan masih ada kaitannya satu dengan yang lainnya.
Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata
kerja, seperti dapat menggambarkan, membedakan,
memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

5) Sintesis (syntesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menggabungkan bagian-bagian didalam
suatu bentuk keseluruhan yang formulasi dari formulasiformulasi yang ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi
atau obyek. Penilaian ini berdasarkan suatu criteria yang
dilakukan sendiri atau menggunakan criteria yang telah ada.
d. Cara Memperoleh Pengetahuan
Cara memperoleh pengetahuan yang dikutip dari
Notoatmodjo (2003) adalah sebagai berikut :
1) Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan
a) Cara coba salah (Trial and Error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan,
bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba
sa;ah in dilakukan dengan menggunakan kemungkinan
dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu
tidak berhasil maka dicoba kemungkinan yang lain sampai
masalah tersebut dapat dipecahkan.
b) Kekuasaan atau otoritas
Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pimpinanpimpinan masyarakat baik formal atau informal, ahli
agama, pemegang pemerintah, dan berbagai prinsip orang
lain yang mempunyai otoritas tanpa menguji terlebih

dahulu atau membuktikan kebenaranya baik berdasarkan


fakta empiris maupun penalaran sendiri.
c) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai
upaya memperoleh pengetahuan dengan cara
mengunlang kembali pengalaman yang pernah diperoleh
dalam memecahkan permasalah yang dihadapi dimasa
lalu.
2) Cara modern dalam memperoleh pengetahuan
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih
populer atau metodologi penelitian.
e. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan
a) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan
seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke
arah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk
berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai
keselamatan dan kebahagiaan.
2) Pekerjaan
Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan
terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan
keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tapi
lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang
membosankan, berulang dan banyak tantangan.
Sedangkan bekerja umumnya merupakan kegiatan yang
menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai
pengaruh terhadap kehidupan keluarga.
3) Umur

10

Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat


dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur,
tingkat kematangan sesorang akan lebih matang dalam
berfikir dan bekerja.
4) Faktor lingkungan
Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada
disekitar manusia dan dapat mempengaruhi
perkembangan atau perilaku orang atau kelompok.
5) Sosial budaya
System sosial budaya yang ada pada masyarakat
dapat mempengaruhi sikap dalam menerima informasi.
f. Kriteria tingkat pengetahuan
Menurut Arikunto (2006), pengetahuan seseorang dapat
diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat
kualitatif, yaitu :
1) Baik : hasil presentase 76%-100%
2) Cukup : hasil presentase 56%-75%
3) Kurang : hasil presentase < 56 %

2. Sikap (attitude)
a. Pengertian
Merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek (Notoatmojo S, 2008).
b. Komponen Pokok Sikap
Menurut Allport (dalam Notoatmojo, 1998) menjelaskan bahwa
sikap itu mempunyai 3 komponen, yakni:
1) Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu obyek.
2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu obyek.
3) Kecenderungan untuk bertindak
c. Tingkatan sikap

11

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari


berbagai tingkatan, yakni:
1) Menerima (receiving)
Diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (obyek).
2) Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah indikasi dari sikap.
3) Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan suatu masalah adalah indikasi dari sikap.
4) Bertanggung Jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipilihnya
dengan segala resiko adalah sikap yang paling tinggi
(Notoatmojo S, 2008).
d. Faktor yang mempengaruhi sikap
Faktor yang mempengaruhi sikap keluarga terhadap obyek sikap
antara lain :
1) Pengalaman pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman
pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu,
sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi
tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.
2) Pengaruh kebudayaan
Tanpa disadari, kebudayaan telah menanamkan garis
pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan
telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena
kebudayaanlah yang memberikan corak pengalaman individuindividu masyarakat asuhannya.
3) Faktor emosional

12

Kadangkala suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang


didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran
frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego
(Azwar, 2005).
3. Tuberculosis (TB) Paru
a. Pengertian
TB adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman
mycobacterium tuberculosis yang secara khas ditandai dengan
pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis pada jaringan.
Yang paling sering terkena adalah jaringan paru-paru (Tjahyono
S,1997).
b. Etiologi
Mycobacterium Tuberculosis, jenis kuman berbentuk batang,
ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um. Sebagian besar kuman
berupa lemak/lipid sehingga kuman tahan terhadap asam dan lebih
tahan terhadap kimia, fisik. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob
yang menyukai daerah yang banyak oksigen, dalam hal ini menyukai
daerah yang lebih tinggi kandungan oksigennya yaitu daerah epikal
paru, daerah ini menjadi prediksi pada penyakit tuberculosis paru.
c. Patofisiologi
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman di batukkan
atau di bersinkan keluar menjadi nuclei dalam udara, partikel infeksi
ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2jam, tergantung
ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik dan kelembaban.

