Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
Orang berusia lanjut ternyata seringkali mengalami masalah malnutrisi
walaupun mereka tidak kelihatan kurus. Semakin bertambah umur seseorang,
semakin tinggi risiko menderita malnutrisi. Menderita penyakit tertentu,
menurunnya fungsi fisiologis, pola makan yang salah, faktor ekonomi,
berkurangnya kontak sosial, serta mengkonsumsi banyak obat adalah faktor yang
mempengaruhi terjadinya malnutrisi pada usia lanjut. Bila malnutrisi tidak
ditangani dengan baik akan membawa konsekuensi defisiensi energi, protein dan
nutrisi lainnya yang dapat berakibat pada meningkatnya biaya pemeliharaan
kesehatan serta menurunnya kualitas hidup seseorang. Hal ini sebenarnya dapat
dihindari dengan asupan nutrisi tepat dan menerapkan pola hidup sehat sejak dini.1
Survey yang representatif dan terencana mengenai epidemiologi dementia
belum pernah dilakukan hingga saat ini. Namun diperkirakan terdapat 24,3 juta
penderita dementia saat ini, dengan 4-6juta kasus baru setiap tahunnya, Jumlah ini
akan bertambah dua kali lipat dalam 20 tahun menjadi 81 juta penderita pada tahun
2040. Sebagian besar penderita dementia tinggal di negara berkembang, dan
proporsi ini akan semakin meningkat dari 60% pada saat ini menjadi 71% pada
2040. Peningkatan jumlah penderita dementia tidak merata di seluruh dunia,
dimana peningkatan di negara maju mencapai 100% dalam kurun waktu 20012040, sedangkan di negara seperti India, China, dan Asia Selatan dapat mencapai
300% pada periode yang sama. Jumlah ini mencapai 11,2% dari seluruh lansia
dengan disabilitas. Angka ini bahkan jauh melampaui stroke (9,5%), gangguan
musculoskeletal (8%) ataupun penyakit kardiovaskular (5%). Oleh karena itu,
sangatlah penting untuk segera menemukan upaya preventif dan kuratif yang dapat
membantu lansia dalam menghadapi dementia. Salah satu upaya yang mungkin
dapat diberikan adalah pemberian suplementasi vitamin bagi lansia, yaitu vitamin
B, C, D, dan E. Namun hingga saat ini, belum ada rekomendasi baku yang dapat
digunakan untuk pemberian vitamin tersebut. 2

BAB II
PEMBAHASAN
Vitamin B
Ada banyak kemungkinan mekanisme, rendahnya vitamin B12 dapat
mempengaruhi fungsi otak, dan karenanya fungsi kognisi, dan mekanisme ini tidak
benar benar eksklusif. Salah satu kemungkinan lain adalah bahwa efek tersebut
diperantarai oleh homocysteine, karena rendahnya vitamin B-12 dikaitkan dengan
ketinggian konsentrasi homocysteine (tHcy).3
Defisiensi Asam Folat/Vitamin B9 dan Vitamin B12 mengakibatkan gangguan
pembentukan

Methonine

sehingga

terjadi

penumpukan

Homosistein

(Hiperhomosisteinemia).4 Hiperhomosisteinemia merupakan faktor risiko penyakit


Demensia Vaskuler. (edgar) Homosistein adalah hasil produk

asam amino

metionin yang mengandung sulfur (sulfur containing amino acid methionine) yang
terbentuk dari donor metil universal SAM selama metilasi dari biomolekul dan
hidrolisis S-adenosilhomosistein. Kemudian homosistein yang remetilasi dengan
metionin melalui metilentetrahidrofolat menghasilkan siklus metabolisme satu
karbon dimana homosistein menurunkan kadar vitamin B.5 Peningkatan
Homosistein (Hcy) berdampak neurotoksis secara langsung dan penelitian
mengatakan bahwa peningkatan Hcy merupakan faktor resiko timbulnya gangguan
fungsi kognitif pada Penyakit Alzeimer.5
Perubahan yang terkait dengan rendahnya vitamin B-12 mungkin memediasi
efek pada kognisi: atrofi otak dan kerusakan pada white matter. Hilangnya secara
progresif jaringan otak (atrofi) terbukti sebagai faktor yang berhubungan dengan,
atau menyebabkan, penurunan kognitif dan demensia dan baru baru ini
menunjukkan rendahnya vitamin B12 merupakan salah satu predictor dari
wholebrain atrophy di komunitas lansia. Progesifitas dari atrofi otak dihubungkan
dengan konsentrasi plasma vitamin B12 antara 800 sampai 160 pmol/L dan dengan
konsentrasi holotranscobalamin dari 250-25 pmol/L.3

