Anda di halaman 1dari 94

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. E
Jenis kelamin
: Perempuan
Usia
: 64 tahun
Pekerjaan
: Ibu rumah tangga
Status marital
: Menikah
Agama : Islam
Alamat : Majalaya
Tanggal masuk RS
: 23 November 2015
Tanggal pemeriksaan : 2 Desember 2015

ANAMNESA

Keluhan Utama : Penurunan kesadaran

Anamnesa Khusus :
Sejak 4 jam SMRS pasien mengalami
penurunan kesadaran. Keluhan terjadi secara
tiba-tiba saat pasien berada di kamar mandi.
Keluhan diawali dengan lemas pada anggota
gerak sehingga pasien sulit untuk melangkah
dan kemudian terjatuh dan tidak sadarkan
diri selama 5 menit.

Saat pasien sadar pasien merasakan


lemas pada anggota gerak sebelah kanan
dan tidak dapat digerakkan, mulut
mencong ke sebelah kiri dan bicaranya
menjadi rero. Keluhan disertai dengan
muntah-muntah sebanyak 1 kali. keluarga
pasien juga mengeluhkan pasien sulit
untuk berbicara

Keluhan disertai dengan nyeri kepala


dan kesulitan menelan. Keluhan tidak
disertai dengan kejang maupun gangguan
buang air kecil dan buang air besar. Pasien
tidak memiliki kebiasaan merokok dn
mengkonsumsi alkohol. Pola makan pasien
sering mengkonsumsi makanan yang
berlemak. Pada saat masuk ke RS,
tekanan darah pasien 160/90.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien mempunyai riwayat hipertensi
yang terkontrol sejak 1 tahun yang lalu.
Pasien selalu melakukan kontrol rutin ke
puskesmas.
Pasien tidak memiliki riwayat asam
urat tinggi, DM, penyakit jantung, dan
trauma pada daerah kepala.

Riwayat Keluarga
Terdapat keluarga yang mengalami
hal serupa yaitu kaka pasien pada tahun
2013
terdiagnosis
stroke,
anggota
keluarga
pasien
memiliki
riwayat
hipertensi.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesadaran
: Komposmentis
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Nadi
: 90 x/menit, regular, equal,
isi
cukup
Respirasi
: 28 x/menit
Temperatur
: 37,9

Status Interna
Kepala
Mata
: ca anemis -/-, sklera ikterik -/-,
pupil
isokor, refleks cahaya +/+, D
3mm
Hidung : sekret -/-, deviasi septum (-),
Telinga
: deformitas -/-, serumen -/Leher
: pembesaran KGB tidak teraba,
JVP
tidak meningkat

Thorax
Cor : I : ictus cordis setinggi ics 5
P : ictus cordis teraba di ics 5
P : batas atas jantung ics 2
A : S1-S2 murni, reguler, murmur
(-), gallop
(-)
Pulmo
: I : bentuk dan gerak simetris
P : VF ka=ki
P : sonor di kedua lapang paru
A : vbs ka=ki, rh -/-, wh -/-

Abdomen
: datar, lembut,
hepar/lien tidak
teraba, Bu
(+), normal
Ekstremitas : hangat, sianosis (-),
edema (-), crt
< 2 detik

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
B. Fungsi Luhur

Tangan dominan
: Sulit dinilai
Orientasi Waktu
: Sulit Dinilai
Orientasi Orang
: Sulit Dinilai
Orientasi Tempat : Sulit Dinilai
Ingatan Jangka Pendek : Sulit Dinilai
Ingatan Jangka Panjang : Sulit Dinilai
Kalkulasi
: Sulit Dinilai
Lainnya:
Apraksia
: Negatif
Afasia motorik/sensorik : postif/negatif
Anosognosia : Negatif
Astereognosia
: sulit dinilai
Agrafia : sulitr dinilai

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
1.

2.

Rangsang Meningen
Kaku kuduk
:Kernig
: -/-/-/Brudzinski I/II/III/IV
:
Iritasi Radiks dan Coksitis
Laseque
:Braggard
:Sicard
:Patrick
:Kontra-patrick
:-

3.

