Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


HIV/AIDS merupakan salah satu tantangan terbesar masalah kesehatan
masyarakat sekarang ini, terutama di negara-negara berkembang. 1 Menurut
World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, di seluruh dunia
terdapat sekitar 35 juta orang dengan HIV/AIDS dan diantaranya adalah
anak-anak berusia kurang dari 15 tahun. Bahkan, pada tahun 2013,
didapatkan 1,5 juta jiwa meninggal dikarenakan penyakit ini. Cakupan
pengobatan terhadap anak-anak pun masih kurang, khususnya di negara
berkembang. Hanya 1 dari 4 anak dengan HIV mendapatkan pengobatan
antiretroviral.2
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang
sistem imunitas tubuh manusia. Pasien dengan HIV dapat menunjukkan
gejala dan tanda yang berbeda-beda tergantung stadium infeksi HIV tersebut.
Pada suatu titik, akan didapatkan gejala berupa AIDS (acquired
immunodeficiency syndrome), yaitu infeksi-infeksi oportunistik yang berulang
dan terkadang mengancam nyawa.3 Orang-orang yang berisiko terpapar HIV
adalah mereka yang melakukan hubungan seksual tidak aman, berganti-ganti
pasangan seks, memiliki riwayat infeksi menular seksual, penggunaan jarum
suntik yang bergantian, kontak dengan darah yang infeksius, dan transmisi
ibu-ke-anak yang dapat terjadi selama proses persalinan dan menyusui.3
HIV/AIDS membutuhkan penanganan dari segi medis dan psikososial
berdasarkan pendekatan kesehatan masyarakat melalui kegiatan promotif,
preventif, dan kuratif. Penanganan juga berupa mengembalikan semangat
hidup penderita agar dapat diterima kembali di masyarakat dan dapat
melanjutkan hidup produktif secara ekonomi dan biologis. 4 Program
penanggulanagan HIV/AIDS telah banyak dilakukan terutama terhadap target
sasaran seperti pekerja seks perempuan (PSP/WPS), lelaki suka lelaki (LSL),
waria, pengguna napza suntik, warga binaan permasyarakatan (WBP), dan
1

potensial pelanggan.5 Salah satu bentuk intervensi ini adalah berupa


voluntary counseling and testing (VCT).
VCT adalah tanya jawab rahasia dan terbuka antara klien dan konselor
tentang HIV/AIDS.6 VCT merupakan pintu masuk untuk perawatan dan
pengobatan penderita dengan HIV/AIDS. Salah satu yang dilakukan adalah
memeriksa status infeksi HIV seseorang sedini mungkin, dilakukan dengan
sukarela dan tanpa paksaan.7 Dengan mengetahui status HIV lebih dini, maka
akan lebih mudah melakukan pelayanan berupa pencegahan, perawatan,
dukungan, serta pengobatan untuk HIV.Pelayanan ini dapat dilakukan di
sarana kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat.
Dalam akselerasi upaya VCT, pemerintah, praktisi kesehatan, LSM, serta
elemen lainnya harus bekerjasama dalam peningkatan akses pendanaan,
perencanaan

yang

mapan

danpenataan

manajemen

program

untuk

mempercepat langkah global penanggulangan HIV/AIDS jangka panjang.6


Sunan kuning merupakan salah satu daerah resosialisasi di Indonesia di
mana terdapat kelompok dengan faktor risiko, diantaranya adalah WPS.
Meskipun begitu, untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS, Sunan Kuning
memiliki program khusus yang bersifat wajib berupa VCT yang dilakukan
rutin setiap 3 bulan sekali. Proses kegiatan pemeriksaan dilakukan di tempat
pelayananan kesehatan khusus yang ada di dalam kompleks Sunan Kuning
yaitu Klinik Griya ASA. Tes ini dilakukan secara sukarela dan tanpa paksaan
pada seorang individu. Dengan mengetahui status HIV lebih dini maka akan
lebih memungkinkan untuk melakukan pemanfaatan pelayanan terkait dengan
pencegahan, perawatan, dukungan serta pengobatan untuk HIV.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui program kerja dan alur pelaksanaan VCT Klinik Griya ASA.
2. Melakukan pengamatan pada pelaksanaan VCT Klinik Griya ASA.
3. Mengetahui masalah beserta pemecahannya terkait VCT Klinik Griya ASA
melalui wawancara terhadap WPS di Sunan Kuning.
4. Mengetahui pencegahan HIV/AIDS di Sunan Kuning melalui VCT.
5. Mengetahui cara agar WPS mau melakukan VCT secara rutin.

6. Mengetahui cara isolasi WPS dengan HIV agar tidak melakukan transaksi
seksual.
7. Mengetahui pencegahan kecacatan/kematian pada ODHA di Klinik Griya
ASA.
8. Mengetahui kegiatan pemeriksaan CD4+ bagi WPS dengan HIV untuk
mengetahui respons treatment di Klinik Griya ASA.
9. Mengetahui kegiatan kelompok dukungan sebaya (KDS) antar ODHA
untuk meminimalisasi dropout treatment di Klinik Griya ASA.
1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi Mahasiswa
Mendapatkan informasi mengenai program dan alur pelayanan VCT
khususnya di Klinik Griya ASA serta dapat meningkatkan kualitas
kesehatan individu yang berisiko tinggi dalam mengurangi risiko penularan
HIV/AIDS.
1.3.2 Bagi Griya ASA
Bahan masukan guna meningkatkan layanan VCT di Klinik Griya ASA.
1.3.3 Bagi Masyarakat
Masyarakat mengetahui bagaimana pendeteksian dini pada penyakit
HIV/AIDS dan masyarakat mengetahui gejala, cara penularan, pencegahan
serta pengobatan dari penyakit HIV/AIDS.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Human Immunodeficiency Virus (HIV)
A. Definsi HIV
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan
AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang
bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut terutama limfosit
yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada di
permukaan sel limfosit. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh
manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang
seharusnya berperan dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh
manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4
berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem
kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai
CD4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus
bisa sampai nol).8
Virus HIV diklasifikasikan ke dalam golongan lentivirus atau
retroviridae. Virus ini secara material genetik adalah virus RNA yang
tergantung pada enzim reverse transcriptase untuk dapat menginfeksi sel
mamalia, termasuk manusia, dan menimbulkan kelainan patologi secara
lambat. Virus ini terdiri dari 2 grup, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Masingmasing grup mempunyai lagi berbagai subtipe, dan masing-masing subtipe
secara evolusi yang cepat mengalami mutasi. Diantara kedua grup
tersebut, yang paling banyak menimbulkan kelainan dan lebih ganas di
seluruh dunia adalah grup HIV-1.9
B. Definisi AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome,
yang berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan
tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV. Tubuh manusia mempunyai
kekebalan untuk melindungi diri dari serangan luar seperti kuman, virus,

dan penyakit. AIDS melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh


ini, sehingga akhirnya berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain.10
HIV adalah jenis parasit obligat yaitu virus yang hanya dapat hidup
dalam sel atau media hidup. Seorang pengidap HIV lambat laun akan jatuh
ke dalam kondisi AIDS, apalagi tanpa pengobatan. Umumnya keadaan
AIDS ini ditandai dengan adanya berbagai infeksi baik akibat virus,
bakteri, parasit maupun jamur. Keadaan infeksi ini yang dikenal dengan
infeksi oportunistik.9
C. Etiologi dan Patogenesis
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dianggap sebagai virus
penyebab AIDS. Virus ini termaksuk dalam retrovirus anggota subfamili
lentivirinae. Ciri khas morfologi yang unik dari HIV adalah adanya
nukleoid yang berbentuk silindris dalam virion matur. Virus ini
mengandung 3 gen yang dibutuhkan untuk replikasi retrovirus yaitu gag,
pol, env. Terdapat lebih dari 6 gen tambahan pengatur ekspresi virus yang
penting dalam patogenesis penyakit. Satu protein replikasi fase awal yaitu
protein Tat, berfungsi dalam transaktivasi dimana produk gen virus terlibat
dalam aktivasi transkripsional dari gen virus lainnya. Transaktivasi pada
HIV sangat efisien untuk menentukan virulensi dari infeksi HIV. Protein
Rev dibutuhkan untuk ekspresi protein struktural virus. Rev membantu
keluarnya transkrip virus yang terlepas dari nukleus. Protein Nef
menginduksi produksi khemokin oleh makrofag, yang dapat menginfeksi
sel yang lain.4
Gen HIV-ENV memberikan kode pada sebuah protein 160-kilodalton
(kD) yang kemudian membelah menjadi bagian 120-kD(eksternal) dan 41kD (transmembranosa). Keduanya merupakan glikosilat, glikoprotein 120
yang berikatan dengan CD4 dan mempunyai peran yang sangat penting
dalam membantu perlekatan virus dangan sel target (Borucki, 1997).
Setelah virus masuk dalam tubuh maka target utamanya adalah limfosit
CD4 karena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4.
Virus ini mempunyai kemampuan untuk mentransfer informasi genetik
mereka dari RNA ke DNA dengan menggunakan enzim yang disebut

