Anda di halaman 1dari 26

A.

Judul Percobaan
: Destilasi Fraksinasi
B. Hari / Tanggal Percobaan : Rabu / 19 Februari 2014
C. Selesai Percobaan
: Rabu / 19 Februari 2014
D. Tujuan Percobaan
:
Menentukan indeks bias metanol destilat
Menentukan presentase kemurnmetanoln destilat
E. Kajian Teori
Destilasi adalah suatu metode pemisahan campuran yang
didasarkan pada perbedaan tingkat volatilitas (kemudahan suatu zat
untuk menguap) pada suhu dan tekanan tertentu. Destilasi merupakan
proses fisika dan tidak terjadi adanya reaksi kimmetanol selama proses
berlangsung.

Keterangan gambar :
Suatu campuran yang berupa cairan (15) dimasukkan ke dalam labu (2)
yang dipanaskan melalui penangas (14) dengan heater (13). Suhu
pemanasan dapat dmetanoltur dengan mengamati termometer (4). Pada
saat dipanaskan, sedikit demi sedikit campuran akan menguap. Uap
kemudmetanoln naik melalui pipa (3) den mengalir menuju pendingin /
1

kondenser (5). Pendinginan uap adalah dengan cara mengalirkan air


melalui dinding pendingin. Setelah melalui pendingin, uap akan
mengembun membentuk cairan kembali dan melaju ke adaptor (10) dan
menetes ke labu destilat (8).
Destilasi fraksinasi merupakan suatu teknik pemisahan untuk
larutan yang mempunyai perbedaan titik didih yang tidak terlalu jauh
yaitu sekitar 30oC atau lebih. Dalam destilasi fraksional atau destilasi
bertingkat proses pemisahan parsmetanoll diulang berkali-kali dimana
setmetanolp kali terjadi pemisahan lebih lanjut. Hal ini berarti proses
pengayaan dari uap yang lebih volatil juga terjadi berkali-kali
sepanjang proses destilasi fraksional itu berlangsung
Destilasi adalah proses dimana zat cair dipanaskan hingga titik
didihnya, serta mengalirkan uap ke dalam alat pendingin (kondensor)
dan mengumpulkan hasil pengembunan sebagai zat cair. Tujuan
destilasi adalah pemurnmetanoln zat cair lainnya yang mempunyai titik
didih berbeda. Destilasi merupakan suatu teknik pemisahan larutan
yang berdasarkan pada perbedaan titik didihnya. Destilasi terfraksi
digunakan untuk larutan yang mempunyai perbedaan titik didih yang
tidak terlalu jauh yaitu sekitar 30oC atau lebih. Dasar pemisahan suatu
campuran dengan destilasi adalah adanya perbedaan titik didih dua
cairan atau lebih yang jika campuran tersebut dipanaskan, maka
komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Dengan mengatur suhu secara cermat, kita dapat menguapkan dan
kemudmetanoln mengembunkan komponen-komponen secara bertahap.
Destilasi terfraksi ini berbeda dengan destilasi bias metanola,
karena terdapat suatu kolom fraksionasi dimana terjadi suatu proses
refluks. Proses refluk pada destilasi ini dilakukan agar pemisahan
campuran etanol-air dapat terjadi dengan baik. Kolom fraksionasi
berfungsi agar kontak antara cairan dengan uap terjadi lebih lama.
Sehingga komponen yang lebih ringan dengan titik didih yang lebih

rendah akan terus menguap dam masuk kondensor. Sedangkankan


komponen yang lebih besar akan kembali kedalam labu destilasi.
Tujuan dari percobaan destilasi ini adalah untuk mengetahui
konsentrasi maksimun destilat yang dapat diperoleh, menentukan
HETP (height equivalent to a theoretical plate) pada refluks total, serta
menentukan jumlah tahap minimum (Nmin) pada refluks total. HETP
adalah panjang ismetanoln (panjang kolom) dibagi dengan jumlah
kepingan teoritis, ditentukan untuk mengetahui efesiensi kolom
destilasi. Prinsipnya berdasarkan pada Hukum Roult yaitu tekanan uap
pada larutan ideal pada suhu tertentu sebanding dengan tekanan uap
murni dikali dengan fraksi murni. Dan Hukum Dalton yaitu tekanan
ideal dalam suatu campuran gas sama dengan tekanan parsmetanoll
masing-masing komponennya.
Dasar pemisahan pada destilasi adalah perbedaan titik didih
cairan pada tekanan tertentu, dimana zat cair akan dipanaskan hingga
titik didihnya, serta mengalirkan uap ke dalam kondensor dan
mengumpulkan hasil pengembunan sebagai zat cair (destilat). Destilasi
bertujuan untuk pemurnmetanoln zat cair pada titik didinya, dan
memisahkan campuran cairannya dari zat cair lainnya yang mempunyai
titik didih berbeda. Sebagai contoh adalah pemurnmetanoln alkohol,
pemisahan minyak bumi menjadi fraksi-fraksinya, pembuatan minyak
atsiri dan sebagainya. Pada pemisahan dengan cara destilasi semua
komponen yang terdapat di dalam campuran bersifat mudah menguap
(volatil). Tingkat penguapan (volatilitas) masing-masing komponen
berbeda-beda pada suhu yang sama. Hal ini akan berakibat bahwa pada
suhu tertentu uap yang dihasilkan dari suatu campuran cairan akan
selalu mengandung lebih banyak komponen yang lebih volatil.