Saraf Kranial
I : tidak dapat dilakukan
II :
Tajam pandangan : tidak dapat dilakukan
Lapang pandang
: tidak dapat dilakukan
Oftalmoskopi : tidak dapat dilakukan
III,IV,VI :
Pupil
: bulat, sentral, regular, isokor
D=3/3
Refleks cahaya
: normal/normal
Gerakan bola mata : tidak dapat dilakukan

:
Sensoris:
Cabang oftalmik
: sulit dinilai
Cabang maksilaris
: sulit dinilai
Cabang mandibularis
: sulit dinilai
jaw jerk refleks +
Refleks kornea
: +/+
Motorik
: sulit dinilai

VII :

Nasolabial fold
Kerut dahi
:+
Kelopak Mata
Sensoris 2/3 depan lidah

:+
:+
: sulit dinilai

VIII :

Rinne
Weber
Swabach
Kesan

:+
:+
:+
: tidak ada penurunan
pendengaran

IX, X :

Uvula
: deviasi ke kanan
Gag refleks
: tidak dilakukan

XI :

Sternocleidomastoid
: sulit dinilai
Trapezius
: sulit dinilai

XII :

Deviasi
: deviasi kearah kiri
Atrofi : tidak ada

Motorik
Kekuatan

Tonus

Atrofi

Fasikulasi

0/5

Normal

-/-

-/-

0/5

Normal

-/-

-/-

Otot
Ekstremitas
Atas
Ekstremitas
Bawah

Sensorik
Anggota badan atas
: sulit dinilai
Batang tubuh
: sulit dinilai
Anggota bawah badan : sulit dinilai

Refleks

Patologis
Babinski

Chaddock

Oppenheim

Gordon

Schaefer

Rossolimo

Mendel-Bechterew

Hoffman-tromner

Primitif
Glabella

Palmomental

Snout

Grasp

Siriraj Stroke Score:


(2,5x0) + (2x1) + (2x1) + (0,1x80) +
(3x0) -12 = 0 MERAGUKAN

Alogaritma Stroke Gadjah Mada:


penuruna kesadaran (+), nyeri kepala
(+), Babinski(+) perdarahan

RESUME
Seorang wanita berusia 64 tahun datang
ke RSUD Al-Ihsan dengan keluhan penurunan
kesadaran sejak 4 jam SMRS. Terjadi secara
tiba-tiba saat pasien di kamar mandi. Keluhan
diawali dengan lemas ekstremitas kanan
sehingga sulit untuk melangkah dan kemudian
terjatuh dan tidak sadarkan diri. Saat terbangun
pasien merasakan lemah pada ekstremitas
kanan, rero dan mulut mencong. Keluhan juga
disertai muntah dan nyeri kepala. Pasien
memiliki faktor risiko sering mengkonsumsi
makanan berlemak. Riwayat HT (+).

Pada pemeriksaan fisik ditemukan


kesadaran komposmentis, tanda-tanda
vital dalam batas normal. Pemeriksaan
status
neurologis
ditemukan
refleks
patologis : babinski (+/-), chaddock (+/-).

DIAGNOSA BANDING

Stroke ec perdarahan intraserebral


sistem carotis sinistra dengan faktor
risiko hipertensi
Stroke ec susp perdarahan subarachnoid
sistem carotis sinistra dengan faktor
risiko AVM

USULAN PEMERIKSAAN

Pemeriksaan darah rutin : HB, leukosit,


Ht, trombosit
Kimia klinik : Ureum, Kreatinin, Gula
darah, Profile lipid
EKG
Foto thoraks
CT scan

HASIL PEMERIKSAAN

Hasil Lab 9/11/2015

Hb 15,4
Luekosit 11.700 (meningkat)
Eritrosit 5,21
Hemoglobin 43,8
Trombosit 210.000
Ureum 15
Kreatinin : 0,31
GDS 62
Na 141
K 3,1 (menurun)
Cal 1,11 (menurun)

Hasil foto Thoraks AP


Cor : membesar
Pulmo : hili melebar,
cranilisasi +;
corakan kabur, tidak
berbercak kanan
tengah; perselubungan
tipis

sinuses tajam, diafragma


EXP
Kesan : Susp cardiomegaly
dengan awal bendungan
paru + sedikit efussi
pleura kanan

CT Scan Kepala
Kesan : perdarahan
intracerebral di
thalamus kiri dan
substansia alba
periventricular
lateral kiri
Perdarahan
intraventrikular
lateralis kiri dan
ventrikel 3
Midline shift kekanan
sejauh 5 mm

DIAGNOSA KERJA

Stroke ec perdarahan intraserebral


sistem karotis sinistra dengan faktor
risiko hipertensi

PENATALAKSANAAN

Umum

Tirah baring dengan posisi 30 dari badan


(lebih tinggi)
Oksigen 2 liter/menit
Pasang NGT dan kateter
Kalori 25-30 kkal/kgBB/hari
Infus 2A 20 gtt/menit

Khusus
Manitol : 20 % 200-150-150 cc/8 jam
Citicholin 2x500 mg
Wiacid 2x1
Captopril 3x25mg
Amlodipin 10 mg 1x1

Barthel indeks nilainya = 2


(ketergantungan total)
1.