Dari beberapa penelitian didapatkan hasil sebagai berikut :

Terdapat hubungan antara kadar homosistein plasma yang tinggi dan onset
demensia.8 Pemberian sumplemen vitamin efektif menurunkan kadar homosistein

tetapi dikatakan tidak ada efek menguntungkan pada target kognitif utama.6
Rendahnya kadar vitamin B12 memiliki hubungan yang positif (signifikan kuat)
dengan keparahan defisit kognitif.4 Dari peneniltian, tidak ada efek signifikan yang
ditemukan, akan tetapi, ditemukan beberapa keterkaitan dengan riwayat penyakit
dan efek spesifik dari umur. Di dalam subgroup dengan stroke, sebagai contoh
partisipan setuju menerima vitamin B ditambah omega-3- fatty acid secara
signifikan lebih sedikit terjadi penurunan pada temporal orientation dibandingan

dengan yang setuju menerima placebo.3


Suplementasi Vitamin B12 harus dipertimbangkan sebagai modal intervensi
prefentif dan terapetik pada kasus Demensia Vaskuler.4 pasien yang mengkonsumsi
kombinasi asam folat dan vitamin B12 menurunkan konversi gangguan kognitif
ringan menjadi demensia.7

Tetapi pada penelitian lain, dikatakan pengobatan

dengan suplemen B12 tidak mengubah fungsi kognitif.8


Hubungan antara kadar Asam Folat/Vitamin B9 terhadap defisit kognitif tidak
signifikan pada studi ini mungkin dikarenakan ukuran sampel yang kurang besar
(n=60).4 Tetapi pada penelitian lain, didapatkan kadar folat yang lebih tinggi pada
awal penelitian berhubungan dengan tingkat konversi yang lebih rendah untuk
demensia, terutama pada wanita.7 Studi lain didapatkan hasil, pada grup dengan
penyakit alzeimer, terdapat korelasi antara kadar folat pada plasma dan asupan
asam folat, namun tidak ada korelasi antara kadar homosistein plasma dengan total
vitamin B6 yang dikonsumsi. Tidak ada korelasi signifikan antara kadar vitamin
B12 plasma dan asupan vitamin B. Sedangkan pada grup dengan gangguan
kognitif ringan, kadar folat plasma berkorelasi dengan asupan protein, vitamin B2,
vitamin B6, dan asam folat. Kadar vitamin B12 plsama berkolerasi dengan asupan
asam folat, dan kadar homosistein plasma tidak berkorelasi dengan asupan vitamin

B2 yang dikonsumsi.5
Pengobatan dengan vitamin B12 dan asam folat pada pasien gangguan kognitif
ringan dapat memperlambat laju atrofi otak.8 Penilaian otak dengan parameter
morfologi dengan magnetic resonance imaging didapatkan kadar folat yang lebih
tinggi pada awal penelitian berhubungan dengan tingkat atrofi lobus temporal
medial yang rendah dan tingginya kadar serum homosistein pada awal penelitian

berhubungan dengan tingginya atrofi otak secara global selama lima tahun. Kadar
vitamin B12 dan folat yang tinggi selama 5 tahun dikaitkan dengan kejadian yang
lebih rendah terhadap atrofi sedang/berat otak secara global. Penggunaan vitamin
B12 atau asam folat dalam lima tahun terakhir, terlepas dari durasi atau cara
asupan, berhubungan dengan rendahnya tingkat hyperintensities periventrikel dan

