Anda di halaman 1dari 11

Studi Aplikasi Metode Spektrofotometri pada Penentuan Kandungan Logam Besi dalam

Sampel Air

Nisa Nur Khasanah, Nia Ramadhanti, Prillizya Dura Tamako,


Steephanny Ernissa A, Desy Nurohmah

Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi


UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Abstrak
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak digunakan untuk
kehidupan manusia sehari-hari. Logam besi merupakan unsur yang yang paling banyak terdapat
dimuka bumi. Dalam tabel periodik, besi mempunyai simbol Fe dengan nomor atom 26 dan
massa atom relatif 55,485 g/mol. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Banyak cara
untuk menganalisis logam fe dalam sampel salah satunya dengan metode spektrofotometri UVVIS.
Pendahuluan
Spektrofotometri adalah ilmu yang mempelajari tentang penggunaan spektrofotometer.
Spektriofotometer adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer.Spektrometer adalah
alat yang digunakan untuk mengukur energi secara relative jika energi tersebut ditransmisikan,
direfleksikan, atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Spektrometer
menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu, dan fotometer adalah alat
pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi.Jadi, spektrofotometer
digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan
atau

diemisikan

sebagai

fungsi

dari

panjang

gelombang.Kelebihan

spektrofotometer

dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih lebih dapat terseleksi dan ini

diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma, grating ataupun celah optis. Pada fotometer filter,
sinar dengan panjang gelombang yang diinginkan diperoleh dengan berbagai filter dari berbagai
warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Selain itu,
fotometer filter juga tidak mungkin memperoleh panjang gelombang yang benar-benar
monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada
spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapat diperoleh dengan
bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber
spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau
blangko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorpsi antara sampel dan blangko ataupun
pembanding (Khopkar SM,1990).
a. Spektrofotometer UV-VIS
Spektrofotometri UV-VIS adalah anggota teknik analisis spektroskopik yang memakai
sumber REM (radiasi elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer.Spektrofotometri UV-VIS melibatkan
energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UVVIS lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif.
Spektroskopi UV-VIS merupakan metode penting yang mapan, andal dan akurat. Dengan
menggunakan spektroskopi UV-VIS, substansi tak dikenal dapat diidentifikasi dan konsentrasi
substansi yang dikenal dapat ditentukan.Pelarut untuk spektroskopi UV harus memiliki sifat
pelarut yang baik dan memancarkan sinar UV dalam rentang UV yang luas.
Spektrofotometer UV-VIS adalah alat yang digunakan untuk mengukur transmitansi,
reflektansi dan absorbansi dari cuplikan sebagai fungsi dari panjang gelombang.Suatu
spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum sinar tampak yang sinambung dan
monokromatis. Sel pengabsorbsi untuk mengukur perbedaan absorbansi antara cuplikan dengan
blanko ataupun pembanding.
Spektrofotometer

UV-VIS

merupakan

spektrofotometer

yang

digunakan

untuk

pengukuran didaerah sinar ultra violet (200350 nm)dan didaerah sinar tampak(350 800 nm).
Serapan cahaya uv atau cahaya tampak mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi
elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi

berenergi lebih tinggi.Semua metode spektrofotometri berdasarkan pada serapan sinar oleh
senyawa yang ditentukan, sinar yang digunakan adalah sinar yang se-monokromatis mungkin.
Spektrofotometer UV-VIS (Ultra Violet-Visible) adalah salah satu dari sekian banyak
instrumen yang biasa digunakan dalam menganalisa suatu senyawa kimia. Spektrofotometer
umum digunakan karena kemampuannya dalam menganalisa begitu banyak senyawa kimia serta
kepraktisannya dalam hal preparasi sampel apabila dibandingkan dengan beberapa metode
analisa.
b. Absorbansi
Absorbansi cahaya UV-VIS mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektronelektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi
lebih tinggi.Energi yang terserap kemudian terbuang sebagai cahaya atau tersalurkan dalam
reaksi kimia. Absorbansi cahaya tampak dan radiasi ultraviolet meningkatkan energi elektronik
sebuah molekul, artinya energi yang disumbangkan oleh foton-foton memungkinkan elektronelektron itu mengatasi kekangan inti dan pindah ke luar ke orbital baru yag lebih tinggi
energinya. Semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-tampak karena mereka
mengandung electron, baik sekutu maupun menyendiri, yang dapat dieksitasi ke tingkat energi
yang lebih tinggi.
Absorbansi untuk transisi elektron seharusnya tampak pada panjang gelombang diskrit
sebagai suatu spectrum garis atau peak tajam namun ternyata berbeda. Spektrum sinar UV
maupun sinar tampak terdiri dari pita absorbansi, lebar pada daerah panjang gelombang yang
lebar. Ini disebabkan terbaginya keadaan dasar dan keadaan eksitasi sebuah molekul dalam
subtingkat-subtingkat rotasi dan vibrasi. Transisi elektronik dapat terjadi dari subtingkat apa saja
dari keadaan dasar ke subtingkat apa saja dari keadaan eksitasi. Karena berbagi transisi ini
berbeda energi sedikit sekali, maka panjang gelombang absorpsinya juga berbeda sedikit dan
menimbulkan pita lebar yang tampak dalam spectrum itu.
Absorptivitas (a) merupakan suatu konstanta yang tidak tergantung pada konsentrasi,
tebal kuvet dan intensitas radiasi yang mengenai larutan sampel. Absorptivitas tergantung pada
suhu, pelarut, struktur molekul, dan panjang gelombang radiasi. Satuan a ditentukan oleh satuansatuan b dan c. Jika satuan c dalam molar (M) maka absorptivitas disebut dengan absorptivitas

molar dan disimbolkan dengan dengan satuan M-1cm-1 atau liter.mol-1cm-1. Jika c dinyatakan
dalam

persen

berat/volume

(g/100mL)

maka

absorptivitas

dapat

ditulis

dengan

E1%1cmA1%1cm (Gandjar dan Rohman, 2007).


c. Cara kerja spektrofotometer
Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah sebagai berikut. Tempatkan larutan
pembanding, misalnya blangko dalam sel pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada
sel kedua. Kemudian pilih foto sel yang cocok 200nm-650nm (650nm-1100nm) agar daerah
yang diperlukan dapat terliputi.Dengan ruang foto sel dalam keadaan tertutup nol
galvanometer didapat dengan menggunakan tombol dark-current.Pilih h yang diinginkan, buka
fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blangko dan nol galvanometer didapat dengan
memutar tombol sensitivitas.Dengan menggunakan tombol transmitansi, kemudian atur besarnya
pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang akan dianalisis. Skala absorbansi
menunjukkan absorbansi larutan sampel.
d.

Keuntungan Spektrofotometer
Keuntungan dari spektrofotometer adalah yang pertama penggunaannya luas, dapat

digunakan untuk senyawa anorganik, organik dan biokimia yang diabsorpsi di daerah ultra
lembayung atau daerah tampak.Kedua sensitivitasnya tinggi, batas deteksi untuk mengabsorpsi
pada jarak 10-4 sampai 10-5 M. Jarak ini dapat diperpanjang menjadi 10-6 sampai 10-7 M dengan
prosedur modifikasi yang pasti.Ketiga selektivitasnya sedang sampai tinggi, jika panjang
gelombang dapat ditemukan dimana analit mengabsorpsi sendiri, persiapan pemisahan menjadi
tidak perlu.Keempat, ketelitiannya baik, kesalahan relatif pada konsentrasi yang ditemui dengan
tipe spektrofotometer UV-Vis ada pada jarak dari 1% sampai 5%.Kesalahan tersebut dapat
diperkecil hingga beberapa puluh persen dengan perlakuan yang khusus.Dan yang terakhir
mudah, spektrofotometer mengukur dengan mudah dan kinerjanya cepat dengan instrumen
modern, daerah pembacaannya otomatis (Skoog, DA, 1996).
e.