13

Dalam suasana gelap dan lembab dapat bertahan berhari-hari


bahkan berbulan-bulan.
Bila partikel ini terhisap oleh orang sehat ia akan menempel
pada jalan napas atau paru-paru, kebanyakan partikel ini akan mati
atau dibersihkan oleh makrofak keluar dari cabang-cabang trakheo
bronchial beserta gerakan silis dengan sekretnya. Kuman juga dapat
masuk melalui luka pada kulit atau mukosa tepi, tetapi dalam hal ini
sangat jarang sekali terjadi.
Bila kuman menetap di jaringan paru, tumbuh dan berkembang
biak dalam sitoplasma makrofag, disini ia dapat terbawa masuk ke
dalam organ tubuh lainnya, kuman yang bersarang di jaringan paruparu akan membentuk sarang tuberkulosa pneumonia kecil yang
disebut primer atau afek primer. Sarang primer ini dapat terjadi
dimana saja di jaringan paru, dari sarang primer ini akan timbul
peradangan getah bening menuju hilus (limphangitis regional) dan
juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limphangitis
regional).
Kuman yang dorman pada tuberkulosa primer akan muncul
bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi
tuberkulosa dewasa (tuberkulosa post primer), ini dimulai dari sarang
dini yang berlokasi di region atas paru-paru (bagian apical posterior

14

lobus, superior dan inferior) invasinya adalah kearah parenkim paru,


sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granufoma yang terdiri dari
sel-sel histiosit dan datia langhans (sel besar dengan banyak inti)
yang dikelilingi oleh sel limfosit dan bermacam-macam jaringan ikat,
sarang dini meluas dimana granufoma meluas atau berkembang
menghancurkan jaringan sekitarnya dan bagian tengahnya
mengalami nekrosis dan menjadi lembek membentuk jaringan keju,
bila jaringan keju dibatukkan keluar akan terjadi kavitas, lama-lama
kavitas didindingnya menebal karena infiltrasi jaringan fibroblast
dalam jumlah besar, sehingga menjadi kavitas sklerotis, kavitas ini
dapat:
1) Meluas kembali dan menimbulakan sarang pneumonia baru.
2) Memadat dan membungkus diri sehingga menjadi tuberkulosa ini
dapat mengapur dan menyembuh atau aktif kembali menjadi air
atau kabvita lagi.
3) Bersih dan menyembuh, disebut open healed cavity dapat juga
dengan membungkus diri dan menjadi kecil. Kadang berakhir
sebgagai kavitas yang terbungkus, menciut dan berbentuk seperti
bintang, disebut stellate shaped.
Secara keseluruhan akan terdapat 3 (tiga) macam sarangnya,
yaitu:

15

1) Sarang yang sudah sembuh, sarang bentuk ini tidak perlu


pengobatan lagi.
2) Sarang aktif eksudatif, sarang bentuk ini perlu pengobatan yang
lengkap dan sempurna.
3) Sarang yang berada diantara aktif dan sembuh, sarang bentuk ini
dapat sembuh spontan, tetapi mengingat kemungkinan terjadinya
eksaserbasi kembali sebaiknya diberi pengobatan yang
sempurna (soeparman, dkk, 1990)
Di Indonesia klasifikasi yang dipakai adalah:
1) Tuberkulosa
2) Bekas tuberkulosa
3) Tuberkulosa tersangka yang dibagi dalam:
a) Tuberculosis tersangka yang diobati. Disini sputum BTA
negative tetapi tanda-tanda lain positif
b) Tuberkulosa tersangka yang tidak diobati. Disini sputum BTA
positif dan tanda-tanda lain juga mendukung dan klasifikasi
ini perlu dicantumkan.
4) Status bakteriologis
a) Mikroskopis sputum BTA (langsung).
b) Biakan sputum BTA
5) Status radiologi, kelainan yang relevan untuk tuberkulosa
6) Status kemoterapi, riwayat pengobatan dengan anti Tuberkulosa
paru (Ishak Yusuf, dkk, 1990, hal 715).
d. Gejala dan Tanda
Gejala dan tanda klinik tuberkulosa paru dapat dibagi atas 2
(dua) golongan yaitu gejala simptomatis dan gejala respiratorik.
1) Gejala simptomatis adalah :
a) Demam

