Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum

Mikrobiologi

Nama
NIM
Kelas
Kelompok
Hari,tanggal
Waktu
PJP
Asisten

: Eka Yulianti
: J3M113016
: LNK A P1
: V (lima)
: Sabtu, 10 Mei 2014
: 14.00 18.00 WIB
: M. Arif Mulya, S.Pi
: Ivone
Ramdhani

INDENTIFIKASI BAKTERI
(Karakteristik Sifat Biokimia dan Fisiologis Bakteri)

TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

Pendahuluan
Bakteri adalah organisme bersel tunggal yang hidup bebas dan mampu
bereproduksi sendiri tetapi menggunakan hewan sebagai penjamu untuk
mendapatkan makanan. Bakteri tidak memiliki inti sel. Bakteri terdiri atas
sitoplasma yang dikelilingi oleh sebuah dinding sel yang kaku yang terbuat dari
suatu zat khusus yang disebut peptidoglikan, didalam sitoplasma terdapat materi
genetik, baik DNA maupun RNA, dan struktur intrasel yang diperlukan untuk
metabolisme energi. Bakteri bereproduksi secara aseksual melalui replikasi DNA
dan pembelahan sel sederhana (Corwin 2008). Pada umumnya bakteri bersifat
tembus cahaya, hal ini disebabkan karena banyak bakteri yang tidak mempunyai
zat warna (Waluyo 2004) . Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri
sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau
pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu
mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan.
Sifat metabolisme bakteri dalam uji biokimia biasanya dilihat dari
interaksi metabolit-metabolit yang dihasilkan dengan reagen-reagen kimia.
Kemampuan bakteri menggunakan senyawa tertentu sebagai sumber karbon dan
sumber energi yang dapat digunakan untuk identifikasi. Uji-uji biokimia yang
biasanya dipakai dalam kegiatan identifikasi bakteri atau mikroorganisme yaitu
antara lain adalah, uji gelatin, uji oksidatif/fermentatif, uji motilitas, dan uji
oksidase (Dwidjoseputro 1994). Karakterisitik utama mikroorganisme untuk
identifikasi dan klasifikasi suatu mikroorganisme perlu diketahui karekteristiknya
sebanyak mungkin, karakteristiknya yang pertama adalah karakteristik kultural
yaitu mikroorganisme memerlukan media yang bersifat khusus, utamanya
berteknologi memerlukan bakteri tertentu untuk dapat tumbuh dan
berkembangbiak. Jenis kapang dapat tahan keasaman sampai kira-kira pH 3,
sedangkan bakteri pada umumnya tidak tahan asam, yang kedua adalah
karakteristik mikroskopik dimana digunakan untuk melihat wujud suatu mikroba,
terutama bakteri, diperlukan suatu mikroskop dengan pembesaran sekitar 1000
kali. Karakteristik ketiga adalah karakteristik metabolik yang dapat kita lihat dari
bentuknya saja seringkali mencukupi untuk menentukan karakter organisme
tertentu. Karakteristik keempat adalah Karakteristik Kimiawi, dimana dalam hal
ini diperlukan analisis kimia untuk dapat mengetahui zat atau unsur kimia maupun
susunan kimia yang terdapat dalam bakteri tersebut, bahkan bagian-bagian suatu
bakteri perlu dianalisis pula. Karakteristik kelima adalah karakteristik antigenik,
disini diperlukan hewan besar tertentu untuk disuntik dengan mikroba yang tidak
diketahui, diambil serumnya untuk dilakukan reaksi antigen antibiotik yang
bersifat sangat spesifik. Karakteristik keenam adalah karakteristik genetik
dilakukan dengan karakteristik mikroorganisme atas dasar susunan DNA yang
ternyata bersifat konstan pada suatu mikroorganisme tertentu, dinyatakan dalam
% (G+C) Guanine dan Cytosine (Mulyono 1992).
Tujuan
Percobaan bertujuan mengidentifikasi bakteri dengan melihat dan
menentukan sifat dan fisiologis bakteri melalui uji-uji kualitatif yaitu uji oksidase,
uji katalase, uji motilitas, uji oxidatif / Fermentasi, dan uji gelatin.

Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan, yaitu tabung reaksi dan tutup, rak tabung reaksi,
bunsen, kawat inokulum, ose, pipet tetes, kertas cakram, dan gelas objek.
Bahan-bahan yang digunakan, yaitu biakan bakteri B, paraffin cair, H2O2
cidro, media O/F, media SIM (Sulfida Indol Motility), reagen P-aminodimetil
anilina oksalat 1%, dan media nutrien gelatin.
Metode Kerja
Uji katalase dilakukan dengan diambilnya satu ose koloni bakteri B secara
aseptis dan diinokulasikan pada object glass pada dua titik dengan salah satunya
sebagai kontrol. Setelah itu, dengan menggunakan pipet tetes, 3% H 2O2 diteteskan
pada object glass secukupnya pada salah satu daerah yang telah ada bakterinya,
kemudian diamati, jika ada gelembung beberapa saat setelah penetesan larutan
H2O2 maka hasil uji positif dan jika tidak ada gelembung maka hasilnya negatif.
Uji oksidase dilakukan dengan sebanyak dua buah gelas objek disiapkan
dan diletakkan kertas cakram steril pada masing-masing gelas objek tersebut.
Salah satu kertas cakram digunakan sebagai kontrol. Kemudian, diteteskan reagen
P-aminodimetil anilina oksalat 1% pada dua buah kertas saring, lalu diambil
biakan cair bakteri B dan diteteskan pada salah satu kertas cakram yang telah
mengandung reagen P-aminodimetil anilina oksalat 1%. Perubahan yang terjadi
diamati, jika warna berubah maka hasil uji positif, sedangkan jika tidak terjadi
perubahan warna menjadi biru violet maka hasil uji negatif. Teknik tersebut
dilakukan secara aseptik.
Uji oksidatif/fermentatif dilakukan dengan dua buah tabung yang berisi
media O/F disiapkan terlebih dahulu lalu biakan bakteri B diambil sebanyak satu
ose dan diinokulasikan secara vertikal pada media O/F, salah satu tabung ditetesi 1
ml paraffin cair dan tabung yang satu lagi tidak ditetesi paraffin cair kemudian
kedua tabung diinkubasikan selama 24 jam, jika tabung yang tidak diberi paraffin
menghasilkan warna hijau dan tabung yang diberi paraffin menghasilkan warna
kuning maka bakteri merupakan fermentatif/ anaerob, jika tidak diberi paraffin
kuning dan diberi paraffin hijau maka hasilnya adalah oksidatif. Jika diberi dan
tidak diberi paraffin hasilnya adalah kuning maka bakteri termasuk oksidatif
fermentatif, jika kedua tabung hijau maka negatif.
Uji motilitas dilakukan dengan media SIM disiapkan terlebih dahulu lalu
biakan bakteri B diambil sebanyak satu ose dan diinokulasikan secara vertikal
pada media SIM. Kemudian, diinkubasi selama 24 jam. Teknik tersebut dilakukan
secara aseptik. Hasil uji motilitas bakteri diperlihatkan dengan adanya
pertumbuhan bakteri pada permukaan media dan tidak hanya bekas pada tusukan,
bakteri non motil tumbuh sepanjang tusukan, pembentukkan dan adanya
pembebasan sulfida ditunjukkan dengan terbentuknya warna hitam.
Uji gelatin dilakukan dengan media nutrien gelatin disiapkan lalu biakan
bakteri B diambil sebanyak satu ose dan diinokulasikan secara vertikal pada
media nutrien gelatin tersebut, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu
37C. Teknik tersebut dilakukan secara aseptik. Hasil uji positif jika gelatin

terhidrolisa atau tetap cair, sedangkan hasil uji negatif jika gelatin tidak
terhidrolisa atau membeku.
Data dan Hasil Pengamatan
Tabel 1 Hasil Pengamatan Identifikasi Bakteri B
Uji
Hasil
Keterangan
Katalase
Tidak terjadi gelembung
Oksidase
Tidak terjadi perubahan warna merah
O/F
NT
Not testable
Tanpa parafin
+
Menjadi berwana kuning
Parafin
+
Menjadi berwarna kuning
Motilitas
+
Terdapat motil
Gelatin
+
Gelatin tetap cair
Hasil uji Katalase, Oksidase, O/F, Motilitas dan Gelatin dapat dilihat pada gambar
berikut:
Gambar 1 hasil uji Katalase bakteri B
Gambar 2 hasil uji oksidase pada bakteri B
Gambar 3 hasil uji O/F pada bakteri B
Gambar 4 hasil uji Motilitas pada bakteri B
Gambar 5 hasil uji Gelatin pada bakteri B

