Anda di halaman 1dari 12

SMAW (SHIELDED METAL ARC WELDING)

Proses pengelasan (welding) merupakan salah satu proses penyambungan material (material joining).
Adapun untuk definisi dari proses pengelasan yang mengacu pada AWS (American Welding Society),
proses pengelasan adalah proses penyambungan antara metal atau non-metal yang menghasilkan satu
bagian yang menyatu, dengan memanaskan material yang akan disambung sampai pada suhu
pengelasan tertentu, dengan atau tanpa penekanan, dan dengan atau tanpa logam pengisi. Meskipun
dalam metode proses pengelasan tidak hanya berupa proses penyambungan, tetapi juga bisa berupa
proses pemotongan dan brazing. Proses pengelasan dibedakan menjadi beberapa jenis, dan SMAW
merupakan salah satu proses pengelasan yang umum digunakan, utamanya pada pengelasan singkat
dalam produksi, pemeliharaan dan perbaikan, dan untuk bidang konstruksi.
SMAW (Shielded Metal Arc Welding) adalah proses pengelasan dengan mencairkan material dasar
yang menggunakan panas dari listrik antara penutup metal (elektroda).

SMAW merupakan pekerjaan manual dengan peralatan meliputi power source, kabel elektroda
(electrode cable) , kabel kerja (work cable), electrode holder, work clamp, dan elektroda. Elektroda
dan system kerja adalah bagian dari rangkaian listrik. Rangkaian dimulai dengan sumber daya listrik
dan kabel termasuk pengelasan, pemegang elektroda, sambungan benda kerja, benda kerja
(Weldment), dan elektroda las. Salah satu dari dua kabel dari sumber listrik terpasang ke bekerja,
selebihnya melekat pada pemegang elektroda, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:

Sebagaimana dalam AWS (American Welding Society), prinsip dari SMAW adalah menggunakan
panas dari busur untuk mencairkan logam dasar dan ujung sebuah consumable elektroda tertutup
dengan tegangan listrik yang dipakai 23-45 Volt, dan untuk pencairan digunakan arus listrik hingga
500 ampere yang umum digunakan berkisar antara 80200 ampere. Dimana dalam proses SMAW
dapat terjadi oksidasi, hal ini perlu dicegah karena oksidasi metal merupakan senyawa yang tidak
mempunyai kekuatan mekanis. Adapun untuk mencegah hal tersebut maka bahan penambah las
dilindungi dengan selapis zat pelindung yang disebut flux atau slag yang ikut mencair ketika
pengelasan. Tetapi karena berat jenisnya lebih ringan dari bahan metal yang dicairkan, cairan flux
akan mengapung diatas cairan metal, sekaligus mengisolasi metal tersebut sehingga tidak beroksidasi
dengan udara luar. Sewaktu membeku, flux akan ikut membeku dan tetap melindungi metal dari
reaksi oksidasi.

Pada pengelasan dengan metode SMAW, pengelasan dimulai saat sebuah busur listrik dipukul dengan
membuat kontak antara ujung elektroda dan system kerja. Panas intens busur mencairkan ujung
elektroda dan permukaan kerja dekat dengan busur. Gelembung-gelembung kecil logam cair dengan
cepat terbentuk di ujung elektroda, kemudian ditransfer melalui sungai busur ke dalam kolam las cair.
Dengan cara ini, logam pengisi disimpan sebagai elektroda yang dikonsumsi. Busur digerakan sesuai
dengan panjang system kerja dan kecepatan perjalanan, titik lebur dan sekering sebagian logam dasar
dan terus menambahkan logam pengisi. Saat busur menjadi sumber panas dengan suhu di atas 9000
F (5000 C), pencairan logam dasar terjadi hampir seketika. Jika pengelasan dilakukan baik dalam
posisi datar atau horizontal, transfer logam disebabkan oleh gaya gravitasi, ekspansi gas, listrik dan
kekuatan elektromagnetik, dan tegangan permukaan. Sedangkan pada posisi las yang lain, gravitasi
bekerja terhadap kekuatan lain.
Proses pengelasan dengan metode SMAW dibedakan berdasarkan jenis arusnya meliputi arus AC dan
DC, dimana arus DC dibedakan atas DCEN (straight polarity- polaritas langsung) dan DCEP (reverse

