Anda di halaman 1dari 16

I.

Definisi
Fraktur adalah rusak atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang
rawan yang disebabkan adanya ruda paksa atau tekanan eksternal yang lebih besar dari
kemampuan tulang meredam tekanan tersebut dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
1.

Anatomi fisiologi
a.

Anatomi
Humerus atau tulang lengan atas adalah tulang terpanjang dari anggota atas,
memperlihatkan sebuah batang dan dua ujung (Evelynn C. Pearce, 1999 ; 67).
Sepertiga dari atas ujung humerus (proximal) terdiri atas sebuah kepala yang
membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapula. Pada bagian bawah leher ada
bagian yang sedikit lebih ramping yang disebut leher anatomik. Di sebelah luar ujung
atas di bawah leher anatomi terdapat sebuah benjolan yaitu tuberositas mayor dan di
sebelah depan ada benjolan kecil yaitu tuberositas minor. Antara kedua tuberositas
terdapat celah bisipital atau sulkus intertuberkularis. Tulang menjadi lebih sempit di
bawah tuberositas dan tempat ini disebut leher cirurgis.
Pada batang humerus sebelah atas bundar, namun semakin ke bawah menjadi
lebih pipih. Sebuah tuberkel disebelah lateral batang, tepat di atas pertengahan
disebut tuberositas deltoideus. Ujung bawah humerus lebar dan agak pipih. Pada
bagian terbawah terdapat permukaan sendi yang dibentuk bersama tulang lengan
bawah. Troklea yang terletak disisi sebelah dalam berbentuk gelondong benang
tempat persendian ulna dan disebelah luar terdapat kapitulum yang bersendian dengan
radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat dua epikondril
yaitu epikondril lateral disebelah luar dan epikondril medial disebelah dalam.

Gambar 2.1.
Pandangan anterior dan posterior dari humerus kiri,
memperlihatkan titik-titik yang menjulang yang disebut di dalam teks
b.

Fisiologi
Kerangka membentuk dan menopang tubuh, melindungi organ penting dan
berperan sebagai penyimpan mineral tertentu seperti kalsium, magnesium, dan fosfat.
Rongga medula tulang adalah tempat utama yang memproduksi sel darah (Cherlene
J. Reeves, 2001 ; 237).

II.

Etiologi
Menurut Cecily L. Bets & Linda A. Sowden (2002 ; 148) fraktur dapat disebabkan
oleh :
c. Trauma, atau dorongan langsung pada tulang serta dorongan tidak langsung (misal :
terpukul benda melayang) dari jarak jauh.

d. Fraktur spontan akibat kondisi patologis.


e. Fraktur akibat kontraksi otot yang kuat dan tiba-tiba, serta fraktur stress akibat stress
tingkat rendah yang berkepanjangan atau berulang.
III.

MANIFESTASI KLINIK
Menurut Menurut Suzanne C. Smeltzer (2001 ; 2358-2359), manifestasi klinis fraktur
adalah nyeri yang terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Hilangnya fungsi, bagian-bagiannya tidak dapat digerakan sesuai dengan
fungsinya. Deformitas akibat pergeseran fragmen pada fraktur. Pemendekan tulang
karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Krepitus/derik
tulang terjadi akibat gesekan antar fragmen. Pembengkakan dan perubahan warna lokal
pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.

IV.

PATOFISIOLOGI
Trauma yang terjadi menyebabkan fraktur, akibatnya jika satu tulang sudah patah,
maka jaringan lunak sekitarnya seperti pembuluh darah, otot, dan organ terdekatpun ikut
rusak, periosteum terpisah dari tulang, dan terjadi perdarahan hebat, timbul rasa nyeri,
kejang otot sekitar fraktur menyebabkan tertariknya segmen tulang sehingga
menyebabkan deformitas.
Apabila terjadi fraktur tertutup dimana kulit tidak ditembus oleh fragment tulang,
maka tempat fraktur tidak akan tercemar lingkungan. Sedangkan apabila terjadi fraktur
terbuka dimana kulit ditembus fragment tulang, maka luka tersebut dapat terkontaminasi
oleh benda asing yang dapat menyebabkan infeksi (Sylvia A. Price, 1995 : 1185).