Makan (Feeding)

2.

Mandi (Bathing)

3.

Perawatan diri (Grooming)

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Berpakaian (Dressing)

0 = Tidak mampu
1 = Butuh bantuan memotong, mengoles mentega dll.
2 = Mandiri

0 = Tergantung orang lain


1 = Mandiri

0 = Membutuhkan bantuan orang lain


1 = Mandiri dalam perawatan muka, rambut, gigi, dan bercukur

0 = Tergantung orang lain


1 = Sebagian dibantu (misal mengancing baju)
2 = Mandiri

0 = Inkontinensia atau pakai kateter dan tidak terkontrol


1 = Kadang Inkontinensia (maks, 1x24 jam)
2 = Kontinensia (teratur untuk lebih dari 7 hari)

0 = Inkontinensia (tidak teratur atau perlu enema)


1 = Kadang Inkontensia (sekali seminggu)
2 = Kontinensia (teratur)

0 = Tergantung bantuan orang lain


1 = Membutuhkan bantuan, tapi dapat melakukan beberapa hal sendiri
2 = Mandiri

0 = Tidak mampu
1 = Butuh bantuan untuk bisa duduk (2 orang)
2 = Bantuan kecil (1 orang)
3 = Mandiri

0 = Immobile (tidak mampu)


1 = Menggunakan kursi roda
2 = Berjalan dengan bantuan satu orang
3 = Mandiri (meskipun menggunakan alat bantu seperti, tongkat)

0 = Tidak mampu
1 = Membutuhkan bantuan (alat bantu)
2 = Mandiri

Buang air kecil (Bowel)

Buang air besar (Bladder)

Penggunaan toilet

Transfer

Mobilitas

Naik turun tangga

PROGNOSIS

Quo ad vitam : dubia ad malam


Quo ad functionam : dubia ad malam

FOLLOW UP

Tanggal 2 Desember 2015


Sama dengan hari pemeriksaan
Pasien Pulang Paksa karena alasan keluarga

PEMBAHASAN

DEFINISI STROKE
Definisi stroke menurut WHO Task
Force in Stroke and other
Cerebrovascular
Disease
(1989)
adalah
suatu
gangguan
disfungsi
neurologist akut yang disebabkan oleh
gangguan peredaran darah, dan terjadi
secara mendadak (dalam beberapa detik)
atau setidak-tidaknya secara cepat (dalam
beberapa jam) dengan gejala-gejala dan
tanda-tanda yang sesuai dengan daerah
fokal otak yang terganggu.

Definisi stroke menurut WHO Monica


Project
Manifestasi klinis dari gangguan fungsi
serebral,
baik
fokal
maupun
menyeluruh (global) yang berlangsung
dengan cepat, berlangsung lebih dari
24 jam, atau berakhir dengan kematian,
tanpa ditemukannya penyebab selain
dari pada gangguan vaskular.

1.
Mengapa pada pasien ini didiagnosa
sebagai stroke?
Dari anamnesa didapatkan bahwa,
pasien mengalami penurunan kesadaran
secara tiba-tiba pada saat dikamar mandi

ANATOMI PEMBULUH
DARAH OTAK

Terdiri dari 2 sistem :


1) Sistem karotis
Segala sesuatu yang berkenaan dengan
arteri utama leher arteri carotis
communis
2) Sistem Vertebrobasiler
Segala sesuatu yang berkenaan dengan
atau yang melibatkan arteri vertebralis
dan arteri basilaris.

Percabangan dari arteri karotis


interna, arteri vertebralis dan
arteri basilaris
Cabang-cabang dari
cerebral arteri
karotis interna
Arteri ophthalmica

Cabang-cabang dari Cabang-cabang dari


bagian kranial arteri arteri basilaris
vertebralis
Cabang meningea Arteri pontis

Arteri communicans
posterior
Arteri cerebralis
anterior
Arteri choroidea

Arteri spinalis
anterior
Arteri cerebellaris
pesterior inferior
Arteri medullaris

Arteri cerebralis
media

Arteri labyrinthi
Arteri cerebellaris
inferior
Arteri cerebellaris
superior
Arteri cerebralis
posterior

Arteri-arteri dan
distribusinya
Arteri
Internal carotid
Anterior cerebral
Anterior
communicating
Middle cerebral
Vertebral
Basilar
Posterior cerebral
Posterior
communicating

