Anda di halaman 1dari 14

AUDIT TERHADAP SIKLUS PRODUKSI: PENGUJIAN SUBSTANTIF

TERHADAP SALDO SEDIAAN


MAKALAH AUDITING II
\

ROBBY ADAM HABIBY


C1C013046
M.ARDIMAS MARSHEL
C1C013037
JOKO PURNOMO C1C013097

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS JAMBI

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk bekerja
bersama untuk menyelesaikan makalah ini. Dimana makalah ini merupakan salah
satu dari tugas matakuliah Auditing II , yaitu mengenai Audit Terhadap Siklus
Produksi: Pengujian Substantif Terhadap Saldo Sedian. Tidak lupa kami ucapkan
terimakasih kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan
dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Tujuan dari makalah ini adalah untuk melengkapi salah satu tugas
matakuliah Auditing II dan juga untuk membantu teman-teman memahami lebih
jauh tentang Audit Terhadap Siklus Produksi: Pengujian Substantif Terhadap
Saldo Sedian. Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dan teman-teman.

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar . 2
Daftar isi ........ 3
Bab I : Pendahuluan .... 4
1.1 Latar Belakang ..... 5
1.2 Rumusan Masalah .... 5
1.3 Tujuan Penulisan . 5
1.4 Manfaat Penulisan ... 5
Bab II : Pembahasan ... 6
2.1 Deskripsi Pembahasan 6
2.2 PABU dalam Penyajian Sediaan dalam Neraca ... 7
2.3 Tujuan Pengujian Substantif Terhadap Sediaan . 8
2.4 Program Pengujian Substantif terhadap Saldo Sediaan . 9
Bab III : Penutup ... 13
3.1 Kesimpulan . 13
Daftar Pustaka 14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Audit terhadap siklus produksi mencakup dua pendekatan yaitu pengujian
pengendalian dan pengujian substansi. Pengujian pengendalian bertujuan untuk
memahamai struktur pengendalian intern terhadap siklus produksi, yang
selanjutnya digunakan sebagai dasar pengujian substansi.
Pengujian substansi dimaksudkan untuk melakukan verifikasi terhadap
kelayakan jumlah rupiah serta kesesuaian penyajiannya dengan prinsip akuntansi
yang diterapkan di Indonesia.
Kedua pendekatan ini sangat berbeda dalam imlpementasinya, sehingga
program audit untuk yang kedua pendekatan tersebut juga sangat berbeda.
Sebelum membahas lebih lanjut siklus produksi ini, terlebih dahulu perlu
dijelaskan pengertian siklus produksi yaitu adalah aktivitas yang terkait dengan
pengolahan bahan baku menjadi produk jadi.
Dengan demikian kami disini akan membahas salah satu aspek mengenai
siklus produksi yaitu, Audit Terhadap Siklus Produksi: Pengujian Substantif
Terhadap Saldo Sedian.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan diangkat dalam makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud pengujian substantif terhadap saldo sediaan?
2. Apa saja PABU dalam penyajian sediaan dalam neraca?
3. Apa saja tujuan pengujian substantif terhadap sediaan?
4. Prosedur apa saja yang ada pada pengujian subtantif saldo sediaan?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan makalah ini yaitu:
1.
2.
3.
4.

Menjelaskan pengertian pengujian substantif terhadap saldo sediaan


Memaparkan PABU penyajian saldo sediaan dalam neraca
Menjelaskan apa saja tujuan pengujian substantif dalam saldo sediaan
Menjelaskan prosedur pengujian substantif terhadap saldo sediaan

1.4 Manfaat Penulisan


Makalah ini kami buat dengan tujuan sebagai pertanggung jawaban tertulis
dari seseorang/sekelompok orang yang diberi tugas kepada pemberi tugas. Kami
juga berharap dengan makalah ini dapat bemanfaat bagi pembaca yang
memerlukan informasi mengenai audit terhadap siklus produksi: pengujian
substantif terhadap saldo sediaan.