reverse transcriptase. Limfosit CD4 berfungsi mengkoordinasikan


sejumlah fungsi imunologis yang penting. Hilangnya fungsi tersebut
menyebabkan gangguan respon imun yang progresif (Borucki, 1997).
Setelah infeksi primer, terdapat 4-11 hari masa antara infeksi mukosa dan
viremia permulaan yang dapat dideteksi selama 8-12 minggu. Selama
masa ini, virus tersebar luas ke seluruh tubuh dan mencapai organ limfoid.
Pada tahap ini telah terjadi penurunan jumlah sel-T CD4. Respon imun
terhadap HIV terjadi 1 minggu sampai 3 bulan setelah infeksi, viremia
plasma menurun, dan level sel CD4 kembali meningkat namun tidak
mampu menyingkirkan infeksi secara sempurna. Masa laten klinis ini bisa
berlangsung selama 10 tahun. Selama masa ini akan terjadi replikasi virus
yang meningkat. Diperkirakan sekitar 10 milyar partikel HIV dihasilkan
dan dihancurkan setiap harinya. Waktu paruh virus dalam plasma adalah
sekitar 6 jam, dan siklus hidup virus rata-rata 2,6 hari. Limfosit TCD4
yang terinfeksi memiliki waktu paruh 1,6 hari. Karena cepatnya proliferasi
virus ini dan angka kesalahan reverse transcriptase HIV yang berikatan,
diperkirakan bahwa setiap nukleotida dari genom HIV mungkin bermutasi
dalam basis harian.11
Akhirnya pasien akan menderita gejala-gejala konstitusional dan
penyakit klinis yang nyata seperti infeksi oportunistik atau neoplasma.
Level virus yang lebih tinggi dapat terdeteksi dalam plasma selama tahap
infeksi yang lebih lanjut. HIV yang dapat terdeteksi dalam plasma selama
tahap infeksi yang lebih lanjut dan lebih virulin daripada yang ditemukan
pada awal infeksi. Infeksi oportunistik dapat terjadi karena para pengidap
HIV terjadi penurunan daya tahan tubuh sampai pada tingkat yang sangat
rendah, sehingga beberapa jenis mikroorganisme dapat menyerang bagianbagian tubuh tertentu. Bahkan mikroorganisme yang selama ini komensal
bisa jadi ganas dan menimbulkan penyakit.9
D. Cara penularan HIV
Terutama melalui cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial
mengandung HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu
ibu. Penularan HIV dapat terjadi melalui berbagai cara, yaitu : kontak

seksual, kontak dengan darah atau sekret yang infeksius, ibu ke anak
selama masa kehamilan, persalinan dan pemberian ASI (Air Susu Ibu).9
1. Seksual Penularan melalui hubungan heteroseksual adalah yang paling
dominan dari semua cara penularan. Penularan melalui hubungan
seksual dapat terjadi selama senggama laki-laki dengan perempuan
atau laki-laki dengan laki-laki. Senggama berarti kontak seksual
dengan penetrasi vaginal, anal (anus), oral (mulut) antara dua
individu. Resiko tertinggi adalah penetrasi vaginal atau anal yang tak
terlindung dari individu yang terinfeksi HIV.
2. Melalui transfusi darah atau produk darah yang sudah tercemar
dengan virus HIV.
3. Melalui jarum suntik atau alat kesehatan lain yang ditusukkan atau
tertusuk ke dalam tubuh yang terkontaminasi dengan virus HIV,
seperti jarum tato atau pada pengguna narkotik suntik secara
bergantian. Bisa juga terjadi ketika melakukan prosedur tindakan
medik ataupun terjadi sebagai kecelakaan kerja (tidak sengaja) bagi
petugas kesehatan.
4. Melalui silet atau pisau, pencukur jenggot secara bergantian
hendaknya dihindarkan karena dapat menularkan virus HIV kecuali
benda-benda tersebut disterilkan sepenuhnya sebelum digunakan.
5. Melalui transplantasi organ pengidap HIV.
6. Penularan dari ibu ke anak Kebanyakan infeksi HIV pada anak
didapat dari ibunya saat ia dikandung, dilahirkan dan sesudah lahir
melalui ASI.
7. Penularan HIV melalui pekerjaan : pekerja kesehatan dan petugas
laboratorium. Terdapat resiko penularan melalui pekerjaaan yang kecil
namun defenitif, yaitu pekerja kesehatan, petugas laboratorium, dan
orang lain yang bekerja dengan spesimen/bahan terinfeksi HIV,
terutama bila menggunakan benda tajam
Tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa air liur dapat
menularkan infeksi baik melalui ciuman maupun pajanan lain misalnya
sewaktu bekerja pada pekerja kesehatan. Selain itu air liur terdapat

inhibitor terhadap aktivitas HIV. Menurut WHO (1996), terdapat beberapa


cara dimana HIV tidak dapat ditularkan antara lain:12
1. Kontak fisik .Orang yang berada dalam satu rumah dengan penderita
HIV/AIDS, bernapas dengan udara yang sama, bekerja maupun
berada dalam suatu ruangan dengan pasien tidak akan tertular.
Bersalaman, berpelukan maupun mencium pipi, tangan dan kening
penderita HIV/AIDS tidak akan menyebabkan seseorang tertular.
2. Memakai milik penderita Menggunakan tempat duduk toilet, handuk,
peralatan makan maupun peralatan kerja penderita HIV/AIDS tidak
akan menular.
3. Digigit nyamuk maupun serangga dan binatang lainnya.
4. Mendonorkan darah bagi orang yang sehat tidak dapat tertular HIV.
E. Gejala Klinis
Gejala klinis terdiri dari 2 gejala yaitu gejala mayor (umum terjadi)
dan gejala minor (tidak umum terjadi):
1. Gejala mayor:
a. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
d. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
e. Demensia/ HIV ensefalopati
2. Gejala minor:
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
b. Dermatitis generalisata
c. Adanya herpes zoster multisegmental dan herpes zoster berulang
d. Kandidias orofaringeal
e. Herpes simpleks kronis progresif
f. Limfadenopati generalisata
g. Retinitis virus Sitomegalo
Menurut Mayo Foundation for Medical Education and Research
(MFMER) (2008), gejala klinis dari HIV/AIDS dibagi atas beberapa fase:
a. Fase awal

Pada awal infeksi, mungkin tidak akan ditemukan gejala dan tandatanda infeksi. Tapi kadang-kadang ditemukan gejala mirip flu seperti
demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, ruam dan pembengkakan
kelenjar getah bening. Walaupun tidak mempunyai gejala infeksi,
penderita HIV/AIDS dapat menularkan virus kepada orang lain.
b. Fase lanjut
Penderita akan tetap bebas dari gejala infeksi selama 8 atau 9 tahun
atau

lebih. Tetapi

seiring

dengan

perkembangan

virus

dan

penghancuran sel imun tubuh, penderita HIV/AIDS akan mulai


memperlihatkan gejala yang kronis seperti pembesaran kelenjar getah
bening (sering merupakan gejala yang khas), diare, berat badan
menurun, demam, batuk dan pernafasan pendek.
c. Fase akhir
Selama fase akhir dari HIV, yang terjadi sekitar 10 tahun atau lebih
setelah terinfeksi, gejala yang lebih berat mulai timbul dan infeksi
tersebut akan berakhir pada penyakit yang disebut AIDS.13
F. Pengobatan Pemberian anti retroviral (ARV)
Infeksi penyakit oportunistik lain yang berat dapat disembuhkan.
Penekanan terhadap replikasi virus menyebabkan penurunan produksi
sitokin dan protein virus yang dapat menstimulasi pertumbuhan. Obat
ARV terdiri

dari beberapa golongan seperti nucleoside reverse

transkriptase inhibitor, nucleotide reverse transcriptase inhibitor, non


nucleotide reverse transcriptase inhibitor dan inhibitor protease. Obat-obat
ini hanya berperan dalam menghambat replikasi virus tetapi tidak bisa
menghilangkan virus yang telah berkembang. Vaksin terhadap HIV dapat
diberikan pada individu yang tidak terinfeksi untuk mencegah baik infeksi
maupun penyakit. Dipertimbangkan pula kemungkinan pemberian vaksin
HIV terapeutik, dimana seseorang yang terinfeksi HIV akan diberi
pengobatan untuk mendorong respon imun anti HIV, menurunkan jumlah
sel-sel yang terinfeksi virus, atau menunda onset AIDS. Namun
perkembangan vaksin sulit karena HIV cepat bermutasi, tidak diekspresi

