Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini di Negara Indonesia banyak sekali bentuk pelanggaran dan
kejahatan yang dialami oleh pekerja rumah tangga. Tidak menutup kemungkinan
bentuk pelanggaran maupun kejahatan terhadap pembantu rumah tangga akan terus
terulang, mengingat pembantu rumah tangga merupakan pekerja yang bersifat
informal. Sebagian masyarakat luas lebih memandang orang yang bekerja di suatu
rumah tangga hanyalah seorang pembantu. Di dalam melakukan pekerjaannya,
pembantu rumah tangga mempunyai peran membantu pekerjaan di dalam atau
suatu rumah tangga, sehingga hal ini kurang disoroti oleh masyarakat luar.
Sehingga hal ini akan berdampak negatif terhadap pembantu rumah tangga, apakah
hak-hak dari pekerja rumah tangga diberikan oleh seorang majikan dan apakah
pembantu rumah tangga akan mendapatkan suatu perlakuan yang kurang
menyenangkan seperti tindakan kekerasan, penganiayaan, diskriminasi maupun
tindakan lainnya yang merugikan pembantu rumah tangga.
Menurut Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 (selanjutnya disebut
UUD 1945) Negara Indonesia adalah Negara hukum. Jadi tidak berdasarkan
kekuasaan belaka. Hukum tidak akan lepas dari kehidupan manusia. 1 Setiap
manusia mempunyai kepentingan yang diharapkan untuk dipenuhi. Sejak
dilahirkan manusia mempunyai hak yang sering disebut hak asasi manusia.

Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, Yogyakarta, Liberty Yogyakarta, 1995, hlm.

1.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak


Asasi Manusia (selanjutnya disebut UUHAM) menjelaskan bahwa Hak asasi
manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan
manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya
yang wajib dihormati,dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara, hukum,
Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia.2
Salah satu hak tersebut diatur di dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat (2) yang
menyatakan Tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan
yang layak bagi kemanusiaan. Ketentuan ini juga dijelaskan lagi dalam Pasal 28 D
ayat (2) yang menyatakan bahwa Setiap orang berhak untuk bekerja serta dapat
imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.Didalam
kehidupan masyarakat, pekerjaan tidak bisa dilepaskan karena merupakan suatu
kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu profesi pekerja adalah
sebagai pembantu rumah tangga.
Pembantu rumah tangga masih belum ada payung hukumnya terkait hakhak sebagai pekerja atau buruh yang mendasar seperti kontrak kerja, pengaturan
jumlah jam kerja, pengaturan waktu istirahat, pengaturan libur dan cuti hamil, upah
minimum, serta mekanisme dalam penyelesaian sengketa. Hak-hak tersebut hanya
diutamakan antara pengusaha dan karyawan yang lebih bersifat formal, sedangkan
pekerjaan yang bersifat tidak formal seperti pembantu rumah tangga bukan kategori

Lihat Pasal 1 angka 1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999


tentang Hak Asasi Manusia.

seseorang yang diperkerjakan oleh pengusaha akibatnya perlindungan hukum


terhadap hak-hak pembantu rumah tangga tidak dilindungi dan pada akhirnya
rentan dengan tindakan yang merugikan pembantu rumah tangga.
Demokratisasi di bidang ketenagakerjaan membuka kesadaran tenaga
kerja akan hak-haknya termasuk hak memilih pekerjaannya, lapangan usaha,
maupun lokasi pekerjaannya sesuai dengan kemampuannya dan kemauan tenaga
kerja tanpa adanya diskriminasi.3Oleh sebab itu, pembantu rumah tangga harus
dilindungi oleh negara akan kepentingan terhadap hak-haknya sebagai pekerja.
Data yang dikumpulkan oleh Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah
Tangga (Jala PRT), menunjukkan dari tahun 2012-2013 terdapat 653 kasus
kekerasan yang dapat terlihat karena ada lembaga yang mendampingi, serta adanya
media dan publik yang memberitakan. Tahun 2104 terjadi 408 kasus kekerasan
terhadap PRT. Sebanyak 90 persen adalah multikasus dari mulai kekerasan fisik,
psikis, ekonomi dan perdagangan manusia, dengan pelaku adalah majikan dan juga
agen penyalur. Dari kasus tersebut, 85 persen proses hukum berhenti di kepolisian.4
Kelemahannya adalah ketentuan mengenai bentuk perlindungan terhadap pekerja
rumah tangga masih belum cukup memadahi, sehingga masih belum terdapat
jaminan pembantu rumah tangga di Indonesia yang terbebas dari bentuk kekerasan,
diskriminasi, dan keadilan.
Peningkatan kasus pelanggaran maupun kejahatan dalam rumah tangga
akhir-akhir ini menjadi perbincangan di media sosial khususnya terhadap pekerja

