Anda di halaman 1dari 24

1.

Nama Pratikkum :
Pembakaran dalam pada Mesin diesel 4 tak
2. Tujuan
1. Untuk mengetahui performa mesin diesel dengan cara mencari nilai
BSFC, BMEP, Efisiensi Thermal dan .
3. Alat Dan Bahan
1. Mesin Diesel Nissan beserta Alat pengukur
2. Jas Lab
3. Alat Catat
4. Stopwatch
4. Cara Kerja
1. Siapkan alat dan Bahan
2. Panaskan Mesin hingga lampu indicator berwarna merah, lalu
nyalakan mesin tersebut
3. Setting throttle pada 30%
4. Setting RPM pada mesin sebesar 1100 dengan memberi beban atau
mengurangi beban sedikit demi sedikit
5. Hitung waktu yang dibutuhkan untuk konsumsi bahan bakar dengan
menggunakan stopwatch
6. Lakukan percobaan ulang seperti diatas dengan throttle sebesar
40% dan 50%
7. Catat data yang didapat dari alat pengukur dan waktu dari
stopwatch
8. Matikan mesin dengan mengurangi throttle dan mengecilkan RPM
lalu cabut Fuel Cut

Permesinan Kapal 2

Page 1

5. Landasan Teori

Motor bakar diesel biasa disebut juga dengan Mesin diesel (atau
mesin pemicu kompresi) adalah motor bakar pembakaran dalam yang
menggunakan panas kompresi untuk menciptakan penyalaan dan
membakar bahan bakar yang telah diinjeksikan ke dalam ruang bakar.
Mesin ini tidak menggunakan busi seperti mesin bensin atau mesin gas.
Mesin ini ditemukan pada tahun 1892 oleh Rudolf Diesel, yang menerima
paten pada 23 Februari 1893. Diesel menginginkan sebuah mesin untuk
dapat digunakan dengan berbagai macam bahan bakar termasuk debu
batu bara.
Mesin diesel memiliki efisiensi termal terbaik dibandingkan dengan mesin
pembakaran dalam maupun pembakaran luar lainnya, karena memiliki
rasio kompresi yang sangat tinggi. Mesin diesel kecepatan-rendah (seperti
pada mesin kapal) dapat memiliki efisiensi termal lebih dari 50%.
Mesin diesel dikembangkan dalam versi dua-tak dan empat-tak. Mesin ini
awalnya digunakan sebagai pengganti mesin uap. Sejak tahun 1910-an,
mesin ini mulai digunakan untuk kapal dan kapal selam, kemudian diikuti
lokomotif, truk, pembangkit listrik, dan peralatan berat lainnya. Pada
tahun 1930-an, mesin diesel mulai digunakan untuk mobil. Sejak saat itu,
penggunaan mesin diesel terus meningkat dan menurut British Society of
Motor Manufacturing and Traders, 50% dari mobil baru yang terjual di Uni
Eropa adalah mobil bermesin diesel, bahkan di Perancis mencapai 70%.
CARA KERJA MESIN DIESEL 4 LANGKAH
Seperti halnya pada motor bensin maka ada motor diesel 4 langkah dan 2
langkah, dalam aplikasinya pada sektor otomotif/kendaraan kebanyakan
dipakai motor diesel 4 langkah..
1. Langkah Hisap
Selama langkah pertama, yakni langkah hisap, piston bergerak ke bawah
(dari TMA ke TMB) sihingga membuat kevakuman di dalam silinder,
kevakuman ini membuat udara terhisap dan masuk ke dalam silinder.
Pada saat ini katup hisap membuka dan katup buang menutup.

Permesinan Kapal 2

Page 2

2. Langkah Kompresi
Pada langkah kedua disebut juga dengan langkah kompresi, udara yang
sudah masuk ke dalam silinder akan ditekan oleh piston yang bergerak ke
atas (TMA). Perbandingan kompresi pada motor diesel berkisar diantara
14 : 1 sampai 24 : 1. Akibat proses kompresi ini udara menjadi panas dan
temperaturnya bisa mencapai sekitar 900 C. Pada lankah ini kedua katup
dalam posisi menutup semua.