DESTILASI FRAKSIONAL

Dalam destilasi fraksional atau destilasi bertingkat proses


pemisahan parsmetanoll diulang berkali-kali, dimana setmetanolp kali
terjadi pemisahan lebih lanjut. Hal ini berarti proses pengayaan dari uap
yang lebih volatil juga terjadi berkali-kali sepanjang proses destilasi
fraksional itu berlangsung. Proses pengayaan itu dapat digambarkan
sebagai berikut.

Menurut gambar dmetanoltas, larutan dengan komposisi XB,0 jika


dipanaskan sampai suhu T0 larutan ini akan mulai mendidih dan
menghasilkan uap dengan komposisi YB,0. Pengembunan uap ini akan
menghasilkan kondensat dengan komposisi XB,1. Komposisi XB,1 ini
sama dengan YB,0, dengan titik didih T1. Kondensat ini dijaga pada suhu
T1 dan sejumlah kecil uap dikumpulkan. Kondensat kedua mempunyai
komponen XB,2 dan bertitik didih T2. Langkah-langkah dalam proses ini
dapat diulang-ulang sampai didapatkan destilat murni dari komponen
yang lebih volatil dan residu murni dari komponen yang kurang volatil.
Kurva Destilasi
Cara yang umum dipakai dalam melukiskan hasil destilat adalah
menggambarkan kurva destilasi, dimana komposisi, titik didih atau
sifat-sifat fisika lain dari destilat digambarkan terhadap persen atau
jumlah destilat. Pemisahan yang sempurna akan diperoleh pada kurva
yang mempunyai sudut pembelokan yang tajam. Hal ini dimungkinkan

untuk campuran yang mudah dipisahkan atau peralatan yang cukup


efektif. Keadaan atau ketajaman pembelokan memberikan gambaran
pendekatan tentang ketajaman pemisahan, karena hal ini berhungan
langsung dengan kemurnmetanoln fraksi yang dikumpulkan. Makin
banyak jumlah destilat transisi atau makin landai sudut yang dibentuk
pada kuva destilasi, makin kecil efisiensi alat yang digunakan.

Faktor- faktor yang mempengaruhi ketajaman pemisahan dalam


proses destilasi adalah
1. Perbedaan komposisi yang mungkin ada dmetanolntara cairan
dan

uap

pada

keadaan

kesetimbangan

hubungan

kesetimbangan uap dan cairan atau volatilitas relatip)


2. Efektifitas kontak dari uap dan cairan yang bias metanola
dinyatakan dalam plat teoritis atau HETP
3. Perbandingan kondensat yang kembali kearah kolom fraksinasi
atau refluks ratio
4. kecepatan uap yang naik kekolom atau kecepatan aliran

destilat.

ALKOHOL

Dalam kimmetanol organik, istilah alkohol merupakan nama


suatu golongan senyawa organik yang tersusun dari unsur C, H, dan O
dengan struktur yang khas. Rumus kimmetanol umum alkohol adalah
CnH2n+1OH'