Pembahasan
Uji Oksidase dilakukan untuk mengetahui apakah bakteri dapat
menguraikan enzim oksidase atau tidak. Perubahan warna yang terjadi pada test
strip tadi diamati setelah didiamkan selama 20-60 detik. Apabila terjadi perubahan
warna menjadi biru violet maka oxidase test dinyatakan positif dan menandakan
bahwa bakteri tersebut adalah bakteri non enterik, sedangkan bila tidak terjadi
perubahan warna maka oxidase test dinyatakan negatif dan menandakan bakteri
tersebut adalah bakteri enterik (Marlina 2008). Uji oksidase bertujuan untuk
menentukan bakteri enterik atau non enterik. Enzim sitokrom oksidase akan
berubah menjadi bentuk tidak aktif dengan mereduksi sitokrom c. Enzim ini akan
menjadi bentuk aktifnya kembali jika terjadi transfer elektron ke molekul oksigen.
Keberadaan oksigen pada enzim oksidase akan mereduksi substan-substan
organik diantaranya substan yang terdapat pada oxidase test strip yang
mengandung N,N dimetil1,4 fenilen diammonium diklorida dan 1 naftol. Reaksi
tersebut akan menghasilkan molekul indophenol blue yang mengakibatkan warna
test strip akan berwarna biru violet. Reaksi ini merupakan reaksi positif untuk
bakteri non enterik sedangkan pada bakteri enterik tidak terjadi perubahan warna.
Berdasarkan percobaan hasil yang diperoleh adalah bakteri tidak menghasilkan
perubahan warna yang menandakan bahwa pada uji ini menunjukan hasil yang
negatif.
Uji katalase digunakan untuk mendeteksi adanya enzim katalase. Enzim
ini terdapat pada sel - sel yang mempunyai metabolisme aerobik. Bakteri
anaerob tidak mempunyai enzim katalase. Uji katalase merupakan salah satu
pengujian biokimia untuk mengidentifikasi bakteri apakah menghasilkan enzim
katalase atau tidak. Enzim katalase dihasilkan oleh beberapa jenis bakteri dalam
rangka mencegah oksidasi radikal bebas yang dapat merusak atau membunuh
bakteri, ada beberapa jenis pengujian biokimia lain yang merupakan bagian dari
pengidentifikasian suatu jenis bakteri diantaranya yaitu, kemampuan bakteri
menghasilkan enzim hidrolitik terhadap substrat yang ditambahkan pada media,
kemampuan memfermentasi gula, mengoksidasi nitrat dan sebagainya. Reagen
yang digunakan sebagai pereaksi mengandung 3% larutan Hidrogen peroksida.
Enzim katalase akan bereaksi dengan hydrogen peroksida yang menghasilkan
gas (oksigen). Percobaan dilakukan dengan cara di atas kaca objek ditetesi satu
tetes H2O2 3%, ditambahkan koloni bakteri dan langsung diamati terjadinya
penguraian hidrogen peroksida dinyatakan positif bila menghasilkan enzim
katalase yang ditandai dengan terbentuknya gelembung udara dan negatif bila
tidak ada gelembung udara, ini terjadi karena bakteri yang apabila ditambahkan
hidrogen peroksida menghasilkan peroksida. Mekanisme enzim katalase memecah
H2O2 yaitu saat melakukan respirasi, bakteri menghasilkan berbagai macam
komponen salah satunya H2O2. Bakteri yang memiliki kemampuan memecah
H2O2 dengan enzim katalase maka segera membentuk suatu sistem pertahanan
dari toksik H2O2 yang dihasilkannya sendiri. Bakteri katalase positif akan
memecah H2O2 menjadi H2O dan O2 dimana parameter yang menunjukkan adanya
aktivitas katalase tersebut adalah adanya gelembung-gelembung oksigen seperti
pada percobaan yang telah dilakukan. Prinsip dari uji katalase adalah pernapasan

