Anda di halaman 1dari 11

CLINICAL SCIENCE SESSION

APPENDICITIS
Oleh :
Presentan:
Siti Fatimah

10100104002

Fida Fidiyya

10100104003

Sarah Istiqamah S

10100104044

Partisipan :
R. Tanti Wijayanti

10100104001

Hely Ramadhini

10100104009

Andri Darmawan

10100104010

Gita Parameswara Putri

10100104023

Preceptor :
Dedy Kurniawan, dr. SpB

Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Bedah


Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
RS Islam Al Ihsan Bandung
2009
BAB I

ANATOMI APPENDIX
Appendix, yang merupakan bagian dari sekum, adalah organ rudimenter yang dangkal
dan tipis. Panjangnya berkisar antara 2,5 - 25 cm, rata-rata 6-9 cm. Letak appendix adalah di
regio iliaka kanan, pangkalnya pada sepertiga jarak antara spina iliaka anterior superior dan
umbilikus (titik McBurney).

Gambar 1. Letak Appendix


Letak ujung bebas appendix bermacam-macam, di antaranya adalah di paracolica,
retrocaecal (paling sering), preilial dan postilial, promontoric, pelvic, dan mid-inguinal.
Suplai darah appendix berasal dari arteri appendikularis yang merupakan cabang arteri
caecalis posterior, sedangkan drainase vena appendix melalui vena appendikularis ke vena
caecalis posterior. Kelenjar limfe appendix adalah limfonodi mesentrikus superior. Inervasi saraf
appendix adalah dari n. vagus untuk persarafan parasimpatis dan n. thorakalis X untuk persarafan
simpatis. Mukosa appendiks mensekresi lendir 1-2 ml per hari yang mengandung Imunoglobulin
A untuk mencegah infeksi. Hambatan aliran lendir menyebabkan appendisitis.
BAB II

APPENDICITIS
I.

Definisi
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks veriformis, dan merupakan penyebab

abdomen akut yang paling sering.


II.

Epidemiologi
Penyakit ini dapat mengenai semua umur, baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih

sering mengenai laki-laki berusia 10-30 tahun.


III.

Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi dari bakteri. Berbagai hal berperan sebagai

pencetusnya yaitu sumbatan (obstruksi) lumen appendix, hiperplasia jaringan limfoid, fekalit
(feses yang mengeras), tumor appendix, biji buah-buahan, cacing ascaris dan parasit E.
histolytica yang dapat pula menyebabkan sumbatan.
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan rendah serat dan pengaruh
konstipasi terhadap kejadian appendicitis. Konstipasi menyebabkan peningkatan tekanan
intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional appendix dan meningkatnya
pertumbuhan flora normal kolon. Semua ini akan mempermudah timbulnya appendicitis akut
IV.

Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia

folikel limfoid, fekalit,benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau
neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan.
Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai
keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan
ulserasi mukosa. Padasaat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri
epigastrium.

Obstruksi lumen appendix

Bila sekresi mucus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding.
Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan
nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti
dnegan gangrene. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah
rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan
bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis.
Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.
Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding
apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang
memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena
telah ada gangguan pembuluh darah.

Bagan 1. Patogenesis appendicitis akut fokal

Bagan 2. Appendicitis supuratif akut

Bagan 3. Patogenesis appendicitis perforasi

V.

Manifestasi Klinis
Keluhan apendisitis biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus

yang berhubungan dengan muntah.Dalam 2-12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah,
yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia,
malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi, tetapi kadangkadang terjadi diare, mual, dan muntah.
Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun
dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif, dan dengan

pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal. Perkusi ringan
pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri lepas dan spasme
biasanya juga muncul. Bila tanda Rovsing sign, psoas, dan obturator positif, akan semakin
meyakinkan diagnosis klinis apendisitis.
VI.
1.

Evaluasi
Pemeriksaan Fisik :
Pada pemeriksaan umum, pasien mempertahankan posisi supinasi karena jika sedikit
bergerak maka rasa sakit akan meningkat,
nyeri pada kuadran kanan bawah abdomen, nyeri maksimal pada atau dekat McBurneys
point,
terdapat pula nyeri lepas (rebound tenderness), kadang-kadang terdapat reffered or
indirect rebound tenderness.
Rovsings sign (nyeri pada kuadran kiri bawah ketika palpasi pada kuadran kanan bawah)
juga positif ( menandakan peritonitis ).