Langkah Compresi Mesin Diesel


3. Lankah Pembakaran
Pada akhir langkah kompresi, injector nozzle menyemprotkan bahan bakar
dengan tekanan tinggi dalam bentuk kabut ke dalam ruang bakar dan
selanjutnya bersama sama dengan udara terbakar oleh panas yang
dihasilkan pada langkah kompresi tadi. Diikuti oleh pembakaran tertunda,
pada awal langkah usaha akhirnya pembentukan atom bahan bakar akan
Permesinan Kapal 2

Page 3

terbakar sebagai hasil pembakaran langsung dan membakar hampir


seluruh bahan bakar. Mengakibatkan panas silinder meningkat dan
tekanan silinder yang bertambah besar. Tenaga yang dihasilkan oleh
pembakaran diteruskan ke piston. Piston terdorong ke bawah (TMA) dan
tenaga pembakaran dirubah menjadi tenaga mekanik. Pada saat ini kedua
katu juga dalam posisi tertutup.

4. Langkah Buang
Dalam langkah ini piston akan bergerak naik ke TMA dan mendorong sisa
gas buang keluar melalui katup buang yang sudah terbuka, pada akhir
langkah buang udara segar masuk dan ikut mendorong sisa gas bekas
keluar dan proses kerja selanjutnya akan mulai. Pada langkah ini katup
buang terbuka dan katup masuk tertutup.

Permesinan Kapal 2

Page 4

SISTEM MANAJEMEN MESIN

Direct injection atau dalam bahasa indonesia artinya injeksi langsung


adalah sistem dimana injektor/nozzle diletakan langsung didalam (bagian
atas) ruang pembakaran. Sistem direct injection ini biasanya memiliki
desain kepala silinder yang berbentuk mahkota untuk meningkatkan
turbulensi saat terjadi pembakaran. Sedangkan indirect injection / injeksi
tidak langsung adalah kondisi dimana injektor tidak diletakkan didalam
ruang bakar seperti direct injection. Namun terdapat satu ruangan lagi
dalam ruang bakar tersebut yang disebut swirl chamber. Swirl chamber
adalah ruang dimana injektor ditempatkan di kepala silinder / head
cylinder, sehingga saat piston melakukan langkah TMA (Titik Mati Atas)
sebagian besar udara yang masuk lewat langkah hisap akan masuk ke
dalam swirl chamber dan terjadilah pembakaran di swirl chamber tersebut
dan menjadi sumber tenaga dalam mesin tersebut.
Keuntungan dari Direct Injection:
Saat mesin dingin lebih mudah dihidupkan ,dan Lebih hemat dalam
pemakaian bahan bakar ,serta Ruang bakar yang lebih kecil membuat
efisiensi panas menjadi lebih baik.
Kerugian dari Direct Injection:
Cederung suara mesin lebih kasar dan bising, Lebih rentan terhadap
penyumbatan dalam injektor karena lubang injektor lebih kecil, dan
Output tenaga yang cenderung lebih kecil , serta Turbulensi kecil pada
kecepatan rendah

Permesinan Kapal 2

Page 5

Keuntungan dari Indirect Injection


Tingkat turbulen yang tetap tinggi di berbagai putaran mesin,dan Tidak
memerlukan sistem injeksi yang tinggi, serta Kecil kemungkinan untuk
terjadinya penyumbatan pada injektor
Kerugian dari Indirect Injection:
Konsumsi BBM yang kurang efisien dan perpindahan panas yang rendah
dan Rasio kompresi yang lebih tinggi dibutuhkan saat start
Langkah kerja mesin Direct Injection:

Langkah kerja mesin Diesel Indirect Injection:

Permesinan Kapal 2

Page 6

SIKLUS DIESEL
Dalam mesin busi yang sebenarnya, batas atas rasio kompresi dibatasi
oleh suhu diri pengapian bahan bakar. Keterbatasan pada rasio kompresi
dapat dielakkan jika udara dan bahan bakar yang dikompresi terpisah dan
dibawa bersama pada saat pembakaran. Seperti bahan bakar yang masuk
ke dalam silinder yang berisi udara terkompresi pada suhu rasio lebih
besar dibandingkan suhu diri pengapian bahan bakar. Oleh karena itu
bahan tidak memerlukan perangkat khusus seperti sistem pengapian
pada mesin yang menggunakan busi. Mesin tersebut bekerja pada bahan
bakar seperti solar. Mesin ini disebut mesin kompresi diesel dan mesin

Permesinan Kapal 2

Page 7

tersebut bekerja pada siklus yang ideal yang dikenal sebagai siklus Diesel.