anaerob, mikroorganisme memproduksi hydrogen peroksida dan dalam beberapa


kasus, bahkan mencapai racun toksik superoksida. Akumulasi dari zat ini dapat
mengakibatkan kematian organisme kecuali mereka dapat mendegradasi secara
enzimatis. Zat ini diproduksi ketika lingkungan aerob, fakultatif anaerob, dan
mikroaerofil digunakan dalam jalur pernapasan aerobic, dimana oksigen
merupakan akhir aseptor electron, selama pendegradasian karbohidrat untuk
produksi energy. Organisme mampu memproduksi katalase yang secara cepat
mampu mendegradasi hydrogen peroksida. Organisme aerobic yang kekurangan
katalase dapat mendegradasi terutama superoksida toksik menggunakan enzim
superoksida dismutase. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dengan
menggunakan bakteri B maka hasil menunjukan bahwa tidak membentukk
gelembung gas yang menandakan bahwa pada uji katalase bakteri B menunjukan
hasil negatif.
Media O/F merupakan salah satu media yang digunakan untuk pengujian
fisio-metabolisme suatu bakteri yaitu untuk mengetahui kemampuan memecah
karbohidrat (glukosa) dalam suasana aerobik (oksidatif) dan anaerobik
(fermentative) (Pelczar 1986). Bakteri yang menghasilkan warna kuning jika
ditambahkan paraffin cair merupakan bakteri yang dapat memanfaatkan glukosa.
Berdasarkan percobaan maka pada tabung yang tidak diberikan paraffin cair
menghasilkan warna kuning dan pada bakteri yang ditambahkan paraffin cair juga
menghasilkan warna kuning sehingga bakteri ini termasuk bakteri oksidatif dan
bakteri fermentatif.
Prinsip uji motilitas yaitu untuk mengetahui apakah bakteri yang diamati
motil (bergerak) atau tidak. Apabila setelah dilakukan inkubasi selama 24 jam,
bakteri tumbuh pada permukaan media, maka bakteri tersebut motil atau uji
positif, tetapi bila bakteri hanya tumbuh pada bekas tusukan jarum inokulasi,
maka bakteri tersebut tidak motil atau uji negatif (Tarigan 1988). Pada percobaan
yang dilakukan bakteri hanya tumbuh pada bagian yangg ditusukan saja sehingga
hasil yang didapatkan adalah bakteri nonmotil.
Larutan gelatin bersifat cair pada suhu ruang atau suhu kamar dan padat
apabila berada dalam lemari es. Bila gelatin telah dihidrolisa oleh jasad renik akan
tetap bersifat cair meskipun berada dalam lemari es. Hidrolisis gelatin terjadi
karena bakteri menghasilkan gelatinase untuk menghidrolisis polimer protein,
gelatin, asam amino. Prinsip uji Gelatin yaitu untuk melihat kepemilikian enzim
proteolitik pada bakteri untuk menguraikan gelatin. Gelatin yang telah teruraikan
oleh bakteri tidak akan membeku pada suhu dingin. Sebaliknya gelatin yang tidak
teruraikan oleh bakteri akan membeku pada suhu dingin. Jadi uji positif ditandai
dengan gelatin yang cair pada suhu dingin (Lehninger 1982). Berdasarkan hasil
percobaan maka bakteri B tetap cair meskipun pada suhu dingin sehingga
menghasilkan hasil positif pada uji gelatin.
Simpulan
Berdasarkan hasil percobaan maka pada uji katalase diperoleh hasil
negatif, pada uji oksidase diperoleh hasil negatif, pada uji O/F bakteri
menunjukan hasil Not Testable dan bakteri tersebut adalah bakteri aerob dan
bakteri anaerob. Pada uji Motilitas pada bakteri B menunjukan hasil positif dan

pada uji gelatin bakteri B menunjukan hasil positif dapat disimpulkan dengan
menggunakan tabel Cowan maka bakteri B merupakan bakteri Bacillus.
Daftar Pustaka
Corwin E. 2008. Buku Saku Patofisiologi. Subekti, Nike Budhi, penerjemah.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Terjemahan dari: Handbook Of
Pathophysiology.
Dwidjoseputro. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan
Lehninger, AL. 1982. Dasar-dasar Biokimia. Penerjemah: Manggy
Thenawijaya. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari Principle of
Biochemistry
Marlina. 2008. Identifikasi bakteri Vibrio parahaemolitycus dengan metode
Biolog dan Deteksi Gen ToxRnya secara PCR. Jurnal Sains dan Teknologi
Farmasi Vol 13 No 1 2008
Mulyono. 1992. Teknologi Fermentasi. Bogor : IPB
Pelczar MJ, Chan E.C.S. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press.
Taringan J. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Departemen pendidikan
Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas Muhamadiyah
Malang