2.

Klasifikasi fraktur humerus

Fraktur Humerus menurut Suzanne C. Smeltzer (2001 ; 2368-2371) dibagi menjadi :


a.

Fraktur kolum humeri


Fraktur humerus proksimal dapat terjadi pada kolum anatomikum maupun kolum
sirurgikum humeri. Kolum anatomikum humeri terletak di bawah kaput humeri.
Kolum sirurgi humeri terletak di bawah tuberkulum. Fraktur impaksi kolum
sirurgikum humeri paling sering terjadi pada wanita tua setelah jatuh posisi tangan
menyangga. Fraktur ini pada dasarnya tidak bergeser.

b.

Fraktur batang humerus


Fraktur batang humerus paling sering disebabkan oleh :
1) Trauma langsung yang mengakibatkan fraktur tranversal (sepanjang garis tengah
tulang), oblik (membentuk sudut dengan garis tengah tulang) atau komunitif
(tulang pecah menjadi beberapa segmen)
2) Gaya memutar tak langsung yang menghasilkan fraktur spion (memuntir seputar
batang tulang) saraf dan pembuluh darah brakhialis dapat mengalami cedera.

c.

Fraktur pada siku


Fraktur humerus distal akibat kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dengan siku
menumpu (posisi ekstensi atau fleksi) atau hantaman langsung. Fraktur ini dapat
mengakibatkan kerusakan saraf akibat cedera pada saraf medianus, radialis dan ulna.

V.

Gambar

VI. PENATALAKSANAAN
Menurut Sylvia A Price (1995 ; 1187), ada empat konsep dasar yang harus
dipertimbangkan, yaitu :
d. Rekognisi
Menyangkut perumusan diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan kemudian
di rumah sakit melalui pengenalan riwayat kecelakaan, derajat keparahan, jenis
kekuatan yang berperan dalam kecelakaan, dan deskripsi tentang peristiwa yang
terjadi oleh penderita sendiri yang menentukan apakah terdapat kemungkinan adanya
fraktur, dan apakah perlu dilakukan pemeriksaan spesifik untuk mencari adanya
fraktur.
e. Reduksi
Adalah usaha dan tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat
mungkin untuk kembali seperti letak semula.
f. Retensi
Adalah metode untuk menahan tulang yang patah selama proses reduksi, yaitu ketika
pemasangan traksi atau gips.
g. Rehabilitasi
Sedapat mungkin pembidaian dilakukan dalam posisi fungsional sendi yang
bersangkutan. Sesudah periode imobilisasi akan terjadi kelemahan otot dan kekakuan
sendi, hal ini diatasi dengan fisioterapi atau aktivitas yang sesuai dengan fungsi sendi
tersebut.
VII.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Rontgen sinar-X pada bagian yang sakit merupakan perangkat diagnostik definitif
yang digunakan untuk menentukan adanya fraktur. Meskipun demikian, beberapa faktor
mungkin sulit untuk dideteksi dengan menggunakan sinar-x pada awalnya sehingga akan

membutuhkan evaluasi radiografik pada hari berikutnya untuk mendeteksi adanya callus.
Jika dicurigai adanya perdarahan maka dilakukan pemeriksaan complete blood count
(CBC) untuk menilai banyaknya darah yang hilang (Cherlene J. Reeves, 2001 ; 249).
VIII.

Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
Pengumpulan data
Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi yang sistematik tentang klien
termasuk kekuatan dan kelemahan klien. Data dikumpulkan dari klien, keluarga,
orang terdekat, masyarakat, grafik, dan rekam medik (Carol Vestal Allen, 1998 : 22).
a.

Biodata
a)

Menguraikan tentang biodata klien yang meliputi : nama,


tempat tanggal lahir, suku/latar belakang budaya, pendidikan, agama,
pekerjaan, alamat (Robert Priharjo, 1996 ; 181).

b)

Biodata penanggung jawab


Meliputi nama, tempat tanggal lahir, pendidikan, agama, pekerjaan.

b.