Penamaan Alkohol :
Dalam sistem tatanama IUPAC, nama-nama senyawa alkana
kehilangan akhiran "e" dan diganti dengan "ol", contohnya metana
menjadi metanol dan etana menjadi etanol. Ketika dibutuhkan, posisi
dari gugus hidroksil dapat diketahui dari nomor di antara nama alkana
dan "ol": 1-propanol untuk CH3CH2CH2OH, 2-propanol untuk
CH3CH(OH)CH3. Jika ada gugus fungsi yang lebih tinggi (seperti
aldehida, keton, atau asam karboksilat, maka awalannya adalah
"hidroksi",contohnya:
Penggunaan

tatanama

1-hidroksi-2-propanon
IUPAC

dipakai

di

(CH3COCH2OH).
publikasi-publikasi

ilmmetanolh dan diperlukan identifikasi detail terhadap substansi


tersebut. Pada konteks lainnya, alkohol bias metanolanya disebut
dengan gugus alkil ditambah dengan kata "alkohol", misalnya metil
alkohol, etil alkohol. Propil alkohol dapat disebut n-propil alkohol atau
isopropil alkohol, tergantung dari dimana gugus fungsinya berikatan,
berikatan pada karbon pertama atau kedua pada rantai propana.
Alkohol dapat dikelompokkan menjadi alohol primer, alkohol
sekunder, dan alkohol tersier, tergantung dari berapa banyak atom
karbon lain yang berikatan dengan atom karbon yang juga mengikat
gugus hidroksil. Alkohol primer mempunyai rumus umum RCH2OH;
alkohol sekunder rumus umumnya RR'CHOH; dan alkohol tersier

rumus umumnya RR'R"COH, dimana R, R', dan R" melambangkan


gugus alkil. Etanol dan n-propil alkohol adalah contoh alkohol primer;
isopropil alkohol adalah contoh alkohol sekunder. Penggunaan awalan
sek- (atau s-) dan tert- (atau t-), bias metanolanya ditulis dalam huruf
miring, dapat digunakan sebelum nama gugus alkil untuk membedakan
alkohol sekunder dan alkohol tersier dari alkohol primer. Contohnya,
isopropil alkohol juga dapat disebut sek-propil alkohol, dan alkohol
tersier (CH3)3COH, atau 2-metil-2-propanol juga dapat disebut dengan
tert-butil alkohol atau tert-butanol.
Kegunaan Alkohol
Bila ditinjau dari kemanfaatannya dalam sintesis senyawa
organik, alkohol mempunyai peran penting. Hal ini karena alkohol
dapat dibuat menjadi berbagai senyawa organik yang termasuk
golongan lain, misalnya alkil halida, aldehid, keton, dan asam
karboksilat. Disamping sebagai pelarut untuk melangsungkan sejumlah
reaksi organik. Dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa anggota
golongan alkohol yang memiliki kegunaan khusus, misalnya: metanol
digunakan sebagai bahan anti pembekuan, etanol digunakan sebagai
sumbser panas karena mempunyai nyata yang jernih dan panas dan
lauril alkohol digunakan dalam pembuatan deterjen.
Sifat-sifat golongan alkohol secara umum adalah :
1. Alkohol monohidrosi suku rendah (1 sampai dengan 4 atom C)
berupa cairan yang tidak berwarna dan dapat larut dalam air dengan
segala perbandingan. Kelarutan alkohol dalam air makin rendah
bila rantai hidrokarbonnya makin panjang.
2.

Makin tinggi berat molekul alkohol, makin tinggi pula titik didih dan
viskositasnya.

3.

Alkohol yang mengandung 12 atau lebih atom C berupa zat padat yang
tidak berwarna

4.

Alkohol alkohol suhu rendah tidak mempunyau rasa tetapi memberikan


kesan panas pada mulut (burning taste)

METANOL
Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau
spiritus, adalah senyawa kimmetanol dengan rumus kimia metanol
CH3OH.

Merupakan bentuk alkohol paling sederhana. Pada "keadaan


atmosfer" metanol berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap,
tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas
(berbau lebih ringan daripada etanol). metanol digunakan sebagai bahan
pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif
bagi etanol industri.Metanol diproduksi secara alami oleh metabolisme
anaerobik oleh bakteri. Hasil proses tersebut adalah uap metanol (dalam
jumlah kecil) di udara. Setelah beberapa hari, uap metanol tersebut akan
teroksidasi oleh oksigen dengan bantuan sinar matahari menjadi karbon
dioksida dan air.
Reaksi kimia metanol yang terbakar di udara dan membentuk karbon
dioksida dan air adalah sebagai berikut:
2 CH3OH + 3 O2 2 CO2 + 4 H2O
Api dari metanol metanol yaitu tidak berwarna. Oleh karena itu, kita
harus berhati-hati bila berada dekat metanol yang terbakar untuk
mencegah cedera akibat api yang tak terlihat. Karena sifatnya yang
beracun, metanol sering digunakan sebagai bahan additif bagi
pembuatan alkohol untuk penggunaan industri; Penambahan "racun" ini
akan menghindarkan industri dari pajak yang dapat dikenakan karena
etanol merupakan bahan utama untuk minuman keras (minuman
beralkohol). Metanol kadang juga disebut sebagai wood alcohol karena
metanol dahulu merupakan produk samping dari distilasi kayu. Saat ini
metanol dihasilkan melului proses multi tahap. Secara singkat, gas alam
dan uap air dibakar dalam tungku untuk membentuk gas hidrogen dan
karbon monoksida; kemudmetanoln, gas hidrogen dan karbon

monoksida ini bereaksi dalam tekanan tinggi dengan bantuan katalis


untuk

menghasilkan

metanol.