polarity - polaritas terbalik). Perbedaan antara SMAW dengan arus AC dan DC adalah sebagai
berikut:
Untuk arus AC (Alternating Current), pada voltage drop panjang kabel tidak banyak pengaruhnya,
kurang cocok untuk arus yang lemah, tidak semua jenis elektroda dapat dipakai, arc starting lebih sulit
terutama untuk diameter elektrode kecil, pole tidak dapat dipertukarkan, arc bow bukan merupakan
masalah.
Sedangkan pada arus DC (Direct Current), voltage drop sensitif terhadap panjang kabel sependek
mungkin, dapat dipakai untuk arus kecil dengan diameter electroda kecil, semua jenis elektrode dapat
dipakai, arc starting lebih mudah terutama untuk arus kecil, pole dapat dipertukarkan, arc bow sensitif
pada bagian ujung, sudut atau bagian yang banyak lekukanya.
Selanjutnya untuk DCEN (Straight Polarity), material dasar atau material yang akan dilas
disambungkan dengan kutup positip (+) dan elektrodenya disambungkan dengan kutup negatif (-)
pada mesin las DC. Dengan cara ini busur listrik bergerak dari elektrode ke material dasar sehingga
tumbukan elektron berada di material dasar yang berakibat 2/3 panas berada di material dasar dan 1/3
panas berada di elektroda. Cara ini akan menghasilkan pencairan material dasar lebih banyak
dibanding elektrodenya sehingga hasil las mempunyai penetrasi yang dalam, sehingga baik digunakan
pada pengelasan yang lambat, wilayah yang sempit dan untuk pelat yang tebal.
Pada DCEP (Reversed Polarity), material dasar disambungkan dengan kutup negatip (-) dan
elektrodenya disambungkan dengan kutup positif (+) dari mesin las DC, sehingga busur listrik
bergerak dari material dasar ke elektrode dan tumbukan elektron berada di elektrode yang berakibat
2/3 panas berada di elektroda dan 1/3 panas berada di material dasar. Cara ini akan menghasilkan
pencairan elektrode lebih banyak sehingga hasil las mempunyai penetrasi dangkal, serta baik
digunakan pada pengelasan pelat tipis dengan manik las yang lebar.
Hal hal yang mempengaruhi hasil pengelasan adalah, sudut elektroda, panjang busur, kecepatan
memindahkan busur, tinggi rendah arus yang digunakan. Hal ini dapat dilihat pada gambar dibawah
ini dimana perbedaan hasil pada pengelasan normal (A), pada arus yang terlalu rendah (B), terlalu
tinggi (C), kecepatan memindahkan busur yang terlalu cepat (D), terlalu lambat (E), dan dengan arc
yang terlalu panjang (F):

Perlu diketahui juga klasifikasi AWS dari elektroda SMAW dilambangkan dengan susunan kode
sebagai berikut:

Dengan keterangan bahwa:


E : menyatakan elektroda
XX : diisi kode yang menunjukkan daya rentang bahan (strength)
X : diisi kode yang menunjukkan posisi dari pengelasan
X : diisi kode yang menunjukkan selulosa - tipe dari arus dan lapisan
Adapun untuk posisi pengelasan ada 6 macam, meliputi:
1. 1G Down hand
2. 2G Horizontal
3. 3G Vertical
4. 4G Over head
5. 5G Las pipa pada pipa yang berputar
6. 6G Las pipa dimana pengelas yang berputar
Keuntungan dari SMAW :
1. Biaya awal invesmen rendah
2. Secara operasional handal dan sederhana
3. Biaya material pengisi rendah
4. Material pengisi dapat bermacam-macam
5. Pada semua material dapat memakai peralatan yang sama

6. Dapat dikerjakan pada ketebalan berapapun


7. Dapat dikerjakan dengan semua posisi pengelasan
Kekurangan dari SMAW:
1. Lambat, dalam penggantian elektroda
2. Terdapat slag yang harus dihilangkan
3. Pada low hydrogen electrode perlu penyimpanan khusus
4. Efisiensi endapan rendah.

Pengertian Proses Las SMAW adalah


Proses pengelasan SMAW (Shield Metal Arc Welding) yang juga disebut Las Busur Listrik adalah
proses pengelasan yang menggunakan panas untuk mencairkan material dasar atau logam induk dan
elektroda (bahan pengisi). Panas tersebut dihasilkan oleh lompatan ion listrik yang terjadi antara
katoda dan anoda (ujung elektroda dan permukaan plat yang akan dilas ).