Riwayat kesehatan klien


a)

Riwayat kesehatan sekarang


Menurut Robert Prihajo (1996 ; 137), dalam pengumpulan data status
kesehatan sekarang

menyangkut keluhan utama klien meliputi keadaan

nyeri, bengkak, kekuatan atau keluhan lain. Kegiatan apa saja yang
memperberat atau mengurangi keluhan yang diperjelas dengan PQRST
untuk setiap keluhan.
Paliatif / Provokatif

: Apa yang menjadi keluhan sehingga lebih berat


atau lebih ringan.

Quantitas / Qualitas

: Bagaimana nyeri dirasakan, seperti apa nyeri


dirasakan.

Region

: Di daerah mana nyeri dirasakan, bagaimana


penyebarannya.

Skala

: Skala nyeri (1-5).

Time

: Kapan mulai terjadi keluhan, dirasakan terusmenerus atau pada waktu tertentu.

b)

Riwayat kesehatan masa lalu


Menurut Robert Priharjo (1996 ; 138), untuk mendapatkan tambahan
informasi yang berkaitan dengan gangguan sistem muskuloskeletal antara
lain apakah klien pernah mengalami cedera pada tulang, persendian, atau
otot serta tindakan termasuk operasi apa yang pernah dialami.

c)

Riwayat kesehatan keluarga


Menurut Robert Prihajo (1996 ; 138), data tentang riwayat keluarga
dikumpulkan dengan cara mengajukan pertanyaan, apakah ada anggota
keluarga klien yang menderita osteoporosis, artritis, ataupun penyakit
menular dan keturunan.

c.

Data Biologis
Menurut Marilynn E. Doenges (2000 ;761), yang perlu dikaji adalah : pola
aktivitas yaitu keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin
segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder dari pembengkakan
jaringan, nyeri).

d.

Pemeriksaan fisik
a)

Keadaan Umum dan tanda-tanda vital


Penampilan, tingkat kesadaran, tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi,
pernafasan, berat badan dan tinggi badan.

b)

Sistem panca indera


Terdiri atas 5 indera, unutk sistem pendengaran, penciuman dan pengecapan
dikaji bentuk, kebersihan dan fungsinya. Untuk sistem penglihatan dikaji
bentuk mata, warna konjungtiva dan sklera, reflek pupil, respon membuka
mata dan fungsi penglihatan. Untuk sistem perabaan perlu dikaji stimulus
rangsang kasar dan halus.

c)

Sistim pernafasan
Kaji pola pernafasan, penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, auskultasi
bunyi nafas : normal (tubular, bronchovesikuler, vesikuler).

d)

Sistem kardiovaskuler
Pada klien dengan fraktur dapat ditemukan hipertensi, hipotensi, tachikardi,
penurunan atau tak ada nadi pada bagian yang cedera (Maryllin E. Doenges,
2000 ; 762).

e)

Sistem pencernaan
Keadaan bibir dan rongga mulut, gigi dan gusi, lidah, reflek menelan,
keadaan abdomen, bising usus dan nyeri tekan abdomen.

f)

Sistem perkemihan
Pembesaran dan nyeri tekan ginjal, saklit pada pinggang, pola BAK dan
keluhannya, ada tidaknya distensi pada vesica urinaria.

g)

Sistem persyarafan
Klien dengan fraktur dapat ditemukan parastesi atau kesemutan, hilang
gerakan atau sensasi, agitasi karena nyeri dan ansietas atau trauma lain.

h)

Sistem endokrin
Pembesaran kelenjar tyroid, getah bening, keluhan poliuri, polidipsi,
poliphagi.

i)

Sistem integumen
Keadaan kulit, kebersihan, keadaan rambut, warna kulit, oedema, turgor
kulit, tekstur kulit, suhu dan pola hygiene.

j)