Komponen-komponen Pada spektrofotometer


Yang pertama adalah sumber cahaya, Sebagai sumber cahaya pada spektrofotometer,

haruslah memiliki pancaran radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi.Sumber energi cahaya

yang biasa untuk daerah tampak, ultraviolet dekat, dan inframerah dekat adalah sebuah lampu
pijar dengan kawat rambut terbuat dari wolfram (tungsten). Lampu ini mirip dengan bola lampu
pijar biasa, daerah panjanggelombang ( ) adalah 350 2200 nanometer (nm). sumber cahaya ini
digunakan untuk radiasi kontinyu
Hal kedua yang diperlukan adalah pembaur cahaya atau disebut monokromator
monokromator ini merupakan bagian dari spektrofotometer yang nantinya akan menghasilkan
sinar

pelangi.

Kemudian

dari

sanalah

dapat

dipilih

panjang

gelombang

yang

diinginka/diperlukan.
Hal ketiga adalah tempat sampel atau kuvet, pada praktikum tempat meletakan kuvet ada
satu karena alat yang dipakai tipe single beam.Pada pengukuran digunakan kuvet plastik.
Keempat adalah detektor atau pembaca cahaya yang diteruskan oleh sampel, disini terjadi
pengubahan data sinar menjadi angka yang akan ditampilkan pada reader (komputer). Komponen
lain yang nampak penting adalah cermin-cermin dan tentunya slit (celah kecil) untuk membuat
sinar terfokus dan tidak membaur tentunya, jadi satu hal penting dalam pekerjaan dengan
spektrofotometer UV-VIS adalah harus dihindari adanya cahaya yang masuk ke dalam alat,
biasanya pada saat menutup tenpat kuvet, karena bila ada cahaya lain otomatis jumlah cahaya
yang diukur menjadi bertambah.
f.

Tipe Instrumen Spektrofotometer


Pada umumnya terdapat dua tipe instrumen spektrofotometer, yaitu single-beam dan

double-beam.Single-beam instrument dapat digunakan untuk kuantitatif dengan mengukur


absorbansi pada panjang gelombang tunggal.keuntungannya yaitu sederhana, harganya murah,
dan mengurangi biaya yang ada. Beberapa instrumen menghasilkan single-beam instrument
untuk pengukuran sinar ultra violet dan sinar tampak. Panjang gelombang paling rendah adalah
190 sampai 210 nm dan paling tinggi adalah 800 sampai 1000 nm (Skoog, DA,
1996).Sedangkan, double-beam dibuat untuk digunakan pada panjang gelombang 190 sampai
750 nm.Double-beam instrument mempunyai dua sinar yang dibentuk oleh potongan cermin
yang berbentuk V yang disebut pemecah sinar.Sinar pertama melewati larutan blangko dan sinar
kedua secara serentak melewati sampel, mencocokkan fotodetektor yang keluar menjelaskan