Distribusi
Dinding sinus cavernosus, pituitary
gland, ganglion trigeminal dan
menyediakan suplai primer ke otak
Hemisfer cerebral kecuali lobus
occipitalis
Cerebral arterial circle
Mayoritas dari pemukaan lateral
dari hemisfer cerebral
Cranial meningens dan cerebellum
Brain stem, cerebellum dan
cerebrum
Bagian inferior dari hemisfer
cerebral dan lobus occipitalis
Traktus optikus, cerebral peduncle,
internal capsule, dan talamus

EPIDEMIOLOGI
STROKE

Insiden Stroke :
- negara maju usaha prevensi primer yang
berhasil pencegahan terhadap hipertensi
- negara berkembang pengaruh
urbanisasi, perubahan gaya hidup,
bertambahnya umur harapan hidup (Alex
Kalache 1995)
- daerah perkotaan (urban) di Indonesia 5x
>> insiden di daerah pedesaan (rural) (Medical
Research Unit. FK Unpad 1994)
- bertambahnya usia

FAKTOR RISIKO
STROKE

Non-Modifiable
Umur semakin tua, semakin beresiko
Jenis Kelamin pria >> dibanding wanita
kematian akibat stroke pada wanita >>
Ras dan etnik >> orang berkulit hitam
berpotensi untuk terkena hipertensi,
diabetes mellitus dan obesitas
Herediter terdapat stroke di kalangan
anggota keluarga

FAKTOR RISIKO
STROKE

Modifiable / Modification
Mayor
Hipertensi
Penyakit jantung
Diabetes mellitus
Minor
Hiperlipidemia
Hematokrit > 45%
Rokok
Pil kontrasepsi
Alkohol
Obesitas

Patofisologi

FR (hipertensi), kelemahan dinding pembuluh


darah dan mikroaneurisma mudah pecah
perdarahan kedalam parenkim paru darah
mendorong struktur otak dan merembes
kesekitarnya bercampur merembes ke sekitarnya
bahkan dapat masuk ke dalam ventrikel atau ke
ruangan subaraknoid yang akan bercampur dengan
cairan serebrospinal dan merangsang meningens.

2. Apakah yang menjadi faktor risiko pada


pasien ini?
Faktor risiko pada pasien ini adalah hipertensi.
Hipertensi merupakan faktor risiko utama
terjadinya perdarahan intraserebral. Menurut
teori hipertensi dapat menyebabkan pecahnya
arteri penetrans yang merupakan cabang dari
pembuluh darah superficial sehingga terjadi
perdarahan ke dalam parenkim otak.

STROKE

STROKE INFARK
(85%)

ATHEROTHROMBOTIK
(80%)

LAKUNER

STROKE PERDARAHAN
(15%)

PERDARAHAN
INTRASEREBRAL
(50%)
KARDIOEMBOLI
(20%)

PERDARAHAN
SUBARAKNOID
(50%)

Penegakan Diagnosis

Defisit neurologis fokal atau global


Berlangsung
>
24
jam
atau
menyebabkan kematian
Akut atau mendadak
Dikarenakan semata-mata kelainan
pembuluh darah otak

Diagnosis banding Stroke Infark, PIS


dan PSA
KRITERIA
1. Anamnesa
TIA
Istirahat
Aktivitas
Nyeri kepala
2.
Pemeriksaan
Fisik
Defisit neurologic
Penurunan
kesadaran
Kaku kuduk
Tekanan darah
3.Pemeriksaan
tambahan
Punksi lumbal

INFARK

PIS

PSA

+
+

+
+

+
++

+
-

+
+

+
+

sedang

+
variasi

+
Sedang

Jernih

Xantochrome

Gross

Diagnosis banding berdasarkan


anamnesis
ANAMNESI
S
Umur

TROMBOSI
S
50-70 tahun

EMBOLI

PIS

PSA

Semua
umur

40-60
tahun

Awitan
Gejala
Peringatan
Sakit
kepala
Muntah
Kejang
Vertigo

Bangun tidur
Bertahap
+
-

Aktivitas
Cepat
+
-

Aktivitas
Cepat
++

Tak tentu
(20-30
tahun)
Aktivitas
Cepat
++++

+/-

++
++
-

++++
++++
-

Diagnosa banding berdasarkan


gambaran klinis
Klinis
Kesadaran

Trombosis
Normal

Emboli
Normal

PIS
Menurun

GCS
Kaku
kuduk
Kelumpuha
n
Aphasia
Angiografi

>7
-

>7
-

<6
-/+

Parese
3,4,6
LP
CT Scan

Hemiparese Hemipares
e
++/++/Oklusi/steno Oklusi/sten
sis
osis
N Hipodens ke Hipodens
sentral
perifer

Hemiplegi
a
Midline
shift
+

PSA
Menurun/
Normal
<6
+
Hemiplegia
Aneurisma/AV
M
+/-

+/++++
Hiperdensi Hiperdensitas
tas seperti di

Diagnosis banding berdasarkan faktor


risiko
FAKTOR
RISIKO
Hipertensi

TROMBOSIS EMBOLI

PIS

PSA

+/-

+/-

RHD
-

HT
Maligna
HHD
-

Kardial
ASHD
Diabetes
++
Melitus
Dislipidemi ++
a

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
1. CT scan

Pemeriksaan baku emas untuk membedakan stroke infark dengan


stroke perdarahan.