10

pada semua sel yang terinfeksi dan tidak tersingkirkan secara sempurna
oleh respon imun inang setelah infeksi primer.14
G. Pencegahan
Menurut Muninjaya (1998), tiga cara untuk pencegahan HIV/AIDS
adalah Puasa (P) seks (abstinensia), artinya tidak (menunda) melakukan
hubungan

seks,

faithful/fidelity),

Setia
artinya

(S)

pada

pasangan

seks

yang

sah

(be

tidak berganti-ganti pasangan seks, dan

penggunaan Kondom (K) pada setiap melakukan hubungan seks yang


beresiko tertular virus AIDS atau penyakit menular seksual (PMS) lainnya.
Ketiga cara tersebut sering disingkat dengan PSK. Bagi mereka yang
belum melakukan hubungan seks (remaja) perlu diberikan pendidikan.
Selain itu, paket informasi AIDS untuk remaja juga perlu dilengkapi
informasi untuk meningkatkan kewaspadaaan remaja akan berbagai bentuk
rangsangan dan rayuan yang datang dari lingkungan remaja sendiri
(Muninjaya, 1998). Mencegah lebih baik daripada mengobati karena kita
tidak dapat melakukan tindakan yang langsung kepada si penderita AIDS
karena tidak adanya obat-obatan atau vaksin yang memungkinkan
penyembuhan AIDS. Oleh karena itu kita perlu melakukan pencegahan
sejak awal sebelum terinfeksi. Informasi yang benar tentang AIDS sangat
dibutuhkan agar masyarakat tidak mendapat berita yang salah agar
penderita tidak dibebani dengan perilaku yang tidak masuk akal.15
Peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor
perilaku sehingga perilaku individu, masyarakat maupun kelompok sesuai
dengan nilai-nilai kesehatan. Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh
kepada perilaku sebagai hasil jangka menengah (intermediate impact) dari
pendidikan kesehatan. Kemudian perilaku kesehatan akan berpengaruh
pada peningkatan indikator kesehatan masyarakat sebagai keluaran
(outcome) pendidikan kesehatan (Notoadmodjo, 2007). Paket komunikasi,
informasi dan edukasi (KIE) tentang masalah AIDS adalah salah satu cara
yang perlu terus dikembangkan secara spesifik di Indonesia khususnya
kelompok masyarakat ini. Namun dalam pelaksanaannya masih belum
konsisten (Muninjaya, 1998). Upaya penanggulangan HIV/AIDS lewat

11

jalur pendidikan mempunyai arti yang sangat strategis karena besarnya


populasi remaja di jalur sekolah dan secara politis kelompok ini adalah
aset dan penerus bangsa. Salah satu kelompok sasaran remaja yang paling
mudah dijangkau adalah remaja di lingkungan sekolah (closed community)
(Muninjaya, 1998). Keimanan dan ketaqwaan yang lemah serta
tertekannya jiwa menyebabkan remaja berusaha untuk melarikan diri dari
kenyataan hidup dan ingin diterima dalam lingkungan atau kelompok
tertentu. Oleh karena itu diperlukan peningkatan keimanan dan ketaqwaan
melalui ajaran-ajaran agama. Sebagian masyarakat Indonesia menggangap
bahwa seks masih merupakan hal yang tabu. Termasuk diantaranya dalam
pembicaraan, pemberian informasi dan pendidikan seks. Akibatnya jalur
informasi yang benar dan mendidik sulit dikembangkan.
Cara-cara mengurangi resiko penularan AIDS antara lain melalui seks
aman yaitu dengan melakukan hubungan seks tanpa melakukan penetrasi
penis ke dalam vagina, anus, ataupun mulut. Bila air mani tidak masuk ke
dalam tubuh pasangan seksual maka resiko penularan akan berkurang.
Apabila ingin melakukan senggama dengan penetrasi maka seks yang
aman adalah dengan menggunakan alat pelindung berupa kondom (Yatim,
2006). Hindari berganti-ganti pasangan dimana semakin banyak jumlah
kontak seksual seseorang, lebih mungkin terjadinya infeksi. Hindari sexual
intercourse dan lakukan outercourse dimana tidak melakukan penetrasi.
Jenis-jenis outercourse termaksuk masase, saling rangkul, raba, dan saling
bersentuhan tubuh tanpa kontak vaginal, anal, atau oral (Hutapea, 1995).
Bagi pengguna obat-obat terlarang dengan memakai suntik, resiko
penularan akan meningkat. Oleh karena itu perlu mendapat pengetahuan
mengenai beberapa tindakan pencegahan. Pusat rehabilitasi obat dapat
dimanfaatkan untuk menghentikan penggunaan obat tersebut. Bagi petugas
kesehatan, alat-alat yang dianjurkan untuk digunakan sebagai pencegah
antara lain sarung tangan, baju pelindung, jas laboratorium, pelindung
muka atau masker, dan pelindung mata. Pilihan alat tersebut sesuai dengan
kebutuhan aktivitas pekerjaan yang dilakukan tenaga kesehatan.

12

Bagi seorang ibu yang terinfeksi AIDS bisa menularkan virus tersebut
kepada bayinya ketika masih dalam kandungan, melahirkan atau
menyusui. ASI juga dapat menularkan HIV, tetapi bila wanita sudah
terinfeksi HIV pada saat mengandung maka ada kemungkinan si bayi lahir
sudah terinfeksi HIV. Maka dianjurkan agar seorang ibu tetap menyusui
anaknya sekalipun HIV +. Bayi yang tidak diberi ASI beresiko lebih besar
tertular penyakit lain atau menjadi kurang gizi .Bila ibu yang menderita
HIV tersebut mendapat pengobatan selama hamil maka dapat mengurangi
penularan kepada bayinya sebesar 2/3 daripada yang tidak mendapat
pengobatan.16
H. Sikap Masyarakat terhadap Penderita HIV/AIDS
Mengingat HIV/AIDS sering diasosiasikan dengan seks, penggunaan
narkoba dan kematian, banyak orang yang tidak peduli, tidak menerima,
dan takut terhadap penyakit ini di hampir seluruh lapisan masyarakat.
Stigma sering kali menyebabkan terjadinya diskriminasi dan akan
mendorong munculnya pelanggaran HAM bagi ODHA (Orang Dengan
HIV/AIDS) dan keluarganya. Diskriminasi terjadi ketika pandanganpandangan negatif mendorong orang atau lembaga untuk memperlakukan
seseorang secara tidak adil yang didasarkan pada prasangka mereka akan
status HIV seseorang. Contoh-contoh diskriminasi meliputi para staf
rumah sakit atau penjara yang menolak memberikan pelayanan kesehatan
kepada ODHA; atasan yang memberhentikan pegawainya berdasarkan
status atau prasangka akan status HIV mereka; atau keluarga/masyarakat
yang menolak mereka yang hidup, atau dipercayai hidup, dengan
HIV/AIDS. Tindakan diskriminasi semacam itu adalah sebuah bentuk
pelanggaran hak asasi manusia.17
2.2 Definisi Konseling dalam Voluntary Counseling and Testing (VCT)
A. Definisi
Konseling dalam VCT adalah kegiatan konseling yang menyediakan
dukungan psikologis, informasi dan pengetahuan HIV/AIDS, mencegah
penularan

HIV,

mempromosikan

perubahan

perilaku

yang

13

bertanggungjawab, pengobatan antiretroviral (ARV) dan memastikan


pemecahan berbagai masalah terkait dengan HIV/AIDS yang bertujuan
untuk perubahan perilaku ke arah perilaku lebih sehat dan lebih aman.18
Prinsip Layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) VCT
merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat dan sebagai pintu
masuk ke seluruh layanan kesehatan HIV/AIDS berkelanjutan yang
berdasarkan prinsip:
- Sukarela dalam melaksanakan testing HIV Pemeriksaan HIV hanya
dilaksanakan atas dasar kerelaan klien tanpa paksaan dan tanpa
tekanan. Keputusan untuk melakukan pemeriksaan terletak ditangan
klien. Testing dalam VCT bersifat sukarela sehingga tidak
direkomendasikan untuk testing wajib pada pasangan yang akan
menikah, pekerja seksual,Injecting Drug User (IDU), rekrutmen
pegawai/tenaga kerja Indonesia dan asuransi kesehatan.
- Saling mempercayai dan terjaminnya konfidensialitas. Layanan harus
bersifat profesional, menghargai hak dan martabat semua klien.
Semua informasi yang disampaikan klien harus dijaga kerahasiaannya
oleh

konselor

dan

petugas

kesehatan,

tidak

diperkenankan

didiskusikan diluar konteks kunjungan klien. Semua informasi tertulis


harus disimpan dalam tempat yang tidak dapat dijangkau oleh mereka
yang tidak berhak. Untuk penanganan kasus klien selanjutnya dengan
seijin klien maka informasi kasus dari diri klien dapat diketahui.
- Mempertahankan hubungan relasi konselor dan klien yang efektif
Konselor mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing
dan mengikuti pertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi
prilaku beresiko. Dalam VCT dibicarakan juga respon dan perasaan
klien dalam menerima hasil testing dan tahapan penerimaan hasil
testing positif.
- Testing merupakan salah satu komponen dari VCT. WHO dan
Departemen Kesehatan RI telah memberikan pedoman yang dapat
digunakan untuk melakukan testing HIV. Penerimaan hasil testing