Tahap

pembentukannya

adalah

endotermik dan tahap sintesisnya adalah eksotermik.


Pembuatan Metanol
Dalam industri, metanol dibuat dengan beberapa cara, yaitu :
a)

Destilasi Destruktif Kayu, yang menghasilakan campuran yang


mengandung ter, asam asetat, aseton, dan metanol. Cara ini adalah
cara pertama yang ditemukan untuk pembuatan metanol dalam
industri

b)

Mereaksikan karbon monoksida dan hidrogen


CO + 2H2

katalis

CH3OH

Dalam cara pembuatan ini, campuran gas CO dan H 2 dipanaskan


pada suhu sekitar 4500C dengan tekanan 200 atm. Katalis yang
digunakan (ZnO + Cu) perlu diketahui bahwa campuran CO dan H 2
dengan

varmetanolsi

temperatur,

tekanan,

dan

katalis

dapat

menghasilkan senyawa organik yang berbeda-beda (alkohol, asam


karboksilat, ester dan lain-lain). Saat ini, gas sintesis umumnya
dihasilkan dari metana yang merupakan komponen dari gas alam.
Terdapat tiga proses yang dipraktekkan secara komersial. Pada tekanan
sedang 1 hingga 2 MPa (1020 atm) dan temperatur tinggi (sekitar 850
C), metana bereaksi dengan uap air (steam) dengan katalis nikel untuk
menghasilkan gas sintesis menurut reaksi kimia berikut:
CH4 + H2O CO + 3 H2
Reaksi ini, umumnya dinamakan steam-methane reforming atau
SMR, merupakan reaksi endotermik dan limitasi perpindahan panasnya
menjadi batasan dari ukuran reaktor katalitik yang digunakan. Metana
juga dapat mengalami oksidasi parsial dengan molekul oksigen untuk
menghasilkan gas sintesis melalui reaksi kimia berikut:
2 CH4 + O2 2 CO + 4 H2

Reaksi ini adalah eksotermik dan panas yang dihasilkan dapat


digunakan secara in-situ untuk menggerakkan reaksi steam-methane
reforming. Ketika dua proses tersebut dikombinasikan, proses ini
disebut sebagai autothermal reforming. Rasio CO and H2 dapat diatur
dengan menggunakan reaksi perpindahan air-gas (the water-gas shift
reaction):
CO + H2O CO2 + H2,
Karbon monoksida dan hidrogen kemudian bereaksi dengan katalis
kedua untuk menghasilkan metanol. Saat ini, katalis yang umum
digunakan adalah campuran tembaga, seng oksida, dan alumina, yang
pertama kali digunakan oleh ICI pada tahun 1966. Pada 510 MPa (50
100 atm) dan 250 C, ia dapat mengkatalisis produksi metanol dari
karbon monoksida dan hidrogen dengan selektifitas yang tinggi:
CO + 2 H2 CH3OH
Sangat perlu diperhatikan bahwa setiap produksi gas sintesis dari
metana menghasilkan 3 mol hidrogen untuk setiap mol karbon
monoksida, sedangkan sintesis metanol hanya memerlukan 2 mol
hidrogen untuk setiap mol karbon monoksida. Salah satu cara
mengatasi kelebihan hidrogen ini adalah dengan menginjeksikan karbon
dioksida ke dalam reaktor sintesis metanol, dimana ia akan bereaksi
membentuk metanol sesuai dengan reaksi kimia berikut:
CO2 + 3 H2 CH3OH + H2O
Walaupun gas alam merupakan bahan yang paling ekonomis dan
umum digunakan untuk menghasilkan metanol, bahan baku lain juga
dapat digunakan. Ketika tidak terdapat gas alam, produk petroleum
ringan juga dapat digunakan. Di Afrika Selatan, sebuah perusahaan
(Sasol) menghasilkan metanol dengan menggunakan gas sintesis dari
batu bara.