Mesin Las SMAW


Panas yang dihasilkan dari lompatan ion listrik ini besarnya dapat mencapai 4000 derajat C sampai
4500 derajat C. Sumber tegangan yang digunakan pada pengelasan SMAW ini ada dua macam yaitu
AC (Arus bolak balik) dan DC (Arus searah).
Proses terjadinya pengelasan ini karena adanya kontak antara ujung elektroda dan material dasar
sehingga terjadi hubungan pendek, saat terjadi hubungan pendek tersebut tukang las (welder) harus
menarik elektroda sehingga terbentuk busur listrik yaitu lompatan ion yang menimbulkan panas.
Panas akan mencairkan elektroda dan material dasar sehingga cairan elektrode dan cairan material
dasar akan menyatu membentuk logam lasan (weld metal). Untuk menghasilkan busur yang baik dan

konstan tukang las harus menjaga jarak ujung elektroda dan permukaan material dasar tetap sama.
Adapun jarak yang paling baik adalah sama dengan 1,5 x diameter elektroda yang dipakai.

APA ITU PENGELASAN?


22.09
Pengelasan merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari proses manufaktur. Proses
manufaktur lainnya yang telah dikenal antara lain proses-proses pengecoran (metal casting),
pembentukan (metal forming), pemesinan (machining), dan metalurgi serbuk (powder metallurgy).
Produk dengan bentuk-bentuk yang rumit dan berukuran besar dapat dibuat dengan teknik
pengecoran. Produk-produk seperti pipa, pelat dan lembaran, baja-baja konstruksi dibuat dengan
proses pembentukan. Produk-produk dengan dimensi yang ketat dan teliti dapat dibuat dengan
pemesinan. Bagaimana dengan proses pengelasan ? Proses pengelasan yang pada prinsipnya adalah
menyambungkan dua atau lebih komponen, lebih tepat ditujukan untuk merakit (assembly) beberapa
komponen menjadi suatu bentuk mesin. Komponen yang dirakit mungkin saja berasal dari produk
hasil pengecoran, pembentukan atau pemesinan, baik dari logam yang sama maupun berbeda-beda.
Pengelasan (WELDING) adalah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan
sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam
tambahan dan menghasilkan sambungan yang kontinu. Dari definisi tersebut terdapat 4 kata kunci
untuk

menjelaskan

definisi

pengisi, tekanan dan sambungan


dibuat skemanya sebagai berikut :

pengelasan
kontinu.

yaitumencairkan

Dari

definisi

diatas,

sebagian
proses

logam, logam

pengelasan

dapat

Cara penyambungan lain yang telah dikenal lama selain


pengelasan adalah penyambungan dengan cara BRAZING dan SOLDERING. Perbedaannya dengan
pengelasan adalah pada brazing dan soldering tidak sampai mencairkan logam induk hanya logam
pengisinya saja. Sedangkan perbedaan antara brazing dan soldering terletak pada titik cair logam
pengisinya. Titik cair logam pengisi proses brazing berkisar 450C - 900C. Sedangkan untuk soldering,

titik cair logam pengisinya kurang dari 450C.


Dari bagan diatas, dapat dilihat bahwa proses pengelasan dapat dibagi menjadi 3 bagian utama,
yaitu pengelasan mencair (fusion welding), pengelasan tidak mencair (solid state
welding) dan soldering/brazing. Dengan demikian, dalam melaksanakan pengelasan diperlukan alat
untuk mencairkan logam dan atau alat untuk memanaskan dan menekankan kedua bagian logam yang
akan disambungkan. Peralatan pencair dan atau pemanas logam dapat didasarkan pada penggunaan
energi listrik, energi gas atau energi mekanik.

ARTIKEL TEKNIK Pengelasan


Welding

Pengelasan adalah sebuah susunan atau susunan proses yang menghubungkan bahan-bahan,
biasanya logam atau termoplastik, dengan menyebabkan koalesensi.