Sistem Muskuloskeletal
Menurut Robert Priharjo (1996 ; 138-140), Pada otot, inspeksi ukuran otot,
adakah atropi atau hipertrofi, inspeksi otot dan tendon kemungkinan
kontraktur (malposisi suatu bagian tubuh), kemungkinan kontraksi
abnormal, tremor, kaji tonus otot dan kekuatan otot. Pada tulang, inspeksi
kenormalan susunan tulang, pembengkakan dan deformitas, lakukan palpasi
tulang untuk mengetahui adanya oedema atau nyeri tekan. Pada persendian,
inspeksi, palpasi untuk mengetahui nyeri, rentang gerak (ROM), bengkak,
krepitasi dan nodula.

e.

Data psikososial
Terdiri atas penampilan, status emosi, konsep diri, kecemasan dan interaksi sosial.

f.

Data spiritual
Meliputi bagaimana keyakinan klien tentang penyakitnya, hubungan klien dengan
tuhannya (Nasrul Effendy, 1995 ; 12).

g.

Data penunjang
Rontgen sinar-X pada bagian yang sakit merupakan perangkat diagnostik definitif
yang digunakan untuk menentukan adanya fraktur. Meskipun demikian, beberapa
faktor mungkin sulit untuk dideteksi dengan menggunakan sinar-x pada awalnya
sehingga akan membutuhkan evaluasi radiografik pada hari berikutnya untuk
mendeteksi adanya callus. Jika dicurigai adanya perdarahan maka dilakukan
pemeriksaan complete blood count (CBC) untuk menilai banyaknya darah yang
hilang (Cherlene J. Reeves, 2001 ; 249).

3.

Analisis data
Analisis data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berfikir
rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan (Zaidin Ali, 2001 ; 75).

4.

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau
komunitas terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial.
Diagnosa keperawatan memberikan dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk
mencapai hasil yang menjadi tanggung gugat perawat (North American Nursing
Diagnosis Association, dikutip dari Marilynn E. Doenges, 2000 ; 8).
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada klien dengan gangguan ortopedik
dan jaringan penyambung menurut Marilynn E. Doenges (2000 ; 763-776) :
a.

Resiko terhadap kehilangan integritas : tulang berhubungan dengan


trauma.

b.

Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan gerakan


fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan lunak.

c.

Resiko terhadap disfungsi : neurovaskuler berhubungan dengan


penurunan/interupsi aliran darah.

d.

Resiko terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan


adanya perubahan aliran darah/emboli lemak

e.

Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kerusakan rangka


neuromuskuler : nyeri/ketidaknyamanan.

f.

Resiko

terhadap

kerusakan

integritas

berhubungan dengan cedera tusuk, fraktur terbuka

kulit

dan

jaringan

atau bedah perbaikan,

pemasangan traksi pen, kawat, skrup, plat.


g.

Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya


pertahanan primer akibat kerusakan kulit, trauma jaringan, adanya prosedur invasif
dan traksi tulang.

h.

Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan


pengobatan

berhubungan

dengan

kurang

mengingat,

salah

interprestasi

informasi/tidak mengenal sumber informasi.


5.

Perencanaan
Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi
dan mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan
(Nursalam, 2001 ; 52).
a.

Trauma, resiko tinggi terhadap (tambahan)


-

Faktor resiko meliputi :


kehilangan integritas tulang (fraktur).

Kemungkinan

dibuktikan

oleh : Tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala-gejala membuat


diagnosa aktual.
-

Hasil

yang

diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan : mempertahankan stabilisasi dan posisi


fraktur, menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi
fraktur dan menunjukkan pembentukan kalus/mulai penyatuan fraktur dengan
tepat.
Tabel 2.1
Intervensi dan Rasional Trauma
NO
1.

INTERVENSI
Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai
indikasi. Berikan sokongan sendi di atas dan di
bawah fraktur bila bergerak/membalik.

RASIONAL
Meningkatkan
stabilitas,
kemungkinan
posisi/penyembuhan.

2.

Sokong fraktur dengan bantal/gulungan selimut.


Pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit
dengan bantal, pembebat, papan kaki.