14

senantiasa diikuti oleh konseling pasca testing oleh konselor yang


sama atau konselor lain yang disetujui oleh klien.
B. Model Layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT)
Pelayanan VCT dapat dikembangkan diberbagai layanan terkait yang
dibutuhkan, misalnya klinik Infeksi Menular Seksual (IMS), klinik
Tuberkulosa (TB), Klinik Tumbuh Kembang Anak dan sebagainya. Lokasi
layanan VCT hendaknya perlu petunjuk atau tanda yang jelas hingga
mudah diakses dan mudah diketahui oleh klien VCT. Namun klinik cukup
mudah dimengerti sesuai dengan etika dan budaya setempat dimana
pemberian nama tidak mengundang stigma dan diskriminasi.
Model layanan VCT terdiri atas :
- Mobile VCT (Penjangkauan dan keliling) Mobile VCT adalah
model layanan dengan penjangkauan dan keliling yan dapat
dilaksanakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau
layanan kesehatan yang langsung mengunjungi sasaran kelompok
masyarakat yang memiliki perilaku berisiko atau berisiko tertular
HIV/AIDS di wilayah tertentu. Layanan ini diawali dengan survei
atau penelitian atas kelompok masyarakat di wilayah tersebut dan
survei tentang layanan kesehatan dan layanan dukungan lainnya di
daerah setempat.
- Statis VCT (Klinik VCT tetap) Statis VCT adalah sifatnya
terintegrasi dalam sarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya,
artinya bertempat dan menjadi bagian dari layanan kesehatan yang
telah ada. Sarana kesehatan dan sarana kesehatan lainnya harus
memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat akan VCT,
layanan pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan terkait
dengan HIV/AIDS
C. Tahapan Layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT)
1. Pre-test counseling
Pre-test counseling adalah diskusi antara klien dan konselor yang
bertujuan untuk menyiapkan klien untuk testing, memberikan
pengetahuan pada klien tentang HIV/AIDS. Isi diskusi yang

15

disampaikan adalah klarifikasi pengetahuan klien tentang HIV/AIDS,


menyampaikan prosedur tes dan pengelolaan diri setelah menerima
hasil tes, menyiapkan klien menghadapi hari depan, membantu klien
memutuskan akan tes atau tidak, mempersiapkan informed consent dan
konseling seks yang aman.
Pada beberapa setting (misalnya penyuluhan kesehatan secara
umum) Konselor memberikan penyuluhan informasi umum tentang
HIV/AIDS, VCT dan Mother to child transmission (MTCT) Di
masyarakat Klien menerima informasi dan memutuskan untuk pergi ke
klinik VCT Di klinik VCT Klien diberi informasi mengenai prosedur
termasuk pilihan untuk menunggu selama 2 jam dan menerima hasil tes
pada hari yang sama Klien diajak berdiskusi mengenai keyakinan
menjalani tes Klien menerima informasi tentang HIV/AIDS Adanya
biaya yang dikeluarkan Klien terdaftar tanpa nama/rahasia.
Jika klien banyak, konselor melakukan pre tes secara berkelompok
bagi yang membutuhkan VCT. Syarat untuk pre-tes kelompok:
- Pernyataan kesediaan untuk menjalani tes kelompok.
- Kerahasiaan terjaga.
- Tidak lebih dari 6 orang per kelompok.
- Bila mungkin, anggota kelompok pada usia dan jenis kelamin yang
sama.
- Diberikan informasi pre-tes yang sama seperti konseling pada
individu.
- Melengkapi data VCT pada setiap anggota kelompok.
- Mendapatkan inform consent jika klien memutuskan untuk
melakukan tes HIV.
- Melakukan pengambilan darah selama proses pemeriksaan sampel
dilakukan diskusi dan demonstrasi penggunaan kondom.
- Melakukan penilaian tentang kesiapan klien mengetahui status
HIV.
- Rencana klien setelah mengetahui status HIV.
- Hambatan untuk mengubah perilaku.

16

- Rencana dan cara mengatasi jika klien HIV positif.


- Dukungan dari keluarga dan teman.
Jika klien sedikit, konselor melakukan pre tes secara individu bagi
yang membutuhkan VCT. Syarat untuk pre-tes:
- Informasi dasar mengenai infeksi HIV dan AIDS.
- Arti tes HIV termasuk window period.
- Prosedur tes dan kebijakan dalam menyampaikan hasil tes.
- Pre-test counseling termasuk penilaian resiko individu dan rencana
pengurangan resiko.
- Formulir VCT.
- HIV testing.
Pada umumnya, tes HIV dilakukan dengan cara mendeteksi
antibodi dalam darah seseorang. Jika HIV telah memasuki tubuh
seseorang, maka di dalam darah akan terbentuk protein khusus yang
disebut antibodi. Antibodi adalah suatu zat yang dihasilkan sistem
kekebalan tubuh manusia sebagai reaksi untuk membendung serangan
bibit penyakit yang masuk. Pada umumnya antibodi terbentuk di dalam
darah seseorang memerlukan waktu 6 minggu sampai 3 bulan tetapi ada
juga sampai 6 bulan bahkan lebih. Jika seseorang memiliki antibodi
terhadap HIV di dalam darahnya, hal ini berarti orang itu telah
terinfeksi HIV.19
Tes HIV yang umumnya digunakan adalah Enzyme Linked
Immunosorbent Assay (ELISA), Rapid Test dan Western Immunoblot
Test. Setiap tes HIV ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang
berbeda. Sensitivitas adalah kemampuan tes untuk mendeteksi adanya
antibodi HIV dalam darah sedangkan spesifisitas adalah kemampuan tes
untuk mendeteksi antibodi protein HIV yang sangat spesifik.
- Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Tes ini digunakan untuk mendeteksi antibodi yang dibuat tubuh
terhadap virus HIV. Tes ELISA ini dapat dilakukan dengan sampel
darah vena, air liur, atau air kencing. Hasil positif pada ELISA
belum dapat dipastikan bahwa orang yang diperiksa telah terinfeksi

17

HIV karena tes ini mempunyai sensitivitas tinggi tetapi spesifisitas


rendah. Oleh karena itu masih diperlukan tes pemeriksaan lain
untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan ELISA ini. Jadi walaupun
ELISA menunjukkan hasil positif, masih ada dua kemungkinan,
orang tersebut sebenarnya tidak terinfeksi HIV atau betul-betul
telah terinfeksi HIV.
- Rapid Test
Penggunaan dengan metode rapid test memungkinkan klien
mendapatkan hasil tes pada hari yang sama dimana pemeriksaan tes
hanya membutuhkan waktu 10 menit. Metode pemeriksaan dengan
menggunakan sampel darah jari dan air liur. Tes ini mempunyai
sensitivitas tinggi (mendekati 100%) dan spesifisitas (>99%). Hasil
positif pada tes ini belum dapat dipastikan apakah dia terinfeksi
HIV. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaan tes lain untuk
mengkonfirmasi hasil tes ini.
- Western Immunoblot Test
Sama halnya dengan ELISA, Western Blot juga mendeteksi
antibodi terhadap HIV. Western blot digunakan sebagai tes
konfirmasi untuk tes HIV lainnya karena mempunyai spesifisitas
yang lebih tinggi untuk memastikan apakah terinfeksi HIV atau
tidak.
2. Post-test counseling
Post-test counseling adalah diskusi antara konselor dengan klien
yang bertujuan menyampaikan hasil tes HIV klien, membantu klien
beradaptasi dengan hasil tes, menyampaikan hasil secara jelas, menilai
pemahaman mental emosional klien, membuat rencana dengan
menyertakan orang lain yang bermakna dalam kehidupan klien,
menjawab, menyusun rencana tentang kehidupan yang mesti dijalani
dengan menurunkan perilaku berisiko dan perawatan, dan membuat
perencanaan dukungan. Menyampaikan hasil tes memberikan hasil tes
dengan situasi yang tenang dalam ruangan yang tertutup menyampaikan
hasil pada klien sesegera mungkin memberikan kesempatan pada klien

18

untuk mengekspresikan perasaannya tentang hasil tes dan lainnya


memberikan waktu pada klien untuk bertanya menawarkan konseling
individu atau konseling bersama pasangan tergantung pada keinginan
klien. Atas permintaan klien, anggota keluarga, teman atau orang yang
diminta klien diizinkan masuk ke ruangan pada saat hasil diberikan.
Untuk hasil tes HIV positif:
- Memberikan konseling untuk hidup positif, yaitu: menjaga
sikap positif menghindari paparan tambahan terhadap virus
HIV dan infeksi menular seks (IMS) lain.
- Memberikan rujukan pelayanan medis.
- Menjaga berat badan dengan makanan yang bergizi dan
menghindari diare.
- Bergabung dengan kelompok Orang dengan HIV/AIDS
(ODHA) dan kelompok dukungan sosial lainnya.
Untuk hasil tes HIV negatif:
- Menyarankan kepada klien yang mempunyai perilaku beresiko
untuk kembali melakukan VCT sesudah 3 bulan, karena
mereka mungkin sekarang sedang berada dalam periode
jendela.
- Menyarankan pada klien yang berada pada window period
untuk mengurangi perilaku beresiko.
Klien dengan hasil tes HIV negatif dan tidak memiliki
kemungkinan terpapar HIV, tidak perlu melakukan confimatory testing.
Untuk hasil tes positif dan negatif:
- Mendorong klien untuk memberitahu hasil tes kepada
pasangannya (mengetahui hasil tes bersama adalah cara yang
paling baik).
- Memberikan pendidikan dan konseling mengenai keluarga
berencana.
- Memberikan pendidikan dan demonstrasi pemakaian kondom
dan menyediakan kondom bagi klien yang ingin memakai