Hal ini sering dilakukan

oleh pencairan yang workpieces dan menambahkan bahan pengisi untuk membentuk bahan cair
renang (kolam renang yang melas) yang mendingin menjadi sendi yang kuat, dengantekanan kadangkadang digunakan bersama-sama dengan panas, atau dengan sendirinya, untuk memproduksi
mengelas . Hal ini kontras dengan solder dan mematri, yang melibatkan meleleh-leleh yang lebih
rendah-titik materi antara workpieces untuk membentuk sebuah ikatan antara mereka, tanpa
melelehkan workpieces.
Berbagai sumber energi yang dapat digunakan untuk pengelasan, termasuk gas api dengan
sebuah busur listrik, yang laser, sebuah berkas elektron, gesekan, dan USG. Meskipun sering sebuah
proses industri, pengelasan dapat dilakukan dalam berbagai lingkungan, termasuk udara terbuka, di
bawah air dan di luar angkasa. Terlepas dari lokasi, bagaimanapun, pengelasan tetap berbahaya, dan
tindakan pencegahan yang diambil untuk menghindari luka bakar, sengatan listrik, kerusakan mata,
asap beracun, dan overexposure ke sinar ultraviolet.
Sampai akhir abad ke-19, satu-satunya proses pengelasan bengkel las, yang pandai besi telah
digunakan selama berabad-abad untuk bergabung besi dan baja dengan memanaskan dan memalu
mereka. Arc las dan las oxyfuel merupakan yang pertama untuk mengembangkan proses-proses di
akhir abad, dan perlawanan pengelasan mengikuti setelahnya. Teknologi pengelasan maju dengan
cepat pada awal abad ke-20 saat Perang Dunia I dan Perang Dunia II mendorong permintaan untuk
bergabung dengan dapat diandalkan dan murah metode. Setelah perang, beberapa teknik pengelasan
modern dikembangkan, termasuk metode manual seperti pengelasan busur logam terlindung, sekarang
salah satu yang paling populer metode pengelasan, serta semi-otomatis dan otomatis proses
seperti pengelasan busur logam gas, pengelasan busur terendam, fluks pengelasan busur-buang
biji danelectroslag

pengelasan.

Perkembangan

dilanjutkan

las danpengelasan berkas elektron di paruh kedua abad.

dengan

penemuan sinar

laser

Hari ini, ilmu terus maju. Robot

pengelasanmenjadi lebih lumrah dalam pengaturan industri, dan peneliti terus mengembangkan
metode pengelasan baru dan memperoleh pemahaman yang lebih besar kualitas las dan properti.

Sejarah
Sejarah logam bergabung kembali beberapa milenium, dengan contoh-contoh paling awal
pengelasan dari Zaman Perunggu dan Zaman Besi di Eropa dan Timur Tengah. Welding digunakan
dalam pembangunan pilar besi di Delhi, India, didirikan sekitar 310 AD dan berat 5,4metrik ton.
[1] Para Abad Pertengahan membawa kemajuan di bengkel las, di mana ditumbuk pandai
besi logam dipanaskan berulang kali sampai ikatan terjadi.
Biringuccio diterbitkan De

la

pirotechnia, yang

Pada tahun 1540, Vannoccio

mencakup

deskripsi

operasi

penempaan.Renaisans pengrajin yang terampil dalam proses, dan industri terus tumbuh selama
berabad-abad berikut.
[2] Welding Namun, berubah selama abad ke-19 . Tahun 1802, ilmuwan Rusia Vasily
Petrov menemukan busur listrik
[3] dan kemudian diusulkan kemungkinan aplikasi praktis, termasuk pengelasan. created the
first electric arc welding method known as carbon arc welding , using carbon electrodes. Dalam
penemu 1.881-82 Rusia Nikolai Bernardos menciptakan busur listrik pertama yang dikenal sebagai
metode pengelasan busur karbon pengelasan, dengan menggunakan elektroda karbon. (1888), and an
American, CL Coffin . Kemajuan dalam pengelasan busur dilanjutkan dengan penemuan elektroda
logam pada akhir 1800-an oleh seorang Rusia, Nikolai Slavyanov(1888), dan seorang Amerika, CL
Coffin. released a coated metal electrode in Britain , which gave a more stable arc. Sekitar 1900, AP
Strohmenger merilis sebuah elektroda logam dilapisi diBritain, yang memberikan busur yang lebih
stabil. proposed the usage of three-phase electric arc for welding. Pada tahun 1905 ilmuwan
Rusia Vladimir Mitkevich mengusulkan penggunaan tiga fase untuk pengelasan busur listrik. but did
not become popular for another decade. [ 4 ]Pada tahun 1919, arus bolak-balik pengelasan diciptakan
oleh CJ Holslag tetapi tidak menjadi populer untuk satu dasawarsa
Perlawanan las juga berkembang selama dekade terakhir abad ke-19, dengan paten pertama
akan Elihu Thomson pada 1885, yang menghasilkan kemajuan lebih lanjut selama 15 tahun. Las
termit ditemukan pada 1893, dan sekitar waktu itu proses lain, oxyfuel pengelasan,menjadi