Adrian Sutedi, Hukum Perburuhan, Jakarta, Sinar Grafika, 2011, hlm. 4.


Jangan Lupakan RUU Perlindungan PRT Republika Online.htm <Diunduh Tanggal 3
April 2015>.
4

rumah tangga, baik itu berupa kekerasan fisik maupun kekerasan psikis padahal
Negara Indonesia sudah mempunyaiUndang-undang Nomor 23 Tahun 2004
tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yaitu (yang selanjutnya
disebut UUPKDRT).
Pemerintah mempunyai peran sangat penting dalam meminimalisir
terjadinya kejahatan maupun pelanggaran terhadap pekerja rumah tangga,
mengingat aturan terkait bentuk perlindungan terhadap pekerja rumah yang masih
belum cukup memadahi, sehingga tujuan daripada Negara dapat terpenuhi. Dimana
tujuan Negara itu adalah menyelenggarakan kesejahteraan dan kebahagiaan
rakyatnya agar menjadi masyarakata yang adil dan makmur.5
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan latar belakang masalah diatas, maka dapat ditarik
suatu rumusan masalah yaitu Apakah Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004
tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga sudah mengakomodasi
terhadap hak pekerja sebagai pembantu rumah tangga ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.

Untuk mengetahuiapakah Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004


tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga sudah
mengakomodasi terhadap hak pekerja sebagai pembantu rumah
tangga.

1.4 Manfaat Penelitian

148.

Soehino, Ilmu Negara, Yogyakarta, Liberty Yogyakarta, 2005, Catatan ketujuh , hlm.

1.4.1 Manfaat Teoritis


Manfaat teoritis yang dapat diperoleh dari penelitian dalam penulisan
skripsi ini adalah mengetahui tentang bentuk perlindungan hukum terhadap hak
pekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk bebas dari segala bentuk kekerasan,
sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian
sejenis secara mendalam.
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Bagi Pemerintahan, penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan
dalam menentukan bagaimana mengambil kebijakan terutama
berkaitan dengan masalah yangdialami pembantu rumah tangga dan
diharapkan Pemerintah segera mengesahkan Rancangan Undangundang terkait perlindungan pembantu rumah tangga karena kondisi
yang dialami oleh pembantu rumah tangga cukup memprihatinkan.
b. Bagi Penulis pribadi, penelitian ini merupakan langkah awal dalam
penyusunan

skripsi

sebagai

salah

satu

persyaratan

dalam

menyelesaikan program strata satu (S1) di Fakultas Hukum


Universitas Trunojoyo Madura.
1.5 Keaslian
Setelah mencari informasi di internet maupun pustaka ditemukan judul
skripsi tentang Tinjauan Viktimologis Terhadap Kekerasan Psikis Terhadap
Pembantu Rumah Tangga Di Kota Makassar (Studi Kasus Tahun 2011-2013),
yang ditulis oleh Mohamad Aiman Kiraman yang lebih membahas mengenai
peranan korban dalam terjadinya kekerasan psikis terhadap pembantu rumah tangga

dan upaya-upaya untuk menanggulanginya. Yang membedakan skripsi diatas yaitu


skripsi ini lebih menekankan pada perlindungan hukum terhadap hak pekerja
sebagai pembantu rumah tangga yang didasarkan pada Undang-undang Nomor 23
Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Penelitian ini
mengunakan penelitian hukum normatif sedangkan peneliti sebelumnya
menggunakan metode empiris.
1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah jenis
penelitian hukum normatif. Penelitian hukum yang dilakukan dengan cara
menganalisis bahan pustaka atau data sekunder belaka.6 Metode penelitian normatif
merupakan prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan
logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya.7 Logika keilmuan yang juga dalam
penelitian hukum normatif dengan berdasarkan disiplin ilmiah dan cara-cara kerja
ilmu hukum normatif, yaitu ilmu hukum yang objeknya hukum itu sendiri. Dengan
demikian penelitian terhadap sumber-sumber hukum, Peraturan Perundangundangan, dokumen-dokumen terkait dan buku-buku yang terkait dengan
penelitian yang dikaji. Yang mana akan mengkaji dan membahas secara ilmiah atas
kepustakaan serta dasar hukum.
1.6.2 Pendekatan Penelitian

Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif, Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada,

2007.
7

J. Suprapto, Metode Penelitian Hukum dan Statistik, Jakarta, Raja Grafindo Persada,
2003, hlm. 3.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan


pendekatan perundang-undangan (statute Aproach). Dalam metode pendekatan ini,
peneliti perlu memahami pemahaman tentang hirearki, dan asas-asas dalam
peraturan perundang-undangan.8
1.6.3 Bahan Hukum
Mengingat penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat normatif,
maka dititik beratkan pada bahan hukum sekunder. Data sekunder yang digunakan
dalam penelitian ini dikumpulkan dari bahan-bahan sebagai berikut :
1. Bahan hukum primer
Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat
autoritatif, artinya mempunyai otoritas. Bahan hukum primer berupa
perundang-undangan, catatan-catatan resmi atau risalah-risalah dalam
perbuatan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim.9 Bahan
hukum primer dalam penulisan ini adalah berupa perundang-undangan di
Indonesia dan Konvensi Internasional di antaranya:
a. Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga;
c. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan;
d. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang
Hak Asasi Manusia;
e. Kitab Undang-undang Hukum Pidana;
f. Rancangan Undang-undang tentang Perlindungan Pembantu Rumah
Tangga;
g. Konvensi Internasional seperti Konvensi ILO Nomor 189 Tahun 2011
dan Konvensi lainnya.

8
9

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Jakarta, Kencana, 2011, hlm. 96.
Ibid, hlm. 141.

2. Bahan hukum sekunder


Bahan hukum sekunder ini memberikan penjelasan mengenai
bahan hukum primer yang berasal dari beberapa literatur dan tulisan ilmiah
lainnya yang dapat menjelaskan terhadap permasalahan dalam penelitian
ini.10 Bahan hukum sekunder dalam penulisan ini beberapa literatur karya
ilmiah, beberapa buku-buku teks ilmu perundang-undangan, jurnal-jurnal
baik hukum maupun non hukum yang mendukung terhadap analisa
penulisan karya ilmiah ini.
3. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan
penjelasan maupun petunjuk terhadap bahan hukum primer dan bahan
hukum sekunder yang berasal dari kamus hukum, ensiklopedia dan
sebagainya.11
1.6.4 Metode Pengumpulan Bahan Hukum
Untuk memperoleh bahan hukum yang dibutuhkan dalam penelitian ini
digunakan alat dan cara melalui penelitian kepustakaan dengan menggunakan studi
pustaka, dipelajari bahan-bahan hukum yang merupakan bahan hukum sekunder.
Pertama-tama dipilih dan dihimpun semua peraturan-peraturan yang berkaitan
dengan bidang hukum yang menjadi objek penelitian. Selanjutnya dari bahan-bahan
tersebut dipilih asas-asas, dokrin, dan ketentuan-ketentuan lain yang mengatur
tentang tentang perlindungan hukum terhadap hak-hak pekerja rumah tangga untuk

10
Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2010, hlm.13.
11
Ibid, hlm.13.

bebas dari segala bentuk kekerasan. Hasil yang diperoleh kemudian disusun dalam
dalam sebuah kerangka secara sistematis, sehingga akan memudahkan dalam
melakukan analisis bahan hukum.
1.6.5 Metode Analisa Bahan Hukum
Setelah bahan hukum sekunder diperoleh, kemudian disusun secara
sistematis, sehingga akan diperoleh gambaran yang jelas mengenai upaya
perlindungan hukum terhadap hak pekerja rumah tangga untuk bebas dari segala
bentuk kekerasan. Pada akhirnya akan diperoleh kerangka pemikiran yuridis yang
sesuai dengan kaidah hukum.