lesi white matter dibandingkan dengan penggunaan non vitamin.7


Asupan makanan yang mengandung vitamin B dan suplementasi vitamin B
berkorelasi negatif dengan kadar homosistein plasma, namun berkorelasi dengan
skor penilaian fungsi kognitif.5 Vitamin B12 oral sama efektifnya dengan
parenteral vitamin B12 pada pasien dengan defisiensi B12.8
Vitamin C
Asam askorbat (vitamin C) adalah sebuah antioksidan larut air yang poten
tanpa sintesis di dalam otak. Vitamin C pertama kali diisolasi oleh Scent-Gyorgyi
pada tahun 1928. Senyawa ini banyak dijumpai pada sitrus dan sayuran berdaun
hijau gelap.9,10
Teori stres oksidatif merupakan teori yang paling banyak menjelaskan
kerusakan sel neuron pada proses penuaan. Meningkatnya stress oksidatif pada
usia lanjut menyebabkan penumpukan produk oksidasi lipid, asam nukleat dan
protein yang akhirnya menyebabkan disfungsi sel.11
Teori kaskade amyloid merupakan teori yang banyak diyakini para ahli sebagai
penanda pada demensia. Penelitian pada hewan dan manusia menunjukkan adanya
penumpukan beta-amyloid (A) yang merupakan komponen utama plak senilis
pada otak penderita demensia alzheimer.
Bentuk oligomer A secara langsung menghasilkan H2O2 dan meningkatkan
produksi ROS (Reactive Oxygen Species) di mitokondria. A 40 dan A 42
merupakan penanda yang paling signifikan menunjukkan adanya gangguan fungsi
kognitif terutama pada demensia.10
Beberapa sumber menunjukkan sebuah peran dari antioksidan, termasuk AA,
dalam mengurangi kerusakan oksidatif pada neuron dan mengurangi terbentuknya
plak amiloid. Hewan percobaan telah menunjukkan 40% AA dalam otak
diperbaharui setiap harinya dan AA dipertahankan sebesar 10 M dalam neuron.
Kadar AA ini mengurangi stres oksidatif neuron melalui proteksi membran sel dan

DNA, serta mengurangi toksisitas -amiloid dan memperbaharui antioksidan


lainnya.9
Dari hasil penelitian didapatkan:

Dari hasil penelitian terhadap 93 subyek berusia diatas 65 tahun yang dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu kelompok demensia yang berjumlah 43 orang
dimana 15 orang dengan penyakit alzheimer dan 15 orang dengan demensia senilis
dan kelompok kontrol dengan subyek tanpa gangguan kognitif dengan diberikan
asupan vitamin C yang sama pada kedua kelompok ditemukan bahwa terdapat
penurunan kadar plasma vitamin C yang berbanding lurus dengan penurunan nilai
fungsi kognitif berdasarkan tes MMSE pada kelompok demensia dibandingkan

dengan kelompok kontrol.10


Dilakukan penelitian untuk mengetahui efek antioksidan dari vitamin C pada
subyek dengan demensia dan hasil penelitian Dari penelitian yang telah dilakukan,
ditemukan bahwa penurunan kognitif pada penyakit Alzheimer tidak dapat
dijelaskan oleh masing-masing kadar AA baik dalam CSS maupun plasma secara
terpisah, namun rasio dari kadar AA dalam CSS:plasma dapat memprediksi
penurunan kognitif. Rasio AA dalam CSS: plasma lebih tinggi pada pasien dengan
penyakit Alzheimer daripada kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi
peningkatan konsumsi dari AA oleh otak yang mengalami stres oksidatif, dimana
kadar AA dalam plasma menjadi lebih rendah (pernyataan 1). Di sisi lain dari hasil
observasi sampel, hal ini juga menunjukkan bahwa penurunan kognitif yang paling
lambat ditemukan pada rasio AA dalam CSS:plasma yang paling tinggi
(pernyataan 2).
Peneliti berpikir bahwa pernyataan yang terakhir (pernyataan 2) lebih masuk akal,
sehingga peneliti menggunakan data mengenai integritas sawar darah otak (CSF
Albumin Index) untuk menguji kemungkinan ini. Hubungan Rasio AA dalam
CSS:plasma dengan CSF Albumin Index mendukung hipotesis bahwa rasio AA
yang rendah pada beberapa pasien mungkin disebabkan oleh disfungsi sawar darah
otak. Disfungsi sawar darah otak mengganggu kemampuan otak dalam
mempertahankan rasio AA dalam CSS:plasma agar tetap tinggi, karena AA
berdifusi keluar dari sistem saraf pusat mengikuti penurunan konsentrasi gradien.9

Studi sebelumnya pada Cache County menunjukkan penurunan fungsi kognitif


yang lebih ringan dan resiko alzheimer yang lebih rendah pada orang yang
mengonsumsi antioksidan.11