Gambar 2. Rovsings sign


Cutaneus hyperesthesia juga terkadang menyertai appendicitis akut,
muscular resistance yang diawali guarding kemudian berlanjut menjadi muscle spasm
(muscular rigidity).

Psoas sign atau obturators sign menandakan iritasi pada otot-otot tersebut.

Gambar 3. Obturators sign dan Psoas sign


Perkusi : Rebound tenderness/Reffered rebound tenderness di Right lower quadrant
Tachycardia dan suhu tubuh meningkat
2.

Pemeriksaan Lab
Akan terjadi leukosistosis ringan (10.000-20.000/ml) dengan peningkatan jumlah
neutrofil.
Pemeriksaan urin juga perlu dilakukan untuk membedakannya dengan kelainan pada
ginjal dan saluran kemih.

3.

Imaging studies
plain film jarang berguna dalam mendiagnosis appendisitis ( fekalith jarang terlihat,
namun jika terlihat, maka ini adalah highly suggestive of diagnosis ),
USG (cepat dan tidak memerlukan kontras) dapat digunakan untuk melihat appendicolith,
dan jika terlihat, maka diagnosis dapat ditegakkan.
CT scan dapat mendiagnosis appendicitis dengan melihat inflammed appendix yang
berdilatasi ( lebih dari 5 cm ) dan dindingnya menebal.

VII.

Diagnosis Banding

GI Tract:

Gastroenteritis akut

Divertikulitis Meckeli

Enteritis regional

Ileitis akut

Perforasi peptic ulcer

Urinary Tract

Kolik ureter

Pielonefritis

Ginekologi:

Kehamilan ektopik

Ovarian torsion

Ovarian cyst

PID

Penatalaksanaan
Persiapan pasien :
Rehidrasi adekuat
Koreksi ketidakseimbangan elektrolit
Nilai status kardiak, pulmo, dan renal
Pemberian antibiotik preoperatif : menurunkan komplikasi infeksi, dan profilaksis

Open Appendectomy

VIII.

o Dilakukannya insisi (1-2 cm) ke medial SIAS dari superficial fascia hingga
aponeurosis otot external oblique pada daerah quadrant kanan bawah dengan Oblique
(McBurney) atau pun transversal (Rocky-Davis) pada otot abdomen.
o Insisi dilakukan pada pusat rasa nyeri atau pun pada daerah yang ditemukan adanya
massa.
o Jika terdapat abses, maka dilakukan pada daerah lateral untuk drainage
retroperitoneal, sehingga mencegah terkontaminasinya kavitas peritoneal yang
menyeluruh. Hal ini juga sangat penting sekali dilakukan pada pasien yang lebih tua
dengan kemungkinan keganasan atau pun diverticulitis.
o Ada beberapa teknik untuk menentukan lokasi appendiks. Salah satunya dengan
mengikuti colon cecum dan ditelusuri hingga ke dasarnya appendiks ditemukan.
Biasanya terjadi mobilitas yang terbatas pada appendiks karena inflamasi. Lakukan
mobilisasi dengan memisahkan mesoappendix dan lakukan ligasi artery appendiceal
untuk mencegah perdarahan.
Ujung artery appendiceal tersebut dapat pula dilakukan inversi dengan Z stich.
Keuntungan open appendectomy adalah biayanya lebih murah, luka hanya pada satu
tempat, waktu pelaksanaan lebih singkat.
IX.

Komplikasi
Yang paling sering ditemukan adalah perforasi, Komplikasi lainnya adalah absess,

peradangan vena porta, septikemia dan kematian.

X.

Prognosis

Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan, tingkat mortilitas dan morbiditas
penyakit ini sangat kecil. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditasdan mortalitas
bila terjadi komplikasi. Serangan berulang dapat terjadi bila apendiks tidak diangkat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Seymour I. Schwartz, MD., F.A.C.S. Schwartzs, Principles of Surgery. 8 th Edition.


McGraw-Hill. 2005..
2. Friedman, Scott L., Kenneth R. McQuiad., James H. Grendell. Current Diagnosis &
Treatment in Gastroenterology. 2nd Edition. Lange,McGraw-Hill. 2003
3. Robbins, Cotran, Kumar & Colin. Pathology Basic of Disease. 6th Ed. WB Saunders
Company;1999.
4. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani Wi, Setiowulan W. Kapita Selekta Kedokteran. 2 ed.
Jakarta: Media Aesculapius Universitas Indonesia; 2000.