Stroke karena infark, gambaran CT scannya hipodense , stroke


perdarahan hiperdens.

2. Pemeriksaan MRI

Sangat baik untuk menentukan adanya lesi di batang otak (sangat


sensitif).

3. Pemeriksaan Angiografi.

Untuk menentukan apakah lokasi pada sistem karotis atau


vertebrobasiler, menentukan ada tidaknya penyempitan, oklusi atau
aneurisma pada pembuluh darah.

4 Pemeriksan USG
Untuk menilai pembuluh darah intra dan ekstra
kranial, menentukan ada tidaknya stenosis arteri
karotis.
5. Pemeriksaan Pungsi Lumbal
6.
Pemeriksaan Penunjang Lain.
Untuk menetukan faktor risiko seperti darah rutin,
komponen kimia darah (ureum, kreatinin, asam
urat, profil lipid, gula darah, fungsi hepar), elektrolit
darah, Thoraks Foto, EKG, Echocardiografi.

Cara penghitungan :
SSS = (2,5 x kesadaran)+(2 x muntah)+(2 x nyeri kepala)+(0,1 x
tekanan diastolik)-(3 x atheroma) 12
Nilai SSS
Diagnosa
>1
Perdarahan otak
< -1
Infark otak
-1 < SSS < 1
Diagnosa meragukan (Gunakan kurva atau
CT Scan)

Menggunakan 3 variabel pemeriksaan yaitu :


Penurunan Kesadaran
Nyeri Kepala
Refleks Babinski

PENATALAKSANAAN

Tujuan penatalaksanaan stroke secara


umum adalah menurunkan morbiditas
dan menurunkan tingkat kematian

Penatalaksanaan di ruang gawat


darurat
Evaluasi cepat dan diagnosis
Terapi umum
1.Stabilisasi jalan nafas dan pernafasan
2.Stabilisasi hemodinamik atau sirkulasi

3. Pemeriksaan awal fisik umum


tekanan darah, pemeriksaan jantung, pemeriksaan neurologi
umum awal.

4. Pengendalian TTIK

Sasaran terapi TIK < 20 mmHg dan CPP (cerebral


perfusion pressure) > 70 mmHg.

Penatalaksanaan meliputi :
Tinggikan posisi 20o-30o.
Posisikan pasien hendaklah menghindari penekanan
vena jugulare.
Hindari pemberian cairan glukosa atau cairan hipotonik.
Hindari hipertermia.
Jaga normovolemia.
Osmoterapi atas indikasi:

Manitol 0,25-0,50 gr/kgBB, selama > 20 menit, diulangi


setiap 4-6 jam
Intubasi untuk menjaga normoventilasi.

5. Pengendalian kejang

Bila kejang, berikan diazepam bolus lambat i.v


5-20 mg dan diikuti oleh phenitoin loading dose
15-20
mg/kg
bolus
dengan
kecepatan
maksimum 50 mg/menit.
Stroke perdarahan intraserebral antiepileptic
profilaksis, selama 1 bulan diturunkan dan
dihentikan bila tidak ada kejang selama
pengobatan.
Pengendalian suhu tubuh asetaminofen jika
suhu > 38,5oC serta atasi penyebabnya.

Penatalaksanaan Umum di ruang


rawat

1. Cairan

Berikan cairan isotonis seperti 0,9%


salin.
30 ml/kgBB/hari.
Cairan
yang
hipotonik
atau
mengandung
glukosa
hendaklah
dihindari.

2. Nutrisi

Nutrisi enteral paling lambat sudah harus


diberikan dalam 48 jam, oral nutrisi hanya
boleh diberikan setelah hasil fungsi
menelan baik.
Bila terdapat gangguan menelan atau
kesadaran menurun pipa nasogastrik.
Pada keadaan akut kebutuhan kalori 25-30
kkal/kg/hari dengan komposisi:

Karbohidrat 30-40%
Lemak 20-35%.
Protein 20-30%.

3. Pencegahan dan mengatasi komplikasi

Mobilisasi.

4. Penatalaksanaan medis yang lain

Hiperglikemia harus diobati.