Mencegah gerakan yang tak perlu dan


perubahan posisi-posisi yang tepat dari
bantal dapat mencegah tekanan deformitas
pada gips yang kering.

3.

Evaluasi pembebat ekstremitas terhadap resolusi


edema.

Pembebat koaptasi (contoh jepitan JonesSugar) mungkin digunakan


untuk
memberikan imobilisasi fraktur dimana
pembengkakan jaringan berlebihan. Seiring
dengan berkurangnya edema, penilaian
kembali pembebat dengan penggunaan gips
plester
mungkin
diperlukan
untuk
mempertahankan kesejajaran fraktur.

b.

menurunkan
gangguan

Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan gerakan fragmen


tulang, edema dan cedera pada jaringan lunak.
-

Dapat

dihubungkan

dengan : spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan
lunak, alat traksi/imobilisasi dan stress, ansietas.

Kemungkinan

dibuktikan

oleh : keluhan nyeri, distraksi : fokus pada diri sendiri/fokus menyempit : wajah
menunjukkan nyeri, perilaku berhati-hati, melindungi : perubahan tonus otot :
respons otonomik
-

Hasil

yang

diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan : menyatakan nyeri hilang, menunjukkan


tindakan santai ; mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan
tepat, menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik
sesuai indikasi untuk situasi individual.
Tabel 2.2
Intervensi Dan Rasional Nyaman Nyeri
NO
1.

INTERVENSI
Hindari penggunaan sprei/bantal plastik di bawah
ekstremitas dalam gips.

RASIONAL
Dapat
meningkatkan
ketidaknyamanan
karena peningkatan produksi panas dalam
gips yang kering.

2.

Evaluasi keluhan nyeri/ ketidaknyamanan,


perhatikan lokasi dan karekteristik, termasuk
intensitas (skala 0-10). Perhatikan petunjuk nyeri
nonverbal (perubahan pada tanda vital dan
emosi/perilaku).

Mempengaruhi
pilihan/pengawasan
keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat
mempengaruhi persepsi/reaksi terhadap
nyeri.

3.

Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah


sehubungan dengan cedera.

Membantu untuk menghilangkan ansietas.


Pasien dapat merasakan kebutuhan untuk
menghilangkan pengalaman kecelakaan.

4.

Dorong menggunakan teknik manajemen stress,


contoh relaksasi progressif, latihan nafas dalam,
imanjinasi visualisasi, sentuhan terapeutik.

Memfokuskan
kembali
perhatian,
meningkatkan rasa kontrol dan dapat
meningkatkan kemampuan koping dalam
manajemen nyeri yang mungkin mentap
untuk periode lebih lama.

5.

Berikan obat sesuai indikasi : narkotik dan


analgetik non narkotik : NSAID injeksi contoh
ketoralak (Toradol) : adan/atau relaksan otot,
contoh siklobenzaprin (Flekseril), hidroksin
(Viztaril). Berikan narkotik sekitar pada jamnya
selama 3-5 hari.

Diberikan untuk menurunkan nyeri dan/atau


spasme otot. Penelitian toradol telah
diperbaiki menjadi lebih efektif
dalam
menghilangkan nyeri tulang, dengan masa
kerja lebih lama dan sedikit efek samping
bila dibandingkan dengan agen narkotik.

c.

Resiko tinggi terhadap disfungsi : neurovaskuler berhubungan dengan


penurunan/interupsi aliran darah.
-

Faktor resiko meliputi :


penurunan/interupsi aliran darah : cedera vesikuler langsung, edema berlebihan,
pembentukan trombus.

Kemungkinan

dibuktikan

oleh : tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda, gejala-gejala membuat diagnosa


aktual.
-

Hasil

yang

diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan : Mempertahankan perfusi jaringan


dibuktikan oleh terabanya nadi, kulit hangat/kering, sensasi normal, sensori biasa,
tanda vital stabil dan pengeluaran urine adekuat untuk situasi individu.
Tabel 2.3
Intervensi dan Rasional Neurovaskuler
NO
1.