BAB II
PEMBAHASAN
.1 Deskripsi Sediaan
Sediaan merupakan unsur aktiva yang disimpan dengan tujuan untuk
dijual dalam kegiatan bisnis yang normal ataupun barang-barang yang akan
dikonsumsi dalam pengolahan produk yang akan dikonsumsi dalam pengolahan
produk yang akan dijual. Didalam perusahaan dagang, sediaan terutama terdiri
dari sediaan barang dagang. Sedangkan dalam perusahaan manufaktur sediaan
terdiri dari sediaan bahan baku dan bahan penolong, sediaan produk dalam proses,
sediaan produk jadi, sediaan suku cadang dan bahan habis pakai pabrik.
Sediaan

umumnya

mendapat

perhatian

yang

lebih

besar

dari

auditordidalam proses auditnya karena berbagai alasan, sebagai berikut :


1. Umumnya sediaan merupakan komponen aktiva lancar yang jumlahnya
cukup material dan merupakan objek manipulasi serta tepat terjadinya
kesalahan-kesalahan besar.
2. Penentuan besarnya nilai sendiaan secara langsung mempengaruhi kos
barang yang dijual sehingga berpengaruh pula terhadap perhitungan laba
tahun yang bersangkutan.
3. Vertifikasi kuantitas, kondisi dan nilai sediaan merupakan tugas yang lebih
kompleks dan sulit dibandingkan dengan vertifikasi sebagaian besar unsur
laporan keuangan yang lain.
4. Seringkali sediaan disimpan di berbagai tempat sehingga menyulitkan
pengawasan dan penghitungan fisiknya.
5. Adanya berbagai macam sediaan menimbulkan kesulitan bagi auditor
dalam melaksanakan auditnya.

Contoh Kasus:

Pada tahun 1939, di USA, terjadi peristiwa besar yang menyangkut


sediaan. Sebuah perusahaan obat-obatan yang bernama Mckesson & Robins, Inc.
menyajikan laporan keuangan yang di antaranya berisi aktiva fiktif sebesar
US$19,000,000, yang kira-kira sama dengan 25% dari total aktivanya. Dari
jumlah aktiva fiktif tersebut, termasuk di dalamnya sediaan fiktif sebesar
US$10,000,000. Pada saat itu auditor independen yang melaksanakan audit
memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian, tanpa dapat menunjukan adanya
penggelapan tersebut. Standar auditing yang berlaku saat itu tidak mewajibkan
auditor melaksanakan pengamatan terhadap perhitungan fisik sediaan (inventory
count observation).
.2 Prinsip Akuntansi Berterima Umum dalam Penyajian Sediaan dalam
Neraca
Sebelum membahas pengujian substantif terhadap sediaan, perlu diketahui
lebih dahulu prinsip akuntansi berterima umum dalam penyajian sediaan di neraca
berikut ini:
1. Laporan keuangan harus menjelaskan bahwa sediaan dinilai dengan lower
of cost or market dan harus menyebutkan metode yang digunakan dalam
menentukan kos sediaan.
2. Jika sediaan dinyatakan pada kosnya, nilai pasarnya pada tanggal neraca
harus dicantumkan dalam tanda kurung, dan jika sediaan diturunkan nilai
pada harga pasarnya, kosnya harus dicantumkan dalam tanda kurung juga.
Kos pengganti ini (current replacement cost) harus dicantumkan dalam
laporan keuangan untuk sediaan yang kosnya ditentukan berdasarkan
metode masuk terakhir keluar pertama (MTKP/LIFO).
3. Akibat perubahan metode penilaian sediaan terhadap perhitungan rugi laba
tahun yang diaudit harus dijelaskan dalam laporan keuangan dan auditor
harus menyatakan pengecualian mengenai konsistensi penerapan prisip
akuntansi berterima umum dalam laporan audit.
4. Penjelasan yang lengkap harus dibuat dalam laporan keuangan jika
sediaan digadaikan sebagai jaminan utang yang ditarik oleh klien.

5. Jika jumlahnya material, sediaan dalam perusahaan manufaktur harus


dikelompokkan dalam kelompok utama yaitu sediaan produk jadi, sediaan
produk dalam proses, dan sediaan bahan baku. Penyajian kelompok
sediaan tersebut dalam neraca berdasarkan urutan likuiditasnya.
6. Perjanjian pembelian harus dijelaskan dalam laporan keuangan, jika
jumlahnya material ataupun bersifat luar biasa.
7. Cadangan untuk menghadapi kemungkinan turunnya harga sediaan setelah
tanggal neraca harus dibentuk dengan menyelisihkan sebagian laba yang
ditahan. Cadangan ini tidak boleh dikurangkan dari sediaan, namun harus
disajikan sebagai pengurang akun Laba Ditahan.
.3 Tujuan Pengujian Substantif Terhadap Sediaan
Tujuan audit terhadap sediaan:
1. Memperoleh

keyakinan

tentang

keadaan

catatan

akuntansi

yang

bersangkutan dengan sediaan.


