Anda di halaman 1dari 7

Laporan Presentasi Mikroseismik

Reservoir Stress from Microseismic Source Mechanisms


(Frantisek Stanek, Zuzana Jechumtalova, & Leo Eisner)

ANGGOTA KELOMPOK 2:
Harry Siswanto
(22314021)
Ida Bagus Suananda Y. (12312026)
Atin Nur Aulia
(12312063)

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN
INSITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

1. Pendahuluan
Monitoring mikroseismik merupakan metode yang penting dalam mengamati dan
memetakan respon reservoir terhadap adanya stimulasi hydraulic-fracture. Geometri dari
rekahan seperti arah dari propagasi rekahan, serta panjang dan tinggi rekahan dapat
ditentukan berdasarkan lokasi dari even mikroseismik. Model reservoar seperti discrete
fracture network(DFN), stimulated rock volume, atau propped volume dapat dibuat
berdasarkan lokasi dan mekanisme sumber. Mekanisme sumber juga dapat menentukan
orientasi stress.
Pada even mikroseismik yang disebabkan oleh hydraulic fracturing, makanisme
sumber yang diamati adalah komponen shearing, sedangkan komponen non-shearing
dianggap sebagai noise dari data atau mismodelling(Stanek dan Eisner, 2013). Gempa
yang dihasilkan dari even mikroseismik yang shear menunjukkan adanya dua bidang
patahan dan slip pada masing-masing bidang tersebut. Tipe dari patahan seperti sesar
naik, sesar turun, dan sesar geser bergantung pada tipe dari rezim stress pada area
sumber(Anderson, 1942). Pola directional-dependent yang spesifik dihasilkan oleh setiap
mekanisme sumber dari gelombang seismik yang diradiasikan dari hiposenter, oleh
karena itu pola directional-dependent dapat digunakan untuk menentukan mekanisme
sumber. Mekanisme sumber yang didapatkan dugunakan untuk mendapatkan orientasi
dari medan stress yang konsisten dengan mekanisme sumber tersebut.
2. Metodologi
Metodologi yang digunakan diadopsi dari metodologi dari Angelier(2002) dan
membalikkan medan stress yang paling sesuai dengan mekanisme sumber double-couple.
Namun, metodologi dari Angelier hanya bisa menentukan arah dari stress utama(1, 2,
2
3) dan perbandingan diantara principal stress tersebut ( 1 3 ) yang tidak
R=
berhubungan dengan magnitudo stress.
Asumsi medan stress homogen digunakan dalam proses inversi, namun jika
medan stress heterogen atau berubah secara temporer, maka kita dapat membagi even
mikroseismik ke dalam area yang lebih kecil untuk mendeteksi variasi dari stress.
Pembuatan beberapa subset data dari mekanisme sumber pada lkasi yang berbeda dapat
digunakan pada saat menstimulasi lebih dari satu formasi dan ingin mengetahui jika
medan stress diganggu. Masing-masing subset harus mempunyai jumlah dari even
mikroseismik dengan mekanisme sumber yang dapat dipercaya.
Pada teorinya, hannya empat mekanisme sumber yang dibutuhkan untuk inversi,
namun pada prakteknya, dibutuhkan lebih dari empat mekanisme sumber karena adanya
ketidakpastian inversi mekanisme sumber dan untuk meningkatkan konstrain spasial
dalam orientasi stress. Metodologi ini juga membutuhkan macam-macam orientasi dari
patahan karena stress constraint tidak dapat dilakukan berdasrkan slip berulang sepanjang
patahan yang sama. Analisa ketidakpastian dibutuhkan karena bagaimanapun tidak jelas
bagaimana cara membedakan bidang patahan seharusnya dan bagaimana medan stress
homogen yang dibutuhkan. Ketidakpastian diestimasi menggunakan teknik Jecknife.
3