perbandingan yang ditetapkan secara elektronik dan ditunjukkan oleh alat pembaca (Skoog, DA,
1996).
Metodologi Penelitian
a. Bahan
Bahan yang digunakan meliputi Garam Fe(NH4OH)2SO4, Larutan Hidroksilamin HCl 5
%, Larutan 1,10-fenantrolin 10%, Larutan CH3COONa 5 %, H2SO4, Aquades, dan sampel air
yang mengandung logam besi.
b. Alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini, selain alat seperti gelas kimia, botol
semprot, spatula, corong pendek, dan pipet tetes yang lazim digunakan di laboratorium kimia,
digunakan juga alat lainnya seperti labu takar 100 ml dan 25 ml yang berfungsi untuk
menyimpan larutan deret standard an larutan sampel serta digunakan juga pipet ukur 10 ml untuk
memasukkan larutan tesebut ke dalam labu ukur. Selain itu, digunakan juga instrument berupa
spektrofotometer UV-VIS untuk mengukur absorbansi larutan.
c. Prosedur Kerja
1. Pembuatan larutan Induk Fe(II) 100 ppm
Pertama, menimbang 0,0700 g garam Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O. Melarutkan garam
itu dalam gelas kimia lalu memindahkannya kedalam labu takar 100 ml. menambahkan 5
ml asam sulfat 2M untuk menghidrolisis. Menambahkan aquadest ke dalam labu takar
hingga tanda batas dan menghomogekannya.
2. Pembuatan larutan standar Fe(II) 10 ppm
Menyiapkan labu takar 100 ml. memipet sebanyak 10 ml larutan Fe(II) 100 ppm
ke dalam labu takar 100 ml dengan menggunakan pipet ukur. mengencerkan hingga tanda
batas.
3. Preparasi deret standard an sampel
Membuat larutan deret standar Fe (II) 1 ppm; 1,5 ppm, 2 ppm; 2,5 ppm dan 3
ppm; dari larutan standar 10 ppm ke dalam labu takar 25 mL. Pertama, memipet larutan
Fe(II) 10 ppm ke dalam labu takar 100 ml untuk larutan deret standar dan labu takar 25
ml untuk larutan sampel. Menambahkan ke dalam masing-masing labu 1 mL larutan
hidroksilamin-HCl 5 %, 8 mL CH3COONa 5% dan 1 mL 1,10-fenantrolin 10%.

Mengencerkan larutan sampai tanda batas. Mendiamkan larutan deret standar maupun
sampel selama 10 menit sebelum dilakukan pngukuran absorbansi.
4. Penentuan panjang gelombang maksimum
Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan dengan menggunakan
larutan deret standar dengan konsentrasi 2 ppm. Melakukan pengukuran absorbansi pada
rentang panjang gelombang 400-600 nm dengan jarak rentang 20 nm dan memperkecil
rentangnya ketika mendekati panjang gelombang maksimum.
5. Pengukuran deret standar dan sampel
Menuangkan larutan deret standar maupun sampel ke dalam kuvet. Memasukkan
kuvet ke dalam beam. Melakukan pengukuran serapan larutan deret standard an sampel
pada panjang gelombang maksimum. Membuat kurva kalibrasi antara konsentrasi dan
serapan deret standar.
Perhitungan
Ppm =

V pipet

ppm standar
V labu

V pipet =

1 ppm
V pipet =

= 3.75

2 25
10

=5

2.5 ppm
V pipet =

1.5 25
10

2 ppm
V pipet =

= 2.5

1.5 ppm
V pipet =

1 25
10

2.5 25
10

= 6.25

3 ppm
V pipet =

3 25
10

= 7.5

ppm Vlabu
ppm standar

Grafik Penentuan Panjang Gelombang Maksimum


0.5
0.4

f(x) = 0x - 0.57
R = 0.93

0.3
Absorbansi

Linear ()

0.2
0.1
0
380 400 420 440 460 480 500 520 540
Panjang Gelombang (nm)

Kurva Kalibrasi antara Konsentrasi Larutan Deret Standar terhadap Absorbansi


0.7
0.6

f(x) = 0.21x - 0.02


R = 1

0.5
0.4
Absorbansi 0.3

Linear ()

0.2
0.1
0
0.5

1.5

2.5

3.5

Konsentrasi (ppm)