10

F. Alat dan Bahan


Alat
-

Tempat aluminium

Labu dasar bulat

Destilator

Pipa kondensor

Gelas kimmetanol

11

Statif & klem

Plastisin

Selang

Refraktometer

Batu didih

Kompor listrik

Termometer

Gelas ukur

Tabung reaksi

Bahan
-

Spiritus

Aquades

12

G.

Alur Kerja

100 ml spirtus
-Dipanaskan sampai suhu 64.5 oC

Destilat
ditampung dalam Erlenmeyer
2 ml destilat dicari indeks bias destilat dengan menggunakan reflaktometer

Indeks Bias metanol Destilat

Dibandingkan dengan indeks bias metanol(99,9%,95%,80%,70%,60%,50%,40%,30% )

Langkah Kerja :
1. bias
Memasukkan
100:mL
spiritusbias
ke dalam
labu destilasi.
Indeks
destilat
indeks
metanol
% kemurnmetanoln destilat
2. Memanaskan hingga mencapai suhu 64,5 oC.
3. Menampung setiap 10 mL destilat .
4. Mengukur indeks bias destilat dengan menggunakan reflaktometer.
5. Membandingkan

indeks

bias

99,9%,95%,80%,70%,60%,50%,40%,30% .

13

dari

metanol

H.

Hasil Pengamatan
I.

J.

PROSEDUR PERCOBAAN

K.

HASIL

PENGAMATA

N.

AB.
AC.

N
Sebelum reaksi :
Spirtus =

AD.

berwarna ungu
Air = tidak

AE.

berwarna
Suhu awal :

O.
100 ml spirtus
1
P.
-Dipanaskan sampai suhu 64.5 oC
Q.

L.

DUGAAN /

M.

REAKSI
BH.

spiritus

yang

mendidih

akan

KESIM
PULAN

BJ.

Sesuai
dugaan,

menghasilkan

destilat

uap. Uap akan

adalah

berubah menjadi

metanol.

28oC
ampung dalam Erlenmeyer T.
AF. Suhu saat
etanolp 2 ml destilat dicari indeks
bias metanolnya dengan menggunakan
refraktometer
U.
spiritus
V.
mendidih : 64oC
W.
BI.
AG. Setelah reaksi :
Indeks Bias metanol Destilat
X.
AH. Destilat = jernih

air

Metanol

dingkan dengan indeks biasY.


metanol metanol(99,9%,95%,80%,70%,60%,50%,40%,30%
tidak berwarna
AI.
Indeks bias
Z.
metanol
AA.
metanol:
30% = 1,330334
Indeks bias metanol destlat : indeks bias metanol AJ.
metanol
AK. 40%= 1,330260
% kemurnmetanoln destilat
AL. 50%= 1,330259

R.
Destilat
S.

14

ketika

melewati

lebih

kondensor.

dulu

Destilat

menjadi

merupakan

uap

metanol, karena

daripada

pada

air

spiritus

yang dididihkan

karena

metanol

titik didih

akan

menguap

metanol

terlebih dahulu.

<

titik

AM.
AN.
AO.
AP.
AQ.

60%= 1,330258
70%= 1,330249
80%= 1,330145
95%=1,330047
99,9%=
1,320954

AR.
AS.
AT.

Indeks bias

AU.

metanol destilat:
Tabung 1 =

AV.

1.330031
Tabung 2 =

AW.

1.330046
Tabung 3 =
1.330158
Berdasarkan
perhitungan,
diperoleh KD
pada percobaan
I, 2 dan 3 yaitu :

AZ.

Kemurni
an
destilat
yaitu
sebesar

AX.
AY.

didih air.

KD pada
percobaan I :

15

90%.

95,079 %
BA.

KD pada
percobaan II :
95.005 %

BB.

KD pada
percobaan III:
78,835 %

BC.

Maka rata-rata
KD I2 sebesar
90%

BD.
BE.
BF.
BG.

16

BK.