19

kondom (dengan tidak memaksa klien). Memberikan informasi


konseling dan dukungan tambahan.
- Memberikan rujukan sesuai dengan keinginan klien.
Layanan VCT adalah suatu prosedur diskusi pembelajaran antara
konselor dan klien untuk memahami HIV/AIDS beserta resiko dan
konsekuensi terhadap diri, pasangan, keluarga dan orang di sekitarnya
dengan tujuan utama adalah perubahan perilaku ke arah perilaku yang
lebih sehat dan lebih aman (Pedoman Pelayanan VCT, 2006). Dari
definisi

diatas

dapat

disimpulkan

bahwa

individu

dikatakan

memanfaatkan layanan VCT jika dia tahu informasi mengenai layanan


VCT dan mau menggunakan layanan VCT untuk tujuan yang
bermanfaat. Dengan demikian pemanfaatan layanan VCT adalah sejauh
mana orang yang pernah melakukan perilaku beresiko tinggi tertular
HIV/AIDS merasa perlu menggunakan layanan VCT untuk mengatasi
masalah kesehatannya, untuk mengurangi perilaku beresiko dan
merencanakan perubahan perilaku sehat.20

BAB III
PROGRAM VCT GRIYA ASA

3.1 Profil Singkat Griya ASA


Dewasa ini, penyakit HIV/AIDS semakin merebak di masyarakat. Seiring
dengan perkembangan global, penyakit HIV/AIDS mengalami

tren

peningkatan dari tahun ke tahun. Pemerintah sebagai penyelenggara upaya


kesehatan masyarakat terus berusaha mencegah dan memutus mata rantai
penyakit HIV/AIDS, salah satu wujud upaya tersebut adalah Aksi Stop AIDS
(ASA). Upaya ini digagas oleh pemerintah dan dunia dengan tujuan untuk
mencegah dan memberantas penyakit HIV/AIDS yang semakin marak di
masyarakat. ASA PKBI Jawa Tengah sebagai kelompok relawan peduli
AIDS, narkoba dan IMS yang bernaung dibawah PKBI Daerah Jawa Tengah
yang diresmikan pada tanggal 16 Maret 1998, diinisiasi oleh makin
meningkatnya jumlah kasus HIV-AIDS, narkoba dan infeksi menular seksual
di Jawa Tengah.8
Tujuan dari program ini adalah memberikan informasi tentang bahaya
HIV/AIDS dan infeksi menular seksual dan upaya pencegahannya kepada
WPS dan pelanggan, melalui pendekatan pendampingan (outreach). Sebagai
pelaksana pendampingan adalah para relawan Griya ASA PKBI Jawa Tengah.
Dalam rangka memberikan pelayanan secara komprehensif, PKBI Kota
Semarang mendirikan klinik IMS bagi WPS dan pelanggannya di Sunan
Kuning dan non resosialisasi sekaligus pelanggan WPS.
Program pencegahan HIV/AIDS yang menyasar pada pekerja seks
menjadisalah satu Aksi Stop AIDS (ASA) yang digalakkan oleh PKBI Jawa
Tengah. Pada tanggal 10 Januari 2002 Aksi Stop AIDS (ASA) PKBI Jawa
Tengah membagi pusat pelayanannya menjadi dua, yaitu Griya ASA yang
berkantor di resosialisasi Sunan Kuning Semarang, dan ASA TDH di Jalan
Argorejo 10 No.5 Kelurahan Kalibanteng Kulon. Griya ASA mendapat
kepercayaan untuk melakukan program ASA di resosialisasi Sunan Kuning,
dalam memutus mata rantai penyakit HIV/AIDS dari kelompok risiko tinggi
19

20

(pekerja seks) griya ASA bekerjasama dengan pihak resosialisasi Sunan


Kuning.
Griya ASA PKBI Kota Semarang merupakan suatu program dari
Lembaga Swadaya Mayarakat (LSM) PKBI Kota Semarang yang bergerak di
bidang Keluarga Berencana (KB), Pencegahan Infeksi Menular Seksual
(IMS), dan HIV/AIDS di Kota Semarang. PKBI Semarang telah
mendampingi wanita yang dikategorikan kelompok resiko tinggi di wilayah
Kota Semarang. Adapun tujuannya adalah membantu Pemerintah dalam
program KB, pencegahan penularan IMS dan HIV/AIDS yang setiap tahun
jumlahnya semakin meningkat.
Beberapa program yang diprakarsai oleh Griya ASA :
1) VCT (Voluntary Counseling Test)
2) PMTCT (Prevention Mother to Child Transmition)
3) Outreach (Pendampingan)
4) Screening infeksi menular seksual
5) Dapat juga mengakses materi-materi kesehatan tentang kesehatan
reproduksi, gender, HIV/AIDS, berbagai hal tentang infeksi menular
seksual dan kegiatan-kegiatan program di lingkungan PKBI
Semarang

di

blog

internet

Griya

ASA

dengan

alamat

Griyaasa.blogspot.com.
3.2 Kegiatan
1) Mobile VCT
Pelayanan VCT yang bersifat mobile, sasarannya adalah kelompok
risiko tinggi HIV/AIDS di suatu wilayah tertentu. Tes VCT dilakukan pada
daerah tersebut, tidak dilakukan di dalam gedung Griya ASA.
2) Statis VCT
Pusat Tes dan konseling HIV/AIDS secara sukarela yang terintegrasi
denganpusat pelayanan kesehatan (Rumah Sakit) dan pusat pelayanan
kesehatan lainnya (Puskesmas, Klinik Pratama, Klinik KIA dan KB, terapi
Tuberkulosis, LSM), yang artinya bertempat dan menjadi bagian dari
layanan kesehatan yang ada.

21

3) CST (Care, Support, Treatment)


CST merupakan perawatan, dukungan dan pengobatan untuk ODHA.
Pelayanan CST dilakukan oleh rumah sakit yang berkompeten. Di
Semarang ada beberapa rumah sakit yang berkompeten seperti RS
Dr.Karyadi, RS Tugurejo, RSUD Semarang, RSPWC. Pelayanan CST
berperan untuk menyelenggrakan kebutuhan ODHA yang terdiri dari
kebutuhan biopsikososial biologis, psikologis dan sosial. Care atau
perawatan (akut, kronis, dan paliatif yang biasanya dilakukan oleh
perawat), Support atau dukungan (psikologis, sosial,ekonomi, spiritual,
hukum yang biasanya dilakukan oleh konselor, MK, buddies) dan
Treatment atau Perawatan (infeksi oportunistik, penyakit terkait HIV, ARV
yang biasanya dilakukan oleh dokter umum, spesialis).
Layanan VCT-CST di Griya ASA PKBI Kota Semarang dimulai pada
bulan November 2006. Layanan VCT ini dibuka untuk melengkapi
fasilitas Griya ASA sebagai klinik spesialis dalam pelayanan infeksi
menular seksual. Sedangkan CST (Care, Support and Treatment)
merupakan perawatan dukungan dan pengobatan untuk ODHA. Pelayanan
ini dilakukan oleh Rumah Sakit yang berkompeten juga lembaga-lembaga
seperti LSM.
Seseorang untuk melakukan VCT-CST harus melaluinya sesuai
prosedur, sehingga dapat terlaksana VCT-CST yang efisien. Oleh karena
itu dibutuhkan alur VCT-CST untuk mempermudah dalam pelaksanaan
program tersebut.

22

Standar Prosedur Operasional VCT dan Informed Consent


Konseling Pre-Test VCT
a. Membangun kepercayaan klien pada konselor
1) Konseling Pre-Test VCT
b. Menjelaskan proses VCT
c. Menjelaskan tentang HIV/AIDS, pencegahan dan pengobatannya
d. Mencari tahu tingkat pengetahuan klien mengenai HIV dan AIDS

Konseling Test VCT


a. Menilai perilaku berisiko yang dapat menjadi sarana penularan
HIV
b. Menjelaskan keuntungan melakukan tes HIV & kerugian jika
menolak atau menunda
c. Menjelaskan makna hasil testing HIV positif atau negatif
d. Memberikan penjelasan mengenai dampak pribadi, keluarga, dan
sosial terhadap hasil testing HIV
e. Mendiskusikan kemungkinan tindak lanjut setelah ada hasil tes
2) (rencana
Konselingperubahan
Test VCTperilaku)
f. Testing serologis untuk mendeteksi antibody HIV dalam serum
atau plasma
g. Metode rapid testing atau testing cepat

Konseling Post test


Hasil Test (-)

Hasil Test (+)

Menegaskan

kembali

cara

penularan

dan

pencegahan HIV/AIDS.