Vitamin D
Vitamin D termasuk hormon steroid yang menghambat neurosteroid di SSP dan
defisit kronik vitamin D yang bersifat neurotropik, antiinflamasi, serta
antioksidan.12
Paparan sinar matahari yang terbatas, gangguan kapasitas dari kulit untuk
memproduksi vitamin D, dan kurangnya asupan vitamin D dapat menyebabkan
kekurangan vitamin D pada orang tua, yang mempengaruhi hampir 50% dari orang
dewasa yang lebih tua.13
Reseptor dari Vitamin D diekspresikan di seluruh otak , termasuk daerah yang
terlibat dalam memori seperti hippocampus dan dentate gyrus. Demikian pula ,
enzim yang mensintesis bentuk aktif dari vitamin D , 1a - hidroksilase , diproduksi
di beberapa daerah otak . Bentuk aktif dari vitamin D , 1,25dihydroxy - vitamin D3
( 1,25 - D3 ) , mengatur kerja neutrofil rotrophin , seperti faktor pertumbuhan saraf
, neurotrophin, dan glial derivat faktor neurotropik , dan kelangsungan hidup ,
pengembangan , dan fungsi sel-sel saraf. Secara in vitro , vitamin D menstimulasi
makrofag , yang meningkatkan pembersihan plak amyloid,penanda dari AD.
Vitamin D juga mengurangi amiloid yang mencetuskan sitotoksisitas dan apoptosis
pada neuron-neuron primer kortikal. Sebuah penelitian baru menemukan bahwa
amyloid - b menginduksi sintesisnitrat oksida, bagian dari proses inflamasi dari AD
, tergantung pada gangguan dari jalanya reseptor vitamin D.14
Dari hasil penelitian didapatkan:
Penelitian sistematis data arus dari cross-sectional dan studi longitudinal
menunjukkan hubungan antara kadar 25(OH) Vitamin D yang rendah dengan
penurunan fungsi kognitif, tetapi tidak berhubungan dengan gangguan fungsi
eksekutif.14,15 Pada kelompok dengan intake vitamin D paling tinggi dapat
dihubungkan

dengan

rendahnya

resiko

munculnya

penyakit

Alzheimer

dibandingkan kelompok lain.12 Namun mengenai penggunaan suplementasi

vitamin D untuk mencegah Alzheimer dan demensia masih membutuhkan


penelitian lebih lanjut.16

Gambar 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi level Vitamin D dan potensinya di sistem saraf pusat. 13

Vitamin E
Otak adalah bagian yang memiliki metabolisme yang tinggi yang membuat
organ tersebut menjadi rentan terhadap kerusakan. Akumulasi dari kerusakan yang
sedikit dalam jangka waktu yang panjang dapat berkontribusi pada perkembangan
demensia.17
Vitamin E (alfa-tokoferol) adalah vitamin yang larut lemak dengan aksi yang
berkaitan dengan sifat antioksidannya. Bentuk vitamin E yang paling banyak
dalam tubuh dan memiliki aktivitas biologis paling tinggi adalah Tocopherol.Vitamin E dapat secara alami ditemukan di membran sel di mana ia
berperan dalam menekan radikal bebas yang diinduksi lipid peroksidasi. Radikal
bebas adalah sebuah molekul oksigen yang berada di tubuh dan mencari sebuah
elektron, kadang-kadang merusak jaringan sehat dalam proses yang disebut
oksidasi. Radikal bebas mengganggu integritas membran sel. Sebagai pembersih
radikal bebas, vitamin E melindungi asam lemak tak jenuh ganda membran-terikat
dan zat oksigen-sensitif lainnya dari oksidasi. 18,19

Dari penelitian didapatkan:

Pada penelitian ditemukan 24% dari peserta yang berpartisipasi memiliki


resiko yang lebih rendah untuk terkena demensia karena asupan peningkatan

asupan vitamin E17


Secara biochemical, terdapat peningkatan level antioksidan vitamin E pada
CSF setelah terapi kombinasi selama 1 bulan, dan tetap tinggi kadarnya
sampai 1 tahun dan terdapat penurunan yang signifikan dari oksidasi
lipoprotein, sebagai bukti terdapat suatu efek antioksidan yang tercapai pada

cairan serebrospinal.20
Penelitian menunjukan

bahwa

pemberian

Vitamin

2000

unit

internasional/hari, dapat menghambat perlambatan penurunan fungsi pada


penderita Alzheimer Disease derajat ringan sampai sedang, dengan
menggunakan questionnaire Alzheimers Disease Cooperative Study/Activities
Daily Living Inventory (ADCS-ADL). Namun tidak ada bukti pemberian
Vitamin E merupakan terapi pencegahan untuk terjadinya Alzheimer disease
dan juga Vitamin E tidak dapat menyembuhkan Alzheimer disease. 21
Penemuan ini juga mendukung hipotesis bahwa diet dengan memodifikasi
konsentrasi Vit E dalam plasma dapat mempengaruhi resiko penurunan fungsi
kognitif pada usia lanjut.21,22