Gelisah terapi psikologi.
Analgesic dan antimuntah sesuai indikasi.
Berikan H2 antagonist bila ada indikasi.
Kandung kemih dikosongkan pasang kateter.
Rehabilitasi.
Edukasi keluarga.

Penatalaksanaan tekanan darah pada


stroke akut
Penatalaksanaan hipertensi
Pada pasien stroke iskemik akut, tekanan darah diturunkan
sekitar 15% dalam 24 jam pertama, apabila tekanan darah
sistolik >220 mmHg atau tekanan darah diastolic >120
mmHg. Pada pasien stroke iskemik akut yang akan diberi
terapi trombolitik (rtPA), tekanan darah diturunkan hingga
TDS <185 mmHg dan TDD <110 mmHg.
Tekanan darah harus dipantau hingga TDS <180 mmHg
dan TDD <105 mmHg selama 24 jam setelah pemberian
rtPA.
Obat
antihipertensi yang digunakan adalah labetalol,
nitropaste, nitroprusid, nikardipin, atau diltiazem intravena.

Pada pasien stroke perdarahan intraserebral akut,


apabila TDS >200 mmHg atau MAP >150 mmHg,
tekanan darah diturunkan dengan menggunakan
obat antihipertensi intravena secara kontiniu
dengan pemantauan tekanan darah setiap 5
menit.
Apabila TDS >180 mmHg atau MAP >130 mmHg
disertai dengan gejala dan tanda peningkatan
tekanan intracranial, dilakukan pemantauan
tekanan intracranial. Tekanan darah diturunkan
dengan
menggunakan
obat
antihipertensi
intravena secara kontinu atau intermiten dengan
pemantauan tekanan perfusi serebral 60 mmHg.

Pada perdarahan subaraknoid (PSA)


aneurismal,
tekanan
darah
harus
dipantau dan dikendalikan bersama
pemantauan tekanan perfusi serebral
untuk mencegah resiko terjadinya stroke
iskemik sesudah PSA serta perdarahan
ulang

TERAPI KHUSUS

Pemberian sedasi misalnya diazepam 5 mg


tiap 6 jam atau phenobarbital 30-60 mg
po/IV tiap 6 jam untuk pasien gelisah dan
analegetika untuk nyeri kepala
Nyeri kepala hebat narkotika. Misalnya
Demetol 100-150 mg im tiap 4 jam. Dapat
digunakan kodein 30-60 mg po tiap 2-3
jam bila perlu, atau meperidine.
Pemakaian obat yang mempengaruhi
fungsi platelet sebaiknya dihindari karena
dapat memperpanjang perdarahan.

Penurunan tekanan darah apabila


tekanan darah >180/100 mmHg/MABP
> 120, MABP dipertahankan 100-120
dengan tujuan agar tidak timbul infark
karena ada gangguan otoregulasi
sekitar
pendarahan
dan
penghambatan proses fisiologis.

pemberian Manitol 20% 1 gr/kg BB


diberikan dalam 20 menit dikuti 0.25
gr/KgBB tiap 4 jam (250-150-150 tiap 8
jam) untuk oedem serebri
Pada fase akut tekanan darah tidak boleh
diturunkan lebih dari 20%-25% dari
tekanan darah arteri rerata.
Bila tekanan sistolik <180 mmHg dan
tekanan
diastolik
<105
mmHg,
tangguhkan
pemberian
obat
antihipertensi

Untuk perdarahan saluran cerna dapat


dilakukan lavage lambung dengan NaCl,
tranfusi, pemberian cairan yang adekuat,
dan antasida.
H2-bloker
misalnya
ranitidin
untuk
mengurangi resiko terjadinya stress ulcer
Untuk mual dan muntah dapat diberikan
antiemetik
Bila kejang dapat diberikan anti konvulsan
: Phenytoin 10-15 mg/kg IV (loading
dose), kemudian diturunkan menjadi 100
mg/8 jam atau Phenobarbital 30-60 mg
tiap 6-8 jam.

Tindakan bedah, dengan pertimbangan usia dan


Glasgow Coma Scale (>4), hanya dilakukan pada
pasien dengan :

Perdarahan serebellum dengan diameter


> 3cm (kraniotomi dekompresi)
Hidrosefalus akut akibat perdarahan
intraventrikel / serebellum (VP shunting)
Perdarahan lobar diatas 60 cc dengan
tanda-tanda
peninggian
tekanan
intracranial akut dan ancaman herniasi

Pada pasien..
Tirah

baring dengan posisi 30 dari badan (lebih


tinggi
Oksigen 2 liter/menit. Pasang NGT dan kateter
Kalori 25-30 kkal/kgBB/hari
Infus 2A 20 gtt/menit
Manitol : 20 % 200-150-150 cc/8 jam
Citicholin 2x500 mg
Wiacid 2x1
Captopril 3x250mg
Amlodipin 10 mg 1x1

Tirah baring dengan posisi 300 dari


badan
Sesuai dengan tatalaksana TTIK
Tinggikan posisi 20o-30o.
Posisikan pasien hendaklah menghindari
penekanan vena jugulare.