16

Merupakan gejala pertama dari tuberkulosis paru,


biasanya timbul pada sore hari dan malam hari disertai
dengan keringat mirip influenza yang segera mereda,
tergantung dari daya tahan tubuh dan virulensi kuman,
serangan demam yang berikut dapat terjadi setelah 3 bulan.
6 bulan, 9 bulan (multipikasi 3 bulan). Demam seperti
influenza ini hilang semakin lama semakin panjang masa
serangannya, sedangkan masa bebas serangan akan makin
pendek, demam dapat mencapai suhu tinggi antara 40C41C.
b) Malaise
Karena sifat tuberkulosis radang menahun, maka dapat
terjadi rasa tidak enak badan, pegal-pegal, nafsu makan
menurun, badan makin kurus, sakit kepala, mudah lelah dan
pada wanita terjadi gangguan menstruasi.

2) Gejala respiratorik adalah:


a) Batuk
Timbul apabila proses penyakit telah melibatkan
bronchus, selanjutnya akibat adanya peradangan pada
bronchus. Batuk mula-mula terjadi oleh karena iritasi
bronchus, selanjutnya akibat adanya peradangan pada
bronchus batuk akan menjadi produktif, batuk produktif ini
berguna untuk membuang produk-produk ekskresi
peradangan . dahak dapat bersifat mucoid atau pirulen.

17

b) Batuk darah
Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah. Berat dan
ringannya batuk darah yang timbul, tergantung pada besar
kecilnya pembuluh darah yang pecah, batuk darah tidak selalu
timbul akibat pecahnya aneurisme pada dinding kavitas. Batuk
darah ini yang paling sering membawa penderita berobat ke
dokter.
c) Sesak napas
Ditemukan pada penyakit yang lanjut dengan kerusakan
paru yang cukup luas, pada awal penyakit gejala ini tidak
pernah didapat.

d) Nyeri dada
Timbul apabila sistim persyarafan yang terdapat di pleura
terkena gajala ini dapat bersifat local, atau pleuritik. (yunus
dkk. 1992; hal. 45)
e. Faktor Resiko
1) Rasial/Etnik Group : penduduk asli Amerika, Eskimo, Negro,
Imigran dari Asia Tenggara.
2) Klien dengan ketergantungan alcohol dan kimia lain yang
menimbulkan penurunan status kesehatan.
3) Bayi dan anak dibawah 5 tahun.
4) Klien dengan penurunan imunitas : HIV positif, terapi steroid &
kemoterapi kanker
f. Pencegahan TB
1) Menjaga kebersihan tangan
2) Melakukan etika batuk
3) Tidak sembarangan membuang dahak
4) Menggunakan masker bila menderita batuk

18

5) Rumah dan tempat berkerja mempunyai ventilasi yang cukup


sehingga aliran udara lancer
6) Menjaga kebersihan lingkungan
7) Pola hidup sehat

4. Pengetahuan, Sikap, dan TB Paru


Pengetahuan sebagian masyarakat di lokasi penelitian mengenai
tanda-tanda penyakit TB Paru relatif cukup baik. Namun, sebagian
masyarakat lainnya masih beranggapan bahwa penyebab penyakit TB
Paru adalah berkaitan dengan hal-hal yang ghaib/magic dan karena
keturunan. Persepsi sebagian masyarakat bahwa penyakit yang
dialaminya adalah bukan penyakit berbahaya, melainkan penyakit batuk
biasa, temyata berpengaruh pada munculnya sikap kurang peduli dari
masyarakat terhadap akibat yang dapat ditimbulkan oleh penyakit TB
Paru. Perilaku dan kesadaran sebagian masyarakat untuk memeriksakan
dahak dan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan masih kurang,
karena mereka malu dan takut divonis menderita TB Paru.

19

B. Kerangka Konsep

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan :


Pengetahuan dan Sikap Keluarga
Pendidikan
Pekerjaan
Umur
Pencegahan Penularan TB Faktor Lingkungan
Sosial Budaya
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap :

Keterangan :
: diteliti
: tidak diteliti

Pengalaman pribadi
Pengaruh kebudayaan

Bagan 1 : Kerangka KonseptualFaktor


Gambaran
Pengetahuan dan Sikap
emosional
Keluarga tentang Pencegahan Penularan TB Paru, modifikasi
Notoatmodjo (2003) dan Tjahyono S (1997)