BAB III
8

KESIMPULAN
Hingga saat ini, belum ada rekomendasi pasti suplementasi vitamin pada kasus
dementia, namun, banyak penelitian yang memberikah hasil yang menjanjikan
mengenai suplementasi vitamin B, C, D, dan E.
Suplementasi vitamin B dihubungkan dengan dengan penurunan kadar
homosistein yang dapat memperlampat terjadinya dementia, dan juga diduga berperan
untuk menghambat terjadinya atrofi otak, sehingga diduga dapat mencegah terjadinya
dementia.
Sedangkan pemberian vitamin C, memiliki peran sebagai antioksidan, yang
berperan dalam proses stress oksidatif. Selain itu, pemberian anti oksidan juga
terbukti berperan menurunkan resiko terjadinya Alzheimer.
Kadar vitamin D yang rendah pada lansia dihubungkan dengan resiko
terjadinya penurunan fungsi kognitif, namun hingga saat ini, dibutuhkan penelitian
lebih lanjut untuk memberikan rekomendasi penggunaan vitamin D untuk mencegah
dementia.
Pemberian vitamin E pada pasien Alzheimer dapat memperlambat terjadinya
penurunan fungsi kognitif secara objektif. Selain itu vitamin E juga terbukti dapat
mencegah terjadinya dementia pada lansia.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa hingga saat ini
belum ada penelitian yang cukup kuat untuk dijadikan acuan rekomendasi pemberian
suplementasi vitamin pada lansia sebagai terapi definitif pada dementia. Namun,
banyak penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk mencegah terjadinya
dementia. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut, untuk menilai efektifitas, durasi
pemberian, jumlah pemberian, dan efek samping suplementasi vitamin pada lansia
untuk mencegah dementia sebelum dijadikan suatu panduan baku.

DAFTAR PUSTAKA

1. Rina K Kusumaratna. Nutrition and Immune System in the Elderly. Universa


Medicina. 2006; 25(3):140-147.
2. Cleusa P Ferri, Martin Prince, Carol Brayne, Henry Brodaty, Laura Fratiglioni,
Mary Ganguli, Kathleen Hall, Kazuo Hasegawa, Hugh Hendrie, Yueqin Huang,
Anthony Jorm, Colin Mathers, Paulo R Menezes, Elizabeth Rimmer, Marcia
Scazufa. Global Prevalence of Dementia: a Delphi Consensus Study. Lancet.
2005;366(9503):2112-2117.
3. Andreeva V, Kesse-Guyot E, Barberger-Gateau P, Fezeu L, Hercberg S, Galan
P. Cognitive function after supplementation with B vitamins and long-chain
omega-3 fatty acids: ancillary findings from the SU.FOL.OM3 randomized
trial. The American Journal of Clinical Nutrition: 2011;94:27886. Available
form : http://ajcn.nutrition.org/content/94/1/278.full.pdf [ Accessed : 13
November 2015].
4. Naik NS, Lamani S. Study of Serum Folic Acid and Vitamin B12 levels in
Patients

of

Vascular

Dementia. International Journal of Science

and Research.2015; 4(1): 1332-1335.


5. Hyesook Kim, Ggotpin Kim, Won Jang, Seong Yoon Kim, Namsoo Chang.
Association between intake of B Vitamins and Cognitive function in elderly
Koreans with Cognitive Impairment. Nutrition Journal. 2014 ;13(1):118.
6. Aisen Paul, Schneider Lon, Sano Mary, Diaz-Arrastia Ramon,
van

Dyck

Christopher

H,

dkk.