Oksigen 2 liter/menitPasang NGT dan kateter

Sesuai dengan terapi stabilisasi jalan napas :


Perbaiki jalan nafas termasuk pemasangan pipa
orofaring pada pasien tidak sadar. Berikan juga
bantuan ventilasi.
Pada pasien hipoksia berikan suplai oksigen.
Sesuai dengan penatalaksanaan pemberian nutrisi :
Bila terdapat gangguan menelan atau kesadaran
menurun, makanan diberikan melalui pipa nasogastrik.
Kalori 25-300 kkal/kgBB/hari

Infus 2A 20 gtt/menit
Merupakan laritan isotonik yang
mengandung NaCL 0,9%
Sesuai dengan indikasi pemberian cairan
pada pasien stroke yaitu diberikan cairan
kristaloid atau koloid.

Manitol : 20 % 200-150-150 cc/8 jam


Untuk menurunkan TTIK
Citicholin 2x500 mg
Merupakan neuroprotektan

Indikasi: stroke infark dalam < 24 jam pertama dari


onset dan stroke hemoragik intraserebral.

Kontraindikasi: penderita yang hipersensitifitas


terhadap citicholine.

Bisa diberikan dalam 24 jam sejak awal stroke.

Untuk stroke iskemik: 250-1000 mg/hari iv terbagi


dalam 2-3 kali/hari selama 2-14 hari.

Untuk stroke hemoragik: 150-200 mg/hari iv terbagi


dalam 2-3 kali/hari selama 2-14 hari.

Wiacid 2x1
Merupakan obat yang mengandung Ranitidine
Suatu reseptor H2-blocker
H2-blocker, misalnya ranitidin, untuk mengurangi
resiko terjadinya stress ulcer.
Captopril 3x25mg
Merupakan obat antihipertensi golongan ACEI
Amlodipin 10 mg 1x1
Merupakan obat antihipertensi golongan Ca
blocker

KOMPLIKASI STROKE
A. Komplikasi Neurologik :
A. Edema otak (herniasi otak)
Komplikasi yang penting stroke akibat infark maupun karena
perdarahan.
Mencapai maksimum setelah 4-5 hari paska infark

mengaburnya alur gyrus kortikal dan seiring pembesaran


infak pergeseran garis tengah otak (midline shift).
B. Infark berdarah (pada emboli otak)
Atheroma memiliki ukuran yang lebih besar daripada ukuran
pembuluh darah. Jika terjadi pelebaran yang mendadak dari
plak akibat meningkatnya perdarahan pada tempat
tersebut, maka endotel yang mengandung fibrin dan bekuan
darah tadi akan robek, dan terjadi perdarahan. A.meningeal
atau bila di A.serebri media terdapat di ganglia basalis.

C. Vasospasme (terutama pada PSA)

Respon miogenik langsung terhadap pecahnya pembuluh darah


serta adanya substansi vasoaktif seperti serotonin, prostaglandin
dan katekolamin.

Gejala vasospasme penurunan kesadaran (misalnya bingung,


disorientasi, drowsiness) dan defisit neurologis fokal tergantung
pada daerah yang terkena. Gejala-gejala berfluktuatif dan dapat
menghilang dalam beberapa hari atau secara gradual menjadi
lebih berat.
D.Hidrosefalus

Sejumlah besar darah merembes ke dalam sistem ventrikel


atau membanjiri ruang subarachnoid bagaian basal darah
tersebut akan memasuki foramen Luschka dan Magendie
pasien akan mengalami penurunan kesadaran hingga pingsan
E. Higroma

Pengumpulan darah intraserebral di suatu tempat akibat kelainan


osmotik.

B. Komplikasi Non-neurologik
I. Akibat Proses di Otak :

A. Tekanan darah meninggi


Pada fase akut merupakan respon fisiologis
terhadap iskemia otak, dan tekanan darah
akan turun kembali setelah fungsi otak
membaik kembali.
B. Edema paru
Akibat pelepasan simpatis berlebihan
disertai hipertensi sistemik dan hipertensi
pulmonal
mengakibatkan
peninggian
permeabilitas vaskuler pada paru.