y = 0,2108x 0,0712
0,075 = 0,2108x 0,0712
0,0578 = 0,2108x

x = 0,4373
Hasil dan Pembahasan
Logam besi yang terkandung dalam air dapat ditentukan konsentrasinya dengan melalui
pengukuran secara spektrofotometri dengan menggunakan alat yang biasa disebut dengan
spektrofotometer. Prinsip kerja spektrofotometer adalah menggunakan instrumen molekul
dengan radiasi elektromagnetik, yang energinya sesuai. Interaksi tersebut akan meningkatkan
energi potensi elektron pada tingkat aksitan. Apabila pada molekul yang sederhana tadi hanya
terjadi transisi elektronik pada suatu macam gugus maka akan terjadi suatu absorbsi yang
merupakan garis spektrum.
Spektrofotometri UV-VIS dapat dilakukan penentuan terhadap sampel yang berupa
larutan, gas, atau uap. Untuk sampel yang berupa larutan perlu di perhatikan beberapa
persyaratan pelarut yang di gerakan antara lain: (1) Pelarut yang di gunakan tidak menggunakan
sistem ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna; (2) Tidak
terjadi interaksi dengan senyawa yang dianalisa; dan (3) Kemurniannya harus tinggi untuk
analisis.Pada percobaan ini, pelarut yang digunakan adalah air.
Untuk mengetahui kadar logam besi pada sampel, dilakukan beberapa kali pengenceran
yang menghasilkanlarutan deret standar pada beberapa konsentrasi yaitu 1 ppm, 1.5 ppm, 2 ppm,
2.5 ppm, 3 ppm. Pengukuran absorbansi dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometer UVVIS pada panjang gelombang maksimum 510 nm.
Tabel 1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Konsentrasi
2 ppm
2 ppm
2 ppm
2 ppm
2 ppm
2 ppm
2 ppm
2 ppm
2 ppm
2 ppm

Absorbansi
0,164
0,245
0,303
0,335
0,382
0,404
0,394
0,411
0,416
0,412

Panjang Gelombang
400 nm
420 nm
440 nm
460 nm
480 nm
500 nm
520 nm
515 nm
510 nm
505 nm

Tabel 2. Kalibrasi antara Konsentrasi Larutan Deret Standard terhadap Absorbansi


Konsentrasi
1 ppm
1,5 ppm
2 ppm
2,5 ppm
3 ppm

Absorbansi
0,187
0,300
0,417
0,508
0,610

Panjang Gelombang
510 nm
510 nm
510 nm
510 nm
510 nm

Dari hasil percobaan didapatkan absorbansi dari masing-masing larutan deret standar
adalah 0,187; 0,3; 0,417; 0,508; dan 0,61. Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan yang
telah dilakukan, dapat diketahui bahwa hubungan antara konsentrasi dengan nilai absorbansi
yaitu tegak lurus sehingga dapat di simpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi logam besi,
maka nilai absorbennya atau daya tembus cahaya yang di lewati sampel semakin besar
berdasarkan hasil perhitungan. Hal inisesuai dengan hasil percobaan yang memperlihatkan
adanya kenaikan nilai absorben seiring dengan kenaikan konsentrasi. Namun, pada penentuan
panjang gelombang sampel, panjang gelombang pada sampel tidak masuk kedalam rentang nilai
deret standar sehingga konsentrasi sampel ini tidak berada dalam rentang konsentrasi larutan
deret standar, yaitu berada pada konsentrasi 0,4373 ppm. Hal ini dikarenakan adanya proses
pengenceran pada sampel sehingga sampel tidak berada pada larutan standar.
Adapun faktor faktor lain yang dapat mempengaruhui dalam perhitungan pada
percobaan ini adalah : (1) Kesalahan dalam penempatan sampel; (2) Kurang teliti dalam
melakukan pengenceran sampel; dan (3) Alat dan bahan kurang steril dan telah terkontaminasi.

Kesimpulan
Spektrofotometri UV-VIS dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi logam besi
yang terkandung dalam sampel pada panjang gelombang 510 nm. Serapan cahaya dari
spektrofotometer ini mengakibatkan adanya transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron

dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih
tinggi. Konsentrasi sampel yang didapat yaitu sebesar 0,4373 ppm.
Daftar Pustaka
Ali, M. F. 2005. Handbook of Industrial Chemistry Organic Chemicals.Sydney:The Mcgraw-Hill
Co. inc.
Basset, J. 1994.Kimia Analisis Kualitatif Anorganik. Jakarta: EGC.
Hafni dan Martalius. 2009. Penuntun Praktikum Instrumen analisis I. Padang: ATIP
Khopkar, S. M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press.
Underwood, A. L. dan R. A. Day J. R. 2001.Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.