1. Thermal Efficiency
Nilai thermal efficency dari siklus diesel adalah sebagai berikut;

Mengingat pada proses 1 2

Mengingat nilai tekanan yang konstan, proses 2 3

Didapat nilai T adalah;

Mengingat pada proses 3 4

Permesinan Kapal 2

Page 8

Dari perhitungan tersebut, maka didapatkan persamaan,

Dalam prakteknya rasio kompresi operasi mesin diesel jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan mesin yang bekerja pada siklus otto. Kisaran normal
rasio kompresi untuk mesin diesel adalah 16 sampai 20 sedangkan untuk
mesin yang menggunakan busi yaitu 6 sampai 10. Karena rasio kompresi
yang digunakan lebih tinggi, maka efisiensi dari mesin diesel lebih
daripada mesin bensin.

2. Work Output
Nilai work output dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai
berikut;

Permesinan Kapal 2

Page 9

3. Mean Effective Pressure

6.Hasil pengamatan
Diketahui
D = 0.078 Meter

Cycle = 4

r = 8.2

S = 0.082

Q = 45300

= 0.83 kg/L rc =1 .567

1.v displcament (v1- v2 )

Permesinan Kapal 2

Torsi = 0.358 meter (1.17 feet )

= . 3.14. (0.78)2 .0.82

Page 10

m= 30 ml

= 3.9 x 10-4

v1
v2

= 8.2 ;

v1= 8.2 v2

V1 v2 = 3.9 x 10-4
8.2 v2 v2 = = 3.9 x 10-4

V2 = 0.54 X 10-4

V1 = 4.4 X 10-4

P1 = 49 pascal
W di 1 = 13 kgf = 127.86 = dibagi 4 = 31.96 newton
r c 1
. ( r c 1 )r ( 1 ) .

pivi r( 1)
W =
Sebelum dimasukkan ke rumus , W harus berbentuk joule , dengan cara
W (joule )

= w (newton ) x 2 x stroke
= 31.996 N X 2 X 0.082 m
= 5.24 Joule

8.2
1.567 1
( ( 1 )).
. ( 0.567 )
1
pn
4 3
4.9 4.4 x 10 m .8 .2( 1)
5.24 j=
Karena perhitungan mencari nilai

sedikit rumit ,maka kami memakai metode trial dan

error yang dikerjakan di excel (lampiran ada di belakang )


Nilai yang didapat
1 = 1.43

v1
v2

th

p2
p1

1-

4.4 X 1 04
4
0.54 X 10

1
r 1

Permesinan Kapal 2

r c 1
(r c 1)

= 1-

p2
49

1.43

1
1.567 1
0.43
1.43
(0.567)
8.2
Page 11

1.43

= P2 = 212.3 pascal

0.5511 (55.11 %)

T ( ft .lbf ) X RPM
5352

Bhp =

fuel consumtion/t
power

B sfc =

1.17 ft .7 .165 lbf x 1100 rpm


5352

7.5
50 X 1.722 lbf . ft . rpm

= 0.087 ml/s .l/lbf.ft.rpm

2.

*t = 50 sekon

v1

= 4.4 x 10 -4

p1

= 6 mm h20

= 58.83 pascal

= 19 kgf = 186.32 newton

=(dibagi 4 ) = 46.58 newton

w (joule )

v2 = 0.54 x 10 -4

= w (newton ) x 2 x S
= 46.58 X 2 X 0.082
= 7.63912 joule

r c 1
. ( r c 1 )r ( 1 ) .

pivi r( 1)
W =
8.2

1.567 1
( ( 1 ) ).
. ( 0.567 )
1
4 3
58.83 X 4.4 x 1 0 m .8 .2( 1)
7.63912 j=
= = 1.51
v1
v2

= 1.722 lbf .ft .rpm

p2
p1

Permesinan Kapal 2

4.4 X 1 04
0.54 X 104

p2
58.83

Page 12

1.51

P2 = 235.86
th

1-

1
r 1

r c 1
(r c 1)

= 1-

1
1.5671.511
8.20.51 1.51(0.567)

= 0.6136 (61.36 %)

T ( ft .lbf ) X RPM
5352

Bhp =

==

1.17 ft .10 .47 lbf x 1100 rpm


5352

= 2.517 lbf.ft.rpm

B sfc =

fuel consumtion/t
power

= 0.0726 ml/s .l/lbf.ft.rpm

3.