2. Membuktikan asersi keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan
keterjadiaan transaksi yang berkaitan dengan sediaan.
3. Membuktikan asersi kelengkapan transaksi yang berkaitan dengan sediaan
yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo sediaan yang
disajikan di neraca.
4. Membuktikan asersi hak kepemilikan klien atas sediaan yang dicantumkan
di neraca.
5. Membuktikan asersi penilaian sediaan yang dicantumkan di neraca.
6. Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan sediaan di neraca.

.4 Program Pengujian Substantif terhadap Saldo Sediaan


.4.1

Prosedur Audit Awal

Sesuai dengan sediaan yang benar-benar ada pada tanggal neraca, auditor
melakukan rekonsoliasi antara informasi sediaan yang di cantumkan di neraca
dengan catatan akuntansi yang mendukungnya.
Karena itu, auditor malakukan melakukan 5 prosedur audit berikut ini
dalam melakukan rekonsoliasi informasi sediaan di neraca dengan catatan
akuntansi yang bersangkutan:
1. Usut saldo sediaan yang tercantum di neraca ke saldo akun, Sediaan yang
bersangkutandi dalam buku besar.
2. Hitung kembali saldo akun sediaan di buku besar.
3. Usut saldo awal akun sediaan ke kertas kerja tahun yang lalu.
4. Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun sediaan ke jurnal yang
bersangkutan.
5. Lakukan rekonsoliasi biku pembantu sediaan dengan akun control sediaan
di buku besar.
.4.2

Prosedur Analitik
Prosedur analitik ini merupakan pengecekan secara menyeluruh mengenai

kewajaran sediaan yang disajikan neraca.Dalam prosedur ini, auditor menghitung


berbagai ratio yang bersangkutan dengan sediaan.
Rasio berikut ini seringkali digunakan oleh auditor dalam pengujian analitik
terhadap sediaan :
Ratio
1.Tingkat perputaran sediaan
Sediaan produk jadi
Sediaan produk dalam proses
Sediaan bahan baku
Sediaan barang dagangan

Formula
Kos produk yang dijual

Rerata saldo sediaan produk jadi

Kos produksi Rerata saldo sediaan produk dalam proses


Biaya bahan baku

rerata saldo sediaan bahan baku

Kos produk yang dijual rerata saldo sediaan barang


dagangan
2.Ratio sediaan dengan
aktiva lancar
3.Ratio laba bruto dengan
hasil penjulan

.4.3

Sediaan

Aktiva lancar

Laba bruto hasil penjualan bersih

Pengujian terhadap Transaksi Rinci

Auditor melakukan pengujian substantif terhadap transaksi rinci yang


mendebit dan mengkredit akun sediaan dan pengujian pisah batas yang digunakan
untuk mencatat transaksi yang berkaitan dengan akun tersebut.
1. Periksa sampel transaksi yang tercatat dalam akun sediaan ke dokumen
yang mendukung timbulnya transaksi tersebut.
2. Periksa pendebitan akun sediaan ke dokumen pendukung: bukti kas
keluar,faktur pembelian,laporan penerimaan barang, dan surat order
pembelian.
3. Periksa pengkreditan akun sediaan ke dokumen pendukung: faktur
penjualan,laporan

pengiriman

barang,

bukti

pemakaian

barang

gudang,memo debit untuk retur pembelian.


4. Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan sediaan.
5. Periksa dokumen yang mendukung transaksi pembelian dalam minggu
terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca.
6. Periksa dokumen yang mendukung berkurangnya sediaan dalam Minggu
terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca.
.4.4

Pengujian terhadap Saldo Akun Rinci


Prosedur Audit yang ditempuh oleh auditor dalam melaksanakan

pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan adalah:


1. Pengamatan Terhadap Penghitungan Fisik Sediaan Untuk membuktikan
asersi:
1) keberadaan dan keterjadian,
2) kelengkapan,
3) penilaian sediaan, auditor

melakukan

pengamatan

terhadap

perhitungan fisik sediaan.