Analisis Data dan Pembahasan


a. Analisis Data
BL.
Pada percobaan destilasi fraksinasi ini, langkah pertama yaitu
dengan memasukkan sebanyak 100 mL spiritus yang memiliki warna
ungu ke dalam labu destilasi. Langkah selanjutnya yaitu dengan
memasukkan 2 buah batu didih ke dalam labu destilasi yang telah berisi
spiritus tersebut dengan hati-hati agra labu destilasi tidak pecah. Labu
yang telah berisi batu didih dan spiritus ini kemudmetanoln diletakkan
dmetanoltas penangas air. Kemudian labu tersebut dihubungkan dengan
menggunakan destilator. Setelah dihubungkan maka tepat diatas
destilator diletakkan termometer untuk mengukur suhu larutan yang
terjadi pada saat destilasi berlangsung. Setelah itu destilator tersebut
dihubungkan dengan kondensor yang telah terhubung dengan selang
bening untuk mengalirkan air. Tepat dibawah kondensor, maka destilat
ditampung. Destilat pertama dibuang, selanjutnya ditampung 10 mL ke
dalam masing-masing 3 tabung reaksi. Setelah destilat berada pada
tabung reaksi, kemudian indeks bias metanol destilat tersebut dapat
diukur dengan menggunakan reflaktometer. Indeks bias destilat ini
kemudian dibandingkan dengan indeks bias metanol yang telah diukur
sebelumnya dengan menggunakan reflaktometer. Langkah akhir yaitu
menghitung % kemurnian destilat yang diperoleh dari percobaan
destilasi fraksinasi ini.
BM.
b. Pembahasan
BN. Pada percobaan destilasi fraksinasi larutan yang akan
dipisahkan berdasarkan titik didihnya menggunakan metode destilasi ini
adalah spiritus. Spiritus merupakan zat kimia yang berasal dari metanol
yang berwujud cair dan berwarna ungu. Langkah pertama percobaan
destilasi fraksinasi ini yaitu dengan cara memasukkan spiritus sebanyak
100 mL ke dalam labu destilasi, kemudian dimasukkan batu didih ke
dalam labu destilasi yang telah berisi spiritus. Penambahan batu didih
ini berfungsi agar panas yang yang berada di dalam labu destilasi ini
akan stabil, sehingga tidak ada pemanasan secara tiba-tiba yang
berakibat pada pecahnya labu destilasi, selain itu penambahan batu

17

didih ini juga dapat mempercepat pemanasan yang berakibat pada


cepatnya penguapan. Jika tidak ada batu didih, maka pemanasan yang
terjadi akan semakin lambat.
BO. Selanjutnya labu destilasi dirangkai dengan destilator
dan kondensor. Destilator yang digunakan merupakan destilator
bertingkat, sehingga uap yang dihasilkan dapat mengalami pemurnian
selama beberapa kali. Setelah itu terrmometer diletakkan tepat diatas
labu destilasi sejajar dengan kondensor. Penggunaan termoeter ini
bertujuan untuk mengukur suhu, sehingga pengamat dapat mengetahui
titik didih uap tersebut dan dapat mengonteol suhu larutan yang
diinginkan. Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk mengukur dan
mengatur titik didih larutan agar terbentuk uap murni yang nantinya
melewati kondensor dan menghasilkan destilat. Suhu dijaga konstan
pada 64.5 oC , hal ini dikarenakan secara teori titik didih metanol
sebesar 64.5 oC. Dalam percobaan ini digunakan mantel sebagai
pemanas. Penggunaan mantel lebih efektif karena terdapat pengantur
besar kecilnya panas ,sehingga suhu yang dihasilkan dapat terus dijaga
konstan.
BP.

Pada destilasi fraksinasi ini larutan spirtus yang

dipanaskan akan mulai mendidih pada suhu 64.5 oC dan menghasilkan


uap . Selanjutnya uap yang dihasilkan akan didinginkan dan
menghasilkan kondensat. Kondensat terus dijaga suhunya dan
menghasilkan uap kembali dengan komposisi yang berbeda. Hal ini
terus berulang sampai dihasilkan destilat murni dari komponen yang
lebih volatile, dalam hal ini metanol. Dan didapatkan pula residu murni
dari komponen yang kurang volatile.
BQ. Destilat yang dihasilkan merupakan larutan jernih
tidak berwarna. Larutan ini merupakan metanol. Destilat yang
dihasilkan merupakan metanol, karena spiritus tersusun atas air dan
metanol. Metanol memiliki titik didih yang lebih rendah daripada air.
Oleh sebab itu metanol akan menguap terlebih dahulu dibandingkan
dengan air. Maka dapat disimpulkan bahwa destilat yang dihasilkan
dalah metanol.

18

BR.

Sebelum membandingkan indeks bias metanol antara

metanol dengan indeks bias metanol dengan indeks bias destilat, maka
dilakukan

pengukuran

indeks

bias

metanol

99,9%,95%,80%,70%,60%,50%,40%,30% dengan menggunakan alat


pengukur indeks bias metanol yaitu reflaktometer.
BS.
Selanjutnya destilat yang diperoleh ditampung sebanyak 10
mL yang masing-masing diletakan pada 3 tabung, dimana tiap
tabungnya berisi 10 ml destilat. 10 mL destilat pada masing-masing
tabung diukur indeks biasnya dengan menggunakan reflaktometer. Pada
percobaan ini diperoleh indeks bias destilat untuk masing masing
tabung sebagai berikut:
BT.