7.5
41 X 2.517 lbf . ft . rpm
*t = 41 sekon

v1 = 4.4 x 10 -4

p1 = p1 = 6 mm h20 = 58.83 pascal

v2 = 0.54 x 10 -4

w = 22 kgf =215.74= 53.939 newton

w (joule )

= w (newton ) x 2 X s = 53.95 X 2 X 0.082 = 8.845 joule


r c 1
. ( r c 1 )r ( 1 ) .

pivi r( 1)
W =

8.2
1.567 1
( ( 1 ) ).
. ( 0.567 )
1
4 3
58.83 X 4.4 x 1 0 m .8 .2( 1)
8.845 j=
= 1.58

Permesinan Kapal 2

Page 13

v1
v2

p2
p1

4.4 X 1 0
4
0.54 X 10

p2
58.83

1.58

P2= 221.79 pascal

th

1-

1
r 1

r c 1
(r c 1)

= 1-

1.58

1
1.567 1
0.58
1.51(0.567)
8.2

= 0.6595 (65.95 %)
T ( ft .lbf ) X RPM
5352

Bhp =

1.17 ft .12 .125 lbf x 1100 rpm


5352

==

= 2.915 lbf.ft.rpm
B sfc =

fuel consumtion/t
power

7.5
36 X 2.915 lbf . ft . rpm

= 0.0726 ml/s .l/lbf.ft.rpm

*t = 36 sekon

Lampiran Perhitungan
kgF
13
19
22

N
127.86
186.32
215.74

/4
31.965
46.58
53.935

Permesinan Kapal 2

Lbf
28.66
41.88
48.5

/4
7.165
10.47
12.125

Page 14

7.Pembahasan
%T

30
40
50

1.43
1.51
1.58

Permesinan Kapal 2

thermal
(%)
55.11
61.36
65.95

BHP
(lbf.ft.rpm)
1.722
2.517
2.915

Page 15

Bsfc (ml/s
1/lbf.ft.rpm)
0.087
0.0726
0.00714

T vs Bsfc
0.1
0.08
T vs Bsfc

0.06
0.04
0.02
0
25

30

35

40

45

50

55

T vs Ef
70
65
T vs Ef

60
55
50
45
25

30

35

40

Permesinan Kapal 2

45

50

55

Page 16

T vs BHP
3.5
3
2.5

T vs BHP

2
1.5
1
0.5
0
25

30

35

40

45

50

55

T vs Gamma
1.6
1.55
T vs Gamma

1.5
1.45
1.4
1.35
25 30 35 40 45 50 55

Permesinan Kapal 2

Page 17

Permesinan Kapal 2

Page 18

Analisis

T vs Gamma
1.6
1.55
1.5

T vs Gamma

1.45
1.4
1.35
25

30

35

40

45

50

Setelah dilakukan pengujian mesin diesel dengan 1100 rpm menghasilkan nilai pada
setiap throttle berbeda-beda. Semakin tinggi nilai trottel maka semakin tinggi pula
nilai gamma pada mesin tersebut. Hal ini dapat dilihat, pada bukaan throttle 30%
didapatkan hasil 1,43. Setelah selesai dengan throttle 30%, maka dilanjutkan
dengan throttle 40%, dapat dilihat pada grafik diatas, pada throttle 40% memiliki
kenaikan pada nilai gamma yaitu menjadi 1,51. Kemudian setelah percobaan 40%
selesai maka dilakukan kembali uji coba dengan throttle 50%. Sama seperti
percobaan sebelumnya, pada throttle 50% inimenghasilkan nilai gamma yang naik
dari percobaan sebelumnya yaitu 1,58. Hal ini dapat menyimpulkan hipotesa bahwa
semakin tinggi throttle yang terbuka maka semakin tinggi pula nilai gamma yang
dihasilkan.

T vs Ef
70
65

T vs Ef

60
55
50
45
25

Permesinan Kapal 2

30

35

40

Page 19

45

50

55

55

Setelah dilakukan pengujian mesin diesel dengan rpm 1100 dengan throttle
30%,40% dan 50%. Terlihat pada grafik diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi
throttle yang diberikan maka semakin tinggi pula nilai dari thermal effisiensi yang
dihasilkan. Hal ini disebabkan pada grafik sebelumnya yaitu, nilai gamma. Pada
perhitungan thermal effisiensi, nilai gamma berpengaruh terhdapa perhitungan. Pada
pembahasan sebelumnya, nilai gamma semakin tinggi seiring dengan nilai throttle.
Hal tersebut menyebabkan nilai effisien yang tinggi, pada throttle 30% mesin
tersebut memiliki nilai efisiensi 55,11. Pada percobaan selanjutnya dengan throttle
40% akan menghasilakn effisiensi yang lebih tinggi dari sebelumnya ytiu 61,36. Dan
pada percobaan throttle 50% menghasilkan 65,95.