INTERVENSI
Evaluasi adanya/kualitas nadi perifer distal
terhadap cedera melalui palpasi. Bandingkan
dengan ekstermitas yang sakit.

RASIONAL
Penurunan/tak
adanya
nadi
dapat
menggambarkan cedera vaskuler dan
perlunya evaluasi medik segera terhadap
status sirkulasi. Waspadai bahwa kadangkadang nadi dapat terhambat oleh bekuan
halus dimana pulsasi mungkin teraba. Selain
itu, perfusi melalui arteri lebh besar dapat
berlanjut setelah meningkatnya tekanan
kompartemen yang telah mengempiskan
sirkulasi arteriol/venula otot.

2.

Kaji aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan


distal pada fraktur.

Kembalinya warna harus cepat (3-5 detik).


Warna kulit putih menunjukkan gangguan
arterial. Sianosis diduga ada gangguan vena.
Catatan : nadi perifer, pengikisan kapiler,
warna kulit dan sensasi mungkin normal
meskipun ada sindrom kompartemen karena
sirkulasi
superfisial
biasanya
tidak
dipengaruhi.

lanjutan intervensi Neurovaskuler

3.

Selidiki tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba,


contoh penurunan suhu kulit dan peningkatan
nyeri.

Dislokasi fraktur sendi (khususnya lutut)


dapat menyebabkan kerusakan arteri yang
berdekatan dengan akibat hilangnya aliran
darah ke distal.

4.

Awasi tanda vital. Perhatikan tanda-tanda


pucat/sianosis umum, kulit dingin, perubahan
mental.

Ketidak adekuatan volume sirkulasi akan


mempengaruhi sistem perfusi jaringan.

5.

Awasi Hb/Ht, pemeriksaan koagulasi, contoh


kadar protrombin.

Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah


dan membutuhkan keefektifan terapi
pengantian.

d.

Resiko terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan adanya


perubahan aliran darah/emboli lemak
-

Faktor resiko meliputi :


perubahan aliran : darah/emboli lemak dan perubahan membran alveolar/kapiler :
interstisial, edema paru, kongesti.

Kemungkinan

dibuktikan

oleh : tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda, gejala-gejala membuat diagnosa


aktual.
-

Hasil

yang

diharapkan/kriteria evaluasi pasien akan : mempertahankan fungsi pernapasan


adekuat, dibuktikan oleh tak adanya dispnea/sianosis : frekuensi pernafasan dan
GDA (Gas Darah Arteri) dalam batas normal.
Tabel 2.4
Intervensi dan Rasional Resiko Terhadap Kerusakan Pertukaran Gas
NO
1.

INTERVENSI
Awasi frekuensi pernafasan dan upayanya.
Perhatikan stridor, penggunaan otot bantu,
retraksi, terjadinya sianosis sentral.

RASIONAL
Takipnea, dispnea dan perubahan dalam
mental dan tanda dini insufisiensi pernafasan
dan mungkin hanya indikator terjadinya
emboli paru ada tahap tahap awal. Masih
adanya tanda/gejala menunjukkan distres
pernafasan luas/cenderung kegagalan.

2.

Auskultasi bunyi nafas perhatikan terjadinya


ketidaksamaan, bunyi hiperesonan, juga adanya
gemericik/ronki/mengi dan inspirasi mengorok/
bunyi sesak nafas.

Perubahan adalam/adanya bunyi adventisius


menunjukkan
terjadinya
komplikasi
pernafasan, contoh atelektasis, peneumonia,
emboli. Inspirasi mengorok menunjukkan
edema jalan nafas atas diduga emboli lemak.

3.

Instruksikan dan bantu dalam latihan nafas dalam


dan batuk. Reposisi dengan sering.

Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi.


Reposisi meningkat drainase sekret dan
menurunkan kongesti pada area paru
dependen.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges. E, Marlin, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Jilid 3. EGC : Jakarta

Smetzler, Suzanne C. dan Bare, Brenda G, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner dan Suddart Edisi 8 Volume 2