High

Dose

Vitamin

Supplementation and Cognitive Decline in Alzheimers Disease:


A Randomized Controlled Trial. National institutes of health
public access. JAMA. 2008 Oct 15; 300(15): 17741783.
7. Blasko, M Hinterberger2, G Kemmler, S Jungwirth, W Krampla, T Leitha, K
Heinz Tragl, P Fischer. Conversion From Mild Cognitive Impairment To
Dementia: Influence Of Folic Acid And Vitamin B12 Use In The Vita Cohort.
The Journal of Nutrition, Health & Aging. 2012; 16(8): 687-694.
8. Castelli, Bolaman. National Centre for Biotechnology Information : Vitamin B
12 and Cognitive Function.Ontario Health Technol Assess Ser. 2013; 13(23): 1
45.
9. Bowman GL, Dodge H, Frei B, Calabrese C, Oken BS, Kaye JA, Quinn JF.
Ascorbic Acid and Rates of Cognitive Decline in Alzheimers Disease. J

10

Alzheimers Dis. 2009; 16(1): 9398.(


10. K.E. Charlton,T.L. Rabinowit, L.N. Gefeen, M.A.Dhansay. Lower Plasma
Vitamin C but not Vitamin E Concentraton in dementia pastient. The Journal of
Nutrition, Health & Aging Volume 8, Number 2, 2004.
11. Fotuhi M, Zandi PP, Hayden KM, Khachaturian AS, Szekely CA, Wengreen H.
Better Cognitive Performance in Elderly Taking Antioxidant Vitamins E and C
Supplements in Combination with NSAIDs: The Cache County Study.
Alzheimers Dement. 2008 May ; 4(3): 223227.
12. Annweiler C, Rolland Y, Schott A.M, Blain H, Vellas B, Herrmann F.R,
Beauchet O. Higher Vitamin D Dietary Intake is associated with Lower Risk
of Alzheimers Disease : A 7 Years Follow-up. Journal of Gerontology:
MEDICAL

SCIENCES.

2012;67(110):1205-1211.

Available

form

doi:10.1093/Gerona/gls107 [Accessed : 5 November 2015].


13. Etgen thorlief, Sander Dirk, Sander Kerstin, F Hans. Vitamin D Deficiency,
Cognitive Impairment and Dementia: A Systematic Review and Meta-Analysis.
Journal of Dementia and Geriatric Cognitive Disorder. 2012; 33(1): 209-238.
[Accessed on 5 November 2015]
14. Thomas J. Littlejohns, MSc, William E. Henley, PhD Iain A. Lang, PhD, et al.
Vitamin D and the risk of dementia and Alzheimer disease. American Academy
of Neurology 2014. [Accesed : 5 November 2015]
15. 5 Slinin Y, et al. Association Between Serum 25(OH) Vitamin D and the Risk of
Cognitive Decline in Older Women. Journal of Gerontology: MEDICAL
SCIENCES. 2012. [Accessed: 5 November 2015]
16. Liang S,Hong F.J .Vitamin D deficiency is associated with increased risk of
Alzheimers disease and dementia: evidence from meta-analysis.Journal of
Nutrition

Journals.2015.

Available

from:

http://www.nutritionj.com/content/14/1/76 [ Accessed : 5 November 2015].


17. Elizabeth E. Devore, ScD, Francine Grodstein, ScD, Frank JA van Rooij, DSc,
Albert Hofman, MD, Meir J Stampfer, MD, Jacqueline CM Witteman, PhD,
Monique MB Breteler, MD. Dietary Antioxidants and Long-term Risk of
Dementia. Arch Neurol. 2010; 67(7):819-825.
18. Ravaglia G, Forti P, Lucicesare A, et al. Plasma tocopherol and risk of cognitive
impairment in an elderly italian cohort. The American Journal of Clinical

11

Nutrition. 2008; 87: 1306 1313.


19. Yonghua Li, Shumei Liu, Yigang man, Ning Li, Yu Zhou. Effects of Vitamins E
and C Combined with -Carotene on Cognitif Function in the Elderly.
Experimental and Therapeutic Medicine. 2015; 9: 1489-1493.
20. Arlt, S.;MullerThomsen,T.Beisiegel,U.;Kontush,A.Effect of One-Year Vitamin
C and E Supplementation on Cerebrospinal Fluid Oxidation Parameters and
Clinical Course in Alzheimers Disease.Neurochem.Res.2012,37(12),27062714.
21. MauriceW. Dysken, MD; Mary Sano, PhD;at all. Effect of Vitamin E and
Memantine on Functional Decline in Alzheimer Disease. The TEAM-AD VA
Cooperative Randomized Trial. Journal of the American Medical Association.
2014;311(1):33-44. [ Accessed : 11 November 2015].
22. Valory N. Pavlik, Rachelle S. Doody, Susan D. Rountree, Eveleen J. Darby.
Vitamin E Use Ia Associated with Improved Survival in an Alzheimers Disease
Cohort. Dementia and Geriatric Cognitive Disorders. 2009; 28: 536-540.
[ Accessed : 11 November 2015].

12