mapan. Asetilen ditemukan pada 1836 oleh Edmund Davy, tetapi penggunaannya tidak praktis dalam
pengelasan sampai sekitar tahun 1900, ketika seorang sesuai obor lasdikembangkan. [5] Pada
mulanya, oxyfuel pengelasan adalah salah satu metode pengelasan lebih populer karena yang
portabilitas dan biaya yang relatif rendah. Ketika abad ke-20 berlangsung, bagaimanapun, itu jatuh
dari nikmat untuk aplikasi industri. Hal ini sebagian besar diganti dengan busur pengelasan, sebagai
penutup logam (dikenal sebagai fluks) untuk elektrode yang menstabilkan busur dan perisai bahan
dasar dari kotoran terus dikembangkan.[6] Perang Dunia I menyebabkan kenaikan besar dalam
penggunaan proses pengelasan, dengan berbagai kekuatan militer berusaha untuk menentukan mana
di antara beberapa proses pengelasan baru yang terbaik. , with an entirely welded hull. Terutama
digunakan Inggris arc welding, bahkan membangun sebuah kapal, yang Fulagar, dengan dilas
sepenuhnya lunas. Arc welding pertama kali digunakan untuk pesawat selama perang juga, beberapa
pesawat Jerman fuselages dibangun dengan menggunakan proses. [7] Juga yang patut dicatat adalah
jalan dilas pertama jembatan di dunia, dirancang oleh Stefan Brya dari Warsawa University of
Technologydi 1927, dan dibangun di seberang sungai Sudwia Maurzyce dekat owicz, Polandia pada
tahun 1992
Selama abad pertengahan, banyak metode pengelasan baru diciptakan. 1930 melihat
pelepasan pejantan

pengelasan, yang

segera

menjadi

populer

di

galangan

kapal

dan

konstruksi. Submerged arc welding diciptakan tahun yang sama dan terus menjadi populer saat ini.
successfully implemented the first underwater electric arc welding. Gas tungsten arc welding, after
decades of development, was finally perfected in 1941, and gas metal arc welding followed in 1948,
allowing for fast welding of non- ferrous materials but requiring expensive shielding gases. Shielded
metal arc welding was developed during the 1950s, using a flux coated consumable electrode, and it
quickly became the most popular metal arc welding process. Pada tahun 1932 Rusia, Konstantin
Khrenov berhasil dilaksanakan di bawah air pertama pengelasan busur listrik. Gas tungsten arc
welding, setelah puluhan tahun pembangunan, akhirnya disempurnakan pada tahun 1941, dan gas
pengelasan busur logam diikuti pada tahun 1948, memungkinkan untuk pengelasan cepat nonferrous material tapi mahal yang memerlukan gas melindungi. terlindung pengelasan busur
logam dikembangkan selama tahun 1950-an, menggunakan berlapis fluks elektroda habis, dan dengan
cepat menjadi yang paling populer proses pengelasan busur logam. Pada tahun 1957, fluks
pengelasan busur-buang biji proses debutnya, di mana diri terlindung kawat elektroda dapat
digunakan dengan peralatan otomatis, sehingga sangat meningkatkan kecepatan pengelasan, dan
tahun yang sama, pengelasan busur plasma diciptakan. Electroslag pengelasan diperkenalkan di 1958,
dan itu diikuti dengan sepupunya, electrogas pengelasan, pada tahun 1961. Pada tahun 1953 ilmuwan
Soviet NF Kazakov mengusulkan ikatan difusi metode.
Lain perkembangan terakhir di tahun 1958 termasuk pengelasan terobosan dari berkas
elektron pengelasan, membuat pengelasan dalam dan sempit mungkin melalui sumber panas
terkonsentrasi. Menyusul penemuan laser pada tahun 1960, pengelasan sinar laser debutnya beberapa

dekade kemudian, dan telah terbukti sangat berguna dalam kecepatan tinggi, otomatis pengelasan.
Kedua proses ini, bagaimanapun, tetap sangat mahal karena tingginya biaya peralatan yang
diperlukan, dan hal ini telah membatasi aplikasi mereka.