T vs BHP
3.5
3
2.5
T vs BHP

2
1.5
1
0.5
0
25

30

35

40

45

50

55

Pada percobaan mesin diesel 1100 rpm ini menghasilkan nilai BHP yang dipengaruhi
oleh nilai throttle. Nilai BHP didapat dari hasil perhitungan data nilai thermal
effisiensi yang dihasilkan dari mesin tersebut. Semakin tinggi nilai dari effisiensi
tersebut maka akan menghasilkan Brake House Power yang tinggi pula. Dapat dilihat
pada grafik diatas, pada throttle 30% menghasilkan nilai Brake House Power
sebanyak 1,722. Kemudian mengalami kenaikan pada throttle 40% dengan
menghasilkan Brake House Power sebanyak 2,517. Dan mengalami kenaikan pada
throttle 50% dengan menghasilkan Brake House Power sebanyak 2,915.
Permesinan Kapal 2

Page 20

T vs Bsfc
0.1
0.08
0.06

T vs Bsfc

0.04
0.02
0
25 30 35 40 45 50 55

Setelah kita mendapatkan nilai BHP maka kita akan melanjutkan perhitungan untuk
mendapatkan nilai BSFC. Nilai dari BSFC ini dapat menentukkan apak mesin tersebut
irit atau tidak. Nilai BSFC ini di dapat dari mass fuel perunit time dibagi dari hasil
BHP mesin tersebut. Semakin kecil nilai dari BSFC tersebut maka akan semakin baik
atau semakin irit mesin tersebut. Hal ini berbanding terbalik dengan nilai BHP yang
telah dijelaskan pada grafik sebelumnya. Pada grafik BSFC ini, semakin tinggi nilai
throttel maka akan semakin turun nilai dari BSFC. Dapat dilihat pada grafik diatas
bahwa pada throttle 30% menghasilkan BSFC sebanyak 0,087. Pada percobaan
selanjutnya pun mengalami penurunan pada nilai BSFC yaitu 0,0726 pada throttle
40% dan mengalami penurunan kembali menjadi 0,00714 pada throttle 50%.
Analisis kesalahan
Pada percobaan kali ini memungkingkan beberapa kesalahan yang dapat
mempengaruhi nilai perhitungan di atas diantaranya adalah
1. Nilai beberapa variabel tidak kontinius seperti nilai rpm yang dipakai dalam
perhitungan adalah 1100 rpm namun pada percobaan nilai dapat berubah
secara fluktuaktif
2. Human error

Permesinan Kapal 2

Page 21

Dalam percobaan ini pratikkan diminta untuk mengamati parameter yang ada
pada saat bersamaaan , sangat memungkinkan mata pratikkan melihat nilai
yang salah karena nilai di beberapa parameter tidak bersifat digital

8.KESIMPULAN
1. Pada setiap bukaan throttle memiliki efisiensi dan gama yang
berbeda dengan rpm yang sama dan pembebanan perbeda agar
mendapatkan rpm yang tetap yaitu 1100
2. pada saat bukaan throttle 30% mendapatkan gamma 1,143
effisiensi thermal 55,11% BHP 1,772 dan bsfc 0,087
3. pada saat bukaan throttle 40% mendapatkan gamma 1,51 effisiensi
thermal 61,36 BHP 2,517 dan bsfc 0,0726
4. pada saat bukaan throttle 50% mendapatkan gamma 1,58 effisiensi
thermal 65,95 BHP 2,915 dan bsfc 0,00714
5. Dari perbedaan bukaan throttle, bukaan 50% mempunyai effisiensi
yang lebih baik dari yag lain

Permesinan Kapal 2

Page 22

9.DAFTAR PUSTAKA
http://kholilibaihaki.blogspot.com/2013/02/pengertian-dan-cara-kerjamesin-4-tak-2.html
http://willycar.com/2014/06/08/perbedaan-direct-dan-indirect-injection/
http://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CBoQFjAA&url=http
%3A%2F%2Fwww.maritimeworld.web.id%2F2013%2F10%2Fkomponendasar-mesindiesel.html&ei=XmY2VbeDDNDX8gXtq4HoDQ&usg=AFQjCNEqquzJ5mHP4vbZhPoYsNwAyRz2A&sig2=tfHiShMw5CLjUtjDsM9fyQ&bvm=bv.9107110
9,d.dGc
Ganesan, V. Internal Combustion Engines Second Editions. 2006. New
Delhi :Tata McGraw-Hill
Dokumentasi

Permesinan Kapal 2

Page 23

Permesinan Kapal 2

Page 24