Membantu merencanakan perubahan perilaku


yang lebih sehat dan aman.

Memberi

dukungan

untuk mempertahankan

perilaku yang lebih sehat.

Sampaikan hasil tes dengan hati-hati.

Membuka waktu untuk diskusi.

Bantu adaptasi dengan situasi.

Buat rencana tepat dan rasional.

Konseling

Anjuran untuk melakukan VCT kembali 3 bulan


berikutnya.

berkelanjutan

melibatkan

kelurga,

teman, dan lingkungan.

Dorongan untuk mengurangi penularan, motivasi


untuk menurunkan risiko penularan.

Kenali sumber dukungan lain, termasuk layanan


medik RS dan perawatan rumah.

Merujuk pada manajer kasus.

23

Hal yang perlu disampaikan dari hasil testing HIV adalah :


1) Tanda Non reaktif berarti HIV belum ada di dalam tubuh
2) Tanda reaktif berarti HIV sudah ada pada tubuh
3) Indeterminate berarti perlu adanya pengulangan tes HIV karena
hasil tes HIV tidak jelas
4) Masa jendela berarti masa inkubasi HIV yaitu masa antara
masuknya

virus HIV ke dalam tubuh manusia sampai

terbentuknya antibody terhadap HIV atau disebut HIV positif


(umumnya 2 minggu 6 bulan).
Penyampaian hasil testing negatif dan positif, meliputi9:
1) Memberikan waktu bagi klien untuk memahami hasil tes dan
bereaksi.
2) Mendampingi klien dalam mengendalikan reaksi emosional.
3) Menjelaskan makna reaktif atau nonreaktif .
4) Menjelaskan kembali cara pencegahan dan penularan HIV/AIDS,
terlepas hasil tes negatif/positif .
5) Memberikan dukungan yang sesuai .
6) Membuat rencana lebih lanjut .
7) Membahas tindak lanjut medis dan strategi perubahan perilaku.
Contoh Informed consent standar :
1. Apa yang dimaksud dengan tes antibodi HIV?
Tes antibodi HIV dilakukan dengan pengambilan darah. Tes ini
akan menunjukkan apakah seseorang memiliki antibodi terhadap
HIV (virus yang menyebabkan AIDS). Sampel darah diambil dari
lengan. Jika tes pertama (skrining) menunjukkan reaksi positif, tes
selanjutnya akan dilakukan untuk memastikan tes pertama benarbenar positif (konfirmasi). Tes antibodi positif ada terinfeksi HIV,
tes yang negatif berarti anda kemungkinan tidak terinfeksi, karena
tubuh memerlukan waktu untuk memproduksi antibodi. Jadi, jika
anda telah terpapar virus HIV baru-baru ini, anda harus
melakukan tes ulang setelah 3-6 bulan untuk memastikan anda
tidak terinfeksi.
2. Apakah manfaat untuk melakukan tes

24

Jika anda hasil tesnya negatif: Anda dapat mengetahui


bagaimana cara memproteksi diri anda agar tidak terinfeksi
dengan cara mempraktikkan seks yang aman (contohnya

penggunaan kondom, tidak berganti-ganti pasangan)


Jika anda hasil tesnya positif : Anda dapat mengetahui
bagaimana mencegah penularan virus ke orang lain seperti
partner anda atau janin serta bagaimana memelihara kondisi
kesehatan anda. Anda juga dapat mengetahui pentingnya
mengunjungi

tenaga

kesehatan

untuk

mendapatkan

pelayanan.
3. Tes HIV secara sukarela
Tes antibodi HIV ini bersifat sukarela. Jika anda tidak berkenan
untuk melakukan tes, anda berhak untuk menolak. Jika anda
berkenan untuk dites tapi tidak ingin identitas anda diketahui,
dapat digunakan kode sebagai identitas.
4. Kerahasiaan hasil tes
Hasil tes anda bersifat rahasia. Hasil ini hanya

akan

diinformasikan kepada anda secaara personal atau kepada orang


lain yang telah anda beri wewenang untuk mengetahui hasilnya.
Pertanyaan saya mengenai tes HIV ini telah terjawab. Oleh karena itu
saya bersedia untuk dites antibodi HIV
Tanggal

Nama/Kode

Umur

Jenis Kelamin

Alamat

(tanda tangan)
Untuk konselornya saya telah menjelaskan tentang tes antibodi HIV
ini, bagaimana tes dikerjakan, arti hasilnya dan kemungkinan konsekuensi
hasilnya
Tanggal :
Nama :

25

Institusi :
(tanda tangan)
3.3 Pengamatan Pelaksanaan VCT
Mahasiswa melakukan pengamatan pelaksanaan VCT pada hari Kamis,
28 Mei 2013 pukul 10.00-12.00 WIB di balai pertemuan warga resosialisasi.
Pengamatan dilakukan terhadap 2 klien yaitu Nn.S dan Nn. N dengan alur
pemeriksaan sebagai berikut:
Administasi :
Pendaftaran
Pembayaran

Konseling Pre Test


Informasi HIV/AIDS
Informed consent

Konseling Test
Pengambilan darah

Hasil

Laboratorium

Konseling Post Test


Informasi hasil
Konseling hasil test

Negatif

Periksa ulang 3 bulan


kemudian

Positif

Analisa kesiapan pasien


Manajemen reaksi emosi dan dukungan
reaksi psikologis
Perencanaan dukungan dan perawatan
Info layanan klinik, KDS, MK, ARV
Rencana penurunan resiko
Rujukan konseling, MK, KDS, layanan
kesehatan, PL, PMTCT

Dari hasil tes yang dilakukan diperoleh hasil bahwa 2 klien negatif atau
tidak reaktif. Dari pengakuan keduanya baru bekerja di Sunan Kuning kurang
dari 6 bulan, dan hasil pemeriksaan VCT belum pernah reaktif dan belum
pernah diinstruksikan minum obat untuk pengobatan IMS.

26

Intervensi dari klinik VCT adalah dengan mengirimkan data WPS yang
sudah melaksanakan VCT setiap bulan kepada resosialisasi untuk
ditindaklanjuti.
3.4 Pencegahan HIV di Sunan Kuning Dengan VCT
Salah satu upaya pencegahan penyakit HIV/AIDS di resosialisasi Sunan
Kuning adalah diwajibkannya seluruh WPS yang ada di Sunan Kuning untuk
mengikuti VCT. Dari pihak resosialisasi sendiri mewajibkan setiap WPS
untuk menjalani VCT secara rutin setiap 3 bulan sekali untuk menyaring
kemungkinan terjadinya HIV/AIDS mengingat para WPS ini termasuk ke
dalam kelompok risiko tinggi, jika ditilik dari perilaku yang cenderung
membuka akses bagi transmisi penyakit HIV/AIDS. Komitmen tinggi untuk
mencegah dan memutus transmisi penyakit ditunjukkan oleh pengurus
resosialisasi dengan memberlakukan sanksi tegas bagi WPS yang tidak
bersedia untuk melakukan VCT, jika individu menjadi seorang WPS yang
baru terdaftar dan tidak bersedia untuk melakukan tes VCT pertama maka
tidak akan diijinkan untuk membuka jasa pelayanan di wilayah resosialisasi
Sunan Kuning. Bagi WPS yang sudah terdaftar dan aktif di resosialisasi dan
menolak untuk melakukan VCT rutin lanjutan, dari pengurus resosialisasi
dengan tegas akan menindak pelanggaran ini, yaitu dengan memulangkan
WPS ke tempat asalnya.
Hingga saat ini, tes VCT dinilai masih efektif untuk mencegah transmisi
penyakit HIV/AIDS di resosialisasi Sunan Kuning. Hal ini dikarenakan
komitmen tinggi dari pengurus untuk dapat memutus mata rantai penyakit
HIV/AIDS sehingga seluruh WPS yang diwajibkan tes setelah diketahui
hasilnya maka akan dilakukan evaluasi, untuk pemberian ijin tetap
menyediakan jasa layanan di lokasi resosialisasi. Dan bagi WPS yang hasil
tesnya dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS maka akan dipulangkan
supaya tidak menyebarkan virus HIV kepada para pelanggan yang tidak
mengetahui status HIV sang WPS. Tes VCT diwajibkan bagi seluruh WPS
dan tidak dipungut biaya.