Tabung 1 = 1.330031

BU.

Tabung 2 = 1.330046

BV.

Tabung 3 = 1.330158

BW.
BX.

Indeks bias metanol yang telah diukur menggunakan

reflaktometer :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Indeks bias metanol metanol 30% = 1,3300334


Indeks bias metanol metanol 40% = 1,330260
Indeks bias metanol metanol 50% = 1,330259
Indeks bias metanol metanol 60% = 1,330258
Indeks bias metanol metanol 70% = 1,330249
Indeks bias metanol metanol 80% = 1,330145
Indeks bias metanol metanol 95% = 1,330047
Indeks bias metanol metanol 99,9% = 1,329054

BY.
BZ.

Pada percobaan tersebut, diperoleh indeks bias destilat yang

pertama sebesar 1,330031. Maka jika dibandingkan dengan indeks bias


metanol yang telah diukur sebelumnya, batas atas menggunakan metanol
95% dengan indeks bias sebesar 1,330047 dan batas bawh menggunakan
metanol 99,9% dengan indeks bias sebesar 1,329054. Sehingga
berdasarkan

perhitungan

yang

berada

pada

lampiran

diperoleh

%kemurnian destilat sebesar 95,079%. Pada pengukuran kemurnian


indeks bias pada percobaan kedua, sebesar 1,330046. Maka jika

19

dibandingkan dengan indeks bias metanol yang telah diukur sebelumnya,


batas atas menggunakan metanol 95% dengan indeks bias sebesar
1,330047 dan batas bawh menggunakan metanol 99,9% dengan indeks
bias sebesar 1,329054. Sehingga berdasarkan perhitungan yang berada
pada lampiran diperoleh %kemurnian destilat sebesar 95,005%.
CA.

Sedangkan pada percobaan yang ketiga diperoleh indeks bias

detilat sebesar 1,330158. Maka jika dibandingkan dengan indeks bias


metanol yang telah diukur sebelumnya, batas atas menggunakan metanol
70% dengan indeks bias sebesar 1,330249 dan batas bawh menggunakan
metanol 80% dengan indeks bias sebesar 1,330146. Sehingga
berdasarkan

perhitungan

yang

berada

pada

lampiran

diperoleh

%kemurnian destilat sebesar 78,835%.


CB.

Berdasarkan perhitungan tersebut, maka % kemurnian

destilat rata-rata sebesar 90%. Hal tersebut dapat diartikan bahwa pada
percobaan ini 10% yang lain merupakan komponen yang lainnya.

CR.

CC.
CD.
CE.
CF.
CG.
CH.
CI.
CJ.
CK.
CL.
CM.
CN.
CO.
CP.
CQ.
Kesimpulan
CS.
Dari percobaan yang telah kami lakukan diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. % kemurnian destilat rata-rata yang dihasilkan pada percobaan
destilasi fraksinasi berbahan dasar spiritus ini yaitu sebesar 90%.
2. Dari percobaan tersebut, maka 10% yang lain merupakan campuran
dari komponen yang lain yang berada dalam larutan tersebut.
CT.

20

CU.
CV.
CW.
CX.
CY.
CZ.
DA.
DB.
DC.
DD.
DE.
DF.
DG.
DH.
DI.
DJ.
DK.
DL.
DM.

DAFTAR PUSTAKA

DN.
DO.

Azizah,

Utiya.

Kulmetanolh

dkk.

2007.Panduan

Kimmetanol

PemisahanKimmetanol.

Analitik

Surabaya:

Praktikum
II:

Mata

Dasar-Dasar

Universitas

Negeri

Surabaya.
DP.

Budmetanolsih, Endang.Dkk. 2003. Common Textbook


Kimmetanol Analitik II. Malang: JICA

21

DQ.

Setmetanolrso, Pirim,. Dkk. 2014. Panduan Praktikum


Kimmetanol Analitik II: Dasar-Dasar Pemisahan
Kimmetanol. Surabaya: UNESA.

DR.

Svehla, G. 1979. Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik


Kualitatif Makro dan Semimikro. Edisi Kelima. Terjemahan
oleh Ir. L. Setiono dan Dr. A. Hadyana Pudjaatmaka. 1985.
Jakarta: PT. Kalman Medmetanol Pustaka.

DS.

Underwood, A. L. dkk. 1986.

Analisis Kimmetanol

Kuantitatif. Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.


DT.

Evlinlmetanolny,

Fernanda.