E. Kelainan EKG
Perubahan EKG yang ditemukan pada penderita dengan
perdarahan subarakhnoid ST-T abnormal, gelombang
T besar atau terbalik, pemanjangan interval QT dan
gelombang U yang menonjol.
F. Syndrome Inappropiate Anti Diuretik Hormon
(SIADH)
Rangsangan lesi pada daerah hipothalamus diabetes
insipidus atau SIADH gejala intoksikasi air (anoreksia,
mual, muntah, letargi, hiperiritabilitas, delirium, bahkan
koma).
G. Natriuresis.
Perdarahan subarakhnoid menimbulkan hiponatremia,
natriuresis, gangguan sekresi hormon anti diuretik.

Komplikasi non-neurologik
II. Akibat imobilisasi :
A. Bronkopneumonia

Penyebab kematian tersering pada stroke.

Sering terjadi pada penderita yang berbaring terus, terutama disertai


gangguan menelan, gangguan reflek muntah dan reflek batuk dan
akibat gerakan paru yang berkurang. Riwayat merokok dan infeksi paru
misalnya bronkhitis kronis.
B.Tromboplebitis

Gejala klinik pembengkakan pada paha dan betis, pitting edem, nyeri
lokal dengan peninggian suhu.

Terjadi selama 14 hari sesudah onset stroke, puncaknya pada hari ke-5.

Pada penderita yang dirawat di rumah sakit, 50% betis, 35% paha
dan 15% betis yang menjalar ke paha

C. Emboli paru
Insiden emboli paru yang berasal dari vena
femoralis dan vena bagian ilio-ingiuinal >>
dibandingkan vena di betis.
Ditemukan pada 50% penderita stroke yang
meninggal
Kadang-kadang
sebagai
penyebab
kematian.

D. Depresi

E. Kelumpuhan saraf tepi


Anggota gerak yang lumpuh, tidak diletakkan
dalam posisi yang baik lesi kompresi radiks dan
saraf tepi lah N. Radialis, N. Ulnaris, N. Peroneus
komunis dan N. Iskhiadikus.

F. Kontraktur dan deformitas


Terjadi
mengikuti
spastisitas
berat
yang
berlangsung lama. Terjadinya kontraktur akibat adanya
perubahan jaringan lunak disekitar sendi yang bersifat
ireversibel.
Kadang-kadang
dijumpai
keadaan
kombinasi kontraktur dan spastisitas, misalnya
deformitas equinovarus dan deformitas pronasi-fleksi
lengan dan tangan.

PENCEGAHAN STROKE

Mengatur Pola Makan Yang Sehat


Menghentikan Rokok
Menghindari
Minum
Alkohol
dan
Penyalahgunaan Obat
Melakukan Olahraga Yang Teratur
Menghindari Stres dan Beristirahat Yang
Cukup

REHABILITASI
1. POSISI PASIEN

2.LATIHAN PASIF ANGGOTA GERAK ATAS DAN BAWAH

LATIHAN AKTIF
KESEIMBANGAN

4. LATIHAN MOBILISASI

LATIHAN
MENGGUNAKAN
TANGAN YANG
LUMPUH

LATIHAN BERKOMUNIKASI
a) Latihan mengucapkan huruf A, I, U, E, O
b) Latihan mendengar suara, musik, kaset berisi
suara anggota keluarga.
c) Latihan berkomunikasi menggunakan papan yang
bergambar atau berupa tulisan
LATIHAN MELAKUKAN KEGIATAN SEHARI-HARI
Tata Cara Makan
Tata Cara Berpakaian
Tata Cara Menggunakan Kamar Kecil
Tata Cara Berpindah

PROGNOSIS
1. Ad vitam
Angka kematian dari seluruh kasus stroke pertama:
10% hari ke 7
20% hari ke 30
30% tahun ke 1
60% tahun ke 5

2. Ad Functionam
Activiy Daily Living (Barthel index)
Parameter yang dinilai yaitu:
- makan - bab dan bak
- mandi - penggunaan toilet
- grooming
- berpindah, mobilitas
- berpakaian - naik turun tangga

Stroke perdarahan prognosisnya lebih buruk.,


25% pasien meninggal akibat stroke
perdarahan.
Kebanyakan pasien pada post stroke akan
mengalami gangguan fungsi luhur.

4. Bagaimanakah prognosis pada pasien ini?


Berdasarkan penilaian dari parameter
aktivitas sehari-harinya seperti makan, BAK
dan
BAB,
mandi,
berpakaian,
dan
mobilitasnya yang tidak bisa normal
kembali dan harus selalu membutuhkan
pertolongan dari orang lain maka prognosis
pada pasien ini mengarah ke buruk.