27

3.5 Pengelolaan Kesediaan WPS untuk VCT


Pada prinsipnya VCT adalah sebuah tes yang dilakukan dengan sukarela
dan tidak ada paksaan, tetapi di resosialisasi Sunan Kuning mewajibkan
seluruh WPS untuk melakukan VCT rutin setiap bulan. Untuk meningkatkan
kepatuhan dari para WPS maka pihak resosialisasi membebaskan VCT dari
biaya apapun, sehingga diharapkan para WPS tidak keberatan untuk
melakukan pemeriksaan VCT secara rutin. Selain dibebaskan dari biaya,
bentuk sanksi tegas dari pengurus resosialisasi yang akan memulangkan WPS
yang tidak bersedia melakukan pemeriksaan VCT.
3.6 Isolasi WPS dengan HIV Positif
Dari tes VCT yang rutin dilakukan setiap 3 bulan bagi para WPS di
resosialisasi Sunan Kuning, akan diketahui WPS dengan status HIV positif.
Menindaklanjuti temuan WPS dengan status HIV positif ini, pihak pengurus
resosialisasi memberlakukan sanksi tegas yaitu memulangkan WPS ke tempat
asal. Pengurus resosialisasi tidak ingin WPS dengan HIV ini akan
menyebarkan penyakit ke para pengunjung. Hal ini disebabkan karena
walaupun dalam memberikan pelayanan menggunakan kondom, tidak akan
membawa dampak signifikan karena pertukaran cairan tubuh antara WPS
dengan pelanggan masih dimungkinkan dapat terjadi.
Untuk menghindari stigma negatif dari lingkungan, maka pihak
resosialisasi merahasiakan tentang siapa saja WPS yang positif mengidap
HIV. Yang mengetahui status positif HIV hanyalah manajer kasus di Griya
ASA. Selain itu, sebelum melakukan pemulangan WPS ke tempat asal, WPS
tersebut terlebih dahulu diberikan konseling dan pembekalan keterampilan
sebagai modal jika nanti dipulangkan ke tempat asal.
3.7 Pencegahan Kecacatan Kematian pada ODHA di Griya ASA
VCT merupakan langkah pertama menuju pengobatan dan pencegahan
kecacatan dari ODHA. Klinik Griya ASA Sunan Kuning melakukan VCT
dengan target jangkauan adalah semua WPS pada Januari sampai dengan
Maret pertama kali. Apabila pada pemeriksaan didapatkan hasil berupa HIV

28

reaktif, dilakukan CST (care, support, and treatment). Termasuk dalam


program CST ini adalah isolasi kasus, mencegah kecacatan, dan mencegah
kematian dengan pemakaian kondom 100%, pengobatan ARV yang rutin,
mendeteksi adanya infeksi oportunistik, mencegah terjadinya dropout ARV,
serta merujuk apabila terjadi komplikasi. WPS dalam program VCT-CST
hendaknya juga melakukan kontrol rutin sesuai dengan jadwal.
Bagi WPS yang terjangkit HIV kemudian dipulangkan, disarankan untuk
kontrol teratur ke Puskesmas di wilayah tempat tinggalnya dan apabila ingin
kembali ke resosialisasi diwajibkan untuk membawa surat dari Puskesmas
yang menyatakan bahwa dirinya dalam kondisi stabil.
3.8 Waktu Pemeriksaan CD4 WPS dengan HIV Positif
Dalam melakukan terapi WPS dengan HIV positif, CD4 akan diperiksa
secara rutin untuk mengetahui dan menilai efek serta kinerja dari obat anti
retroviral yang diberikan kepada pasien. Pemeriksaan CD4 ini akan rutin
dilakukan setiap 6 bulan sekali bersamaan dengan terapi yang dijalani oleh
pasien. Pemeriksaan ini dilakukan di rumah sakit rujukan, dan dilakukan
apabila penerima terapi dalam keadaan sehat (tanpa adanya komplikasi
penyerta akibat HIV) maupun sakit (dengan komplikasi penyerta akibat HIV).
Untuk melihat adanya resistensi obat, akan dilihat efek kerja dari
antiretroviral yang diberikan, apabila tidak ada keluhan (infeksi oportunistik)
dan patuh minum obat maka pengobatan dapat dikatakan berjalan dengan
baik dan tidak mengalami resistensi. Diharapkan dengan pemberian terapi
antiretroviral CD4 pasien mengalami peningkatan rata-rata 100-200 sel/mm 3
selama setahun pertama terapi.
3.9 Kelompok Dampingan Sebaya ODHA
Salah satu kegiatan yang digiatkan Griya ASA dalam rangka menunjang
keberhasilan terapi ODHA adalah dengan pembentukan kelompok dampingan
sebaya. Kelompok ini dibentuk dengan tujuan agar sesama penderita ODHA
dapat saling berbagi dan mendapatkan informasi tentang HIV yang mereka
derita. Sebagai peer educator, ditujuk dua orang setiap gang. Untuk jadwal

29

pertemuan tidak ada hari khusus, hanya jika akan diadakan pertemuan maka
pendamping akan menyebarkan undangan melalui pesan singkat kepada
anggota.
Pembentukan kelompok dampingan sebaya dibentuk dengan jalan
mengumpulkan para WPS penderita HIV positif tiap satu bulan sekali di
Griya ASA dimana pada kesempatan tersebut para anggota akan diberikan
materi tentang HIV dan cara pencegahan penularan, pemberian motivasi agar
minum obat teratur dan selalu menjaga hidup sehat, pemberian keterampilan
agar ODHA dapat hidup produktif.

BAB IV
KASUS DAN PEMBAHASAN

Klien I
Identitas Klien
Nama

: Nn. B

Usia

: 20 tahun

Alamat

: Sexy house, Sunan Kuning gang V

Alamat Asal

: Purwokerto

Status

: Belum menikah

Jumlah Anak

:-

Lama Bekerja

: 2 minggu

Pendidikan terakhir

: SMA

Agama

: Islam

Alasan bekerja di Sunan Kuning : Masalah ekonomi


Permasalahan
Nn. B, berusia 20 tahun, berasal dari Purwokerto. Nn. B bekerja di
resosialisasi SK baru selama 2 minggu dengan alasan keadaan ekonomi. Klien
mengaku bekerja sebagai pemandu karaoke dan tidak melayani tamu untuk
berhubungan seksual.
Klien mengaku sudah pernah berhubungan seksual secara pervaginal dengan
pacar sebanyak 3 kali, terakhir 7 bulan yang lalu. Saat berhubungan seksual
dengan pacar, klien tidak menggunakan kondom. Klien sesekali merokok
terutama saat menemani tamu. Namun, klien tidak pernah mengkonsumsi
minuman keras dan narkoba.
Klien mendapat informasi tentang VCT dari salah satu petugas resosialisasi
Sunan Kuning dan juga dari pengasuhnya. Klien baru pertama kali melakukan
VCT karena diwajibkan oleh resos.
Pemecahan Masalah
Masalah yang dialami oleh klien adalah berhubungan seksual tanpa
menggunakan kondom. Solusi yang disarankan adalah klien sebaiknya
28

29

menggunakan kondom saat berhubungan seksual dengan pacar. Hal ini


dikarenakan, adanya kemungkinan bahwa pacar klien termasuk lelaki berisiko
tinggi.
Solusi kedua adalah klien harus berkomitmen untuk tidak melayani tamu
yang meminta berhubungan seksual sehingga klien terhindar dari IMS dan
HIV/AIDS.
Solusi ketiga, dilakukan edukasi pada klien mengenai pentingnya penggunaan
kondom pada saat berhubungan seksual, penjelasan mengenai IMS, dan
HIV/AIDS.
Solusi keempat, klien diharapkan untuk rutin melakukan pemeriksaan VCT
setiap 3 bulan sekali dan skrining IMS setiap 2 minggu sekali agar penyakit IMS
dan HIV/AIDS bisa terdeteksi lebih dini. Maka dari itu KIE mengenai HIV/AIDS
wajib diberikan kepada klien.
Klien II
Identitas Klien
Nama

: Ny. Y

Usia

: 26 tahun

Alamat

: Sexy house, Sunan Kuning gang V

Alamat Asal

: Semarang

Status

: Sudah menikah

Jumlah Anak

: 1 anak

Lama Bekerja

: 11 bulan

Pendidikan terakhir

: SMA

Agama

: Islam

Alasan bekerja sebagai WPS

: Masalah ekonomi

Permasalahan
Ny. Y adalah seorang wanita berusia 26 tahun, bekerja sebagai WPS di
resosialisasi SK sudah 11 bulan dengan alasan masalah ekonomi. Klien mengaku
sehari bisa melayani 3-4 tamu. Tarif untuk setiap tamu bervariasi bergantung pada
lamanya aktivitas seksual dan berdasarkan kesepakatan yang sudah dilakukan
antara Ny. Y dengan tamu. Untuk ketersediaan pengaman dalam berhubungan