2013.

Laporan

Destilasi.

http://evlynzmanggala.blogspot.com/2013/01/laporandestilasi_5639.html. Diunduh tanggal 10 - Februari 2014


pada pukul 18:09 WIB.
DU.

Mardika,

Siti

Fauziyah.

2012.

Destilasi

Fraksinasi.

http://sitifauzmetanolhmardika.blogspot.com/2012/04/destil
asi-fraksinasi.html. Diunduh tanggal 10 - Februari 2014
pada pukul 18:04 WIB.
DV.

Rahayu,

Triyasa.

2012.

Destilasi

Fraksinasi.

http://triyasrahayu.blogspot.com/2012/02/destilasifraksinasi.html. Dmetanolkses pada tanggal 10 Februari


2014 pada pukul 18:26 WIB.
DW.
DX. LAMPIRAN
DY.

Perhitungan

DZ.

Pengukuran dengan menggunakan reflaktometer :

1.
2.
3.
4.

Indeks bias metanol metanol 30% = 1,3300334


Indeks bias metanol metanol 40% = 1,330260
Indeks bias metanol metanol 50% = 1,330259
Indeks bias metanol metanol 60% = 1,330258

22

5. Indeks bias metanol metanol 70% = 1,330249


6. Indeks bias metanol metanol 80% = 1,330145
7. Indeks bias metanol metanol 95% = 1,330047
8. Indeks bias metanol metanol 99,9% = 1,329054
EA.
EB.

Indeks bias metanol destilat yang diukur dengan menggunakan


reflaktometer :

1. Destilat I = 1,330031
2. Destilat II = 1,330046
3. Destilat III = 1,330158
EC.

Setelah mendapatkan indeks bias tersebut, maka mengukur %


kemurnian destilat dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :

ED.

xd =

z y
= ( batas atas batasbawah ) + batasbawah
x y

P
ercobaan I:
EE. IB destilat = 1,330031
EF. Batas atas = 95% IB = 1,330047
EG. Batas bawah = 99,9% IB= 1,329054
EH. Maka :
EI. % kemurnian destilat =
n sampeln batas bawah
x ( batas atas batasbawah)+ batas bawah
n batasatasn batas bawah

23

EJ. % kemurnian destilat =

1,3300311,329054
x ( 95 99,9 ) +95
1,3300471,329054

EK. % kemurnian destilat = 95,079%


EL.

P
ercobaan II :
EM. IB destilat = 1,330046
EN. Batas atas = 95% IB = 1,330047
EO. Batas bawah = 99,9% IB= 1,329054
EP. Maka :
EQ. % kemurnian destilat =
n sampeln batas bawah
x ( batas atas batasbawah)+ batas bawah
n batasatasn batas bawah
ER. % kemurnian destilat =

1, 3300461,329054
x ( 95 99,9 )+ 95
1,3300471,329054

ES. % kemurnian destilat = 95,005%


ET.

24

P
ercobaan III:
EU. IB destilat = 1,330158
EV. Batas atas = 70 % IB = 1,330249
EW. Batas bawah = 80 % IB= 1,330146
EX. Maka :
EY. % kemurnian destilat =
n sampeln batas bawah
x ( batas atas batasbawah)+ batas bawah
n batasatasn batas bawah
EZ. % kemurnian destilat =

1, 3301581,3 30146
x ( 70 80 )+ 80
1, 3300461,330146

FA. % kemurnian destilat = 78,835 %


FB.
FC. Berdasarkan perhitungan tersebut, maka % kemurnian destilat ratarata sebesar :
FD. % kemurnian destilat rata-rata =

DestilatRangkaian
yang ditampung
alat yang
dalam
digunakan
gelas u

95,079 +95,005 +78,835 268,919


=
=89,6396 %
3
3
FE. Apabila dibulatkan, maka %kemurnian destilat rata-rata yaitu 90%
FF.
FG.

Lampiran Gambar

FH.
FI.
Pengukuran indeks bias
destilat
menggunakan
destilat
yangdengan
ditampung
dituangkanreflaktometer
dalam tabung reaksi

25

FJ.
FK.
FL.
FM.
FN.
FO.
FP.
FQ.
FR.
FS.
FT.
FU.
FV.
FW.
FX.
FY.
FZ.
GA.
GB.
GC.
GD.
GE.
30%,
40%,
50%,
60%,
70%,dengan
80%, 95%,
99,9%
Pengukuran indeks bias metanol 30%, 40%, Metanol
50%, 60%,
70%,
80%,
95%,
99,9%
menggunakan
reflaktometer

26