a. Memeriksa instruksi tertulis mengenai perhitungan fisik sediaan.
Instruksi tertulis mengenai perhitungan fisik sediaan sebaiknya di
susun bersama antara klien dengan auditor independen, sehingga jika
instruksi tersebut digunakan untuk melaksanakan penghitungan fisik
sediaan. Auditor harus memeriksa instruksi tertulis yang dibuat oleh
klien untuk memperoleh keyakinan mengenai ketelitian dan
keandalan data hasil penghitungan fisik sediaan.
b. Melakukan pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan yang
telah dilakukan oleh klien. Pengujian fisik sediaan merupakan

10

prosedur yang harus dilakukan oleh klien untuk menjamin ketelitian


data sediaan yang di catat dalam catatan akuntansinya.
2. Kirimkan surat konfirmasi yang disimpan di gudang pihak luar.
a. Mintalah informasi mengenai barang-barang klien yg dijual secara
konsinyasi dan barang-barang titipan yang ada di tangan klien.
b. Mintalah informasi mengenai sediaan yang dijadikan jaminan
penarikan utang.
c. Lakukan pengujian terhadap penilaian sediaan.
d. Mintalah informasi mengenai metode penilaian sediaan yg digunakan
oleh klien.
e. Periksa kesesuaian kos per satuan sediaan dengan prinsip akuntansi
berterima umum.
f. Periksa catatan pendukung yang bersangkutan dengan data kos per
satuan sediaan.
g. Bandingkan laba bruto tahun yang diaudit dengan laba bruto tahun
sebelumnya.
h. Lakukan pengamatan terhadap unsur sediaan yang rusak.
i. Hitung tingkat perputaran sediaan dan bandingkan dengan tingkat
perputaran sediaan tahun sebelumnya.
j. Lakukan pengamatan terhadap sediaan yang lambat pemakaiannya
atau penjualannya.
k. Mintalah surat representasi sediaan dari klien

.4.5

Pemeriksaan Penyajian dan Pengungkapan Sediaan di Neraca

Auditor melakukan verifikasi penyajian sediaan di neraca dengan cara:


1. Memeriksa klarifikasi sediaan di neraca. Jika jumlahnya material, sediaan
dalam perusahaan manufaktur harus disajikan menurut unsur-unsur utama
sediaan.
2. Memeriksa penjelasan yang bersangkutan dengan sediaan. Klien
diharuskan menjelaskan di dalam laporan keuangannya mengenai metode
penentuan kos dan metode penilaian yang digunakan dalam menyajikan
sediaan di neraca.

11

3. Melakukan analisis review terhadap sediaan. Review analitik ini


merupakan review secara menyeluruh mengenai kewajaran sediaan yang
disajikan di neraca.Dalam prosedur ini auditor menghitung berbagai ratio
yang bersangkutan dengan sediaan.

BAB III
PENUTUP
.1 Kesimpulan
Sediaan merupakan unsur aktiva yang disimpan dengan tujuan untuk
dijual dalam kegiatan bisnis yang normal ataupun barang-barang yang akan
dikonsumsi dalam pengolahan produk yang akan dikonsumsi dalam pengolahan
produk yang akan dijual. Didalam perusahaan dagang, sediaan terutama terdiri
dari sediaan barang dagang. Sedangkan dalam perusahaan manufaktur sediaan
12

terdiri dari sediaan bahan baku dan bahan penolong, sediaan produk dalam proses,
sediaan produk jadi, sediaan suku cadang dan bahan habis pakai pabrik.
Tujuan audit terhadap sediaan: (1)Memperoleh keyakinan tentang keadaan
catatan akuntansi yang bersangkutan dengan sediaan. (2) Membuktikan asersi
keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadiaan transaksi yang
berkaitan dengan sediaan. (3) Membuktikan asersi kelengkapan transaksi yang
berkaitan dengan sediaan yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan
saldo sediaan yang disajikan di neraca. (4) Membuktikan asersi hak kepemilikan
klien atas sediaan yang dicantumkan di neraca. (5) Membuktikan asersi penilaian
sediaan yang dicantumkan di neraca. (6) Membuktikan asersi penyajian dan
pengungkapan sediaan di neraca.

DAFTAR PUSTAKA
http://accounting-media.blogspot.co.id/2014/05/audit-siklus-produksipengujian.html
http://azkiya-nurul.blogspot.co.id/2012_10_01_archive.html
http://budivelayati.blogspot.co.id/2011/09/pengujian-substantif-terhadapsaldo.html

13

http://subektihandiyati.blogspot.co.id/2014/09/audit-terhadap-siklusproduksi.html

14

Anda mungkin juga menyukai