Proses
Proses-proses ini menggunakan las listrik untuk menciptakan dan menjaga busur listrik antara
elektroda dan bahan dasar untuk mencairkan logam di titik pengelasan. Mereka dapat menggunakan
salah arus searah (DC) atau bolak-balik (AC) saat ini, dan konsumsi atau non-habiselektroda. Daerah
pengelasan kadang-kadang dilindungi oleh beberapa jenis inert atau semi-gas inert, yang dikenal
sebagai gas melindungi, dan bahan filler kadang-kadang digunakan juga.
Untuk pasokan energi listrik yang diperlukan untuk proses pengelasan busur, sejumlah
pasokan daya yang berbeda dapat digunakan. Pengelasan yang paling umum adalah konstan pasokan
listriksaat ini pasokan listrik dan konstan tegangan catu daya. Dalam pengelasan busur, panjang busur
secara langsung berhubungan dengan tegangan, dan jumlah panas masukan adalah terkait dengan
arus. Catu daya arus konstan yang paling sering digunakan untuk proses pengelasan manual seperti
gas tungsten arc welding dan terlindung pengelasan busur logam, karena mereka mempertahankan
arus yang relatif konstan, bahkan ketika tegangan bervariasi. Hal ini penting karena di manual las,
dapat sulit untuk memegang sempurna elektroda mantap, dan sebagai hasilnya, panjang busur dan
dengan demikian tegangan cenderung berfluktuasi. Catu daya tegangan konstan terus tegangan
konstan dan bervariasi saat ini, dan sebagai hasilnya, yang paling sering digunakan untuk proses
pengelasan otomatis seperti gas pengelasan busur logam, buang biji fluks pengelasan busur, dan
pengelasan busur terendam. Dalam proses ini, panjang busur dijaga konstan, karena setiap fluktuasi
dalam jarak antara kawat dan bahan dasar dengan cepat diperbaiki oleh perubahan besar arus.
Misalnya, jika kawat dan bahan dasar terlalu dekat, arus yang cepat akan meningkat, yang pada
gilirannya menyebabkan panas untuk meningkatkan dan ujung kabel meleleh, kembali ke jarak
aslinya.
Jenis saat ini digunakan dalam pengelasan busur juga memainkan peran penting dalam
pengelasan. Consumable elektroda terlindung proses seperti pengelasan busur logam dan gas
pengelasan busur logam pada umumnya menggunakan arus langsung, tetapi elektroda dapat diisi baik
positif maupun negatif. Dalam pengelasan, bermuatan positif anoda akan memiliki konsentrasi panas
yang lebih besar, dan sebagai hasilnya, mengubah polaritas elektroda memiliki dampak pada properti
weld. Jika elektroda bermuatan positif, logam dasar akan menjadi lebih panas, meningkatkan
penetrasi dan pengelasan las kecepatan. Selain itu, sebuah hasil elektrode bermuatan negatif lebih
dangkal Welds. Nonconsumable proses elektroda, seperti gas tungsten arc welding, dapat

menggunakan kedua jenis arus searah, serta arus bolak-balik. Namun, dengan arus langsung, karena
hanya menciptakan elektroda busur dan tidak menyediakan bahan pengisi, elektrode yang bermuatan
positif menyebabkan Welds dangkal, sedangkan elektroda bermuatan negatif membuat lebih Welds.
bolak bergerak cepat saat ini antara kedua, yang mengakibatkan menengah Welds penetrasi. Salah
satu kelemahan dari AC, fakta bahwa busur harus dinyalakan kembali setelah setiap nol
persimpangan, telah berbicara dengan penemuan kekuatan khusus unit yang menghasilkan gelombang
persegi pola bukannya normal gelombang sinus, membuat penyeberangan nol cepat mungkin dan
meminimalkan efek dari masalah.