Orientasi dari stress utama dihitung dan shape ratio dari bermacam-macam subset dari
data dimana data atau beberapa mekanisme sumber telah dihilangkan. Jumlah dari
mekanisme sumber minimum adalah empat. Inversi dan penghilangan mekanisme sumber
secara acak diulang untuk mengestimasi kestabilan dalam penentuan orientasi stress
utama dan error dari shape ratio. Penghamburan(scatter) dari solusi yang didapatkan
merupakan estimasi ketidakpastian. Kelebihan dari metode Angelier ini adalah
perhitungan yang cepat dan tidak perlu ditentukan bidang nodal yang aktif dari setiap
mekanisme..
3. Aplikasi Mikroseismik
Dalam penelitian ini untuk memperoleh kejadian mikroseismik dilakukan
hydraulic fracturing pada reservoir shale selama 4 hari berturut-turut, dengan kedalaman
sekitar 2 km. Untuk mendapatkan data yang memiliki kualitas data 3D yang baik dipilih
konfigurasi starlike array. Konfigurasi ini memiliki 1000 group geophone dengan 10
lintasan pengukuran.
Dari proses injeksi fluida ini digunakan dua pendekatan dalam analisa data.
Pendekatan pertama adalah memilih data terbaik dari 4 hari hydraulic fracturing untuk
dipick secara manual dan disebut Group 1. Proses picking manual menghasilkan 75 data
dari 600 data yang memiliki kualitas signal to noise ratio (SNR) yang baik. Pendekatan
kedua dengan melakukan picking otomatis data pada satu hari yang paling aktif
menggunakan diffraction-stacking moment tensor inversion (DSMTI) dan disebut Group
2. Metode DSMTI mampu mendeteksi kejadian mikroseismik, mementukan lokasi
kejadian mikrosesimik, menginversi mekanisme sumber dari kejadian mikroseismik.
Setelah kedua pendekatan didapat, dilakukan inversi mekanisme sumber untuk masingmasing proses, baik manual maupun otomatis. Tujuan dari penentuan mekanisme sumber
adalah untuk mencari jenis mekanisme sumber, dan kemudian ditentukan apakah sebuah
kejadian mikroseismik itu disebabkan oleh hydraulic fracturing atau reaktivasi patahan
yang telah ada sebelumnya.

Gambar 1. Peta mekanisme sumber dan garis yang merepresentasikan lintasan hydraulic fracturing secara
horizontal; Group 1 (kiri); Group 2 (kanan)

Data dari Group 1 memiliki nilai strike sekitar N 70 o E yang konsisten dengan
arah stres horizontal maksimum dari regional tersebut. Kemiringan bidang patahan (dip)
memiliki nilai sekitar 90o 80o. Group 1 mengandung 62 kejadian dip-slip dan 13
kejadian strike-slip.

Group 2 yang diproses secara otomatis akan mengandung kejadian yang memiliki
nilai SNR rendah dan tinggi. Hal ini akan mengakibatkan ketidakpastian dalam proses
inversi menjadi tinggi. Namun dari data inversi tetap didapat orientasi bidang nodal yang
masih sesuai dengan Group 1. Kedua metode ini menghasilkan orientasi stres utama yang
mirip. Dengan stres 1 hampir vertikal dan stres 2 dan 3 horisontal dan saling tegak lurus
satu sama lain.

Gambar 2. Mekanisme sumber untuk Group 1 (kiri) dan Group 2 (kanan) untuk masing-masing kejadian
mikroseismik. Warna merah adalah stres maksimum, warna abu-abu adalah stres horizontal maksimum, dan
warna biru adalah stress minimum. Warna kuning adalah hasil pendekatan (best fitting) stres yang paling baik

Tabel 1. Orientasi stres utama untuk Group 1 (kiri) dan Group 2 (kanan)

4. Interpretasi Geomekanika
Pada area hydraulic fraturing, stress utama maksimum dan minimum berarah
hosontal, sedangkan stress utama intermediate berasal dari overburden/Lithostatic
Pressure.