30

seksual/kondom klien mendapatkannya dari petugas resosialisasi pada saat ada


kegiatan-kegiatan seperti sekolah atau skrining. Biasanya dalam seminggu klien
diberi 3-4 kondom. Selain itu pengasuh juga biasanya memiliki stok kondom di
wisma.
Aktivitas seksual yang dilakukan adalah pervaginal. Klien mengaku tidak
pernah melakukan oral dan anal seks dalam pekerjaannya ini. Klien sesekali
mengkonsumsi minum-minuman keras dan merokok terutama saat menemani
tamu. Namun, klien tidak pernah mengkonsumsi narkoba. Klien juga punya
kebiasaan membilas vagina dengan sabun sirih terutama setelah selesai
berhubungan. Hal ini dikarenakan klien merasa alat kelaminnya menjadi bersih
dan sehat setelah dicuci. Klien belum mengetahui bahaya menggunakan sabun
sirih berlebih karena selama ini tidak ada keluhan yang berhubungan dengan
penggunaan sabun sirih.
Ny. Y melakukan pemeriksaan secara teratur berupa skrining IMS setiap 2
minggu sekali dan VCT setiap 3 bulan sekali. Sampai saat ini, klien sudah
melakukan VCT 2 kali di griya ASA. Pada VCT sebelumnya, hasil menunjukan
HIV nonreaktif. VCT yang ketiga ini dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2015.
Ny. Y mengaku tidak pernah merasa dipaksa atau keberatan dengan pemeriksaan
yang dilakukan.
Dalam pengakuannya, selama tinggal di Sunan Kuning klien belum pernah
mengalami IMS. Ia mengatakan tiap kali skrining belum pernah disuruh minum
obat oleh dokter.
Penggunaan kondom selama melayani pelanggan jauh dari 100%. Hal ini
dikarenakan umumnya pelanggan menolak untuk menggunakan kondom dengan
berbagai alasan. Alasan yang paling sering adalah kurangnya kenikmatan
hubungan seksual. Selain itu dari hasil wawancara juga masih nampak bahwa
klien merasa menggunakan pengaman pada saat berhubungan seksual bukanlah
hal yang penting.
Pemecahan Masalah
Masalah yang dialami oleh klien, yang banyak ditemukan juga pada WPS
lainnya, adalah adanya tamu yang menolak menggunakan kondom saat
berhubungan karena dianggap mengurangi kenikmatan seksual. Solusi yang

31

disarankan adalah klien harus bisa memaksa tamu agar mau memakai kondom
saat berhubungan. Hal ini perlu disertai dengan ketegasan klien untuk menolak
berhubungan bila tidak memakai kondom. Selain itu perlu juga campur tangan
dari pihak pengasuh agar memberi sanksi bagi tamu yang tidak mau
menggunakan kondom, misal dengan menyuruh tamu membayar lebih mahal.
Solusi kedua yaitu dilakukan edukasi pada klien mengenai pentingnya
penggunaan kondom pada saat berhubungan seksual, penjelasan mengenai IMS
dan HIV/AIDS sehingga klien terhindar dari bermacam-macam penyakit.
Solusi ketiga adalah memberikan edukasi tentang bahaya penggunaan sabun
sirih berlebihan untuk membersihkan alat genital sehingga klien bisa mengurangi
pemakaian sabun sirih dalam membersihkan alat genital.
Solusi keempat, klien diharapkan untuk rutin melakukan pemeriksaan VCT
setiap 3 bulan sekali dan skrining IMS setiap 2 minggu sekali agar penyakit
IMSdan HIV/AIDS bisa terdeteksi lebih dini. Maka dari itu KIE mengenai
HIV/AIDS wajib diberikan kepada klien.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Pencegahan transmisi HIV/AIDS di resosialisasi dilakukan dengan
pemeriksaan VCT rutin kepada seluruh WPS yang ada di wilayah tersebut
Masih banyak klien melakukan tindakan berisiko penularan HIV/AIDS
seperti melayani pelanggan tanpa kondom
Menjaga kerahasiaan hasil medis setiap klien agar tidak terjadi kebocoran
informasi ke pihak lain karena hal tersebut membuat resah klien yang
dapat mengakibatkan menurunnya klien yang periksa VCT
Pemeriksaan VCT tidak dikenakan biaya dalam rangka meningkatkan
kepatuhan WPS untuk melakukan VCT rutin setiap 3 bulan
Terdapat sanksi tegas yaitu memulangkan WPS apabila terbukti positif
mengidap HIV, untuk memutus mata rantai transmisi penyakit
5.2 Saran
Memberikan informasi kepada klien mengenai pentingnya proses postest
pada VCT dan dalam memberikan jasa layanan harus selalu menggunakan
kondom, kaitannya dengan pencegahan transmisi HIV/AIDS
Masyarakat diharapkan untuk lebih mengerti, memahami penyakit, faktor
risiko dan gejala-gejala HIV/AIDS dengan semakin seringnya diadakan
penyuluhan yang menyasar pada kelompok kecil masyarakat
Masyarakat diharapkan untuk menyadari bahwa mereka termasuk ke
dalam kelompok risiko tinggi HIV/AIDS, sehingga deteksi dini HIV/AIDS
melalui tes VCT dan melakukan tes VCT tiap 3 bulan sekali sangat
diperlukan

33

DAFTAR PUSTAKA
1.

World health organization [Internet}. 10 facts on HIV/AIDS; 2014 November


[cited: 2015 June 2]. Available from:

2.

http://www.who.int/features/factfiles/hiv/en/
World health organization [Internet]. HIV/AIDS fact sheet; 2014 November
[cited: 2015 June 2]. Available from:

3.

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs360/en/
Bennett NJ. HIV disease [Internet]. [place unknown]: Medscape; 2015 Jan 23
[cited June 2 2015]. Available from:

4.

http://emedicine.medscape.com/article/211316-overview
Dasar HIV-AIDS 2009. Diunduh dari : http://spiritia.or.id/Stats/Statprev.php?

5.

lang=id&th=10 [cited : 2 Juni 2015]


Kategori : Jenis-jenis intervensi 2011. Diunduh dari : http://www.aids-

6.

ina.org/w/index.php/Kategori:Jenis-jenis_Intervensi [citied : 11 Januari 2015]


KPAI 2011. Hiv dan AIDS. Diunduh dari : http://www.aidsindonesia.or.id/

7.

[cited : 11 Januari 2015]


Michael Martine 2009. VCT, Metoda Evektif Deteksi dan
Pencegahan HIV/AIDS. Diunduh dari : http://publicahealth.wordpress.com/
2009/06/19/vct-metoda-evektif-deteksi-dan-pencegahan-hivaids/ [citied : 11

8.

Januari 2015]
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008. HIV/AIDS Ancaman
Serius Bagi Indonesia. Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jendral
Departemen Kesehatan. Diperoleh dari: http://www.depkes.go.id/index.php?

option=news&task=viewarticle&sid=32 43&Itemid=2
9. Zein, Umar, dkk., 2006. 100 Pertanyaan Seputar HIV/AIDS Yang Perlu Anda
Ketahui. Medan: USU press; 1-44.
10. Yatim, Danny Irawan, 2006. Dialog Seputar AIDS. Jakarta: PT Gramedia
Widiasarana Indonesia;
11. Brooks, Geo. F., Butel, Janet S., dan Morse, Stephen A., 2005. AIDS dan
Lentivirus. Dalam: Sjabana, Dripa, ed. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta:
Salemba Medika; 292-300.
12. Fauci, Anthony S., dan Lane, H. Clifford, 2005. Human Immunodeficiency
Virus Disease: AIDS and Related Disorders. In: Kasper, Dennis S., ed.
Harrisons Principles of Internal Medicin 16th edition. United States of
America: Mc Graw Hill;1076, 2372-2390.
34

35

13. Mayo Foundation for Medical Education and Research, 2008. HIV/AIDS.
Diperoleh

dari:

http://www.mayoclinic.com/health/hiv-

aids/DS00005/symptoms.htm.
14. Djoerban, Zubairi dan Djauzi, Samsuridjal, 2006. HIV/AIDS di Indonesia.
Dalam: Sudoyo, Aru. W, dkk., ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Ed.IV jilid
II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 18031807.
15. Muninjaya, A.A. Gde, 1999. Tiga Cara Untuk Pencegahan AIDS. Dalam:
AIDS di Indonesia: Masalah dan Kebijakan Penanggulangannya. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 29-32.
16. Yayasan Spiritia, 2008. Strategi Nasonal Penanggulangan HIV/AIDS.
Diperoleh dari: http://spiritia.or.id/art/pdf/a1056.pdfhtm.
17. Kelompok Kerja HIV-AIDS, 2005. Remaja Dinilai Rentan Tertular HIV.
Jakarta: Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso. Diperoleh
dari: http://www.aids-rpiss.com
18. Depkes RI. 2006. Pedoman Pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS secara
sukarela

(Voluntary

Counseling

and

Testing).

Depkes

RI.

Jakarta.

http://www.aids ina.org/files/publikasi/panduanvct.pdf
19. Haruddin,dkk. 2007. Studi Pelaksanaan HIV Voluntary Counseling And
Testing (VCT) Di RSUP DR. Sarjito Yogyakarta. http//irc.kmpk.ugm.ac.id.
20. KPA Nasional. 2007. Strategi nasional penanggulangan HIV dan AIDS Tahun
2007-2010. The national hiv&aids strategy 2007-2010(Indonesia).pdf