Anda di halaman 1dari 4

Anemia Defisiensi Besi

Definisi
Anemia yang terjadi akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoesis karena
cadangan besi kosong. Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya pembentukan
hemoglobin.
Etiologi
1. Kebutuhan zat besi meningkat: anak dalam masa pertumbuhan, kehamilan,
dan laktasi
2. Kehilangan zat besi karena perdarahan traktrus gastroinstestinal : pemakaian
obat anti inflamasa non steroid (OAINS), tukak peptik, kanker lambung,
kanker kolon, divertikulosis, hemoroid, dan infeksis cacing tambang (tersering
di Indonesia)
3. Konsumsi zat besi yang kurang (faktor nutrisi), yaitu kurangnya jumlah
konsumsi zat besi dalam makanan sehari-hari. Kebutuhan zat besi yang
diperoleh dari makanan ialah sekitar 20 mg/hari. Dari jumlah tersebut, kurang
lebih hanya 2 mg yang diserap.
4. Gangguan absorpsi zat besi: pasca gastrektomi, penyakit Crohn, dan tropical
sprue.
Klasifikasi
Defisiensi besi merupakan tahapan akhir dari penurunan cadangan besi yang telah
menimbulkan gejala klinis. Berikut ini adalah tahapannya :
1. Deplesi besi : cadangan besi menurun, penyediaan besi untuk eritropoesis
belum terganggu
2. Eritopoiesis defisiensi besi : cadangan besi kosong, penyediaan besi untuk
eritropoesis terganggu, belum muncul anemia secara laboratoris
3. Anemia defisiensi besi : cadangan besi kosong, sudah muncul anemia
defisiensi besi
Manifestasi klinis

Gejala umum anemia : lemah, cepat lelah, mata berkunang-kunang, pucat


Gejala khas defisiensi besi : koilonikia (kuku sendok), atrofi papil ldah,
stomatitis angularis, disfagia, pica

Stomatitis angularis ialah lesi makulopapular dan vesikular pada kulit sudut

bibir dan perbatasan mukokutaneus.


Atrofi papil ialah kondisi dimana tidak terdapat atau menumpulnya papil

filiformis pada lidah


Gejala disfagia muncul akibat rusaknya epitel hipofaring, besi termasuk salah
satu nutrisi yang diperlukan untuk replikasi, penyembuhan, dan proteksi sel
sehingga defisiensi Fe akan menyebabkan kerusakan sel yang terjadi pada

beberapa area tersebut.


Koilonikia ialah hilangnya konveksitas longitudinal dan lateral pada kuku,

dengan penebalan pada ujung distal menyerupai sendok.


Pica ialah perilaku memakan bahan-bahan non nutrisi seperti pasir, tanah,
kapur, dan sebagainya.

Diagnosis
Anemia defisiensi besi ditegakkan apabila ditemukan penurunan kadar Hb dan
penurunan kadar Fe serum. Profil hematologik pada anemia defisiensi besi adalah
sebagai berikut :
1. Kadar hemoglobin dan indeks eritrosit: Hb , MCV , MCH , MCHC
2. Apusan darah tepi dapat ditemukan gambaran anemia mikrositik hipokrom,
anisositosis, poikilositosis, sel cincin, sel pensil
3. Besi (Fe) serum menurun hingga < 50 mcg/dL. Besi termasuk acute phase
reactant yang akan meningkat pada kondisi inflamasi (positif palsu)
4. Total iron binding capacity (TIBC) memningkat > 350 mcg/dL. TIBC
menggambarkan jumlah total besi yang dapat dibawa oleh protein transferin
5. Saturasi transferin <15%. Saturasi transferin menggambarkan persentasi dari
transferin yang sedang berikatan dengan besi.
6. Penurunan kadar feritin serum. Feritin merupakan indikator cadangan besi
yang baik, namun tidak dapat dijadikan patokan pada keadaan inflamasi.
Untuk daerah tropik direkomendasikan menggunakan angka <20 mg/L sebagai
kriteria diagnosis anemia defisiensi besi.
Diagnosis Banding
Anemia

Anemia

Trait

Anemia

Derajat

defisiensi besi
Ringan - berat

penyakit kronis
ringan

thalasemia
ringan

sideroblastik
Ringan-berat

anemia
MCV

/Normal

/Normal

MCH
Besi serum
TIBC
Saturasi

/Normal

/Normal

Normal /
Normal /

/Normal
Normal /
Normal /

transferin
Besi sumsum

Negatif

Positif

Positif kuat

Positif dengan

Normal /

Normal /
Normal

ring sideroblast
Normal /
Normal

Normal

HbA2

Normal

tulang
Feritin serum
Protoporfirin

eritrosit
Elektrofeoresis Normal
Hb

Tatalaksana
1. Terapi kausal, dengan mengatasi penyebab perdarahan yang terjadi, misalnya
mengobati infeksi cacing tambang
2. Pemberian preparat besi (Fe): ferrous sulfat peroral 3x200 mg selama 3-6
bulan, ada pula yang menganjurkan hingga 12 bulan. Preparat diberikan saat
perut kosong
- pada pasien dengan keluhan gastroinstestinal seperti mual, muntah,
konstipaso, pemberian ferrous sulfat dapat dilakukan saat makan atau
-

dosis dikurangi menjadi 3 x 100 mg


dapat diberikan preparat vitamin C 3 x 100 mg untuk meningkatkan

penyerapan besi
3. Terapi besi parenteral : iron dextran complex (50 mg/ml), subkutam, atau
intravena pelan. Rute parenteral bertujuan mengembalikan kadar Hb dan
mengisi besi hingga 50-100 mg
Dosis kebutuhan besi (mg) = [(15-Hb pasien) x Berat Badan x 2,4] + (5000-1000 mg)
Namun, rute ini bukan pilihan utama dan hanya dilakukan atas indikasi :
-

intoleransi terhadap pemberian besi oral


kepatuhan terhadap pemberian oral rendah
gangguan pencernaan yang dapat kambuh jika diberikan preparat besi oral,

misalnya kolitis ulseratif


penyerapan besi terganggu misalnya gastrektomi
terjadinya kehilangan darah dalam jumlah besar sehingga tidak dapat

dikompensasi dengan pemberian preparat oral.


Kebutuhan besi yang besar dalam waktu singkat

Defisiensi besi fungsional relatif akibat pemberian eritropoetin pada


anemia gagal ginjal kronis.

Komplikasi
anemia defisiensi besi kronis jarang menimbulkan komplikasi berat. Perdarahan
hebat dapat menyebabkan kematian, berkaitan dengan hipoksia yang disebabkan oleh
anemia pasca perdarahan. Pada anak-anak anemia defisiensi besi berhubungan dengan
gangguan fungsi kognitif, tumbuh kembang, dan imunitas tubuh.
Prognosis
Tanda respon pengobatan yang baik, antara lain retikulosit naik pada minggu pertama,
mencapai puncak pada hari ke-10 dan kembali normal setelah hari ke-14, kenaikan
Hb 0,15 gr/dL per hari atau 2 g/dL setelah 3-4 minggu sehingga Hb akan kembali
normal setelah 4-10 minggu.