Gambar 3. Ilustrasi dari stress utama yang bekerja pada area hydraulic fracturing

Anderson (1951), membuat klasifikasi sesar berdasarkan pada pola tegasan utama
sebagai penyebab terbentuknya sesar (Gambar 4). Berdasarkan pola tegasannya ada 3
(tiga) jenis sesar, yaitu sesar naik (thrust fault), sesar normal (normal fault) dan sesar
mendatar (wrench fault).
a. Normal fault, jika tegasan utama atau tegasan maksimum (1) posisinya vertikal
b. Wrench fault, jika tegasan menengah atau intermediate (2) posisinya vertikal
c. Thrust fault, jika tegasan minimum (3) posisinya vertikal

Gambar 4. Klasifikasi sesar menurut Anderson(1951)

Gambar 4. Diagram Mohr Grup 1 dan Grup 2

Dengan mengesampingkan aspect ratio, diagram Mohr menunjukkan kondisi


medan stress Normal hingga Shear untuk event-event yang teramati. Setiap event lalu
diplot pada diagram Mohr berdasarkan sudut dip nya (). Terlihat nilai dip lebih rendah
dari 30o pada event 1, bahkan sebagian besar event memiliki dip kurang dari 10 o. akan
tetapi, ada juga event yang memiliki dip antara 10o 25o. event dengan sudut ini dapat
diinterpretasikan sebagai reaktivasi sesar yang sudah ada sebelum dilakukan hydraulic
fracturing. Apabila dihubungkan dengan koefisien friksi batuan (umumnya 0.6), maka
biasanya slip pada sesar terjadi pada sudut 300.
Event pada grup 2 memiliki rentang persebaran sudut yang besar, mulai dari
sudut rendah yang lebih kecil daripada 10o, hingga yang lebih besar dari 40o. Persebaran
lebih lebar ini konsisten dengan ketidakpastian pada mekanisme sumber mikroseismik
yang diakibatkan oleh tingkat noise yang tinggi pada data serta proses picking dan inversi
yang dilakukan secara otomatis.
Walaupun medan stress telah berhasil diinversi, sangat sulit menentukan bidang
sesar dari nodal plane tanpa adanya informasi tambahan. Dari event yang ada, terlihat
satu nodal plane yang hampir vertikal, dan satu nodal plane yang hampir horizontal. Akan
tetapi, kita mengetahui bahwa event ini terjadi pada reservoir shale yang secara alami
memiliki bidang lemah antar perlapisannya. Bidang lemah ini merupakan lokasi yang
sangat mungkin menjadi sumber dari event seismik yang terekam. Oleh karena itu, dapat
diinterpretasikan bahwa event yang terjadi adalah slip pada bidang perlapisan shale, yang
memiliki dip kecil dan hampir horizontal.

5. Kesimpulan
Pada studi ini, penulis menggunakan dua grup data. Grup 1 menggunakan data
dengan SNR tinggi yang dipick secara manual, dan grup 2 menggunakan data dengan
SNR rendah dan dipick secara otomatis. Dari kedua grup ini, disimpulkan :
a. Medan stress utama yang didapatkan dari kedua grup memiliki orientasi dan arah
yang sama. Hal ini menunjukkan pengolahan data secara otomatis dapat digunakan
untuk menentukan orientasi medan stress utama (1, 2, 3).
b. Nilai maksimum dari medan stress utama berada pada sumbu vertical (1 = v),
sedangkan stress horizontal maksimum (hmax) berada pada azimuth 75o, konsisten
dengan medan stress yang ada pada World Stress Map di area studi.
c. Teramati scatter yang relatif kecil pada orientasi medan stress hasil inversi, yang
konsisten dengan rezim stress antara normal hingga strike slip.
d. Teramati perbedaan shape ratio medan stress antara kedua grup. Hal ini disebabkan
karena parameter ini sangat sensitif terhadap noise.
e. Event yang teramati memiliki sudut dip yang rendah. Hal ini kemungkinan
diakibatkan oleh hydraulic fraturing dan/atau slip pada bidang lemah antar perlapisan
shale.